He is Psychometric Episode 16 Part Final

He is Psychometric
Episode 16 Part 4


Sumber konten dan gambar : TVN


Kang Geun Taek terasingkan di dalam penjara seorang diri. Sementara Kang Eun Joo membuka tirai jendela dan melihat kilau sinar matahari pagi. Lalu tersenyum tipis.

Narasi Lee An :

Menghadapi masalalumu yang tidak menyenangkan, menyakitkan, tapi itu membuatmu tumbuh.


Pak Eun ditangkap. Dia menggunakan jam tangan Ji Soo yang retak dan bernoda darah

Ketika satu detik berlalu, sama bagi semua orang, masa sekarang menjadi masa lalu.


Sung Mo memilih tetap belajar meski harus di penjara

Beberapa orang melarikan diri dari masalalu mereka yang menyakitkan. Dan mereka menyambut kehidupan baru yang mereka jalani.


Pada akhirnya, pria ini akan tetap sendirian dan tanpa emosi. Mungkin di akhir hidupnya, dia akan tahu rasa kesepian

Orang lain merusak masa depan mereka dengan tetap terjebak di masa lalu.



An dan Jae In masuk ke ruangan sidang dimana Sung Mo yang jadi terdakwanya. Kang Eun Joo sudah lebih dulu datang dan duduk di bangku depan sambil tertunduk. Sementara Sung Mo berdiri di depan hakim dengan tangan di borgol.


"Terdakwa membunuh tiga warga di apartemen dan membakar tempat itu yang menyebabkan banyak warga meninggal atau mengalami kerusakan properti."



"Mereka yang berduka harus mengalami tekanan emosional yang luar biasa, yang tidak bisa di sembuhkan sepanjang hidup mereka. Ini membuktikan kekejaman untuk kejahatannya. Dan juga, dia mengurung ayahnya dengan tujuan untuk membunuhnya, yang seharusnya tidak lakukan dengan mudah. Namun dia mengakui kejahatannya dan meminta pengampunan bagi yang berduka."



"Dia dikurung dan di aniaya ayahnya sendiri selama 9 tahun dimasa kecil."


"Bahkan setelah itu, dia harus tetap melarikan diri dan bersembunyi selama bertahun-tahun."


"Ketika dia melakukan kejahatan, saat itu dia masih di bawah umur. Dia mengalami penyakit mental yang di sebut alexythimia. Mempertimbangkan fakta-fakta ini, hukuman dari pengadilan untuk terdakwa Kang Sung Mo adalah 13 tahun penjara."


Setelah mendengar keputusan hakim, An berdiri dan berjalan pergi.


"Kami menggunakan segala cara yang mungkin untuk pengalaman menyakitkan kami. Tapi bekas luka itu masih tetap ada dan menjadi ingatan yang tidak bisa di rusak. Butuh banyak waktu untuk menghilangkannya. Bahkan tepat pada saat ini, aku berharap, ingatan seperti apa yang akan terjadi padaku."


Scene paling cerah sepanjang drama

Satu tahun kemudian

Hari yang sangat cerah.

Jae In dan Lee An berkencan di taman. Jae In meniup gelembung sabun sementara An tiduran dengan kepala di pangkuan Jae In.


"Sampai kapan kamu akan tertidur hmmm?"

An membuka matanya. "Sampai terisi penuh."


Jae In keGRan. "Terisi penuh apanya? Kamu hanya mengistirahatkan kepalamu di pangkuanku. Tidak ada apa-apa."


"Apa yang kamu bicarakan? Maksudku itu ponselku. Sampai ponselku terisi penuh."

Gubrak!!!!


Jae In yang malu langsung mengalihkan perhatian. "Kamu bilang akan belajar setelah istirahat sebentar. Kamu ini malas," kata Jae In sambil mencolek pipi An.


An memberikan ponselnya Jae In. Jae In menyalakan 'power share' di ponselnya lalu menumpukkan ponselnya dan ponsel An. (Ini mah iklan)

An bangun. "Kamu yakin ini satu-satunya cara? Kenapa aku tidak bisa jadi seorang polisi hanya dengan kemampuanku?"

"Sudah ku bilang ada pengawas profesional, tapi setidaknya mereka punya gelar master atau doktoral."


"Haaaah! Dunia ini hanya untuk mereka yang memiliki latar belakang pendidikan. Itu harus di reformasi terlebih dulu."

"Detektif masih sangat membutuhkanmu. Pak Nam ingin minta bantuanmu kemarin. Tapi aku menolaknya karena kamu belajar." (Macam manager sama artis aja)


An langsung antusias. "Kasus apa itu?"

Jae In tersenyum penuh misteri.


Malam harinya, An datang ke tempat para detektif kita, Pak Nam, det. Lee, dan Jae In, melakukan penyamaran sebagai pengemis. An mengernyitkan dahinya. "Apa yang sedang kalian lakukan?"


Ketiga detektif itu sedang berdandan untuk memaksimalkan penampilan mereka. "Kemarin kami menangkap dua tunawisma yang tinggal di rumah terbelangkai. Menurut mereka, seseorang mengambil asuransi jiwa bagi para tunawisma belakangan ini," ucap Jae In memberi penjelasan.

Pak Nam menambahkan. "Mereka sepakat dengan uang dalam jumlah kecil untuk membeli minuman tanpa mengetahui bahwa uang adalah harga hidup mereka."

"Kenapa kalian begitu terobsesi dengan tunawisma?"

"Kang Geun Taek membuat kartu identitas untuk tunawisma dan hidup tanpa pekerjaan sepanjang hidupnya. Tapi dia tidak pernah mengatakan apapun tentang bagaimana dia menyokong dirinya sendiri. Kurasa mungkin ini," kata Jae In. Dia melempar celana bekas pada An dan menyuruhnya memakainya. An  berdalih kalau besok mau ujian.


Jae In tidak peduli dan malah berjalan mendekatinya dan memintanya mencium baunya.

An nurut. Tapi dia kebauan. "Bau apa ini?"


Pak Nam ikut-ikutan mencium det. Lee. "Bau busuk."

"Kami sudah siap!" Ungkap Jae In semangat.


Mereka menggelar kardus. Jae In tiduran di samping Det. Lee. An cuma melongo. Dia terpaksa memakai celana bekas yang bau itu. Haha.


Pusat Keamanan Komunitas Seohun sedah beroperasi kembali. Jae In dan Pak Nam pulang ke sana. Mereka masuk dengan wajah lesu dan langkah lemah lalu tepar di lantai.

Pak Yoon yang sudah bebas dari penjara keheranan melihat mereka. "Mereka kenapa?"

"Astaga! Dia terlalu cantik untuk menjadi pengemis," ujar bibi pada Jae In. Dia beralih ke Pak Nam. "Dia jelas seorang pengemis. Darimana saja mereka?"


Beberapa saat kemudian, Jae In mesam-mesem sambil wajahnya dibersihkan oleh ayahnya. Pak Nam ngiler melihatnya. Dia memajukan wajahnya berharap bibi juga melakukannya. Gede gengsi, bibi malah melempar kain lapnya ke muka Pak Nam. Pak Nam terpaksa deh ngelap mukanya sendiri.

"Kalau seperti ini bagus untuk menangkap penjahat. Tapi kamu harus menjaga diri."

"Haruskah aku berhenti saja? Menjadi perwira polisi lebih sulit dari yang di harapkan."
"Ayah tahu kamu tidak bersungguh-sungguh."

"Jika aku kehilanganmu aku akan kehilangan seluruh anggotaku."


"Ayah dengar? Aku ini berpengaruh." Jae In dan ayahnya tertawa.

Bibi datang membawakan pakaian untuk Jae In dan Pak Nam. "Aigoo! Mandilah dan ganti baju dulu! Baunya sudah menyebar ke rumah."

"Apa itu? Kenapa bibi punya pakaian Pak Nam di rumah?"

Bibi gelagapan. "Ini milik ayahmu."

"Itu bukan milikku," ungkap Pak Yoon.

"Bukan?"

Pak Nam angkat bicara. "Nona Oh. Kurasa tidak ada kejahatan yang sempurna. Kenapa kita tidak,,,,"


Bibi menutup muka Pak Nam dengan baju lalu menyeret Pak Nam ke kamar mandi. Jae In dan ayahnya saling pandang penuh tanda tanya.

***

An datang ke pusat keamanan sambil menelepon Dae Bong tapi tidak diangkat. Det. Kim turun dari atas menghampirinya. Ternyata dia dipindahkan kesana.

"Oh ya. Jika kamu membaca kasus yang bagus dengan kemampuanmu. Hububgi aku secepatnya. Kita selidiki bersama, oke?"


An mengangguk. Det. Kim menyodorkan kelingkingnya. An hendak mengaitkan kelingking mereka tapi mendadak det. Kim memundurkan tangannya. Nggak mau dibaca dia. "Sampai jumpa."


An keluar saat mendengar suara musik. Ternyata So Hyun sedang mengajari anak-anak menari di temani Dae Bong yang mengenakan pakaian badut dan Eun Sol yang duduk di mobil-mobilan.

Dae Bong melepas kepala badutnya dan berteduh di gazebo.

"Bukankah kamu seharusnya mengelola pom bensinmu? Kenapa kamu selalu di sini?"


"Hei! Pom bensinku berjalan baik tanpaku. Tapi mereka membutuhkanku di sini. Anak-anak berhenti menangis saat aku masuk."

"Berikan aku kunci mobilmu."

"Ah ya. Apa untuk ujianmu besok?"

"Tidak. Aku harus ke suatu tempat."

Dae Bong mengangguk. "Oke. Lanjutkan!" Mereka pun tos ala mereka.

So Hyun menghampiri Dae Bong. "Hei! Lee Dae Bong! Sedang apa?" Dia mengulurkan sebelah tangannya.

Dae Bong tersenyum dan menyambut tangan So Hyung. "Oh. Annyeong. Hoho."


Dae Bong pergi dengan So Hyun sambil bergandengan tangan dan senyum yang mengembang di bibir mereka. An yang melihat kebahagiaan mereka ikut tersenyum senang.


An mengunjungi Sung Mo di penjara.

"Ibuku memberitahuku tentangmu. Kamu bergabung dengan tim investigasi."

"Secara tidak resmi, tapi iya. Hyung tahu kalau hari ini akan datang kan? Itu sebabnya kamu datang kembali padaku dan menyuruh aku dan Jae In bertemu. Kamu juga menyuruhnya melatihku."


"Sejak hari itu, bagian diriku yang ingin menjadi manusia, dan bagian diriku sebagai monster, terus beradu. Jika kamu tahu yang menyelamatkanmu adalah seorang pembunuh, kamu akan merasa dihianati. Aku tetap di sisimu, terlepas dari apa yang sudah kulakukan. Dan itu membuatku merasa menjadi monster. Tapi sekali lagi, aku juga mengkhawatirkanmu. Aku bahkan merindukanmu."


An menatap Sung Mo dengan mata berkaca-kaca.

"Saat aku kembali untukmu, itu bukan karena aku telah merencanakan semua ini. Mungkin semua dimulai saat aku pertama kali menyelamatkanmu bertahun-tahun lalu. Atau saat pertama kali kamu mendapat kemampuan itu. Aku menduga, saat itulah semua dimulai."


"Aku berharap seseorang akan memberitahu kami. Memberitahu kapan itu sudah cukup. Kebencian, rasa tidak suka, dan bahkan rasa bersalah. Kalau saja seseorang bisa memberitahu kami saat semuanya sudah cukup."


Sung Mo meneteskan airmatanya.

***

An mengikuti ujian petugas polisi 2020. Beberapa saat kemudian Jae In meneleponnya.


"Lee An. Kamu melupakan kencan kita? Kamu dimana? Bagaimana ujianmu?"

"Lupakan tentang ujiannya. Dr. Hong tiba-tiba memintaku datang," ucap An yang saat ini sudah berdiri di depan ruang otopsi. "Aku akan menemui begitu aku selesai di sini."


Dr. Hong? Kan sudah kubilang mayat itu dilarang. Tetaplah di sana! Aku akan jadi orang yang membunuhmu."


Jae In bergegas masuk ke ruang otopsi. An sampai melongo sambil tersenyum melihatnya.

"Petugas Senior Yoon. Kamu langsung kesini?" Tanya dr. Hong.


"Dr. Hong. Kita sudah membicarakan ini. Dia bisa mati jika terus menyentuh mayat," kata Jae In dengan nafas terengah-engah.

"Aku tahu itu. Selain itu aku tidak akan memanggilnya untuk waktu yang lama."

An memberitahu kalau dr. Hong hanya ingin memberikan beberapa buku anatomi dan fisiologi padanya. "Dr. Hong akan berlibur panjang."


"Berlibur?"

"Aku lelah. Pekerjaan itu tidak menyenangkan lagi. Begitu aku menjernihkan kepalaku, suatu hari nanti mungkin aku ingin kembali lagi. Kamu harus terus melatihnya agar membaca mayat tidak tidak lagi mengganggunya saat aku kembali nanti. Mengerti?"


An dan Jae In melihat-lihat sebuah unit apartemen. "Wah bagus juga," ujar Jae In begitu masuk. "Kamu punya cukup uang untuk membeli tempat ini?"

"Mmmm. Aku mungkin bisa membayar dua pertiganya."

"Lalu bagaimana dengan yang lainnya? Oh. Kamu akan mengambil pinjaman?"


"Tidak. Kamu akan membayar untuk itu."

Jae In terbelalak. "Apa?"

"Eh kalau tidak aku akan mengambil pinjaman."

"Oh. Aku sedang memikirkan untuk mencari tempat sendiri dengan kompensasi yang diterima ayahku."


An tersenyum melihat Jae In.

"Lihat! Kamu juga harus keluar dari pusat keamanan. Kamu juga tinggal disana cukup lama."


"Jadi? Kamu memintaku untuk tinggal bersamamu?"

Lee An salah tingkah. "Tiga kamar. Sempurna. Satu untuk ayahmu. Satu untukku. Dan satu lagi untukmu dan bibimu. Meskipun bibimu mungkin akan segera pergi. Dia hanya menunggu waktu yang tepat."

"Tidak mungkin! Untuk hidup dengan Pak Nam?"


An meraih kedua tangan Jae In. "Ayo kita hidup bersama Jae In-a. Aku tidak ingin hidup sendiri. Itu terlalu sepi. Kamu kamu tidak nyaman dengan kemampuanku."


"Tidak! Sama sekali tidak. Aku suka. Aku suka. Aku suka. Yeay! Sekarang aku punya rumah sendiri."


Jae In menatap keluar jendela. An memeluknya dari belakang.

"Noradrenaline adalah yang membuat kita menyimpan kenangan buruk. Kamu tahu apa kebalikan dari itu?" Tanya An.



"Tidak tahu," jawab Jae In.

"Beta-endorphine. Ini membuatmu menyimpan kenangan indah. Semakin kamu banyak tertawa."



"Wow! Kamu juga tahu hal seperti itu?"

***

An dan Jae In keluar dari pusat keamanan sambil bergandengan tangan.


"Dr. Hong pasti masih mengalami kesulitan karena Ji Soo noona. Aku hanya berharap tidak butuh waktu lama baginya untuk move on," ucap An.

"Kamu juga harus melepaskannya sekarang. Aku tahu, kamu telah belajar lebih banyak untuk menghindari menangani kasus bersama kami. 416.66666667 hari telah berlalu. Lakukan saja dengan itu."


An tersenyum mendengar celoteh Jae In. Lalu dia melihat selebaran yang tergeletak di jalan dan mengambilnya.

SIAPA YANG BERTANGGUNG JAWAB? ISTRI SEDANG KOMA DAN BAYI MENINGGAL SAAT PERSALINAN. MALPRAKTIK MEDIS.

Mereka berdua melihat seorang pria yang sedang membagi-bagikan selebaran. An dan Jae In membantu memunguti selebaran yang dibuang para pejalan kaki lalu menyerahkannya pada pria itu.


Tangan An bersentuhan dengan tangan pria itu. Entah visi apa yang An lihat. Pria itu kembali membagi selebaran pada pejalan kaki setelah sebelumnya meminta An dan Jae In membaca isi selebarannya.


An menatap kepergian pria itu. Jae In bertanya apa An paham stilah-istilah kedokteran.


An dan Jae In sama-sama tersenyum. An menoleh lagi ke pria tadi.


Dan He is Psychometric di akhiri dengan senyum tampan dari Jin Young. Eh salah. Lee An. Annyeong!!

THE END

Terimakasih chingu yang udah setia nongkrongin Drama Town House :) Gomawoyoooo

Komentar :

Bingung mau komentar apa. Campur aduk kaya gado-gado pokoknya. Btw, yang bayar cicilan apartemen Sung Mo siapa ya? Hehe :)

Pokoknya empat episode terakhir ini bikin aku nangis. Apalagi episode 16. Chemistry An sama Sung Mo dapet banget. Berharap mereka bisa main drama bareng lagi. Aku ngeship mereka (?).

Nyesek banget nggak sih. Orang yang selama ini kita sayang, kita percaya, tenyata justru yang ngebunuh orang tua kita. Walaupun bisa di bilang Sung Mo nggak sengaja dan nggak niat. Apa lagi waktu itu dia masih belum bisa merasakan emosi. Dan justru karena kejadian memilukan itu, Sung Mo mulai bisa merasakan emosi. Yang pertama muncul adalah perasaan takut setelah membunuh ketiga wanita. Setelah itu perasaannya berkembang banyak. Dia mulai menyayangi An sebagai seorang adik. Dia bahkan rindu pada An saat mereka jauh. Dan yang paling kentara, Sung Mo benar-benar sedih kehilangan Ji Soo. Poor Sung Mo!

Aku mengkhayal sendiri nih. Setelah tiga belas tahun, akhirnya Sung Mo keluar dari penjara. Dan dia yang bilang sama An juga Jae In kalau semua kebencian dan rasa sakitnya sudah cukup. Sekarang saatnya mereka move on dan bahagia. Jae In dan An sudah menikah dan punya anak cewek, namanya Lee Ji Sooo wkwkwk. And then, they lived happily ever after.

Ah! Bakal kangen sama Sung Mo dan An. See you di next sinopsis ya!! Annyeong!




7 komentar

akhirnya end juga......haduh fakta yang membuatku sesak sekali...ikut semaput kaya lee an

Waduh!! Perlukah aku panggil ambulance? Hehe :)

ahaha makasih2, udah ada senyum jinyoung yg menyembuhkanku hehe

Abyss aja dong min


EmoticonEmoticon