Sinopsis One Spring Night Episode 4 part 1

Drama Korea
One Spring Night
Episode 4


Sumber konten dan gambar : MBC


Jung In, Young Jo, dan Ha Rin berpapasan dengan seorang anak perempuan. Ha Rin menyapanya dan memujinya sangat manis. Mereka melanjutkan jalan. Jung In terus menoleh memperhatikan anak barusan. Menurut Young Joo anak-anak itu menakutkan. Mereka begitu polos dan murni. Bagaimana kalau dia melukai mereka?

"Kamu pernah kepikiran itu?" Tanya Young Joo pada Jung In.

"Entahlah. Mungkin pernah."


Ji Ho makan siang dengan bekal makanan yang di buat ibunya. Hari ini dia ijin tidak masuk kerja. Ibu menyuruhnya untuk pulang saja setelah makan dan fokus kerja besok. Ji Ho kan masih bisa kerja, jadi jangan sampai merepotkan temannya.


Ji Ho menatap ibunya. "Ibu, haruskah aku kembali?"

"Masalahmu tidak akan beres jika tinggal jauh dari kantor. Kamu kira bisa menemui Eun Woo lebih sering di pagi dan malam hari? Lupakanlah! Ibu lebih mengkhawatirkanmu. Kamu masih muda."

"Masih muda itu bagus. Aku masih punya kesempatan."

"Kamu sudah berkencan lagi kan?"

"Kadang kala."

Ibu tersenyum. "Sudah bertemu orang yang kamu suka?"


"Belum."

"Jodohmu akan menemukanmu."

"Begitukah?"

"Tentu saja. Takdir tidak bisa dihentikan. Dia sebaiknya menemukanmu. Kamu mau melajang selamanya?" Ji Ho hanya tersenyum. "Astaga! Kamu memang tidak khawatir ya?"


Hyun Soo membawakan pesanan kopi untuk Gi Seok dan dirinya. Dia lalu sibuk dengan ponselnya mencari pengganti Ji Ho untuk bermain basket pekan ini karena Ji Ho tidak bisa datang. Gi Seok tanya apa karena urusan kemarin waktu dia pergi dari tempat karaoke. Hyun Soo membenarkan.

"Apa yang terjadi?'

Hyun Soo ragu untuk menjawab. "Ini rahasia."

"Baik."

"Sebenarnya dia sudah punya anak."


Gi Seok terkejut."Sudah menikah?"

"Belum. Dia punya pacar saat kuliah, dan pacarnya masih muda. Usianya 24 tahun saat itu. Usia Ji Ho 28 atau 29 saat itu. Wanita itu menyembunyikan kehamilannya dan menghilang. Lalu muncul setelah 8 bulan."

"Tiba-tiba?"

"Ya. Mereka membahas soal pernikahan untuk setelah melahirkan. Dia tinggal dengan keluarga Ji Ho. Tapi dia menghilang lagi."

"Apa yang terjadi? Ji Ho tidak mencarinya?"

"Saat itu terjadi Ji Ho menggila. Dia bahkan sampai absen dan mencarinya kemana-mana. Tapi tidak ketemu. Ternyata wanita itu sudah ke luar negeri."

Gi Seok benar-benar tidak menyangka. "Astaga! Sungguh gila! Pasti sulit menjadi dirinya."

"Sudah lama berlalu. Dia kini baik-baik saja. Tapi saat itu.... dia sangat kebingungan."

"Astaga! Aku merasa kasihan. Andai aku tahu aku akan bersikap baik."

"Kenapa? Apa maksudmu?"

"Aku merasa kasihan."

"Nggak usah. Siapa peduli dia ayah tunggal. Penghasilannya bagus. Dia sehat. Orangtuanya suportif. Yang lainnya tak masalah," jelas Hyun Soo.

"Bagaimana bisa? Wanita mana yang mau?" Wanitamu!!!

Jung In menunggu bisa di halte. Dia melihat apotik di seberang dan teringat Ji Ho. Jung In melihat ponsenya tapi tampak ragu.

Ji Ho sendiri sedang naik bis.


Jung In akhirnya naik taksi dan turun di seberang Apotek Woori. Dia melongok untuk melihat apakah ada Ji Ho di sana. Kurang puas melihat dari seberang, akhirnya Jung In datang ke depan apotek. Dia mengintip ke dalam lewat kaca. Tahunya Ji Ho datang dari belakang.


Jung In kaget saat menoleh dan melihat Ji Ho. Dia menunduk memberi salam lalu masuk ke dalam apotek. Ji Ho ikut masuk. Jung In akhirnya memilih-milih obat, sementara Ji Ho menghampiri rekan kerjanya dan memberitahu kalau besok akan masuk kerja. Rekannya bilang tidak perlu memaksakan diri.

"Apa kata dokter? Dia baik-baik saja?" tanya rekan Ji Ho. Jung In tertarik untuk ikut mendengarkan.

"Ya. Sudah membaik."


Rekan Ji Ho menawarinya teh tapi dia menolak dan permisi pulang. Dia berjalan melewati Jung In. Jung In memandang kepergiannya.


Jung In membayar obatnya. Dia mendapat pesan dari Ji Ho. "Aku tunggu kamu di tikungan."



Setelah mendapat uang kembalian dari apoteker, Jung In langsung pergi ke tempat Ji Ho sedang menunggunya.

"Kamu datang untuk menemuiku?" tanya Ji Ho.

"Kenapa aku harus pergi jauh hanya untuk beli ini?" ucap Jung In sambil menunjukkan barang yang tadi di belinya.

"Apa kabar?"

"Kamu sendiri?"

"Apotek mau tutup. Mereka akan keluar. Kita ke tempat lain saja."

"Tidak bisa bicara di sini?"

"Jika melihat kita, mereka akan mulai bergosip soal tentangmu."


Tanpa menunggu persetujuan Jung In, Ji Ho berjalan pergi. Jung In mau tidak mau mengikutinya. Sebenernya emang mau kali, hehe.



Mereka minum di sebuah kafe. Keduanya saling diam selama beberapa saat. Ji Ho yang pertama membuka suara.

"Putraku agak sakit."

"Kenapa? Penyakitnya parah?"

Ji Ho menggeleng. "Dia akan segera pulih."

"Syukurlah. Aku khawatir saat kamu pergi tiba-tiba." Ji Ho menatap Jung In."Saat melihat teman-temanmu diam, ku kira ada kabar buruk. Aku mau melupakannya, tapi malah kemari," aku Jung In sambil tersenyum.

"Kau bisa kirim pesan saja," ujar Ji Ho lalu meminum kopinya.

"Kamu jarang membalas."


Ji Ho tersenyum. "Aku sengaja melakukannya. Dan sudah ku beritahu alasannya."

Sejenak, Jung In menatap Ji Ho. Dia lalu menyesap kopinya lagi.

"Jadi, aku sudah bisa melanjutkan hidupku lagi. Jangan mencemaskanku," ujar Ji Ho.

Mereka diam beberapa saat. Lalu Jung In bertanya, "Apa maksud ucapanmu tadi, soal orang-orang akan bergosip?"


"Aku bukan pria biasa. 'Siapa wanita yang di dekat pria itu?', 'Ada apa dengannya?', 'Dia orang tua tunggal juga?'. Orang-orang akan menghakimi. Kamu bisa jadi bahan gosip."

Jung In tersenyum. "Karena itukah kamu menolak tawaranku untuk berteman?"

"Kamu tahu bukan karena itu aku melakukannya."

"Katamu sudah melanjutkan hidup. Kita bisa berteman."

"Kenapa kamu mau menjadi temanku?" tanya Ji Ho.

"Tidak ada alasan."

"Aku tidak butuh rasa ibamu."

"Kamu selalu merasa menjadi korban."

"Jika jadi aku, kamu akan paham," ujar Ji Ho.

"Jadi, kamu menolakku lagi? Berteman itu bukan masalah. Bisa saling menanyakan kabar, dan bertemu sesekali jika mau."

"Pacarmu akan berkata apa?"


Jung In berpikir sejenak. "Kamu mengkhawatirkanku atau mengkhawatirkan dirimu? Ini tidak perlu dikatakan, tapi aku yakin pilihan hidupku harus dihormati. Mulai sekarang, aku akan menghargainya jika kamu tidak berasumsi, atau khawatir mengenai hal yang tidak ku sebutkan. Membuatku tidak nyaman."

Diam lagi sesaat.....


"Ayo kita coba. Mari berteman," ajak Ji Ho. Jung In diam. "Apa kamu tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Ji Ho.

Jung In malah tersenyum sampai memperlihatkan giginya. "Kamu lucu."

"Kamu baru dapat teman lucu."

Mereka berdua tersenyum.


Ji Ho berlari menuju gedung apartemennya. Dia masuk ke sebuah mobil hitam. Mobilnyakah? Dia menyalakan mobil dan menjalankannya ke kafe tadi. Dia turun dan menunggu Jung In yang sudah melihatnya keluar. Mereka berdua lalu masuk ke mobil.


Seperti biasa, mereka banyak diam di dalam mobil. Jung In memperhatikan tempelan dinosaurus di jok mobil dan tersenyum bahkan tertawa kecil. Ji Ho ikut tertawa.


Jung In lalu memotret 'dinosaurus' itu. Dia tersenyum sendiri melihat hasil jepretannya. Ji Ho tampak menperhatikannya.


Ji Ho menghentikan mobilnya. Dia melihat Jae In. Jung In memperhatikannya dan heran sedang apa adiknya di sana. Belum lagi Jae In terlihat bersama seorang pria. Ji Ho mengira itu temannya, Young Jae. Mereka berdua memperhatikan mereka denngan lebih tajam. Ji Ho tersenyum dan yakin itu memang Young Jae.


"Apa yang lucu?"

"Mereka bersama-sama."

"Kenapa lucu?" Jung In melihat ke arah Jae in lagi. " Ada apa dengannya?"

"Kenapa? Mereka pasti bertukar nomor."

"Sulit dipercaya." Jung In melepas sabuk pengamannya.

"Kamu mau keluar?"

Jung In mengurungkan niatnya.

"Bagaimana kita bisa terus berteman jika kamu pikir itu sulit dipercaya?" tanya Ji Ho.

"Kita teman, lantas kenapa?" Jung In langsung menyesali ucapannya barusan. "Biasanya aku memikirkan ucapanku," gumamnya lirih. "Entah kenapa aku sembarangan saat bersamamu."


Ji Ho tersenyum. "Itu yang membuat kita berteman." Jung In jadi ikut tersenyum.

Bersambung ke One Spring Night episode 4 part 2




EmoticonEmoticon