Showing posts with label The Crowned Clown. Show all posts
Showing posts with label The Crowned Clown. Show all posts

The Crowned Clown Episode 16 Part Final




The Crowned Clown
Episode 16 Part Final


Sumber gambar dan konten : TVN

Baca the crowned clown part sebelumnya

Pada part sebelumnya, di perjalanan Mo Young dan Ha Sun dihadang oleh pengikut fanatik ibu suri yang ingin membalas dendam. Ha Sun terkena panah dua kali di punggungnya sedangkan Mo Young tertusuk pedang di perutnya. Keduanya tersungkur ke tanah berbatu.


Sementara So Woon sedang menikmati pemandangan sore, menunggu kedatangan Ha Sun sambil tersenyum tanpa tahu apa yang terjadi pada orang yang dicintainya.


Dua tahun kemudian.

Rombongan badut Gab Soo dan Dal Rae sedang mementaskan sandiwara di sebuah desa. Tidak seperti dulu saat mereka mengolok-olok raja dan ratu sebagai lelucon, kali ini ceritanya bergeser. Sang badut memerankan raja yang baik dan mencintai rakyatnya.


So Woon sedang berjalan di tengah desa ketika anak-anak perempuan berlari tak sabar ingin menonton pertunjukkan badut. Mendengar kata badut, So Woonpun tertarik untuk melihatnya. Mungkin dia berharap akan bertemu Ha Sun di sana. Tapi dia harus kecewa. Sang badut bukanlah Ha Sun. Meski si badut mengenakan topeng, tapi So Woon bisa tahu dari suaranya kalau dia bukan Ha Sun.


So Woon memberikan dua buah cincin berharganya saat Dal Rae menarik sumbangan.

Dal Rae sampai kaget. "Ini terlalu berharga. Uang atau barley sudah cukup."

"Ambillah. Aku hanya bersyukur mendengar tentang orang yang aku kagumi."

Meski bingung dengan ucapan So Woon, Dal Rae menerima cincin itu dan berterimakasih. Dia menatap So Woon sebelum meninggalkannya.

(Dari tatapan So Woon ke Dal Rae, asumsiku So Woon tahu kalau itu adiknya Ha Sun. Tapi kalau Dal Rae, dia nggak kenal So Woon karena waktu di istana dia nggak sempat ketemu So Woon. Walaupun So Woon juga belum pernah ketemu Dal Rae, tapi mungkin dia bisa menebaknya atau mungkin mendengar namanya dari penonton. Mungkin)


Woon Shim mengemasi barang-barang Lee Kyu ke dalam koper. Saat akan memasukkan baju Lee Kyu, hatinya bergetar. Dia menangis tersedu-sedu.

Beberapa saat kemudian, Woon Shim keluar dari tempat hiburan di antar Ho Geol. Ho Geol bertanya Woon Shim mau pergi kemana sendirian.

"Jangan khawatir. Aku akan mengelilingi negeri ini, melihat pemandangan, dan menikmati kehidupanku."

"Baiklah. Tentu saja. Sudah 3 tahun (?) sekarang. Kamu harus melepaskan semuanya dan melebarkan sayapmu. Kyu pasti akan mengerti."

"Bukan begitu."

"Baiklah. Terserah kamu! Kemanapun kamu pergi, jangan lupa untuk selalu mengabariku," ucap Ho Geol sambil menahan tangisnya."


So Woon melamun di kamarnya sambil menatap kompas yang pernah dia belikan untuk Ha Sun.

Malam itu, saat So Woon dan Ae Young masih setia menunggu Ha Sun, datanglah dua orang pengawal menghampiri mereka.

"Dimana Yang Mulia?"

Kedua pengawal langsung berlutut. "Maafkan kami Yang Mulia Ratu, kami khawatir kalau Yang Mulia sudah meninggal. Kami pantas untuk mati."

Informasi itu bagai petir di siang bolong. "Tidak mungkin. Dia menyuruhku menemuinya di sini. Dia pasti masih dalam perjalanan."


So Woon hendak pergi menjemput Ha Sun. Tapi pengawal itu menunjukkan kompas milik Ha Sun. Seketika So Woon ambruk ke tanah dan menangis.

Pengawal bilang mereka menemukan tubuh Mo Young yang sudah meninggal tapi mereka tidak menemukan tubuh raja.

"Tidak mungkin. Kalau tubuhnya tidak ditemukan, berarti dia masih hidup. Dia pasti akan kembali," ujar So Woon berusaha menyangkal kenyataan. Dia menangis keras seperti yang sekarang dia lakukan di kamarnya. Karena meskipun dia berusaha menyangkal kematian Ha Sun, tapi selama 3 tahun berlalu, Ha Sun tak pernah menunjukkan wajahnya.


Pagi-pagi, So Woon sudah melamun di halaman rumahnya yang sangat sederhana. Ae Young keluar dengan panik karena ketiduran dan terlambat bangun. Dia berkata akan segera membuatkan sarapan.

"Tidak apa-apa. Aku ingin pergi jalan-jalan. Santai saja."

"Kalau begitu jangan pergi terlalu jauh. Jalan saja di sekitar desa."

"Oke."

***

So Woon berjalan sambil teringat kenangan saat dia bersama Ha Sun di jembatan harapan di kelilingi kunang-kunang. Saat itulah mereka terpesona melihat satu sama lain. Ha Sun menyatakan cintanya di dalam hati. Dan pernyataan cinta itu akhirnya benar-benar bisa dia ungkapkan pada So Woon di perpustakaan. Pernyataan cinta yang tidak pernah bisa dilupakan So Woon hingga detik ini.


Aku jatuh cinta padamu. Jantungku terasa ingin meledak dan aku tidak peduli. Sebesar itulah cintaku padamu.

Walaupun hanya sekali, aku ingin bersamamu. Berada di sisimu. Aku ingin mendengar tawamu dan hidup bersamamu dalam waktu yang lama. -pernyataan cinta Ha Sun saat So Woon ingin melompat dari tebing-



Mari kita bermain bunga musim semi dan bermain hujan saat musim panas. Memungut kacang hazel di musim gugur. Aku akan membuatkanmu boneka salju pada musim dingin berikutnya. Aku berjanji. -janji cinta mereka di bawah naungan dua pohon yang saling terkait-

So Woon meneteskan airmatanya mengingat semua itu. Saat itu dia melihat dua anak kecil memainkan buah hazel.


"Untuk goblin yang melindungi rumah. Bawalah musim semi secepatnya. Supaya aku bisa membuat panekuk bunga azalea dan boneka jerami," kata salah satu anak itu.

So Woon tertegun melihatnya. Dia mendekati gadis kecil itu dan bertanya siapa yang mengajarinya membuat harapan seperti itu.

"Seorang pria yang lewat yang memberitahuku."

"Ke arah mana dia pergi."


Gadis itu menunjukkan arahnya. So Woon segera berlari ke arah yang ditunjukkan bocah kecil tadi. So Woon terus berjalan menyusuri desa. Dia melihat seorang pria berbaju biru dengan postur tubuh mirip Ha Sun. So Woon segera berlari mengejarnya. Tapi ternyata orang itu bukan Ha Sun. Sebutir airmata jatuh dari pelupuk mata So Woon.


So Woon berakhir di sebuah padang ilalang. Di tangannya ada sebutir buah hazel.


Dia memecahkan cangkang hazel itu dengan menggigitnya. Sambil menggenggam buah hazel yang sudah terbuka, So Woon memejamkan matanya membuat harapan.


Bersamaan dengan selesainya doa So Woon, tampak seseorang berjalan di belakangnya. So Woon berbalik hendak pulang. Dia tertegun melihat Ha Sun di depannya. Dalam ketidakpercayaan masing-masing, mereka berjalan saling menghampiri hingga mereka saling berhadap-hadapan.


So Woon masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Aku sudah memimpikan ini berkali-kali. Saat aku mendekatimu kamu menghilang. Itu adalah mimpi yang menyedihkan. Jika ini juga mimpi, aku tidak akan mendekat lagi. Tolong tetaplah di tempatmu. Biarkan aku melihatmu."


"Ini bukan mimpi. Untuk mendatangimu, aku berjalan tanpa henti di dalam mimpi. Untuk melihatmu, aku memimpikan mimpi dimana aku tidak mau bangun."

Keduanya meneteskan air mata.

"Kenapa kamu lama sekali?"

"Maafkan aku. Saat aku akhirnya sadar, sudah banyak waktu yang berlalu. Aku ingin berlari seperti angin karena kupikir jalanku terlalu lambat."


So Woon tak kuasa menahan rindunya. Dia menghambur ke pelukan Ha Sun.

"Seharusnya kamu memanggilku. Maka aku berlari padamu."

Airmata Ha Sun mengalir deras. "Maaf karena membuatmu menunggu terlalu lama."

So Woon melepas pelukannya. Mereka saling menatap penuh kerinduan.

Walaupun kamu kehilangan arah, dan terkadang mengambil jalan memutar yang jauh, aku akan selalu tahu jika kamu akan datang padaku. -So Woon-

Aku sudah selesai menjalani kehidupanku sambil merindukanmu. Sekarang tidak ada yang bisa memisahkan kita. -Ha Sun-


Ha Sun mengulurkan tangannya dan So Woon menyambut uluran tangan itu. Mereka berjalan sambil bergandengan tangan dan sesekali saling menatap.


Di jalanan yang di apit hamparan padang ilalang yang sangat luas dan tinggi, cinta Ha Sun dan So Woon bersatu kembali.

Pada bulan Januari di tahun babi hitam, seluruh bangsa memuji kebajikan raja. Dia mencopot jabatan ratu dan turun tahta, lalu tiba-tiba meninggal dunia. Rumor mengatakan jika ada badut yang mirip dengan raja dan dia dianggap masih hidup. Tetapi tidak satupun dari hal itu yang dianggap benar.

HAPPY ENDING :)

SEE YOU AT HE IS A PSYCOMETRIC

Komentar :

Alhamdulillah :)

Gomawo chingu yang sudah setia dan sabar mengikuti sinopsis drama ini. Insha Allah drakor selanjutnya yang bakal aku recap adalah He is  Psychometric

Gimana kesan kalian sama drama ini?

Kalo aku sih cukup puas. Menurutku happy ending kok buat Ha Sun dan So Woon. Asumsiku Ha Sun baru muncul setelah bertahun-tahun karena koma. Dalam komanya dia terus memimpikan hal-hal yang menyenangkan bersama So Woon makanya dia nggak bangun-bangun. Dan setelah bangun dan pulih, dia langsung deh nyari So Woon di desa Zelkova dan ketemu di padang ilalang.


Untuk akting para pemerannya.... DAEBAK!!! Semua cast keren dalam memainkan perannya masing-masing menurutku. Ibu Suri dengan ledakan amarahnya, Shin Ci Soo dengan wajah dingin dan ambisusnya, Kasim  Jo dengan kesetiannya, Mo Young yang pendiam namun sangat loyal, Lee Kyu yang ambisius sekaligus cerdas, Ho Geol dengan segala kelucuannya, Woon Shim yang lembut dan penyabar, So Woon yang calm tapi tegas, dan terutama Yeo Jin Goo tentunya. Mimik mukanya itu loh. Luar biasa! Memainkan dua karakter sekaligus dan berhasil membuat penonton bisa membedakan mana Ha Sun dan Lee Hun.

Waktu pertama jatuh cinta sama So Woon, ekspresinya jenaka dan kekanakkan. Tapi setelah cintanya terbalas dan jadi semakin dewasa karena berbagai masalah yang di hadapinya, ekspresi memujanya juga berubah. Awesome pokoknya Jin Goo. Gara-gara drama ini aku jadi suka sama dia.

Sekali lagi terima kasih chingu. Jangan lupa share ya. Anyeonghaseyooo :)


Read More

The Crowned Clown Episode 16 Part 2

The Crowned Clown
Episode 16 Part 2


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca episode 16 part 1

Ibu suri tampak cemas melihat keadaan yang sangat hening tanpa tanda-tanda datangnya kemenangan. Dia menyuruh dayangnya untuk melihat kondisi di luar.

Belum sempat dayang ibu suri beranjak dari duduknya, datang si pengawal pribadi Jinpyung.


"Yang Mulia, aku membawa berita kemenangan. Kami merebut istana dan menangkap pencuri itu," kata si pengawal Jinpyung dengan hebohnya seolah mereka benar-benar menang.

"Kenapa kamu di sini bukannya Shin Ci Soo?"

"Tuan Besar Goseong gugur dalam pertempuran. Yang Mulia terkurung dan aku membawa surat untuk Anda lihat.

Jika kamu berjanji untuk tidak meminta pertanggungjawaban orang-orangku, aku akan mengakui kejahatanku dan menyerahkan segel istana. Datanglah jam 8. 

Setelah selesai membaca surat Ha Sun, Ibu Suri memerintahkan untuk memanggil Younghwa.

Ibu Suri datang ke istana dengan memakaian pakaian kebesarannya. Younghwa memberi salam padanya di lorong istana yang menuju ruangan raja. Ibu tersenyum padanya.

Ha Sun sudah menunggu Ibu Suri di ruangannya. Ibu Suri berkata itu pertama kalinya dia melihat singgasana.

"Saat dia masih hidup, ayahmu menggunakan segala cara untuk mengalahkanku dalam mengambil alih tahta. Pangeran Gyeongin mungkin sudah tidak ada, tapi aku sendiri yang akan memenuhi impiannya. Sekarang akui kejahatanmu! Kamu bersekongkol dengan Aishin Gioro dan tidak menghormati Dinasti Ming," ucap Ibu Suri dengan senyum sinisnya.

"Aku tidak punya kejahatan untuk diakui."

"Apa? Apa kamu menyangkal adanya surat rahasia?"

"Surat rahasia itu adalah caraku untuk melindungi bangsa ini. Untuk melindungi rakyatku, aku tidak akan ragu melawan siapapun. Ini adalah tugasku sebagai raja."


"Beraninya kamu! Kamu bilang akan mengaku. Itu jebakan."

"Aku memanggilmu kesini, untuk mengambil tindakan akhir pencopotanmu."

"Kamu tidak punya hak untuk mencopotku!"

"Semuanya, masuk ke sini!"

Para menteri dan anggota dewan masuk ke ruangan. Ha Sun duduk di singgasananya.


Satu orang lagi yang masuk ke ruangan itu. Pangeran Younghwa. Ibu Suri menarik nafas lega melihatnya. Tapi dia berubah marah saat Younghwa memberi hormat pada Ha Sun.

"Kamu menipuku?"

"Aku tidak menipumu. Aku hanya menuruti perintah Yang Mulia."

(Sukurin tuh Ibu Suri. Habis deh pion-pionnya)

"Dengan mengikuti perintahku, kejahatanmu akan dihapuskan." (Seneng ya yang jadi penjahat di era kerajaan. Asal tobat aja bisa diampuni tanpa dihukum asal nggak bikin makar)

Younghwa bersujud berterimakasih. Ibu Suri menyebutnya bod*h karena Ibu Suri akan memberinya tahta.

Kasim Jo maju menyerahkan sebuah dokumen. Ha Sun membacakan kejahatan apa saja yang sudah Ibu Suri perbuat. Menyakiti ratu, memerintahkan pembun*han Tuan Yoo, dan memimpin pemberontakan. Padahal dia sudah berusaha menghormati dan melayani Ibu Suri.


"Dengan ini aku mencopot Ibu Suri dan memerintahkannya meminum rac*n!"

Ibu Suri melongo tak percaya. Dia marah-marah pada para menteri yang tidak berani menentang raja. Ibu Suri tertawa miris. Ibu Suri marah-marah pada Ha Sun.

"Keluarkan dia dari sini!!"

"Baiklah!!"

Ibu Suri mengumpat dan mengutuki Ha Sun.

"Kematian bukan akhir bagiku!!" (Emang mau ngapain lagi Bu?)

"Aku akan menanggung dosaku sendiri dan kamu pun harus melakukan hal yang sama."

Seorang kasim hendak menyeret Ibu Suri tapi Ibu Suri segera menghempaskan tangannya. Dia berjalan sendiri dengan langkah yang lunglai.


Ibu Suri duduk di lantai dingin halaman pengadilan dengan pakaian putih khas narapidana Joseon. Dayangnya duduk di belakangnya dengan pakaian yang sama sambil menangis. Hanya para pengawal yang menyaksisan mereka.

Ibu Suri mengangkat cawan minuman berac*un dan meminumnya. Beberapa saat kemudian, darah segar keluar dia mulutnya. Ibu Suri ambruk menahan sakit dan menunggu malaikat kematian datang menjemputnya.


Ha Sun duduk melamun meski ada So Woon di depannya. So Woon berdiri dan bersimpuh di dekat Ha Sun lalu menyentuh tangannya. Ha Sun memandang So Woon.

"Ini pertama kalinya aku menumpahkan darah di tanganku. Aku tidak akan menyesalinya. Demi melindungi bangsa ini dan rakyatnya, aku akan menanggung apapun yang lebih buruk. Aku tidak akan menjadi binatang haus darah yang menggunakan kekuasaannya untuk kepentinganku sendiri. Aku tidak akan ragu melakukan hal yang benar walaupun aku takut."

"Sekarang kamu tahu beban dari tahta. Kamu bisa mengambil langkah berikutnya. Aku akan berada di sisimu selamanya, tapi ini juga jalan yang harus kamu lalui sendiri. Saat waktunya tiba, saat kamu ingin beristirahat, datanglah padaku. Aku akan selalu berada di sini untukmu."


Ha Sun meletakkan tangannya di atas tangan So Woon. Mereka saling menatap dalam.

***

Ha Sun membaca laporan Ho Geol tentang aturan pembayaran beras yang sudah diperluas ke beberapa provinsi. Ho Geol minta ijin untuk mengambil libur. Ha Sun mengusulkan untuk liburan ke Pulau Jeju. Ho Geol melongo. Antara senang dan tidak senang. Senang akhirnya bisa libur setelah satu tahunan bekerja. Tidak senang karena, kenapa harus Pulau Jeju?


(Kalau sekarang sih Pulau Jeju indah dan jadi tujuan wisata. Tapi pada masa Joseon, Pulau Jeju sering dijadikan tempat pengasingan untuk narapidana. Kehidupan warganya pun sangat keras. Mereka sering dimintai upeti untuk istana. Makanya di drama ini Pulau Jeju juga termasuk provinsi yang diberlakukan aturan pembayaran beras)

Ho Geol berterimakasih sambil tersenyum miris dan tertawa nelangsa. Ha Sun tersenyum lebar melihat tingkahnya. Sepertinya dia cuma mengerjai Ho Geol.


Ha Sun rapat dengan beberapa orang membahas mengenai wacana diterbitkannya buku pertanian versi korea agar rakyat belajar bertani dengan benar dan tidak kelaparan. Beberapa orang tidak setuju. Tapi seorang dari mereka, Gisoeng (cameo : Yoon Park) membela raja dan setuju dengannya demi rakyat dan bla bla bla. Ha Sun tersenyum kagum padanya.

***

Ha Sun membaca banyak dokumen di perpustakaan. Kasim Jo melihat wajah Ha Sun yang terlihat kurang sehat. Dia menyarankan Ha Sun untuk tidur dulu karena semalam dia hampir tidak tidur. Ha Sun menyuruh Kasim Jo saja yang tidur duluan karena masih punya tumpukan dokumen yang harus dia baca.


Beberapa saat kemudian, Ha Sun tampak tertidur di meja. So Woon masuk dan khawatir melihat kening Ha Sun berkerut dalamnya tidurnya. Dia kemudian menyentuh kening Ha Sun agar kerutannya menghilang. (Perasaan sering banget deh adegan gini di drama korea)

***

Ha Sun mengajak Gisoeng dan Mo Young melihat aktifitas petani dari kejauhan.

"Lihatlah orang-orang polos dan jujur yang menabur dan membajak ladang mereka. Walaupun aku turun dari tahta dan meminta salah satu dari mereka menggantikanku, negara seharusnya tidak punya masalah dengan hal itu. Seperti itulah negara yang hebat."


"Aku setuju denganmu. Raja hanya menyetujui diskusi istana dan menerima tanggungjawab atas akibatnya. Dia tidak boleh menggunakan kekuasaan sesuka hatinya. Tidak juga digoyahkan oleh pejabat yang licik. Saat itulah rakyat akan hidup dengan damai tanpa penderitaan."

Ha Sun tampak semakin kagum pada sosok Gisoeng.

***

Diskusi istana.

Seorang menteri membahas Ha Sun yang belum juga punya keturunan padahal berkat Ha Sun, rakyat bisa hidup damai dan sejahtera. Yang lainnya menyarankan agar Ha Sun mengambil selir baru. Ratu pasti tidak keberatan.

Ha Sun terdiam.


Saat berdua dengan Ha Sun, So Woon berkata agar Ha Sun tidak perlu mengkhawatirkannya. "Pilihlah seorang selir."

"Kamu tahu aku tidak akan melakukannya. Pemerintahanmu hanya bisa stabil setelah kamu punya penerus. "

"Ratu. Tolong jangan khawatirkan hal itu. Aku sudah punya penerus dalam pikiranku."

"Apa? Siapa?"

"Tuan Gisoeng. Aku berencana memberikan tahta padanya." (Buset dah)

Ha Sun menjelaskan kalau dia sudah mengamati para pejabat dari dekat. Dia pikir Gisoeng bisa jadi raja yang hebat. Ha Sun memandang kursinya.


"Tempat ini bukan hanya milikku. Aku hanya meminjamnya untuk sementara waktu. Itulah sebabnya aku ingin turun tahta saat bebannya semakin berat. Aku raja, tapi aku juga salah satu dari rakyat. Aku ingin kembali jadi salah satu dari mereka. Bisakah aku melakukannya?"

So Woon berkaca-kaca. "Kamu sudah melakukan lebih dari cukup. Aku akan menerima setiap keputusan yang kamu buat."

"Ratu."

"Yang Mulia. Bebaskan aku dari jabatanku lebih dulu."

So Woon menjelaskan kalau dia harus tetap di istana dan jadi ibu suri kalau Ha Sun turun tahta. Jadi dia meminta Ha Sun mengirimnya pergi supaya dia bisa menunggu Ha Sun di luar istana. Ha Sun menatapnya haru.


Ha Sun duduk di singgasananya menatap sebuah dokumen bersampul merah. Dokumen itu berisi pemberitahuan penurunan tahtanya dan penunjukkan Gisoeng sebagai gantinya.

Ha Sun mengambil segel rajanya dan dengan yakin menstempel dokumen itu.

***

Ha Sun dan Mo Young menunggu So Woon dan Ae Young yang akan pergi dari istana hari itu. Setelah So Woon keluar, Ha Sun memintanya pergi lebih dulu sementara dia akan menyusul setelah menyelesaikan semua urusannya di istana.

"Aku akan berada di desa Zelkova yang ada di luar kota," kata So Woon.


Ha Sun mengangguk lalu memberi So Woon sebuah belati kecil. Itu belati So Woon yang Ha Sun ambil saat dulu hendak bun*h diri karena ayahnya akan di hukum mati.

"Apa kamu ingat janjimu padaku?"

"Ya. Aku bilang tidak akan pernah menyakiti diriku lagi."

"Benar. Aku kembalikan padamu agar kamu bisa melindungi dirimu."

"Jangan khawatir. Aku akan memegang janjiku."

Ha Sun tersenyum mendengarnya.


Para pejabat bersujud beberapa kali memberikan penghormatan kepada raja baru mereka. Raja Gisoeng.

***

Ha Sun mengemas beberapa buku di perpustakaan. Kasim Jo minta ikut dengannya tapi Ha Sun menolaknya. Ha Sun bilang dia sudah mempromosikan Kasim Jo ke tingkat dua junior. Ha Sun meminta Kasim Jo melayani raja baru sebaik dia melayani Ha Sun.

"Setinggi apapun promosi yang kamu dapatkan, kamu tetap kasim bagiku," canda Ha Sun.


Kasim Jo tersenyum. Dia lalu memberikan gambar yang pernah dia buat untuk membalas gambar ucapan terimakasih Ha Sun. Dia bilang menggambar itu berdasarkan nama Ha Sun. Peri musim panas.

Ha Sun tersenyum saat melihat melihat lukisan Kasim Jo. Dia menganggap nama itu terlalu bagus untuknya.

"Tidak Yang Mulia. Seperti itulah dirimu. Seperti musim panas. Seperti matahari kamu menyinari semua orang secara adil. Dan memberi energi untuk semua makhluk hidup. Melayani raja sepertimu adalah berkah sekali seumur hidupku."


Mata Ha Sun berkaca-kaca. Kasim Jo menggenggam tangannya. "Yang Mulia. Aku tidak akan pernah melupakanmu."

"Aku juga."

Ha Sun memeluk Kasim Jo. Kasim Jo menangis sedih di pundaknya.


Ha Sun menatap jubah raja sebelum benar-benar meninggalkan istana. Dia lalu keluar menyusuri jalan tengah di halaman istana. Ha Sun berhenti sejenak kemudian bergeser ke samping dan melanjutkan langkahnya dengan senyum bibirnya.

Ha Sun sampai di jalan berbatu yang di kelilingi ilalang. Tampak seseorang berpakaian hitam mengikutinya dari belakang. Ha Sun was-was lalu berbalik. Dia menarik nafas lega saat melihat Mo Young.


"Kamu mengagetkanku."

"Apa kamu akan meninggalkanku?"

"Kamu benar-benar jatuh cinta padaku?"

Mo Young cuma diam sementera Ha Sun tersenyum menanggapi leluconnya sendiri. Mo Young bilang akan mengikuti Ha Sun. Ha Sun pun mengangguk senang.


Mereka melanjutkan perjalanan. Tapi baru selangkah, Mo Young berhenti karena mendengar suara langkah. Dia berbalik dan mengeluarkan pedangnya. Tampak beberapa orang berpakaian ninja menyerbu dengan pedang mereka. Ternyata mereka pengikut fanatik ibu suri yang ingin membalas dendam.


Mo Young dengan lihai menyerang mereka. Namun perhatiannya teralihkan saat dua anak panah menancap di punggung Ha Sun. Seorang ninja berhasil melukai punggungnya tapi dia berhasil menumbangkannya.


Di belakang Ha Sun, satu ninja hendak menghunuskan pedangnya. Mo Young segera melempar pedangnya hingga pedang itu menancap ke perut si ninja. Tapi datang lagi seorang ninja. Mo Young berlari menyongsong pedang dengan perutnya.

Ha Sun tersungkur ke tanah. Mo Young dengan sisa-sisa kekuatannya menarik pedang di perutnya lalu menghabisi satu-satunya ninja yang tersisa. Setelah itu dia menancapkan pedangnya ke tanah berusaha menghampiri Ha Sun.


Tapi pada akhirnya dia tumbang dengan darah keluar dari mulutnya. Mo Young menatap Ha Sun yang tak berdaya di depannya. Dia teringat saat di jembatan ketika banyak anak-anak menulis harapannya pada lampion, Ha Sun bertanya apa impiannya.


Aku ingin melayanimu dengan setia dan mati saat menjalankan tugasku.

Mo Young memejamkan matanya menghembuskan nafas terakhirnya. Impiannya menjadi kenyataan. (Huwaaa... aku kok lebih nggak rela Mo Young mati daripada Lee Kyu ya)


Ha Sun pun memejamkan matanya. Terlihat kompas pemberian So Woon dengan noda darah tergeletak di sampingnya.

Bersambung ke The Crowned Clown episode 16 part final

Komentar :

Huwaaaaaaa (ceritanya lagi nangis). Lebay! Cukup sekian.












Read More

The Crowned Clown Episode 16 Part 1

The Crowned Clown
Episode 16 Part 1


Sumber konten dan gambar

Baca episode 15 part 3

Pada episode sebelumnya, Lee Kyu mengambil tindakan tidak terduga dengan menghunuskan pedangnya ke perut Jinpyung. Dia sendiri tumbang setelah dua kali terkena sabetan pedang anak buah Jinpyung di punggungnya.


Mo Young berteriak memerintahkan untuk menutup gerbang istana. Sedangkan Kasim Jo berteriak untuk melindungi ratu. Dan ratu sendiri harus ditarik paksa oleh Ae Young agar mau pergi dari tempat berdarah itu.

Ha Sun berontak dari cekalan Mo Young. Dia berlari menghampiri Lee Kyu dan menyandarkannya di pangkuannya


"Yang Mulia."

Ha Sun tak kuasa meneteskan airmatanya. "Kenapa Haksan? Kenapa kamu harus mengambil tindakan ceroboh?"

"Maafkan aku karena tidak memegang janjiku."

Ingatlah momen ini di dalam hatimu. Bahaya apapun yang ada di depan kita, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan melindungimu. -ini kalimat Lee Kyu waktu memutuskan untuk menjadikan Ha Sun raja sesungguhnya-


"Aku berjanji untuk melindungimu. Setelah aku mati, biarkan tubuhku digantung di atas pintu gerbang. Tunjukkan pada rakyat bahwa kamu memberikan hukuman pada penjahat. Gunakan aku untuk meredakan kekhawatiran mereka."

Ha Sun menggeleng. "Tidak. Aku tidak bisa. Kamu adalah abdi setiaku. Kamu bukan penjahat."

"Benarkah? Mendengarnya membuatku bahagia."


Lee Kyu mengangkat tangannya dengan sisa-sisa kekuatannya. Ha Sun meraihnya lalu menggenggamnya erat. Lee Kyu memejamkan matanya. Menahan sakit di detik-detik terakhir kehidupannya. Tak lama kemudian, kepalanya terkulai menandakan berhentinya detak jantungnya.


"Haksan!!"

Ha Sun menangis pilu kehilangan orang yang telah memberinya kehidupan yang baru. Kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupannya sebelumnya. Hatinya benar-benar sakit.

Kasim Jo yang turut menyaksikan di belakang Ha Sun pun ikut menangis. Begitupun Mo Young yang melihat dari kejauhan. Mereka sama-sama sedih kehilangan orang yang berharga.

***

Rombongan Shin Ci Soo dan Jinpyung yang harus dipapah, dihadang oleh prajurit istana.

"Buka gerbangnya!" Perintah menteri kehakiman. (Ini orang masih aja pengen jadi budaknya Shin Ci Soo)

"Tidak bisa kecuali perintah raja!"


Jasad Lee Kyu sudah dimasukkan ke dalam peti. Ho Geol meratap menangisinya.

"Yang Mulia. Aku ingin mengirimnya pergi bersama orang-orangnya. Tolong ijinkan aku membawa mayatnya keluar dari istana."

Ha Sun diam saja. Pandangannya terlihat kosong.

"Yang Mulia. Membuka gerbang terlalu berbahaya untuk saat ini. Pasukan pemberontak bisa menyerang," ujar Mo Young.

"Jika kamu memberi ijinmu, aku bisa membawa mayatnya sendiri."

Ha Sun akhirnya buka suara. "Maksudmu pasukan Shin Ci Soo dan Jinpyung menghadapi penjaga di gerbang Geumeo?"

"Ya Yang Mulia. Kenapa Anda bertanya?"

"Aku ingin mengucapkan perpisahan yang layak pada Haksan."



Ha Sun mengirim surat pada Ibu Suri.

Aku ingin membawa tubuh Lee Kyu keluar istana. Tahan anakmu selama setengah hari agar aku bisa menghormati kepergiannya. Jika kamu menghalangi jalan, aku akan menggantung mayatnya di pintu gerbang untuk menunjukkan pada rakyat bahwa aku menghukum penjahat. Mereka akan tahu bagaimana kamu menyebabkan pemberontakan ini tanpa pembenaran apapun. Tidak ada yang akan berani bicara walaupun aku membun*h Jinpyung dan Shin Ci Soo karena mempermalukanku pada pertemuan istana. Bagaimana jawabanmu?

Ibu Suri meremas surat itu. Pengawal Jinpyung memohon agar tuannya diselamatkan karena raja akan membun*h Jinpyung lebih dulu jika Ibu Suri tidak memberi jawaban dalam satu jam. Akhirnya Ibu Suri menuruti permintaan Ha Sun.


Sementara Ha Sun sedang menangis seorang diri di depan peti mati Lee Kyu.

***

Pintu gerbang dibuka. Rombongan Shin Ci Soo dan Jinpyung segera keluar dari istana. Tak lama kemudian rombongan pengantar Lee Kyu datang.


Peti yang berisi tubuh Lee Kyu diletakkan di atas gerobak yang ditarik seekor kuda. Ho Geol mengikutinya dengan derai airmata.


Gerobak berhenti saat Ha Sun datang dan turun menyentuh peti Lee Kyu. Airmata mengalir di pipinya. Begitu juga So Woon yang juga ikut mengantar kepergian Lee Kyu dari istana. Kasim Jo dan Mo Young pun tak menyembunyikan kesedihannya.

Gerobak itu berjalan meninggalkan istana. Menyisakan kepedihan di hati sebagian orang di istana.


Gerobak kuda berhenti di depan tempat hiburan. Satu orang lagi yang dirundung duka atas kepergian Lee Kyu. Woon Shim, wanita yang dicintai Lee Kyu. Mungkin dia yang paling merasa kehilangan di antara semuanya. Dia mengingat momen terakhirnya bersama Lee Kyu.

"Aku pikir, aku akhirnya bisa bersamamu. Kamu janji akan bersamaku. Kenapa kamu meninggalkanku seperti ini?"

Woon Shim hampir saja terjatuh. Anggota Grup Daedong yang perempuan segera menahan tubuhnya.


Jinpyung sedang diobati oleh seorang tabib. Dia menahan sakit sampai tersengal-sengal. Ibu Suri datang bersama dengan Pangeran Yonghwa. Tentu itu membuat Jinpyung kesal di tengah kesakitannya.

"Jinpyung. Bagaimana keadaanmu?"

"Ini bukan apa-apa. Aku baik-baik saja besok pagi. Jangan khawatir."

"Ckckckck. Sayang sekali. Jika saja kamu tidak serakah terhadap tahta, kamu bisa saja berumur panjang dan hidup sehat."

Ibu Suri meminta Jinpyung jangan khawatir karena Yonghwa akan menggantikannya mengambil tahta. Dia meninggalkan Jinpyung yang tak hanya merasakan sakit di perutnya tapi juga di hatinya.



Ibu Suri bicara berdua dengan Shin Ci Soo membicarakan cara untuk membenarkan pemberontakan.

"Anda belum menerima pengumuman resmi atas pencopotanmu. Artinya posisimu masih lebih tinggi dari raja. Sebagai orang yang lebih tinggi, berikan aku perintah untuk menurunkan raja penghianat itu dari tahta."

"Aku memberikan ijinku untuk menyerang istana. Turunkan badut itu dari tahta malam ini!"


Mo Young menyerahkan surat dari Jenderal Kang In Bok. Ha Sun terkejut karena surat itu memberitahukan kalau situasi di perbatasan tiba-tiba kacau. Aisin Gioro bisa menyerang sewaktu-waktu. Mereka baru sampai di Yangju provinsi Gyeonggi. Jenderal Kang bertanya apa dia harus lanjut ke ibukota atau kembali ke perbatasan.

Mo Young dan Kasim Jo menyarankan agar pasukan Jenderal Kang membantu istana saja karena keselamatan raja lebih penting. Tapi menurut Ha Sun, kalau perbatasan sampai runtuh, Aisin Gioro akan menindas rakyat dan membun*h mereka semua.

"Lalu apa gunanya mempertahankan pemerintahanku?"

***
Ha Sun, Mo Young, dan Kasim Jo berdiskusi dengan kepala pengawal istana. Dari kepala pengawal mereka tahu jumlah prajurit lawan. Kalaupun mereka mengumpulkan semua orang, mereka masih kekurangan 400 orang. Mo Young akan berusaha mencari jalan keluar. Sementara itu, dia akan mengeluarkan raja dan ratu dari istana secara diam-diam. Tentu saja Ha Sun yang baik hati tidak setuju.


Shin Ci Soo dengan baju merahnya memimpin pasukan pemberontak menyerbu masuk ke dalam istana. Dia memberi kode untuk berhenti saat menemukan halaman luar istana yang lengang dan kosong melompong.


Ha Sun muncul seorang diri dari pintu sebelah kiri. Shin Ci Soo segera memerintahkan untuk menyerbunya. Tapi begitu Shin Ci Soo melangkah melewati pintu, pintu itu tiba-tiba tertutup.


Terdengar suara pedang saling beradu di belakangnya. Dari celah pintu, Shin Ci Soo bisa melihat pasukannya sedang bertarung melawan pasukan kerajaan.

Dari pintu gerbang, datang lagi pasukan bala bantuan yang ingin melindungi raja.


Ha Sun berdiri menantang di depannya. Shin Ci Soo mengangkat pedangnya siap bertarung dengan Ha Sun. Tiba-tiba pintu terbuka memperlihatkan pasukan pemberontak yang sudah tergelak semua tanpa sisa.

Shin Ci Soo sudah terkepung. Dia berbalik lagi menghadap Ha Sun yang menatapnya penuh amarah.

"Aku akan membun*hmu dan membalasmu karena mencuri suratku untuk membuat perbatasan kacau serta membahayakan ibukota untuk kepentingan pribadimu."

Mo Young yang tadi mempimpin pertempuran, melangkah maju sampai ke pintu seolah menegaskan kalau Shin Ci Soo tidak akan selamat.

Shin Ci Soo yang merasa tersudut mencoba untuk menjilat raja. "Jika kamu melepaskanku, aku akan membawakan kepala Ibu Suri."

"Kepala Ibu Suri?"

"Ya Yang Mulia."

Shin Ci Soo melempar pedangnya ke tanah. "Bukan hanya kepala Ibu Suri. Tapi kepala semua orang yang terlibat dalam pemberontakan ini. Maafkan aku atas kesalahanku..."




Jlebbb

Ha Sun menghunuskan pedangnya ke perut Shin Ci Soo.

"Tidak akan ada belas kasihan. Harga untuk membun*h Haksan hanyalah kematian."

"Dasar badut rendahan!"

Crassss

Ha Sun menebas leher Shin Ci Soo hingga seketika Shin Ci Soo tergeletak tak bernyawa.

Ternyata, walaupun pasukan Kang In Bok tidak bisa membantu karena harus kembali ke perbatasan, tapi pasukan jenderal  Kim dari provinsi Hwanghae (jenderal teman ayahnya So Woon) berhasil sampai istana tepat waktu walaupun sempat terhalang pasukan pemberontak di ibukota.


Dan ternyata dari pihak lawan masih tersisa seseorang yang berhasil mereka tawan. Pengawal pribadi Jinpyung.


Jinpyung berusaha meraih teko air. Tapi teko itu terbalik dan air tumpah bersamaan dengan terkulainya tangan Jinpyung. Jinpyung sudah tak bernafas lagi.

Bersambung ke The Crowned Clown episode 16 part 2



Read More