Abyss Episode 1 Part 2

Abyss
Episode 1 Part 2
Sumber konten dan gambar : TVN


Di luar, nyonya Eom terus mengetuk pintu. "Cha Min! Ibu tahu kamu ada di rumah. Buka pintunya!"

Nyonya Eom beralih ke bibi. "Bukan main! Bagaimana bisa kamu bilang menjaganya? Kamu bahkan tidak tahu kata sandi pintu ini."

"Aku tidak pernah bilang aku tidak tahu," ujar bibi.

"Kamu tahu ?"

"Ya."

"Dan kamu baru bilang? Kamu main-main?"

"Sebelum bertanya, Anda memencet bel dan menggedor pintu. Jadi...."

Nyonya Eom menatap tajam bibi. "Perlu ku dobrak?"

"Tidak." Bibi segera memencet sandi pintu. Tapi Cha Min sudah lebih dulu membuka pintunya.


"Ibu tidak perlu membuat keributan," kata Cha Min.

Tentu saja Nyonya Eom keheranan. "Kamu siapa?"

Cha Min bingung sendiri. "Itu...."


Beberapa saat kemudian, bibi dan Nyonya Eom sudah duduk di dalam. Cha Min berusaha memakai kaus kakinya sambil menjelaskan kalau dia pernah satu jurusan dengan Cha Min.

"Di kampus, hanya Min yang dari Korea," ujar Nyonya Eom.

Cha Min melihat bibi seolah mendapat ide. "Maksudku gereja di samping kampus. Aku pergi ke gereja itu lalu kami berteman." Chamin duduk di samping ibunya dan memakai kaus kaki yang sebelah lagi.

"Jadi kalian pertama bertemu di Australia?" Tanya Nyonya Eom. Cha Min membenarkan. Nyonya Eom menatap bibi meminta penjelasan. Bibi geleng-geleng.


Cha Min berusaha meyakinkan bibi. "Aku dengar banyak tentangmu. Min sering ke rumahku membawa iga masakanmu. Karena wangi kimchi buatan ibu, polisi sampai ke apartemennya."

Bibi tersenyum. "Astaga! Min bilang begitu?"

"Tentu."


Bibi manggut-manggut pada Nyonya Eom. Nyonya Eom menelepon nomor ponsel dan ternyata ponsel Cha Min ada di meja depan. Min beralasan kalau Cha Min pergi membeli sesuatu dan ponselnya tertinggal. Dia meminta bibi dan Nyonya Eom menunggu di sana sementara dia akan membawakan ponsel Cha Min.

Nyonya Eon menatap Cha Min sedikit curiga. Ponselnya berdering. "Aku bilang tunggu. Tidak sampai Direktur Cha setuju mengganti pabrik."

Mendengar percakapan ibunya barusan, Cha Min mendekati ibunya. "Pak Yang ingin mengganti pabrik lagi? Bukankah sudah cukup omong kosongnya? Ibu jangan biarkan dia seenaknya."

Ibu jelas heran. "Bagaimana kamu bisa tahu pekerjaan di perusahaan kami?"

Cha Min tidak kehabisan akal. "Tiap Min terlalu banyak minum, dia selalu mengoceh tentang Pak Yang yang tidak becus. Dari sanalah aku tahu."

Bibi memberitahu kalau Pak Kim sudah datang. (Sepertinya Pak Kim itu sopirnya)

Cha Min duduk lagi. "Ibu sepertinya sibuk. Akan ku suruh Min untuk meneleponmu. Jadi ibu harus bekerja."

Nyonya Eom terus menatap Min. "Dia banyak pekerjaan sebelum pernikahan. Aku tidak percaya dia menghilang."


Nyonya Eom pun pergi bersama bibi. Cha Min bisa bernafas lega. Dia berubah murung lagi saat menatap wallpaper ponselnya.

***

Begitu masuk mobil, Nyonya Eom langsung menanyakan nomor seseorang pada Pak Kim. Pak Kim menjelaskan kalau nomornya tidak aktif, jadi tidak bisa dilacak karena pasti dimatikan.


"Apa kamu akan diam saja dan menunggu?" Bentak Nyonya Eom. Bibi memintanya tenang karena tidak baik untuk kesehatan. Lalu bibi mengeluarkan obat untuk Nyonya Eom.

Nyonya Eom masih menggerutu. "Darimana asalnya wanita murahan itu? Aku setuju karena Min mencintainya. Bagaimana bisa dia menghilang?" Nyonya Eom memakan obatnya. "Dia tidak tahu berurusan dengan siapa."


Min masih berusaha menghubungi Hee Jin. Tapi nomornya tetap tidak aktif. Dia berniat keluar dan memakai jasnya. Tapi jasnya kekecilan dengan ukuran tubuhnya yang sekarang. Min melepas jasnya lagi.


Se Yeon memeriksa foto-foto korban pembunuhan, juga detail keluarganya. "Aku tidak paham," ujarnya. Ji Wook sedang berdiri menatap keluar jendela menoleh padanya. "Kenapa harus Seung Hun? Kamu juga tahu dia tidak mungkin punya musuh."

Ji Wook menghampiri Se Yeon dengan secangkir kopi di tangannya. "Gimana aku tahu kalau kami tidak pernah bertemu. Para korban sebelumnya pun bukan orang yang pantas di musuhi. Sudah selesaikan kasus penipuan yang di tugaskan kemarin? Mengejar permainan..."

"Apa? Bagimu ini permainan?"

"Hanya berpendapat. Performamu yang terburuk bulan lalu karena tidak merelakan kasus peti es. Bos tidak akan tinggal diam."

Se Yeon memijat tengkuknya. "Ah itu tidak akan terjadi. Kita tunggu saja."

Asisten Se Yeon masuk dan memberikan foto tamasya bulan lalu, 'Tamasya Membangun Tim Musim Gugur 2018'. "Kamu cantik jaksa Ko,"pujinya lalu pergi.


Se Yeon menatap foto dengan senyuman. "Dia benar. Aku cantik di sini. Tapi ada wajah mengganggu di sebelahku."

"Siapa? Maksudmu Mi Do Sunbae? Apa perlu membencinya meski dia tidak di sini lagi?"

Se Yeon melipat fotonya agar Mi Do tidak terlihat. (Kayaknya Mi Do itu Park Bo Young yang pakai kacamata deh). "Aku tidak perlu diam-diam benci."

Ponsel Se Yeon berbunyi. Dia mengangkatnya. "Ya. Baik aku kesana."

"Ada apa?" Tanya Ji Wook.

"Seseorang pasti menusuk ban mobilku. Bulan lalu seseorang menusuk kaca spionku lalu kabur. Juga kamera di dashboardku. Kenapa menyiksa jaksa tidak bersalah," gerutu Se Yeon kesal. Dia beranjak dari kursinya hendak pergi.

"Tunggu sebentar. Jika turun sekarang tidak akan bagus," ujar Ji Wook. Dia mencoba melihat dari balik jendela. Se Yeon pun ikut-ikutan. Di luar sedang hujan. Orang berlalu-lalang menggunakan payung hitam. Tampak seorang pria berdiri hujan-hujanan dengan memegang sebuah papan berisi protesnya. 'PEMBUNUH BERANTAI DIBIARKAN LOLOS? JAKSA TIDAK KOMPETEN HARUS JERA.'


"Dia ayah korban, Park Mi Jin yang dibunuh tahun 2010. Dia mantan letnan divisi patroli. Dia sedang berpatroli di sekitar. Putrinya di bunuh di lokasi patrolinya. Dia mungkin tidak rela karena itu."

Se Yeon memakasi mantelnya. "Namun protes tidak membuat perbedaan," ujarnya. Kita tidak menghindarinya. Kita mau menangkapnya lebih dari apapun."

"Jika kasus mudah, aku pasti penjarakan tersangka saat menanganinya. Kita tidak perlu bekerja keras siang malam."

"Tampaknya aku bisa mengakhirnya." Ponsel Se Yeon berbunyi lagi. Kali ini dari det. Park Dong Cheol. "Ya det. Park. Ya benar. Tolong cari keberadaannya hari itu. Ingat tanda yang ku ceritakan? Kamu sudah bandingkan dengan pasien yang dirawat di sana? Baik aku paham. Terimakasih untuk kerjamu."


Ji Wook tampak memperhatikan ucapan Se Yeon. "Ada apa? Petunjuk?"

"Kenapa? Kamu tidak bisa pecahkan kasus ini. Kamu takut ini akan berhasil setelah aku tangani?"

Ji Woo tersenyum. "Apa aku seremeh itu? Kamu sungguh punya tersangka?"

Se Yeon nyengir. "Meskipun kolega, aku tidak bisa memberitahumu. Lagipula, aku punya firasat akan menemui keluarga yang di tinggalkan dengan kepala tegak. Jadi aku akan melampauinya."


Ji Wook menatap kepergian Se Yeon. (Agak mencurigakan ini Ji Wook).

Begitu turun, Se Yeon memperhatikan ayah Park Mi Jin sebentar, lalu dia membuka payungnya. Se Yeon berjalan melewati Pak Park.


Tiba-tiba Pak Park memegang tangannya dan menghentikan langkahnya. Dia memberikan Se Yeon seembar kertas yang berisi resume investigasi. Se Yeon mengambil payungnya yang tadi sempat terjatuh, lalu pergi. Pak Park menatap kepergiannya.

7 JAM SEBELUM KEMATIAN KO SE YEON

Cha Min berjalan ke parkiran dengan payung dan topi hitam. "Kenapa bilanng tidak masuk kantor padahal mobilnya di sini." Min menghampiri sebuah mobil putih sambil menelepon seseorang.


"Ada apa lagi," suara Se Yeon.

"Ayo bertemu. Aku tidak bisa menghubungi Hee Jin."

"Sudah ku bilang jangan libatkan aku," ucap Se Yeon yang sedang berjalan menuju parkiran.

"Aku tidak ingin. Tapi kamu yang mencomblangi kami. Kamu yang mengenalkan Hee Jin. Hanya kamu yanng ku tahu berteman dengan Hee Jin."

"Karena itu aku menyesal. Andai aku tahu kamu akan menyyusahkan dengan masalah cinta, aku juga tidak akan mencomblangi."

Cha Min tidak mau tahu. "Ku tunggu. Aku di depan kantormu."

"Sudah ku bilang aku tidak di kantor. Aku sibuk. Tidak ada waktu mendengarkan cerita cintamu." Se Yeon tertegun melihat Cha Min yang berdiri di depan mobilnya. "Hei! Kita bicara nanti lagi."

Se Yeon menutup teleponnya lalu menghampiri Cha Min yang sudah berubah ganteng tentunya. Cha Min mengintip ke dalam mobil.


"Hei! Siapa kamu? Sedang apa kamu?" Se Yeon memelintir tangan Cha Min hingga Min jatuh ke aspal.

"Apa yang kamu lakukan?" gerutu Min.


Se Yeon melepas topi Min dan langsung terpana melihat Cha Min. Dia menutup mulutnya yang menganga dengan topi Min. "Astaga!" Se Yeon buru-buru membantu Cha Min berdiri. Dia lalu minta maaf. "Maafkan aku. Banyak orang membenciku karena pekerjaanku. Sudah insting," kilah Se Yeon. "Kamu tidak apa?"


Se Yeon mengembalikan topi Cha Min. Dia melihat setitik darah di tangan Cha Min dan jadi sedikit khawatir. Cha Min sendiri terus menatap Se Yeon dengan tertegun. Sepertinya dia tidak pernah di perlakukan seperti itu sebelumnya oleh Se Yeon.


Cha Min duduk di lobi kantor Se Yeon sambil melihat luka di pergelangan tangannya. "Mustahil, Se Yeon." Bajunya basah kuyup hingga tembus pandang. Dua orang pegawai yang kebetulan lewat memperhatikannya dan memuji ketampanannya.


Cha Min langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Dia juga menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Pandangannya tertumbuk pada spanduk yang tergeletak di lantai. Tanpa pikir panjang, dia langsung mengambilnya untuk menutupi tubuhnya.


Seorang pria menghampiri Cha Min. "Permisi. Kenapa kamu membawanya?"

"Ini punyamu? Aku kesulitan karena kemejaku basah. Berapa harganya? Biar ku bayar lebih."

"Apa? Itu tidak di jual! Kembalikan!"

Pria itu hendak menarik spanduknya tapi Cha Min langsung mundur. "Tidak! Tubuhku bukan untuk di pamerkan. Jika tidak cukup, mau tiga kali lipat?"

"Ayolah! Itu tidak di jual."


Mereka eyel-eyelan dan tarik-tarikan hingga malah baju Cha Min kancingnya lepas dan memamerkan dada Cha Min yang sixpack dan bercahaya. Pria tadi saja sampai takjub melihatnya. Cha Min jadi tontonan para pegawai wanita.

Cha Min merapatkan bajunya. Si pria tadi merasa bersalah. Dia memakaikan spanduk yang tadi. "Lupakan uangnya. Pakai ini." Spanduk itu bertuliskan 'Politik dalam Dakwaan." Pria tadi pergi.

"Itu kemeja mahal. Bagaimana bisa sangat rapuh," gerutu Min dalam hati.

Se Yeon datang membawakan handuk untuk Cha Min. Dia bertanya kenapa Min memakai spanduk itu. Min bilang dia tadi dapat masalah. Se Yeon tiba-tiba menarik tangannya.


"Kenapa tiba-tiba kamu memegang tanganku?"

"Kamu terluka karenaku. Maafkan aku." Se Yeon mengoleskan salep ke luka Min lalu meniupnya.

"Aku tidak ingat kamu sebaik ini," gumam Cha Min.

Se Yeon mendengarnya. "Aku begini bukan karena aku baik. Kamu terluka karenaku. Dan kemejamu basah karenaku. Aku tidak yakin ini pas. Tapi pakailah! Hanya ini yang ku punya."

"Aku tidak butuh kemeja. Jika kamu bersedia, kita bisa minum teh?"


Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Min. Min terkejut melihat isi dan foto di pesan itu. Terlihat di foto, Hee Jin berjalan di bandara bersama seorang pria.

Kamu liburan pra bulan madu? Calonmu cantik seperti biasa. Bagus Min.

"Kenapa tidak mengeringkan kemejamu?" tanya Se Yeon membuyarkan kekagetan Min. "Sementara minum secangkir...."

"Maaf. Aku tidak bisa. Aku sibuk," ucap Min sambil mengambil kemeja di tangan Se Yeon lalu berlari pergi."

"Maaf. Kamu harus mengembalikan kemejanya setelah di pakai," teriak Se Yeon.


Ji Wook datang menghampiri Se Yeon. "Siapa itu? Pacar barumu?"

"Bukan. Terjadi kecelakaan."

Ji Wook kontan menatap Se Yeon. "Kecelakaan?"


Cha Min mencari-cari Hee Jin di bandara. Dia berlari kesana kemari tapi tidak melihat Hee Jin dimana-mana. Min berpapasan dengan seorang wanita yang memakai kacamata hitam. Mengira itu Hee Jin, Min memanggilnya dan melepas kacamata wanita itu.

"Sedang apa kamu?" Gerutu wanita itu (Park Bo Young. Kita panggil Mi Do dulu ya)

"Maaf. Aku mengira kamu orang lain."

Mi Do memakai kacamatanya lagi lalu pergi. Di lobi bandara, dia mendapat telepon dari dokter bedah plastik. "Halo Dokter. Aku baru kembali."


Hee Jin duduk di kursi tunggu sambil bercermin. Seorang pria bertopi menghampirinya. "Apa Anda Nona Oh Su Jin?" Hee Jin mendongak dan tampak terkejut.

Cha Min menerobos antrian calon penumpang. Dia berkata kalau dia sedang mencari seseorang. Beberapa saat kemudian.....

Kami mencari penumpang bernama Jang Hee Jin. Jika Anda Jang Hee Jin berusia 28 tahun, tolong datang ke bagian informasi di jalur F lantai pertama.



Dan anehnya, Hee Jin sudah tidak ada di kursi tadi. Yang tertinggal hanyalah koper merah miliknya.

***

Se Yeon melihat sebuah dokumen tentang penghargaan dari istana presiden Korea. Dia takjub melihat banyaknya penghargaan yang didapat Dokter Oh Yeong Cheol. (Jangan-jangan Oh Su Jin itu anaknya Oh Young Cheol). Sementara Ji Wook duduk sambil membaca buku.


Se Yeon mendekati meja dan membuka album foto yang berisi foto-foto korban. Dia memperhatikan bekas jahitan di tubuh korban dan menyamakannya dengan entah benda apa di meja. "Simpul terakhir juga di ikat berlawanan arah," ucapnya dalam hati.

Dr. Oh masuk sambil marah-marah di telepon. Dia menolak melakukan wawancara dan berkata lebih baik menyelamatkan pasien saja. Ternyata dari tadi Se Yeon dan Ji Wook sedang menunggu di ruangan dokter.

Dr. Oh menghampiri kedua tamunya dan minta maaf karena sudah membuat mereka menunggu. Se Yeon bilang tidak apa. Dia justru berterimakasih karena dokter sudah bersedia meluangkan waktunya.

Dr. Oh menanyakan maksud kedatangan mereka.

"Aku ingin tanya soal pasien IGD yang dipindahkan kemari dan tewas dua hari lalu. Anda ingat pasiennya?"

Se Yeon menunjukkan foto yang tadi sempat dilihatnya. Dr. Oh mengenalinya begitu melihat jahitan di tubuh korban.


"Ah ya." Se Yeon dan Ji Woo tertegun mendengar jawaban dr. Oh. "Tapi dia tewas saat di bawa kerumah sakit kami. Tidak ada yang bisa aku lakukan. Setelah ditetapkan mati, petugas forensik membawa jasadnya."

"Aku tidak penasaran soal bagaimana Anda merawatnya. Aku penasaran soal jahitannya."

Belum sempat dr. Oh memberikan jawaban, seorang suster masuk dengan panik dan memberitahukan kedatangan pasien pindahan dari Rumah Sakit Jin Song.

Setelah dr. Oh pergi, Se Yeon berkomentar, "Dia dokter hebat tapi dia tidak mau jadi saksi ahli."

"Aku hanya bertemu satu dua kali setelah beberapa kali datang. Seperti yang kamu lihat, dia selalu sibuk. Ayo kita pergi. Ku traktir soju kesukaanmu."

"Woah! Apa? Kamu kan biasa minum yang berat. Karena kamu mentraktirku, kita beli makanan kesukaanku juga. Kulit, usus, babat babi, yang mana?"


Cha Min pergi dari bandara dengan langkah lunglai. Dia sudah bertanya ke beberapa petugas bandara, tapi tidak ada Jang Hee Jin di daftar penumpang. Sekalinya ada, dia bukan Jang Hee Jin yang Min kenal.


Di suatu tempat, tampak kertas berceceran di lantai dan meja. Seorang pria duduk sambil menulis sesuatu di kertas.

Aku akan menghukumnya dengan tanganku sendiri.

Ternyata pria itu adalah Pak Park.


Ji Wook memaksa ingin mengantar Se Yeon pulang karena hujan dan juga Se Yeon tampaknya mabuk. Se Yeon berkeras tidak mau di antar. Dia memanggil taksi. Ji Wook khawatir karena pekan lalu ada kasus kriminal di lingkungan tempat tinggal Se Yeon.

Taksi datang. Se Yeon masuk ke dalam taksi tanpa mempedulikan kekhawatiran Ji Wook. Se Yeon membuka jendela taksi. "Aku bukan wanita bagimu, jadi tak apa."


Ji Wook meminta sopir mengantar Se Yeon ke 12-7 Chungdang-dong. Dia juga membayarkan ongkos taksi untuk Se Yeon. Se Yeon tidak terima. Dia mengambil uang yang diberikan Ji Wook lalu melemparnya. Ji Wook yang masih khawatir akhirnya memasukkan payungnya ke dalam taksi. Se Yeon yang mabuk memuji perilaku Ji Wook. "Ya Seo Ji Wook! Manner make it man (tatakrama membentuk seorang pria). Thank you." Se Yeon dadah-dadah ke Ji Wook yang kehujanan.


Ji Wook memungut uang yang tadi di buang Se Yeon. Ponselnya berdering. Ada panggilan dari J. Ji Wook terdiam menatap ponselnya.

***

Cha Min menelepon Se Yeon. Sepertinya dia sedang berada depan rumah Se Yeon. "Kamu dimana? Kapan kamu pulang?"


"Siapa kamu mengomeliku soal kapan aku pulang?"

Mendengar suara Se Yeon, Min tahu kalau Se Yeon mabuk. "Sudah ku bilang aku harus diskusikan,,,"

"Hentikan! Belikan aku obat pengar!"

Cha Min mulai kesal. "Apa aku pelayanmu? Hei! Aku bukan orang yang sama lagi. Berhenti bicara omong kosong dan pulang! Paham?" Min memutus teleponnya.


Meskipun tadi kesal, tapi Min beli juga itu obat pengar buat Se Yeon. Kasirnya terus memperhatikan wajah Min yang menurutnya sangat tampan.

SATU JAM SEBELUM KEMATIAN KO SE YEON


Se Yeon turun dari taksi. Dia berjalan menuju rumahnya. "Ayolah. Ada apa dengannya? Dia berisik dan memintaku pulang cepat. Dia lalu kesal melihat seorang pria yang memakai jas hujan dan sedang menumpuk kardus bekas di teras.

"Pak! Sudah ku bilang berapa kali, jangan menumpuk kardus di sini!"

"Aku tidak punya tempat lain."

"Kamu bisa menumpuknya di rumahmu. Jika kamu taruh di sini saat hujan nanti akan bau. Aku tidak bisa membuka jendelaku karena tumpukanmu. Bawa kembali sekarang."

Se Yeon melempar payungnya lalu rebutan kardus dengan pria tadi. Dia terjatuh sampai tasnya terlempar saat pria itu tidak sengaja mendorongnya.

"Pak! Kamu baru saja memukulku."


"Aku hanya mendorongmu sedikit. Kamu jatuh karena mabuk. Kamu pikir aku tidak berarti? Kamu terus menyuruhku. Baiklah. Akan aku pindahkan." (Dari cara ngomongnya kayaknya bapak ini orang baik)

Bapak itu membantu Se Yeon membereskan isi tasnya yang berceceran. Tampak seseorang yang memperhatikan mereka.


Cha Min berjalan menuju rumah Se Yeon sambil menteng kantong plastik berisi obat pengar. "Hah! Dia bersikap sopan dan baik siang ini. Sekarang aku suruhannya? Tidak bisa begini. Aku harus katakan siapa aku."

Cha Min kaget melihat seseorang tergeletak di jalanan (kayaknya bapak yang tadi ngunpulin kardus). Dia menghampiri orang itu dan menanyai keadaannya. Karena tidak ada jawaban, Min membalik tubuh orang itu dan langsung terkejut.


Min langsung menelepon polisi. Dia melihat orang tadi menggerakkan kepalanya sedikit. Min mencoba memeriksanya lagi. Dia memeriksa nafas orang itu. Tapi sepertinya orang itu sudah meninggal.


Se Yeon mengintip melalui jendela. "Katanya mau bicara hal penting. Kenapa dia tidak datang? Aish! Berani sekali dia membuatku menunggunya."

Se Yeon duduk di ranjang. "Berandalan itu si Cha Min. Setelah dia menikah begini caranya memperlakukanku?"

Se Yeon tiduran karena ngantuk. Dia sempat mengirim pesan teks pada Cha Min.

Aku tidak mengunci pintunya. Masuklah dan bangunkan aku.

Se Yeon pun tidur.

Bersambung ke Abyss episode 1 part 3

2 komentar


EmoticonEmoticon