Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 14 Part 2 )

The Crowned Clown
Episode 14 Part 2


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca part sebelumnya


Di markas, Jinpyung sudah berganti baju dengan seragam kelompoknya. Anak buahnya memberitahu kalau pengawal raja menemukan anak panah yang dia gunakan untuk menyerang raja. Jinpyung langsung menyadari raja memasang perangkap untuknya karena dia tidak pernah menyimpan anak panah itu di dalam rumahnya. Dia mengambil pedangnya lalu meminta anak buahnya memanggil tentara mereka.

***

Diadakan rapat di balai pertemuan. Mereka membahas mengenai penghianatan Jinpyung. Ha Sun meminta bantuan untuk menggulingkan Ibu Suri. Menteri perang (tadinya aku sebut menteri kehakiman) menolak karena mereka tidak bisa menganggap Ibu Suri bertanggung jawab atas perbuatan Jinpyung.

***

Ha Sun kesal karena tidak bisa menghukum Jinpyung yang sudah membun** Tuan Yoo. Dia bertekad tetap akan menggulingkan Ibu Suri. Lee Kyu melarangnya karena Ha Sun tidak bisa menggulingkan Ibu Suri tanpa sebab. Kecuali mereka bisa menangkap Jinpyung dan menjadikannya saksi. Sayangnya, Mo Young datang dan mengabarkan kalau dia tidak berhasil menangkap Jinpyung.


Malam hari, baik Ha Sun dan Lee Kyu sama-sama memikirkan bagaimana cara menggulingkan ibu suri, di ruangan masing-masing.

Esok harinya, kasim yang biasa menggantikan Kasim Jo memberitahu Ha Sun kalau Shin Ci Soo ingin bertemu membicarakan masalah Jinpyung.

Di penjara, Shin Ci Soo memikirkan plakat (nisan) yang dia lihat di kuil biksu Jung Saeng. Sepertinya dia menyadari sesuatu.

Ha Sun datang ke penjara tempat Shin Ci Soo dikurung dan langsung menanyakan perihal keberadaan Jinpyung. Tentu saja Shin Ci Soo tidak menjawabnya. Dia malah nyinyir mengatakan Ha Sun hanyalah boneka Haksan (Lee Kyu). Yang benar-benar memegang peran sebagai raja adalah Haksan bukannya Ha Sun.

"Itu tidak benar. Sekretaris Lee tidak seperti itu," bela Ha Sun.

"Dasar bo**h!! Pantas saja Haksan membun**  raja dan memilih mendukungmu."

Ha Sun terkejut. "Apa kamu bilang?"

"Apa kamu benar-benar tidak tahu kalau Haksan membun** raja?"

"Omong kosong!"

"Raja mungkin lemah. Tapi aneh jika dia tiba-tiba mati. Aku yakin hanya Haksan yang menyaksikan kematiannya. Selama beberapa saat, Haksan mungkin memperlakukanmu dengan baik. Tapi jika kamu melawannya, dia pasti juga akan membun**mu kapan saja."

"Apa maumu sebenarnya?"

Shin Ci Soo bilang kalau Ha Sun memang ingin jadi boneka, bukan hanya Lee Kyu yang bisa melakukannya. Dia menawarkan dirinya sebagai gantinya. Dia menjanjikan kekayaan dan kekuasaan yang belum pernah Ha Sun nikmati.


Ha Sun geram. "Diamlah! Apa kamu tahu kenapa kamu dipenjara? Itu karena kamu menganggapku enteng dan menganggap Tuan Lee tidak setia sepertimu."

"Apakah badut rendahan sekarang sedang mengajariku?"

"Kamu yang rendahan! Bahkan disaat kematianmu sudah dekat, kamu mencoba mempermainkanku untuk melawan Tuan Lee. Dasar menyedihkan!"

Ha Sun pergi meninggalkan Shin Ci Soo yang sepertinya sedikit tertegun karena Ha Sun ternyata tidak seperti yang dia kira. Mungkin tadinya dia berpikir kalau Ha Sun akan menerima usulannya.


Meskipun tadi membela Lee Kyu di depan Shin Ci Soo, tapi tak pelak Ha Sun terganggu mengetahui Lee Kyu telah membun** Lee Hun. Sepanjang perjalanan menuju kediamannya, wajahnya terlihat murung.

Tiba-tiba Mo Young menghampirinya mengatakan ada hal darurat.

***

Lee Kyu mengunjungi Ibu Suri di kediamannya. Secara tersirat dia menuduh ibu suri berada dibelakang Jinpyung. Karena tidak mungkin Jinpyung berani melakukan percobaan pembun**an terhadap raja bahkan membun*h Tuan Yoo tanpa jaminan menjadi pewaris tahta berikutnya.

Ibu Suri mengingatkan kalau raja membun*h adik dan ayahnya atas nama penghianatan. Mungkin raja ingin balas dendam. Ibu Suri lalu meminum tehnya.

"Itu membuatku ingat kalau peringatan kematian pangeran Gyeongin akan segera datang."

Raut wajah Ibu Suri mengeras. Dia bertanya bagaimana Lee Kyu bisa ingat.

Lee Kyu menatap Ibu Suri. "Bagaimana aku bisa lupa? Aku ingat hari terakhirnya seolah-olah baru kemarin. Dia menikmati makan malamnya."


"Apa kamu bilang?" Tangan Ibu Suri yang memegang gelas teh tampak bergetar.

"Nasi dengan biji-bijian dan berbagai macam sayuran. Walaupun makanannya tidak pantas untuk pangeran, tapi tangan kecilnya mampu memegang sumpit dengan baik. Tanpa tahu kalau itu makanan terakhirnya di dunia."

Bagai petir di siang bolong. Perkataan Lee Kyu membuat Ibu Suri terkejut sekaligus membangkitkan amarahnya. Dia melempar gelas teh ke lantai hingga pecah berkeping-keping.

"Itu kamu bukan Shin Ci Soo. Kamu yang membun*h putraku," ucap Ibu Suri dengan suara bergetar menahan emosi dan tangisnya.

"Iya. Untuk Yang Mulia aku mengakhiri hidup Pangeran Gyeongin. Setelah memuntahkan darah, dengan nafas terakhirnya, dia memanggil ibunya." (Teganya. Pangeran Gyeongin kan cuma anak kecil. hiks)

Ibu Suri naik pitam. Dia benar-benar gusar. "Beraninya kamu!! Sebelum raja, aku akan membun*hmu lebih dulu," kata Ibu Suri dengan penuh dendam.


Tak kalah gusar, Lee Kyu bertanya dengan nada tinggi,"Itukah sebabnya kau menyuruh Jinpyung membun*h raja dan ratu serta Tuan Yoo?!!"

Ibu Suri balas berteriak. "Iya!!! Aku memerintahkan Jinpyung untuk membun*h raja dan ratu begitu juga ayahnya. Apa salahnya? Aku hanya menghukum orang yang sudah membun*h putraku. Apakah yang kulakukan salah?"


Lee Kyu tersenyum tipis lalu berdiri dan berjalan ke samping. Tiba-tiba Ha Sun masuk dan berkata dia sudah mendengar pengakuan ibu suri. Ibu Suri melirik Lee Kyu.

"Kamu sudah mengakui kejahatanmu. Aku akan memerintahkan untuk mencopot jabatanmu."

"Beraninya kamu!!" Darah ibu suri benar-benar mendidih. Dia melempar mejanya lalu berdiri. "Tunggu dan lihat saja. Aku bersumpah atas makam putraku, aku akan mencabik-cabikmu dan menyebarnya ke seluruh negeri. Tubuhmu akan dimakan oleh gagak dan menghilang tanpa jejak. Aku akan melihat jiwamu terbakar oleh api dan menderita selamanya." (Ih ngeri. Seorang ibu emang bisa melakukan apapun untuk anaknya ya)

Ha Sun dan Lee Kyu pergi meninggalkan Ibu Suri yang menangis sedih sekaligus marah seorang diri.

***

Ha Sun berhenti di tengah jalan lalu mengajak Lee Kyu bicara berdua di balai pertemuan.

Balai pertemuan.

"Kamu membun*h pangeran Gyeongin demi Yang Mulia. Lalu siapa yang kamu bun*h demi aku? Yang Mulia Raja?"

"Siapa yang memberitahumu?"

"Shin Ci Soo. Dia memberitahuku kamu membun*h Yang Mulia dan suatu hari kamu akan membun*hku saat sudah tidak berguna."

"Iya. Aku membun*h Yang Mulia," ucap Lee Kyu lirih.

"Tadi Petugas Jang mengirimimu pesan kalau dia menemukan anak panah di rumah Jinpyung."

"Dia tidak salah. Aku yang menyuruhnya. Aku pikir kita butuh semacam bukti untuk mencopot ibu suri dari jabatannya."

Lee Kyu menyerahkan surat pengunduran diri. "Ibu Suri dan Shin Ci Soo sudah mengetahui tentang Pangeran Gyeong In dan Yang Mulia. Aku mungkin akan menghalangimu. Aku akan membayar dosa-dosaku."


"Itu bukan dosamu. Itu dosaku. Dosa raja. Harap berhenti menanggung dosa mengerikan sendirian sekarang. Kamu pernah berkata tahta adalah posisi yang mengerikan. Yang mengambil nyawa dan menumpahkan darah. Kamu menanggung semua kekejaman seorang diri. Tantas saja orang seperti Shin Ci Soo keliru menganggap kamu sedang mengambil peran seorang raja. Tapi aku berpikir berbeda. Pikiran yang tidak bisa kubayangkan seperti apa tujuanmu, membuat hatiku hancur. Seberapa sulit dan beratnya itu, aku tidak bisa membayangkannya."

Lee Kyu tertegun. "Kamu mengetahui semua perbuatanku. Apa kamu tidak takut padaku? Menurutmu kamu masih bisa mempercayaiku?"

"Kenapa aku harus takut dan meragukanmu? Aku mempercayaimu. Anak panah contohnya. Itu terjadi karena aku ceroboh. Kamu hanya mencoba membantuku."

Ha Sun merobek surat pengunduran diri Lee Kyu. "Jika kamu benar-benar berpikir aku raja, lindungi bangsa ini dan rakyatnya bersamaku."

Mata Lee Kyu berkaca-kaca. Dia jujur bahwa dia takut Ha Sun akan seperti raja lainnya yang terlena dengan kekuasaan dan korupsi dalam sekejap. Dia takut akhirnya dia gagal.

"Tapi sekarang aku tahu. Kamu tidak seperti itu. Aku memilihmu karena kamu berbeda. Tapi aku tidak menaruh kepercayaan penuh terhadapmu. Kamu mengajariku betapa pentingnya mempercayai seseorang."


Lee Kyu mundur beberapa langkah lalu berlutut. Airmata menetes di pipinya. Dia berkata mulai sekarang dia tidak akan takut lagi. Dia akan mempercayai dan melayani Ha Sun sebagai raja. Lee Kyu lalu bersujud kepada Ha Sun.

Tanpa Lee Kyu tahu, Ha Sun pun bersujud memberi hormat padanya. Dia berdiri sebelum Lee Kyu bangun dari sujudnya.


Lee Kyu berdiri. "Yang Mulia. Aku akan memperlakukanmu dengan sopan mulai dari sekarang."

"Terimakasih sudah mempercayaiku."

(Udah ngebayangin mereka pelukan. Wkwkckck. Terharu. Lee Kyu kalah cepat sih dari Kasim Jo dan Mo Young yang menurutku udah dari lama mereka itu beneran menganggap Ha Sun sebagai raja karena kebaikan dan ketulusannya)

***

Para pejabat rapat mengenai petisi pencopotan jabatan ibu suri. Seperti biasa ada pro dan kontra. Akhirnya Ha Sun menyetujui petisi itu karena ibu suri sudah melakukan penghianatan tingkat tinggi.


Pejabat yang dulunya anggota grup Daedong (maaf lupa namanya) melapor pada Lee Kyu kalau mungkin para pengikut ibu suri dan sarjana akan memberontak. Lee Kyu berkata akan mengatasinya nanti. Pejabat itu lalu memberikan surat yang dikirim dari perbatasan. Dia lalu pergi.

Lee Kyu membaca surat itu lalu segera menulis balasannya. Dia mengatakan akan segera mengundurkan diri dan bergabung di perbatasan.


Dengan mengenakan pakaian berkabung, So Woon memandang baju buatannya yang tidak sempat dipakai oleh ayahnya.

Dayang Myung (baru tahu nama dayangnya So Woon) masuk dan memberitahui mengenai pencopotan jabatan ibu suri.

So Woon terkejut. Dia berdiri hendak pergi menemui ibu suri untuk mengentikannya pergi dari istana. Ae Young merasa heran karena seharusnya So Woon senang karena akhirnya bisa membalas dendam.

So Woon berpikir kalau ibu suri sampai pergi, itu akan menjadi ancaman besar bagi Yang Mulia.


Ibu Suri membuka sebuah kotak. Di dalamnya tersimpan baju pangeran Gyeongin yang berlumuran darah.

"Yul. Aku akan membalaskan dendammu dengan membun*uh semua orang. Tapi aku masuk ke dalam perangkap yang mereka buat dan hanya menambah amarahmu. Tapi jangan khawatir, ibu tidak akan pernah menyerah."

Dayang ibu suri masuk mengabarkan kedatangan So Woon. Ibu Suri pun menutup kotak penyimpanannya.

Bersambung ke The Crowned Clown episode 14 part 3





Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 14 Part 1 )

The Crowned Clown
Episode 14 Part 1


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca episode sebelumnya

Flashback sebelum Lee Kyu menemukan Tuan Yoo terbun**h.

Ha Sun mengantar kepergian Lee Kyu untuk menjemput Tuan Yoo di tempat pengasingan. Dia mengutarakan niatnya pada Kasim Jo kalau dia ingin melakukan sesuatu untuk So Woon sebelum Tuan Yoo datang.


So Woon menghampiri Ha Sun yang sudah menunggunya. Mereka memakai pakaian biasa. So Woon bertanya kenapa Ha Sun mengajaknya pergi tiba-tiba.

"Kamu tidak percaya padaku?"

So Woon tersenyum lebar. "Aku percaya."

Ha Sun menggandeng tangan So Woon mengajaknya ke suatu tempat.

Ternyata mereka pergi melihat laut. So Woon merasa takjub karena belum pernah melihat pemandangan laut sebelumnya.

"Syukurlah. Aku ingin membuatmu lebih baik walau sedikit saja," ucap Ha Sun sambil memandang So Woon.

So Woon mengungkapkan kalau dia merasa bersalah saat mendengar diagnosis tabib. "Aku merasa kehilangan hak bersamamu dan cara untuk melindungimu. Aku sedih dan sangat kesepian. Itu sangat menyedihkan hingga aku lupa sebentar. Bahwa aku punya seseorang yang peduli padaku lebih dari diriku sendiri.


Ha Sun menggenggam tangan So Woon. Mereka saling menatap sejenak. Lalu So Woon mengaluhkan pandangannya ke lautan luas. "Aku akan menyimpan pemandangan ini di dalam hatiku. Supaya aku bisa mengenangnya kapan saja. Bahkan setelah aku kembali ke istana."

"Mari kita nikmati bunga musim semi dan bermain hujan di musim panas. Sangat menyenangkan memunguti hazel di pegunungan di musim gugur."

"Apa kita akan ke tempat ini lagi di musim dingin selanjutnya?"

"Aku akan membuat boneka salju yang bagus di musim dingin berikutnya."

"Apa kamu bisa janji?"

"Janji."


Ha Sun dan So Woon melewati sebuah jalan. So Woon mendengar suara belalang hitam. Ha Sun memberitahunya kalau dia melewati jalan ini saat akan ke istana waktu itu. Dia ingin menunjukkannya pada So Woon.

"Itu adalah dua pohon terpisah dari akar yang berbeda. Tapi bagaimana mereka bisa terikat seperti itu?" Tanya So Woon saat melihat dua pohon yang berseberangan namun saling terkait di tengah jalan.

"Mungkin mereka ditakdirkan untuk bersama. Ada sebuah legenda tua mengenai pohon ini. Dikatakan sepasang kekasih akan bersama selamanya, jika mereka berjalan di bawah pohon itu bersama-sama."


Ha Sun mengulurkan sebelah tangannya. "Apa kamu mau bersamaku selamanya?"


So Woon meraih tangan Ha Sun. Mereka saling melempar senyum lalu berjalan melewati sepasang pohon itu bak sepasang pengantin yang berjalan di altar pernikahan.


Setelah berhasil melewatinya, mereka berhenti. Ha Sun menatap So Woon. "Aku berjanji. Aku akan memenuhi harapanmu dan menjadi raja yang hebat. Jadi berjanjilah padaku bahwa kamu tidak akan menangis sendirian. Bahwa kamu akan berbagi semuanya bersamaku. Dalam sedih maupun senang."

"Aku berjanji."


Nggak pake lama, merekapun berci**an. (Warning : Yang Jomblo Jangan Baper hehe)

***

Kembali ke saat Lee Kyu pergi ke tempat pengasingan dan menemukan Tuan Yoo sudah tidak bernyawa.


Malamnya, bulan di langit tampak temaram seolah menggambarkan hati Lee Kyu dan Kasim Jo yang muram. Mereka menunggu kembalinya raja dan ratu di gerbang belakang.

Ha Sun dan So Woon datang bersama Ae Young dan Mo Young yang mengikuti mereka di belakang. Ha Sun langsung bertanya dimana Tuan Yoo.

"Yang Mulia Raja. Ratu. Tuan Yoo.... sudah meninggal."


Semuanya terkejut terutama So Woon. "Itu tidak mungkin. Dia sehat-sehat saja saat aku bertemu dengannya sebelumnya. Pasti ada kesalahpahaman. Tidak mungkin!!"

"Maafkan aku Ratu."

Airmata menggenang di pelupuk mata So Woon. "Apa dia benar-benar meninggal? Apa penyebabnya?"

"Dia dibun*h oleh seseorang."


 So Woon langsung lemas seketika. Tubuhnya hampir ambruk ke tanah kalau Ha Sun tidak segera menangkapnya dan memeluknya. So Woon menangis dan meraung memanggil ayahnya. Semua yang melihatnya ikut bersedih.


Ibu Suri memuji Jinpyung. "Aku tidak suka dengan pemulihan nama baiknya. Kerja bagus. Kamu akhirnya membuat tindakan yang memuaskan.

"Aku senang kamu puas."

"Aku harus melihat wajah raja dan ratu yang bingung."

Ibu Suri hendak berdiri tapi Jinpyung mencegahnya. Dia menyuruh Ibu Suri tenang dulu kalau tidak raja akan mengetahuinya.

"Pembun**an Tuan Yoo sudah direncanakan sejak kematian ayahku dan pangeran Gyeong In. Dia hanya menuai apa yang dia tabur."

Jinpyung mengangguk.

***

Di ruangan raja, Lee Kyu menduga kalau ini perbuatan ibu suri. Ha Sun sangat marah. Dia ingat waktu Jinpyung menghalangi pemulihan nama baik Tuan Yoo saat diskusi istana. Dia yakin kalau Jinpyung yang membun*h Tuan Yoo. Lee Kyu mengingatkannya untuk berhati-hati. Jangan gegabah melakukan penangkapan tanpa bukti.

Kasim Jo masuk memberitahu kalau Ibu Suri sedang bersama Jinpyung saat ini. Ha Sun semakin yakin. Dia meminta tolong pada Mo Young yang sedari tadi ada di sana.


"Petugas Jang, mata panah dari panah yang digunakan untuk menyerangku dan ratu, dimana itu?"

Mo Young menunjukkan mata panah itu. Dia bilang itu berbeda dengan mata panah yang ditujukan pada Ha Sun saat berburu. Dia sudah memeriksanya ke semua pandai besi di ibukota.

Ha Sun meminta Mo Young memeriksanya di kediaman Jinpyung. Mo Young kaget, tapi dia mengiyakan. Lee Kyu mencegahnya. Itu hanya akan membuat mereka dicurigai kalau pada akhirnya Mo Young tidak menemukan apapun di sana. Ha Sun juga bisa dikritik karena menuduh orang yang tidak bersalah.

"Apakah aku tidak mau memasak karena takut api atau tidak mau mendaki karena takut harimau? Jika kita ragu sekarang, kita akan kehilangan bukti dan Ibu Suri juga Jinpyung akan menjadi semakin kuat."

"Kalau begitu, aku akan melaksanakan perintahmu," ucap Mo Young lalu bergegas pergi. Lee Kyu masih merasa tidak nyaman dengan rencana ini. Dia menyusul Mo Young keluar.


"Jika kamu tidak menemukan anak panah di kediaman Jinpyung, tunjukkan anak panah yang kamu miliki."

"Apa aku harus memalsukan bukti?"

"Iya."

Mo Young berpikir sejenak lalu mengangguk. (Huft, aku kok nggak suka ya kalo mereka ikutan main curang)


Mo Young bersama beberapa anak buahnya menggeledah kediaman Jinpyung. Salah seorang pengawal menemukan beberapa anak panah. Tapi mata panahnya berbeda dengan yang mereka cari. Mo Young memintanya mencari lagi. Dia lalu mematahkan mata panah dari salah anak panah itu lalu menyimpannya di balik bajunya.


Jinpyung berpapasan dengan para pejabat yang katanya dipanggil oleh raja. Dia heran karena hanya dia yang tidak mendapat panggilan.

Tiba-tiba pengawal dari biro kehakiman datang hendak menangkap Jinpyung. Dengan cepat Jinpyung menarik pedang salah seorang pengawal lalu menjadikan salah seorang pejabat kehakiman menjadi tawanan. Dia menyuruh mereka semua mundur.


Anak buah Jinpyung datang. Jinpyung melepaskan tawanannya dan langsung berlari pergi. Terjadilah perkelahian antara pengawal dari biro kehakiman dan pengawal Jinpyung.

Bersambung ke The Crowned Clown episode 14 part 2







Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 13 Part 3 )

The Crowned Clown
Episode 13 Part 3


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca part sebelumnya

Ibu Suri mengirim dayang pribadinya untuk menemui Dayang Kim di penjara. Dayang Kim senang karena ada yang menjenguknya. Dayang ibu suri memberinya nasi kepal. Awalnya Dayang Kim tersenyum, tapi kemudian membuang nasi itu lalu dia injak-injak. (Ibu Suri nggak kreatif sih. Masa metodenya sama kayak dulu waktu ngebu**h dayang park)

"Kamu pikir ini berhasil? Apakah dia takut jika aku melaporkannya?"


Dayang ibu suri hendak pergi. Dayang Kim mencegahnya. Dia bilang dia punya hadiah kecil untuk ibu suri. Dayang Kim membisikkan sesuatu di telinga dayang ibu suri.

Ibu Suri tertawa senang mendengar hadiah dari dayang Kim. Entah informasi apa yang diberikan oleh Dayang Kim padanya.

***

So Woon sedang memikirkan masalah yang menimpa Ha Sun akhir-akhir ini. Ae Young menyarankan agar So Woon melahirkan anak untuk memperkuat pemerintahan raja. Dia punya teman tabib wanita yang bisa membantu So Woon. So Woon setuju.


Esok harinya, tabib wanita teman Ae Young datang memeriksa So Woon. Dia bilang denyut nadi So Woon lemah dan terlalu cepat. So Woon juga kekurangan energi jadi dia akan memberikan ramuan herbal.

Tabib wanita tertarik dengan teh yang disajikan untuk So Woon. Dia meminta ijin untuk melihat bunga teh keringnya. Ae Young berkata tidak perlu karena itu dari klinik istana. Tapi tabib wanita tetap ingin memeriksanya. So Woon mengijinkannya.

***

Rapat istana tentang hukuman Shin Ci Soo dan Dayang Kim dilakukan. Seorang perwakilan hakim mengatakan hukuman peng**l untuk Shin Ci Soo akan dilakukan akhir minggu ini. Sedangkan Dayang Kim di beri hukuman cambuk 40 kali dan dikirim ke perbatasan sebagai budak. Ha Sun menyetujuinya.


Lee Kyu kemudian membahas tuduhan kepada Tuan Yoo Ho Joon (ayah So Woon). Dia mengklaim kalau itu tuduhan palsu. Jinpyung tidak terima karena Tuan Yoo sudah dinyatakan salah sebelumnya. Ha Sun menyerahkan keputusan kepada para anggota rapat untuk mendiskusikan siapa antara Lee Kyu dan Jinpyung yang benar. Para pejabat berbisik-bisik mengatakan bahwa sudah jelas Lee Kyu yang ada dipihak raja. Jinpyung menatap tajam Lee Kyu. Lee Kyu membalas tatapannya dengan senyum sinis.

***

Ae Young memberitahu kabar baik soal tuduhan palsu Tuan Yoo yang sedang di diskusikan para pejabat istana kepada. So Woon sangat senang dan segera mengajak Ae Young untuk menemui Ha Sun. Tapi dia harus menundanya karena tabib wanita datang.

Dengan takut-takut tabib wanita itu memberitahu kalau teh bunga yang diminum So Woon bisa menyebabkan kemandulan. Dia sudah tanya kemana-mana tentang selir-selir kerajaan, tapi ternyata hanya So Woon yang meminumnya.


So Woon tentu sangat terkejut. Dia heran kenapa tabib istana memberikan teh seperti itu padanya.

Tabib wanita bertanya sudah berapa lama So Woon meminumnya. Ae Young menjawab sudah tiga bulan. Tabib wanita terlihat terkejut.

"Maafkan aku mengatakannya. Tapi hanya meminum sebulan saja, bisa merusak aliran darah dalam pembuluh darahmu. Darah yang menggumpal akan membuatmu steril (tidak bisa punya anak)."

So Woon langsung lemas. Tabib wanita berniat memanggil tabib istana tapi So Woon mencegahnya karena tidak ingin raja mengetahuinya. Keadaan istana baru saja stabil, So Woon tidak ingin membuat kekacauan. Dia mengingatkan Ae Young dan tabib wanita untuk merahasiakannya pada siapapun.


Beberapa orang berpakaian hitam-hitam mengobrak-abrik kediaman Shin Ci Soo mencari sesuatu. Tapi mereka tidak menemukan yang mereka cari. Mereka adalah orang suruhan Jinpyung.

Jinpyung ingat perkataan Shin Ci Soo kalau dia punya bukti pemberontakan. Raja mengirim surat melalui Lee Kyu kepada jenderal Nurhachi dari Aishin Gioro. Jika para pejabat dan mahasiswa mengetahuinya, mereka akan bangkit melawan raja. Semua terserah pada Jinpyung, apakah dia menginginkan tahta atau tidak.

Dan, surat itu kini ada di tangan Sun Hwa Dang.

Ternyata waktu itu pelayan pribadi Shin Ci Soo bersama dua orang lainnya memukul pedagang dari Jurcheon dan mengambil surat itu.


Ha Sun pergi ke perpustakaan dimana sudah ada So Woon disana. Dia melarang Ae Young yang hendak memberitahu kedatangannya. Ae Young menurut dan langsung pergi. Ha Sun heran melihat Ae Young yang biasanya tersenyum malah merengut dan terlihat sedih.

Di dalam, So Woon sedang termenung sedih. Ha Sun masuk dan berniat mengagetkan So Woon. Eh So Woon keburu balik badan dan memergokinya.


Ha Sun memberi kabar kalau nama baik Tuan Yoo akan di pulihkan. So Woon terharu karena bahagia. Dia berterima kasih pada Ha Sun.

"Aku ingin mengambil semua tanggung jawab. Tapi Sekretaris Lee sudah melakukan semuanya."

"Tolong sampaikan terimakasihku padanya."

Ha Sun menyadari gurat kesedihan di wajah So Woon. So Woon beralasan kalau itu karena kabar baik dari Ha Sun. Dia lalu memilih buku yang akan dibacanya bersama Ha Sun. Tapi Ha Sun ijin keluar sebentar karena lupa harus mendiskusikan sesuatu dengan Lee Kyu.


Bukannya menemui Lee Kyu, Ha Sun malah menemui Ae Young diluar. Dia mengajak Ae Young bicara berdua di belakang perpustakaan. Ha Sun bertanya kenapa wajah So Woon sangat pucat.

Ae Young langsung berlutut. "Yang Mulia. Silahkan bun*h aku."

"Kenapa aku ingin membu**hmu?"

"Sebenarnya...."

***

Ha Sun kembali ke perpustakaan. So Woon langsung menghapus airmatanya.


"Aku sudah dengar tentang teh bunga. Kenapa kamu tidak memberitahuku?" Tanya Ha Sun dengan nada tinggi.

So Woon tidak lagi bisa membendung kesedihannya. Dia menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajahnya sambil menangis tersedu-sedu.

Ha Sun langsung memeluknya. "Maafkan aku. Kamu pasti menderita lebih dari siapapun saat ini. Aku akan mencaritahu siapa pelakunya dan membuat mereka membayarnya."

"Aku takut bilang karena takut kamu mengatakannya."

"Apa maksudmu? Apa kamu tahu siapa pelakunya?"


Ha Sun bergegas pergi menemui tabib istana. Dia bertanya dengan marah siapa yang menyuruhnya memberikan teh bunga pada So Woon. Tabib istana ketakutan menjawab kalau dia diperintah oleh ibu suri.

Ha Sun meminta tabib istana mengambil teh bunga itu. Setelah mendapatkannya, dia bergegas pergi ke kediaman ibu suri.

Mo Young meminta Kasim Jo memberitahu Lee Kyu sementara dia yang akan mengikuti Ha Sun.


Kebetulan Ibu Suri hendak keluar. Ha Sun menerobos masuk gerbang dan menghampiri Ibu Suri di pelataran. Dia membanting kotak teh bunga itu hingga hancur.

"Itu adalah teh bunga yang kamu minta dari tabib istana untuk diberikan kepada ratu."

Dengan santai ibu suri bertanya, "Lalu kenapa?"

Ha Sun geram. "Ada beberapa hal yang tidak bisa dimaafkan. Sesuatu yang tidak boleh dilakukan oleh manusia."

"Itulah maksudku. Jika kamu bisa berpikir rasional, kamu seharusnya tidak memaafkan ratu semudah ini!"

"Kenapa kamu sangat membencinya?"

"Aku tidak membencinya. Dosanya yang tidak kusukai, bukan orangnya." (Pinter banget ngomongnya. Ngaca bu!)

Ha Sun benar-benar kesal. "Setidaknya berpura-puralah menyesal."

"Apa kau bisa melakukan hal yang sama? Terhadap keluargaku, ayahku, dan adikmu pangeran Gyeong In? Apakah kamu bisa terlihat seperti bertobat?"

"Apakah kamu berniat bertahan sampai akhir?"

"Bagaimana jika iya?"

"Kalau begitu aku tidak punya pilihan. Ibu suri...."

Lee Kyu datang menghentikannya. "Yang Mulia. Harap tenang."

"Kamu tidak tahu apapun. Jangan ikut campur!"

Lee Kyu tetap membujuk Ha Sun untuk tenang. Ibu Suri malah mengompori Ha Sun untuk melanjutkan kata-katanya. (Aku kok deg-degan ya)

"Yang Mulia tolong hentikan!"

"Kenapa kamu menyuruhku berhenti?"

Kemarahan Ha Sun benar-benar sudah sampai ubun-ubun. Nafasnya sampai ngos-ngosan menahan amarahnya.

"Yang Mulia."


Ibu Suri menengahi. "Sungguh pemandangan yang lucu. Permainan badut di pasar tidak semenarik ini."

Semua orang tertegun. Ibu Suri menyuruh ratu digulingkan dari tahtanya karena sekarang dia sudah tidak bisa hamil.

"Jika aku harus, aku akan menggulingkan ibu suri lebih dulu."


Ibu suri malah menantang. "Coba saja kalau kamu bisa." Ibu Suri pergi sambil tersenyum lebar.

***

Di ruangan raja, Lee Kyu memarahi Ha Sun yang gegabah.

"Tidakkah kamu sadar kalau ibu suri menunggumu mengatakan untuk menggulingkannya?"

"Aku tahu tahu. Tapi aku tidak punya pilihan."

Lee Kyu menjelaskan kalau sejak dulu dia juga ingin ibu suri digulingkan demi keselamatan raja. Mudah baginya untuk meminta ijin menggulingkan ibu suri. Tapi pengikutnya pasti akan memberontak dan menyerang istana dan raja.

"Rencanaku adalah melindunginya dan akhirnya merugikannya."

"Kenapa kamu memberitahuku hal ini?"


"Orang yang menghentikanku, membuat kesalahan seperti itu adalah kamu."

Ha Sun beralasan kalau dia tidak tahu banyak soal istana.

"Tapi sekarang aku tahu. Kamu bilang hanya ada 2 cara untuk bertahan di istana. Itu adalah mengancurkan mereka atau mengabaikan mereka sepenuhnya. Itu adalah pilihan terakhirku."

Lee Kyu meminta Ha Sun untuk menunggu. Dia akan mengumpulkan bukti dan saksi. Dia juga akan membawa Tuan Yoo kembali besok pagi.


Lee Kyu pergi ke tempat pengasingan bersama dua orang pengawal. Tapi sesampainya di sana, dia mendapati Tuan Yoo tergeletak di lantai dengan pisau menancap di dadanya.

Bersambung ke The Crowned Clown episode 14 part 1

Komentar :

Omo omo!! So Woon jadi yatim piatu. Kasian banget, belum juga abis sedihnya karena nggak bisa hamil sekarang ditambah ayahnya meninggal di bun*h. Siapa coba pelakunya?

Setahuku di awal-awal episode Tuan Yoo mengincar Shin Ci Soo. Lah sekarang Shin Ci Soo fokusnya balas dendam sama Ha Sun. Apa ini ulah ibu suri? Entahlah.

Masih ada 3 episode lagi. Semoga endingnya nggak gantung. Mending sad ending sekalian walau berurai airmata. Tapi jangaaaaan deng hehe. Semoga happy ending.









Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 13 Part 2 )

The Crowned Clown
Episode 13 Part 2


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca The Crowned Clown part sebelumnya

Gab Soo di interogasi bersama Yi Gyeom yang berdiri disampingnya. Gab Soo menjelaskan kalau dia punya banyak alasan untuk menyerang Yi Gyeom. Bahkan aku berpikir untuk menghancurkan kepalanya dan meninggalkan dunia ini sebagai konsekuensinya.

"Ada seorang gadis yang aku urus seperti putriku sendiri. Dia gadis polos dan tak berdosa, tapi dia.... Aku tidak punya penyesalan sekarang. Aku bersedia menerima hukuman yang diberikan padaku," jelas Gab Soo sambil menangis.

Lee Kyu menjelaskan menurut Great Ming Code, kalau orang dari kasta rendah menyerang seorang bangsawan, maka dia harus dihukum cambuk 80 kali.

"Sebagai ganti hukuman cambuk, suruh dia bertugas di angkatan laut bagian selatan," titah Ha Sun.


Gab Soo kaget. Dia tambah terkejut saat mendongakkan kepalanya dan melihat Ha Sun di depannya.

Lee Kyu menjelaskan lagi untuk seseorang yang menyakiti seorang gadis, hukumannya adalah membayar dengan nyawanya. Hanya jika korban seorang bangsawan.

Yi Gyeom membela diri. "Ya itu benar. Dia dari kasta rendah jadi aku tidak melakukan kejahatan apapun." Yi Gyeom tidak sadar kalimatnya barusan berarti pembenaran terhadap tuduhan dari Gab Soo.

Ha Sun memutuskan membuat aturan baru sesuai apa yang pernah di contohkan oleh mantan raja. Dia menghukum Yi Gyeom dengan mencap wajahnya.

"Berikan cap kejahatan diwajahnya supaya dia bisa mengingatnya seumur hidup."

"Tapi Yang Mulia," ucap Lee Kyu berusaha mengingatkan Ha Sun.

"Lakukan sekarang juga!!"


Yi Gyeom meraung kesakitan saat besi panas menempel diwajahnya. Dendam Ha Sun terpenuhi. Sementara Lee Kyu tertegun sendiri melihat keputusan Ha Sun.

***

Ha Sun menemui Gab Soo di sebuah ruangan. Gab Soo langsung berlutut tapi Ha Sun segera menariknya untuk berdiri. Ha Sun meberitahu identitasnya. Gab Soo sangat senang sekaligus tidak percaya melihat Ha Sun dengan pakaian kebesaran raja.

Ha Sun memberitahu Gab Soo akan bertugas di angkatan laut di Muen Hyoen.

"Bukankah kamu dan Dal Rae disana waktu masih kecil?"

Ha Sun mengangguk. Itu terbaik untuk Dal Rae dan Gab Soo. Dia meminta Gab Soo pergi kesana duluan.

Gab Soo meminta Ha Sun tidap perlu khawatir karena dia yang akan menjaga Dal Rae. Ha Sun hanya perlu mendapat dukungan dari raja. Gab Soo memeluk Ha Sun saking bahagia dan bangga padanya.


Lee Kyu menunggu Ha Sun diluar sambil termenung sendiri. Setelah Ha Sun keluar, dia bertanya bagaimana perasaannya.

"Baru sehari berlalu, tapi rasanya seperti setahun. Hatiku terasa ringan seolah beban berat sudah terangkat dari dadaku. Aku aku merasa terbebani disaat yang sama."

"Lega rasanya mendengarnya."

"Apa maksudmu?"

Lee Kyu menjawab bukan apa-apa lalu pergi.


Woon Shim hendak menuangkan teh untuk Lee Kyu tapi Lee Kyu mencegahnya.

"Aku kesini bukan sebagai tamu. Kamu tidak perlu melayaniku." Lee Kyu menuang tehnya sendiri.

"Apa terjadi sesuatu di istana?"

"Begitulah. Sesuatu terjadi setiap hari."

"Apa Ha Sun tidak melakukan pekerjaannya dengan baik sebagai raja?"

Lee Kyu tertegun. Dia bertanya apa Dal Rae yang memberitahunya. Woon Shim menyangkal.

"Aku sudah berada di sisimu selama 10 tahun. Aku bisa mengerti. Kalau tidak aku tidak akan tahan pada saat itu."

"Maafkan aku."

"Tidak perlu. Lagipula aku tidak berharap kamu membagi semuanya denganku. Kamu bahkan bukan orang yang bisa aku impikan. Hanya saja, jangan menjauhiku. Aku hanya ingin bersamamu. Kapanpun kamu bahagia dan sedih. Hanya itu yang aku minta."

Lee Kyu tersenyum tipis. Tipis sekali. Sepertinya dia juga menahan perasaannya. "Tuangkan minuman untukku."

Lee Kyu menatap Woon Shim sesaat. Begitupun sebaliknya.

***

Yi Gyeom dikurung di samping ayahnya. Kemudian datang dua orang pengawal hendak membawanya pergi. Shin Ci Soo bertanya Yi Gyeom mau dibawa kemana.

"Dia akan dibawa ke pengasingan bagian utara atas perintah raja."


Yi Gyeom melepaskan tangan pengawal. Dia lalu berlutut memberi penghormatan pada ayahnya sambil menangis. Shin Ci Soo pun terlihat sedih (bisa sedih juga ya dia).

Setelah Yi Gyeom dibawa pergi, Shin Ci Soo melepas sebuah manik-manik di topinya. Dia meminta seorang penjaga membantunya dengan bayaran manik-manik itu.

Tak lama kemudian, Jinpyung datang menemuinya.

"Kenapa kamu menyuruhku datang? Jangan bilang kamu mau menusukku dari belakang."

"Itu tergantung sikapmu."


"Jangan mencoba mengancamku. Semua orang dinegara ini tahu kita saling membenci."

"Raja akan percaya."

"Apakah kamu mengancamku?"

"Maksudku adalah kita harus hidup dan mati bersama."

"Itu adalah harapan palsu."

"Aku punya pembenaran yang bisa menurunkan raja dari tahta."


Ha Sun duduk bersama Dal Rae di depan meja makan. Tapi Dal Rae hanya diam saja. Ha Sun memotongkan ayam untuknya dan menyuruhnya makan. Dia bahkan meletakkan sumpit ke tangan Dal Rae. Tapi Dal Rae menaruh kembali sumpit itu.

"Kamu tidak mau? Kamu mau yang lain?"

"Aku bahkan terlalu takut untuk minum air sekarang. Bagaimana bisa aku makan? Gab Soo pasti sedang menungguku."

Dal Rae berdiri dan mengambil bungkusan hazelnya. Dia mengajak Ha Sun pergi. Tapi Ha Sun tidak beranjak dari duduknya.

"Dal Rae. Aku tidak pergi. Aku punya pekerjaan yang harus aku lakukan disini."

"Pekerjaan apa? Apa itu lebih penting dariku?"

Ha Sun berdiri. "Tidak ada yang lebih penting darimu."

Airmata menggenang dipelupuk mata Dal Rae. "Jadi kenapa kamu tidak bisa pergi? Bukankah kamu takut dengan tempat ini?"

"Dal Rae. Kamu melihat sendiri apa yang aku lakukan di istana. Sejak aku memulainya, bukankah aku tidak perlu melihat akhirnya?"

"Kamu tidak bisa pura-pura jadi raja selamanya."


Dal Rae meraih tangan Ha Sun. "Aku tidak bisa meninggalkanmu di sini. Aku takut kakak akhirnya mati."

"Pergilah bersama Gab Soo. Aku akan segera menyusulmu."

"Jangan bohong! Sebelumnya kamu bilang akan datang tapi tidak."

"Kamu tidak percaya padaku?"

"Aku percaya. Tapi...."

Dal Rae terisak. Ha Sun memeluknya.

"Maafkan aku."

"Kamu harus segera datang."

"Ya. Aku akan datang."


Ha Sun melihat kepergian Dal Rae dan Gab Soo dari balkon istana. Awalnya Dal Rae melihatnya dengan tatapan sedih. Tapi demi kakaknya, Dal Rae berusaha menguatkan hatinya. Dia berbalik dan tersenyum pada Ha Sun sambil melambaikan tangan sangat lama. Ha Sun membalas senyumnya sambil berurai airmata. Mo Young yang menemaninya tersentuh melihatnya.

***

So Woon sudah ada di ruangan raja ketika Ha Sun datang. Dia bertanya apa Ha Sun mengantar adiknya.

"Aku tidak tahu apa aku melakukan hal yang benar. Jangan bilang aku lemah. Aku bertahan dalam posisi ini, aku harus menahan rasa sakit seperti itu. Adikku pergi dengan senyuman demi kebaikanku. Melihatnya pergi membuatku merasa takut dan terbebani."

"Itu hal alami. Bukan karena kamu lemah. Tapi karena kamu manusia."


Airmata menetes di pipi Ha Sun. So Woon memeluknya.

"Menjadi bagian dari keluarga, aku tahu dengan baik rasanya. Orang yang harus pergi dan orang yang harus tinggal, keduanya menderita karena patah hati," ujar So Woon.

Ha Sun membalas pelukan So Woon. So Woon melanjutkan kalimatnya. "Suatu hari, jika ada kedamaian, saat musim semi tiba, kunjungilah Gab Soo dan adikmu.


So Woon melepas pelukannya lalu meraih tangan Ha Sun. "Aku juga ingin menemui mereka. Aku akan ingat dan mengajakmu mengunjungi mereka.

Ha Sun mengangguk.

Bersambung ke The Crowned Clown episode 13 part 3




Read More