Showing posts with label Legend Of Fuyao. Show all posts
Showing posts with label Legend Of Fuyao. Show all posts

Sinopsis C-Drama : Legend of Fuyao ( Episode 7 Part 2 )

Legend of Fuyao

Episode 7 Part 2

Sumber : Zhejiang TV


Jing Chen tersenyum lega. Dia berpikir bagus sekali jika Fuyao benar-benar melarikan diri.

Tapi ternyata Fuyao tidak melarikan diri. Dia di bawa Pei Yuan ke tempat dimana dia biasa berlatih dengan Jing Chen. Dia juga membawa Xiaoqi kesana. Pei Yuan mengancam akan membunuh Xiaoqi jika Fuyao tidak mau terjun ke jurang.

Di kediaman Qi Zhen, Yun Hen melapor kalau dia sudah mendapat kabar dari Fei Yan. Yun Hen membisikkan sesuatu. Setelah itu Qi Zhen memintanya untuk segera bersiap. Terlihat Qi Zhen tersenyum.

Fuyao marah karena Pei Yuan melibatkan orang lain. Tapi Pei Yuan malah dengan kejamnya menjawab, "Jika aku harus melibatkan hidup setiap budak rendahan di bagian mistis hitam, lalu kenapa?"

Xiaoqi meminta Fuyao pergi saja dan tidak usah mempedulikannya. Fuyao mendekati Xiaoqi. Pei Yuan dengan sigap meletakkan pedang di leher Xiaoqi.

Xiaoqi tidak gentar. Dia terus meminta Fuyao pergi saja. Tapi Fuyao tidak mau mengorbankan orang lain lagi. Xiaqi nekad mendorong lehernya sendiri ke pedang. Pei Yuan cekatan menarik pedangnya dengan marah.

"Kau cari mati?" Pei Yuan menendang Xiaoqi. "Baiklah akan kuturuti keinginanmu." Pei Yuan sudah siap dengan pedangnya.

"Tunggu! Hidupku adalah milikmu. Apakah kau ingin membunuhku atau tidak, terserah padamu."

"Fuyao, jangan salahkan aku jika aku kejam."

Pei Yuan menyuruh Fuyao menyalahkan dirinya sendiri saja kenapa tidak mati dengan di permainan berburu dan bertempur (emang ada gitu orang ngarepin buat mati? Kezell). 

Fuyao heran kenapa Pei Yuan masih saja mengejarnya padahal Jing Chen sudah menyetujui perjodohan.

"Jika kau tidak mati, kakak seperguruan pertama akan memikirkanmu selama hidupnya."
"Apa kau berpikir setelah aku mati akan ada kau di hati kakak seperguruan?"

"Memikirkan orang yang sudah mati, lebih baik daripada memikirkan orang yang masih hidup." (Dasar psikopat)

Pei Yuan menyuruh Fuyao untuk melompat. Fuyao meminta Pei Yuan berjanji untuk melepaskan Xiaoqi dan semua orang di bagian mistis hitam. Pei Yuan menyanggupinya.
Fuyao melompat ke jurang. Dia meraih sebuah sulur tumbuhan dan berhasil menepi di sebuah roof. Namun Pei Yuan sudah menyiapkan jebakan di sana. Sebuah pisau meluncur ke arah Fuyao. Fuyao mengarahkan rantai yang mengikat tangannya hingga rantai itu terputus. Namun dia tidak bisa menjaga keseimbangan hingga terjatuh lagi.

Jeng jeng jeng. Akhirnya pangeran kita datang. Xuanyuan menangkap Fuyao. Dia tersenyum. Mereka mendarat di sebuah roof.

Pei Yuan melanggar janjinya. Setelah yakin Fuyao tidak akan selamat, dia menyuruh anak buahnya melemparkan Xiaoqi ke jurang.

Melihat Xiaoqi, Fuyao langsung melompat untuk menolongnya. Dia berhasil menangkap Xiaoqi. Xuanyuan lalu melemparkan sulur tumbuhan yang berhasil mengikat tubuh Fuyao. Mereka bertiga bergelantungan di tebing.

Yun Hen menunjukkan sebuah tempat kepada Qi Zhen yang menurutnya semua kriteria dari tempat itu cocok untuk kemunculan istana suci. Qi Zhen menyuruhnya untuk menyiapkan segalanya.

Malam harinya, Qi Zhen dan Yun Hen melakukan sebuah ritual di tempat itu. Terlihat kabut putih muncul di atas permukaan air. Petir menggelegar. Qi Zhen menyayat tangannya dengan pisau lalu meneteskan darahnya di atas lilin. Seketika muncullah sebuah istana di atas kabut putih.

Qi Zhen langsung mengutarakan niatnya pada sang kepala istana ilusi, Fei Yan.

"Raja negara air dalam hampir sampai pada akhir hidupnya. Ibukota Kun dilanda bencana air. Jika aku bisa menguasai teknik manipulasi air, permasalahan negara air dalam dan penderitaan rakyat ibukota Kun akan terselesaikan.

Terdengar suara seorang wanita.

"Hanya garis keturunan Xuanyuan yang bisa menguasai teknik manipulasi air. Ini adalah peraturan yang sudah ada sejak didirikannya lima wilayah. Apa tujuanmu menginginkannya? Untuk kerajaan atau rakyat?"

Dengan tegas Qi Zhen menjawab bahwa dia ingin jadi raja dari negara air dalam.
"Semua permintaan memiliki harga yang sama."

"Kepala Istana tidak perlu cemas. Aku memiliki segala yang Anda inginkan."

"Baiklah. Pada hari bulan merah, gunakan Lonceng Penyerap Bumi sebagai tanda. Gunakan darah Xuanyuan sebagai pembimbing dan korban pada langit dan bumi. Maka kau bisa menguasai teknik manipulasi air yang sebanding dengan siapapun dari garis keturunan Xuanyuan."

Xuanyuan Min membawa Fuyao yang belum sadarkan diri ke tempat Tabib Zhong Yue. Dia tidak menyangka gunung jiwa mistis yang terkenal dengan kebijakannya ternyata sangat kejam.

"Jika semua orang penuh belas kasih sepertimu, dunia akan damai." Lalu Tabib Zhong pun memeriksa nadi Fuyao.

Anak buah Pei Yuan melapor pada Ketua Yan bahwa mereka sudah mencari ke mana-mana tapi tetap tidak menemukan Fuyao. Ketua Yan memerintahkan untuk meneruskan pencarian."

Tinggal Ketua Yan dan Pei Yuan berdua. Ketua Yan memarahi Pei Yuan karena telah menghancurkan rencananya. Tapi Pei Yuan dengan sombongnya mengatakan bahwa tanpa Memecah Langit Kesembilan, dia akan bisa memberikan semua yang ingin Ketua Yan berikan pada Jing Chen.

Ketua Yan tetap pada pendiriannya. Menurutnya seseorang harus punya prestasi dan bisa bergantung pada keahliannya sendiri. Karena di dunia ini, tidak ada yang selamanya berdiri dan tidak jatuh." (Tumben ngomongnya bener)

Pei Yuan masih saja menyombongkan latar belakangnya. Saking kesalnya, Ketua Yan sampai membentaknya untuk tidak ikut campur urusan perguruan jiwa mistis.

Pei Yuan pergi dalam keadaan kesal. Dia bertanya pada A Lie apakah dia salah sudah membunuh Fuyao. A Lie menjawab bahwa apapun yang dilakukan dan dikatakan Pei Yuan adalah benar. Pei Yuan malah menampar A Lie. Lalu dia berjalan pergi sedangkan A Lie masih berdiri mematung.

"Kenapa kau berdiri di sana? Apa kau merasa diperlakukan tidak adil karena aku memukulmu?" A Lie menggeleng.

Fuyao sedang berendam dengan air panas. Dari luar, Tabib Zhong menginstruksikan apa yang harus Fuyao lakukan. Lalu Tabib Zhong melemparkan tiga jarum akupunktur yang tepat menancap di punggung Fuyao. Fuyao muntah darah. Dan setelahnya, Fuyao membuka matanya.

Fuyao yang sudah berganti baju dengan pakaian laki-laki, menghampiri Tabib Zhong Yue untuk menanyakan keadaan Xiaoqi. Tabib Zhong menjawab bahwa Xiaoqi baik-baik saja.
"Terimakasih karena telah menyelamatkan kami."

"Tidak perlu berterimakasih padaku. Bukan aku yang menyelamatkanmu. Aku hanya melakukan yang terbaik untuk apa yang sudah orang lain percayakan padaku."

"Apa maksudmu?"

"Selain si suka ikut campur itu, siapa lagi yang akan melakukan ini?"

"Kenapa dia melakukan ini?"

"Benar. Dia bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri."

"Tidak bisa melindungi dirinya sendiri?"

Qi Zhen menyuruh Yun Hen untuk mengirimkan surat dengan elang tercepat pada negara penjahat surga, Zhan Nanchen(ada-ada aja hehe). Dia berniat meminjam lonceng penyerap bumi untuk ritual di hari bulan merah. Dia juga memerintahkan Yun Hen untuk mengurung Xuanyuan.

Xuanyuan sedang terlelap. Tiba-tiba seseorang berbaju hitam masuk diam-diam ke kamarnya. Xuanyuan membuka matanya. Ternyata yang datang adalah pengawal rahasianya yang melaporkan aktivitas Qi Zhen. Dia juga berkata bahwa para prajurit Qi Zhen sedang menuju kesana.

Xuanyuan meminta pengawalnya untuk melakukan semuanya sesuai rencana. Si pengawal keluar melalui jendela.

Xuanyuan berkata dalam hati.

Kau adalah putra mahkota Kekaisaran Tujuh Bintang. Kau adalah calon pewaris tahta untuk mengelola lima wilayah. Misimu adalah menenangkan pemberontakkan di negara bawahan tanpa pertumpahan darah.

Prajurit Qi Zhen mengepung kediaman Xuanyuan. Terlihat Ketua Yan dan Jing Chen mengamati dari jauh.

Yun Hen mengetuk pintu kamar Xuanyuan dan memanggil calon pewaris. Setelah tidak mendapatkan jawaban, diapun menerobos masuk dan tidak menemukan Xuanyuan disana. Yun Hen menatap jendela yang terbuka.

Salah seorang prajurit melapor bahwa dia melihat sebuah kereta menerobos barikade mereka. Yun Hen sontak memeritahkan para prajurit untuk mengejarnya.

Setelah semua orang pergi, Xuanyuan muncul dari tempat persembunyiannya di atas.
Qi Zhen, bagian terbaik dari permainan ini segera dimulai.

Xuanyuan Min tersenyum.




Read More

Sinopsis C-Drama : Legend of Fuyao ( Episode 7 Part 1 )

Legend of Fuyao

Episode 7 Part 1


Sumber : Zhejiang TV


Jing Chen terkesima melihat patung-patung yang menggambarkan jurus memecah langit ke sembilan. Dia menyadari bahwa itulah jurus yang di gunakan Fuyao saat permainan berburu dan bertempur.


Paman Zhou sedang menjelaskan pada Fuyao tentang memecah langit kesembilan.

"Waktu dulu, pendiri perguruan jiwa mistis mendapatkan beberapa lembar halaman berisi metode inti memecah langit ke sembilan. Dalam waktu beberapa bulan, mereka menjadi pahlawan yang mengguncang dunia di beberapa tempat yang berbeda. Lalu mereka mendirikan perguruan jiwa mistis ini. Setelah diturunkan beberapa generasi, lembaran-lembaran itu hilang. Memecah langit ke sembilan pun hilang."

"Lalu bagaimana aku bisa mempelajarinya?"


Belum sempat paman Zhou menjawab, terdengar suara orang datang. Fuyao menyuruh paman Zhou pergi saja, namun paman Zhou malah mengajaknya keluar melalui pintu rahasia. Dia bilang Xiaoqi sudah menunggu Fuyao di bawah gunung jadi mereka harus bergegas.


Tiba-tiba pintu di belakang mereka tertutup. Lalu sebuah pintu besi berujung lancip di depan merekapun akan segera tertutup. Paman Zhou dan Fuyao berusaha menahannya. Paman Zhou mendorong Fuyao agar bisa keluar. Dia merelakan dirinya yang bernasib malang. Ujung-ujung besi menancap di tubuhnya. Fuyao menangis melihat paman tercintanya berkorban nyawa demi dirinya.


"Anakku. Kau dilahirkan bukan sebagai orang biasa. Ketika kau lahir kau sudah memiliki lima belenggu. Jika lima belunggu ini tidak pernah dibuka, sebenarnya kau bisa hidup dengan tenang seumur hidupmu. Sayangnya kau menguasai memecah langit ke sembilan. Tenaga dan teknik memecah langit ke sembilan ini menyesuaikan dengan saluran vital dalammu. Lima belenggu lalu terbuka dan inilah takdirmu selanjutnya."


Paman Zhou menyerahkan sebuah kalung dengan liontin batu lima warna yang  tergantung di leher Fuyao saat dia menemukannya dulu.

"Pakailah kalung ini dan pergi ke semua negara di lima wilayah."

Paman Zhou berkata bahwa Batu lima warna akan menuntun Fuyao ke tempat-tempat dengan energi spiritual yang kuat untuk melepaskan belenggunya.

"Anakku. Kau tahu aku sering memarahi dan memukulmu. Tapi di seluruh hidupku, kau adalah yang paling kubanggakan." Paman Zhoupun meninggal. (Sedih)



Fuyao berteriak memanggil nama pamannya. Saat itulah orang-orang dari jiwa mistis datang. (Kesel! Kalau ujung-ujungnya ga bisa kabur kenapa paman Zhou harus dikorbanin. Dasar drama)



Di sebuah tempat, terlihat aliran air yang melayang berputar-putar di atas sebuah papan berbentuk persegi enam.

Seseorang melapor pada raja negara air dalam bahwa atap langit panggung kerajaan Qilin sudah retak terbuka. Aku takut ibukota Kun akan tenggelam dalam air. "Raja, tolong jaga tubuhmu. Air dalam tidak bisa selamat tanpamu."

Terlihat di ibukota Kun, hujan mengguyur dengan derasnya.



Qi Zhen sedang berlatih memanah. Xuanyuan memuji kehebatannya. Dia menolak saat Qi Zhen menawarinya berlatih juga.

Seorang prajurit datang membawakan surat dari ibukota Kun. Xuanyuan jelas kepo dengan isinya. Tapi Qi Zhen malah menyuruhnya pulang dan istirahat di kamar. Xuanyuan menggerutu, "Cuacanya sangat bagus kenapa aku harus istirahat."

Ternyata surat itu dari mata-mata Qi Zhen di negara air dalam yang mengabarkan bahwa kondisi raja sedang kritis. Tabib mengatakan bahwa raja sudah ada di ujung tanduk.

Qi Zhen bertanya pada Yun Hen apa ada kabar dari Fei Yan. Yun Hen menggeleng. Yun Hen mengajak Qi Zhen pergi ke ibukota Kun. Dia juga mengingatkan bahwa mungkin seluruh ibukota Kun akan tenggelam. Tapi Qi Zhen tak peduli. Dia bahkan berkata, jika langit akan membunuhnya maka dia akan melawan. (Aku rasa sebenernya Yun Hen ini aslinya nggak jahat)

Jing Chen berjalan tertatih-tatih di sebuah lorong. Dia mengingat perkataan ayahnya.

Flashback

Di ruang rahasia, Ketua Yan memberitahu Jing Chen bahwa tanpa memecah langit kesembilan, jiwa mistis hanyalah sebuah kerangka kosong. Dan siapapun yang bisa mendapatkannya terlebih dahulu, akan mampu melakukan serangan pertama di tengah kekacauan ini (perselisihan di negara air dalam)

Ketua Yan menggunakan ilmunya dan seketika patung-patung diruangan itu berubah menjadi abu. Dia lalu memberikan bubuk pemecah jiwa pada Jing Chen untuk diberikan pada Fuyao.

"Kau adalah orang yang dipercayainya. Satu jam setelah dia menelannya, apapun yang ingin kau ketahui, dia akan mengatakannya dengan jujur. Tapi setelah satu jam, nyawa dan jiwanya akan hilang. Dia akan menjadi seonggok daging busuk selamanya."

Flashback end


Jing Chen menatap bubuk pemecah jiwa dengan perasaan sedih bercampur gelisah. Matanya berkaca-kaca.

Fuyao sendiri sedang tertidur di dalam sel. Dia memimpikan Paman Zhou. Lalu dia terbangun dan mengingat semua kenangannya bersama paman Zhou. Tiba-tiba seseorang datang.


Xuanyuan yang sedang tiduran, berbicara dengan tabib Zhong Yue di tepi sebuah tebing.
Tabib Zhong Yue bertanya, "Apa kau mempertimbangkan bagaimana kau melaporkan pada ayahanda kaisarmu dalam hal melakukan tugas?"(Wah ternyata anak kaisar. Berarti pangkatnya lebih tinggi dari raja ya kan?)


"Kau sudah mengingatkanku sepanjang hari bahwa aku adalan putra mahkota Wuji. Misiku adalah menghentikan kekacauan di air dalam. Sehingga aku bisa kembali ke Tujuh Bintang dan melapor pada ayahanda kaisar bahwa tugasku sudah selesai. Telingaku sampai tebal mendengarnya."

"Kalau begitu aku mengingatkanmu lagi. Apa kau sudah berpikir mengapa Qi Zhen tidak mau meninggalkan ibukota Kun?"

Xuanyuan duduk. "Qi Zhen tidak akan meninggalkan ibukota Kun saat ini. Dia sudah menyuruh orang untuk mencari istana ilusi."

Tabib Zhong Yue : "Dia ingin menanyakan kepala istana Fei Yan, benar?"

Xuanyuan : "Dia sudah setengah mati menutupi niatnya selama sepuluh tahun dan membunuh calon pewaris Wenyi yang sudah seperti kakaknya sendiri."

Tabib Zhong :"Apakah dia bertanya tentang kepala istana Fei Yan hanya untuk mendapatkan teknik manipulasi air?"

Xuanyuan : "Hmmm."

Tabib Zhong : "Keberadaan kepala istana Fei Yan selalu menjadi misteri. Meskipun dia memiliki istana di Linzhou. Tapi kebanyakan tidak tahu bahwa itu hanyalah ilusi. Jika Fei Yan menyetujui permintaannya, maka nyawamu akan terancam."

Xuanyuan : "Bagus kalau kau tahu. Hanya demi keluarga Xuanyuan, aku sudah membuat diriku sendiri kelelahan."


Tabib Zhong Yue : "Aku tidak ada lagi hubungan dengan Xuanyuan. Kau sendiri tahu apa yang aku kejar."

Xuanyuan : "Tenang saja. Kita berdua pasti akan hidup lebih lama dari orang tua itu."
Mereka berduapun saling melempar senyuman.


Jing Chen datang ke sel Fuyao. Tapi pintu sel dan rantainya ternyata sudah terbuka, dan Fuyao tidak terlihat di dalam sana.




Read More

Sinopsis C-Drama : Legend of Fuyao ( Episode 6 Part 2 )

Legend of Fuyao 

Episode 6 Part 2

Sumber : Zhejiang TV



"Pedang itu kejam. Ketika kita menjadi lawan, aku tidak akan menunjukkan ampun," ujar Jing Chen memperingatkan Fuyao.

"Aku juga."



Keduanya mengingat masa-masa mereka belajar silat. Dari mereka kecil, hingga mereka dewasa. Meskipun berat bertarung dengan orang yang mereka sayangi, namun mereka tidak bisa menghindar. Pertarunganpun terjadi.



Jing Chen dan Fuyao terlihat sama-sama kuat. Mereka saling menyerang dan bertahan. Namun tidak disangka, Fuyao ternyata lebih unggul. Dia mampu merebut pedang Jing Chen. Semua orang terkejut saat Fuyao berhasil meletakkan pedangnya di leher Jing Chen. Hanya Xuanyuan yang tampak tersenyum.

Fuyao sengaja membiarkan Jing Chen mengambil pedangnya kembali. Jing Chen sudah siap menyerang. Namun tiba-tiba Fuyao menjatuhkan pedangnya dan mengaku kalah.
Fuyao menangis meninggalkan arena pertarungan.




Terekam dalam ingatannya kenangan saat bersama Jing Chen. Termasuk saat Jing Chen berjanji akan membawa Fuyao ke ibukota Kun bersama-sama. Xuanyuan melihatnya dengan iba.

Walaupun jelas terlihat bahwa Fuyao sengaja mengalah, tapi Ketua Yan dengan bangganya mengumumkan Jing Chen sebagai pemenang pemberani. Xuanyuan mengajaknya bersulang, namun Ketua Yan dengan sinis mengabaikannya.

Semua murid perguruan jiwa mistis mengelu-elukan nama Jing Chen. Namun seorang penonton mencoba protes karena jelas-jelas Fuyao membuang pedangnya. Ini tidak adil.
Xuanyuan ikut memprovokasi. "Bahkan aku calon pewaris juga merasa ini tidak adil. Bagaimana kalau kau mengijinkan kau bertarung lagi." Para penonton setuju.


Pei Yuan maju. Dia memberitahu semuanya bahwa Fuyao hanyalah pelayan rendahan. Dia adalah an***g yang melayani orang-orang (apa bgt sih ini orang). Dia ditinggalkan di bawah gunung saat masih kecil. Karena kebaikan ketua dan kakak seperguruanlah dia ada di sini. Siapa yang tahu dimana dia belajar sihir merayu. Beruntung kakak seperguruan pertama memiliki pikiran yang kuat sehingga tidak masuk dalam perangkapnya. Kakak seperguruan pertama, apa aku benar?"



"Apa itu benar?" Tuntut Ketua Yan. Jing Chen mengiyakan. (Nggak nyangka. Dasar cem*n)
Fuyao tidak menyangka Jing Chen akan tega merendahkannya. Dia terlihat marah. Seketika itu juga dia berlari melompati celah gunung menuju tempat pertempuran kembali. Dia mengambil pedangnya lagi.

"Karena aku tidak tahu malu dan pelayan rendahan di matamu. Maka aku akan menunjukkan sihir apa yang sudah ku pelajari. Keluarkan pedangmu!"

Mereka bertempur sekali lagi. Sebentar saja Fuyao sudah berhasil mengarahkan pedangnya ke arah Jing Chen.



"Kenapa kau hanya bertahan dan tidak menyerang?" Tanya Jing Chen.

"Aku membiarkanmu melakukan tiga gerakan pertama karena aku pernah memanggilmu kakak seperguruan."

"Aku tidak butuh kau mengalah."






Kali ini Fuyao benar-benar menunjukkan semua kemampuannya. Dia berhasil memukul leher Jing Chen hingga dia melayang ke atas. Fuyao lalu menancapkan pedangnya ke tanah hingga tanah bergetar dan semua penonton terseret mundur. Dia lalu mengerahkan tenaganya untuk memukul Jing Chen hingga Jing Chen tersungkur ke tanah dan terseret cukup jauh.

Ketua Yan membelalakkan matanya.

"Memecah Langit Kesembilan." Ketua Yan turun ke arena pertempuran dan memukul punggung Fuyao hingga dia terjatuh tak sadarkan diri. Dia menjelaskan pada semuanya bahwa jurus yang digunakan Fuyao adalah satu set gerakan rahasia yang telah dicuri dari perguruan.


Fuyao di kurung di sebuah ruangan dengan tangan dirantai, juga segel yang segel terselubung di sekililingnya. Ketua Yan datang dan menuduhnya telah mempelajari teknik rahasia tertinggi secara diam-diam. Dia meminta Fuyao menyerahkan buku petunjuknya. Fuyao jelas tidak punya lha wong belajarnya dari mimpi. Karena tidak mendapatkan apa yang di inginkannya, Ketua Yan pergi.


Ketua Tua Yan beralih ke kamar anaknya. Dia mengajak Jing Chen ke ruang persembahan. Ternyata di sana ada pintu rahasia. Mereka masuk ke dalamnya.




Paman Zhou datang menjenguk Fuyao. Sebelumnya dia sudah memberikan makanan yang sudah dicampur obat tidur kepada pengawal. Paman Zhou membuka segel yang menyelubungi Fuyao dengan ilmunya. Fuyao terkejut karena paman Zhou ternyata punya kekuatan juga.

"Aku berusaha menyembunyikannya, tapi kau masih bisa mempelajari 'memecah langit kesembilan'."

Fuyao baru menyadari bahwa yang ada dalam mimpinya adalah 'memecah langit kesembilan'.



Di dalam ruangan rahasia, terdapat banyak lukisan tentang ilmu memecah langit kesembilan. Kemudian Ketua Yan menggunakan tenaga dalamnya untuk membuka satu pintu rahasia lagi. Di sana, ada banyak patung yang memperagakan ilmu pedang memecah langit kesembilan. Jing Chen terlihat takjub melihatnya.


Bersambung ke Legend of Fuyao episode 7



Read More

Sinopsis C-Drama : Legend of Fuyao ( Episode 6 Part 1 )

Legend of Fuyao 

Episode 6 Part 1

Sumber : Zhejiang TV



Paman Zhou memasakkan sup untuk Fuyao. Dia menanyakan tentang mimpi Fuyao. Setelah Fuyao menceritakan isi mimpinya, paman Zhou menggerutu, "Kelihatannya hal ini menjadi kenyataan." Entah apa maksudnya. Lalu dia menanyakan dimana tongkatnya.


"Ah aku mengingatnya. Saat aku terjatuh ke danau, tongkat itu berubah bentuk dan tersangkut di dasar danau." (Oh jadi lingkaran hologram itu ada di dasar danau)





Paman Zhou tidak percaya ucapan Fuyao. Tiba-tiba datang rombongan Ketua Yan.
"Dimana maniknya?"



Jelas Fuyao dan paman Zhou bingung. Mereka menyangkal kalau mereka mencuri manik itu. Tapi saat Fuyao memeriksa kantong celananya, dia menemukan manik di sana. Fuyao sangat terkejut.

Paman Zhou segera menyerahkan manik itu pada ketua Yan. Dia bahkan berlutut meminta ketua Yan menghukum dia saja jangan Fuyao. Fuyao memintanya berdiri.


"Aku tidak tahu kenapa manik itu ada padaku. Tapi aku tahu peraturan berburu dan bertempur. Orang yang memiliki manik ini bisa memasuki tahap ke tiga permainan."

"Karena kau tidak mempedulikan konsekuensinya, maka aku akan menuruti keinginanmu."
Paman Zhou langsung marah karena Fuyao selalu menantang bahaya.


Xuanyuan memberi makan tikus gembulnya. Dia bertanya apa maniknya sudah di temukan. "Gadis itu ingin ikut permainan kan?" Si tikus mengangguk-angguk.


"Aku penasaran bagaimana kau akan bisa melewati babak terakhir ini."

Esoknya, Fuyao bersujud di depan kamar paman Zhou. Dia pamit untuk mengikuti babak ketiga permainan berburu dan bertempur.

"Kalau-kalau terjadi sesuatu padaku di babak ketiga ini...."

Fuyao tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Dia tak kuasa membendung airmatanya. Anak-anak lainpun ikut menangis. Begitupun paman Zhou di dalam kamar.


Babak ketiga permainan di mulai. Terlihat Xuanyuan datang menonton dengan wajah lesu. Sepertinya dia mengkhawatirkan Fuyao.

Ketua Yan memberi penjelasan tentang aturan permainannya. "Babak ketiga adalah duel satu lawan satu. Namun untuk menentukan dua orang terakhir, mereka masih harus melewati dunia imajiner. Lilin naga dengan dua belas warna mewakili dua belas peserta. Dua lilin naga terakhir mewakili dua peserta yang menerobos dunia imajiner dan akan melanjutkan ke babak final.


Satu persatu peserta berjatuhan. Tersisa Fuyao, Pei Yuan, dan Jing Chen yang belum terlihat. Dan yang gugur adalah Pei Yuan. Dia terjatuh dan muntah darah.
Semua terkejut karena Fuyao berhasil lolos. Dan yang paling terkejut adalah Jing Chen. Dia harus bertarung dengan wanita yang disayanginya.


Tiba-tiba si tikus gembul, datang mengalihkan perhatian semua orang. Ternyata namanya Yuan Bao. Xuanyuan langsung menyuruhnya mendekat karena ada banyak makanan di meja. Karena orang-orang ternyata memandanginya, dia menyuruh Yuan Bao masuk ke lengan bajunya dan menyelipkan makanan ke sana.

"Fuyao, aku bukan lawanmu. Berdiri di sini sudah cukup bagimu untuk melepas pakaian hitammu. Aku tidak ingin melihatmu terluka."

"Terimakasih atas perhatianmu. Aku tahu kemampuanku dibawah kakak seperguruan. Tapi aku berjalan sepanjang jalan dan aku berdiri sekarang. Jika aku tidak dapat bersaing dengan kakak seperguruan di sini, maka aku tidak akan bisa menghadapi diriku sendiri dan semua orang disini."

"Apa kau akan melawanku?"

"Tentu saja tidak. Aku hanya ingin memberi diriku akhir. Jika aku bisa pergi dari sini hidup-hidup setelah permainan usai, aku akan jadi orang yang bebas. Aku bisa meninggalkan gunung jiwa mistis dan kau. Jadi pertarungan kali ini, akan menjadi kenangan terakhir antara kau dan aku di gunung jiwa mistis."

Ketua Yan mengumumkan bahwa babak terakhir permainan berburu dan bertempur di mulai. Genderang ditabuh.



Fuyao dan Jing Chen siap dengan pedang masing-masing.

Bersambung ke Legend of Fuyao episode 6 part 2



Read More