Showing posts with label Feel Good To Die. Show all posts
Showing posts with label Feel Good To Die. Show all posts

Sinopsis Feel Good To Die ( Episode 4 )

Feel Good To Die

Sumber : KBS 2




Episode 4


MW Chicken sedang mengadakan pertemuan tentang evaluasi petusahaan. Joon Ho menguap sangat lebar mendengar pidato panjang lebar CEO Kang. Dia tidak tertarik sama sekali. Karyawan lainpun sepertinya bosan mendengarnya, karena pidatonya sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Selesai acara evaluasi, CEO Kang mengumpulkan Direktur Na dan para manager. Dia langsung menanyakan apakah tidak ada ide untuk membekukan gaji tahunan karyawan tahun depan?

Direktur Na menjawab bahwa dia ragu karena kenaikan profit tahun ini 150 %. Sontak CEO Kang marah dan hampir melemparnya dengan telepon kalau saja Manager Yoon tidak memotongnya. Walaupun sempat ragu, tapi Manager Yoon akhirnya mengutarakan pendapatnya bahwa perusahaan bisa mengambil keuntungan dari hasil evaluasi karyawan yang akan diadakan sebentar lagi. (Mungkim maksudnya bakal ada yang di phk kali ya kalau hasil evaluasinya ga bagus?)

Roo Da sedang searching perihal pengunduran diri. Tiba-tiba Jin Sang mengagetkannya dan melihat apa yang sedang Roo Da Lakukan. Jin Sang senang karena Roo Da akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Dia langsung berdiri dan meminta semua orang bertepuk tangan untuk Roo Da. Semuanya bertepuk tangan dengan kebingungan.

Jin Sang mendapat pesan teks dari Direktur Na bahwa CEO Kang ingin bertemu. Roo Da sangat kesal pada tingkah Jin Sang. Dia memutuskan untuk mengirim resumenya pada 100 perusahaan.

CEO Kang sedang tidur di kursinya dengan kaki di atas meja. Jin Sang datang. CEO langsung bangun dan menyuruhnya duduk. Ternyata Jin Sang ditawari untuk jadi ketua untuk evaluasi karyawan. Jin Sang setuju.

Pertama yang Jin Sang lakukan adalah mengevaluasi anggota timnya terlebih dahulu.
Usai diwawancarai Jin Sang, Roo Da mendapatkan telepon dari HRD  perusahaan yang dia lamar secara online kemarin. HRD memberitahu tentang wawancara besok dan Roo Da harus membawa bukti hasil kerja dari perusahaan sebelumnya. Kebetulan Jung Hwa lewat dan tak sengaja mendengar percakapan Roo Da.

Roo Da membawa kopi untuk Yoon Mi, pegawai HR di kantornya. Roo Da minta tolong dibawakan bukti hasil kerjanya. Yoon Mi menyuruhnya menunggu. Saat sedang menunggu Roo Da tak sengaja melihat mesin fax yang macet. Dia pun mengambil kertas yang tersangkut disana. Roo Da terkejut karena kertas itu berisi surat pemperitahuan tentang pembekuan gaji dan pengurangan kesejahteraan.

Aku sudah mulai membenci pemimpin tim. Dan sekarang perusahaan juga.

Joon Ho sedang makan malam bersama paman dan kakeknya. Kakeknya bertanya soal pekerjaan dan pacar. Dia bilang tidak punya pacar. Dia juga kesal karena diinterogasi saat makan. Kakek bertanya kenapa tidak ada yang menyenangkan dalam hidup Joon Ho. Joon Ho langsung ingat Roo Da dan tersenyum sendiri. (Joon Ho ini pembawaannya ceria banget. Kayak yang ga punya beban)

Roo Da berjalan sendirian di trotoar.

Seseorang pernah berkata padaku. Ketika kamu membenci segalanya, saat itulah kamu pergi.

Anggota tim pemasaran minus Roo Da duduk sambil memperhatikan Jin Sang yang sedang sibuk. Yoo Doek berkata sepertinya hasil evaluasi karyawan tidak bagus karena semalam saat dia balik ke kantor karena ponselnya ketinggalan, dia melihat Jin Sang meremas kertas dan tampak kesal. Jung Hwa dan Min Joo tidak percaya. Tiba-tiba terdengar suara Pak Yoon ketua tim HR dari speaker, menyuruh semua karyawan berkumpul di auditorium.

Roo Da sendiri sedang mempelajari profil perusahaan dimana dia akan di wawancara. Datanglah seorang pelamar pria yang mendekatinya dan bertanya apakah Roo Da akan wawancara juga. Dia berkata bahwa ibunya sakit jadi dia sibuk merawat ibunya sampai tidak punya waktu untuk belajar. Dia meminta Roo Da untuk memberitahunya pertanyaan apa saja yang akan ditanyakan dalam wawancara. Roo Da bilang dia tidak tahu.

Pantang menyerah, si pelamar ini berkeliling meminta bantuan pada pelamar lainnya. Tapi semua mengacuhkannya. Hingga dia menabrak seorang pria yang dia kira pelamar juga. Pria yang ditabrak marah sampai mendorong si pelamar hingga jatuh menimpa sekantong sampah yang dibawa petugas cleaning service. Terdengarlah panggilan untuk giliran wawancara selanjutnya.

Roo Da dan Si Pelamar duduk bersebelahan di ruangan wawancara. Dan ternyata orang yang di tabrak si pelamar tadi adalah salah satu pewawancara. Dia langsung menyuruh si pelamar untuk memperkenalkan diri.

"Halo. Namaku Kang Min Hyuk." Ngik. Kaya orang asma gitu. "Ibuku sakit." Ngik. "Jadi aku..."

"Apa kau disini untuk menceritakan kisah sedih?" Pewawancara langsung mengusir  si Min Hyuk. Baru beberapa langkah, tiba-tiba Min Hyuk terjatuh tak sadarkan diri. Semua terkejut termasuk Roo Da. "Ottoke?"

Jeng jeng Min Hyuk membuka matanya dan langsung berdiri tegak. "Ini akhir dari wawancara." Oh ternyata si Min Hyuk ini salah satu pewawancara juga. Dia tadi acting buat melihat rasa kerjasama, karakter, dan reaksi menangani masalah dari para pelamar. Dan akhirnya, tidak ada yang lulus.

Sementara di MW Chicken, semua sedang berkumpul di auditorium. Jin Sang membacakan hasil evaluasi. Awalnya berjalan lancar. Tapi kemudian ruangan terdengar riuh saat Jin Sang berkata bahwa hasil evaluasinya berantakan.

Roo Da keluar dari tempatnya wawancara. Dia kecewa karena tidak jadi mendapatkan pekerjaan. Ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari Min Joo yang memberitahu bahwa semua orang disuruh berkumpul di auditorium. Roo Da langsung menelepon Min Joo. Terdengar suara Min Joo yang panik mengatakan bahwa Jin Sang kesetrum kabel mikrofon.
Roo Da bangun dari tidurnya.

13 November, Selasa ke-2

Roo Da bingung karena Jin Sang meninggal bukan karena dia yang mengutuknya. (Tadinya Roo Da mengira Jin Sang meninggal karena dia yang menyuruhnya. Tapi kan kemarin dia ga ada di aula tpi kok Jin Sang tetap meninggal dan waktunya kembali terulang)
Ibunya masuk mengingatkannya untuk wawancara. Awalnya dia bilang kalau dia sudah wawancara kemarin. Tapi kemudian tersenyum kegirangan karena sadar kalau waktunya terulang lagi.

Roo Da datang ke tempat wawancara dengan semangat. "Mari kita selesaikan wawancara secepat mungkin dan pergi ke auditorium untuk mencari tahu penyebab lingkaran waktu ini.
Di ruangan tunggu wawancara, Roo Da langsung mendekati si Min Hyuk. Min Hyuk sontak memberitahu kalau ibunya sakit. Roo Da pura-pura kaget dan berinisiatif membantunya mempelajari bahan wawancara. 

Pewawancara satunya sengaja menendang kantong sampah. Roo Da melihatnya. Dengan semangat 45 dia membereskan sampah yang berserakan.

Saat si Min Hyuk pingsan, Roo Da menyuruh semuanya tenang. Dia langsung melakukan CPR bahkan menampar-nampar Min Hyuk agar sadar. Min Hyuk seketika berdiri dan berkata, "Roo Da, kau lulus." Semuanya bertepuk tangan. 

Roo Da langsung ngacir ke MW Chicken. Dia masuk ke auditorium yang sedang ricuh. Tapi Roo Da terlambat. Jin Sang kesetrum tepat di depan matanya.

13 November, Selasa ke-3

Hari ini adalah soal kecepatan.

Roo Da berjalan memasuki tempat wawancara. Dia memeriksa tasnya dan menemukan sebuah boneka kecil. Terdapat tulisan disana, "Nona Lee, semoga berhasil dengan wawancaramu". Ternyata dari Jung Hwa. Roo Da terkejut karena ternyata Jung Hwa tahu.

Roo Da melakukan semuanya lebih cepat kali ini hingga dia kelelahan. Diapun dinyatakan lulus wawancara dan yang lainnya gagal. Seorang pelamar wanita mencoba protes karena dia tidak diberi kesempatan untuk wawancara dulu. Tapi pewawancara menceramahinya dengan kata-kata yang kasar. Roo Da sampai mencengkeram tasnya karena kesal mendengarnya.

Selesai wawancara, Roo Da menghubungi Jung Hwa. Di telepon Jung Hwa berkata bahwa boneka itu adalah buatannya. Dia tanpa sengaja mendengar Roo Da saat di telepon untuk wawancara.

Min Joo menghampiri Jung Hwa dan mengambil teleponnya. Dia bilang akan mentraktir Roo Da makan besar setelah gajian bulan depan. "Kita adalah kawan. Dan ini adalah medan perang." Roo Da terharu mendengarnya.

Usai mengakhiri panggilan Roo Da bertemu dengan Min Hyuk dan pewawancara satunya yang kelihatan angkuh. Roo Da diajak bicara tentang pekerjaannya nanti dan gajinya. Tapi Roo Da menolak karena sekarang punya urusan mendesak. Lewatlah seorang pegawai yang menyapa mereka hingga berkas yang dibawanya terjatuh. Bukannya membantu, si pewawancara angkuh malah mengkhawatirkan sepatunya yang ketimpa berkas. Akhirnya Roo Da yang membantunya. Min Hyuk memuji Roo Da. Mereka berduapun pergi meninggalkan Roo Da.

Roo Da yang kesal menghentikan mereka berdua.

"Mengapa kalian berdua tidak membantu? Kalian berdua mengatakan kerjasama tim itu penting. Itu bukan sesuatu yang bisa kau temukan dengan sebuah wawancar." Roo Da mengingat waktu-waktunya bersama tim perencanaan. "Itu sesuatu yang bisa kamu dapatkan setelah bekerja bersama, berbicara dibelakang punggung seseorang, minum, dan bahkan gagal dalam proyek. Dan apakah kamu mengatakan karakter seseorang itu penting?" Roo Da memandang boneka Jung Hwa ditangannya. Dia mengingat kepolosan Jung Hwa. "Tapi pikirkan tentang karaktermu! Kalian memiliki lidah yang tajam untuk orang-orang yang seharusnya mendapatkan rasa hormat. Dan jangan pernah berkata bahwa kau tidak mendapatkan pekerja yang baik. Berpikirlah mengapa pekerja yang baik tidak datang ke tempat ini, contohnya aku!" (Artinya Roo Da menolak bekerja di perusahaan ini)

Roo Da bergegas menuju auditorium. Dia langsung menghampiri Jung Hwa yang di beri tugas untuk memproyeksikan laporan hasil evaluasi. Untung Jin Sang belum melakukan presentasi. Roo Da menyuruh Jung Hwa untuk pergi dan dia yang akan mengurusnya. Dia terkejut saat melihat file hasil evaluasi. Ternyata Jin Sang akan membuka semua kekurangan dan kejelekkan semua tim. (Pantesan aula jadi heboh). "Apa dia sudah gila."

Lagi-lagi Joon Ho nongol di samping Roo Da. Roo Da terkejut dan reflek memeluk laptop. Tapi terlambat karena Joon Ho ternyata sudah melihatnya.

"Apakah semuanya akan tetap tenang?"

"Mereka semua akan mencoba membunuhnya."

Roo Da tertegun dan menyuruh Joon Ho mengulangi kata-katanya.

"Seluruh pimpinan tim akan berusaha membunuhnya."

Roo Da tersenyum seolah mendapat pencerahan. "Ya, itu dia masalahnya." Roo Da mengambil fax tentang pembekuan gaji dan meminta tolong pada Joon Ho untuk memfoto kopinya. Joon Ho manut saja.

Jin Sang baru saja memulai presentasinya. Dengan memeluk hasil fotokopian fax, Roo Da mencoba menganalisis situasi. Dia mengingat apa yang terjadi pada Selasa sebelumnya.

Flashback

Jin Sang benar-benar mengupas habis kejelekan para pimpinan tim. Suasana jadi gaduh. CEO Kang yang tidak mengira bahwa situasi akan jadi seperti ini pun geram. Dia berdiri dan berteriak, "Bunuh diaaaaaa."

Flashback end

Jika ada yang mengutuknya, dia mati.

"Baiklah. Bahkan jika aku pindah kerja atau ke luar negeri, aku tidak bisa melarikan diri dari Tuan Baek seperti ini. Aku harus menghentikan ini."

Roo Da melihat tangga di lantai dua auditorium. Dia naik ke sana dan menaiki tangga. Roo Da memberi aba-aba pada Joon Ho untuk mematikan lampu tepat saat Jin Sang akan mengupas hasil evaluasi. Lampu mati. Roo Da menyebar fotokopian. Dan Joon Ho terpana melihat Roo Da. "Aku tahu itu. Aku memiliki mata yang baik untuknya."

Semua orang terkejut membaca isi selebaran. Para ketua tim sontak menarik selebaran-selebaran itu. Para karyawan berbisik-bisik bahwa perusahan telah menipu mereka.

Bu Choi berkata bahwa ini adalah medan perang dan mereka adalah kawan. Aku memutuskan untuk berada di tempat dimana teman-temanku berada.

Roo Da menarik Jin Sang ke balik tirai. Jin Sang kaget. Roo Da menutup mulut Jin Sang dengan tangannya. "Aku sudah menyelamatkan Anda. Lain kali Anda harus siap."

Tidak peduli apakah lingkaran waktu atau Baek Jin Sang. Aku tidak akan lari. Aku akan membuat perlawanan.

Bersambung ke episode 5
Read More

Sinopsis Feel Good To Die (Episode 3 Part 1)

Feel Good To Die

Sumber : KBS 2

Episode 3 Part 1



Roo Da tertegun memandangi kalender ditangannya. Kamis, 8 November. Omo! Abis marah gila sama timjangnim eh ternyata harinya kembali berjalan. Roo Da jadi lesu maksimal. "Kenapa justru hari esok yang datang? Kenapa?" Diapun mengingat apa yang sudah dia lakukan kemarin pada Baek Jin Sang. Stresslah dia. Saking stresnya Roo Da sampai meringkuk di balik selimut sambil menghentak-hentakkan kakinya. Saat itu ibunya masuk langsung ngomel menyuruhnya membuka selimut, keluar, dan makan. Ibunya juga kayaknya stres tiap pagi harus ngeliatin tingkah anaknya yang aneh.

Roo Da memutuskan tetap berangkat kerja. Wajahnya nampak tertekan. Saat di dalam lift, pegawai lain menjauhinya. Wkwk mereka takut dicengkeram juga lehernya.
Sementara para pegawai yang sudah datang lebih dulu sedang berkumpul dan menggosipkan Roo Da dan Jin Sang. Bahkan salah satu pegawai laki-laki sangat antusias menunggu kedatangan mereka. Mungkin dia mengharapkan dapat tontonan lagi.
Roo Da membuka pintu pelan-pelan agar tidak ketahuan. Eh pintunya malah ketarik kebelakang sendiri sampai menimbulkan bunyi yang cukup keras. Sontak dia langsung jadi pusat perhatian.
Sementara Baek Jin Sang sedang berjalan di lobi dengan memegang lehernya lalu menelengkannya(???) hingga bunyi krekkkk. Mantep banget bunyinya.
Roo Da bertanya dimana Ketua Baek. Pak Yoo Doek memberinya kopi sambil menjawab bahwa Ketua Baek belum datang. Tiba-tiba ada yang berteriak memanggil Roo Da. Ternyata Joon Ho. Suaranya sampai menggaung di seisi ruangan. Dia berlutut di depan Roo Da.
"Aku mengkhawatirkanmu sepanjang malam. Ini tidak bagus. Berikan aku nomor teleponmu."
"Apa?"
Joon Ho langsung mengambil hp Roo Da dan misscall nomornya. Ketiga rekan Roo Da tersenyum meledek. Apalagi setelah mendengar ucapan Joon Ho yang sangat blak-blakan. "Aku benar-benar kepincut olehmu kemarin." Mendengar itu Roo Da langsung memuntahkan kopi yang sedang diminumnya lalu terbatuk-batuk.
"Astaga! Tuan Kang! Itu terlalu berlebihan jika itu lelucon."
"Aku benar-benar serius. Tidak bisakah kau tahu?"
"Aku sedang tidak ingin bercanda."
Dan yang menyahut adalah Baek Jin Sang yang baru masuk. "Baguslah. Aku juga. Aku memiliki sesuatu yang serius untuk dibicarakan." Dia memegang lagi lehernya yang ternyata sudah di tempel koyo. Lalu ditelengkan (??) sampai bunyi krekkk. Lagi! Haha
Mereka berakhir di dalam ruang konferensi. Ngiiik. Bunyi gitu waktu Baek Jin Sang menmencengkan mulutnya. "Nona Lee." Baek Jin Sang mulai melepas jam tangannya meniru apa yang Roo Da lakukan kemarin. "Apa yang kamu pikirkan tentang kekerasan di tempat kerja?" Roo Da bingung. Jin Sang melepas nametagnya dan menggulung talinya. "Menurut survei oleh situs web pencari kerja, sekitar setengah dari orang-orang yang bekerja di kantor sudah mengalaminya." Roo Da makin bingung. Jin Sang melepas kancing kemejanya lalu berjalan mendekati Roo Da. "Jenis kekerasan yang mereka alami, bahasa kasar dan sumpah serapah 30%, lalai dan ditinggalkan 24,6%. Roo Da mulai mundur karena Jin Sang terus mendekat. "Dan kekerasan fisik mencapai 15,6%. Selain itu ada kekerasan seksual, memaksa orang untuk minum, mengancam, dan menendang."
Roo Da mentok di tembok. "Kenapa kamu memberitahukan ini padaku?"
Jin Sang menghentakkan telapak tangannya ke tembok dengan wajah geram. "Aku berpikir apakah si penyerang yang melakukan kekerasan di tempat kerja itu memikirkan hal ini?"
Roo Da terkejut dirinya disebut penyerang. "Tuan Baek, aku pasti sudah gila kemarin. Dunia itu gila. Jadi aku juga ikut gila." Jin Sang tidak terima dan langsung melonggarkan dasinya. Kayak cowok kalo mau berantem gitu kan dasinya dilonggarin ya. Roo Da panik dan menyuruhnya tenang.
Lagi tegang-tegangnya tiba-tiba ada polisi datang. "Kami mendapat laporan tentang kekerasan di tempat kerja."
Roo Da langsung kaget. Jin Sang tersenyum dan mengatakan pada polisi bahwa orangnya ada disini. Tapi ternyata polisi malah membawa Jin Sang. Dia syok dan langsung protes bahwa mereka salah orang karena dialah yang membuat laporan.
Roo Da jadi bingung. Apalagi petugas mengatakan bahwa dia bisa ikut ke kantor polisi sebagai korban. Dan saat mereka sampai, polisipun sadar ternyata antara korban dan tersangka terbalik posisinya. Jin Sang pun menjelaskan kronologisnya sambil membayangkan kejadiannya. "Bahasa kasar. Sumpah serapah. Dan kekerasan fisik. Dia telah melakukannya sekaligus."
Polisi menghela nafas tidak percaya. Lalu menyuruh Roo Da memperagakan apa yang sudah dia lakukan pada Jin Sang. Tapi alih-alih mencengkeram Roo Da malah hanya "mencubit" kerah baju Jin Sang lalu merapikannya kembali. Polisipun mengatakan bahwa kasus seperti ini tidak bisa didakwa. Roo Da manggut-manggut sedangkan Jin Sang terlihat tidak suka. Diapun menambahkan dakwaan tentang pelecehan seksual. Jin Sang bahkan memeragakan sendiri bagaimana lehernya di cengkeram sampai dia mengira dia akan mati. Bahkan tangannya masih gemetar saat ini. Roo Da terus menggelengkan kepala menyangkalnya. (Ketawa liat Jin Sang gerakin tangannya, bukannya gemetar malah keliatan kaya orang lagi nari)
Kebetulan ada seorang reporter yang bertanya pada salah seorang polisi apa yang sedang terjadi. Setelah polisi menjawab bahwa itu kasus kekerasan pegawai dari CW Chicken reporter itu langsung menghubungi CEO Kang.
CEO Kang tampak tidak senang saat tau siapa yang meneleponnya. Tapi dia berusaha terdengar ramah saat mengangkatnya. Ternyata reporter tadi, kita panggil reporter Kim.
Reporter Kim memberitahu bahwa Baek Jin Sang ada di kantor polisi. Kekerasan di tempat kerja adalah masalah yang cukup sensitif. Pasti akan jadi berita besar. CEO Kang hampir saja marah tapi akhirnya tertawa dan mengajak reporter Kim untuk ketemuan.
Setelah menutup telepon CEO Kang meluapkan emosinya dengan berteriak minta dipanggilkan Direktur Na. Suaranya sampai menggema di seisi ruangan.
Sesampainya di kantor polisi, Direktur Na langsung memanggil-manggil Baek Jin Sang. Karena tidak menemukannya diapun bertanya pada para petugas tapi mereka semua tidak ada yang tahu. Akhirnya dia menemukan Baek Jin Sang yang ternyata sedang memberikan ceramah dengan menggebu-gebu tentang kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan di depan Roo Da dan beberapa petugas polisi. Dia menghentikan pidatonya saat menyadari ada Direktur Na yang sedang melongok di pintu.
Direktur Na membelikan tahu untuk Roo Da dan Jin Sang. Dia menyuruh Jin Sang untuk bermurah hati dan menganggap ini hanya perilaku kekanak-kanakkan karyawannya. Jin Sang tidak mau karena ini menyangkut kekerasan fisik, verbal, dan seksual. Roo Da tidak terima dituduh melakukan kekerasan seksual.
Jin Sang : "Kamu menyentuh kulitku."
Roo Da    : "Aku hanya meraih kerahmu."
Jin Sang  : "Ah.... Jadi tidak masalah untuk menarik kerah seseorang?"
Roo Da     : "Kenapa kau ini?"
Jin Sang   : "Apa kau mau mengamuk padaku sekali lagi?"
Roo Da      : "Kamu secara terang-terangan menolak menerima permintaan maaf dariku. Lalu aku harus bagaimana?"
Jin Sang    : "Aku belum mendengar permintaan maafmu."
Tiba-tiba ada animasi burung terbang di atas mereka. Kwak kwak kwak.Roo Da akhirnya sadar kalau ternyata dia belum sempat minta maaf karena tadi polisi keburu datang. Dan ditengah perdebatan, televisi disana menayangkan drama yang adegannya seseorang mengucapkan permohonan maaf seolah-olah menyahut Jin Sang yang sedang menuntut permintaan maaf. Di sini aku ketawa.
Seolah mendapatkan ide, akhirnya Jin Sang menyuruh Roo Da untuk meminta maaf pada publik selama siaran perusahaan besok. Roo Da melotot tidak percaya.







Read More

Sinopsis Feel Good To Die ( Episode 1 Part 2 )

Feel Good To Die 

All images credit and content copyright : KBS 2

Episode 1 Part 2

Tim perencanaan sedang mempersiapkan acara pencicipan ayam buatan khusus untuk anak. Setelah persiapan selesai, anak-anak dan ayahnya masuk ke ruang acara. Baek Jin Sang memberikan sambutan. Di tengah sambutannya ada seorang ayah yang meminta Min Joo mencatat bahwa anaknya alergi kacang kenari dan persik. Belum sempat Min Joo mencatat dia mendapat panggilan dari sekolah anaknya bahwa anaknya demam dan Min Joo harus menjemputnya. Min Joo pun pamitan pada Roo Da.

Makanan datang dan dibagikan kepada semua meja. Tak lama terlihat seung woo (anak yang alergi) menggaruk-garuk badannya. Ayahnya yang menyadari anaknya menunjukkan reaksi alergi langsung marah-marah meminta bicara pada penanggung jawab acara.

Direktur Na yang baru datang bertanya pada Roo Da dan Yoo Doek dimana Min Joo. Roo Da pun menjawab apa adanya yang sontak membuat Direktur Na marah.

Ke empat anggota tim perencanaan berbaris dengan tegang di dalam ruangan Direktur Na. Sementara sang ketua tim duduk santai di sofa sambil ngopi. Direktur Na langsung menyalahkan Min Joo sebagai penanggung jawab menu malah pergi padahal si ayah sudah memberitahunya tentang alergi anaknya. Min Joo hanya bisa minta maaf. Direktur Na kesal. "Inilah sebabnya perusahaan tidak suka mempekerjakan para ibu." (adakah yang tersindir?)
Tiba-tiba Jin Sang menyela. "Direktur Na. Kita harus mengklarifikasi siapa yang harus bertanggung jawab atas insiden ini." Dan ini lah cerita Jin Sang....

Flashback
Min Joo diberitahu bahwa anaknya sakit. Jadi dia minta bantuan Yoo Doek untuk memberitahukan pada tim dapur bahwa meja no. 3 ada alergi jadi harus diperiksa bahan-bahannya. Karena Yoo Doek juga sudah sibuk dengan pekerjaannya, dia mengoper tugas dari Min Joo kepada Jung Hwa yang juga terlihat hektik dengan kerjaannya. Dan disinilah Yoo Doel salah memberitahukan meja no.4 bukan no.3.
Flashback end

Semua kontan menatap Yoo Doek yang hanya bisa minta maaf. Jin Sang lanjut bercerita.

Flashback
Jung hwa salah mengambil catatan. Bukannya catatan alergi yang diberikan pada chef tapi malah catatan belanja tim dapur.
Saat si ayah marah-marah ternyata Jin Sang datang menghampirinya. Setelah tau duduk permasalahannya, dia meminta untuk bicara pada ibu si anak karena biasanya sang ibulah yang paling tahu soal anaknya.

Jin Sang membuka kotak obat dan memilih salah satu obat lalu memberikannya pada si anak. Jin Sangpun menganggap bahwa masalah sudah terselesaikan. Tapi si ayah masih tidak terima dan mengancam akan memberitahu pers agar perusahaan ini di tutup.

Jin Sang membela diri bahwa si ibu mengatakan anaknya alergi semangka dan biji wijen bukannnya kenari dan persik. Dia bahkan menirukan ucapan si ibu. "Dasar bedebah itu. Ini bukan pertama kalinya. Aku akan menghajarnya setibanya di rumah." Si ayah sontak ketakutan. Dan Jin Sang si arogan membungkuk 90 derajat minta maaf. "Bagaimanapun aku tetap ingin meminta maaf secara tulus atas kecerobohan pegawaiku."
Flashback end

Jin Sang menjelaskan bahwa insiden ini tetap akan terjadi karena kesalahan si ayah. Direktur Na menimpali bahwa bagaimanapun juga tim perencanaan melakukan kesalahan.
Dengan semangat Jin Sang berkata, "Benar. Setiap orang melakukan kesalahan dalam hal menyampaikan pesan. Maka seluruh tim harus bertanggubgjawab."

Direktur Na heran karena Jin Sang dikenal tidak pernah meminta maaf kalau salah. "Karena kau mengakui kesalahanmu, sepertinya aku akan membiarkan ini." Direktur Na tersenyum kayak seneng sama perubahannya Jinsang. Aku pikir Direktur Na ga jahat deh.

"Apa maksud Anda? Aku tidak melakukan kesalahan. Apa Anda tidak mendengarku? Aku membahas pegawaiku bukan diriku. Aku mengatasi masalah itu dengan sempurna untuk kesalahan pegawaiku. Aku bahkan meminta maaf dengan sopan."

Direktur Na kesal. "Aku tahu kamu berusaha meloloskan diri. Tapi penanggung jawab harus bertanggungjawab!"

Dan ujung-ujungnya Jin Sang nyalahin Min Joo. Min Joo sampai melongo. Dan wajahnya yang lagi melongo itu sampai tercetak diponsel Roo Da yang diletakkan di meja. Ternyata semua tim sedang makan-makan di restoran untuk merayakan suksesnya acara pencicipan. Semua orang bergembira kecuali tim perencanaan yang minus Min Joo.

Di depan foto Min Joo di letakkan sebuah gelas. "Min Joo tidak akan kesepian karena dia bersama kita." Satu persatu mereka menuangkan minuman ke gelas 'Min Joo' lalu bersulang. Di saat anggota timnya sedang sendu, Jin Sang malah tertawa keras di meja para ketua tim.

Yoo Doek pamit pulang duluan karena istrinya lembur jadi harus menjaga anaknya. Jung Hwa juga karena takut ketinggalan kereta. Tinggallah Roo Da seorang diri.

Televisi di restoran menyiarkan sebuah berita kebakaran. Roo Da yang sedang menikmati makanannya memperhatikan berita itu.

Di dalam ruangan yang terbakar ada seorang wanita yang duduk sambil terbatuk-batuk karena asap. Dia tampak sedang susah payah menuliskan sesuatu di buku.

Jin Sang terus dipaksa minum oleh rekan-rekannya. Roo Da senang melihatnya. "Kau pantas mendapatkannya. Kau harus minum sampai habis dan matilah." Bersamaan Roo Da berkata matilah, wanita di dalam ruangan yang terbakarpun menulis 'matilah'.

Tiba-tiba Joon Ho datang mengagetkan Roo Da. Dia langsung protes karena Roo Da menikmati makanan sendirian.

"Kamu bisa memesan makanan bersama timmu."
"Aku tidak bisa melakukannya. Aku akan membayarmu."
"Dengan apa?"

Terdengar suara gelas pecah. Ternyata Jin Sang ambruk di mejanya. Terpaksalah Roo Da sebagai satu-satunya anggota tim perencanaan yang tersisa menghampirinya. Dia meminta bantuan pada para ketua tim tapi semua mengacuhkannya. Akhirnya dia minta tolong pada Joon Ho.

Roo Da dan Joon Ho memapah Jin Sang dengan susah payah. Oleng kanan oleng kiri. Roo Da mengeluh dia hanya ingin pulang.

Joon Ho : "Dimana rumahmu?"
Roo Da : "Bang baedong."
Joon Ho : "Oh. Aku di Seochodong. Kita tinggal berdekatan ternyata."
Joon Ho langsung bernyanyi lagu rap.
Aku pernah berkencan buta
Kami bertelepon untuk pertama kali
Aku sangat menyukai suaranya
Hobi kami sama
Kepribadian kami sama
"Permisi, aku tinggal di Kkachisan. Dimana tempat tinggalmu?"

Joon Ho menjawab pertanyaannya sendiri dengan ganjen. "Aku tinggal di pasar moran."

Roo Da tertawa melihat tingkah Joon Ho. "Lagu apa itu?"

"Itu lagu yang sangat mendalam. Semakin dekat tempat tinggal kita makin baik bagi kita berpacaran. Nona Lee, kamu punya pacar."
"Bagaimana kalau tidak?"

Tiba-tiba Jin Sang berhenti melangkah. Dia duduk berlutut di depan Roo Da. Daaaaann Jin Sang muntah tepat di celananya Roo Da. Melihat itu, Joon Ho langsung berinisiatif pergi membelikan tisu basah. Disaat Roo Da sedang fokus pada celananya, Jin Sang sempoyongan jalan ke tengah jalan raya hingga berkali-kali hampir tertabrak. Untung Roo Da segera menariknya untuk menepi.

Min Joo menelepon. Roo Da mengalihkan fokusnya pada Min Joo dan tidak sadar kalau Jin Sang berhasil lolos dari pegangannya. Jin Sang kembali ke tengah jalan raya dan kecelakaanpun terjadi. Jin Sang tertabrak truk. Dari kepalanya mengalir darah segar. Roo Da syok setengah mati. Dia berusaha membangunkan Jin Sang. Tapi Jin Sang malah kejang. Dia menyuruh orang-orang memanggil ambulans.

"Tuan Baek, aku minta maaf karena berharap agar Anda mati. Aku tidak menyangka Anda akan mati seperti ini."

Kepala Jin Sang tergolek seolah menandakan dia mati. "Tuan Baeeeeeek."
Suara alarm berbunyi. Roo Da membuka matanya. Dia lega karena tadi hanya mimpi. Saat hendak bangun dia malah terjatuh dari kasur persis seperti pagi kemarin. Dan anehnya, kalendernya menunjukkan tanggal yang sama dengan kemarin, 7 November.

Read More

Sinopsis Feel Good To Die ( Episode 2 )

Feel Good To Die

Sumber : KBS 2



Episode 2

Episode satu diakhiri dengan Roo Da yang terjatuh dari tempat tidur saat bangun setelah sebelumnya memimpikan Jin Sang meninggal. Tapi benarkah itu hanya mimpi? Ataukah harinya terulang karena kalender di kamar Roo Da menunjukkan tanggal yang sama seperti kemarin. Check it out!


Saat sedang sarapan, Roo Da terus kepikiran soal mimpinya semalam. Di kereta, masinis memberikan sambutan persis seperti sambutannya kemarin. Jadi Roo Da langsung memakai head setnya.

Sesampainya di lobi kantor, pegawai laki-laki paruh baya yang kemarin langsung bertanya kapan Min Joo akan cuti. Karena Roo Da memakai head set, diapun tidak mendengarnya. Jin Sang yang ada di belakangnyalah yang menjawab sama persis seperti kemarin.
Seolah waktu kemarin terulang. Namun Roo Da belum menyadarinya.

Saat Jin Sang masuk ruangan, Roo Da berdiri dan menyapanya hangat. Yang lain sampai keheranan melihatnya. Roo Da melihat jam dinding dan tampak khawatir karena Min Joo terlambat dua kali berturut-turut. Padahal itu belum pernah terjadi. Diapun bertanya pada Jung Hwa apa yang terjadi. Mereka bicara dengan bisik-bisik.

"Liftnya rusak. Mereka memanggil panggilan darurat dan situasinya kacau."

"Apa? Kemarin liftnya juga rusak."

Jung Hwa bingung. "Hari selasa liftnya tidak rusak."

Roo Da langsung mengecek tanggal di ponselnya. Dia kaget karena tanggal hari ini sama dengan kemarin. 7 November. Saat dia sedang bingung, Min Joo datang. Dan kejadian kemarin terus berulang. Roo Da benar-benar bingung. Apa dia mengalami prekognisi (mimpi tentang masa depan)?

Roo Da dan Joon Ho memapah Jin Sang . Joon Ho kembali ngerap.

"Dimanakah kamu tinggal?

Roo Da menyahut "Pasar Moran." Joon Ho tertawa takjub karena Roo Da tahu lagu itu. Roo Da jadi semakin yakin kalau dia mengalami mimpi prakognisi.

Jin Sang mau muntah. Roo Da langsung menghindar. Alhasil sepatu Joon Ho yang kena muntahan. Dia langsung ngibrit beli tisu basah. Roo Da panik ditinggalin. Dia berusaha menarik-narik Jin Sang yang terus mondar mandir dijalanan. Sebuah truk hampir saja menabraknya. Roo Da lega karena Jin Sang selamat. Tapi tiba-tiba datang sepeda motor yang membuat Jin Sang terpental.

Roo Da terbangun dari mimpinya. Dia langsung meraih kalender digitalnya. Dia kesal karena lagi-lagi hari Rabu, 7 November.

Aku tidak tahu maksud dari kejadian ini. Tapi faktanya adalah setelah makan malam tim, Tuan Baek meninggal. Jadi....

"Selamatkan Baek Jin Sang."

Sejak saat itu, misi rahasiaku telah dimulai. Menyelamatkan Baek Jin Sang.

Rabu, 7 November ke-3

Joon Ho hendak pergi beli tisu basah. Tapi Roo Da sudah mengantisipasinya jadi dia sudah mempersiapkannya di tas. Dia bahkan membantu mengelap sepatu Joon Ho. Jin Sang hampir saja nyelonong ke jalanan lagi. Roo Da langsung menyuruhnya berhenti. Jin Sang memang berhenti. Tapi naas karena dia malah terjatuh ke lubang selokan dan meninggal.

Rabu, 7 November ke-4

Saat Jin Sang akan muntah. Roo Da langsung membekap mulutnya dan menyuruh Jin Sang menelannya. Gleekk. Dokter berkata Jin Sang meninggal karena asfiksia (tertutupnya jalan nafas).

Rabu, 7November ke-5

Saat makan malam tim, Roo Da terus mencekoki Jin Sang dengan minuman berharap dia pingsan dan Roo Da bisa membawanya pulang dengan aman. Dan dokter berkata Jin Sang meninggal karena keracunan alkohol akut.

Rabu, 7 November ke-6

Roo Da menghadang Jin Sang yang akan masuk ke restoran tempat makan malam. Dia bilang makan malam di batalkan. Jin Sang tetap meninggal. Dokter berkata bahwa kematian mendadak pada usia 40 tahunan sudah sering terjadi. Stresslah Roo Da.
Rabu, 7 November ke-7

Roo Da menyeret paksa Jin Sang yang mabuk ke kantor polisi. Dia memohon pada pak polisi agar Jin Sang diijinkan tidur disana malam ini. Tapi malah Roo Da yang dimasukkan ke dalam sel. Jin Sang yang tanpa pengawalan berjalan sempoyongan dan menabrak seorang petugas hingga menyenggol pot bunga di meja. Akhirnya Jin Sang meninggal (lagi) karena kepalanya kejatuhan pot bunga.

Rabu, 7 November ke-8

Roo Da terlihat sangat lesu di mejanya. Terlihat lingkaran hitam di matanya.
Aku sendirian di pulau terpencil. Hari terulang di pulau terpencil. Bukan. Di tengah Yeouido. Tak ada jalan keluar untukku.

Akhirnya Roo Da memutuskan tidak ikut makan malam tim dan memilih pulang ke rumah. (Cape kali dia udah berjuang sekuat tenaga tapi Jin Sang tetap tak terselamatkan)

Rabu, 7 November ke-9

Sepertinya Rabu ke-8 Jinsang tetap meninggal karena hari terulang lagi. Roo Da merasa muak karena setiap hari harus melihat hal yang sama.

Akhirnya, setelah Jin Sang menunjuk Min Joo untuk bertanggung jawab, Roo Da  mengejar Jin Sang saat keluar dari ruangan Direktur Na.

"Tuan Baek. Aku rasa Anda keterlaluan. Anda terlalu kejam memarahi Min Joo di depan Direktur Na."

"Kamu tidak berhak berkata begitu. Karena kamu juga ikut andil membuat Direktur Na marah."

"Aku? Apa yang aku lakukan?"

"Kamulah yang melaporkan bahwa Min Joo pergi untuk mengurus anaknya di TK. Kamu tidak memastikan Min Joo pergi atau tidak. Artinya kamu juga harusnya ikut bertanggung jawab karena kamu tidak yakin situasi sebenarnya tapi berlagak tahu segalanya."

Setelah Jin Sang pergi, Roo Da terlihat memikirkan sesuatu. Dia berlari ke ruangannya dan bertanya pada Jung Hwa dimana Min Joo saat acara pencicipan.

Jung Hwa : "Dia bersama wartawan dari daily news dan monthly magazine karena mereka terkenal rewel." Roo Da kaget karena Min Joo ternyata tidak pergi menjemput anaknya.
Yoo Doek : "Ada apa? Nona Lee, apa kau baik-baik saja?"

Jung Hwa : "Kamu pasti kelelahan. Hari ini lebih melelahkan dari hari kemarin."

Yoo Doek : "Ya hari ini sangat sulit bagi kita. Aku menantikan esok hari, lusa, dan akhirnya akhir pekan. Bukankah begitu?"

Roo Da berjalan pulang seorang diri.

Aku juga memikirkan itu. Aku muak dengan hari ini. Aku menantikan hari esok. Tapi apa yang ku tahu tentang hari ini? Aku selalu menyia-nyiakan hari esok. Tapi mungkin hari esok hanya untuk orang-orang yang menjalani hari ini dengan maksimal.

Rabu, 7 November ke-10

Roo Da naik kereta dan mendengarkan masinis mengucapkan pepatah yang sama. Tapi kali ini dia tidak memasang head setnya sehingga dia mendengar kelanjutan ucapan masinis.

"Sejujurnya, dulu aku membenci pepatah ini. Aku benci dengan hidupku yang terus berulang. Dan pepatah itu seolah-olah menasihatiku agar lebih rajin. Setelah aku memulai siaran hari ini, orang-orang mulai mengirimiku pesan teks bahwa aku menyemangati mereka dalam perjalanan ke kantor. Setelah melihat orang-orang turun dari kereta bawah tanah sambil tersenyum aku menyadari hal ini. Tertarik pada hal di sekitar kita dan mencoba hal kecil, bisa mengubah tidak hanya hari kita, tapi juga hari orang-orang di sekitar kita."

Di acara pencicipan Min Joo memberitahu bahwa anaknya demam. Roo Da langsung menyuruhnya pergi dan dia yang akan mengurus semuanya. Min Joo sedikit tersinggung karena seolah-olah Roo Da menganggapnya akan mengabaikan tugas. Min Joo pergi dan Roo Da mengejarnya.

Roo Da mencari-cari Min Joo yang ternyata sedang duduk di tangga menelepon suaminya. Dia meminta suaminya yang menjemput anaknya. Sepertinya suaminya tidak setuju sehingga merekapun berdebat di telepon dan Roo Da mendengarnya. Setelah menutup telepon Min Joo mengeluh kalau dia bosan melakukan ini setiap hari. Diapun menangis. Roo Da hanya bisa duduk mendengar tangisannya.

Di acara pencicipan Roo Da berusaha memperbaiki kesalahan. Dia membantu Jung Hwa dengan memberitahukan chef hal yang benar. Dia bahkan meminta menelepon si ibu dari anak yang alergi sebelum makanan datang.

Aku baru menyadari, bahwa bukan hanya aku yang mengalami hal yang melelahkan.

Tapi masalah tetap muncul. Saat sesi pemutaran video untuk anak-anak, malahan yang di putar videonya anak Min Joo saat sedang berlatih. Ternyata Jin Sang mengambil flash disk yang salah padahal Min Joo sudah memintanya untuk mengeceknya terlebih dahulu.
Min Joo menghadap Jin Sang. "Aku sudah bilang bahwa diska lepasnya ada di saku kanan, tapi Anda melakukan kesalahan...." Ups, Min Joo keceplosan.

Dasar Jin Sang yang memang arogan, dia  tidak mau mengaku salah dan malah menimpakannya pada orang lain. "Bu Choi. Apa pendapatmu tentang mengundurkan diri. Kamu biasa pulang lebih awal untuk menjemput anakmu dan menyisakan pekerjaan. Keesokan harinya kamu masih ada pekerjaan sisa kemarin tapi kamu datang terlambat. Kamu bahkan tidak bisa mengedit video berharga tentang pertumbuhan anakmu." Jin Sang menatap perut besar Min Joo. "Dan kita akan mendapatkan masalah yang lebih besar lagi. Bukankah kita harus mencari akar masalah dan mengakhiri lingkaran setan ini?"

Permasalahan akhirnya merembet pada masalah ibu rumah tangga. Jin Sang ceramah panjang lebar tentang tugas ibu rumah tangga. Bahkan pidatonya sangat rinci sampai menjelaskan hasil survey segala. 

Roo Da sudah tidak tahan mendengar ocehan Jin Sang. Dia mendorong kursinya hingga terbalik dan mengeluarkan semua kekesalan yang selama ini dia tahan dengan berteriak pada Jin Sang sampai membuat semuanya kaget tak percaya.

"Kurasa Anda sudah keterlaluan. Anda melampiaskan kemarahan pada Bu Choi. Anda berusaha terdengar logis padahal semua itu omong kosong."

"Nona Lee. Apa kau sudah gila?"

"Aku gila? Aku hanya sudah tidak tahan." Roo Da menggulung lengan bajunya. "Baiklah. Aku akan mengatakan yang ingin ku katakan." Roo Da melepaskan jam tangannya kemudian mengantonginya. Lalu melepaskan ID card dan menggulung talinya. Akhirnya dia mulai berjalan kearah Jin Sang, melepas mantelnya lalu membantingnya ke lantai. Dia terus berteriak marah-marah meluapkan emosinya. Para pegawai dari divisi lain sampai ikutan berdiri kepo pada kelakuan Roo Da.

"Negeri ini bersikeras agar kita memiliki anak. Tapi di tempat kerja orang-orang mengeluh saat kita mengutamakan anak.  Apa yang harus mereka lakukan? Kesalahpahaman soal nilai pekerjaan rumah? Meremehkan ibu rumah tangga? Omong kosong macam apa ini!!?

Roo Da menarik Jin Sang dari kursinya dengan mencengkeram kerah bajunya.  Tak hanya sampai disitu, seperti orang kesetanan Roo Da mengguncang-guncang tubuh Jin Sang dan tak henti-hentinya ngoceh.

"Haruskah Anda mengatakan itu pada Bu Choi yang harus bekerja keras menjaga anak pertamanya dan melindungi bayi dalam kandungannya!!! Para suami selalu membuat beralasan bahwa anak-anak menyukai ibunya dan menangis saat mereka yang mengasuh. Pasti ada lebih dari 200 orang seperti Anda di sini. Seharusnya kita mengumpulkan mereka di aula dan mendengarkan pidato yang hebat ini. Katakan!! Jawab aku!!"

Jung Hwa dan Yoo Doek berusaha menghentikannya. Jin Sang sendiri hanya diam saja. Mungkin dia syok karena ternyata pegawainya ada yang berani melawannya. Sementara Joon Ho yang memandang dari luar terpana menyaksikan aksi Roo Da. "Luar biasa."

Bagaimanapun aku tidak punya hari esok. Jadi aku bisa melakukan apapun semauku. Tapi, begitu aku berpikir hanya bisa menjalani hari, seperti hadiah, bukan, seperti hukuman....

Roo Da syok setengah mati saat bangun tidur melihat jam digitalnya menunjukkan tanggal 8 November.

Hari esok dimulai.

Read More

Sinopsis Feel Good To Die ( Episode 1 Part 1 )

Feel Good To Die

All images credit and content copyright : KBS 2




Episode 1 Part 1


Seseorang berjalan sambil menggenggam sebuah tongkat. Lalu terlihat dua pria berjas hitam sedang duduk disebuah ruangan yang dikelilingi teralis besi. Mereka adalah CEO Kang dan Direktur Na dari perusahaa MW Chicken. Sepertinya mereka sedang disekap. CEO Kang bertanya apa yang ingin Direktur Na  lakukan setelah keluar dari sini. Direktur Na menjawab bahwa dia ingin menjadi CEO. Merekapun tertawa bersama. Namun seketika tawa mereka lenyap saat orang yang membawa tongkat tadi datang.

Dia adalah Lee Roo Da (Baek Jin Hee). Direktur Na marah mengetahui orang di depannya adalah anggota tim pemasaran MW Chicken. Dia berteriak minta dikeluarkan dari sana. Roo Da menjawab dengan memukulkan tongkatnya yang berhasil membuat Direktur Na dan CEO Kang mundur ketakutan.

"Direktur pelaksana junior Na Choel Soo! Anda menyampaikan perintah dari atasan Anda dan hanya melaporkan apa yang mereka lakukan. Anda tidak peduli datang ke kantor atau tidak seperti orang yang tidak terlihat. Anda akan mengulang karir sebagai server paruh waktu."

Direktur Na ingin protes namun Roo Da segera melanjutkan. "Berikutnya, CEO Kang In Gu! Anda berusaha keras untuk tidak melakukan apapun untuk pegawai Anda. Anda pembohong yang picik. CEO Kang, Anda dipecat!!"

Tiba-tiba datang 4 orang berjas hitam yang langsung menyeret CEO Kang dan Direktur Na yang sontak kaget dan minta di lepaskan. CEO Kang hanya bisa berteriak bahwa dia akan membalas Roo Da.




Roo Da berjalan ke ruangan lain dimana ada seorang pria yang duduk membelakanginya.

"Dan yang terakhir, ketua tim pemasaran, Baek Jin Sang."

Yang disebut namanyapun berdiri. Dialah lead male kita Baek Jin Sang (Kang Ji Hwan). Dia membuka rantai yang menyegel pintu. Roo Da terkejut karena pintunya ternyata tidak terkunci. Jin Sang menunjukkan kunci di tangannya dan mengatakan bahwa Roo Da terlalu kikuk saat mengurungnya sama seperti saat mengerjakan tugas di kantor. Seketika Roo Da membuang tongkatnya dan terlihat takut.

Jin Sang duduk di depan meja yang diatasnya terdapat banyak tumpukkan kertas. Dia mulai ngoceh tentang Roo Da yang tidak pernah mengerjakan tugas dengan baik dan selalu membantahnya. Jin Sang terus mencoba menyudutkan Roo Da. Dia bahkan meragukan benarkah Roo Da lulusan universitas dari seoul.

Roo Da meledak. "Cukup!!!" Dia melemparkan kertas-kertas ke arah Jin Sang yang sontak terkejut. Bahkan Roo D naik ke atas meja dan balik memaki Jin Sang. "Baek Jin Sang! Kamu dijatuhi hukuman mati!!".

Roo Da menekan tombol merah di meja. Jin Sang terlempar ke belakang ke arah pintu yang tiba-tiba terbuka. Seketika api berkobar. Roo Da tertawa puas.




Dan ternyata semua hanyalah mimpinya Roo Da. Dia terbangun dan jatuh dari tempat tidur. Di belakangnya, sebuah kalender menunjukkan tanggal 7 November. 

Ibu Roo Da masuk langsung melemparnya dengan bantal lalu menyuruh Roo Da segera keluar.

Roo Da tiduran lagi di lantai dan menggerutu kesal kenapa tadi hanya mimpi.

Ada orang-orang yang lebih baik mati demi masa depan kemanusiaan yang lebih baik yaitu... "Baek Jin Sang"


Roo Da berdiri menunggu kereta. Saat kereta datang dia langsung terdorong orang-orang yang berebut naik kereta hingga pipinya kesakitan terantuk kaca.

Di dalam kereta masinis berbicara dengan microfon memberikan sambutan untuk penumpangnya. Dia mengatakan sebuah pepatah. "Hidup yang kita sia-siakan hari ini adalah hari esok yang ingin dijalani oleh seseorang yang wafat kemarin." Roo Da mendengarnya dengan malas dan mengeluh bahwa setiap hari saja. Tapi seorang ahjumma yang duduk depannya tersenyum dan bertanya pada Roo Da bukankah masinis selalu mengatakan pepatah yang bagus. Roo Da terpaksa tersenyum mengiyakan. Lalu dia memasang headset merahnya ke telinga.

Sesampainya di lobi perusahaan Roo Da langsung disambut seorang pegawai pria yang bertanya apakah Bu Choi akan mengambil cuti secepatnya karena dia kan sedang hamil. Roo Da mengiyakan dan berkata Bu Choi pasti akan segera melahirkan.

Baek Jin Sang yang baru datang langsung membantah perkataan Roo Da. Dia berkata bahwa kehamilan Bu Choi baru berusia 27 minggu. Jadi tidak benar jika mengatakan dia akan segera melahirkan karena biasanya usia kehamilan hingga 38 atau 40 minggu. "Tapi aku tahu kamu tidak punya pengetahuan itu Nona Lee." Roo Da mendengus kesal. Merekapun mengantri di depan lift bersama tiga pegawai lainnya.

Roo Da berusaha bersikap ramah dengan menyapa selamat pagi pada ketua timnya. Tapi Jin Sang dengan soknya menyuruh Roo Da membersihkan mulutnya dulu. Si pegawai wanita langsung nyinyirin Jin Sang yang bisa tahu usia kehamilan Bu Choi. Si pegawai pria yang lebih pendek ikut menyahut bahwa tim pemasaran pasti sangat akrab. "Ketua tim kami tidak pernah ada waktu untuk kami karena selalu sibuk dengan urusan perusahaan." Dia ini nyindir Jin Sang punya banyak waktu buat kepoin urusan pegawainya.

Jin Sang membalas si pegawai pria. "Ku dengar hanya kamu yang tidak bisa mencapai targer kerja tim." Si pegawai langsung menelan ludah. "Aku juga mendengar bahwa Nona Park kencan buta 3 kali selama akhir pekan. Tapi tidak mendapat hasil yang bagus seperti biasa." Tukang gosip juga yah si Baek Jin Sang. Pegawai wanita tidak terima dan adu mulutpun terjadi.

Diam-diam Roo Da pindah ke lift di belakangnya karena tidak mau terlibat pertengkaran. Saat akan menekan tombol lift, pegawai pria yang sedari tadi diam saja mencegahnya. Dia meminta Roo Da untuk menghentikan pertikaian bosnya. Roo Da tidak mau tapi si pegawai pria langsung mendorongnya tepat ke tengah medan perang. Sontak semua orang diam melihatnya. Roo Da bingung mau ngomong apa.


Ding dong. Pintu lift terbuka. Roo Da langsung mempersilahkan Jin Sang masuk lebih dulu. Lift hampir tertutut tapi Nona Park melihat ada Pak Kang dari tim pengembangan jadi dia menekan tombol buka. Jin Sang tidak suka langsung menekan tombol tutup. Perang tombol buka tutuppun terjadi. Dan akhirnya Kang Joon Ho (Gong Myung) berhasil masuk lift dengan cerianya tanpa tau atmosfir dingin di sana.

Masalah kembali terjadi. Lift tiba-tiba berhenti. Trio nyinyir panik berteriak minta tolong. Jin Sang menyuruh mereka diam dan langsung menelepon panggilan darurat. Dia kesal karena disuruh menunggu 10 menit oleh petugas yang berarti harus terlambat 2 menit. Setelah menutup panggilan dia langsung menyuruh Joon Ho yang nempel ketakutan di dinding untuk minggir. Dia sendiri langsung jongkok sambil menggenggam pegangan lift dan diikuti oleh trio nyinyir dan Joon Ho.

Petugas datang. Karena lift berhenti di tengah jadi mereka kesulitan untuk naik. Dengan gentlemen Joon Ho menawarkan punggungnya sebagai pijakan. Dan dengan tidak tahu malu Jin Sang minta didahulukan karena jabatannya yang paling tinggi. Joon Ho tidak mengijinkan dan meminta para wanita naik lebih dulu.

Mereka berpisah setelah keluar dari lift. Joon Ho berjalan ke ruangannya sambil berbicara dengan kakeknya di telepon. Dia curhat tentang lift yang berhenti dan dia yang jadi penolongnya. Dari percakapan mereka kita tahu bahwa kakek Joon Ho adalah pemilik perusahaan dan tidak ada yang tahu identitas Joon Ho karena dia hanya berniat bekerja selama tahun.


Sementara di ruangan tim pemasaran, Jinsang mengganti sepatunya dengan sandal terapi. Lalu duduk, memakan permen, menyemprot tangannya dengan antiseptik, mengikir kukunya, mengibas-ngibaskan jarinya sambil menarik nafas dalam-dalam. Saat itulah Bu Choi yang lagi hamil datang terlambat. Jin Sang tidak senang dan langsung mengajaknya bicara.

Sedetik kemudian Bu Choi menangis di tangga di temani dua rekannya. Rekannya yang perempuan membawa tisu toilet itu menghapus airmatanya. Kemuadian Roo Da datang menanyakan apa yang terjadi.

Flashback

Bu choi menjelaskan alasannya terlambat karena mengantar anaknya ke TK dan karena lift rusak jadi dia naik tangga. Jin Sang tidak mau menerima alasannya karena Bu Choi sudah sering terlambat. Jadi dia memotong satu hari dari cuti tahunan Bu Choi.

Flashback end

Si rekan kerja pria menyarankan pergi makan-makan untuk menghilangkan kekesalan Bu Choi tapi dia tidak mau.


Jin Sang sedang berada di rooftop bersama Direktur Na yang berkata bukankah menyenangkan berada rooftop setelah seharian berada di kantor yang menyesakkan. Tapi Jin Sang malah menyahut bahwa konsentrasi debu halusnya sangat parah. Direktur Na salahtingkah sendiri lalu beralih menanyakan masalah di tim ya.

"Kontrak kerja Jung Hwa hampir habis tapi performa kerjanya sangat buruk. Min Joo (Bu Choi) tidak becus melakukan apun dan selalu linglung karena dia ibu rumah tangga. Yoo Doek hanya pandai duduk di kursinya dalam waktu yang lama. Aku yakin dia tidak akan di promosikan tahun depan. Masalah Roo Da adalah dia tidak begitu bermasalah. Direktur Na bingung, kenapa itu menjadi masalah?

"Dia melakukan pekerjaan dalam skala rata-rata. Itu artinya dia tidak memiliki semangat, perhatian, dan minat pada perusahaan. Dia hanya asisten manager tapi berlagak sudah melalui semuanya. Apa tidak bisa berharap banyak padanya." Jin Sang menghela nafas.
"Bagaimana tugas bisa selesai dengan tim seperti itu?"

Dengan percaya diri Jin Sang menjawab, "Untungnya mereka punya aku." Dan akupun ketawa. Direktur Na sampai bengong. "Meskipun awak kapal tidak cakap, tapi dengan kapten yang cakap mereka masih bisa sampai ke tujuan." Jin Sang pun melenggang pergi setelah mengatakan bahwa dia harus bersiap untuk acara pencicipan makanan. Direktur Na kesal dan berharap akan ada yang menculik Jin Sang.


Read More

Sinopsis Feel Good To Die (Episode 3 Part 2 )

Feel Good To Die 
Episode 3 Part 2

Sumber : KBS 2

Roo Da duduk di pinggir sungai Han dan minum sendirian. Dia mengingat permintaan Jin Sang untuk meminta maaf saat siaran perusahaan. Roo Da berpikir bahwa dia hanya perlu menyerah. Kemudian dia mendapat telepon dari Bu Choi yang sedang merapikan mainan anaknya. Roo Da curhat tentang permintaan Jin Sang. Bu Choi kaget dan langsung minta maaf karena merasa itu terjadi karena kesalahannya. Tapi Roo Da menyuruhnya untuk tidak bilang begitu karena ini adalah pilihannya sendiri. Bu Choi akhirnya berkata kalau dia sangat berterimakasih pada Roo Da. Dia sangat tersentuh sampai menangis sangat lama di bahu suami. Dia menyuruh Roo Da untuk menceritakan padanya jika ada masalah ataupun sedang dilema. Karena mereka adalah rekan kerja. Roo Da tertegun mendengarnya.
Joon Ho mengendarai mobil sport putihnya sambil menyetel musik keras-keras. Tanpa sengaja dia melihat Roo Da yang sedang berjalan di trotoar. Diapun memundurkan mobilnya dan memanggil Roo Da.

Sepertinya Roo Da sedang mabuk. "Astaga! Siapa sih yang berisik banget! Kasar banget ni orang." Joon Ho langsung mematikan musik dan melambaikan tangannya. "Oh, Tuan Kang dari tim Pengembangan." Roo Da lanjut jalan setelah menyapa Joon Ho. Joon Ho mengikuti dengan mobilnya. Dia bertanya apakah Roo Da mabuk? Roo Da balik bertanya kenapa harus dirinya? Dia bahkan menarik kerah atasannya.

"Itulah mengapa kau sangat menakjubkan. Kau seperti wonder woman yang menyelamatkan sesama rekan dari musuh."

Roo Da menghentikan jalannya, Joon Ho pun begitu. "Tidak seperti itu. Aku bukan orang yang ingin ikut campur urusan orang lain. Mengurus diri sendiri saja sudah sulit. Melewati batas itu tidak baik. Dan melangkah keluar untuk kebaikan mungkin akan membahayakanmu. Jika aku ingin bertahan di dunia ini, hal terbaik yang harus dilakukan adalah untuk tetap rendah." Roo Da kembali berjalan. (Muter dong ya. Lagian kenapa namanya RoDa coba)

Joon Ho memandangi Roo Da. Dia bergimam sendiri "Ayolah! Kau bahkan membuatku merasa sedih untukmu." Dia udah mulai jatuh cinta nih sama Roo Da sampai megangin keningnya saking mikirin si Roo Da. "Ah! Tidak ada jalan untuk keluar dari pesonamu."

Akhirnya dia memilih melajukan mobilnya dan mengucapkan selamat tinggal pada Roo Da juga menyuruhnya untuk jangan kedinginan. Roo Da mengabaikannya dan berkata dalam hati kalau dia hanya perlu pura-pura baik-baik saja. Itulah yang dia lakukan. (Kaya aku banget. Selalu pura-pura baik-baik sayang padahal hatinya nangis bombay. Curhat!)

Keesokan harinya, 9 November, Roo Da melaksanakan permintaan Jin Sang. Dia sudah berada di ruang siaran perusahaan. Setelah memantapkan hatinya, dia mengucapkan permintaan maafnya secara panjang lebar. Semua pegawai dari atasan sampai cleaning service sontak antusias mendengarkan siarannya. Ada yang nyinyir, ada juga yang iba. Baek Jin Sang sendiri sangat menikmati siarannya sambil duduk santai di ruang kerjanya dengan sebungkus minuman segar.

Dengan perasaan malu Roo Da berjalan ke ruangannya. Jin Sang langsung menyambutnya dengan berkata bahwa tadi itu sangat menyenangkan. Meski keterampilan sastra dan kosa katanya kurang memadai tapi aku bisa merasakan ketulusanmu. Lalu sruttt dia menyeruput minuman kemasannya dengan sangat bahagia. Kamp**t ni orang yah. "Aku akan bermurah hati dan menerima permintaan maaf resmimu."

Tapi Roo Da kayaknya udah jengah banget sama tingkah atasannya. Dia meledak lagi. "Kamu hanya sepotong sampah kecil. Pergi dan mati saja! Kau ba$#@*an. Kau hanyalah sampah!"

Jin Sang kaget dan berjalan mundur. Sampai akhirnya dia menabrak sebuah pilar dan jam yang digantung diatasnya jatuh menimpa kepalanya. Roo Da syok dan semua pegawai langsung mengerumuninya.

Jeng jeng jeng. Dan semua itu hanya mimpinya Roo Da. Dia ketawa kaya orang stres setelah berpikir bahwa akhir-akhir ini dia sangat tertekan hingga bermimpi buruk. Setelah kembali waras dia langsung menyambar kalendernya dan menemukan bahwa hari ini tanggal 9 November!!! Ternyata tadi bukan mimpi. Waktu kembali terulang. Roo Da jadi gila lagi dan bertetiak-teriak.

Putaran waktu ke-2 dimulai

9 November, Jum'at kedua

Duduk di kursi kerjanya, Roo Da memikirkan kenapa Jin Sang terus saja sekarat. Apa karena dia menyuruhnya untuk mati? "Haruskah aku mengujinya? Astaga tidak! Aku tidak bisa menggunakannya untuk mengutuknya."

Tiba-tiba Jin Sang menghampirinya dan menanyakan perihal siaran permintaan maafnya. Dengan gaya sengaknya sambil makan permen karet dia menawarkan diri untuk mengoreksi apa yang Roo Da tulis. Badannya sambil goyang-goyang lagi. Sumpah ini orang bikin kesel maksimal. Roo Da juga ikut dongkol maksimal. Dia mengutuk dalam hati. "Baek Jin Sang! Mati!!"

Magic!! Tiba-tiba datang pegawai yang membawakan pesanan kopi dan apes keseleo hingga nampannya terbang tepat ke jidatnya Jin Sang yang seketika langsung ambruk.

Besok paginya, 9 November, Jum'at ke-3

Roo Da duduk bersila seperti orang sedang meditasi di atas kasurnya. Dia berpikir bahwa prediksinya benar. Jika dia mengatakan mati maka Jin Sang benar-benar mati. "Itu artinya aku tidak boleh berpikir seperti yang ku inginkan. Tapi aku menjadi sangat marah hanya dengan melihatnya. Kenapa dia mati hanya karena aku menyuruhnya?" Roo Da jadi kesal sendiri. Dia mengumpat pada kalender digitalnya. "Dasar sepotong sampah kecil yang tidak fleksibel!!!!!"

"Hei!" Ibunya datang dengan membawa centong yang seperti "garu". "Ada apa denganmu! Apa kau ingin aku membunuhmu hari ini?" Roo Da menggeleng manja. "Ayo keluar dan makan." Adegan ibunya sama terus yah. Nyuruh keluar dan makan. Haha

Di kantor Roo Da terus memerhatikan Jin Sang yang sedang mengangkat telepon. Tapi saat Jin Sang berjalan ke arahnya untuk memberikan tugas, dia sudah kabur duluan. Lalu saat waktu istirahat, dia berjalan dengan Bu Choi dan Jung Hwa. Melihat Jin Sang akan lewat Roo Da langsung lari terbirit-birit sampai kedua rekannya bengong melihat tingkahnya. Saat sedang makan di kantin pun sama. Roo Da mencoba kabur dengan merangkak di bawah meja.

Roo Da menyadari bahwa dia tidak bisa terus menghindar. Akhirnya dia mendatangi tempat praktek seorang psikolog dengan slogan 'kami mendengarmu meski tidak ada yang tahu. Tapi akhirnya dia pergi dari tempat itu setelah sebelumnya tergagap-gagap dia depan Pak Dokternya karena tidak sanggup menceritakan apa yang terjadi.

Esoknya dia datang ke gereja mendengarkan ceramah pendeta. Esoknya lagi dia pergi ke kuil. Dan kocaknya yang jadi biksunya sama dengan pendeta di gereja. Keesokan harinya lagi Roo Da pergi mendaki gunung. Di sana dia berteriak dengan lantang bahwa rasa sakit adalah berkah bagi pemuda. Diapun bisa tersenyum karena akhirnya bisa menemukan solusi untuk masalahnya.

Dan apa solusinya????

Dalam keadaan berantakan seturun dari gunung, Roo Da mendatangi apartemen Baek Jin Sang untuk membicarakan masalahnya. Dia memutuskan untuk memberitahunya. Tapi Jin Sang malah memanggil polisi. Dia berkata kalau belakangan ini Roo Da selalu membuntutinya dan yakin pasti sedang merencanakan sesuatu. Bukannya Roo Da malah menghindar ya?? Roo Da teriak-teriak pada polisi minta dilepaskan. Dia memandang tajam Jin Sang. Dalam hati Roo Da berkata bahwa dia melupakan satu hal. Komunikasi hanya berjalan pada manusia.

"Aku cukup gila untuk berpikir mungkin aku bisa meyakinkanmu." Roo Da melepaskan diri dari petugas dan lari menghampiri Jin Sang lalu mencekiknya. "Jin Sang! Mati Saja! Aku akan terus kembali ke sini. Aku akan mengulangi ini." Roo Da terus menyuruh Jin Sang untuk mati.

Senin, 12 November

Roo Da terbangun dari mimpinya dengan posisi tangan seperti sedang mencekik seseorang. Lagi-lagi dia stres. Apa tidak ada cara untuk melarikan diri dari putaran waktu sial*an ini?

Read More