Sinopsis K-Drama : Fates and Furies ( Episode 2 )

Fates and Furies

sinopsis fates and furies
All images credit and content copyright : SBS


Episode 2





Hee Ra keluar dari toilet. In Joon yang sudah menunggunya di luar langsung menarik tangannya. Dia memperhatikan telapak tangan Hee Ra yang kapalan. Hee Ra sontak menarik tangannya.

In Joon to the point meminta Hee Ra membantunya memenangkan hati Pak Montella. Dia bahkan memberikan beberapa lembar uang sebagai uang muka. Hee Ra merasa tersinggung. Apalagi kemudian In Joon berkata bahwa uang yang diberikannya sudah cukup banyak untuk seseorang yang bekerja di tempat karaoke. Kontan Hee Ra langsung menampar In Joon.

"Caramu datang jauh-jauh kesini dengan wajah putus asa mengingatkanku pada kerasnya hidupku jadi aku pikir aku harus membantumu. Tapi aku tidak bisa membantumu. Dan perlu kamu ingat, kamu tidak akan bisa menandatangani kontrak selama aku masih menjadi penerjemahnya."


In Joon menyusul Hee Ra yang hendak pulang. "Kau harus membayarku karena sudah menamparku."


Tiba-tiba sekretaris Kim datang dengan sebuah mobil. In Joon memaksa Hee Ra untuk masuk. Di dalam mobil, In Joon berkata Hee Ra pasti pembuat sepatu. Dia memegang tangan Hee Ra dan bilang kalau tangan Hee Ra kapalan karena menjahit sesuatu. ( Ah abang sok tahu. Bilang aja pengen megang tangan Hee Ra Bang. Hehe)

"Telapak tanganmu juga penuh warna. Siapa kamu sebenarnya?"

"Itu bukan urusanmu. Lagian kenapa kamu bicara banmal (informal) padaku?"

"Kamu juga bicara banmal padaku. Begini, aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini. Aku tida masalah jika kehilangan kontrak. Tapi aku ingin tahu kenapa aku ditampar."
Hee Ra tersenyum sinis.

In Joon bertanya dimana rumah Hee Ra karena dia akan mengantarnya pulang dan menyuruh Hee Ra sebutkan saja berapa uang yang dia mau. Hee Ra diam tak peduli.

Akhirnya In Joon minta maaf dengan tulus. Semuanya dilakukan karena dia sangat putus asa. Hee Ra pun luluh. Hee Ra yang tahunya In Joon adalah seorang manager tim berkata kalau In Joon bisa saja dipecat jika tidak berhasil memperoleh kesepakan. Dia memberitahu In Joon kalau putri bungsu Pak Montella adalah penggemar BTS. Cobalah dapatkan tanda tangannya siapa tahu berhasil.



Hee Ra turun dari mobil. Saat sampai depan toko sepatunya dia kaget melihat si rentenir sedang mengangkut barang-barangnya ke atas mobil. Ternyata si rentenir sudah menjual toko untuk membayar hutang Hee Ra. Hee Ra tak kuasa menahan tangis karena itu adalah toko peninggalan ayahnya. Dia marah-marah pada si rentenir. Si rentenir ikutan marah-marah sampai melempar barang-barang dari toko.

In Joon yang memutar balik lagi mobilnya, menyaksikan semuanya dari dalam mobil.
Hee Ra masuk ke dalam toko. Barang-barang berserakan di lantai. Hee Ra memungut pigura sertifikatnya.



Flashback

Hee Ra bertanya pada ayahnya yang sedang membuat sepatu, bagaimana kalau sertifikatnya di bingkai karena itu sertifikat dari sekolah desainer terbaik ketiga di dunia.

"Itu kan bukan ijazah," ujar ayah.

"Kepala desa saja memasang spanduk saat anaknya masuk universitas nasional seoul. Tidak semua orang bisa dapat sertifikat ini."

"Itu bahkan dalam bahasa Italia bukan Inggris. Siapa yang bisa membacanya."

"Astaga! Itulah yang membuatnya jauh lebih keren."

"Letakkan saja di laci."

Hee Ra hanya bisa tersenyum. Ayahnya menyerahkan high heels putih yang baru saja diselesaikannya padanya.

"Aku punya banyak sepatu. Kenapa ayah memberiku sepatu? Kulit mentah kan mahal."

"Konon, sepatu yang bagus akan membawa pemakainya ke tempat yang bagus. Sepatu itu akan membawamu ke tempat-tempat bagus di Italia."

Flashback end


Hee Ra menangis mengenang semua itu. "Maafkan aku ayah."

Tak disangka Jin Tae O datang ke toko. Begitu masuk dia langsung minta maaf karena berpikir dia salah alamat.

"Apa kau orang Hongkong?"

"Aku memang dari Hongkong. Tapi aku orang Korea. Bagaimana kamu bisa tahu itu?"
Hee Ra menjelaskan kalau ayahnya adalah pembuat sepatu yang Tae O pakai. Hanya satu yang dijual, kepada manager Centan Departemen Store.

Tae O langsung mengutarakan niatnya bahwa dia berniat mengganti bagian tumitnya. Tapi sepertinya dia datang diwaktu yang kurang tepat.

Hee Ra bersedia menggantikannya. Itu akan jadi sepatu terakhir yang dia perbaiki di toko ayahnya. Tapi saat dia menelepon seseorang untuk memesan tumit yang cocok, sepertinya hasilnya tidak sesuai yang diharapkan. Akhirnya Tae O mengajak Hee Ra keluar untuk minum.


Mereka duduk di sebuah taman sambil minum. Hee Ra memandang gedung-gedung terang di depannya dan berkata bahwa orang-orang yang tinggal di gedung itu pasti memiliki kehidupan yang berbeda. Mereka bisa melihat semua yang ada di bawahnya.

Tae O menawari Hee Ra untuk pergi ke tempat itu. Tempat tinggi dimana beberapa perusahaan melakukan collaboration work. Tapi Hee Ra menolak karena hanya akan membuatnya mengetahui siapa dirinya.

Tae O meminta Hee Ra untuk mengantarkan sepatunya ke hotel besok. Dan sekarang dia hanya memakai sandal rumahan.


Hee Ra mendatangi toko baju dimana sahabatnya bekerja. Sahabatnya langsung mengkhawatirkan Hee Ra karena dia tahu Chang Soo (si rentenir) menyita rumahnya.

"Aku lapar."

"Tunggu sebentar lagi pekerjaanku selesai." Sahabat Hee Ra mengeluh karena hari ini banyak sekali yang pesan baju. Hee Ra langsung bisa menebak kalau itu untuk collaboration party. Dia bercerita kalau seseorang mengajaknya kesana. Sahabatnya antusias menyuruh Hee Ra pergi ke pesta itu.

"Bertahan hidup saja sulit. Bagaimana aku bisa pergi ke pesta."

"Kita bangun tidur dan melakukan hal yang sama setiap hari. Apa salahnya memiliki satu hari yang istimewa?"

"Lebih baik aku tidur di rumah."


In Joon pergi ke sebuah restoran untuk bertemu Pak Montella. Tapi yang ditemuinya malah Hee Ra. Ternyata Pak Montella sudah pulang ke Italia.

Hee Ra menyerahkan sebuah dokumen kepada In Joon untuk ditandatangani. Dia yang akan mengirimnya nanti ke Italia.

In Joon senang karena kontraknya disetujui. Dia bergumam kalau tips BTS dari Hee Ra berhasil.

Hee Ra menyangkalnya. "Pak Montella merasa tersentuh saat mendengarmu bicara soal etika kerja."

In Joon dan Hee Ra sudah pindah tempat. (Sepertinya hotel yang dibelikan ayahnya Soo Hyun) In Joon menyodorkan sebuah amplop.

"Ini pembayaran yang tidak kamu terima kemarin, termasuk bonus."

"Apa ini? Kamu sudah minta maaf karena menawariku uang kemarin."

"Aku minta maaf soal kemarin. Tapi sekarang aku memberikan uang yang pantas kamu dapatkan." In Joon lalu memberikan kartu namanya dan meminta Hee Ra menghubunginya jika butuh bantuan. "Aku akan melakukan apapun untuk bisa membalas bantuanmu kemarin dan hari ini." In Joonpun pergi.



Hee Ra hendak mengambil amplop dan kartu nama In Joon namun seseorang sudah lebih dulu menyambarnya. Dia Cha Soo Hyun.

Soo Hyun memberitahu kalau In Joon adalah tunangannya. Hee Ra boleh mengambil uangnya tapi tidak dengan kartu namanya. Soo Hyun juga meminta Hee Ra untuk tidak berurusan dengan In Joon lagi.

"Sangat mudah merayu pria kaya. Beberapa idiot berpikir rasa kasihan mereka pada orang miskin adalah kasih sayang. Dan aku sangat mengenal wanita sepertimu. Dasar wanita pencuri!"

Hee Ra jelas kesal direndahkan seperti itu. "Kamu boleh mengambil kartu nama itu. Tapi itu tidak akan menghentikan pencuri untuk berusaha mendapatkannya. Aku biasanya tidak tertarik pada pria yang sudah dicuri, tapi aku tertarik pada barang yang dicuri. Berusahalah untuk mempertahankannya dengan baik.


Dari luar, Hee Ra memperhatikan In Joon dan Soo Hyun yang sedang ngobrol sambil sesekali tertawa.


Hee Ra kembali ke toko ayahnya. Dia membereskan barang-barang yang berserakan. Disanalah dia menemukan majalah yang waktu itu dibaca Ui Gun. Hee Ra tertegun mengetahui fakta bahwa In Joon adalah CEO Gold Group. Dia lalu teringat bagaimana Soo Hyun merendahkannya.

Hee Ra datang ke toko baju sahabatnya untuk meminjam baju. Ternyata dia berniat datang ke collaboration party. Sahabatnya menyuruhnya memilih baju yang tidak ada label harganya. Hee Ra memilih sebuah gaun berwarna merah.


Hee Ra sudah memakai gaunnya dan mengenakan sepatu pemberian ayahnya. Dia pergi ke hotel dimana Tae Oh menginap sekaligus tempat collaboration work antara Gold Shoes dan Centan DS diadakan. Saat Hee Ra masuk hotel, terlihat Tae Oh keluar hotel dengan tergesa-gesa. Mereka tidak bertemu. Hee Ra ke reseptionist dan menitipkan sepatu Tae Oh disana karena Tae Oh tidak bisa di hubungi.

Ternyata Jenny sedang dioperasi. Tae Oh terlihat sangat khawatir. Berkali-kali dia mencoba menghubungi seseorang namun tidak tersambung.



Di suatu tempat, Soo Hyun datang menghampiri Tae Oh yang sudah menunggunya. (Mereka punya hubungan?)

"Aku sudah bilang padamu jangan menghubungiku. Hubungan kita sudah berakhir di Hong Kong. Bagiku kamu sudah mati."

"Jenny akan mati." Soo Hyun tertegun.


Di lobi hotel, Hee Ra bertemu dengan In Joon. Karena Hee Ra sendirian, In Joon mengajaknya pergi ke acara bersama. Mereka naik ke tempat acara dengan bergandengan tangan.

Konon, sepatu bagus akan membawa pemakainya ke tempat bagus. Mereka salah. Orang yang memakai sepatu bagus tidak mungkin berada di tempat yang buruk. Jika ada orang yang memakai sepatu bagus mendekatiku. Aku harus mencuri hatinya.


Komentar :

Jangan-jangan Jenny anaknya Soo Hyun sama Tae Oh? Jelas mereka punya hubungan di masa lalu.

Di drama ini wajahnya Lee Min Jung sendu banget. Sesuailah sama jalan ceritanya. Yatim piatu, eh belum diceritain juga ding ibunya gimana, masih hidup atau enggak. Trus adiknya koma di rumah sakit. Punya hutang sama rentenir. Sebenernya Hee Ra ga ada niat pergi ke pesta. Tapi kayaknya gara-gara Soo Hyun melukai harga dirinya. Belum lagi ternyata In Joon seorang CEO. Belum kelihatan si niat sebenarnya Hee Ra apa. Apa cuman mau manas-manasin Soo Hyun? Atau  dia beneran pengen dapetin In Joon? Kayaknya dua-duanya deh.



Read More

Sinopsis K-Drama : Fates and Furies ( Episode 1 )

Fates and Furies


Sumber : SBS


All images credit and content copyright : SBS


Sebuah helikopter mengudara di atas kota. Gedung-gedung nampak bercahaya. Kembang api berpendar dengan indahnya. Seorang wanita cantik (Lee Min Jung) tersenyum bahagia melihatnya dari dalam helikopter. Disampingnya, seorang pria tampan (Joo Sang Wook) juga tersenyum menatap pemandangan indah di depan matanya, wanita cantik itu. (Langsung kebayang Cunning Single Lady hehe)
Ada seorang pria yang mengatakan bahwa sepatu yang bagus akan membawa pemakainya ke tempat yang bagus. Aku tidak suka ka-kata itu. Seperti memberi harapan palsu. Jadi aku berpikir itu tidak benar. Tapi hari ini, kurasa perkataannya benar. -Koo Hee Ra-

Episode 1





Busan.

Dipelabuhan, terlihat banyak kontainer. Di sela-sela kontainer itu, seorang pria muda baru saja selesai memasukkan pesanan kulitnya ke dalam mobil. Setelah membayar, dia langsung melajukan mobilnya menuju sebuah rumah kecil. Di dalam rumah itu, terlihat banyak sol sepatu, gambar sepatu, dan ada sebuah pigura sertifikat master sepatu buatan tangan milik Koo Dong Suk.

Koo Hee Ra (Lee Min Jung) sedang mengerjakan sebuah sepatu ketika Kang Ui Gun datang membawa sekotak bahan kulit. Ui Gun duduk lalu mengambil majalah di meja. Dia membuka halaman yang memuat profil Tae In Joon.


"Tidak hanya punya uang. Tapi kau punya wajah yang tampan juga. Apa ini? Dia akan menikah dengan pewarta Cha Soo Hyun? Noona, mengenalnya kan? Cha Soo Hyun adalah wanita impianku."

Hee Ra tidak menggubrisnya. Hee Ra menyuruh Ui Gun menyelesaikan pekerjaan, tapi Ui Gun bilang sudah ada janji. Ui Gun mengambil jam tangan milik Hee Ra. "Aku sudah menyuruhmu untuk memperbaiki jam tangan ayahmu."


Hee Ra langsung menyambar jam tangannya. Dia sudah melepas celemeknya dan memakai jaket serta topi hitam. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya. "Hati-hati. Mereka datang." Sontak Hee Ra dan Ui Gun bergegas membereskan ruangan, menutup jendela, dan mengunci pintu.

Terdengar suara sirine polisi. Hee Ra dan Ui Gun berlari melewati lorong-lorong sempit di daerah pemukiman mereka. Namun polisi berhasil menemukan mereka dan tak henti-hentinya mereka saling berkejaran.

Dia bilang sepatu yang bagus akan membawa pemakainya ke tempat yang bagus. Dia salah. Orang-orang memakai sepatu bagus karena mereka berasal dari tempat yang bagus. Memakai sepasang sepatu yang berbeda akan mengubah hidupmu? Tidak akan pernah.

Seorang pengendara sepeda lewat hingga Hee Ra terjatuh dan jam tangan ayahnya terlempar dari sakunya. Ui Gun berusaha menolongnya namun polisi keburu datang hingga dia memilih untuk melarikan diri. Hee Ra mengambil jam tangannya lalu berlari ke arah yang berbeda dari Ui Gun. Tiba-tiba seseorang menariknya ke sebuah lorong sempit hingga polisi tidak bisa menemukannya. Hee Ra terlihat tidak senang melihat orang yang menolongnya.


Ternyata yang menolong Hee Ra adalah seorang rentenir. Mereka minum di sebuah kedai. Dan dari perkataan si rentenir kita tahu bahwa Hee Ra selama ini membuat sepatu palsu di tokonya makanya sampai dikejar-kejar polisi. Hee Ra juga pernah bersekolah di Italia.

"Kosongkan saja jadwalmu selama tiga hari ke depan. Ada seorang pengusaha Italia yang akan kesini. Temani dia seperti ke tempat-tempat pasar Gukje dan jadilah penerjemahnya."

Sebelum pergi, si rentenir memberikan uang pada Hee Ra untuk membeli baju bagus dan menyuruh Hee Ra merias diri agar tidak terlihat mengerikan. Seperginya si rentenir, Hee Ra mendapat panggilan dari rumah sakit Hyun Joo.


Tae In Joon (Joo Sang Wook) mendatangi kakak tirinya, Tae Jung Ho di suatu lokasi yang rencananya akan dibangun pusat perbelanjaan. Dia langsung mencengkeram kerah Jung Ho dengan marah.

"Aku sudah menghabiskan waktu tiga tahun untuk bisa membangun pabrik sepatu baru disini."

Rupanya mereka rebutan tanah. Jung Ho menyuruh In Joon untuk mengalahkannya dulu. In Joon kesal sampai membanting kakaknya ke tanah. 

In Ho tak kalah kesal, tapi dia mencoba menahannya. "Temui dewan direksi dan minta persetujuan ayah. Baru aku, anak kesayangannya, akan menyerahkan tanah ini."


Hee Ra menjenguk adik perempuannya yang koma di rumah sakit. Bibi yang merawatnya marah-marah karena Hee Ra belum membayar gajinya.




Tae In Joon pulang ke rumah ayahnya saat ayahnya sedang memarahi adik perempuannya , Jung Min, yang selalu membuat masalah. Ayahnya bahkan menampar Jung Min dan memukul perabotan rumah dengan stik golf. In Joon melihatnya dengan acuh seolah hal seperti ini sudah biasa terjadi. (Ayahnya galak banget boo) Nyonya rumah sendiri malah sedang asik makan mie di dapur.


Ibu tiri In Joon menyuruh istri Jung Ho untuk membereskan pecahan guci di lantai. Ibu tiri terlihat tidak suka pada menantunya karena ternyata keluarga menantunya abis bangkrut. Dan menantunya ini kelihatan takut banget sama mertuanya sampai gemetaran gitu.
In Joon berada di ruangan ayahnya menegosiasikan soal tanah. Ayahnya menyuruhnya untuk menyerah saja dan menikah dengan Cha Soo Hyun agar In Joo  bisa melakukan apapun yang dia mau. In Joon bersikeras mau membangun pabrik sepatu karena itulah keinginan mendiang ibunya.

Ibu tiri ternyata menguping di luar dan kepergok In Joo  saat dia keluar. Ibu tirinya ini fix jahat. Mereka jelas kelihatan tidak akur dan membenci satu sama lain. Kayaknya ada cerita dibalik kematian ibunya In Joon.



Saat In Joon keluar dari rumah ayahnya (berarti dia tinggal terpisah dari ayahnya) dia teringat kenangan saat dia berusia 12 tahun. In Joo  kecil keluar dengan menyeret sebuah koper. Sambil menangis dia berteriak bahwa dia akan kembali lagi.


Cha Soo Hyun sedang melakukan siaran dengan seorang pewarta pria. Pewarta pria membahas tentang Jung Min yang berkendara dalam keadaan mabuk. Soo Hyun memotong ucapan pewarta pria seolah membela Jung Min. Setelah siaran berita selesai, si pewarta pria langsung marah-marah karena Soo Hyun memotong ucapannya. Dia tidak mau lagi bekerja dengan Soo Hyun. So Hyunnya santai-santai aja. Dan para kru juga diam saja seolah takut pada Soo Hyun.


In Joon pulang ke apartemennya. Soo Hyun sudah menunggunya di lobi dengan sebotol anggur. Saat sedang menunggu lift, Soo Hyun mengeluh karena selalu membacakan berita tentang keluarga In Joon setiap jam 8 malam. Tapi In Joon terlihat tak peduli. Dia lebih suka hubungannya dengan Soo Hyun sebagai mitra bisnis saja.

"Kalau begitu anggap saja aku ingin menikahimu," ujar Soo Hyun.

Soo Hyun berkata bahwa ayah In Joon mengiriminya tiket ke Busan agar bisa membantu In Joon disana.

"Kamu tahukan, keluargaku adalah keluarga yang paling berpengaruh di Busan? Ayahku sudah membelikan hotel untukmu."

"Aku tahu sedikit soal itu."

"Sedikit? Ayahku sudah menghabiskan banyak uang untuk itu. Bukankah kamu harus berhasil menandatangani kesepakatan apapun yang terjadi?"

"Bagaimana kamu tahu semuanya?"

"Karena kita membutuhkan Centan Departemen Store untuk memegang kendali penuh Gold Group. Aku ingin menikahi seorang konglomerat."

Pintu lift terbuka, tapi In Joon hanya menghela nafas dan tidak ikut masuk.



Busan.

Hee Ra sedang memandu seorang pengusaha dari Italia. Dia menemaninya keliling Busan bahkan ke pasar di Busan. Saat sedang melihat-lihat kain, si turis Italia sengaja menyentuh tangan Hee Ra. Sontak Hee Ra langsung melepaskannya.
Mereka makan di sebuah kedai si turis menebak kalau Hee Ra pasti sudah sering kencan. Hee Ra menyangkal karena di korea 'no money no love'. Tapi menurut si turis hidup adalah tentang cinta. Jiahh

"Kamu harus bersama denganku malam ini. Aku akan membayarmu lebih." (Omo!)
Ternyata si turis cuma mau Hee Ra jadi penerjemahnya. Dia lalu memberikan sebuah kartu nama atas nama Kim Ji Gyu dari Gold Group. "Katakan pada mereka untuk tidak perlu ke Busan dan kesepakatannya batal." Hee Ra menyetujuinya.

Kim Ji Gyu ternyata sekretarisnya In Joon. Dia langsung melapor bahwa Union Leather tidak mau menandatangani kesepakatan. In Joon bergegas memesan tiket pesawat ke Busan.



Di dalam pesawat, terlihat Jin Tae O (Lee Ki Woo) sedang melihat berita pertunangan In Joon dengan Soo Hyun di tabletnya. Seorang anak perempuan yang duduk di sampingnya, namanya Jenny, memanggilnya ayah dan bertanya mereka mau kemana.

"Busan."

"Kenapa kita pergi kesana."

"Karena pekerjaan ayah."

"Centan Departemen Store?"

"Aigoo. Kamu tahu semuanya."

Jenny memeluk lengan ayahnya lalu memejamkan matanya. Tae O memeriksa suhu tubuh Jenny dengan termometer yang dimasukkan ke telinga. Suhu tubuhnya 38°. Tae O terlihat khawatir. Sepertinya Jenny sedang sakit.

Di sebuah tempat karaoke, si turis yang ternyata namanya Pak Montella, bersulang dengan seorang pria berjas hitam. Hee Ra juga ada disana.

In Joon datang. Pria berjas hitam kesal. Dia bilang dia sudah selesai bicara dengan Pak Montella, tapi In Joon tidak peduli. In Joon bertanya apa ada penerjemah disana?

"Silahkan bicara," kata Hee Ra.

"Kami sangat membutuhkan kulit mentah Union Lether. Kami juga sudah membuat sampelnya, jadi kami tidak bisa mundur."

Hee Ra terus memperhatikan In Joon bicara. Entah apa yang dipikirnya. Hee Ra lalu memberitahu apa yang dikatakan In Joon pada Pak Montela.

"Dia bilang itu masalah Anda," kata Hee Ra.

"Bilang padanya bahwa orang yang tidak memiliki kesetiaan akan berakhir tidak baik."

Pak Montella malah menanyakan pendapat Hee Ra, karena menurutnya Hee Ra yang paling pintar diruangan itu.

"Pepatah Korea mengatakan, dompet sutra tidak bisa dibuat dari telinga babi." (Mian, ga tahu maksudnya apa)

Pria berjas hitam marah mengira Hee Ra menghasut Pak Montella. Dia menyiram Hee Ra dengan minuman.

"Kau merusak suasana. Jadi lepaskan bajumu untuh memeriahkan suasana."


Hee Ra jelas kesal. Dia berdiri lalu menyiramkan es batu ke kepalanya sendiri. "Aku lebih suka basah kuyup." Hee Ra pergi dan In Joon menatap kepergiannya.

Baca juga :
Sinopsis The Crowned Clown

Komentar :

Berharap ada scene-scene comedy kaya di CSL. Tapi ini melodrama gilrs bukan romcom.
Seperti drama korea kebanyakan. Ceritanya antara si pria kaya dan si gadis miskin. Masih episode satu sih, jadi belum tau apa ceritanya bakal seru atau enggak. Sebenernya pengen recap encounter atau memories of the alhambra. Tapi udah banyak boo yang nulis sinopsisnya (hehe). Jadi karena aku lumayan suka sama istrinya abang Lee Byun Hyuk ya akhirnya bikin recap ini aja deh.
Read More

Sinopsis Feel Good To Die ( Episode 4 )

Feel Good To Die

Sumber : KBS 2




Episode 4


MW Chicken sedang mengadakan pertemuan tentang evaluasi petusahaan. Joon Ho menguap sangat lebar mendengar pidato panjang lebar CEO Kang. Dia tidak tertarik sama sekali. Karyawan lainpun sepertinya bosan mendengarnya, karena pidatonya sama seperti tahun-tahun sebelumnya.

Selesai acara evaluasi, CEO Kang mengumpulkan Direktur Na dan para manager. Dia langsung menanyakan apakah tidak ada ide untuk membekukan gaji tahunan karyawan tahun depan?

Direktur Na menjawab bahwa dia ragu karena kenaikan profit tahun ini 150 %. Sontak CEO Kang marah dan hampir melemparnya dengan telepon kalau saja Manager Yoon tidak memotongnya. Walaupun sempat ragu, tapi Manager Yoon akhirnya mengutarakan pendapatnya bahwa perusahaan bisa mengambil keuntungan dari hasil evaluasi karyawan yang akan diadakan sebentar lagi. (Mungkim maksudnya bakal ada yang di phk kali ya kalau hasil evaluasinya ga bagus?)

Roo Da sedang searching perihal pengunduran diri. Tiba-tiba Jin Sang mengagetkannya dan melihat apa yang sedang Roo Da Lakukan. Jin Sang senang karena Roo Da akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri. Dia langsung berdiri dan meminta semua orang bertepuk tangan untuk Roo Da. Semuanya bertepuk tangan dengan kebingungan.

Jin Sang mendapat pesan teks dari Direktur Na bahwa CEO Kang ingin bertemu. Roo Da sangat kesal pada tingkah Jin Sang. Dia memutuskan untuk mengirim resumenya pada 100 perusahaan.

CEO Kang sedang tidur di kursinya dengan kaki di atas meja. Jin Sang datang. CEO langsung bangun dan menyuruhnya duduk. Ternyata Jin Sang ditawari untuk jadi ketua untuk evaluasi karyawan. Jin Sang setuju.

Pertama yang Jin Sang lakukan adalah mengevaluasi anggota timnya terlebih dahulu.
Usai diwawancarai Jin Sang, Roo Da mendapatkan telepon dari HRD  perusahaan yang dia lamar secara online kemarin. HRD memberitahu tentang wawancara besok dan Roo Da harus membawa bukti hasil kerja dari perusahaan sebelumnya. Kebetulan Jung Hwa lewat dan tak sengaja mendengar percakapan Roo Da.

Roo Da membawa kopi untuk Yoon Mi, pegawai HR di kantornya. Roo Da minta tolong dibawakan bukti hasil kerjanya. Yoon Mi menyuruhnya menunggu. Saat sedang menunggu Roo Da tak sengaja melihat mesin fax yang macet. Dia pun mengambil kertas yang tersangkut disana. Roo Da terkejut karena kertas itu berisi surat pemperitahuan tentang pembekuan gaji dan pengurangan kesejahteraan.

Aku sudah mulai membenci pemimpin tim. Dan sekarang perusahaan juga.

Joon Ho sedang makan malam bersama paman dan kakeknya. Kakeknya bertanya soal pekerjaan dan pacar. Dia bilang tidak punya pacar. Dia juga kesal karena diinterogasi saat makan. Kakek bertanya kenapa tidak ada yang menyenangkan dalam hidup Joon Ho. Joon Ho langsung ingat Roo Da dan tersenyum sendiri. (Joon Ho ini pembawaannya ceria banget. Kayak yang ga punya beban)

Roo Da berjalan sendirian di trotoar.

Seseorang pernah berkata padaku. Ketika kamu membenci segalanya, saat itulah kamu pergi.

Anggota tim pemasaran minus Roo Da duduk sambil memperhatikan Jin Sang yang sedang sibuk. Yoo Doek berkata sepertinya hasil evaluasi karyawan tidak bagus karena semalam saat dia balik ke kantor karena ponselnya ketinggalan, dia melihat Jin Sang meremas kertas dan tampak kesal. Jung Hwa dan Min Joo tidak percaya. Tiba-tiba terdengar suara Pak Yoon ketua tim HR dari speaker, menyuruh semua karyawan berkumpul di auditorium.

Roo Da sendiri sedang mempelajari profil perusahaan dimana dia akan di wawancara. Datanglah seorang pelamar pria yang mendekatinya dan bertanya apakah Roo Da akan wawancara juga. Dia berkata bahwa ibunya sakit jadi dia sibuk merawat ibunya sampai tidak punya waktu untuk belajar. Dia meminta Roo Da untuk memberitahunya pertanyaan apa saja yang akan ditanyakan dalam wawancara. Roo Da bilang dia tidak tahu.

Pantang menyerah, si pelamar ini berkeliling meminta bantuan pada pelamar lainnya. Tapi semua mengacuhkannya. Hingga dia menabrak seorang pria yang dia kira pelamar juga. Pria yang ditabrak marah sampai mendorong si pelamar hingga jatuh menimpa sekantong sampah yang dibawa petugas cleaning service. Terdengarlah panggilan untuk giliran wawancara selanjutnya.

Roo Da dan Si Pelamar duduk bersebelahan di ruangan wawancara. Dan ternyata orang yang di tabrak si pelamar tadi adalah salah satu pewawancara. Dia langsung menyuruh si pelamar untuk memperkenalkan diri.

"Halo. Namaku Kang Min Hyuk." Ngik. Kaya orang asma gitu. "Ibuku sakit." Ngik. "Jadi aku..."

"Apa kau disini untuk menceritakan kisah sedih?" Pewawancara langsung mengusir  si Min Hyuk. Baru beberapa langkah, tiba-tiba Min Hyuk terjatuh tak sadarkan diri. Semua terkejut termasuk Roo Da. "Ottoke?"

Jeng jeng Min Hyuk membuka matanya dan langsung berdiri tegak. "Ini akhir dari wawancara." Oh ternyata si Min Hyuk ini salah satu pewawancara juga. Dia tadi acting buat melihat rasa kerjasama, karakter, dan reaksi menangani masalah dari para pelamar. Dan akhirnya, tidak ada yang lulus.

Sementara di MW Chicken, semua sedang berkumpul di auditorium. Jin Sang membacakan hasil evaluasi. Awalnya berjalan lancar. Tapi kemudian ruangan terdengar riuh saat Jin Sang berkata bahwa hasil evaluasinya berantakan.

Roo Da keluar dari tempatnya wawancara. Dia kecewa karena tidak jadi mendapatkan pekerjaan. Ponselnya berbunyi. Ada pesan masuk dari Min Joo yang memberitahu bahwa semua orang disuruh berkumpul di auditorium. Roo Da langsung menelepon Min Joo. Terdengar suara Min Joo yang panik mengatakan bahwa Jin Sang kesetrum kabel mikrofon.
Roo Da bangun dari tidurnya.

13 November, Selasa ke-2

Roo Da bingung karena Jin Sang meninggal bukan karena dia yang mengutuknya. (Tadinya Roo Da mengira Jin Sang meninggal karena dia yang menyuruhnya. Tapi kan kemarin dia ga ada di aula tpi kok Jin Sang tetap meninggal dan waktunya kembali terulang)
Ibunya masuk mengingatkannya untuk wawancara. Awalnya dia bilang kalau dia sudah wawancara kemarin. Tapi kemudian tersenyum kegirangan karena sadar kalau waktunya terulang lagi.

Roo Da datang ke tempat wawancara dengan semangat. "Mari kita selesaikan wawancara secepat mungkin dan pergi ke auditorium untuk mencari tahu penyebab lingkaran waktu ini.
Di ruangan tunggu wawancara, Roo Da langsung mendekati si Min Hyuk. Min Hyuk sontak memberitahu kalau ibunya sakit. Roo Da pura-pura kaget dan berinisiatif membantunya mempelajari bahan wawancara. 

Pewawancara satunya sengaja menendang kantong sampah. Roo Da melihatnya. Dengan semangat 45 dia membereskan sampah yang berserakan.

Saat si Min Hyuk pingsan, Roo Da menyuruh semuanya tenang. Dia langsung melakukan CPR bahkan menampar-nampar Min Hyuk agar sadar. Min Hyuk seketika berdiri dan berkata, "Roo Da, kau lulus." Semuanya bertepuk tangan. 

Roo Da langsung ngacir ke MW Chicken. Dia masuk ke auditorium yang sedang ricuh. Tapi Roo Da terlambat. Jin Sang kesetrum tepat di depan matanya.

13 November, Selasa ke-3

Hari ini adalah soal kecepatan.

Roo Da berjalan memasuki tempat wawancara. Dia memeriksa tasnya dan menemukan sebuah boneka kecil. Terdapat tulisan disana, "Nona Lee, semoga berhasil dengan wawancaramu". Ternyata dari Jung Hwa. Roo Da terkejut karena ternyata Jung Hwa tahu.

Roo Da melakukan semuanya lebih cepat kali ini hingga dia kelelahan. Diapun dinyatakan lulus wawancara dan yang lainnya gagal. Seorang pelamar wanita mencoba protes karena dia tidak diberi kesempatan untuk wawancara dulu. Tapi pewawancara menceramahinya dengan kata-kata yang kasar. Roo Da sampai mencengkeram tasnya karena kesal mendengarnya.

Selesai wawancara, Roo Da menghubungi Jung Hwa. Di telepon Jung Hwa berkata bahwa boneka itu adalah buatannya. Dia tanpa sengaja mendengar Roo Da saat di telepon untuk wawancara.

Min Joo menghampiri Jung Hwa dan mengambil teleponnya. Dia bilang akan mentraktir Roo Da makan besar setelah gajian bulan depan. "Kita adalah kawan. Dan ini adalah medan perang." Roo Da terharu mendengarnya.

Usai mengakhiri panggilan Roo Da bertemu dengan Min Hyuk dan pewawancara satunya yang kelihatan angkuh. Roo Da diajak bicara tentang pekerjaannya nanti dan gajinya. Tapi Roo Da menolak karena sekarang punya urusan mendesak. Lewatlah seorang pegawai yang menyapa mereka hingga berkas yang dibawanya terjatuh. Bukannya membantu, si pewawancara angkuh malah mengkhawatirkan sepatunya yang ketimpa berkas. Akhirnya Roo Da yang membantunya. Min Hyuk memuji Roo Da. Mereka berduapun pergi meninggalkan Roo Da.

Roo Da yang kesal menghentikan mereka berdua.

"Mengapa kalian berdua tidak membantu? Kalian berdua mengatakan kerjasama tim itu penting. Itu bukan sesuatu yang bisa kau temukan dengan sebuah wawancar." Roo Da mengingat waktu-waktunya bersama tim perencanaan. "Itu sesuatu yang bisa kamu dapatkan setelah bekerja bersama, berbicara dibelakang punggung seseorang, minum, dan bahkan gagal dalam proyek. Dan apakah kamu mengatakan karakter seseorang itu penting?" Roo Da memandang boneka Jung Hwa ditangannya. Dia mengingat kepolosan Jung Hwa. "Tapi pikirkan tentang karaktermu! Kalian memiliki lidah yang tajam untuk orang-orang yang seharusnya mendapatkan rasa hormat. Dan jangan pernah berkata bahwa kau tidak mendapatkan pekerja yang baik. Berpikirlah mengapa pekerja yang baik tidak datang ke tempat ini, contohnya aku!" (Artinya Roo Da menolak bekerja di perusahaan ini)

Roo Da bergegas menuju auditorium. Dia langsung menghampiri Jung Hwa yang di beri tugas untuk memproyeksikan laporan hasil evaluasi. Untung Jin Sang belum melakukan presentasi. Roo Da menyuruh Jung Hwa untuk pergi dan dia yang akan mengurusnya. Dia terkejut saat melihat file hasil evaluasi. Ternyata Jin Sang akan membuka semua kekurangan dan kejelekkan semua tim. (Pantesan aula jadi heboh). "Apa dia sudah gila."

Lagi-lagi Joon Ho nongol di samping Roo Da. Roo Da terkejut dan reflek memeluk laptop. Tapi terlambat karena Joon Ho ternyata sudah melihatnya.

"Apakah semuanya akan tetap tenang?"

"Mereka semua akan mencoba membunuhnya."

Roo Da tertegun dan menyuruh Joon Ho mengulangi kata-katanya.

"Seluruh pimpinan tim akan berusaha membunuhnya."

Roo Da tersenyum seolah mendapat pencerahan. "Ya, itu dia masalahnya." Roo Da mengambil fax tentang pembekuan gaji dan meminta tolong pada Joon Ho untuk memfoto kopinya. Joon Ho manut saja.

Jin Sang baru saja memulai presentasinya. Dengan memeluk hasil fotokopian fax, Roo Da mencoba menganalisis situasi. Dia mengingat apa yang terjadi pada Selasa sebelumnya.

Flashback

Jin Sang benar-benar mengupas habis kejelekan para pimpinan tim. Suasana jadi gaduh. CEO Kang yang tidak mengira bahwa situasi akan jadi seperti ini pun geram. Dia berdiri dan berteriak, "Bunuh diaaaaaa."

Flashback end

Jika ada yang mengutuknya, dia mati.

"Baiklah. Bahkan jika aku pindah kerja atau ke luar negeri, aku tidak bisa melarikan diri dari Tuan Baek seperti ini. Aku harus menghentikan ini."

Roo Da melihat tangga di lantai dua auditorium. Dia naik ke sana dan menaiki tangga. Roo Da memberi aba-aba pada Joon Ho untuk mematikan lampu tepat saat Jin Sang akan mengupas hasil evaluasi. Lampu mati. Roo Da menyebar fotokopian. Dan Joon Ho terpana melihat Roo Da. "Aku tahu itu. Aku memiliki mata yang baik untuknya."

Semua orang terkejut membaca isi selebaran. Para ketua tim sontak menarik selebaran-selebaran itu. Para karyawan berbisik-bisik bahwa perusahan telah menipu mereka.

Bu Choi berkata bahwa ini adalah medan perang dan mereka adalah kawan. Aku memutuskan untuk berada di tempat dimana teman-temanku berada.

Roo Da menarik Jin Sang ke balik tirai. Jin Sang kaget. Roo Da menutup mulut Jin Sang dengan tangannya. "Aku sudah menyelamatkan Anda. Lain kali Anda harus siap."

Tidak peduli apakah lingkaran waktu atau Baek Jin Sang. Aku tidak akan lari. Aku akan membuat perlawanan.

Bersambung ke episode 5
Read More

Sinopsis Feel Good To Die (Episode 3 Part 1)

Feel Good To Die

Sumber : KBS 2

Episode 3 Part 1



Roo Da tertegun memandangi kalender ditangannya. Kamis, 8 November. Omo! Abis marah gila sama timjangnim eh ternyata harinya kembali berjalan. Roo Da jadi lesu maksimal. "Kenapa justru hari esok yang datang? Kenapa?" Diapun mengingat apa yang sudah dia lakukan kemarin pada Baek Jin Sang. Stresslah dia. Saking stresnya Roo Da sampai meringkuk di balik selimut sambil menghentak-hentakkan kakinya. Saat itu ibunya masuk langsung ngomel menyuruhnya membuka selimut, keluar, dan makan. Ibunya juga kayaknya stres tiap pagi harus ngeliatin tingkah anaknya yang aneh.

Roo Da memutuskan tetap berangkat kerja. Wajahnya nampak tertekan. Saat di dalam lift, pegawai lain menjauhinya. Wkwk mereka takut dicengkeram juga lehernya.
Sementara para pegawai yang sudah datang lebih dulu sedang berkumpul dan menggosipkan Roo Da dan Jin Sang. Bahkan salah satu pegawai laki-laki sangat antusias menunggu kedatangan mereka. Mungkin dia mengharapkan dapat tontonan lagi.
Roo Da membuka pintu pelan-pelan agar tidak ketahuan. Eh pintunya malah ketarik kebelakang sendiri sampai menimbulkan bunyi yang cukup keras. Sontak dia langsung jadi pusat perhatian.
Sementara Baek Jin Sang sedang berjalan di lobi dengan memegang lehernya lalu menelengkannya(???) hingga bunyi krekkkk. Mantep banget bunyinya.
Roo Da bertanya dimana Ketua Baek. Pak Yoo Doek memberinya kopi sambil menjawab bahwa Ketua Baek belum datang. Tiba-tiba ada yang berteriak memanggil Roo Da. Ternyata Joon Ho. Suaranya sampai menggaung di seisi ruangan. Dia berlutut di depan Roo Da.
"Aku mengkhawatirkanmu sepanjang malam. Ini tidak bagus. Berikan aku nomor teleponmu."
"Apa?"
Joon Ho langsung mengambil hp Roo Da dan misscall nomornya. Ketiga rekan Roo Da tersenyum meledek. Apalagi setelah mendengar ucapan Joon Ho yang sangat blak-blakan. "Aku benar-benar kepincut olehmu kemarin." Mendengar itu Roo Da langsung memuntahkan kopi yang sedang diminumnya lalu terbatuk-batuk.
"Astaga! Tuan Kang! Itu terlalu berlebihan jika itu lelucon."
"Aku benar-benar serius. Tidak bisakah kau tahu?"
"Aku sedang tidak ingin bercanda."
Dan yang menyahut adalah Baek Jin Sang yang baru masuk. "Baguslah. Aku juga. Aku memiliki sesuatu yang serius untuk dibicarakan." Dia memegang lagi lehernya yang ternyata sudah di tempel koyo. Lalu ditelengkan (??) sampai bunyi krekkk. Lagi! Haha
Mereka berakhir di dalam ruang konferensi. Ngiiik. Bunyi gitu waktu Baek Jin Sang menmencengkan mulutnya. "Nona Lee." Baek Jin Sang mulai melepas jam tangannya meniru apa yang Roo Da lakukan kemarin. "Apa yang kamu pikirkan tentang kekerasan di tempat kerja?" Roo Da bingung. Jin Sang melepas nametagnya dan menggulung talinya. "Menurut survei oleh situs web pencari kerja, sekitar setengah dari orang-orang yang bekerja di kantor sudah mengalaminya." Roo Da makin bingung. Jin Sang melepas kancing kemejanya lalu berjalan mendekati Roo Da. "Jenis kekerasan yang mereka alami, bahasa kasar dan sumpah serapah 30%, lalai dan ditinggalkan 24,6%. Roo Da mulai mundur karena Jin Sang terus mendekat. "Dan kekerasan fisik mencapai 15,6%. Selain itu ada kekerasan seksual, memaksa orang untuk minum, mengancam, dan menendang."
Roo Da mentok di tembok. "Kenapa kamu memberitahukan ini padaku?"
Jin Sang menghentakkan telapak tangannya ke tembok dengan wajah geram. "Aku berpikir apakah si penyerang yang melakukan kekerasan di tempat kerja itu memikirkan hal ini?"
Roo Da terkejut dirinya disebut penyerang. "Tuan Baek, aku pasti sudah gila kemarin. Dunia itu gila. Jadi aku juga ikut gila." Jin Sang tidak terima dan langsung melonggarkan dasinya. Kayak cowok kalo mau berantem gitu kan dasinya dilonggarin ya. Roo Da panik dan menyuruhnya tenang.
Lagi tegang-tegangnya tiba-tiba ada polisi datang. "Kami mendapat laporan tentang kekerasan di tempat kerja."
Roo Da langsung kaget. Jin Sang tersenyum dan mengatakan pada polisi bahwa orangnya ada disini. Tapi ternyata polisi malah membawa Jin Sang. Dia syok dan langsung protes bahwa mereka salah orang karena dialah yang membuat laporan.
Roo Da jadi bingung. Apalagi petugas mengatakan bahwa dia bisa ikut ke kantor polisi sebagai korban. Dan saat mereka sampai, polisipun sadar ternyata antara korban dan tersangka terbalik posisinya. Jin Sang pun menjelaskan kronologisnya sambil membayangkan kejadiannya. "Bahasa kasar. Sumpah serapah. Dan kekerasan fisik. Dia telah melakukannya sekaligus."
Polisi menghela nafas tidak percaya. Lalu menyuruh Roo Da memperagakan apa yang sudah dia lakukan pada Jin Sang. Tapi alih-alih mencengkeram Roo Da malah hanya "mencubit" kerah baju Jin Sang lalu merapikannya kembali. Polisipun mengatakan bahwa kasus seperti ini tidak bisa didakwa. Roo Da manggut-manggut sedangkan Jin Sang terlihat tidak suka. Diapun menambahkan dakwaan tentang pelecehan seksual. Jin Sang bahkan memeragakan sendiri bagaimana lehernya di cengkeram sampai dia mengira dia akan mati. Bahkan tangannya masih gemetar saat ini. Roo Da terus menggelengkan kepala menyangkalnya. (Ketawa liat Jin Sang gerakin tangannya, bukannya gemetar malah keliatan kaya orang lagi nari)
Kebetulan ada seorang reporter yang bertanya pada salah seorang polisi apa yang sedang terjadi. Setelah polisi menjawab bahwa itu kasus kekerasan pegawai dari CW Chicken reporter itu langsung menghubungi CEO Kang.
CEO Kang tampak tidak senang saat tau siapa yang meneleponnya. Tapi dia berusaha terdengar ramah saat mengangkatnya. Ternyata reporter tadi, kita panggil reporter Kim.
Reporter Kim memberitahu bahwa Baek Jin Sang ada di kantor polisi. Kekerasan di tempat kerja adalah masalah yang cukup sensitif. Pasti akan jadi berita besar. CEO Kang hampir saja marah tapi akhirnya tertawa dan mengajak reporter Kim untuk ketemuan.
Setelah menutup telepon CEO Kang meluapkan emosinya dengan berteriak minta dipanggilkan Direktur Na. Suaranya sampai menggema di seisi ruangan.
Sesampainya di kantor polisi, Direktur Na langsung memanggil-manggil Baek Jin Sang. Karena tidak menemukannya diapun bertanya pada para petugas tapi mereka semua tidak ada yang tahu. Akhirnya dia menemukan Baek Jin Sang yang ternyata sedang memberikan ceramah dengan menggebu-gebu tentang kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan di depan Roo Da dan beberapa petugas polisi. Dia menghentikan pidatonya saat menyadari ada Direktur Na yang sedang melongok di pintu.
Direktur Na membelikan tahu untuk Roo Da dan Jin Sang. Dia menyuruh Jin Sang untuk bermurah hati dan menganggap ini hanya perilaku kekanak-kanakkan karyawannya. Jin Sang tidak mau karena ini menyangkut kekerasan fisik, verbal, dan seksual. Roo Da tidak terima dituduh melakukan kekerasan seksual.
Jin Sang : "Kamu menyentuh kulitku."
Roo Da    : "Aku hanya meraih kerahmu."
Jin Sang  : "Ah.... Jadi tidak masalah untuk menarik kerah seseorang?"
Roo Da     : "Kenapa kau ini?"
Jin Sang   : "Apa kau mau mengamuk padaku sekali lagi?"
Roo Da      : "Kamu secara terang-terangan menolak menerima permintaan maaf dariku. Lalu aku harus bagaimana?"
Jin Sang    : "Aku belum mendengar permintaan maafmu."
Tiba-tiba ada animasi burung terbang di atas mereka. Kwak kwak kwak.Roo Da akhirnya sadar kalau ternyata dia belum sempat minta maaf karena tadi polisi keburu datang. Dan ditengah perdebatan, televisi disana menayangkan drama yang adegannya seseorang mengucapkan permohonan maaf seolah-olah menyahut Jin Sang yang sedang menuntut permintaan maaf. Di sini aku ketawa.
Seolah mendapatkan ide, akhirnya Jin Sang menyuruh Roo Da untuk meminta maaf pada publik selama siaran perusahaan besok. Roo Da melotot tidak percaya.







Read More

Sinopsis Feel Good To Die ( Episode 1 Part 2 )

Feel Good To Die 

All images credit and content copyright : KBS 2

Episode 1 Part 2

Tim perencanaan sedang mempersiapkan acara pencicipan ayam buatan khusus untuk anak. Setelah persiapan selesai, anak-anak dan ayahnya masuk ke ruang acara. Baek Jin Sang memberikan sambutan. Di tengah sambutannya ada seorang ayah yang meminta Min Joo mencatat bahwa anaknya alergi kacang kenari dan persik. Belum sempat Min Joo mencatat dia mendapat panggilan dari sekolah anaknya bahwa anaknya demam dan Min Joo harus menjemputnya. Min Joo pun pamitan pada Roo Da.

Makanan datang dan dibagikan kepada semua meja. Tak lama terlihat seung woo (anak yang alergi) menggaruk-garuk badannya. Ayahnya yang menyadari anaknya menunjukkan reaksi alergi langsung marah-marah meminta bicara pada penanggung jawab acara.

Direktur Na yang baru datang bertanya pada Roo Da dan Yoo Doek dimana Min Joo. Roo Da pun menjawab apa adanya yang sontak membuat Direktur Na marah.

Ke empat anggota tim perencanaan berbaris dengan tegang di dalam ruangan Direktur Na. Sementara sang ketua tim duduk santai di sofa sambil ngopi. Direktur Na langsung menyalahkan Min Joo sebagai penanggung jawab menu malah pergi padahal si ayah sudah memberitahunya tentang alergi anaknya. Min Joo hanya bisa minta maaf. Direktur Na kesal. "Inilah sebabnya perusahaan tidak suka mempekerjakan para ibu." (adakah yang tersindir?)
Tiba-tiba Jin Sang menyela. "Direktur Na. Kita harus mengklarifikasi siapa yang harus bertanggung jawab atas insiden ini." Dan ini lah cerita Jin Sang....

Flashback
Min Joo diberitahu bahwa anaknya sakit. Jadi dia minta bantuan Yoo Doek untuk memberitahukan pada tim dapur bahwa meja no. 3 ada alergi jadi harus diperiksa bahan-bahannya. Karena Yoo Doek juga sudah sibuk dengan pekerjaannya, dia mengoper tugas dari Min Joo kepada Jung Hwa yang juga terlihat hektik dengan kerjaannya. Dan disinilah Yoo Doel salah memberitahukan meja no.4 bukan no.3.
Flashback end

Semua kontan menatap Yoo Doek yang hanya bisa minta maaf. Jin Sang lanjut bercerita.

Flashback
Jung hwa salah mengambil catatan. Bukannya catatan alergi yang diberikan pada chef tapi malah catatan belanja tim dapur.
Saat si ayah marah-marah ternyata Jin Sang datang menghampirinya. Setelah tau duduk permasalahannya, dia meminta untuk bicara pada ibu si anak karena biasanya sang ibulah yang paling tahu soal anaknya.

Jin Sang membuka kotak obat dan memilih salah satu obat lalu memberikannya pada si anak. Jin Sangpun menganggap bahwa masalah sudah terselesaikan. Tapi si ayah masih tidak terima dan mengancam akan memberitahu pers agar perusahaan ini di tutup.

Jin Sang membela diri bahwa si ibu mengatakan anaknya alergi semangka dan biji wijen bukannnya kenari dan persik. Dia bahkan menirukan ucapan si ibu. "Dasar bedebah itu. Ini bukan pertama kalinya. Aku akan menghajarnya setibanya di rumah." Si ayah sontak ketakutan. Dan Jin Sang si arogan membungkuk 90 derajat minta maaf. "Bagaimanapun aku tetap ingin meminta maaf secara tulus atas kecerobohan pegawaiku."
Flashback end

Jin Sang menjelaskan bahwa insiden ini tetap akan terjadi karena kesalahan si ayah. Direktur Na menimpali bahwa bagaimanapun juga tim perencanaan melakukan kesalahan.
Dengan semangat Jin Sang berkata, "Benar. Setiap orang melakukan kesalahan dalam hal menyampaikan pesan. Maka seluruh tim harus bertanggubgjawab."

Direktur Na heran karena Jin Sang dikenal tidak pernah meminta maaf kalau salah. "Karena kau mengakui kesalahanmu, sepertinya aku akan membiarkan ini." Direktur Na tersenyum kayak seneng sama perubahannya Jinsang. Aku pikir Direktur Na ga jahat deh.

"Apa maksud Anda? Aku tidak melakukan kesalahan. Apa Anda tidak mendengarku? Aku membahas pegawaiku bukan diriku. Aku mengatasi masalah itu dengan sempurna untuk kesalahan pegawaiku. Aku bahkan meminta maaf dengan sopan."

Direktur Na kesal. "Aku tahu kamu berusaha meloloskan diri. Tapi penanggung jawab harus bertanggungjawab!"

Dan ujung-ujungnya Jin Sang nyalahin Min Joo. Min Joo sampai melongo. Dan wajahnya yang lagi melongo itu sampai tercetak diponsel Roo Da yang diletakkan di meja. Ternyata semua tim sedang makan-makan di restoran untuk merayakan suksesnya acara pencicipan. Semua orang bergembira kecuali tim perencanaan yang minus Min Joo.

Di depan foto Min Joo di letakkan sebuah gelas. "Min Joo tidak akan kesepian karena dia bersama kita." Satu persatu mereka menuangkan minuman ke gelas 'Min Joo' lalu bersulang. Di saat anggota timnya sedang sendu, Jin Sang malah tertawa keras di meja para ketua tim.

Yoo Doek pamit pulang duluan karena istrinya lembur jadi harus menjaga anaknya. Jung Hwa juga karena takut ketinggalan kereta. Tinggallah Roo Da seorang diri.

Televisi di restoran menyiarkan sebuah berita kebakaran. Roo Da yang sedang menikmati makanannya memperhatikan berita itu.

Di dalam ruangan yang terbakar ada seorang wanita yang duduk sambil terbatuk-batuk karena asap. Dia tampak sedang susah payah menuliskan sesuatu di buku.

Jin Sang terus dipaksa minum oleh rekan-rekannya. Roo Da senang melihatnya. "Kau pantas mendapatkannya. Kau harus minum sampai habis dan matilah." Bersamaan Roo Da berkata matilah, wanita di dalam ruangan yang terbakarpun menulis 'matilah'.

Tiba-tiba Joon Ho datang mengagetkan Roo Da. Dia langsung protes karena Roo Da menikmati makanan sendirian.

"Kamu bisa memesan makanan bersama timmu."
"Aku tidak bisa melakukannya. Aku akan membayarmu."
"Dengan apa?"

Terdengar suara gelas pecah. Ternyata Jin Sang ambruk di mejanya. Terpaksalah Roo Da sebagai satu-satunya anggota tim perencanaan yang tersisa menghampirinya. Dia meminta bantuan pada para ketua tim tapi semua mengacuhkannya. Akhirnya dia minta tolong pada Joon Ho.

Roo Da dan Joon Ho memapah Jin Sang dengan susah payah. Oleng kanan oleng kiri. Roo Da mengeluh dia hanya ingin pulang.

Joon Ho : "Dimana rumahmu?"
Roo Da : "Bang baedong."
Joon Ho : "Oh. Aku di Seochodong. Kita tinggal berdekatan ternyata."
Joon Ho langsung bernyanyi lagu rap.
Aku pernah berkencan buta
Kami bertelepon untuk pertama kali
Aku sangat menyukai suaranya
Hobi kami sama
Kepribadian kami sama
"Permisi, aku tinggal di Kkachisan. Dimana tempat tinggalmu?"

Joon Ho menjawab pertanyaannya sendiri dengan ganjen. "Aku tinggal di pasar moran."

Roo Da tertawa melihat tingkah Joon Ho. "Lagu apa itu?"

"Itu lagu yang sangat mendalam. Semakin dekat tempat tinggal kita makin baik bagi kita berpacaran. Nona Lee, kamu punya pacar."
"Bagaimana kalau tidak?"

Tiba-tiba Jin Sang berhenti melangkah. Dia duduk berlutut di depan Roo Da. Daaaaann Jin Sang muntah tepat di celananya Roo Da. Melihat itu, Joon Ho langsung berinisiatif pergi membelikan tisu basah. Disaat Roo Da sedang fokus pada celananya, Jin Sang sempoyongan jalan ke tengah jalan raya hingga berkali-kali hampir tertabrak. Untung Roo Da segera menariknya untuk menepi.

Min Joo menelepon. Roo Da mengalihkan fokusnya pada Min Joo dan tidak sadar kalau Jin Sang berhasil lolos dari pegangannya. Jin Sang kembali ke tengah jalan raya dan kecelakaanpun terjadi. Jin Sang tertabrak truk. Dari kepalanya mengalir darah segar. Roo Da syok setengah mati. Dia berusaha membangunkan Jin Sang. Tapi Jin Sang malah kejang. Dia menyuruh orang-orang memanggil ambulans.

"Tuan Baek, aku minta maaf karena berharap agar Anda mati. Aku tidak menyangka Anda akan mati seperti ini."

Kepala Jin Sang tergolek seolah menandakan dia mati. "Tuan Baeeeeeek."
Suara alarm berbunyi. Roo Da membuka matanya. Dia lega karena tadi hanya mimpi. Saat hendak bangun dia malah terjatuh dari kasur persis seperti pagi kemarin. Dan anehnya, kalendernya menunjukkan tanggal yang sama dengan kemarin, 7 November.

Read More

Sinopsis Feel Good To Die ( Episode 2 )

Feel Good To Die

Sumber : KBS 2



Episode 2

Episode satu diakhiri dengan Roo Da yang terjatuh dari tempat tidur saat bangun setelah sebelumnya memimpikan Jin Sang meninggal. Tapi benarkah itu hanya mimpi? Ataukah harinya terulang karena kalender di kamar Roo Da menunjukkan tanggal yang sama seperti kemarin. Check it out!


Saat sedang sarapan, Roo Da terus kepikiran soal mimpinya semalam. Di kereta, masinis memberikan sambutan persis seperti sambutannya kemarin. Jadi Roo Da langsung memakai head setnya.

Sesampainya di lobi kantor, pegawai laki-laki paruh baya yang kemarin langsung bertanya kapan Min Joo akan cuti. Karena Roo Da memakai head set, diapun tidak mendengarnya. Jin Sang yang ada di belakangnyalah yang menjawab sama persis seperti kemarin.
Seolah waktu kemarin terulang. Namun Roo Da belum menyadarinya.

Saat Jin Sang masuk ruangan, Roo Da berdiri dan menyapanya hangat. Yang lain sampai keheranan melihatnya. Roo Da melihat jam dinding dan tampak khawatir karena Min Joo terlambat dua kali berturut-turut. Padahal itu belum pernah terjadi. Diapun bertanya pada Jung Hwa apa yang terjadi. Mereka bicara dengan bisik-bisik.

"Liftnya rusak. Mereka memanggil panggilan darurat dan situasinya kacau."

"Apa? Kemarin liftnya juga rusak."

Jung Hwa bingung. "Hari selasa liftnya tidak rusak."

Roo Da langsung mengecek tanggal di ponselnya. Dia kaget karena tanggal hari ini sama dengan kemarin. 7 November. Saat dia sedang bingung, Min Joo datang. Dan kejadian kemarin terus berulang. Roo Da benar-benar bingung. Apa dia mengalami prekognisi (mimpi tentang masa depan)?

Roo Da dan Joon Ho memapah Jin Sang . Joon Ho kembali ngerap.

"Dimanakah kamu tinggal?

Roo Da menyahut "Pasar Moran." Joon Ho tertawa takjub karena Roo Da tahu lagu itu. Roo Da jadi semakin yakin kalau dia mengalami mimpi prakognisi.

Jin Sang mau muntah. Roo Da langsung menghindar. Alhasil sepatu Joon Ho yang kena muntahan. Dia langsung ngibrit beli tisu basah. Roo Da panik ditinggalin. Dia berusaha menarik-narik Jin Sang yang terus mondar mandir dijalanan. Sebuah truk hampir saja menabraknya. Roo Da lega karena Jin Sang selamat. Tapi tiba-tiba datang sepeda motor yang membuat Jin Sang terpental.

Roo Da terbangun dari mimpinya. Dia langsung meraih kalender digitalnya. Dia kesal karena lagi-lagi hari Rabu, 7 November.

Aku tidak tahu maksud dari kejadian ini. Tapi faktanya adalah setelah makan malam tim, Tuan Baek meninggal. Jadi....

"Selamatkan Baek Jin Sang."

Sejak saat itu, misi rahasiaku telah dimulai. Menyelamatkan Baek Jin Sang.

Rabu, 7 November ke-3

Joon Ho hendak pergi beli tisu basah. Tapi Roo Da sudah mengantisipasinya jadi dia sudah mempersiapkannya di tas. Dia bahkan membantu mengelap sepatu Joon Ho. Jin Sang hampir saja nyelonong ke jalanan lagi. Roo Da langsung menyuruhnya berhenti. Jin Sang memang berhenti. Tapi naas karena dia malah terjatuh ke lubang selokan dan meninggal.

Rabu, 7 November ke-4

Saat Jin Sang akan muntah. Roo Da langsung membekap mulutnya dan menyuruh Jin Sang menelannya. Gleekk. Dokter berkata Jin Sang meninggal karena asfiksia (tertutupnya jalan nafas).

Rabu, 7November ke-5

Saat makan malam tim, Roo Da terus mencekoki Jin Sang dengan minuman berharap dia pingsan dan Roo Da bisa membawanya pulang dengan aman. Dan dokter berkata Jin Sang meninggal karena keracunan alkohol akut.

Rabu, 7 November ke-6

Roo Da menghadang Jin Sang yang akan masuk ke restoran tempat makan malam. Dia bilang makan malam di batalkan. Jin Sang tetap meninggal. Dokter berkata bahwa kematian mendadak pada usia 40 tahunan sudah sering terjadi. Stresslah Roo Da.
Rabu, 7 November ke-7

Roo Da menyeret paksa Jin Sang yang mabuk ke kantor polisi. Dia memohon pada pak polisi agar Jin Sang diijinkan tidur disana malam ini. Tapi malah Roo Da yang dimasukkan ke dalam sel. Jin Sang yang tanpa pengawalan berjalan sempoyongan dan menabrak seorang petugas hingga menyenggol pot bunga di meja. Akhirnya Jin Sang meninggal (lagi) karena kepalanya kejatuhan pot bunga.

Rabu, 7 November ke-8

Roo Da terlihat sangat lesu di mejanya. Terlihat lingkaran hitam di matanya.
Aku sendirian di pulau terpencil. Hari terulang di pulau terpencil. Bukan. Di tengah Yeouido. Tak ada jalan keluar untukku.

Akhirnya Roo Da memutuskan tidak ikut makan malam tim dan memilih pulang ke rumah. (Cape kali dia udah berjuang sekuat tenaga tapi Jin Sang tetap tak terselamatkan)

Rabu, 7 November ke-9

Sepertinya Rabu ke-8 Jinsang tetap meninggal karena hari terulang lagi. Roo Da merasa muak karena setiap hari harus melihat hal yang sama.

Akhirnya, setelah Jin Sang menunjuk Min Joo untuk bertanggung jawab, Roo Da  mengejar Jin Sang saat keluar dari ruangan Direktur Na.

"Tuan Baek. Aku rasa Anda keterlaluan. Anda terlalu kejam memarahi Min Joo di depan Direktur Na."

"Kamu tidak berhak berkata begitu. Karena kamu juga ikut andil membuat Direktur Na marah."

"Aku? Apa yang aku lakukan?"

"Kamulah yang melaporkan bahwa Min Joo pergi untuk mengurus anaknya di TK. Kamu tidak memastikan Min Joo pergi atau tidak. Artinya kamu juga harusnya ikut bertanggung jawab karena kamu tidak yakin situasi sebenarnya tapi berlagak tahu segalanya."

Setelah Jin Sang pergi, Roo Da terlihat memikirkan sesuatu. Dia berlari ke ruangannya dan bertanya pada Jung Hwa dimana Min Joo saat acara pencicipan.

Jung Hwa : "Dia bersama wartawan dari daily news dan monthly magazine karena mereka terkenal rewel." Roo Da kaget karena Min Joo ternyata tidak pergi menjemput anaknya.
Yoo Doek : "Ada apa? Nona Lee, apa kau baik-baik saja?"

Jung Hwa : "Kamu pasti kelelahan. Hari ini lebih melelahkan dari hari kemarin."

Yoo Doek : "Ya hari ini sangat sulit bagi kita. Aku menantikan esok hari, lusa, dan akhirnya akhir pekan. Bukankah begitu?"

Roo Da berjalan pulang seorang diri.

Aku juga memikirkan itu. Aku muak dengan hari ini. Aku menantikan hari esok. Tapi apa yang ku tahu tentang hari ini? Aku selalu menyia-nyiakan hari esok. Tapi mungkin hari esok hanya untuk orang-orang yang menjalani hari ini dengan maksimal.

Rabu, 7 November ke-10

Roo Da naik kereta dan mendengarkan masinis mengucapkan pepatah yang sama. Tapi kali ini dia tidak memasang head setnya sehingga dia mendengar kelanjutan ucapan masinis.

"Sejujurnya, dulu aku membenci pepatah ini. Aku benci dengan hidupku yang terus berulang. Dan pepatah itu seolah-olah menasihatiku agar lebih rajin. Setelah aku memulai siaran hari ini, orang-orang mulai mengirimiku pesan teks bahwa aku menyemangati mereka dalam perjalanan ke kantor. Setelah melihat orang-orang turun dari kereta bawah tanah sambil tersenyum aku menyadari hal ini. Tertarik pada hal di sekitar kita dan mencoba hal kecil, bisa mengubah tidak hanya hari kita, tapi juga hari orang-orang di sekitar kita."

Di acara pencicipan Min Joo memberitahu bahwa anaknya demam. Roo Da langsung menyuruhnya pergi dan dia yang akan mengurus semuanya. Min Joo sedikit tersinggung karena seolah-olah Roo Da menganggapnya akan mengabaikan tugas. Min Joo pergi dan Roo Da mengejarnya.

Roo Da mencari-cari Min Joo yang ternyata sedang duduk di tangga menelepon suaminya. Dia meminta suaminya yang menjemput anaknya. Sepertinya suaminya tidak setuju sehingga merekapun berdebat di telepon dan Roo Da mendengarnya. Setelah menutup telepon Min Joo mengeluh kalau dia bosan melakukan ini setiap hari. Diapun menangis. Roo Da hanya bisa duduk mendengar tangisannya.

Di acara pencicipan Roo Da berusaha memperbaiki kesalahan. Dia membantu Jung Hwa dengan memberitahukan chef hal yang benar. Dia bahkan meminta menelepon si ibu dari anak yang alergi sebelum makanan datang.

Aku baru menyadari, bahwa bukan hanya aku yang mengalami hal yang melelahkan.

Tapi masalah tetap muncul. Saat sesi pemutaran video untuk anak-anak, malahan yang di putar videonya anak Min Joo saat sedang berlatih. Ternyata Jin Sang mengambil flash disk yang salah padahal Min Joo sudah memintanya untuk mengeceknya terlebih dahulu.
Min Joo menghadap Jin Sang. "Aku sudah bilang bahwa diska lepasnya ada di saku kanan, tapi Anda melakukan kesalahan...." Ups, Min Joo keceplosan.

Dasar Jin Sang yang memang arogan, dia  tidak mau mengaku salah dan malah menimpakannya pada orang lain. "Bu Choi. Apa pendapatmu tentang mengundurkan diri. Kamu biasa pulang lebih awal untuk menjemput anakmu dan menyisakan pekerjaan. Keesokan harinya kamu masih ada pekerjaan sisa kemarin tapi kamu datang terlambat. Kamu bahkan tidak bisa mengedit video berharga tentang pertumbuhan anakmu." Jin Sang menatap perut besar Min Joo. "Dan kita akan mendapatkan masalah yang lebih besar lagi. Bukankah kita harus mencari akar masalah dan mengakhiri lingkaran setan ini?"

Permasalahan akhirnya merembet pada masalah ibu rumah tangga. Jin Sang ceramah panjang lebar tentang tugas ibu rumah tangga. Bahkan pidatonya sangat rinci sampai menjelaskan hasil survey segala. 

Roo Da sudah tidak tahan mendengar ocehan Jin Sang. Dia mendorong kursinya hingga terbalik dan mengeluarkan semua kekesalan yang selama ini dia tahan dengan berteriak pada Jin Sang sampai membuat semuanya kaget tak percaya.

"Kurasa Anda sudah keterlaluan. Anda melampiaskan kemarahan pada Bu Choi. Anda berusaha terdengar logis padahal semua itu omong kosong."

"Nona Lee. Apa kau sudah gila?"

"Aku gila? Aku hanya sudah tidak tahan." Roo Da menggulung lengan bajunya. "Baiklah. Aku akan mengatakan yang ingin ku katakan." Roo Da melepaskan jam tangannya kemudian mengantonginya. Lalu melepaskan ID card dan menggulung talinya. Akhirnya dia mulai berjalan kearah Jin Sang, melepas mantelnya lalu membantingnya ke lantai. Dia terus berteriak marah-marah meluapkan emosinya. Para pegawai dari divisi lain sampai ikutan berdiri kepo pada kelakuan Roo Da.

"Negeri ini bersikeras agar kita memiliki anak. Tapi di tempat kerja orang-orang mengeluh saat kita mengutamakan anak.  Apa yang harus mereka lakukan? Kesalahpahaman soal nilai pekerjaan rumah? Meremehkan ibu rumah tangga? Omong kosong macam apa ini!!?

Roo Da menarik Jin Sang dari kursinya dengan mencengkeram kerah bajunya.  Tak hanya sampai disitu, seperti orang kesetanan Roo Da mengguncang-guncang tubuh Jin Sang dan tak henti-hentinya ngoceh.

"Haruskah Anda mengatakan itu pada Bu Choi yang harus bekerja keras menjaga anak pertamanya dan melindungi bayi dalam kandungannya!!! Para suami selalu membuat beralasan bahwa anak-anak menyukai ibunya dan menangis saat mereka yang mengasuh. Pasti ada lebih dari 200 orang seperti Anda di sini. Seharusnya kita mengumpulkan mereka di aula dan mendengarkan pidato yang hebat ini. Katakan!! Jawab aku!!"

Jung Hwa dan Yoo Doek berusaha menghentikannya. Jin Sang sendiri hanya diam saja. Mungkin dia syok karena ternyata pegawainya ada yang berani melawannya. Sementara Joon Ho yang memandang dari luar terpana menyaksikan aksi Roo Da. "Luar biasa."

Bagaimanapun aku tidak punya hari esok. Jadi aku bisa melakukan apapun semauku. Tapi, begitu aku berpikir hanya bisa menjalani hari, seperti hadiah, bukan, seperti hukuman....

Roo Da syok setengah mati saat bangun tidur melihat jam digitalnya menunjukkan tanggal 8 November.

Hari esok dimulai.

Read More