He is Psychometric Episode 15 Part 3

He is Psychometric
Episode 15 Part 3


Sumber konten dan gambar : TVN

Read More

He is Psycometric Episode 15 Part 2

He is Psychometric
Episode 15 Part 2


Sumber konten dan gambar : TVN

Read More

He is Psychometric Episode 15 Part 1

He is Psychometric
Episode 15 Part 1


Sumber konten dan gambar : TVN

Read More

He is Psychometric Episode 14 Part 4

He is Psychometric
Episode 14 Part 4


Sumber konten dan gambar : TVN

Read More

He is Psychometric Episode !4 Part 3

He is Psychometric
Episode 14 Part 3


Sumber konten dan gambar : TVN

Read More

He is Psychometric Episode 14 Part 2

He is Psychometric 
Episode 14 Part 2


Sumber kontan dan gambar : TVN

Lee An dan Jae In duduk di dalam kantor polisi sambil memeriksa kasus pembunuhan tunawisma. Lee An bertanya apa Jae In menemukan sesuatu yang aneh. Dari yang dia baca, dia menduga kalau Kang Geun Taek menggunakan para tunawisma untuk mendapatkan identitasnya.


Lee An mendadak ingat kalau kasus pemalsuan identitas kan kasus dari geng Dragon Head Hunt (perusahaan tempat Kim Gab Young bekerja). Itu juga adalah kasus yang dulunya pernah ditangani oleh detektif Nam sebelum dipindahkan ke pusat keamanan Seohun. Mereka berdua langsung mendiskusikannya dengan Pak Nam. Menurut Pak Nam, waktu itu dia tidak berhasil memenjarakan Kim Gab Young karena kurangnya bukti dan juga karena polisi serta jaksa yang sama-sama melindunginya saat itu.

Lee An menyimpulkan kalau Kim Gab Young pasti sangat penting bagi Sung Mo jika benar dia tahu kalau ibunya masih hidup sejak lama. Jae In heran karena selama ini Sung Mo bertindak seolah-olah dia tidak mengenal Kim Gab Young. Lee An mengingat ucapan Kim Gab Young saat berkelahi dengan Kang Geun Taek bahwa dia tidak bisa membunuh Kang Geun Taek karena dia tidak ingin kehilangan pelanggan VIP-nya.  "Pak Nam. Ijinkan aku melihat Kang Eun Joo lagi."

"Apa?"

Lee An berjanji tidak akan seperti sebelumnya lagi. "Jika Sung Mo benar-benar memerintahkan pembunuhan terhadap Park Soo young dan Kang Hee Sook, juga melakukan pembakaran apartemen Yeongseong, maka dia pasti akan merasa bingung. Orang yang bisa mengerti adalah aku."


Kang Geun Taek duduk di sebuah kursi dengan tangan di ikat di belakang dan kaki yang di rantai. Sung Mo duduk santai sambil menyalakan radio yang menyiarkan berita tentang kontrofersi pembunuhan Ji Soo yang ternyata berkaitan dengan kasus pembakaran dimasa lalu. Si pelaku yaitu Kang Geun Taek yang melarikan diri dimasukkan dalam daftar pencarian orang. Polisi membentuk unit khusus untuk mencarinya namun pada saat ini penyelidikan belum menunjukkan kemajuan.

Sung Mo mematikan radionya. Kang Geun Taek bertanya dimana mereka sekarang.

Sung Mo bilang, setelah dia melarikan diri dari ruangan bawah tanah, dia menyadari bahwa hubungan manusia tidaklah sesederhana seperti dalam buku anak-anak yang ibunya bacakan untuknya. "Orang membayar harga untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dalam berbagai hubungan."

"Apa yang ingin kamu katakan?"


Sung Mo bangkit dari duduknya dan berjalan memutari Kang Geun Taek lalu jongkok di depan pria itu. Menurutnya, karena pelaku kejahatannya adalah seseorang yang tidak memiliki nomor jaminan sosial, maka itu adalah itu adalah sebuah cacat administrasi negara. Maka dari itu, para polisi pun berusaha mengubur cacat-cacat itu. Mereka tidak memiliki keprihatinan terhadap pengalaman menyakitkan yang dialami Sung Mo dan ibunya.

"Maksudmu kita tidak akan sejauh ini jika aku tertangkap pada waktu itu?"

Sung Mo berdiri lagi. "Aku menjadi jaksa adalah untuk melindungi ibuku dan menemukanmu. Tapi aku terus berpikir, apakah akan menghukummu sesuai dengan tatanan sosial."


Sung Mo mendekatkan wajahnya ke wajah Kang Geun Taek. "Atau menghukummu sendiri."

Kang Geun Taek melirik Sung Mo. Dia bertanya apa Sung Mo akan membalas dendam dengan melakukan hal yang sama dengannya.

"Melakukan hal yang sama tidak ada artinya. Aku akan melakukan sesuatu yang lebih buruk. Itulah yang disebut balas dendam sejati." Sung Mo menyentuh perban yang membalut lengan Kang Geun Taek. "Lukamu akan mulai berdenyut dan segera bernanah. Dan pada akhirnya akan membusuk."

"Sayang sekali. Aku masih tidak tahu bagaimana rasanya sakit."

"Jangan khawatir. Aku akan memastikanmu belajar bagaimana rasanya."


Unit investigasi khusus yang menangani kasus dalam drama ini, mengadakan rapat dengan Jae In berdiri di depan melakukan presentasi. Dia menjelaskan kalau pelaku menggunakan identitas orang lain sehingga nama asli dan nomor jaminan sosialnya tidak bisa dikonfirmasi. Setelah melarikan diri pada tahun 1996, Kang Eun Joo menyatakan kalau Kang Geun taek menderita alexythimia dan akhirnya terobsesi padanya setelah merasakan emosi untuk pertama kalinya.

Untuk menemukan Kang Eun Joo, Kang Geun Taek terus memerhatikan Sung Mo dalam waktu yang lama. Dia melukai dan menculik kenalan Sung Mo untuk menyudutkannya. Dan pada akhirnya, dia membunuh detetif Eun. Hampir semua bukti mengarah pada Kang Geun Taek. Tapi.... Kang Sung Mo juga tidak bisa dikecualikan dalam daftar tersangka. Detektif Lee bertanya kenapa Sung Mo bisa dijadikan tersangka juga.

Jae In menjelaskan kalau Sung Mo sudah tahu ibunya masih hidup sejak lama. Dan ada bukti bahwa dia ada hubungannya dengan Kim Gab Young yang digunakan untuk memalsukan identitas Kang Eun Joo. Sung Moo saat ini sedang mengejar Kang Geun Taek. Dan tujuan utamanya adalah untuk membunuhnya. Jadi, akan lebih cepat jika mereka melacak Sung Mo lebih dulu daripada Kang Geun Taek. Jae In juga menjelaskan kalau Sung Mo tidak mempercayai aparat penegak hukum karena kasus pengurungan Gangryeong menjadi kasus dingin, sedangkan kasus pembakaran apartemen yeongseong juga tidak benar-benar iungkap kebenarannya.


An mendatangi sel tempat Kang Eun Joo dikurung. Dia jujur kalau dia datang untuk membujuk Kang Eun Joo karena dia sendiri awalnya bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi An memutuskan untuk menunggu sampai dia mendengarnya langsung dari Sung Mo. (Artinya dia masih berusaha buat percaya sama kakaknya)

"Apapun yang dia lakukan, semuanya demi aku. Dia tidak melakukan kesalahan," ujar Kang Eun Joo.

"Jika itu benar, bukankah ini giliranmu melakukan sesuatu demi dirinya?" Kang Eun Joo hanya terdiam. An berkata kalau dia melihat Kang Eun Joo berkata pada Sung Mo agar tidak membunuh. "Aku juga ingin menghentikan Sung Mo dari melakukan pembunuhan. Aku akan memikirkan, memaafkan, memahami, atau membenci dia nanti. Apakah dia tahu kalau Anda masih hidup?"

***

Rapat selesai. Pak Nam meminta Jae In untuk memeriksa An. An sendiri baru keluar dari ruangan sel Kang Eun Joo. Dia mengingat ucapan Jae In bahwa untuk membuat Kang Eun Joo bicara, mereka harus menemukan sesuatu yang nyata karena kemampuan An tidak bisa mengikat secara hukum. "Jadi kita harus menemukan sesuatu yang nyata," gumam An pada diri sendiri. Dia mendadak ingat kalau Sung Mo pernah bilang kalau dia sempat berniat tidak akan pernah kembali ke korea.


Jae In datang menghampiri An. An bertanya padanya apa Jae In bisa mendapatkan catatan imigrasi dari Kang Eun Joo saat dia hidup sebagai Kang Hee Sook dan Park Soo Young. Jae In mengiyakan. Dia hendak menjelaskan lebih lanjut tapi An tiba-tiba pamit pergi dengan terburu-buru.


Ternyata An pulang ke apartemen. Dia mengobrak-abrik lemari dan laci Sung Mo dan menemukan passport milik Sung Mo. Ketika dia sedang memeriksanya, Jae In menelepon. Dia sudah memeriksa catatan imigrasi Kang Eun Joo dengan identitas Park Soo Young.

"Dia tinggal di Kanada dari Januari 2009 hingga Desember 2013," jelas Jae In.

"Dugaanku benar. Hyung belajar di luar negeri di Kanada pada waktu itu. Dia kembali kesini pada tahun 2010. Mereka pasti aman disana. Kenapa mereka tiba-tiba kembali?"

Jae In segera bertanya pada Nam yang duduk tidak jauh darinya. "Pak Nam. Apakah musim dingin tahun 2013 adalah waktu ketika polisi menyelidiki Kim Gab Young dan kasus pembunuhan tunawisma?" Pak Nam membenarkan. Jae In kembali bicara An. Dia menduga kalau Sung Mo khawatir Kim Gab Young akan tertangkap."Jadi Kang Hee Sook,,,,"


Lee An menyela ucapan Jae In. "Kim Gab Youn membunuh Park So Young dan Kang Hee Sook yang asli untuk menutupi jejak mereka. Kim Gab Young menerima pesanan dari Sung Mo hyung?"


Bibi dan Soo Hyun sedang menonton berita mengenai kasus yang sedang menjadi trending di Korea. Si manis Eun Sol duduk manis dilantai sambil makan camilan. Bibi khawatir Jae In akan stres dengan kasus sebanyak itu. Apalagi sebagian besar kasusnya adalah kasus yang sudah begitu lama. Soo Hyun berinisiatif untuk menanyakan pada ayahnya apa dia yakin kalau orang yang memberinya jaket adalah ayah Jae In. (Jadi ayahnya Soo Hyun ini yang jadi saksi di pengadilan kalau pelaku pembakarannya adalah Yoon Tae Ha dengan bukti jaketnya yang ada noda darahnya)

Bibi khawatir karena Soo Hyun kan sudah memutus kontak dengan ayahnya. Soo Hyun sudah bertekad. Demi Jae In, dia tidak boleh membiarkan perjuangan Jae In sia-sia.


Di pom bensinnya, Dae Bong membagikan selebaran yang berisi sketsa wajah Kang Geun Taek kepada pelanggannya. Pegawainya merasa yang dilakukan Dae Bong itu sudah terlalu jauh. Tapi Dae Bong tidak merasa seperti itu. Dan lagi, ketika seseorang yang dia sukai merasa muak dengannya, maka dia harus tetap berjalan.


Lee An mondar-mandir di ruang tamu sambil berusaha fokus dengan apa yang sudah dia lihat. Dia berusaha merangkai visi-visinya namun pada akhirnya dia frustasi sendiri.


Sementara di kantor polisi, Jae In mengusulkan untuk memakai alat pendeteksi kebohongan pada Kang Eun Joo. Tapi menurut Pak Nam, itu tidak akan banyak berguna jika Kang Eun Joo masih saja bungkam. Lagipula, masyarakat sudah membuat petisi agar dia dibebaskan sebaliknya polisi yang dihukum karena dianggap tidak kompeten. Tiba-tiba salah satu petugas berteriak karena akhirnya menemukan Kang Sung Mo terekam di salah satu cctv.

Bersambung ke He is Psychometric episode 14 part 3
Read More

He is Psychometric Episode 14 Part 1

He is Psychometric
Episode 14 Part 1


Sumber konten dan gambar : TVN

Read More

He is Psychometric Episode 13 Part 4

He is Psychometric
Episode 13 Part 4
Sumber konten dan gambar : TVN

Lee An dan Jae In sedang menuju kantor polisi. Seperti biasa, mereka memakai mobil Dae Bong. Jae In menatap An khawatir. "Orang akan mencari tahu tentang apa yang bisa kamu lakukan. Kamu tidak apa-apa?"

"Aku tidak peduli tentang itu."

Pak Nam melongo saat diberitahu soal kemampuan An. "Hei Petugas Yoon. Aku tidak salah dengar? Lee An! Kamu bisa membaca ingatan orang lain?"

"Ini mungkin sulit di percaya. Tapi aku melihat Kim Gab Young membunuh Kang Hee Sook dan Park Soo Young. Aku tahu dia berada di Stasiun Kangguk karena kemampuanku," ucap An sambil menunjukkan tangannya.

"Kamu sudah gila. Jangan bicara omong kosong."

"Tidak ada waktu lagi. Aku harus menemui Kang Eun Joo."

"Aku tidak mau menghabiskan waktu denganmu. Petugas Yoo, ayo!"

"Anda memberitahu Ji Soo Noona tentang korupsi ayahnya. Itu sebabnya Anda merasa sangat bertanggung jawab."

Pak Nam yang sudah akan pergi tertegun. "Apa?"

"Aku melihatnya saat Anda menarik Kang Geun Taek dariku. Aku merasakan hal yang sama seperti Anda. Karena apa yang aku katakan, dia pergi ke stasiun Kangguk dan terbunuh. Aku tidak peduli meski Anda berpikir aku ini gila. Jadi tolong, biarkan aku bertemu Kang Eun Joo sekali saja."

"Dasar berandal! Bagaimana bisa kamu membaca ingatan orang lain? Kamu pikir aku bodoh?"

An menatap tangannya. Pada akhirnya Pak Nam mengijinkan An ikut masuk. Tapi dia minta Jae In yang masuk duluan karena dia belum sepenuhnya percaya pada Lee An. Jae In setuju untuk masuk dulu karena mereka perlu membuat Kang Eun Joo bicara lebih dulu.

Jae In pun masuk ke ruang interogasi. Dia menyodorkan dokumen kuning yang berisi informasi tentang Kim Gab Young dan Kang Eun Joo. Lalu dia bertanya apa Kang Eun Joo mengingatnya. Kang Eun Joo hanya menjawab dengan anggukan kepala.

Jae In bercerita kalau dia sudah pergi ke ruang bawah tanah dimana Kang Eun Joo dan Sung Mo di kurung. Tangan Kang Eun Joo bergetar mendengarnya. "Aku tahu itu menyesakkan. Dan polisi tidak memberi bantuan. Anda pasti mengira semuanya akan berakhir hanya jika Anda melarikan diri dari ruang bawah tanah itu. Bukankah itu sebabnya insiden itu menghantui Anda dan Jaksa Kang seperti belenggu?"

Dari luar, An memperhatikan Kang Eun Joo yang terus menggenggamkan tangannya sendiri sambil gemetaran.

"Aku minta maaf atas nama semua orang," sambung Jae In. Dia berjanji akan menangkap Kang Gaeun Taek bagaimanapun caranya."

Akhirnya Kang Eun Joo membuka mulutnya. Dia bertanya apa Sung Mo berusaha membunuh Kang Geun Taek. Jae In membenarkan dan bertanya bukankah Kang Eun Joo pergi ke stasiun Saeki-dong untuk membunuh pria itu juga.

Kang Eun Joo pun curhat. "Dia tetap mengikuti kami bahkan setelah kami melarikan diri dari ruangan bawah tanah itu. Tepat sebelum kami pindah ke apartemen yeongseong, Sung Mo dikurung lagi dan melarikan diri darinya." Oh pantesan waktu itu kaki Sung Mo remaja terluka ya.

Jae In bertanya kenapa Kang Eun Joo tidak muncul setelah diberitakan meninggal dalam kebakaran Apartemen Yeongseong.

"Aku bahkan lebih takut untuk mengungkapkan diriku. Kami selalu berusaha melarikan diri. Tapi dia selalu menemukan kami. Polisi tidak bisa menemukannya karena dia tidak punya nama dan nomor jaminan sosial. Jadi kurasa aku mungkin bisa bersembunyi darinya jika aku melakukan hal yang sama."

Jae In bertanya apa Kang Eun Joo pernah bertemu Sung Mo setelah kasus kebakaran Apartemen Yeongseong. Kang Eun Joo menyangkalnya. Dia bahkan bilang kalau Sung Mo tidak tahu kalau dia masih hidup. Dia tidak ingin Sung Mo berada dalam bahaya karenanya, jadi dia tidak menghubungi Sung Mo. "Saat tengah malam itu, aku mendapat telepon dari Song Hee Jung." (Song Hee Jung sepertinya salah satu pasien di rumah perawatan Hanmin yang juga jadi korbannya Kang Geun Taek)

Kang Eun Joo sedang tidur di kamar kontrakannya. tiba-dia mendapat telepon dari Song Hee Jung. Tapi ternyata yang bicara adalah Kang Geun Taek. "Lama tidak bertemu Kang Eun Joo. Aku harap kamu masih ingat suaraku. Hidup seperti orang yang tidak terlihat di dunia ini, bagaimana rasanya? Aku yakin kamu akan bisa memahamiku lebih baik sekarang."

Kang Eun Joo ketakutan mendengar suara Kang Geun Taek.

"Aku kira kamu idak ingin membiarkanku mendengar suaramu.Sayang sekali bagimu karena sangat ingin melihat wajahmu," ucap Kang Geun Taek dengan nafas memburu. (Dia nggak bisa ngerasain emosi tapi masih punya hasr*at ya sama wanita). "Mulai sekarang aku akan membunuh para wanita di bangsal ini satu persatu  setiap 30 menit. Meski polisi datang, aku akan membunuh wanita-wanita ini. Jika ada orang lain yang datang selain kamu, aku akan membunuh mereka juga."

"Tolong jangan lakukan itu. Tolong jangan bunuh orang lain lagi karenaku."

Kang Eun Joo bilang akhirnya dia datang ke Rumah Perawatan Hanmin karena Kang Geun Taek mengancam akan membunuh orang-orang. Dia takut ada orang yang mati karenanya lagi.

Pak Nam bertanya pada An apa yang di katakan Kang Eun Joo benar. An mengiyakannya. "Tapi dia menyembunyikan  sesuatu yang lebih penting."

"Tolong jangan bunuh orang lagi karena aku."

"Bunuh orang lagi? Aku akan memberitahumu kebenaran hari itu jika kamu datang ke sini."

"Aku melihatnya di ingatan Kang Geun Taek," ucap Lee An. "Kenapa dia tidak mengatakannya?'

Jae In menyodorkan foto Kim Gab Young dan bertanya apa Kang Eun Joo mengenalnya.

"Ya. Dia orang yang memberiku identitas palsu."

"Apa Anda bersekongkol untuk menghindari masalah dalam mengubah identitas Anda?"

Kang Eun Joo segera menyangkal. "Itu tidak benar. Aku tidak tahu dia akan membunuh orang karena identitas palsuku."

"Anda pergi ke Rumah Perawatan Hanmin bersama Kim Gab Young kan?"

Kang Eun Joo pergi ke Rumah Perawatan Hanmin bersama Kim Gab Young. Dia berkata pada Kim Gab Young agar menelepon polisi jika dia tidak keluar dalam waktu 30 menit.

Kang Eun Joo masuk ke bangsal Song Hee Jung di rawat. Tapi dia terkejut saat menemukan semua orang di sana sudah tidak bernyawa dengan perut berlumuran darah.

Datanglah Kim Gab Young. Dia memaksa memeluk Kang Eun Joo yang meronta. "Yang aku inginkan adalah dirimu. Berhentilah mencoba lari dariku. Ayo kita bersama sekarang." (Ih psiko banget nih orang) Kang Geun Taek menyuntikkan obat bius pada Kang Eun Joo hingga dia tidak sadarkan diri. 

"Kang Geun Taek membawanya. Tapi Kim Gab Young datang mencarinya," cerita Lee An. Tapi Kang Eun Joo menurut Kang Eun Joo, dia hanya ingat sampai Kang Geun Taek membiusnya. "Aku bangun dan aku berada di Pureum Sanatoium. Kim Gab Young memberiku identitas Kim Song Hee.

Pak Nam bertanya lagi tentang kebenaran pernyataan dari Kang Eun Joo. An membenarkan karena dia melihat Kim Gab Young menyelamatkan Kang Eun Joo dari Kang Geun Taek. An menatap Pak Nam. "Tapi orang yang terkahir membawanya adalah Sung Mo Hyung."

Pak Nam tertegun. "Jaksa Kang ada di rumah Perawatan Hanmin?"

Jae In bertanya sekali lagi apa Kang eun joo yakin kalau dia tidak pernah menemui Kang Sung Mo.

"Aku yakin."

An menghela nafas.

"Cincin yang ada di jari Anda. Itu cincin dari Jaksa Kang, kan?"

"Aku tidak tahu apa yang Anda bicarakan."

"Anda meninggalkan cincin itu di pulau itu setelah pecobaan bunuh diri. Apa karena Anda tidak mau Jaksa Kang menemukan Anda lagi?"

Kang Eun Joo ngotot kalau dia belum menemui anaknya sejak kebakaran Apartemen Yeongseong. Jae In menatap kaca tempat An berada di baliknya. Dia lalu menyudahi interogasi.

***

Kang Geun Taek mendatangi Rumah Sakit Kooyang. Dia menyiram luka dibalik mantelnya dengan antiseptik lalu membebatnya dengan perban secara asal-asalan.

***

Jae In dan Kang Eun Joo keluar dari ruang interogasi. Kang Eun Joo hampir saja terjatuh karena kondisi tubuh dan jiwanya yang tidak fit. An yang sedang berjalan menghampirinya segera menangkapnya dengan memegang tangannya. An memejamkan matanya saat ingatan Kang Eun Joo menabrak memorinya.

"Kamu bilang kamu tidak akan membunuh orang jika aku datang."

Kang Geun Taek berjalan mendekati Kang Eun Joo. "Aku hanya mengikuti apa yang Kang Sung Mo lakukan. Sama seperti anakku."

"Jangan katakan itu. Dia anakku. Dia tidak ada hubungannya denganmu. Dia bukan monster sepertimu."

"Ya. Dia telah berubah. Sama sepertiku, dia dilahirkan tidak bisa merasakan emosi. Tapi sesuatu membuatnya lebih baik. Apa yang mengubahnya? Apa cintamu? Jika kamu yang membuatnya jadi makhluk sosial, maka aku juga harus jadi salah satu dari itu. Tapi, aku masih monster tanpa emosi."

"Apa yang ingin kamu katakan," tanya Kang Eun Joo dengan suara gemetar.

"Kebakaran di Apartemen Yeongseong, aku sudah bilang, aku tidak berada di balik kejahatan itu."

"Kamu bahkan menyiapkan mayat untuk menyamarkannya sebagai diriku. Bagaimana mungkin itu bukan perbuatanmu?"

Kang Gen Taek semakin mendekat. Dia melepas sebelah sarung tangannya lalu membelai rambut Kang Eun Joo. "Benar. Orang yang membawa mayat itu adalah aku. Itu satu-satunya cara untuk membawamu bersamaku,"bisik Kang Geun Taek. (Btw, Kang Geun Taek ini kalau ngomong kaya bisik-bisik. Pelan tapi datar plus nyeremin. Beda banget waktu di Alhambra). "Tapi aku tidak membunuh yang lain. Aku bahkan tidak pernah melakukan pembakaran itu. Aku memikirkannya, tapi ada orang lain yang mengalahkanku."

"Tidak mungkin. Jika bukan kamu, lalu siapa lagi yang bisa begitu keji?"

"Seseorang sepertiku yang tidak bisa merasakan emosi."

An tersentak melihat apa yang ada di dalam visinya barusan. "Itu bohong! Tidak mungkin." An menatap Kang En Joo. "Kang Geun Taek berbohong, kan? Iya, kan?" Kang Eun Joo menatap An tertegun. "Katakan padaku kalau Hyung tidak melakukannya!!!!" bentak An.

Seolah menyadari sesuatu, Kang Eun Joo langsung melepaskan pegangan tangan Lee An. An terkejut melihatnya.

***

Kang Geun Taek berjalan menuju ruangan dokter anak lalu membuka pintunya. Di dalamnya sudah ada Kang Sung Mo yang menunggu. Dia menatap tajam Kang Geun Taek.

***

An menatap tangannya yang dihempaskan oleh Kang Eun Joo. Dia lalu beralih menatap Kang Eun Joo. "Hyung juga memberitahumu tentang kemampuanku?"

Kang Eun Joo mundur satu langkah. Tubuhnya gemetaran karena takut.

***

Kembali ke Sung Mo. "Sudah ku bilang, aku sudah tahu setiap tempat persembunyianmu." (Cara ngomongnya Sung Mo kalau di depan Kang Geun Taek serem euy. Udah kaya Kang Geun Taek)

Kang Geun Taek perlahan memundurkan langkahnya. Dia lalu berbalik dan melarikan diri. Tapi baru beberapa langkah, sesuatu menghentikan jalannya. Ternyata kakinya terperangkap jebakan besi (?). Dia menoleh dan melihat Sung Mo yang berjalan pelan ke arahnya.

Bersambung ke He is Psychometric episode 14 part 1

Komentar : Huft!!! Episode ini menguras emosi dan pikiran. Jiahahaha lebay. Siapa yang pernah curiga kalau Sung Mo ternyata pelakunya coba angkat jari! Aku!! Beneran loh di awal episode aku sempat mikir kalau pelaku pembakaran Apartemen Yeongseong itu Sung Mo sendiri. Intuisi doang, soalnya di awal-awal menurutku dia mencurigakan dengan tampang datarnya dan cara bicaranya yang juga datar. Eh ternyata beneran. Ommo!! Writer-nim Daebak!! Plotnya bener-bener nggak ketebak. Perasaan Lee An pasti campur aduk banget tuh. Poor Lee An.

Dan yang paling bikin nyesek itu pas Ji Soo dinyatakan meninggal. Sumpah nggak nyangka. Baru episode 13 ini. Masih ada 3 episode lagi. Dulu ayahnya korupsi karena kasus Yeongseong demi menyelamatkan nyawa Ji Soo. Tapi akhirnya Ji Soo meninggal gara-gara menyelidiki kasus itu. Ironis banget ya. Sedih liat dan denger tangisannya An.

Aku baru tahu ada penyakit psikologis yang namanya Alexythimia. Mengerikan juga ya. Apa lagi itu menurun. Menurutku Sung Mo sebenarnya bisa sembuh andai dia mau membuka diri sejak dulu. Buktinya dia bisa senyum waktu Jae In kecil senyum dulu. Terus dia juga nangis waktu Ji Soo ditikam. Dia juga punya rasa khawatir sama keselamatan orang-orang yang sayang sama dia. Dan yang jelas, dia sayang banget sama ibunya sampai rela bunuh orang demi keselamatan ibunya. Kasian banget ya Sung Mo. Nggak bisa ngebayangin deh hidup terkurung dan terisolasi dari dunia luar selama 9 tahun dari sejak dia dilahirkan. Aigoo!


Read More

He is Psychometric Episode 13 Part 3

He is Psychometric 
Episode 13 Part 3
Sumber konten dan gambar : TVN

An meraung menangisi Ji Soo. Jae In berlari ke sana dan terhenyak melihat semua orang menangis. Dia lalu mendekati Lee An dan memeluknya. Mereka menangis bersama.

Hal yang sama dilakukan oleh dr. Hong. Dia menangis seorang diri di ruang otopsi. Dia teringat ucapan Ji Soo dulu.

"Kamu payah terobsesi untuk hidup. Baiklah, aku akan mati duluan. Hiduplah dengan baik. Pastikan kamu datang ke pemakamanku.

Juga ucapan Ji Soo di dalam taksi setelah mabuk karena Sung Mo.

"Dalam kehidupanku selanjutnya, aku akan berkencan denganmu dr. Hong. Setelah mengatakan itu, Ji Soo dadah dadah.

***

Sung Mo kembali ke apartemen sewaannya. Dia merobek kain sprei lalu membalutkannya pada tangannya yang terluka. Sung Mo melepas kabel telepon lalu menggulungnya lalu mengambil spidol merah. Dia menggunakan itu untuk membuat lingkaran di peta yang dia tempel di dinding. Sung Mo memperhatikan daerah-daerah yang ada di area yang dia lingkari. Setelah itu Sung Mo melepas peta itu lalu mencopoti kertas-kertas yang dia tempel di cermin.

***

Kasus pembunuhan Ji Soo dan tersangkanya yang melarikan diri di siarkan di media elektronik. Pak Eun mendengarkannya dari dalam mobil, Lee An dari apartemennya, sedangkan Jae In dan Pak Nam dari pusat keamanan.

Detektif yang sebelumnya membawa Kang Geun Taek, det. Kim, kesal mendengar berita di tv. Pak Nam memarahinya. Menurutnya det. Kim tidak pantas mengeluh karena dia yang kehilangan Kang Geun Taek. Det. Kim balik marah karena Pak Nam tidak memberitahunya kalau Kang Geun Taek adalah orang yang berbahaya sehingga dia tidak bertindak lebih hati-hati.

Jae In berdiri dan menunjukkan dokumen-dokumen tentang kasus yang sedang di selidiki Ji Soo. Det. Kim bertanya apa semua kasus itu tersangkanya adalah orang yang sama.

"Ada satu lagi," ucap Jae In sambil menunjukkan satu dokumen lagi.

"Kasus Pengurungan Gangryeong?"

"Di sinillah semua itu bermula."

***

An termenung sendiri di apartemennya. Dia kesal mengingat perkataan Kang Geun Taek padanya saat di terowongan. An masuk ke kamar Sung Mo dengan kasar. Dia mengacak-acak lemari berharap mendapatkan petunjuk. Dia bahkan membuang buku-buku yang ada di atas meja saking marahnya.

"Sia*an!!" An memukul meja dengan tinjunya. Tapi siapa sangka dia malah melihat sebuah visi. An melihat Sung Mo yang duduk di depan meja sambil menggaris bawahi kata-kata Stasiun Saeki-dong dan kalimat yang berkaitan dengan anak-anak pengemis yang di belenggu lehernya. Sung Mo lalu meletakkan kotak rubik di atas dokumen itu.

An tertegun. "Berkas kasus itu. Dia sengaja meninggalkannya di sini." An lalu mengmbil rubik yang ada di atas meja. Dia melihat Sung Mo yang membuka sebuah kotak yang berisi rubik itu. Lalu Kang Sung Mo yang tersenyum sambil memakaikan cincin di jari ibunya. Mereka berada di sebuah taman. "Orang yang memberi cincin pada Kang En Joo, adalah Kang Sung Mo hyung?"

An mendapat telepon dari Jae In. Dia segera memberitahu Jae In kalau Sung Mo sengaja menarik mereka ke stasiun Saeki-dong. "Dia meninggalkan berkas itu supaya kita bisa menemukan tempat itu. Hyung tahu Kang Geun Taek berada di stasiun Kangguk. Tapi dia mengirim ke stasiun Saeki-dong untuk membuat kita tetap hidup."

"An. Tenanglah!"

"Lebih dari itu, aku malah mengirim Ji Soo noona ke tempatnya untuk menghentikan Sung Mo hyung. Aku membuatnya terbunuh," ujar An sambil menangis.

"An. Jangan bilang begitu. Itu hanya kecelakaan."

An mengacak-acak deretan buku di rak buku Sung Mo sambil terus menelepon. "Hyung, Tahu ibunya masih hidup. Hyung ada di Rumah Perawatan Hanmin."

Jae In sontak berdiri dari duduknya karena terkejut. "Kamu dimana sekarang? Aku akan ke sana."

***

Pak Nam memasang papan bertuliskan 'TUTUP' di depan pintu pusat keamanan Seohun. Terdengar langkah seseorang di belakangnya. "Ini bukan lagi pusat keamanan. Ini sudah di tutup..."

Ternyata yang datang adalah Pak Eun. Mereka lalu bicara berdua di sebuah gazebo yang ada di depan pusat keamanan. Pak Nam memuji Ji Soo yang berpegang teguh pada pekerjaannya tidak peduli apapun, sama seperti Pak Eun di masa mudanya.

Pak Eun meminta Pak Nam mengambil alih kasus yang sebelumnya di selidiki oleh Ji Soo. Menurutnya Pak Nam adalah orang yang paling tepat untuk menyelidiknya karena dia yang lebih tahu tentang penyelidikan kasus yeongseong yang dulu belum selesai. Pak Nam bertanya apa Pak Eun sudah siap dengan konsekuensinya.

"Ji Soo memintaku berkali- kali untuk membuka penyelidikan kembali. Aku selalu berkata tidak. Bahkan saat dia menemukan rahasiaku. Dia bilang kami bisa mulai lagi sebelum terlambat. Aku lah yang membuat segalanya jadi lebih buruk. Aku.... membunuh Ji Soo." (Aigoo! Nggak bisa ngebayangin perihnya hati seorang ayah ngomong begini. Nyesel banget tuh dia)

***

Pak Nam dan Det. Kim memperhatikan Kang Eun Joo yang terlihat melamun di dalam ruangan interogasi. Det. Kim memberitahu kalau Kang Eun Joo sejak kemarin diam saja. Pak Nam berkomentar kalau Kang Eun Joo sudah hidup sebagai orang mati selama 13 tahun, jadi dia pasti tidak akan bicara dengan mudah. "Tunggulah sebentar. Aku ada rencana,"ucap Pak Nam.

***

Jae In sudah berada di apartemen An. An bercerita pada Jae In kalau rubik itu adalah hadiah dari Kang Eun Joo unuk Sung Mo. "Cincin yang dipakainya juga dari Hyung."

"Berarti Jaksa Kang tahu dia masih hidup sejak awal?"

"Ya. Dan di rumah perawatan Hanmin, orang yang membawanya keluar dari tempat itu adalah Hyung."

"Jadi itu sebabnya dia tahu tentang stasiun Saeki-dong," ujar Jae In.

"Apa?"

"Semua yang kamu lihat tentang Kang Geun Taek di ruang bawah tanah, adalah tentang 'tempat yang tidak ada'. Tapi Kang Eun Joo datang ke Stasiun Saeki-dong dengan membawa pisau."

"Kang Eun Joo mendengar Kang Geun Taek ada hubungannya dengan stasiun Saeki-dong dari Sung Mo hyung?"

"Kebakaran rumah perawatan Hanmin terjadi pada tahun 2016. Jaksa Kang menyelesaikan kasus pengemis pada tahun 2015. Jika keduanya ada hubungannya, maka itu bisa saja."

An mengacak-acak rambutnya frustasi. "Ah! Semakin aku tahu semakin aku tidak mengerti. Jika Hyung tetap bertemu dengan ibunya, kenapa dia membuat kompositnya (Sketsa wajah) ditarik? Kenapa dia membuat kita menemukannya? Itu tidak masuk akal." Tiba-tiba Lee An tertegun saat teringat ucapan Kang Geun TAek di terowongan dan pertanyaannya sendiri kenapa Sung Mo ada di rumah perawatan Hanmin. "Jae In. Aku perlu bertemu Kang Eun Joo. Satu-satunya orang yang bisa mengatakan yang sebenarnya."

Jae In mendapat telepon dari Pak Nam yang bertanya bagaimana Jae In dan An tahu Kang Eun Joo ada di stasiun Saeki-dong dan Kang GeunTaek ada di stasiun Kangguk. Jae In bagaimana harus menjawabnya. Pak Nam bilang Kang Gaeun Taek dan Kang Sung Mo menghilang tanpa jejak, sedang Kang Eun Joo tidak mau bicara. Jadi Pak Nam meminta Jae In bergabung dengannya di tempat interogasi.

"Ada satu orang lagi yang harus bergabung," ucap Jae In.

Bersambung He is Psychometric episode 13 part 4


Read More

He is Psychometric Episode 13 Part 2

He is Psychometric 
Episode 13 Part 2
Sumber konten dan gambar : TVN

Ji Soo menodongkan pistolnya ke arah Kang Geun Taek. "Kang Sung Mo. Jatuhkan pisaunya." Ji Soo perlahan berjalan mendekat.

"Jangan kemari Eun Ji Soo!" pinta Sung Mo.

Ji Soo tidak peduli. "Peluru pertama kosong. Tapi peluru kedua sungguhan. Tolong jatuhkan pisau itu."

Kang Geunt Taek memutar tuas mesin uap (?) hingga uapnya tepat mengenai wajah Sung Mo yang kontan membuat Sung Mo reflek melepaskan cekikannya pada Kang Geun Taek. Ruangan jadi penuh dengan kabut uap. Kang Geun Taek entah pergi kemana.

"Eun Ji Soo. Keluar dari sini sekarang juga!" teriak Sung Mo. "Pergi!"

"Aku tahu kenapa kamu ingin membunuhnya. Dan kenapa kamu tidak percaya pada polisi. Tapi Kang Sung Mo. Beri aku kesempatan juga."

"Ji Soo, tolong jangan mendekat. Tolong tetap di situ."

Tiba-tiba Kang Geun Taek datang dari arah belakang Ji Soo dan menusuk perutnya.

"Tidak!!!!" teriak Sung MO.

Ji Soo seketika ambruk ke tanah sedangkan Kang Geun Taek melarikan diri, Sung Mo segera menghampiri Ji Soo dan menyandarkannya di bahunya. "Eun Ji Soo."

Di sela-sela kesakitannya, Ji Soo masih sanggup bicara. "Lihat. Kamu bukan monster." Darah mengucur deras dari perut kanan Ji Soo. Sung Moo berusaha menekannya dengan tangannya. " Jika iya, kamu mungkin akan mengejarnya dan meninggalkanna disini."

Sung Mo benar-benar panik dan khawatir melihat keadaan Ji Soo. "Tolong. Tolong Ji Soo."

"Kami menemukan ibumu. Jadi ayo kita kembali. Membunuhnya tidak akan menyembuhkan lukamu. Itu hanya akan memperparahnya. Jadi.... tolong.... kembalilah bersamaku.... Kang Sung Mo." Ji Soo menggenggam tangan Sung Mo yang berada di perutnya. Sesaat kemudian, tangannya terkulai ke lantai dan dia kehilangan kesadarannya.

"Ji Soo-ya. Bangun. Tolong.... tidak... Ji Soo... tidaaaaaaakkkk!!!!!" Sung Mo berteriak pilu.Dia menangis. (Aku merinding plus nggak nyangka sambil nahan tangis, hiks)

***

Dari walky talky petugas yang ada di ruang rawat Kang Eun Joo, terdengar pemberitahuan bahwa ada seorang detektif yang tidak sadarkan diri. "Kerahkan ambulans. tersangka melarikan diri. Minta bantuan petugas di dekat stasiun Kangguk. Saya ulangi. Tersangka dalam pelarian setelah menikam seorang detektif."

Jae In segera mengambil walky talky itu. "Apa korban itu ddet. Eun JI Soo? Identifikasi korban!" Teriak Jae In. Petugas di seberang membenarkan. Det. Lee yang kaget langsung petugas yang ada di sana memeriksa ke rumah sakit mana Ji Soo di bawa. Jae In menjatuhkan walky talky nya saking terkejut dengan berita yang baru saja dia dengar.

***

An baru sampai di depan stasiun Kangguk. Jae In menghubunginya dan memberitahukan apa yang sudah terjadi. An tentu saja kaget mendengarnya. Di kejauhan, An melihat KAng Geun Taek yang berlari keluar dari stasiun Kangguk sambil memegang lengannya yang terkena tembakan. Dia tidak mempedulikan peringatan Jae In agar tidak melakukan sesuatu yang berbahaya. An segera berlari sekuat tenaga Kang Geun Taek. Sementara polisi bantuan yang minta Pak Nam baru tiba di lokasi di sana.

An kehilangan jejak Kang Geun Taek. Dia teringat penjelasan Jae In bahwa Kang Geun Taek sudah terbiasa menghindari cctv karena pengalamannya yang hidup di bawah tanah. Akhirnya An mencari jalur kereta di sekitar sana. "Dia akan bersembunyi di tempat terpencil tanpa kamera keamanan," ucap An dalam hati. Dia terus mengikuti jalur rel kereta api hingga menemukan sebuah terowongan i dalamnya.

Dan benar saja. Kang GeunTaek memang berada di dalam terowongan itu. An segera menendangnya dari belkang hingga targetnya tersungkur ke tanah. Kang Geun Taek berusaha bangkit tapi An langsung menendangnya lagi. Dia mengeluarkan semua kemarahannya dengan meninju wajah Kang Geun Taek berkali-kali. Dari sentuhan fisik itu, An bisa melihat saat Kang Geun Taek menusuk Ji Soo.

Kang Geun Taek berusaha mencekik An. An melakukan hal yang sama padanya. Saat menyentuh leher pria itu lah An mendapatkan visi tentang apa yang terjadi Rumah Perawatan Hanmin sebelum kebakaran.

Kang Geun Taek masuk ke salah satu ruangan di Rumah Perawatan Hanmin. "Aku akan membunuh para wanita di bangsal ini satu demi satu setiap 30 menit.

"Ternyata kamu. Kamu membunuh orang-orang di rumah perawatan Hanmin.

"Kamu bilang kamu tidak akan membunuh mereka jika aku datang," ucap Kang Eun Joo.

"Berhentilah melarikan diri dariku.Ayo kita bersama sekarang."

Kang Geun Taek menyuntik Kang Eun Joo dengan obat bius. Dia lalu membawanya dengan meja dorong (?). Tiba-tiba Kim Gab Young datang dan menendangnya. Mereka pun berkelahi. "Aku bisa saja membunuhmu di sini sekarang. Tapi jika aku lakukan, aku akan kehilangan pelanggan VIP ku," ucap Kim Gab Young.

An mulai pusing karena visi yang datang bertubi-tubi. Kang Geun Tak segera menggunakan kesempatan itu untuk memukul An. An berhasil mengumpulkan kesadarannya lagi. Dia memukuli Kang Geun Taek. Kang Geun Taek meraih kayu yang tergeletak di rel. Dia hendak memukulkannya pada An. Tapi An berhasil menangkisnya dengan sikunya. An kembali memukuli Kang Geun Taek.

"Tolong jangan bunuh orang lagi karenaku,"kata Kang Eun Joo.

"Kamu pikir aku adalah orang yang membakar apartemen 11 tahun yang lalu? Aku akan memberitahumu kebenaran hari itu, jika kamu datang kesini," ucap Kang Geun Taek di telepon.

"Kebenaran hari itu? Apa kebenaran di balik kasus Yeongseong? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya An. An melihat visi agi saat mencekal tangan Kang Geun Taek. Dia melihat Sung Mo yang pergi dari rumah perawatan Hanmin dengan mengendarai mobilnya. Dan di bangku belakang mobilnya, ada Kang Eun Joo yang tidak sadarkan diri.

"Kenapa Kang Sung Mo ada di sana? Kenapa Sung Mo ada di rumah perawatan Hanmin!!!!" teriak An. Kang Geun Taek heran bagaimana An bisa tahu. "Dia mengambil Kang Eun Joo? Kenapa hyung ada di ingatanmu? Hei!! Jawab aku!"

Pak Nam bersama beberapa petugas ke sana. An masih terus bertanya. "Jawab aku Kang Geun Taek!!"

"Jangan salah paham dan berpikir Kang Sung Mo menyelamatkanmu. Dia baru saja menjinakkanmu. Itu saja."

"Apa maksudnya?"

Para petugas memisahkan An dari Kang Geun Taek. Mereka menangkap Kang Geun Taek. An masih terus meronta meminta jawaban dari Kang Geun Taek. Pak Nam mendekatinya. "Lee An kamu ini kenapa? Pergi dan periksa det, Eun di rumah sakit. Jaksa Kang pergi ke rumah sakit bersamanya tapi ada hal yang mengerikan.

***

Ji Soo sedang di operasi. Belum ada seorang pun yang datang ke sana. Hanya ada Sung Mo yang memandang ruang operasi dari balik tembok. Dia mengingat ucapan Ji Soo yang mengajaknya kembali. Sung Mo menatap tangannya yang berlumuran darah. "Untuk kembali saja, itu sudah terlambat."

Pak Eun dan de. Lee datang dan tidak melihat Sung Mo. Sung Mo segera pergi dari sana.

An masuk ke dalam lift bersamaan dengan Sung Mo yang turun dari tangga. Pintu lift tertutup tepat pada saat Sung Mo lewat di depannya. Begitu sampai di depan ruang operasi, An menanyakan keadaan JI Soo pada det. Lee. "Dia masih di ruang operasi," jawab det. Lee.

"Apa Anda melihat Sung Mo hyung?"

"Jaksa Kang? Dia ada di sini?" det. Lee malah balik bertanya.

An menatap ruang operasi dengan nafas terngah-engah.

***

Kang Eun Joo baru saja sadarkan diri. Jae In yang masih menungguinya bertanya bagaimana perasaannya. Kang Eun Joo tidak menjawab. Dia segera bangun begitu sadar apa yang terjadi.

"Anda masih perlu istirahat, Kang Eun Joo-ssi."

Kang Eun Joo tertegun. "Kamu tahu siapa aku?"

***

Tangan Kang Geun Taek diborgol dan di kaitkan di atas jendela mobil. Seorang petugas yang mengawalnya memperhatikan luka di lengannya dan menyarankan pada ketua timnya agar Kang Geun Taek dirawat dulu lukanya. Kebetulan tidak jauh dari mereka ada sebuah kecelakaan dimana sebuah mobil menabrak sebuah taman. Sepertinya para petugas yang membawa Kang Geun Taek akan membantu di sana terlebih dahulu. Dan diam-diam, Kang Geun Taek ternyata membawa sebuah kawat kecil. Jelas itu akan dia gunakan untuk melepaskan borgolnya.

***

Kang Eun Joo duduk di bangku belakang sebuah mobil polisi. Di luar, Jae In mencoba menjelaskan kepada petugas yang akan membawa Kang Eun Joo tentang siapa Kang Eun Joo dan kaitannya dengan kasus Yeongseong. Saat Petugas beru membuka pintu mobilnya, walki talkinya berbunyi dan menginformasikan bahwa Kang Geun Taek melarikan diri. Jae In kesal mendengarnya sementara Kang eun Joo terlihat ketakutan.

***

Operasi hampir berjalan selama 4 jam. Kepala Ji Soo terkulai ke samping. Sebutir airmata mengalir dari sudut matanya.

Tiiiiiiiiiiiiiiiit.

Dokter keluar dari ruang operasi. Pak Eun dan det. Lee segera menghampirinya.

"Pukul 20:45 Eun Ji Soo-ssi dinyatakan meninggal." (Andweeeee)

Semuanya tertegun. Pak Eun terduduk di bangku lalu menangis. Det. Lee sampai terjatuh ke lantai dan ikut menangis. An berjalan ke tepi koridor sambil memegang dadanya. Akhirnya dia tidak tahan menahan beban tubuhnya dan luruh ke lantai. An menangis keras. Sepanjang koridor ruang operasi riuh oleh tangisan tiga pria yang hatinya perih karena ditinggal wanita yang mereka sayangi. Ji Soo.

Bersambung ke He is Psychometri episode 13 part 3

Komentar : Aku nangisssssssssss. Nggak nyangka Ji Soo meninggal. Sumpah nggak nyangka. Writer-nim. Jebal!
Read More

He is Psychometric Episode 13 Part 1

He is Psychometric
Episode 13 Part 1
Sumber konten dan gambar : TVN

25 Oktober 2005

Pak Nam sedang memandangi Jae In yang tertidur. Tiba-tiba dia mendengar suara deru mobil. Sepertinya iu mobil jasa pindahan. Pak Nam sedikit heran karena dia tidak mendengar ada penghuni baru yang pindahan.

Penghuni baru itu adalah Sung Mo dan ibunya. Mereka segera masuk ke apartemen mereka. Begitu masuk, Sung Mo segera mengunci pintu. "Kita akan aman di sini," ucap Sung Mo menenangkan ibunya.

Kang En Joo meraih tangan Sung Mo. "Sung Mo, dia akan menemukan ibu lagi. Mungkin ibu harus mati supaya ini berakhir."

"Jika dia kembali, aku akan membunuhnya sendiri. Jadi jangan khawatirkan dia lagi."

"Jika kamu melakukan itu, ibu akan sedih, ibu akan sakit. Kamu ingat emosi yang ibu ajarkan padamu?"

Sung Mo mengelus tangan ibunya. "Aku tahu. Perasaan memuakkan ketika seserang meninggal. Ibu akan merasa sedih karena kehilangan orang itu."

"Benar. Seperti itu. Itu sebabnya jika kamu membunuh seseorang, ibu juga akan mati.

Episode 13

Di apartemen sewaannya, Sung Mo menatap bayangan dirinya di cermin. Dia lalu menempekan kertas kecil satu persatu. Kertas itu bertuliskan : Ruang bawah tanah, Kang GeunTaek, rantai, penjaga keamanan Apartemen Yeongseong membuat kebakaran itu, tempat yang ada namun tidak ada, stasiun terbengkalai, kebakaran rumah perawatan Hanmin, pelaku palsu dari kebakaran apartemen yeongseong, dan juga ada foto Jae In dan Ji Soo.

Dia yang bertarung melawan monster, harus berhati-hati untuk tidak menjadi orang itu sendiri. Jika aku terlalu lama melihat jiwa monster itu, maka jiwanya akan merasukiku dan mengetahui tentang diriku lebih dalam lagi.

Sung Mo membuka botol obatnya, lalu membuang isinya ke tempat sampah.

Di tempat lain, Kang Geun Taek sedang mengelus pisaunya. Dia lalu melemparkan pisau itu itu tepat mengenai foto Sung Mo yang tertempel di dinding.

***

Kembali pada saat Lee An menyentuh foto di dalam tas. Dia melihat sesorang yang mengambil foto Kang Eun Joo di apartemen Sung Mo. Sepertinya orang itu adalah Sung Mo bukannya Kang Geun Taek. Karena setelah itu An melihat Sung Mo yang memasukkan foto itu ke dalam tas yang ada rantai belenggunya. An terkesiap melihat visi barusan. "Apa itu? Hyung,,,"

Saat itulah terdengar suara pintu di buka. Jae In dan An segera bersembunyi. Jae In bersiap dengan pistolnya. Seseorang berpakaian serba hitam berjalan dari kejauhan. Sepertinya dia menggenggam sebuah pisau. Tapi tiba-tiba orang itu berhenti melangkah dan mundur perlahan sebelum akhirnya berbalik lalu berlari.

Lee An dan Jae In segera mengejarnya. Pisau yang dibawa orang itu terjatuh. An memilih berhenti dan mengambil pisau itu sementara Jae In tetap mengejar. Dari visinya, An melihat kalau orang yang barusan lari adalah Kang Eun Joo bukan Kang Geun Taek.

Jae In berhasil menangkap orang itu hingga mereka berdua tersungkur ke lantai dan orang itu pingsan. Jae In terkejut melihat orang yang di tangkapnya adalah Kang Eun Joo. "Kang Eun Joo? Apa yang dia lakukan di sini?"

Sung Mo berjalan di lorong kereta bawah tanah. Tapi bukan di stasiun Saeki-dong, melainkan Stasiun Kangguk. Sung Mo membuka sebuah pintu, dan masuk ke dalamnya.

An menghampiri Jae In. "Yoon Jae In. Yang menyembunyikan tas itu bukan Kang Geun Taek."

"Apa?"

"Satu-satunya orang yang mengambil foto dan rantai adalah hyung sendiri. Ada yang tidak beres. Kenapa tempat ini di atur seperti tempat persembunyian Kang Geun Taek? Dan juga, kenapa dia ada di sini bukannya Kang Geun Taek?"

"Kita harus membawanya ke rumah sakit dulu," ujar Jae In.

An berusaha mengingat-ingat visinya lagi. Dan ternyata dia melihat tulisan di dinding belakang tempat Sung Mo duduk. Stasiun Kangguk, itu tulisannya. An langsung bertanya kepada Jae In apa ada nama Stasiun Kangguk.

Jae In pun mengingat-ingat artike yang dia baca di internet. Rencana untuk jalur transfer baru antara stasiun Saeki-dong dan stasiun Kangguk di batakan. Jae In membenarkan ada nama stasiun Kangguk. "Kenapa tanya?"

An menghea nafas. "Itu bukan Stasiun Saeki-dong. Hyung ada di stasiun Kangguk."

***

Sung Mo masuk ke ruangan dimana Kang Geun Taek bersembunyi. "Keluar!" ucap Sung Mo. "Permainan bersembunyi sudah selesai."

Suara Kang Geun Taek menyahut. "Tidak aku sangka kamu tahu aku di mana. Aku terkesan, Kang Sung Mo. Fakt bahwa kamu melacakku di sini, berarti kamu sudah belajar tentang masa kecilku."

"Betapapun mengerikannya masa lalumu, pembunuhan itu tidak di benarkan,"

"Kamu menemukan Kang Eun Joo?"

"Jangan berani-berani menyebut nama itu. Kamu tidak akan melihat ibumu lagi. Keluarlah! Kang Geun Taek."

***

An melajukan mobilnya di jalan raya seorang diri tanpa Jae In. Dia menelepon Ji Soo dan memberitahunya kalau dia menemukan Kang Eun Joo di stasiun Saeki-dong. "Datanglah ke stasiun Kangguk sekarang. Hyung ada di sana. Noona. Kamu harus menghentikan Hyung."

Ji Soo menghubungi Pak Nam untuk minta bantuan. Pak Nam keluar dari kantor, dia segera menelepon rekannya yang berada di yurisdiksi stasiun Kangguk untuk mengerahkan pasukannya ke Stasiun Kangguk. Tiba-tiba Pak Eun datang menghampirinya.

"Ayo kita bicara."

"Tidak ada mau ku katakan padamu."

"Kamu yang memberi tahu Ji Soo tentang Apartemen Yeongseong kan?"

Pak Nam mendekati Pak Eun lalu menonjoknya. "Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak menunjukkan dirimu lagi," ucap Pak Nam lalu berlari pergi.

Pak Eun menelepon seseorang dan memintanya untuk menutup Pusat Keamanan Komunitas Seohun dan menangguhkan semua orang sampai pemberitahuan lebih lanjut.

Ji Soo sampai di depan stasiun Kangguk. Dia datang dengan menyalakan sirine polisi di mobilnya. Sebelum turun, Ji Soo mengambil kalung bunga matahari yang tergantung di kaca spiion dalam mobilnya. Ji Soo segera berlari memasuki Stasiun Kangguk.

Sung Mo berjalan mencari keberadaan Kang Geun Taek di ruangan yang penuh mesin-mesin. Kang Geun Taek yang belum terlihat berkata kalau bertemu satu lawan satu adalah hal yang nekad. Sung Mo membenarkan. "Itu sebabnya kamu mencari orang-orang yang memiliki ikatan denganku."

"Ikatan. Membuat ikatan dengan banyak orang, mengasihani, dan cinta. Kesetiaan dan rasa sakit. Bagaimana rasanya merasakan semua itu. Kamu merasa seolah-olah menjadi manusia?"

"Tidak. Aku masih monster. Karena aku hanya memikirkan cara untuk membunuhmu. Apa saja cara paling kejam dan menyakitkan untuk membuatmu membayar setiap tindakanmu. Hanya itu yang ku pikirkan."

Kang Geun Taek yang bersembunyi di balik tabung uap (?) kembali menyahut. "Benar. Itu sebabnya Eun Joo meninggalkanmu. Karena dia menyadari bahwa kamu juga monster yang tak berdaya. Darahku benar-benar mengalir di nadimu."

"Diam. Meski kamu bisa keluar dari sini dengan aman, tidak ada lagi tempatmu untuk bersembunyi. Investigasiku padamu sudah selesai."

"Benarkah? Kita akan bertemu lagi, Kang Sung Mo."

Dari lantai tempat Sung Mo berpijak tiba-tiba keluar asap. Asap itu mengepul hingga memenuhi ruangan dan menghalangi pandangan Sung Mo. Tapi samar-samar, Sung Mo masih bisa melihat Kang Geun Taek yang berjalan keluar berusaha melarikan diri dari Sung Mo. Sung Mo segera mengejarnya. Mereka pun adu kekuatan.

***

Ji Soo menemukan keberadaan stasiun bawah tanah. Dia masuk ke balik pintu merah yang tadi di lalui Sung Mo.

Di dalam, Sung Mo dan Kang Geun Taek berkelahi. Sung Mo berhasil mencekik Kang Geun Taek namun Kang Geun Taek sudah bersiap dengan pisaunya. Sung Mo mencengkeram pisau itu dengan tangannya. Sung Mo berhasil menjatuhkan pisau itu lalu membanting Kang Geun Taek ke lantai.

***

Jae In berada di rumah sakit menunggui Kang Eun Joo ditemani det. Lee. Det. Lee kebingungan saat mencerna identitas Kang Eun Joo yang adalah ibu Sung Mo yang dinyatakan meninggal dalam kebakaran yeongseong, juga yang pernah hidup sebagai Kang Hee Sook.

***

Sung Mo kembali berhasil mencekik Kang Geun Taek. Kali ini dia yang berusaha menikam dan Kang Geun Taek menahan pergelangan tangan Sung Mo. Tiba-tiba terdengar suara tembakan. Ji Soo menodongkan pistol ke atas. Sung Mo menoleh. Ji Soo menurunkan tangannya dan mengarahkan senjatanya ke Kang Geun Taek.

Bersambung ke He is Psychometric episode 13 part 2
Read More

He is Psychometric Episode 12 Part 4

He is Psychometric
Episode 12 Part 4


Sumber konten dan gambar : TVN

Read More

He is Psychometric Episode 12 Part 3

He is Psychometric
Episode 12 Part 3
Sumber konten dan gambar : TVN

Jae In masih sibuk searching tentang kasus orang-orang yang tidak terdaftar kewarganegaraannya. Sementara Lee An duduk di meja sambil memperhatikan pola yang mereka buat. "Pak Nam bertingkah aneh kan?" Tanya Lee An.

JAe In membenarkan. Dia menduga Pak Nam tahu sesuatu tentang kasus kebakaran. An mengungkit Jae In yang dipindah ke sini setelah Pak Nam memergokinya memeriksa berkas kasus pembakaran. Awalnya Jae In mengira Pak Nam hanya bersimpati padanya makanya dia juga membiarkannya tinggal di pusat keamanan. Tapi sepertinya bukan itu alasannya.

Lee An berdiri. "Bagaimana jika dia menginginkanmu untuk berhenti mencari kasus itu lagi.

***

"Kamu tidak tahu apa-apa saat menggerebek tempat perdagangan manusia itu? Aku yakin kamu mendengar rumor tentang konstruksi YSS," kata Pak Nam.

"Ya. Tapi itu tidak di sebutkan dalam artikel berita manapun," jawab Ji Soo.

"Itu karena konstruksi YSS memiliki politisi dan polisi sebagai pegangannnya. Mereka bukan perusahaan yang bisa kamu lawan.

Ji Soo bertanya apa hubungan konstruksi YSS dengan kasus yang sedang dia selidiki. Pak Nam memberitahu sebelum konstruksi YSS menjadi perusahaan besar seperti sekarang, dulunya di sebut konstruksi Yoengseong.

"Komplek Apartemen Yeongseong tidak menyediakan jalan yang semestinya untuk membiarkan truk pemadam kebakaran berjalan yang mengakibatkan banyak korban. Tidak ada yang tertarik dengan itu. Kenapa? Karena mereka diberi cerita yang jauh lebih segar."

"Tidak mungkin."

"Pahlawan yang menyelamatkan nyawa mereka, ternyata adalah pelakunya. Skenario yang dibuat sendiri. Apa yang bisa lebih menghibur dari itu?"

"Jadi supaya bisa menutupi kasus ini dengan cepat, ayahku sengaja menjebak Yoon Tae Ha? Itu tidak mungkin."

"Kamu mungkin tahu ini. Tapi ayahmu naik pangkat dengan cepat setelah kasus itu. Dan dia sekarang menjadi komisaris polisi. Menurutmu, bagaimana arti dari semua itu?"

Ji Soo tertegun mengetahui kenyataan tentang apa yang telah ayahnya lakukan. Dia ingin untuk tidak mempercayainya. Tapi semuanya terasa masuk akal.

Ji Soo segera pulang tanpa kembali ke pusat keamanan. Dia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari rumahnya dan melihat ayahnya yang baru pulang di antar seorang pria berjas hitam. Ji Soo mengingat ucapan Pak Nam padanya. "Menjadi seorang detektif adalah alasan yang cukup bagimu untuk melihat pembakaran Apartemen Yeongseong. Jaksa mempunyai alasan yang melibatkan ibunya. Tapi sebagai putri Eun Byung Ho, jangan melangkah lebih jauh. Karena kamu akan menargetkan Eun Byung Ho, ayahmu sendiri." Ji Soo benar-benar dilema.

An membantu Jae In menutup kantor pusat keamanan. Mereka pun berjalan keluar. An menggenggam tangan Jae In. "Aku akan mengantarmu pulang."

"Kenapa repot-repot. Aku kan tinggal disini."

"Aku hanya bisa tenang saat aku bisa melihatmu. Ah. Ku harap aku bisa mengantarmu pulang."

"Kenapa aku harus mampir ke rumahmu. Tunggu! Barang-barang di kamar Jaksa Kang, bukankah itu semua terkait dengan kasus ini?"

"Ya. Kurasa begitu."

"Ayo kita ke rumahmu!"

***

Ji Soo masuk ke rumahnya. Ternyata Pak Eun sudah menunggunya di ruang tamu. Dia menyuruh Ji Soo duduk dan mengajaknya bicara. Ji Soo pun duduk di sofa di depan ayahnya. "Kapan kamu akan berhenti melakukan apa yang kamu inginkan? Menurutmu kamu bisa menangani kasus yang kamu inginkan lalu pergi? Hidup dalam masyarakat berarti mengikuti aturan dan prinsip." Ji Soo hanya menunduk tanpa melihat ayahnya bicara. "Kamu bertingkah seperti itu karena ayah mendukungmu?  Kembaliah ke timmu besok! Detektif Lee akan mengambil alih kasus penculikan di Pusat Keamanan Komunitas Seohun."

Ji Soo mendongak menatap ayahnya. "Ayah! Kenapa ayah melakukan itu? Ayah pikir sebuah istana yang dibangun di atas pasir akan bertahan?"

"Apa yang kamu bicarakan?"

"Apa ayah ingin aku memberitahu ayah apa yang ayah sembunyikan selama bertahun-tahun?"

Pak Eun masih saja menyangkal. "Ayah tidak tahu apa maksudmu." Pak Eun beranjak dari duduknya.

"Aku tahu semua tentang kebakaran Apartemen Yeongseong. Dan juga, tentang konstruksi YSS. Semuanya."

Pak Eun berbalik. "Eun Ji Soo."

Ji Soo berdiri. "Biarkan aku membuka kembali kasus itu secara resmi. Itu hal terbaik yang bisa ayah lakukan."

"Itu sudah berlalu."

"Tidak!  Itu terjadi sekarang. Ayah tahu apa yangs sedang dilakukan orang yang ayah sakiti  sekarang? Jika ayah menyelidikinya dengan benar,,,," Ji Soo tidak mampu melannjutkan kalimatnya.

"Meski ayah harus kembali, Ayah akan membuat pilihan yang sama."

"Bagaimana bisa ayah bilang begitu?"

"Itu yang harus Ayah lakukan untuk menyelamatkanmu." Ji Soo tertegun. "Beberapa kali dalam setahun, kamu pingsan karena jantungmu yang sakit. Ayah terlalu lemah dan malang untuk memberikan perawatan. Aku membenci itu lebih daripada kematian."

Mata Ji Soo berkaca-kaca. "Ayah melakukan itu karenaku?"

"Kalau kamu tidak mau kembali, silahkan mengundurkan diri. Ayah tidak akan membiarkanmu melakukan ini lagi."

Pak Eun pergi meninggakan Ji Soo yang termangu mendapati dirinyalah penyebab ayahnya melakukan perbuatan yang menyakiti banyak orang. Ji Soo terduduk di kursi dan menangis.

***

Lee An membukakan pintu apartemennya untuk Jae In. Begitu masuk, An langsung menggendong si Putih Salju. "Apa Dae Bong oppa memberimu makan? Apa kamu takut sendirian?"

"Bagaimana kalau aku yang menjaga Putih Salju. Aku kan tinggal bersama bibiku. Putih Salju akan merasa kesepian karena kamu sibuk."

"Bnarkah?"

Jae In menggendong Putih Salju. "Kamu boleh pulang bersama Eonni nanti,"

Jae In dan An masuk ke kamar Sung Mo. An sempat memperhatikan burung peliharaan Sung Mo sejenak. Dia dan Jae In lalu membawa berkas-berkas kasus yang pernah Sung Mo tangani ke ruangan depan. "Ngomong-ngomong apa sesuatu di sini benar-benar terkait dengannya?" Tanya Lee An.

"Dia membawa pulang ini semua. Itu berarti kasus-kasus ini cukup mengganggunya. Pasti ada sesuatu." Jae In mulai memeriksa berkas-berkas di depannya. An pun ikut membaca. Tapi baru beberapa detik dia sudah menyerah karena banyak bahasa hukum yang sepertinya dia tidak mengerti. "Ah mataku redup. Aku harus menyegarkan diri." Jae In hanya bisa tersenyum melihatnya. An beralasan kalau dia sudah memaksakan diri hari ini dan bukan berarti dia tidak mengerti. Jae In mengiyakan saja.

"Ini bukan keahlianmu. Jangan mencoba mengambil pekerjaanku," canda Jae In.

An tersenyum. "Bukankah kamu merasa tidak nyaman?"

"Tentang apa? Sendirian denganmu? Tidak juga. Pekerjaan adalah pekerjaan. Privasi adalah privasi. Aku cukup pandai menggambar garis."

Eng ing eng. An tersenyum miring. "Maksudku pakaianmu."

"Oh."

"Bukankah tidak nyaman bekerja sepanjang malam dengan pakaian itu?"

"Apa aku bisa ganti baju di sini?"

***

Pak Guru Gendut sedang mengoceh sendiri di depan pintu restorannya. "Apa itu? Ini seperti ketenangan sebelum badai. Seolah-olah kelompok besar akan menerobos masuk saat aku belum siap."

Dae Bong menyahut dari dalam. "Jika bukan karena kami para alumni, Anda sudah lama gulung tikar."

Karyawan Dae Bong ikut menyahut, "Kenapa? Aku suka ayam buatan Anda."

Dae Bong memukul meja. "Jangan memujinya. Itu akan masuk ke dalam kepalanya. Cepatlah makan dan mulailah bekerja paruh waktu."

"Bagaimana denganmu?"

Pak Guru gendut yang menyahut. "Dia tidak pergi. So Hyun akan segera datang untuk ayamnya." Pak guru mendekati Dae Bong. "Hei Dae Bong. Ikuti dia kemanapun jika kamu bisa mendukungnya. Tapi jika kamu tidak serius, berhentilah sekarang! Bisakah kamu meyakinkan ayahmu untuk menerima So Hyun? Ini bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan beberapa club golf," ucap Pak Guru dengan nada tinggi.

"Cukup," kata Dae Bong lirih.

"Setelah itu kamu bersenang-senang dan tertawa. Apa begitu? So Hyun jadi kesulitan karena itu. Secara moral kamu menyebalkan. Jika apa yang kamu pikirkan,,,"

Dae Bong yang kesal meletakkan gelasnya ke meja dengan keras. Dia lalu mengajak pegawainya pergi. Tapi dia berbalik dan mengatakan, "Pak! Aku hanya ingin membuatnya tertawa. Tidak bisakah aku melakukannya?"

Dae Bong pun pergi. Pegawainya menyusulnya dan menyuruhnya menegakkan badannya. "Kurasa kamu sangat menawan. Kamu imut, baik, dan kaya."

"Kamu menyukaiku karena aku penurut. Bukan sebagai pria."

"Siapa peduli jika dia punya anak? Ayahku juga ayah tiri dan dia sangat baik padaku."

Dae Bong menghentikan langkahnya. "Ayah tiri? Aku tidak bermaksud. Aku tidak berani menikahi So Hyun."

"Kenapa tidak bisa. Pasti bisa jika kamu mencintainya. Hei! Mobil Itu. Bukankah itu dia?" Si pegawai menunjuk mobil So Hyun yang melaju menuju restoran ayam Pak Guru gendut. Dari dalam mobil, So Hyun pun melihat mereka berdua.

Dae Bong terus memperhatikan mobil So Hyun. Tapi pegawainya menggandengnya dan melarangnya berbalik. Dae Bong melepas gandengan tangannya. "Jangan. Nanti dia bisa salah paham."

"Kamu tidak tahu apa-apa tentang wanita. Seorang pria yang menghampiri wanita tidak menarik."

So Hyun turun dari mobilnya. Dia mendengar Dae Bong yang berkata minta di lepaskan. So Hyun berhenti sejenak dan memperhatikan bos dan pegawai yang sedang eyel-eyelan (?). Setelah itu dia berjalan pergi.

Dae Bong keukeuh tidak setuju dengan pegawainya. "Aku tidak mau hatinya hancur hanya untuk memenangkan hatinya." Dae Bong menyusul So Hyun.

"Apa aku membuatmu kesulitan? Jika aku terus berada di sekitarmu membuatmu muak, katakanlah padaku. Aku tidak akan muncul di hadapanmu lagi."

So Hyun menekan perasaannya. "Ya. Aku tidak suka."

Mata Dae Bong berkaca-kaca. Tapi dia berusaha tersenyum. " Baiklah. Aku mengerti." Dae Bong pun pergi meninggalkan So Hyun yang sepertinya merasa bersalah.

***

Jae In sudah berganti baju. Entah bajunya sendiri atau bajunya An. Tapi kayaknya bajunya sendiri soalnya warnanya pink. Dia masih sibuk memeriksa berkas-berkas. Dia bicara pada An kalau dia menemukan data yang lebih relevan dari yang dia harapkan. An diam saja tidak menyahut. Jae In menoleh dan mendapati An yang tertidur pulas di sofa. Dia tersenyum tipis lalu beranjak dari duduknya dan menyelimuti An. "Pasti sulit mencoba membaca sesuatu yang bahkan tidak kamu ketahui." Jae In kembali menekuri tumpukan berkas-berkas di atas meja.

Di dalam mimpinya, An melihat Sung Mo kecil yang menusuk perut kiri Kang Geun Taek dengan pisau. Kang Eun Joo memanggil Sung Mo dengan ketakutan.

Kang Geun Taek menatap Sung Mo. "Jika kamu ingin membunuh seserang dengan ketinggian sependek itu, kamu seharusnya tidak menusuknya di sini. Tapi di sini," ucap Kang Geun Taek sambil menunjuk perut bagian kanannya. "Kamu seharusnya menikamku di sini." Sung Mo kecil berubah menjadi Sung Mo dewasa.

Jae In memanggil-manggil Lee An berusaha untuk membangunkannya karena Lee An tampak gelisah dalam tidurnya. An membuka matanya. "Kamu tidak apa-apa? Kamu mengalami mimpi buruk?"

"Apa itu mimpi? Rasanya seperti sedang melakukan psikometri."

"Apa itu?"

An bangun. "Di ruang bawah tanah itu, Hyung menikam pria itu."

"Ini karena kamu melihat terlalu banyak visi yang mengejutkan hari ini."

"Begitukah?"

Jae In menyuruh An tidur di tempat tidur supaya dia bisa melakukan kemampuannya lagi besok. Sementara dia mau pulang. An berdiri dan memutuskan untuk mengantar Jae In pulang.

Bersambung ke He is Psychometric episode 12 part 4
Read More

He is Psychometric Episode 12 Part 2

He is Psychometric
Episode 12 Part 2
Sumber konten dan gambar : TVN

Ji Soo mendapat telepon dari dr. Hong. "Ya dr. Hong."

"Kita langsung ke intinya. Alexythimia terjadi pada seseorang dengan ukuran amigdala yang pada dasarnya kecil. (menurut wikipedia, Amigdala = bagian dari otak yang berperan dalam melakukan pengolahan dan ingatan terhadap reaksi emosi). Kamu tahu amigdala itu adalah apa yang membuat seseorang memiliki kepribadian yang berbeda. Tapi masalahnya amigdala dapat memperoleh kepribadian melalui pelatihan atau semacam pemicu juga.

"Pemicu?" gumam Jae In.

Lee An masih berada di ruang bawah tanah. Dia menyentuh meja di sana dan melihat saat pria bermasker melempar kamus bahasa korea ke meja itu. Kang Eun Joo langsung mengambil dan memeluk buku itu. Dan, si pria tanpa emosi anehnya, dia menyunggingkan senyum di bibirnya sambil menatap Kang Eun Jo.

Menurut Jae In, bagi Kang Geun Taek, bertemu dengan Kang Eun Joo mungkin adalah pemicunya. Dia belajar emosi untuk pertama kalinya melalui Kang Eun Joo. Mungkin itulah sebabnya pria itu lebih obsesif dengan Kang Eun Joo.

Kang Geun Taek sendiri saat ini sedang senatap foto Kang Eun Joo. Dan tampak sedikit senyum di bibirnya.

Kembali pada Lee An. Dia melihat Sung Mo kecil yang sedang blajar dengan ibunya. Dia bertanya apa yang ada di dalam hutan (di lukisan). Ibunya menjelaskan sambil membuka kamus untuk mengetahui terjemahannya. Ada pohon, bunga, kupu-kupu.

"Penuh dengan hal-hal indah," ucap Kang Eun Joo. Sung Mo, kamu mau melihatnya?"

Entah nyata atau hanya ada dalam bayangan Sung Mo dan ibunya. Mereka berdua pergi ke sebuah kebun bunga yang indah. Ada bunga merah muda yang bermekaran, ada juga bunga kaktus berduri, dan kupu-kupu yang terbang di sekeliling kebun bunga itu. "Bagaimana? Cantik kan? Coba sentuh."

"Aku tidak tahu bagaimana rasanya memiliki keinginan untuk melihat.Atau melihat sesuatu yang indah," kata Sung Mo. Kang Eun Joo menatap anaknya nelangsa. Dan ternyata, kaki Sung Mo di belenggu dengan rantai yang menjulur terpaku di tembok. Dan pintu ruangan itu pun di gembok.

An menangis menyaksikan semua itu.

Kita balik ke duo JJ.

"Jadi maksudnya Sung Mo punya semacam pemicu untuk mulai merasakan emosi juga?"tanya Ji Soo.

"Jaksa Kang pasti terus berusaha untuk tidak menjadi monster seperti Kang Geun Taek. An bilang padaku bahwa dia melihat visi Jaksa Kang tentang belajar emosi dari ibunya."

Ternyata mereka masih tersambung dengan dr. Hong. Ji Soo bertanya Alexythimia sama dengan psikopat. Dr. Hong menjelaskan kalau Alexythimia dan psikopat memiliki struktur otak yang berbeda. Psikopat tidak memiliki kemampuan untuk berempati tidak peduli seberapa keras mereka untuk belajar. Sedangkan alexythimia dapat berubah jika mereka berusaha meski itu tidak sempurna.

"Gmawo dr. Hong. Aku akan meneleponmu lagi nanti. Begitu menutup teleponnya, Ji Soo langsung terduduk di lantai. Jae In bertanya apa Ji Soo baik-baik saja.

Ji Soo pun curhat. "Kamu tahu, aku selalu penasaran kenapa Kang Sung Mo tidak pernah meminta bantuanku. Sekarang aku mengerti. Dia mempertaruhkan nyawanya untuk memotong belenggu itu dan keluar dari tempat itu. Tapi orang-orang sibuk menutup mata pada mereka ketimbang menawarkan untuk membantu. Apa ruang bawah tanah itu lebih mengerikan baginya? Memotong belenggu tidak ada gunanya. Masa lalu yang menyakitkan masih menghantuinya."

Diperlihatkan Sung Mo yang terduduk diam di sebuah ruangan dengan foto-foto yang berserakan di lantai. Di kakinya, terukir jelas bekas luka dari masa kecilnya yang meluluhlantahkan hati siapapun yang melihatnya.

"Ayahku bilang, luka akan bernanah jika Anda menutupinya." Jae In menatap Ji Soo. "Luka itu kini terungkap. Semuanya akan berjalan dengan baik sekarang."

"Benar."

Lee An terengah-engah dan terbaring di lantai. "Sedikit lagi. Sedikit lagi," gumamnya sambil memejamkan mata dan berkonsentrasi untuk mendapatkan visi.

Kang Eun Joo sedang membacakan buku dongeng untuk Kang Geun Taek. Bisa jadi itu dongeng 'The Little Prince'.

"Pangeran kecil itu bertanya, apa artinya jinak? Si Rubah menjawab, sesuatu yang sering diabaikan, itu berarti menciptakan ikatan." Sepertinya Kang Eun Joo kelelahan, atau mungkin muak. "Aku ingin berhenti membaca."

"Aku ingin mendengarnya lagi. Bagian terakhirnya ada di situ." Kang Geun Taek menatap Kang Eun Joo. "Kamu tidak mau?" Kang Eun Joo menatap tajam Kang Geun Taek. "Kamu mungkin akan menyesalinya nanti," sambung Kang Geun Taek. Dia lalu bangkit dan menunduk mendekati Sung Mo yang duduk di sudut lemari sambil memeluk lututnya. Dia hendak melakukan sesuatu dengan belenggu yang terpasang di kaki Sung Mo. Kang Eun Joo segera berlari mendekat. "Jangan lakukan. Tolong jangan! Jangan memukul dia ku mohon."

"Itu wanitaku."

"Baiklah. Aku akan terus membaca. Tapi aku minta sesuatu sebagai balasannya."

"Apalagi yang kamu butuhkan? Pakaian anak? Buku? Tanaman?"

"Kamu hanya perlu menjawab pertanyaanku. Siapa nama aslimu. Dan darimana asalmu?"

"Kang Geun Taek. Itu nama asliku. Dan juga, aku berasa dari suatu tempat yang tidak seharusnya ada."

"Apa?"

Kang Geun Taek mendekati Kang Eun Joo. "Sekarang seperti yang kita janjikan. Sekarang teruslah membaca.

Meski merintih ketakutan dan menahan tangis, Kang Eun Joo melanjutkan bacaannya. Dan di kakinya, terpasang juga belenggu yang sama dengan Sung Moo. "Untukku, kamu akan jadi satu-satunya orang yang ada di duniaku. Dan aku akan menjadi satu-satunya orang yang di duniamu."

"Benar. Bagiannya di situ. Itu kesukaanku."

Dan Sung Mo kecil, tanpa ekspresi, bergantian memandang ibunya dan Kang geun Taek.

Jae In dan Ji Soo menemukan Lee An yang terbaring di lantai dengan keringat yang membasahi wajahnya. Mereka berusaha menyadarkan Lee An yang terlarut dalam visinya. Jae In memarahinya karena dia sudah menyuruhnya untuk jangan merugikan diri sendiri.

"Daripada berteriak padaku, berikan aku permen."

Ji Soo membawa Jae In dan Lee An ke tempat makan. Tapi, meski makanan sudah terhidang di meja, baik An maupun jae In tak ada yang berniat menyentuh makanan itu. Ji Soo menyuruh Jae In untuk meminta Lee An makan. Tapi Jae In malah mempertanyakan apa sebenarnya dimaksud dengan berasal dari tempat yang tidak ada.

"Mungkinkah Jaksa Kang menemukan penculik itu dengan petunjuk yang lebih seperti teka-teki?"

Ji Soo yang sedang mengaduk-aduk makananpun tak pelak tertarik dengan pertanyaan Jae In. "Pria tak kasat mata yang berasal dari tempat yang tidak ada."

Lee An tidak paham dengan 'pria yang tak kasat mata'. Ji Soo menjelaskan kalau pria itu bukan warga negara yang terdaftar. Jae In menambahkan, kalau dia sering lihat di berita kalau anak-anak yang kewarganegaannya tidak terdaftar sering terlibat dengan pelec*han anak, perdagangan manusia, dan adopsi ilegal. Jae In menduga kalau pelakunya menghabiskan masa kecil dengan cara yang sama.

Ji Soo setuju dengan pendapat Jae In karena Sung Mo juga pernah mendapat pujian untuk menyelesaikan kasus perdagangan manusia dan organ. "Beberapa korban yang dia selamatkan tidak terdaftar..." Ji Soo tampak terhenyak oleh ucapannya sendiri. An bertanya kenapa Ji Soo tidak menyelesaikan kalimatnya.

"Aku mengeti. Jaksa Kang menyelesaikan beberapa kasus agar dia bisa menemukan penculiknya."

Jae In langsung bisa memahami arah pembicaraan Ji Soo. "Jika kita mendalami kasus-kasus yang dia selidiki..."

"Makanlah supaya kita bisa cepat pergi!" timpal Ji Soo.

"Apa makan menjadi penting sekarang?" protes An.

"Cepatlah atau aku akan meninggalkanmu!" ancam Ji Soo. An dan Jae In yang tadi tidak mau makan sekarang malah balapan makan.

***

Det. Lee melapor pada Pak Eun kalau Ji Soo pergi ke pusat keamanan. Dia menceritakan perihal penculikan Jae In dan pelakunya masih buron. Karena itulah Ji Soo pergi bekerja ke pusat keamanan Seohuen untuk menyelidikinya. Pak Eun tampak tertegun, "Maksudmu Pusat Keamanan Komunitas Seohun?"

***

Pak Nam terpaku di kursinya dengan berkas kasus Yoengseong di atas mejanya. Bibi masuk membawa bekal makan siang. Pak Nam langsung bangkit dan duduk di tempat makan mereka. Bibi menggertutu karena Ji Soo membawa Jae In untuk mengerjakan kasus padahal dia baru pulang dari rumah sakit. Bibi ngoceh panjang lebar. Dia juga mempertanyakan kenapa Pak Nam masih ada di sana. Padahal sebagai petugas yang lebih berpengalaman dari Jae In, harusnya dia lebih berkualitas dalam memecahkan kasus.

"Apa yang bisa kulakukan di usia ini?"

"Elang tua masih memiliki kemampuan. Aku melihatmu beraksi ketika Jae In di culik. Kamu tidak bercanda tentang menjadi jagoan di masa kejayaanmu."

"Dengan kata lain kamu mengatakan kalau aku ini pecundang? Aku tidak ingin melakukan apapun dimana nantinya aku akan gagal." (Pak Nam kayaknya beneran tahu sesuatu deh)

***

Jae In berselancar diinternet mencari informasi mengenai anak-anak yang tidak terdaftar. Ji Soo yang jadi sopir mengomentari An yang sepertinya kehabisan baterai. Jae In menoleh ke bangku belakang dan melihat An yang tertidur. Dia tersenyum lalu bercerita mengenai Sung Mo yang memberinya buku yang di tulisnya tentang kemampuan An. Tentu saja Ji Soo tahu karena Sung Mo pernah menunjukkannya padanya saat Ji Soo menuduhnya tidak terlalu peduli dengan kemampuan An.

"Tertulis kalau kemampuan An akan maksimal saat dia putus asa," ucap Jae In memberitahu.

"Tidak heran dia menemukanmu secepat itu saat kamu di culik," komentar Ji Soo.

"Sekarang dia tahu apa yang di lakukan pria itu pada Jaksa kang. Dia akan melakukan apapun yang dia bisa untuk membacanya.

Ji Soo berbisik pada Jae In. "Ayo terus kembangkan keterampilannya dan mengeksploitasinya untuk kasus lain." Jae in mengangguk. Dan diam-diam Lee An tersenyum.

Tim LJJ rapat di pusat keamanan dengan tambahan Pak Nam. Mereka menulis pola hubungan antara kasus Yoengseong, Hanmin, Kim Gab Young, dan pengurungan Gangryeong, yang semuanya berpusat pada Kang Geun Taek sebagai pelakunya, di sebuah papan kaca. Dan semuanya karena ibu Sung Mo. Pak Nam mempertanyakan mayat Kang eun Joo yang ditemukan saat kebakaran. Ji Soo menduga kalau pelaku membunuh orang yang mirip dengan ibu Sung Mo dan meletakkan kartu identitas Kang Eun Joo. Jadi pembakaran pasti sudah direncanakan sebelumnya.

"Dia akan membawanya (Kang Eun Joo) setelah pembakaran, tapi gagal," ujar Pak Nam.

Ji Soo mendapat telepon dari ayahnya tapi dia menolaknya. Pak Nam tampak memperhatikannya. Dia lalu mengajak Ji Soo bicara berdua di sebuah warung tenda sambil minum soju.

Pak Nam mempertanyakan Ji Soo yang masih mau menyelidiki kasus Yengseong meski tahu kalau ayahnya yang menyelidiki kasus itu dulu.

"Ketika pelaku sebenarnya terungkap, ayahku harus membayar kesalahannya. Namun dia akan bangga padaku ketika kebenaran itu keluar. Kami semua membuat kesalahan dalam hidup kan?"

"Kesalahan? Menurutmu itu kesalahan?"

Ji Soo tahu kalau dulu Pak Nam bekerja di kantor yang sama dengan ayahnya meski di tim yang berbeda. Jadi dia bertanya dimana letak kesalahan dalam kasus itu.

"Apa ayahku berusaha menutupi kebenaran?'

Bersambung Ke He is Psychometric episode 12 part 3


Read More

He is Psychometric Episode 12 Part 1

He is Psychometric
Episode 12 Part 1
Sumber konten dan gambar : TVN

Pada episode sebelumnya, baik Ji Soo yang diberitahu oleh dr. Hong, maupun Lee An yang melihat sendiri melalui visinya saat Sung Mo melarikan diri dari ruangan bawah tanah, sama-sama terkejut. Sedikit spoiler, episode kali ini lumayan membuat saya terbawa emosi. Cerita di balik kebakaran Apartemen Yoengseong sedikit demi sedikit mulai terkuak. Check it out!!

Lee An terkejut melihat Sung Mo keluar dari balik pintu menuju ruangan bawah tanah. Sementara Ji Soo pun tak kalah tercengangnya setelah mendengar penjelasan dari dr. Hong. Dr. Hong berkata kalau semua informasi itu sudah tertulis di dalam laporan dan dia akan mengirimkan pesan tentang nomor kasus serta siapa yang menyelidikinya. Ji Soo menjatuhkan tangannya ke samping. Tangannya tampak gemetaran dan matanya berkaca-kaca.

Lee An dan Jae In masuk ke ruang bawah tanah. Lee An menyalakan lampu yang ternyata masih berfungsi. Dia tertegun melihat apa yang ada di hadapannya. Sebuah ruangan dengan jeruji kayu bagaikan penjara. Mereka masuk ke ruangan itu. Di dalamnya ada dua ranjang dan sebuah meja. Juga gambar pemandangan seperti yang ada pada visi Lee An saat meihat Sung Mo belajar bahasa dengan ibunya.

"Ini semua apa?" tanya Lee An seolah tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

"Kenapa ada kandang di ruangan bawah tanah?" timpal Jae In.

"Apa ada orang yang terkunci di sini? Aku melihat hyung berlari keluar dari ruangan ini. Saat itu usianya 7 atau 8 tahun."

Ji Soo menyusul ke ruangan bawah tanah. "Mungkin usianya 9 tahun saat itu," ujar Ji Soo dengan raut sedih dan airmata di pelupuk matanya. "Sung Mo terukurung di sini sampai dia berusia 9 tahun."

"Apa maksudmu? Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya An.

Ji Soo menghapus airmatanya. Lalu dia meminta Jae In melihat-lihat tempat itu lagi bersama An. Sedangkan dia sendiri akan pergi ke kantor polisi setempat untuk mendapatkan informasi.

Ji Soo masuk ke dalam mobilnya. Dia mengingat ucapannya pada Sung Mo di jembatan.

"Hei Kang Sung Mo! Kenapa kamu punya banyak rahasia? Kamu cemas sendirian dan berpikir sendiri selama dua tahun. Aku ingin membantu. Apa aku tidak berguna bagimu?"

Lalu ucapannya di lift gedung forensik.

"Kita bahkan tidak ada hubungan apa-apa. Pikiranku sangan transparan. Aku tidak bisa melihat apa-apa kecuali kamu memberitahuku.

Ji Soo menangis mengingat semua itu. Ternyata dia benar-benar tidak tahu apapun soa Sung Mo. Dia tahu Sung Mo kesepian. Tapi dia tidak pernah menyangka kalau masa lalu Sung Mo sebegini getirnya.

***

"Haruskah aku menunggu di luar? Aku mungkin akan menghalangi bacaanmu," ujar Jae In.

"Lihatlah jika kamu bisa melihat sesuatu yang dapat ku lihat."

Jae In mengangguk. Dia berjalan keluar dari ruang bawah tanah. Sebelum benar-benar keluar, Jae In mengingatkan Lee An untuk tidak memaksakan diri. "Kamu tahu saat itu kamu pingsan."

Lee An mengiyakan. Setelah Jae In pergi, Lee An melihat-lihat apa yang ada di ruangan itu. Dia melihat tembok yang sepertinya digunakan ibu Sung Mo untuk mengukur tinggi badan Sung Mo. An menyentuhnya. Dia melihat seorang wanita muda yang menangis minta diselamatkan. Sepertinya itu ibu Sung Mo saat masih remaja (kalau betul itu ibu Sung Mo, berarti dia sudah di kurung jauh sebelum dia hamil Sung Mo. Soalnya kelihatan masih muda banget). Kemudian An juga melihat ibu Sung Mo yang sedang merajut dengan perut yang hamil besar. Lalu ada ibu Sung Mo yang sedang menggendong bayi Sung Mo.

"Jika kamu menyentuh bayi ini, aku juga akan mati. Itu yang kamu inginkan?" seru Ibu Sung Mo. Terlihat ada si pria bermasker yang berdiri di balik pagar.

Lalu ada Ibu Sung Mo yang sedang mengukur tinggi badan Sung Mo. Wajah Sung Mo benar-benar tanpa ekspresi. "Sung Mo. Ibu berjanji akan mengeluarkanmu dari sini," ucap Kang Eun Joo saat itu.

Lee An melepas tangannya. Wajahnya nelangsa melihat penderitaan kakaknya.

***

Kantor Polisi Gangryeong

Seorang petugas membawa Ji Soo ke ruang arsip. Ji Soo heran karena seingatnya tidak pernah mendengar kasus seperti yang di ceritakan dr. Hong. Padahal kasus seperti itu seharusnya menarik banyak perhatian. "Bagaimana bisa diam seperti ini saat tidak bisa terpecahkan?"

Menurut petugas, orang-orang tidak membicarakannya justru karena kasus itu belum terpecahkan.

Flashback

Setelah berhasil melarikan diri, Kang Eun Joo membuat laporan ke kantor polisi bersama Sung Mo. Tampak kedua kaki Sung Mo yang penuh banyak luka. Tapi polisi malah kesal karena Kang Eun Joo tidak bisa memberitahunya detail kejadiannya. Dia hanya diam ketakutan sambil terus memeluk Sung Mo. Dan di meja, tampak bukti rantai dan belenggu milik si pria bermasker.

Flashback end

"Seorang wanita terkurung selama sembilan tahun dan memiliki seorang anak. Polisi tidak tahu tentang itu. Para korban melarikan diri dengan sendirinya tanpa bantuan polisi. Tidak bisa menemukan pelakunya sendirian menyebabkan banyak kesulitan pada polisi. Kamu tahu apa masalah terbesarnya? Pelakunya bukan warga negara yang terdaftar di sini."

"Jadi kasus ini akan membuka semua kelemahan petugas, makanya itu terus ditutup-tutupi?"

Petugas memberikan berkas tentang kasus dingin itu pada Ji Soo. 'Kasus Pengurungan Besi Gangryeong'.

Ji Soo membuka berkas itu dan menemukan sketsa wajah si pria bermasker. 'tersangka, Kang Geun Taek, nama samaran, 175 cm, 75 kg, bekas luka di leher'.

"Itulah nama yang di ingat korban Kang eun Joo. Dia tidak punya nomor identitas, jadi nama itu tidak ada artinya. Dia punya bekas luka lama di lehernya. Kami tidak tahu apa itu. Hanya Kang Eun Joo dan anaknya yang melihatnya."

Petugas mengantar Ji Soo keluar. Dia memberitahu kalau korban (Sung Mo) mengumpulkan bukti-buktinya beberapa tahun lalu.

"Korban?"

"Anaknya telah menjadi jaksa penuntut."

***

Lee An menatap gambar pemadangan di ruangan itu. Dia lalu menyentuhnya. Dalam kilasan penglihatan An, tampak Sung Mo kecil yang sedang duduk di ranjang sambil menatap lukisan pepohonan. Kang Eun Joo sengaja memakai lipstik merah mencolok lalu bicara dengan gugup pada pria bermasker. Namun dia berusaha untuk tersenyum.

"Aku ingin Sung Mo belajar. Belikan kami beberapa buku. Kami mohon."

"Apa gunanya itu di sini?"

Senyum Kang Eun Joo sirna berganti kemarahan. "Dia tidak tersenyum, atau mengatakan dia kesakitan saat dia di belenggu. Dia tidak menginginkan apapun. Dia tidak menyukai apapun."

Pria bermasker tidak peduli dan berlalu pergi.

"Tolong, belikan buku apa saja. Satu saja. Kita harus menemukan sesuatu untuk membantunya merasakan emosi. Ku mohon. Atau dia akan jadi sepertimu," pinta Kang Eun Joo sambil menangis.

Pria bermasker berbalik. "Kamu takut dia akan menjadi monster tanpa emosi sepertiku?"

"Ya. Aku tidak akan membiarkan anakku menjadi monster sepertimu yang terpaku pada seseorang. Aku tidak akan membuatnya jadi seperti itu!!" teriak Kang Eun Joo.

An menurunkan tangannya. "Monster,, tanpa,,,"

***

Ji Soo memeriksa berkas kasus Gangryeong di dalam mobilnya. Dia tertegun saat membaca 'Hasil analisis perilaku pada Kang Sung Mo. Alexythimia. Dia dianggap memiliki ketidakmampuan untuk mengidentifikasi emosi.

Sung Mo sendiri sedang berada di sebuah ruangan, sepertinya aparteman sewaan. Dia menghempaskan gambar-gambar terkait kasus-kasus yang berhubungan dengan pria bermasker ke lantai. Sementara pria bermasker sepertinya sedang berada di sebuah peron lorong kereta bawah tanah sambil menatap pisau di tangannya.

***

Ji Soo sudah kembali ke pabrik baja. Dia memberitahu Jae In perihal Sung Mo yang mengidap alexythimia. Jae In terkejut mendengarnya. Ji Soo menduga Sung Mo mendapatkannya secara genetik dari ayahnya, Kang Geun Taek.

Jae In masih belum percaya tentang alexythimia Sung Mo. Lagi pula Sung Mo sendiri yakin kalau dia memang canggung dalam mengungkapkan emosinya.

"Bagaimana jika semuanya adalah akting sepanjang waktu?" Ucap Ji Soo.

"Ada yang tidak beres. Bukan hanya Jaksa Kang, tapi juga Kang Geun Taek. Bagaimana bisa dia jatuh cinta pada Kang Eun Joo. Dan menjadi obsesif dengannya?"

"Aku tidak tahu. Ini bukan spesialisasiku."

Ji Soo bilang, dr. Hong akan meneleponnya jika sudah menemukan sesuatu.

Ulam di cinta pucuk pun tiba. Dr. Hong menelepon Ji Soo saat itu juga.

Bersambung ke He is Psychometric episode 12 part 2


Read More

He is Psychometric Episode 11 Part 4

He is Psychometric
Episode 11 Part 4
Sumber konten dan gambar : TVN

Maaf readers. Gambar menyusul ya. Mau kebut dulu nyelesaiin episode 12 soalnya ntar malam kan episode 13 udah tayang. Biar bisa sesuai jadwal seperti biasanya. Terima kasih atas pengertiannya :)

Ji Soo keluar dari ruang rawat Jae In. Lee An menyusulnya dan bertanya apa Ji Soo tidak apa-apa. Ji Soo bilang dia sudah terbiasa ditolak oleh Sung Mo. "Saat dia sudah keluar, kita ketemu lagi," ucap Ji Soo lalu berlalu pergi.

Lee An mengintip Jae In yang sedang mempelajari berkas yang bawa Ji Soo. Dia tersenyum melihatnya.

Lee An mendatangi resepsionis dan bertanya apa ada perpustakaan di rumah sakit. Setelah ditunjukkan letaknya, Lee An langsung ke perpustakaan dan membaca buku dongeng 'The Little Prince'. Dongeng yang sempat di ceritakan pria bermasker pada Jae In.

Sampai malam, Jae In masih sibuk menekuri berkas-berkas. Lee An masuk sambil menenteng buku yang tadi di bacanya.

Jae In memberitahu kalau pria itu mematikan cctv sebelumnya dan merencanakan pembunuhan secara menyeluruh. Tapi dia mengggunakan cara sederhana untuk membunuh para korbannya. Pria itu menikam perut korban dalam ketiga kasus itu.

"Ada yang tidak biasa. Pisau yang ditemukan di tkp itu belum siap pakai," kata Jae In.

"Apa maksudnya itu."

"Sepertinya dia membuatnya sendiri." Jae In melihat sendiri keahlian pria itu saat mengambil kelas seni kawat. Dia sangat bagus. Mungkin saja dia membuat sendiri belenggu (rantai) yang digunakan untuk mengikat Jae In. "Ngomong-ngomong, kamu dari mana?"

Lee An duduk di depan Jae In lalu membacakan salah satu halaman di buku The Little Prince.

"Ini waktu yang kamu habiskan untuk bunga mawar itu. Itu membuat mawarmu sangat penting. Kamu menjadi bertanggung jawab atas apa yang telah kamu jinakkan."

"Benar. Dia membicarakan tentang buku itu."

"Aku mencoba membacanya untuk mengetahui psikologinya. Tapi itu sulit. Menurutku, ini hanya dongeng yang mengharukan."

"Waktu yang kamu habiskan untuk bunga mawar. Itu berarti hubungan mereka terikat jauh sebelum mereka pindah ke Apartemen Yoengseong," ujar Jae In.

"Jae In. jangan berpikir yanng tidak-tidak dulu." Lee An menutup semua berkas di depannya. "Berhentilah di simi," pinta Lee An.

"Rasanya nyata bagiku.ayahku bukan pelakunya."

"Jadi jangan menangis lagi. Jangan pernah!"

"Tidak akan. Ada kamu di sini kenapa aku harus menangis?"

Lee An tersenyum mendengarnya. "Itu terdengar baik."

Jae In menatap Lee An. "Kenapa?" tanya Lee An," tanya Lee An.

"Aku menyukaimu, Lee An." Lee An sedikit tertegun mendengarnya. "Sangat. Orang bilang, saat kamu berpikir kamu akan mati pemandangan hidupmu terbentang di depan matamu. Itu juga sama bagiku. Aku teringat bahwa aku tidak pernah memberitahumu hal  ini."

"Hei! Meski begitu, aku yang akan mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu. Kamu menghancurkan semuanya,"protes Lee An.

"Kalau begitu kamu juga harus melakukannya."

"Hei! Aku pasti hmm akan melakukannya hmm,, apa itu mudah di ucapkan?" (Mereka ini saling jujur tapi tetep aja pada canggung. lucu ngeliatnya)

"Yah... Baiklah. Nanti lakukanlah."

Lee An tersenyum mendengar keberanian Jae In. Dia sedikit mendekatkan wajahnya. "Jujurlah padaku. Kamu mau mendengarnya dariku?" Goda Lee An.

Eng ing eng...

"Ya aku mau mendengarnya." (Nah loh)

Lee An mundur lagi. "Kenapa kamu begitu mudah hari ini? hei! harusnya kita tidak terlalu mudah untuk saling berhadapan. Atau kita bisa menyebabkan kecelakaan besar."

"Tidak bisakah kita menyebabkan kecelakaan besar itu?" (Hayooo loo Leee An)

Lee An tertegun. "Kamu tahu apa artinya itu?"

Jae In tersenyum. Senyumnya artinya dia cuma bercanda. Lee An yang tadinya sudah gugup akhirnya ikut tersenyum lebar. "Astaga!"

"Lihatlah. Senang melihatmu tersenyum. Sama seperti saat kamu membuatku tersenyum setiap kali aku berjuang. Saat ada hal-hal sulit bagimu, aku akan membuatmu terseyum," ucap Jae In sambil tersenyum menatap Lee An.

Lee An menatap Jae In sejenak. Lalu tanpa aba-aba dia mengecup bibir Jae In. Mereka saling menatap. And then, bayangin sendiri!!

***

Jae In sudah keluar dari rumah sakit. Dia sedang menyapu halaman. Lee An ingin menggantikannya tapi Jae In tidak mau. Jae In mengomentari cuaca yang hangat. Dia berharap musim semi cepat datang.

"Benar. Itu akan bagus," ucap Lee An.

Pak Nam keluar dan bilang kalau Jae In tidak boleh bekerja keras dulu karena baru keluar dari rumah sakit. Jae In beralasan kalau itu bisa jadi terakhir kalinya dia membersihkan halaman. Pak Nam bertanya apa maksudnya. Kata Lee An, Jae In mungkin akan diangkat menjadi bagian Unit Investigasi Khusus. Jae In tersenyum malu.

Ji Soo datang dengan membawa kotak biru besar. Dia lalu meletakkannya di dalam. Lee An bertanya kenapa Ji Soo membawa barang-barangnya ke pusat keamanan.

"Karena kita akan menyelidiki kasus ini di sini." Doenggggg kecewa deh Jae In. "Ku bilang aku butuh kerja sama kalian dalam penyelidikan. Tapi bukan berarti aku akan menunjukmu di unitku."

"Wah. Bagaimana bisa kamu membodohi temanmu?" protes Lee An.

"Kamu juga berpikiran hal yang sama, Petugas Yoon?"

Jae In membenarkan. Ji Soo menjelaskan alasannya karena Jaksa Kang sedang cuti jadi unit akan berhenti beroperasi untuk saat ini. Dia meletakkan pot bunga matahari imitasi dan fotonya bersama ayahnya di meja. "Secara resmi, itu berakhir dari kasus Yoengseong ke kasus mayat dalam koper. Dalam beberapa hal, aku sedang menyelidiki kasus ini sendirin."

Jae In jelas sekali kecewanya. "Aku tida tahu kami akan membungkuk begitu rendah."

Ji Soo sampai tidak percaya mendengarnya. "Petugas Yoon. Aku kecewa padamu. Kamu menganggap tempat ini rendah?" Ji Soo menunjuk Pak Nam yang sedang duduk di kursinya sambil mencabuti bulu hidung. "Letnan Nam adalah anggta veteran pasukan," puji Ji Soo. Tapi begitu melihat apa yang sedang dilakukan Pak Nam, Ji Soo langsung menyuruh Jae In jangan terlalu memikirkannya karena Pak Nam sudah hampir pensiun.

Jae In bertanya apa Pak Nam juga masuk dalam tim. Ji Soo mengiyakan.

Pak Nam angkat bicara. "Tunggu. Aku tidak tahu apa maksudnya ini, Tapi sepertinya ada kesalahpahaman. Aku tidak bermaksud terlibat dan mengejar penangkapan di usia ini."

Ji Soo ngambek. "Kalian semua menentangku berada di sini? Harukah aku kembali saja?"

"Bukan kembali. Tapi membawa kami ke unit investigasi khusus," timpal Lee An.

Jae In ikut nimbrung. "Kalau tidak bisa setidaknya di unit kejahatan kekerasan."

Ji Soo kesal. "Kamu juga? Kamu bisa menjadi petugas percobaan, tapi An...."

An nggak terima. "Apa? Apa?" tanya Lee An dari belakang Jae In tanpa bersuara.

Ji Soo ganti menatap Pak Nam. "Tidak bisa."

"Apa itu? Kamu bilang kami tim. Tapi aku merasa dikucilkan," protes Pak Nam.

"Aku akan menjelaskannya saat aku kembali." Ji Soo membawa tasnya. "Ayo. Aku pinjam Petugas Yoon sebentar. Kajja Kajja Kajja! Lee An mengikuti Ji Soo dan Jae In.

Pak Nam ngedumel sendiri. "Ini bukan hanya perasaanku. Aku pasti sedang dikucilkan,"gerutu Pak Nam sambil berjalan mendekati meja tempat Ji Soo meletakkan berkasnya. Dia tertegun melihat berkas Apartemen Yoengseong. (Wah. kayaknya Pak Nam tahu sesuatu nih)

***

Pak Eun sedang termenung sendiri di kantornya memikirkan perkataan Ji Soo yang akan menyelidiki kembali kasus Apartemen Yoengseong. Dia minta ayahnya tidak menghentikannya. Pak Eun mengurut keningnya. Di belakangnya, tampak karangan bunga dari Konstruksi YSS.

Tim LJJ (Lee An, Jae In, Ji Soo) kita sedang menuruni tangga. Ji Soo bilang mereka harus mencari Kang Eun Joo lebih dulu. Jae In menemukan sebuah alamat di berkas. Kota Gangryeong di Provinsi Gangwon. Ji Soo menjelaskan kalau nyonya Kang tinggal di sana sampai tahun 1996, tapi setelah itu dia sering pindah-pindah. Dia berkeliaran di seluruh negeri.

"Maka bisa jadi saat itu dia mulai melarikan diri dari pria itu," ujar Jae In.

Ji Soo meminta Jae In memeriksa berkas akta kelahiran Sung Mo. Anehnya, Sung Mo lahir pada 24 Mei 1988, tapi kelahirannya di daftarkan tahun 1996. Telat 9 tahun. Dan lagi, dia tercatat di bawah Kang Eun Joo dan tidak ada catatan tentang ayahnya.

"Kalau begitu berarti,,," ucap Lee An. Ji Soo bertanya apa An tahu sesuatu tentang ayah Sung Mo. An menggeleng. Ji Soo berharap mereka salah tentang ini (kalau pria itu ayah Sung Mo).

***

Tim LJJ pergi ke pabrik baja Gangryeong yang sudah terbengkalai. Mereka bertiga masuk ke dalam pabrik itu. Ji Soo mendapat telepon dari dr. Hong. Dia meminta Jae In mencari benda yang ada hubungannya dengan masa kecil Sung Mo, dan An melakukan tugas psikometrinya. Ji Soo keluar untuk mengangkat telepon dr. hong.

An dan Jae In mulai berkeliling. Jae In menduga pria bermasker membuat pisau dan belenggunya sendiri di sana. Jae In menemukan jejak kaki yang masih terlihat baru. Mereka mengikuti jejak kaki itu.

dr. Hong memberitahu kalau dia tidak berhasil mengidentifikasi tersangka. Tapi dia menemukan kasus dingin (kasus yang tidak terpecahkan) terkait sidik jari itu.

"Kasus dingin?"

"Itu terjadi pada tahun 1996 di Yeonhyedong, kota Gangryeong. Mereka mengumpulkan sidik jari pelakunya, tapi kasus ini tidak dapat terselesaikan karena mereka tidak bisa mengidentifikasinya."

Ji Soo melihat tulisan di sebuah papan di depan pabrik baja itu. Di sana tertulis, Perdagangan Baja Gangryeong, 12-5 Yeonhye-dong.

Sementara di dalam, Jae In dan Lee An masih mengikuti arah jejak kaki itu sambil sesekali Lee An menyentuh barang di sekitarnya. Mereka menemukan jejak kaki itu mengarah ke sebuah pintu, An menyentuh pintu itu dan melihat Sung Mo bertopi hitam membuka pintu itu dan masuk ke dalam.

"Apa ini? Hyung ada di sini."

Mereka berdua masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan sarang laba-laba. Jae In melihat jejak kaki lagi yang mengarah ke sebuah pintu. Dia menyentuh pintu dan heran karena hanya bagian tertentu yang tidak berdebu seperti ada yang baru saja membukanya. Dia pun membuka pintu itu. (Berasa nonton film horror pas bagian ending ini)

Lee An menjulurkan tangannya ke dalam. Dan ternyata di dalamnya ada pintu lagi. An menyalakan lampu senter ponselnya.

"Apa ini? Kenapa ada pintu jebakan di sini?" gumam An.

"Apa mengarah ke ruang bawah tanah?"

An menjulurkan tangannya lagi untuk menyentuh pintu jebakan. Dia langsung terjingkat kaget begitu menyentuhnya. (Sumpah horor!)

An melihat Sung Mo kecil berlari keluar dari pintu jebakan. Terdengar suara Kang Eun Joo yang menyuruhnya lari dari sana.

Kembali ke penjelasan dr. hong. "Selama 9 tahun, seorang pria membuat wanita dan anaknya terkunci di ruang bawah tanah (Ommo!!!)

Ji Soo kaget mendengarnya. Jae In melihat ke arah Lee An memandang dengan tatapan terkejut.

Bersambung ke He is Psychometric episode 12 Part 1

Read More