Showing posts with label Fates and Furies. Show all posts
Showing posts with label Fates and Furies. Show all posts

Sinopsis K-Drama : Fates and Furies ( Episode 11 )

Fates and Furies
Episode 11

Sumber konten dan gambar : SBS


Baca Fates and Furies episode 10 di sini.

Di episode sebelumnya, Hee Ra memberitahu In Joon dan Soo Hyun kalau dia dan Tae Oh sebenarnya pacaran. Jelas In Joon kaget, apalagi Soo Hyun, matanya langsung membola.

Tae Oh melepaskan rangkulannya di pundak Hee Ra. Soo Hyun terus menatap tajam padanya."Dia pasti membuat kalian bingung. Aku bekerja di Centan, jadi aku memintanya bekerja di perusahaan lain. Dan dia berkeras ingin bekerja di sini. Dia bilang dia suka dengan Gold Shoes."

Tentang kesalahpahaman kalau Hee Ra bekerja dengan niat tersembunyi, Tae Oh mengatakan kalau itu tidak benar. Semua keputusan yang diambil Centan dan Gold Shoes tidak ada kaitannya dengan emosi pribadi. Tae Oh meminta jika ada kesalahpahaman, maka sebaiknya selesaikan hari ini. Dia mengaku ini salahnya, jadi dia berharap ini memengaruhi Hee Ra di tempat kerja.

In Joon angkat bicara. Dia melihat Hee Ra sekilas. "Aku tidak menyangka. Aku mengerti maksudmu."

Tae Oh mengucapkan terimakasih lalu pamit pergi karena kesalahpahaman sudah terselesaikan. Hee Ra mengikutinya. In Joon menghentikan langkah mereka kalau dia akan mengadakan pesta pertunangan. Jadi dia meminta Tae Oh dan Hee Ra datang.

"Itu adalah kesempatan yang hanya dimiliki keluarga dan karyawan. Aku tidak yakin ada tempat untuk kalian," ujar Soo Hyun sinis.

In Joon mengingatkannya kalau Hee Ra juga karyawan. Dan dia boleh membawa pasangan. Kontan Soo Hyun tampak kesal. Dia memberikan tatapan tajam pada Tae Oh.

"Karena kalian mengundang kami, tentu kami akan datang."

"Oh ya. Selamat untuk pernikahan kalian," ucap Hee Ra sebelum pergi.


Di mobil, Tae Oh mengirim pesan pada Hee Ra agar Hee Ra melakukan pekerjaannya dengan benar kali ini. Tiba-tiba Soo Hyun masuk. Dia menarik nafas kesal.

"Kalian pacaran? Sayang?" Soo Hyun tertawa. "Kamu tidak pernah mengatakan hal itu."

"Orang berubah seiring bertambahnya usia."

Soo Hyun menatap Tae Oh. "Apa yang kamu dapatkan dengan melakukan ini? Aku tidak akan kembali padamu. Aku tidak peduli apa yang kamu dan wanita itu lakukan. Ini sudah keterlaluan. Jangan berani melangkah lagi. Atau aku akan membunuh kalian berdua," ujar Soo Hyun memberi peringatan.

Tae Oh tersenyum. "Kamu menakutkan."

"Ingatkan pacarmu untuk berhati-hati juga." Soo Hyun lalu turun dari mobil Tae Oh. Tae Oh langsung mengganti senyumnya dengan wajah gusar.

Hee Ra membaca pesan dari Tae Oh di depan lift. Begitu lift terbuka, ada Soo Hyun disana. Hee Ra bertanya apa Soo Hyun tidak hendak turun.

"Oh. Aku baru ingat meninggalkan sesuatu di bawah." Melihat Hee Ra yang masih diam saja, Soo Hyun memintanya masuk. Hee Ra masuk dan berdiri di samping Soo Hyun sambil melipat tangannya di dada.

Soo Hyun menyindirnya yang tidak mampu membuat In Joon tersentuh meski sudah melakukan segala cara, dan sekarang mengincar Tae Oh.

"Seleramu rendah sekarang. Kau meninggalkan putra pemilik perusahaan demi seorang direktur biasa. Aku tidak peduli apa yang kau lakukan dengan Jin Tae Oh. Tapi jangan sampai aku menangkap kalian. Jika aku mengambil tindakan. Tamat riwayatmu!"

Hee Ra hanya diam saja. Begitu lift terbuka, Soo Hyun langsung meninggalkannya.


Hee Ra masuk ke kamarnya. Dia duduk di depan meja lalu menyalakan lampu tidur. Dia menatap wajahnya di cermin dan mengingat saat Tae Oh mengancamnya menggunakan nyawa kakaknya. Hee Ra menghela nafas berat.

Sun Young masuk dengan membawa senampan minyak pijat. Dia meminta Hee Ra berbaring karena dia akan memijatnya. Awalnya Hee Ra menolak, tapi Sun Young memaksanya karena tahu Hee Ra pasti lelah mengurus pekerjaan sekaligus kakaknya.

Hee Ra memuji pijatan Sun Young yang luar biasa. Sun Young membanggakan diri kalau pelanggannya para selebritis, istri anggota majelis, dan istri orang-orang kaya. Tiba-tiba dia teringat apa yang di ucapkan Nyonya Han tentang Soo Hyun yang katanya orang kaya baru tapi berani pamer dan menikahkan anaknya dengan putra pemilik perusahaan besar. Katanya Soo Hyun penipu ulung yang suka merayu banyak pria. Orangtuanya tidak bisa membesarkannya makanya dia dikirim keluar negeri.Dia menceritakan semuanya pada Hee Ra.

Hee Ra bergegas duduk. Dia meminta Sun Young mencaritahu lebih banyak lagi. Meski heran, tapi Sun Young mengiyakannya. Hee Ra juga bertanya siapa yang membayar tagihan ICU kakaknya. Sayangnya Sun Young tidak tahu karena saat itu dia panik. Hee Ra bertanya lagi siapa saja yang tahu tentang kecelakaan kakaknya selain mereka dan Ui Gun, karena saat itu terjadi Hee Ra masih di Italia. Sun Young menjawab ada satu orang lagi.

Terlihat si rentenir Chang Soo sedang makan daging bungkus selada dengan lahapnya bersama seorang rekannya di kedai nenek yang berhutang padanya. Ponselnya berdering. Dari Hee Ra. Chang Soo basa basi menanyakan kabar Hee Ra di Seoul.

"Ada seseorang yang membocorkan informasi tentangku."

Chang So sedikit gugup. "Siapa orangnya? Aku ingin tahu."

"Jangan banyak bicara. Datanglah ke Seoul!"

Chang So mengatakan kalau tidak ada yang menjaga anaknya. Hee Ra menawarinya uang, dan sepertinya Chang So bersedia.


In Joon termenung di depan jendela menatap hujan di luar. Dia mengingat pengakuan Hee Ra tadi siang. Ternyata di sana ada Tuan Byun. Dia memberitahu kalau dia dipanggil semua pemegang saham. In Joon tidak menanggapinya. Tuan Byun ganti topik.

"Aku sudah mencari tahu tentang wanita itu. Jin Tae Oh memberinya 50 ribu dollar. Kakaknya koma dan Jin Tae Oh membawanya ke rumah sakit. Aku ingin tahu apa hubungan mereka."

"Mereka berpacaran. Jangan membicarakan wanita itu lagi," kata In Joon. Dia lalu pamit keluar ingin mencari udara segar. Tuan Byun hanya bisa memandangnya khawatir.

In Joon masuk ke ruangan timnya. Dia menatap bangku Hee Ra sejenak, lalu masuk ke ruangan kerjanya. Dia duduk bersandar sambil menghela nafas. Jelas dia sedang memikirkan Hee Ra. Mencoba mengenyahkan pikirannya tentang Hee Ra, In Joon memilih memeriksa sebuah dokumen.

Hee Ra berjalan di bawah hujan dengan payung merah menaunginya. Dia berhenti di depan gedung Gold Shoes lalu melihat ke atas. Dia memantapkan hatinya, lalu berjalan masuk ke dalam.

Hee Ra berpapasan dengan In Joon yang membawa dokumen entah mau kemana.

"Ini hari sabtu," ujar In Joon.

"Bagaimana dengan Anda?"

"Aku ingin menyelesaikan pekerjaan."

"Begitu juga denganku."

Hee Ra menunduk memberi hormat lalu berjalan menuju ruangannya. Dia berhenti saat In Joon berbicara.

"Aku tidak tahu tentang hubunganmu dengan Tae Oh. Jika aku membuatmu merasa tidak nyaman dan...."

Hee Ra memotong ucapannya. "Tidak ada hal seperti itu." Hee Ra langsung pergi. Lagi-lagi In Joon menghela nafas.


Hee Ra sedang mendesain sebuah sepatu. Dia melihat ke arah In Joon di ruangannya. Lalu segera mengalihkan pandangannya.

In Joon masih berkutat dengan dokumennya. Dia melihat ke arah Hee Ra. Kebetulan Hee Ra kembali menoleh ke arahnya. Mereka saling beradu pandang selama beberapa saat.


Soo Hyun sedang melakukan fitting baju pengantin. In Joon menungguinya sambil melamun di kursi. Soo Hyun menghampirinya. "Bagaimana?"

"Wow. Kamu cantik," ujar In Joon tanpa ekspresi. Wajah Soo Hyun terlihat kesal.

Selesai fitting baju, Soo Hyun mengajak memeriksa tempat lain sebelum makan malam. Dia heran saat In Joon langsung menyetujuinya.

Ponsel In Joon berdering. Seseorang memberitahunya bahwa dia sudah mendapatkan daftarnya. In Joon berkata akan memeriksanya besok.

Soo Hyun menyuruh In Joon pergi saja. "Aku menikah denganmu untuk membuatmu sukses. Jadi aku tidak ingin jadi penghalangmu. Aku akan mengurus sisanya."

"Bisakah aku minta tolong padamu? Ayahmu,,, Tidak. Aku ingin bertemu ayah mertua."

"Ayahku adalah mertuamu sekarang. Jika kau ingin bertemu dengannya, kau bisa langsung menghubunginya. Aku pergi."

In Joon makan malam dengan Tuan Cha.

"Kau membuat permintaan yang sulit. Apa maksudmu Gonjiam tidak cukup membuatmu menikahi Soo Hyun?"

"Bukan begitu."

Tuan Cha meneguk tehnya. "Ini bukan keputusan yang mudah. Aku biasanya tidak mau mengambil resiko seperti ini. Tapi Soo Hyun memintaku untuk menuruti semua keinginanmu. Kalau tidak, dia tidak akan mau bertemu denganku dan ibunya lagi. Jadi aku setuju. Kau bisa lakukan apa yang kau mau."

In Joon tampak tertegun. Lalu dia menunduk tanda berterimakasih.


Esok harinya, tampak In Joon berjalan memasuki gedung Gold Group diiringi beberapa staffnya. Dia masuk ke ruang rapat dimana disana sudah menunggu para eksekutif perusahaan. Sebagian berdiri menyambutnya. Sepertinya mereka orang-orang yang ada di pihaknya. Sebagian lagi tetap duduk. Mereka pendukung Jung Ho.

Tuan Byun membuka rapat tentang ekspansi produk Gold Shoes. In Joon memotongnya. Dia bilang ada yang perlu mereka bahas lebih dulu. Sekretaris Kim menyerahkan sebuah dokumen padanya. Itu adalah laporan korupsi eksekutif Gold Shoes.

In Joon menyebut nama seorang eksekutif yang duduk di deretan bangku Jung Ho. Dia menyebut kesalahannya lalu to the point memecatnya. Jelas Jung Ho dan Tuan Tae kaget. In Joon menyebut nama kedua. Dia juga memecat orang itu. Tuan Tae menggebrak meja. Dia bertanya apa yang In Joon lakukan.

"Aku menggunakan hak pilihku. Aku memiliki 3,6 dan 1,5 saham. Belum lagi Tuan Cha akan mentransfer beberapa sahamnya. Itu membuatku memiliki hak di Gold Group."

Jung Ho gusar mendengarnya. Reflek dia ikut-ikutan menggebrak meja bahkan berdiri dan menatap In Joon kesal. Tapi dia tidak berkata apapun. Hanya memandang ayahnya sejenak lalu duduk lagi.

"Aku mencoba mencapai puncak dengan bantuan Tuan Cha. Itu yang selalu ayah katakan padaku."

"Kau...."

"Ayah berada di kursi itu karena kebaikanku."

"Tutup mulutmu!"

"Jika ayah bicara lagi, ayah harus keluar juga."

Tuan Tae kehilangan kata-kata. Jung Ho menatap In Joon penuh dendam. Sedang Tuan Byun tampak tersenyum tipis.

Bersambung ke Fates and Furies episode 12


Read More

Sinopsis K-Drama : Fates and Furies ( Episode 10 )

Fates and Furies


Episode 10


Sumber konten dan gambar : SBS

Jung Ho duduk bersama ibu dan istrinya. Dia kesal setelah mengetahui lamaran In Joon. Jung Ho lalu menenggak minumannya dan menghentakkan gelasnya ke meja dengan keras hingga gelas pecah dan telapak tangannya berdarah.

Nyonya Han berteriak kaget. Ah Jung berusaha melihat tangan suaminya, namun Jung Ho malah mendorong dan mengusirnya. Ah Jung seperti biasa hanya bisa menurut.

Hee Ra sedang melipat pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper. Sun Young masuk dan bertanya apa yang sedang Hee Ra lakukan. Hee Ra menjawab dengan lemah kalau dia akan pulang ke Busan.

Sun Young protes. Dia mengingatkan kalau Hee Ra lah yang meyakinkan mereka untuk pergi ke Seoul.

"Aku akan pulang ke Busan duluan. Kalian bisa menyusul kapanpun kalian mau kalau sudah muak dengan Seoul."

Sun Young berusaha tenang. Dia bertanya bagaimana dengan Hyun Joo. Hee Ra menghela nafasnya.

Hee Ra pergi ke rumah sakit. Dia berkata pada resepsionis kalau dia ingin memindahkan kakaknya. Hee Ra disuruh untuk mengisi formulir terlebih dahulu.

Saat masuk ke ruang rawat kakaknya, ternyata di sana sudah ada Tae Oh.

"Aku kecewa padamu Hee Ra-ssi."

Hee Ra berjanji akan mengembalikan uang Tae Oh. Tae Oh malah berteriak hingga membuat Hee Ra terjingkat kaget.

"Apa kamu bercanda sekarang!!! Aku sudah bilang bahwa hanya aku yang berhak membuat kesepakatan."

Tae Oh mendekati Hyun Joo lalu melepas alat bantu nafasnya. Hee Ra kontak melotot kaget. Dia berusaha mendekat namun Tae Oh mendorongnya hingga tersungkur.

Tae Oh memojokkan Hee Ra ke tembok. Sementara Hee Ra meronta minta dilepaskan. Dia menangis melihat kakaknya. Apalagi terdengar alarm peringatan dari alat pendeteksi denyut jantung dan tekanan darah.

Tae Oh mencengkeram bahu Hee Ra.
"Aku memintamu merayu In Joon bagaimanapun caranya. Tidurlah dengannya dan ambil foto atau apalah!!! Buat dia membatalkan pernikahannya!!"

Hee Ra sekuat tenaga berusaha lepas dari cengkeraman Tae Oh. Tapi bagaimanapun juga, sebagai pria tenaga Tae Oh jelas lebih kuat. Dia menahan leher Hee Ra dengan lengannya dan mengancam Hee Ra agar mau melakukannya.

Demi menyelamatkan kakaknya, Hee Ra bersedia melakukan apa yang Tae Oh mau.
Setelah lepas, Hee Ra bergegas memasang kembali alat bantu nafas kakaknya. Tangannya sampai bergetar saking takutnya.

"Kalau kau belum mengerti juga kenapa kau harus melakukan ini, baca ini dulu!"
Tae Oh melemparkan sebuah amplop putih lalu pergi. Meski sudah mengancam nyawa Hyun Joo, dia masih peduli dengan mengatakan pada perawat kalau Hyun Joo kejang dan meminta untuk diperiksa.

Hee Ra membuka amplop dari Tae Oh yang ternyata berisi rincian biaya rumah sakit Hyun Joo. Dia mengenyit kaget saat melihat penanggung biaya rumah sakit. Dia sana tertulis nama Tae In Joon.

Hee Ra bergetar mengingat masa lalu.

Flashback

Saat itu dia berlari keluar dari taksi menuju rumah sakit Hansong. Kakaknya tak sadarkan diri di ruang ICU karena mencoba bunuh diri.

Sun Young datang menemaninya. Dia menangis karena seharusnya Hyun Joo bisa diselamatkan jika dibawa ke rumah sakit satu jam sebelumnya. (Belum mudeng kaitannya apa sama In Joon)

Flashback end

In Joon sedang meninjau tanah di Gonjiam. Jung Ho datang kesana dengan emosi. Dia meraih kerah baju In Joon. In Joon tidak suka lalu berbalik memelintir tangan Jung Ho hingga Jung Ho kesakitan.

"Silsilah keluarga kita memang terlihat informal. Tapi bersikaplah formal saat di tempat kerja."

"Lihat saja nanti. Ini belum berakhir."

Jung Ho pergi dengan kesal.

Soo Hyun sedang diwawancara seorang reporter wanita seorang diri. Reporter menanyakan soal rumor yang beredar bahwa pernikahan In Joon dan Soo Hyun hanya untuk kepentingan bisnis. Soo Hyun tampak tidak suka dengan pertanyaan itu. Dia hanya menjawab, "Kami akan melakukan yang terbaik untuk hidup bahagia." Soo Hyun lalu menyudahi  wawancara meskipun reporter bilang masih punya pertanyaan lain.

Soo Hyun dan ayahnya mengunjungi kediaman Tuan Tae. Nyonya Han menyajikan teh pada mereka. Tampak jelas di wajahnya bahwa dia tidak suka dengan kedatangan mereka.

Tuan Tae berkata bahwa In Joo  beruntung memdapatkan Soo Hyun. Dia memuji Soo Hyun begitu rupa. Dia juga memuji In Joon yang bisa diandalkan meski ibunya sudah meninggal. Nyonya Han langsung meliriknya. Begitupun dengan Soo Hyun dan ayahnya.

Untuk mengalihkan pembicaraan, Tuan Tae menyuruh Nyonya Han untuk segera mengirim Jung Min ke luar negeri setelah selesai melakukan layanan masyarakat. Dia tidak ingin Jung Min mengganggu pernikahan In Joon dan Soo Hyun.

Ui Gun dan Jung Min sedang diberi arahan untuk layanan masyarakat.

"Kang Ui Gun. Kamu masih punya 25 jam lagi," kata petugas.

Jung Min tertawa mengejek. "Itu masih lama."

"Tae Jung Min. Kamu masih punya 250 jam lagi."

Gantian Ui Gun yang tertawa. "Kamu berencana tinggal di sini?"

Mereka ditugaskan untuk membersihkan kandang guguk. Jung Min jelas jijik sendiri. Dia lalu punya ide jahil untuk mengerjai Ui Gun. Diam-diam dia mendekati Ui Gun lalu mendorongnya hingga Ui Gun tersungkur dan tangannya menekan kotoran guguk. Ui Gun mengumpat lalu melempari Jung Min dengan kotoran guguk. Mereka akhirnya perang lempar kotoran guguk.

Ui Gun membersihkan dirinya. Terlihat sweeternya yang basah tergantung di jemuran. Jung Min menghampirinya. Dia menatap badan Ui Gun yang sixpack dan hanya di balut kaus dalam saja. Terpanalah dia. Jung Min terus menyusuri bagian tubuh Ui Gun yang lain. Lengan Ui Gun dengan bisep yang menggembung. Jung Min senyum-senyum sendiri.

Ui Gun menyadarkannya dengan bertanya apa yang sedang Jung Min lihat. Jung Min berusaha mengalihkan perhatian.

"Apa benarnya sweetermu itu mahal? Berapa harganya?"

Ui Gun dengan tegas mengatakan bahwa itu memang mahal. Dia menyebut harganya 70 dollar dan 9 yen."

Jung Min tertawa. Sebagai anak seorang chaebol tentu harga segitu tidaklah mahal baginya. Dia memberikan ponselnya pada Ui Gun agar menulis nomor ponsel Ui Gun disana.

"Untuk apa?"

"Untuk membayarmu."

"Tidak perlu."

"Kalau begitu aku akan mentraktirmu makan sebagai ganti sweatermu."

Akhirnya Ui Gun mau menuliskan nomornya. Jung Min menamai kontaknya dengan 'kotoran guguk'.

"Aku akan meneleponmu. Angkat sebelum berdering tiga kali. Aku tidak suka menunggu."

Sun Young melamar kerja di tempat spa. Sang manager mengeluhkan aksen Busan Sun Young yang sangat kental.

Sun Young dengan percaya dirinya mengatakan bahwa dia tidak punya aksen kok. Setelah menyeberang ke Seoul dia bicara dengan logat Seoul.

"Aksenmu itu sangat kental."

Sun Young ngeyel. "Kenapa itu penting. Aku kan memijat dengan tanganku bukan mulutku."

Manager memberinya tatapan tajam. Dia mewanti-wanti Sun Young untuk jangan bicara sepatah katapun.

Pelanggan pertama yang harus Sun Young layani adalah Nyonya Han. Sedangkan Ah Jung hanya duduk menungguinya.

Sun Young bingung karena tidak diperbolehkan bicara. Jadi dia menggunakan bahasa isyarat bahwa dia akan memulai memijat. Sebelum memijat, Sun Young berdoa lebih dulu. (HAHA)

"Apa kamu bisu? Aku suka dengan ketenanganmu. Kamu tidak membicarakan hal-hal yang tidak berguna."

Nyonya Han beralih pada Ah Jung yang sedang melamun. Dia menyuruh Ah Jung untuk membeli munuman dingin. Selanjutnya dia malah curhat pada Sun Young bahwa dia kesal karena punya menantu seperti Ah Jung.

"Karena dia anakku akan kehilangan perusahaan karena diambil alih oleh In Joon."

Kontan Sun Young terkejut mendengar nama In Joon disebut. Nyonya Han bercerita kalau In Joon memang anak yang sah. Tapi tetap saja Jung Ho lah anak yang tertua. (Oh, jadi kayaknya Tuan Tae itu udah punya anak sama Nyonya Han sebelum menikah sama ibunya In Joon. Atau Tuan Tae selingkuh sama nyonya Han sebelum In Joon lahir? Entahlah)

In Joon dan Soo Hyun merayakan hubungan mereka di kantor. Para karyawan tim desain memberi mereka ucapan selamat. Soi Hyun berjanji akan mengundang mereka ke acara pertungan.
Hee Ra terlihat keluar dari lift. Kali ini tampilannya tampak berbeda. Rambutnya digerai. Wajahnya dipulas make up. Dan pakaiannya tampak mahal. Dia masuk ke ruangannya dan disambut tatapan kaget dari semua orang. Soo Hyun langsung menyindirnya tidak tahu malu.

Tiba-tiba Tae Oh juga datang. In Joon mengingatkan bahwa kerjasama mereka sudah selesai. Tae Oh berkata kalau dia datang untuk urusan pribadi.

Mereka berempatpun duduk bersama dengan secangkir kopi di hadapan masing-masing. Tapi hanya Tae Oh dan Hee Ra yang menyeruput kopinya.

Tae Oh mengucapkan selamat pada In Joon dan So Hyun. Dia berkata kalau Hee Ra mengatakan padanya ada kesalahpahaman.
In Joon bertanya, "Kau menyebutnya salah paham. Lalu salah paham yang seperti apa?"

Tae Oh tersenyum dan merangkul bahu Hee Ra. "Kau saja yang katakan pada mereka, sayang."

Hee Ra menatap In Joon.

"Sebenarnya, hubungan kami adalah.... berpacaran."

Hee Ra menatap mesra Tae Oh. Sedangkan So Hyun melotot tidak percaya. Begitu pula In Joon yang tampak kaget.


Read More

Sinopsis K-Drama : Fates and Furies ( Episode 9 )

Fates and Furies

Episode 9


Sumber konten dan gambar : SBS

Hee Ra hendak berangkat kerja. Dia tersenyum sendiri saat memakai sepatu pemberian In Joon. Sun Young mengagetkannya dengan bertanya apa sepatu itu dari In Joon. Hee Ra beralasan kalau sepatu itu hanya sampel. Tapi Sun Young malah tertawa girang membayangkan sahabatnya akan menikah dengan chaebol. Dia langsung menawarkan Hee Ra jadi pelanggannya. Ui Gun bergabung dan mengejek kakaknya yang jadi tukang pijit dan memberi salam pada nyonya-nyonya kaya. Sun Young mengingatkan Ui Gun yang harus menjadi sukarelawan akibat perkelahiannya kemarin dengan Jung Min. Hee Ra meminta mereka akur. Dia lalu pamit pergi kerja karena ada acara peluncuran produk.

In Joon bersiap untuk pergi ke konferensi pers peluncuran produknya. Tiba-tiba ayahnya datang dan menyuruhnya naik ke mobilnya. in Joon ragu tapi akhirnya dia naik juga. Di dalam, Tuan Tae diam saja saat In Joon bertanya mereka akan kemana. Dia malah menanyakan kapan In Joon akan menikahi Soo Hyun. In Joon hanya menjawab bahwa dia akan menceritakan semuanya pada ayahnya saat dia punya kesempatan. Tuan Byun menyela percakapan mereka dengan  berkata bahwa dia akan membawa mereka ke pabrik. In Joon hanya bisa menghela nafas.

Pabrik Gold Group ternyata sangat besar dan luas. Tuan Tae menjelaskan betapa besarnya Gold Group. dia mengingatkan In Joon bahwa dia bertanggung jawab atas ratusan ribu pegawai. Jadi IN Joon tidak bisa berbuat semaunya. Tuan Tae menekankan bahwa In Joon harus segera menikah. bukan demi In Joon sendiri. Melainkan demi semua orang yang bekerja di Gold Group.

Galau lah In Joon.

Hee Ra sampai kantor. Di ruangan timnya, rekan-rekannya sedang mempersiapkan acara peluncuran produk mereka. Hee Ra tersenyum gembira melihatnya. Tapi, baru juga dia duduk di kursinya, Hyun Jung langsung menyuruhnya mengantar beberapa sepatu. Hee Ra menghela nafas kesal. Dia melihat salah satu tas sepatu itu bertuliskan untuk pewaris Cha Soo Hyun.

tuan Byun mengantar In Joon kembali ke kantor. Dia melihat In Joon terlihat galau dari kaca spion. Dia lalu menepikan mobilnya dan memberikan In Joon amplop berisi foto Hee Ra bersama Tae oh. In Joon tertegun melihatnya. Tuan Byun bertanya apa alasan In Joon menunda pernikahan adalah karena Hee Ra.

"Siapa yang memberikan ini padamu/"

"Apa itu penting? Hati-hati dengan wanita itu."

In Joon menatap foto itu lagi. Dia seolah tidak percaya bahwa Hee Ra memiliki hubungan dengan Tae Oh. Dia meminta waktu sebentar pada Tuan Byun lalu turun dari mobil. Dia berdiri di samping jembatan. Sekali lagi dia melihat foto itu. In Joon mengingat awal pertemuannya dengan Hee Ra. Dia juga mengingat semua kebersamaan mereka selama ini. Sepertinya dia sudah bisa menebak kalau semua itu adalah rekayasa Centan alias Tae Oh.

Hee Ra mengantarkan sepatu ke ruangan tunggu dimana Soo Hyun sedangn dirias. Soo Hyun tersenyum sinis padanya lalu menyuruhnya mengeluarkan semua sepatu itu dan meletakkannya di meja. Hee Ra mengiyakannya saja.

Soo Hyun terus menatap Hee Ra yang sedang mengeluarkan sepatu.

"Ini pertama kalinya kamu datang ke tempat seperti ini kan?"

"Ya."

"Aku yakin semua ini terasa baru untukmu."

Soo Hyun menyuruh semua pegawai di ruangan itu untuk keluar jika sudah selesai. Dia berjalan menghampiri Hee Ra dan menyingkirkan semua sepatu di atas meja. Hee Ra menghela nafas dan berkata kalau dia akan pergi. Soo Hyun hanya tertawa. Tapi seketika tawanya hilang saat melihat sepatu yang dikenakan Hee Ra. Dia langsung bertanya darimana Hee Ra mendapatkan sepatu itu.

"Kamu cepat sekali mendapatkannya. Sepatu itu akan diluncurkan hari ini. Tapi kamu sudah memakainya?"

"Pak Tae memberikannya sebagai hadiah. Dia bilang dia ingin aku menjadi orang pertama yang memakainya. Itu sepatu pertama yang ku rancang saat aku belajar di luar negeri."

Soo Hyun tersenyum sinis dan menuduh Hee Ra terlalu banyak menonton dramadan  berpikir In Joon memiliki perasaan untuknya hanya karena memberinya sepasang sepatu. Dia mengingatkan Hee Ra bahwa dunia yang In Joon dan Soo Hyun pijak berbeda dari dunia Hee Ra. 

"Jadi jangan terlalu berharap dan berhenti menghalangi kami."

"Entahlah. Jika kamu terlalu percaya diri, kenapa kamu dan In Joon belum menikah? Aku dengan kamu menggunakan keluargamu dan uang untuk mengancamnya. Bisakah kamu mendapatkannya meski kau menggunakan semua yang kau miliki?"

Soo Hyun jelas tersinggung. Dia meminta Hee Ra mengulang perkataannya. Dia berniat menampar Hee Ra tapi Hee Ra cekatan menangkap tangannya. Tak berhasil menampar, Soo Hyun mendorong Hee Ra hingga tersungkur ke lantai dan salah satu sepatunya terlepas.

terlihat In Joon yang datang ke kantor dengan langkah lesu.

Soo Hyun marah-marah bertanya apa tujuan Hee Ra sebenarnya. 

"Kudengar kakakmu mirip denganmu. Dia datang ke Seoul untuk menggoda seorang pria dan mengubah hidupnya dan berakhir koma. Kamu bisa kuliah di Italia karena kakakmu berhasil menggoda pria kaya."

Hee Ra menatap Soo Hyun kesal. 

"Jangan berani mengatakan itu dengan mulut kotormu lagi."

Soo Hyun malah berteriak, "Berapa Jin Tae Oh membayarmu untuk melakukan ini?"

Tiba-tiba In Joon masuk dan bertanya keras apa yang sedang Soo Hyun lakukan. Soo Hyun bertanya balik kenapa In Joon tidak tanya langsung saja pada Hee Ra. Dia menduga kalau In Joon sudah tahu semuanya.

Hee Ra berdiri. Diadan in Joon hanya saling memandang dalam diam. Soo Hyun menyindir kenapa Hee Ra hanya diam saja padahal tadi banyak bicara.

In Joon menghela nafasnya. Dia lalu mengambil sepatu Hee Ra yang lepas lalu memakaikannya di kaki Hee Ra. Sontak Soo hyun semakin kesal. Dia menahan airmatanya lalu keluar dari ruangan itu.

Tinggallah Hee Ra dan in Joon di ruangan itu. In Joon beranjak pergi namun Hee Ra meraih tangannya. In Joon berbalik dan menatap Hee Ra. Dia berkata dengan lemah, "Aku tidak tahu orang macam apa kamu."

Hee Ra tertegun mendengarnya dan hanya bisa membiarkan In Joon pergi.

Konferensi pers sedang berlangsung. In Joon dan Soo Hyun duduk di depan para wartawan yang terus memotreti mereka. Hee Ra hanya bisa melihat mereka dari jauh.

salah seorang wartawan bertanya kapan mereka akan menikah. Soo Hyun menjawab bahwa ini adalah acara peluncuran sepatu jadi dia hanya akan menjawab tentang hal itu saja. In Joon tiba-tiba berdiri dan menggenggam tangan Soo Hyun. Sontak para wartaman bersorak. 

"Aku pernah menjanjikan sesuatu pada Soo Hyun. Aku berjanji akan menikahinya di hari ulangntahunnya." Soo Hyun menatap In Joon bingung. Mungkin dalam hati dia bertanya kapan In Joon berjanji seperti itu.

"Kupikir aku akan menepati janji itu, tahun ini di hari ulang tahunnya."

Para wartawan bertepuk tangan riuh. Sedangkan Hee Ra hanya bisa menatap In Joon dengan pandangan nanar. Dia memilih pergi dari tempat itu.

Di rumah, Sun Young dan Ui Gun sedang menonton berita tentang lamaran In Joon. Ui Gun langsung patah hati karena idolanya akan menikah. Sedangkan Sun Young melihatnya tidak senang.

Hee Ra pulang saat itu. Dia terlihat tidak suka melihat acara di TV. Hee Ra melepas sepatunya lalu membuangnya ke tempat sampah dengan kesal. Sun YOung dan Ui Gun keheranan melihatnya.

Di apartemennya, Tae Oh juga sedang melihat acara yang sama. Dia meneguk minumannya lalu melempar gelasnya ke TV hingga layarnya retak (sayang banget). Dia juga melempar meja di depannya. Jenny terbangun karena kegaduhan yang dibuat ayahnya.Dia bertanya apa monster hijau datang lagi. Tae Oh mengiyakan. Kontan Jenny memeluk ayahnya ketakutan. Tae Oh menenangkannya dengan berkata bahwa dia akan memberi monster itu pelajaran sambil melirik marah pada berita di TV.

Read More

Sinopsis K-Drama : Fates and Furies ( Episode 8 )

Fates and Furies


Episode 8

Sumber : SBS


Waktunya makan siang. Hyun Jun menghampiri Hee Ra.

"Orang yang sangat tinggi dan kuat sepertimu, pasti tidak mau makan bersama kami kan?"
Rekan-rekan kerja Hee Ra meninggalkannya sendirian. Hee Ra hanya bisa tersenyum miris. Dia lalu memilih duduk sendirian di rooftop meskipun suhu di luar sangat dingin.

In Joon menghampirinya dengan segelas kopi hangat untuk menghibur Hee Ra.

"Bekerja bukan satu-satunya hal yang sulit kan?"

"Apa kau melihatnya?"

"Terkadang, hasil menjelaskan prosesnya. Seperti piknik sendirian."

In Joon meminta maaf karena tidak memberikan Hee Ra waktu untuk berbaur. Hee Ra tidak mempermasalahkannya karena dia sudah terbiasa terasingkan. Dia memberitahu In Joon untuk tidak khawatir.

"Sulit untuk mengatur pekerja tidak peduli sudah berapa lama," keluh In Joon.

"Berusan dengan orang memang tidak mudah."

"Tapi kau tidak dipukuli kan?"

"Apa kau mau melihat hal seperti itu?"

Mereka berduapun tersenyum. In Joon pamit pergi lebih dulu. Dia sempat menengok sekali. In Joon dan Hee Ra saling melempar senyum lagi.

In Joon turun dengan setengah berlari. Dia langsung disambut omelan Sek. Kim karena In Joon membiarkan CEO Seoul Department Store menunggu.

"Aku tidak bisa mengabaikan apa yang kulihat. Dia sendirian."

"Apa kau bersamanya? Aku pikir kau ke kamar mandi."

Mereka berpapasan dengan CEO Seoul Department Store. In Joon langsung meminta maaf karena keterlambatannya. CEO menyindir kalau sangat sulit melihat pabrik In Joon. Mereka pun bergegas menuju ke pabrik.

Jung Ho mengamati mereka dari lantas. Dia menebak kalau In Joon baru saja menemui seorang wanita karena In Joon belum pernah seperti itu (terlambat) sebelumnya. Jung Ho meminta sekretarisnya untuk menyelidikinya.

Hyun Jung meminta Hee Ra mengantarkan sepatu sendiri ke pabrik di Seonsu Dong dengan alasan itu sepatu penting dan akan buang-buang waktu jika menggunakan jasa pengiriman. Hee Ra tidak menjawab, tapi dia tetap melakukan yang diminta.

Suk Jin sedang menyetempel sepatu ketika Hee Ra datang. Dia meminta Hee Ra menunggu sampai pekerjaannya selesai.

Hee Ra kepo dan melihat apa yang sedang dilakukan Suk Jin.

"Ternyata sekarang masih menggunakan perangko panas."

"Kau tahu apa ini? Kebanyakan desainer muda tidak tahu ini."

Hee Ra tersenyum. Dia berpendapat bahwa stempelnya perlu lebih panas untuk mendapatkan hasil seperti yang diinginkan. Suk Jin kagum dengan pengetahuan Hee Ra.
Hee Ra meminta ijin untuk melihat stempelnya. "HJO?"

"Hyun Jung Oh." Tiba-tiba In Joon muncul.

"Itu inisial ibuku."

Sukjin berdiri. "Kenapa kau kembali? Kau tidak makan malam bersama klienmu?"

"Itu dibatalkan (kayaknya bohong). Aku kesini untuk mentraktirmu sebagai gantinya. Tapi sepertinya aku harus mentraktir dua orang."

Nggak tahu kemana perginya Suk Jin, karena akhirnya tinggal Hee Ra dan In Joon. In Joon memberikan segelas kopi (lagi) pada Hee Ra.

Hee Ra mengaku senang dengan stempel panas. Karena hasilnya akan berbeda untuk setiap sepatu seolah-olah dia memberi nama pada setiap sepatunya.

In Joon tertawa. Dia berkata bahwa itulah yang dikatakan ibunya.

Giliran Hee Ra yang tersenyum. Dia bilang itulah yang dikatakan almarhum ayahnya.

In Joon sempat tertegun mengetahui ayah Hee Ra sudah meninggal.

Hee Ra memuji ibu In Joon yang cantik. Dia mengaku melihat fotonya saat meletakkan desain sepatunya di meja In Joon. Dia juga berkata bahwa nama ibu In Joon pasti dikenal oleh semua desainer sepatu di Korea. Tapi Hee Ra tidak tahu kalau ibu In Joon juga membuat sepatu buatan tangan.

In Joon sendiri memberitahu kalau kerjasama dengan Centan sangatlah penting karena itu adalah langkah pertamanya masuk industri sepatu buatan tangan yang merupakan impian yang belum sempurna dari ibunya dan juga dirinya.

Hee Ra berseloroh, "Tiba-tiba aku merasa ikut bertanggungjawab."

In Joon tersenyum. Dia bersyukur karena sekarang ada Hee Ra di sisinya.

"Aku ingin membuat sepatu yang mengesankan. Sesuatu yang dapat dikenali semua orang. Sepatu mewah buatan tangan yang seperti itu."

Hee Ra manggut-manggut. "Dimasa depan, aku ingin memiliki merek yang dinamai seperti yang ibumu miliki. Aku ingin membuat cabang di Italia, membuat stempel panas dengan namaku. Dan berharap, semua orang yang memakai sepatuku berakhir di tempat yang bagus."

"Aku akan mendukung impianmu. Tapi buatkan aku sepatu yang baik sebelum kau melakukan itu."

Mereka saling melempar senyum.

***

Soo Hyun dan ibunya sedang berada di tempat spa. Mereka membicarakan tentang pernikahan. Ibu Soo Hyun menginginkan sebuah pernikahan yang mewah sedangkan Soo Hyun ingin yang sederhana. Namun pada akhirnya dia mengiyakan permintaan ibunya hanya untuk membuat ibunya diam karena dia merasa tidak nyaman membahas pernikahan di depan dua pegawai spa.

***

Hee Ra sedang melakukan presentasi. Tiba-tiba Sek. Kim masuk lalu membisiki sesuatu di telinga In Joon. In Joon meminta maaf pada yang lainnya karena harus menunda rapatnya.
Ternyata Tuan Cha datang ke kantor. In Joon bergegas menemuinya. Mereka berbicara berdua di tangga.

Tuan Cha to the point menanyakan apakah ada masalah dengan pekerjaan In Joon. Dia mendengar ada perselisihan dengan Jung Ho masalah tanah. In Joon menjawab semuanya baik-baik saja.

Tuan Cha dengan tegas menyuruh In Joon untuk segera menikahi Soo Hyun. Dia bahkan mengancam, jika Tuan Cha harus membahas hal ini lagi, maka bukan hanya kata-kata yang akan dia keluarkan.

***

In Joon terlihat berlatih taekwondo. Dia tampak begitu beringas hingga berkali-kali membanting lawan mainnya. Hingga akhirnya lawan mainnya protes dan In Joon kehilangan fokusnya, hingga lawannya berhasil membanting In Joon.

In Joon yang sedang stress mendatangi ruangan Suk Jin. Melihatnya, Suk Jin langsung mengeluh.

"Astaga. Tuan Tae! Kau tidak membantu sama sekali di sini, jadi lebih baik kau pulang dan tidurlah. Pergi keluar dan bawa Cha Soo Hyun berkencan. Perluas pabrik dan pekerjakan lebih banyak orang. Berada di sini bersama kami tidak membuatmu menjadi CEO yang baik."
"Bagaimana aku bisa tidur jika peluncuran kurang dari seminggu lagi."

"Astaga. Kau tidak akan berhenti." Suk Jin memilih melanjutkan pekerjaannya.

"Suk Jin. Bagaimana kalau aku tidak menikah?"

Suk Jin tertegun sejenak. "Tidak akan ada hal buruk yang terjadi. Kita akan terus menjadi toko kecil. Lalu kita akan bangkrut di tengah samudera merah ini. Staf? Mereka akan kehilangan pekerjaan dan menjadi pengangguran. Lalu aku? Aku akan mengambil barang toko lalu menjualnya di kereta bawah tanah. Mengapa kau bertanya?"

"Tidak apa-apa kamp**t."

"Ayolah. Itu semua tidak akan terjadi. Jadi kau bisa melakukan apapun yang kau inginkan." (Good Friend!)

***

Hee Ra menggantungkan gantungan mimpi (lupa namanya apa) di atas tempat tidur Hyun Joo. Dia berharap kakaknya selalu bermimpi indah.

Tiba-tiba Tae Oh datang mengetuk pintu. Mereka lalu bicara di luar. Tae Oh menanyakan pekerjaan Hee Ra. Hee Ra tidak menyangka Tae Oh tipe orang yang suka memeriksa pekerjaan rumah orang lain.

"Aku tidak memeriksa. Anggak ini inspeksi mendadak. Kau terlihat percaya diri. Tapi ternyata kau lebih pemalu dari perkataanmu."

Tae Oh meminta Hee Ra segera membawakan hati pria itu.

***

Terlihat Soo Hyun menghubungi Chan Soo (si rentenir). Chan Soo memberi semua informasi tentang Hee Ra yang tiba-tiba pindah ke Seoul dengan membawa kakaknya yang koma dan dibantu oleh Tae Oh.

In Joon berterimakasih kepada rekan-rekannya karena telah menyelesaikan pekerjaan mereka dengan baik. Setelah semua orang pergi, In Joon membuka salah satu kotak sepatu.

Hee Ra kembali ke kantor. Dia menemukan kotak sepatu di bawah meja. Hee Ra membaca sebuah note yang terselip di dalam kotak.

Aku ingin kau memakai ini sebelum orang lain. Sepatu yang bagus akan membawamu ke tempat yang bagus. Aku harap sepatu ini akan memberimu sayap.

Tae In Joon

Catatan : Aku menduga ukuranmu. Aku yakin ini akan cocok.

Hee Ra mencoba sepatunya.

"Kau salah. Ini agak besar."

Hee Ra pulang dengan mengenakan sepatu pemberian In Joon. Jalanan penuh euforia natal. Hee Ra tersenyum bahagia. Lalu salju turun. Hee Ra menengadah dengan riang.
Di apartemennya, In Joon juga sedang tersenyum menatap salju.

***

Soo Hyun menunjukkan foto Hee Ra bersama Tae Oh kepada Tuan Byun.
"Kau tidak akan membiarkannya kan? Seorang wanita pencuri, yang akan menghancurkan semua yang telah dibangun In Joon." Soo Hyun tersenyum menang.



Read More

Sinopsis K-Drama : Fates and Furies ( Episode 7 )

Fates and Furies

Episode 7


Sumber : SBS




Hee Ra dan In Joon saling tersenyum.

"Aku melupakan sesuatu. Bisakah kau mengabulkannya?" Tanya Hee Ra.

"Apa itu?"

"Upacara penyambutan. Ini hari pertamaku kerja. Akan sangat menyedihkan jika aku tidak menerima sebuah perayaan.

Tae Oh menatap mereka dari dalam mobilnya.



In Joon mengajak Hee Ra ke sebuah kedai di dekat rumahnya. Dia menuangkan minuman untuk Hee Ra.

"Minuman lezat ini membuatku sadar. Aku akhirnya di Seoul. Aku akhirnya bekerja kantoran."

Kedai itu memutar sebuah lagu berbahasa Italia. Hee Ra mengenali lagu itu.. Dia lalu bercerita tentang pengalamannya saat sekolah di Italia.

"Apa kau hanya belajar di sana? Italia kan tempat yang bagus."

"Untuk orang miskin sepertiku. Berkencan adalah kehancuran. Aku harus dapat kerja. Aku harus menemukan cara untuk tetap di sini. Aku harus menemukan cara untuk tidak pernah kembali ke rumah. Aku seharusnya tidak berpikir tentang ayah dan kakakku. Dan akhirnya aku dapat ganjaran."

"Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Dalam hidup, hadiah dan ganjaran datang berlawanan."

Tae In Joon kemudian bercerita tentang keinginannya yang justru berlawanan dengan Hee Ra.

"Aku harus kembali bagaimanapun juga. Aku harus kembali dan tetap di sana. Ayahku memberiku uang untuk mempelajari bisnis, tapi aku memilih belajar seni sepatu agar aku bisa pulang ke rumah. Rumahku satu-satunya adalah Gold Shoes."

Hee Ra bertanya berapa usia In Joon saat itu.

"Saat itu musim dingin ketika aku berusia 12 tahun. Seseorang pergi dan orang lain mengambil alih. Usia dimana seseorang belum bisa membuat keputusan." (Mungkin maksudnya ibunya meninggal, dan ibu tiri yang gantiin tapi In Joon tidak bisa berbuat apa-apa karena masih kecil)

"Tetap saja melegakan karena kau bisa pulang ke rumah."

In Joon menyangkalnya karena dia masih dalam proses kesana. Tapi setidaknya sekarang lebih mudah karena ada Hee Ra yang membantunya. Dia lalu penasaran kenapa waktu di Busan Hee Ra menyuruhnya untuk tidak memberikan hatinya.

"Itu jawabanku untuk ciuman di Cheongsopo. Bahkan meskipun kau menginginkan itu terjadi, itu boleh. Yang aku katakan adalah hal yang paling tepat."

***



Selepas In Joon dan Hee Ra pergi, Soo Hyun datang ke kedai. Dia lalu menatap bangku dimana In Joon dan Hee Ra duduk tadi. Ternyata diapun pernah minum di bangku itu bersama In Joon.

***

Saat di dalam taksi, Hee Ra mendapat panggilan dari Sun Young yang sedang berada di kantor polisi. Ternyata Ui Gun, yanh ternyata adiknya Sun Young, membuat masalah dengan Jung Mi. Mereka bertengkar di tempat karaoke karena Jung Mi menuduh Ui Gun mencuri uangnya karena kartu kredit yang dia ambil dari Ah Young kosong saat akan dia gunakan. (Aku rasa Ah Young yang sengaja ngerjain si Jung Min)

***



Nyonya Han masuk ke ruangan Jung Ho. Dia langsung menyalahkan Ah Young soal Jung Min. Ah Young hendak membela diri, namun Jung Ho malah memarahinya dan mengusirnya. Setelah Ah Young keluar, Nyonya Han menyuruh anaknya bekerja sama dengan orang Hongkong itu (Tae Oh) untuk membuat In Joon mundur. Setelah berpikir sebentar, Jung Ho langsung menyetujuinya. Dan Ah Young ternyata menguping dari luar. Dan di sudut ruangan, terlihat sebuah alat menyala. (Sepertinya perekam suara)

***


Soo Hyun sedang berendam sambil minum anggur. Dia teringat saat melihat kebersamaan In Joon dan Hee Ra di kedai. Dia tampak kesal. "Dia akan datang kesini dan membuatku tampak murahan."

***


Soo Hyun menemui Tae Oh di kantor Centan. Tanpa basa basi dia bertanya apakah Tae Oh sengaja masuk Gold Group untuk balas dendam padanya.

"Ya."

"Apa membantu Gold Group berhasil adalah balas dendam?"

"Ya. Aku tidak peduli apakah Gold Group berhasil atau gagal. Tapi kau akan selalu cemas selama kita bekerja sama. Kau menemuiku. Itulah balas dendamnya."

Lalu Soo Hyun menanyakan soal Hee Ra. Apakah balas dendam juga?

"Bukan. Itu hal lain. Itu rencana cadangan."

Soo Hyun jelas kesal. Dia menyuruh Tae Oh pergi setelah dia tidak punya alasan lagi. Pergi ke tempat terjauh dari hidupnya.

"Ternyata kau belum berubah."

"Apa kau masih menyukaiku?"


Tae Oh mencengkeram gelas kopinya. Setelah Soo Hyun pergi, dia kembali mengingat pertemuan mereka di bandara 7 tahun silam.

Flashback

Soo Hyun berkata bahwa mereka sudah mati. Jadi hiduplah seolah-olah sudah mati.
"Kita mungkin sudah mati. Tapi anak kita..."

Belum selesai Tae Oh bicara, Soo Hyun berteriak memotongnya. "Anak itu juga sudah mati!"


Sepeninggal Soo Hyun, datanglah seorang ahjumma menggendong seorang bayi. Dia meminta Tae Oh menghentikan Soo Hyun dan bilang padanya bahwa Tae Oh menemukan bayi yang dibuang ibunya.


Tae Oh berusaha menekan perasaannya. "Ahjumma. Dia akan membunuh bayi ini. Dia bukan ibunya. Dia hanya Cha Soo Hyun."

Flashback end

Tae Oh marah mengingat semua itu. Dia lalu melempar gelas kopinya.


Komentar :

Btw, Hee Ra itu bicaranya pakai logat Seoul loh. Padahal Ui Gun dan Sun Young logat Busannya masih kental banget.



Read More

Sinopsis K-Drama : Fates and Furies ( Episode 6 )

Fates and Furies

Episode 6

Sumber : SBS

Hee Ra, dengan setelan rapi, memasuki gedung Gold Group dengan senyum mengembang. Sek. Kim menemuinya untuk memberikan ID card Hee Ra.

Saat sedang berjalan, terpampanglah spanduk perusahaan dengan Soo Hyun sebagai modelnya. Hee Ra terus menatap spanduk itu. Entah apa yang ada dipikirannya.

Sambil berkendara, Soo Hyun menelepon Tae Oh meminta untuk bertemu. Tae Oh yang juga sedang mengemudikan mobilnya berkata bahwa mereka tidak perlu bertemu. "Ada seorang pencuri wanita dari Busan. Dia ada di kantor In Joon." Soo Hyun sontak memutar balik mobilnya menuju Gold Shoes.

Tuan Kim mengantar Hee Ra ke ruangannya. Hee Ra memperkenalkan diri. Tapi tak ada seorangpun yang menyambutnya. Bahkan Hyun Jung terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya. Dia meminta semuanya untuk rapat kecuali Hee Ra. Hyun Jung meminta Sek. Kim untuk mengajak Hee Ra berkeliling kantor saja. Namun Hee Ra dengan tegas berkata akan ikut rapat. Dia bisa berkeliling nanti.

Tiba-tiba Soo Hyun masuk.

Soo Hyun dan Hee Ra bicara di rooftop. Soo Hyun to the point tidak ingin Hee Ra ada di sana.

"Kenapa aku?"

"Jika aku memberitahumu apa kau akan pergi? Aku sudah memberitahumu untuk tidak terlalu menempel. Tapi mengapa kau tidak bisa mengerti?"

Soo Hyun bertanya apakah Hee Ra tahu berapa banyak uang yang dia keluarkan guna menyumpal mulut wartawan karena pertunjukkan di Busan.

"Orang-orang sepertimu tidak akan rugi. Jika kau beruntung dengan seorang pria itu bagus. Jika tidak kau bisa mencari orang lain. Tapi aku selalu jadi yang lemah ketika melawan orang sepertimu. Jadi aku akan membuangmu sebelum melakukan sesuatu."

Hee Ra tersenyum sinis dan berkata kalau Soo Hyun ternyata jauh lebih lemah dari yang terlihat. "Kau tidak akan bisa menghentikanku. Bagiku, Tae In Joon adalah seseorang yang harus aku terima karena mengakui keunggulanku. Tapi bagimu, dia adalah tunangan yang sangat kau cintai. Jadi berhentilah mengomporiku. Kau membuatku ingin mencuri hatinya darimu."

Soo Hyun kesal dan menampar Hee Ra. Dia akan menampar untuk yang ke dua kalinya namun In Joon menahan tangannya. Dia lalu mengusir Soo Hyun secara halus dengan meminta Sek. Kim mengawalnya dengan sopan.

Hee Ra masuk ke ruang rapat. Semua orang terlihat suka.

In Joon mengajak Soo Hyun bicara.

"Aku tahu kita akan menikah. Tapi ada batasan untuk dijaga."

"Terimakasih sudah mengatakan apa yang ingin ku katakan." Soo Hyun meminta In Joon memecat Hee Ra jadi dia bisa menjaga sopan santunnya.

"Cha Soo Hyun, ini adalah tempat kerjaku dan aku adalah CEO. Jangan melewati batas. Aku tidak bisa diam lagi jika kau mencampuri urusan perudahaanku. Aku mempekerjakanmu sebagai model. Kau adalah orang luar."

Soo Hyun marah mendengarnya.

Nyonya Han, Jung Min, dan Ah Jung sedang berada di tempat spa. Tiba-tiba Jung Min mengeluh perutnya sakit dan ijin kepada ibunya ke toilet. Dia menarik Ah Jung bersamanya.
Jung Min menyambar dompet Ah Jung dan mengambil kartu kreditnya lalu melempar dompetnya ke lantai. Ah Jung langsung khawatir jangan-jangan Jung Min mau kabur. Dia memanggil Jung Min dengan Agashi. (Jung Min ini juga kasar banget sama Ah Jung. Oh malangnya Ah Jung. Menantu teraniaya)

Setelah Jung Min pergi, Ah Jung memungut dompetnya. Dan ternyata sedari tadi dia menyalakan perekam suara di ponselnya. Ah Jung tampak tersenyum tipis.

Hee Ra sedang menunggu bus di halte. Bus datang, namun Hee Ra tidak beranjak dari duduknya. Sepertinya dia sengaja menunggu In Joon lewat. Dan benar saja, tampak In Joon di mobilnya sedang memperhatikan Hee Ra yang sedang memukul-mukul kakinya yang pegal karena seharian memakai high heels.

Pak Hyun (In Joon manggilnya paman Jung Soo) menelepon In Joon memberitahu bahwa Soo Hyun sedang menemui Tuan Tae dengan membawa ginseng liar. Dia menyuruh In Joon pulang secepatnya. In Joonpun melajukan mobilnya melewati Hee Ra begitu saja. Hee Ra terlihat kecewa. Padahal sepertinya tadi In Joon berniat mengantar Hee Ra.

In Joon menemui ayahnya dan Soo Hyun. Ternyata Soo Hyun datang untuk menyogok Tuan Tae agar dia diberi posisi di perusahaan In Joon. Pura-puranya sih mau membantu In Joon. Padahal ada udang di balik batu.

Jung Min sedang heboh karaokean. Namun di tengah-tengah lagu tiba-tiba dia membanting mic dan marah-marah menyuruh 4 orang temannya keluar. (Bukan teman si kayaknya. Kalo nggak salah host ya sebutannya)

Terlihat Ui Gun sedang mengantri di depan ruang karaoke yang dipakai Jung Min. Tadinya dia berniat untuk pergi. Namun saat temannya mengatakan kalau bayarannya besar, Ui Gunpun ikut masuk. Dan Jung Min nampaknya langsung suka padanya.

Tae Oh kembali ke kantornya. Dan ternyata Hee Ra juga ada di kantor baru saja menyeduh mie instan. Akhirnya mereka makan mie bersama. (Triknya Hee Ra nih)

Mereka ngobrol sebentar lalu Hee Ra ijin pulang duluan. Dan ternyata Tae Oh sudah menunggunya di bawah. Hee Ra masuk ke mobilnya.

"Bagaimana kau tahu dia akan kembali ke kantor?" (Oh ternyata Tae Oh yang nyuruh toh)
"Kebetulan yang terus berulang, akan berubah menjadi sebuah takdir."

"Aku tidak tahu tentang takdir. Tapi aku pikir aku pantas tahu mengapa?"

"Hanya aku yang bisa bertanya. Kau hanya menjawab. Kita lakukan saja apa yang sudah kita sepakati. Aku menolak tawar menawar dalam bentuk apapun."

Hee Ra jengah dan memalingkan mukanya ke jendela. Saat itulah dia melihat In Joon keluar dari kantor.

"Kau dulu yang melanggar perjanjian. Kau bilang aku bisa memilih strategiku," ucap Hee Ra pada Tae Oh. Dia turun dari mobil.

Hee Ra dan In Joon berpapasan di jalan, seolah-olah itu sebuah kebetulan. Mereka saling menyunggingkan senyum.

Aku tidak akan terpengaruh lagi
Mulai sekarang, takdirku aku yang tentukan


Bersambung ke Fates and Furies episode 7


Read More

Sinopsis K-Drama : Fates and Furies ( Episode 5 )

Fates and Furies

Episode 5

Sumber : SBS

Episode 4 berakhir saat In Joon menawari Hee Ra untuk membuat sepatu bersama. Dan yang tidak disangka, In Joon mendekat untuk mencium Hee Ra. Akankah Hee Ra menerimanya? Check it out!



Hee Ra mengingat kesepakatannya dengan Tae Oh. Seharusnya ini bisa menjadi kesempatannya untuk meraih hati In Joon. Tapi dia lebih memilih memalingkan wajahnya. In Joon terlihat kecewa sekaligus malu.




Hee Ra mengajak In Joon ke rumahnya. Dia memperlihatkan sepatu-sepatu hasil buatannya. Termasuk salah satunya, high heels hitam yang desainnya ditunjukkan Tae Oh pada Hyun Jung.

Hee Ra mengajukan satu syarat jika memang In Joon benar-benar menginginkan sepatunya.
"Apapun yang kulakukan. Jangan berikan hatimu padaku."

In Joon terdiam sejenak. Tapi akhirnya dia menyetujuinya.


Hee Ra mengantar In Joon ke taksi. In Joon bilang akan mengirim truk besok untuk membawa sepatu-sepatu Hee Ra. "Akan lebih baik jika kau ikut masuk ke truk itu." Mereka berdua tersenyum.


Soo Hyun makan malam dengan orangtuanya dan orangtua In Joon. Mereka memuji Soo Hyun yang pandai berbisnis dan selalu mendukung In Joon dalam segala situasi. Ibu tiri In Joon satu-satunya yang terlihat tidak suka.


Meskipun saat makan malam mereka saling tersenyum dan tertawa. Namun ketika mereka pulang dengan mobil masing-masing, mereka membicarakan satu sama lain. (Intinya hubungan mereka cuma buat bisnis dan ga ada yang mau rugi)


Sepulang dari Busan, In Joon langsung menemui ayahnya yang kecewa karena In Joon melewatkan makan malam padahal katanya ingin memenangkan pertarungan.

In Joon beralasan ada sesuatu yang lebih mendesak. "Aku akan menghancurkan Centan dan membidik pasar yang lebih besar. Aku akan menghidupkan kembali bisnis sepatu."

Ayah malah menyuruhnya untuk tidak terlalu fokus pada satu hal dan segera menentukan tanggal pernikahan. Bahkan dia melarang Tuan Byun untuk membantu In Joon lagi.

"Yang kau butuhkan saat ini adalah kekuatan ketua Cha. Memohon atau berlutut jika perlu. Tunggu sampai permainan berakhir. Saat itulah kau dapat memilih untuk jadi penuh belas kasihan atau kejam."



Diam-diam, Ah Jung (istri Jung Ho) menguping dari luar. Ternyata Jung Ho yang memerintahnya. Tapi Nyonya Han memergokinya dan langsung mendorongnya hingga teh yang dia bawa terjatuh.

"Apa itu?" teriak Tuan Tae (ayah In Joon)

Nyonya Han mengatakan bahwa Ah Jung menjatuhkan gelas dan akan segera mengganti tehnya. Setelahnya dia menyeret Ah Jung ke ruangan lain dan memarahinya habis-habisan.
Jung Ho datang. Kirain mau ngebelain istrinya. "Eomma. Bawa dia ke ruangan tertutup dan pukuli dia." Ah Jung hanya bisa menangis tertahan. (Astaga. Kasihan banget  Ah Jung di dzolimi terus sama mertua dan suaminya)


Jung Ho masuk ke ruangan Tuan Tae. Dia memberitahu In Joon kalau dia sudah bertemu manager Centan dan membicarakan tanah di Gonjiam. Sepertinya Centan juga tertarik tentang membangun pusat perbelanjaan.

Emosi In Joon tersulut karena tujuan utamanya adalah membangun perusahaan sepatu di Gonjiam untuk mewujudkan impian ibunya. Dia hampir saja memukul Jung Ho kalau Tuan Byun tidak memeganginya. Tuan Tae menyuruhnya pulang saja.

Hee Ra menjenguk kakaknya. "Kakak, apa kau ingat?"






Flashback

Hee Ra dan Hyun Joo menebar abu ayah mereka di laut.

Hyun Joo bertanya, "Apa yang kau pikirkan?"

"Bagaimana denganmu?"

"Aku berpikir semuanya terasa seperti mimpi."

"Kau benar."

Hyun Joo menggenggam tangan Hee Ra. Hee Ra bertanya, "Eonni. Apa kau tahu jam tangan ayah tidak pernah benar-benar menyala? Dia bisa memperbaiki atau membuangnya. Aku bertanya kenapa dia memakai jam yang rusak."

Terlihat Hyun Joo meneteskan airmatanya. Hee Ra melanjutkan. "Ayah mengatakan jam yang rusak setidaknya benar dua kali sepanjang hari. Hidupku mungkin berantakan sekali. Tapi setidaknya jam tanganku memberitahuku  waktu yang benar dua kali sehari. Itu yang dia katakan padaku."

Flashback end




"Apa yang ayah katakan saat itu benar-benar menghiburku. Dan berpikir itu bisa saja sama untukku juga. Itu kenapa aku tidak memperbaiki jam itu juga."

Hee Ra mengeluh kenapa waktunya selalu terlalu cepat atau terlambat. Padahal dia hanya membutuhkan waktu yang tepat dua kali sehari.

Hee Ra mengingat saat Tae Oh memintanya mencuri hati In Joon. Dia juga mengingat saat In Joon memintanya membuat sepatu bersama. "Eonni. Aku akan segera bergerak. Hidupku yang sekarang, berakhir di sini."

Aku akan mencoba untuk memulai waktu yang tepat sendiri. Aku akan mulai serakah. Aku akan melihat kemana sepatuku menuntunku. Aku tidak menyesal telah memegang tangan orang itu.



Hee Ra dan Tae Oh bertemu. "Kamu benar. Orang itu datang menemuiku."

"Bawalah padaku. Bawalah hatiku bersama sepatu yang kau kirimkan padanya."

"Aku harus membawa seseorang bersamaku ke Seoul. Aku ingin kau membantu mengurusnya."

Awalnya Tae Oh menolak. Tapi akhirnya dia berkata akan mengurus biaya rumah sakit Hyun Joo.




Lagi-lagi Soo Hyun minum sendirian di apartemen In Joon dan In Joon baru selesai mandi. Dia kesal karena Soo Hyun selalu masuk tanpa ijin. Mereka membicarakan Nyonya Han yang juga tahu kode apatemen In Joon.

Soo Hyun berusaha mendekati In Joon. Dia dengan berani hendak mencium In Joon. Tapi In Joon jelas menolak dan mendorongnya pelan. "Jangan melewati batas. Ini hanya pernikahan untuk kenyamanan.

Soo Hyun kesal dan membanting gelas anggurnya.



Mobil box dari Gold Shoes pergi setelah semua sepatu Hee Ra dimasukkan ke dalamnya. Hee Ra mengajak Sun Young untuk makan jajangmyun terakhir di Busan.

Hee Ra dan Sun Young pergi ke Seoul dengan menaiki ambulans  yang membawa kakaknya. Mereka meninggalkan Busan.


Bersambung ke Fates and Furies episode 6


Read More