He is Psychometric Episode 7 Part 4 (Drama Korea)

He is Psychometric
Episode 7 Part 4


Sumber konten dan gambar : TVN

HIS episode 7 part 3

Seorang resepsionis menyambut Jae In dan Lee An. "Selamat datang. Apa ini pertama kalinya Anda mengunjungi perusahaan kami?"

"Ya," jawab Jae In.

"Kalau begitu lewat sini."


Jae In dan Lee An saling berpandangan. Mereka mengikuti resepsionis sambil melihat-lihat sekelilingnya. Keadaan di sana terlihat seperti layaknya perusahaan biasa. Terlihat ada banyak orang di sana.

"Bukannya kamu bilang mereka tersebar?"

"Tidak. Mereka tidak tersebar. Kurasa ada salah paham."

***

Ji Soo dan Sung Mo mendatangi Komisaris Eun untuk meminta bala bantuan untuk menangkap anggota Dragon Head Hunting. Pak Eun tidak mengijinkannya. Dia minta kasus koper dibereskan dulu. Sung Mo menjelaskan kalau kasus koper dan DHH saling terkait. Pak Eun ternyata sudah tahu kalau Kim Gab Young yang membunuh korban koper. Sung Mo dan Ji Soo saling melempar pandang.


Ji Soo tidak menyangka ayahnya mengirim mata-mata untuk putrinya sendiri. Pak Eun tidak peduli dan pergi setelah sebelumnya meminta Sung Mo dan Ji Soo menyerahkan bukti yang rinci dan saksi untuk kasus koper jika memang ingin menyelidiki DHH.

Ji Soo menduga kalau det. Lee lah mata-mata ayahnya. Dia mengeluh karena mereka tidak bisa pergi ke perusahaan DHH tanpa cadangan seperti orang bod*h.

Sung Mo menatap Ji Soo. "Beri aku waktu. Aku akan menemukan caranya."


Dan dua orang bod*h yang pergi tanpa cadangan rencana sedang duduk di sebuah ruangan. Mereka saling pandang.

Seorang pria masuk dan bertanya apa mereka mau mendaftar. Dia minta mereka menunjukkan ktpnya. Jae In bilang mereka tidak membawanya.

"Aku berusia 25 tahun. Namaku Yoon Jae Soon," ucap Jae In sedikit tersendat-sendat.

"Aku juga berusia 25 tahun. Namaku Lee An Dong."

Si pria tertawa. "Sunggub usia yang sempurna untuk bekerja. Kalian berdua pacaran?"


Lee An jawab ya, Jae In jawab tidak. Giliran Lee An mengganti jawab tidak, Jae In jawab iya.

"Kami memasuki usia yang sempurna untuk bekerja dan pacaran dengan seseorang haha," celoteh Jae In.

Si pria menyodorkan formulir pendaftaran dan menyuruh mereka membacanya dulu. Jae In bertanya bisakah penunggak kredit menjadi anggota.

"Tunggu. Apa kalian berdua penunggak kredit? Kalian berdua?"

Jae In menyenggol kaki Lee An. Lee An pun menjawab ya. Si pria bilang dia punya karyawan yang bisa mengurus soal ini. Dia lalu mengambilkan dua botol minuman untuk Jae In dan Lee An lalu pergi dari ruangan itu.

"Apa ini? Kita mungkin benar-benar dipekerjakan di suatu tempat," ujar Lee An lirih.

"Ku rasa kita salah. Kita lihat-lihat saja dulu dan membahasnya nanti dengan jaksa Kang dan det. Eun."


Jae In mengambil botol minum di meja. "Apa ini?"

Lee An menyentuhnya dan melihat si pria menaruh serbuk di minuman itu.

"Si breng**k itu menaruh sesuatu di minuman kita."

"Obat tidur?"

"Mungkin."

"Jadi perkataan Pak Nam benar tentang kelompok ini. Tidak berantakan tapi lebih sistematis. Ayo kita pergi dari sini."


Mereka berdua keluar dari ruangan itu. Eh si pria muncul tanya mau kemana. Jae In beralasan mereka mau ambil ktp dulu.

"Lain kali kalau kalian datang lagi kalian bisa membawa Jaksa Kang dan Detektif Eun."

Jae In dan Lee An tertegun. Ternyata ada kamera tersembunyi di ruangan tadi.

"Aish. Ini semakin rumit," gerutu Lee An.

"Bagaimana ini?"

"Kalian siapa," tanya si pria.

"Kamu pandai bertarung?" Tanya Lee An lirih pada Jae In.

"Kamu tahu aku terbaik dalam segala hal. Aku ini lulusan terbaik akademi polisi."

"Kamu memang benar-benar bagus. Kalau tidak aku mungkin harus menyentuhmu untuk menyelamatkanmu."


"Aku tidak peduli. Aku menyerah untuk menghentikanmu."

Lee An sontak menatap Jae In. "Apa maksudmu?"

Si pria nimbrung. "Sangat menyenangkan melihat kalian saling menggoda. Tapi bisakah kalian memperhatikan kami untuk saat ini. Karena kalian berdua sedang dalam masalah."

Lee An dan Jae In berbalik. Ternyata sudah ada banyak geng di belakang mereka.

"Hei!! Ada yang sangat penting. Angkat tangan kalian jika kalian mengenal Kim Gab Yong," kata Lee An. "Aku akan mengurus si breng**k itu."


Dan semua orang mengangkat tangan. Jae In melirik Lee An. Lee An tersenyum lalu memakai tudung hoodie nya bersiap untuk bertempur.


Mereka pun berkelahi dua lawan banyak. Jae In dan Lee An saling bekerja sama mengalahkan lawan mereka. Sementara si pria menonton sambil berkacak pinggang.


Jae In terkena pukulan hingga dia hampir terjatuh. Beruntung Lee An berhasil menangkapnya. Biasa, mereka saling menatap beberapa saat. Dan totetttt Lee An melepas pegangannya hingga Jae In terjatuh.

"Aku kan sudah bilang tidak apa-apa!!"

"Naluriku mulai muncul."


Seseorang menendang Lee An hingga terjerembab ke lantai. Si pria menariknya dan menodongkan pisau. Lee An sang legenda dengan sangat gesit membalik keadaan dan menyandera si pria. Dia menyuruh anggota geng menyingkir.


Jae In bergegas memencet tombol lift. Dari dalam lift keluar gerombolan polisi di pimpin det. Lee. Perkelahian kembali terjadi. Kali ini banyak lawan sangat banyak. HAHA.


Tak lama pintu lift kembali terbuka. Kali ini Ji Soo yang datang. Lee An segera menarik Jae In bersembunyi di tangga darurat. Dan berikutnya, datang begitu banyak petugas dari tangga darurat.

Lee An dan Jae In segera pergi karena mereka bisa dalam masalah kalau sampai ada yang tahu mereka di sana. Tapi dari bawah tangga malah ada Sung Mo. Haha. Naik lagi lah mereka berdua sampai ke rooftop.


Mereka berdua terengah-engah.

"Apa ini? Aku anggota polisi tapi melarikan diri dari polisi."

"Pertama. Bisa lepaskan ini dulu."

Jae In pun melepas pegangannya pada ujung lengan baju Lee An. Mereka berdua kemudian melepas tawa.

Mereka berdua melihat ke bawah dimana para penjahat sedang digiring polisi. Jae In mencoba menghitung jumlah penjahat yang sudah keluar. Ada lebih dari 40. "Apa yang aku lakukan?"

"Kamu masuk ke lubang api tanpa rencana."

"Apa yang paling aku khawatirkan menjadi kenyataan."

"Apa itu?"

"Aku khawatir kalau bisa jadi aku merosot ke tingkat kebod*hanmu."

Lee An membela diri. "Datang kesini itu idemu."

"Aku tahu. Aku jadi terburu-buru sejak bertemu dengamu lagi. Sebenarnya aku mengaku padamu."

"Mengaku?"

"Saat kita bertemu lagi, aku bilang tidak akan lari. Itulah yang aku janjikan kembali padamu di atap."


Lee An mengingat ucapan Jae In sebelum pergi dulu melalui penglihatannya melalui gagang pintu. Waktu itu Jae In bilang akan mencari Lee An kalau dia sudah siap dan meminta Lee An untuk mengasah kemampuannya.

"Jika itu yang kamu bicarakan, maka aku sudah mendengarnya."

"Benarkah?"

"Aku sudah bilang. Saat bersamamu, kemampuanku bekerja lebih baik."

"Itu adalah sebuah misteri bagiku."

"Keberadaanku adalah sebuah misteri. Kamu tidak mencariku. Kita baru saja bertemu secara kebetulan. Aku pikir kamu akan lari jika aku datang padamu. Jadi aku menunggu. Dan juga, itu tidak seperti aku sudah mengasah kemampuanku."

Jae In mendekati Lee An. "Benar. Tapi aku memutuskan untuk melakukannya."

"Kamu mau melakukannya hari ini? Sekarang? Di sini?"


"Ya. Sebelum aku berubah pikiran. Untuk pelatihan lapangan hari ini, kamu akan membacaku." Jae In mengulurkan tangannya. Lee An menatapnya. "Emmm. Tidak. Apa bagian tubuh paling sensitif itu, di sini?" Jae In mengacungkan jari telunjuknya.

Lee An terus menatap Jae In.

"Sedang apa? Kamu tidak tahu betapa canggungnya ini?"

"Kamu salah. Bukan itu. Aku sudah bilang. Bagian paling sensitif adalah ini."


And he kisses her lips.

Bersambung ke He is Psychometric episode 8 part 1
Read More

He is Psychometric Episode 7 Part 3 (Drama Korea)

He is Psychometric
Episode 7 Part 3
Sumber konten dan gambar : TVN

HIS episode 7 part 2

So Hyun memberikan dompet yang dia temukan pada Jae In. Ternyata di dalamnya ada banyak uang dan juga kartu kredit dengan nama Lee Dae Bong.

"Good morning," sapa Lee An ketika masuk bersama Dae Bong. So Hyun langsung pergi dengan wajah tidak suka saat melihat Dae Bong.

Setelah mengkonfirmasi kalau Dae Bong kehilangan dompetnya, Jae In langsung memberikannya pada Dae Bong dan memberitahu kalau So Hyun yang menemukannya. Dae Bong langsung pergi secepat kilat menyusul So Hyun.

"Menurutmu dia menjatuhkannnya dengan sengaja?" Tanya Jae In pada Lee An.

"Kenapa dia begitu?"

"Saat itu aku melihat tumpukan kupon pom bensin Dae Bong di mobil So Hyun."

"Apa hubungannya kupon dengan dompet?" Dasar Lee An lemot yah!

"Berarti kamu mau melakukan apa saja untuk orang yang kamu sukai. Jika dia masih punya perasaan yang sama pada So Hyun,,,"

Dae Bong berlari mengejar So Hyun.

So Hyun bertanya dengan ketus. "Apa?"

"Ku dengar kau menemukan dompetku. Terimakasih."

"Tidak perlu."

"Tetap saja. Orang lain mungkin mengambilnya. Ku dengar di tv orang yang mengembalikannya mendapat 10 persen." Dae Bong mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya lalu menyodorkannya pada So Hyun. Aigoo!

So Hyun langsung menampiknya hingga uang Dae Bong berserakan di lantai. "Aku bukan pengemis!!" So Hyun masuk ke tempat penitipan anak dengan kesal.

Dae Bong memunguti uangnya dengan wajah sedih. Mungkin dia tidak bermaksud menyinggung So Hyun. Dae Bong aja yang terlalu kikuk. Jae In dan Lee An mengintip peristiwa tadi dari jendela. "Aku sudah mengira itu akan terjadi," ucap Jae In.

"Jadi Dae Bong sengaja menjatuhkan dompetnya supaya dia bisa memberinya uang sebagai hadiah?" Tanya Lee An dengan nada tidak percaya.

"Aku salah? Dia menaruh dompetnya supaya So Hyun menemukannya tepat di depan pusat penitipan anak (aku kira tadinya TK) dimana So Hyun datang setiap hari."

"Aku bertaruh, Dae Bong itu tidak cukup cerdik untuk merencanakan sesuatu seperti itu," ujar Lee An sambil mengangkat kedua tangannya."

"Hei! Tanganmu itu bukan hanya milikmu. Kamu tidak bisa bertaruh seperti itu."

"Kenapa ini bukan milikku?"

"Untuk saat ini kita punya kepemilikan bersama."

"Gong Yoo, bukankah itu nama aktor dari Goblin?"

Tiba-tiba Lee An dan Jae In saling menatap beberapa saat. Musik romantis mengalun.

"Bukan itu yang ku maksud,"

"Ara ara."

"Lalu apa yang ku maksud?"

"Aku hanya tahu saja," ucap Lee An lalu pergi dengan wajah sebal (?). Jae In menunduk dan menghela nafas sepertinya merasa bersalah. (Aku kok ga terlalu mudeng di sini. Lihat yang english sub artinya juga sama aja sama yang di atas. Adakah yang paham? Trus Gong Yoo itu. Adakah yang tahu arti Gong Yoo dalam bahasa korea?)

***

Ji Soo membandingkan foto Park Soo Young, Kang Hee Sook, dan sketsa wajah Kang Hee Sook palsu.

"Bukankah mereka mirip?"

"Memang iya?" Tanya detektif Lee.

"Lihatlah lebih dekat. Jika Kim Gab Young (petugas asuransi kesehatan yang ngakunya jadi saksi tapi berakhir terbunuh) yang membunuh Park So Young dan Kang Hee Sook, maka tebakanku penipu ini entah bagaimana terhubung dengan Park So Young."

"Ah! Kang Hee Sook palsu bisa saja hidup sebagai Park So Young sebelum hidup sebagai Kang Hee Sook."

"Benar!"

"Aku pikir juga begitu," ucap Sung Mo yang baru saja bergabung. "Untuk waktu yang lama Park So Young berada di rumah sakit jiwa seperti Jane Doe. Tapi dari tahun 2009 sampai 2013 dia menggunakan kartu kreditnya dan juga passpornya," lanjut Sung Mo sambil menunjukkan berkas laporan terbarunya.

Ji Soo memeriksa berkas itu. "Tidak transaksi setelah tahun 2013."

"Dugaanku adalah itu saat dia mengubah identitasnya lagi. Dari Park So Young...."

"Ke Kang Hee Sook?" Sambung Ji Soo.

Detektif Lee penasaran apa ada bukti yang bisa dipercaya bahwa Kim Gab Young membunuh kedua korban.

"Apakah mayat-mayat itu mengungkapkan sesuatu? Setelah kamu ke ruang otopsi kamu memintaku mencari tahu Kim Gab Young. Lalu kamu bilang dia pembunuhnya.

Sung Mo dan Ji Soo saling pandang. Ji Soo bilang kalau ada saksi. Det. Lee yang masih kepo bilang di laporannya tidak tertulis ada saksi. Ji Soo beralasan kalau saksinya anonim. Ji Soo kesal dan menyuruh det. Lee mencari info saja soal Kim Gab Young.

***

Jae In membawatumpukan buku-buku tebal untuk Lee An baca hari ini. Lee An langsung menyentuh keningnya. Jae In juga memberi kamus Bahasa Korea.

"Kamu pikir aku sebod*h itu?"

Lee An langsung membuka kamus setelah Jae In pergi. Nah ternyata arti gong yoo ( itu 'berbagi' = ketika dua orang atau lebih mempunyai kepemilikan bersama atas sesuatu.

"Benar kan. Aku memang bod*h tapi tidak sebod*h itu." Eh Lee An tiba-tiba senyum sendiri sambil memegang tangannya. "Tapi, kenapa dia berbagi dengan tanganku? Apa yang dia maksud?" Lee An lucu banget tersipu malu sendiri.

Tiba-tiba Dae Bong sudah ada di depannya. "Haruskah aku minta maaf?"

"Aku kaget! Kamu masih di sini?"

"Menurutmu dia marah?"

"Kamu sengaja menjatuhkan dompetmu?"

"Kamu ngomong apa? Apa aku gila?"

Lee An menyuruh Dae Bong pergi karena dia harus belajar.

"Kamu belajar? Kamu disini cuma untuk Yoon Jae In."

Lee An meminta Dae Bong kembali ke pom bensin saja. Tapi apa kata Dae Bong? "Kenapa harus mencari uang saat aku tidak punya uang untuk di belanjakan?" (Ya udah sini lemparin buat belanja aku aja uangnya hehe)

"Kenapa tidak bisa belanja? Biar aku saja! Apa aku tidak berarti bagimu?" Lee An pasang wajah sok imut (emang imut).

Dae Bong melempar kunci mobilnya. "Ini. Kau boleh memakainya."

Lee An berakting seolah tak percaya. "Aku mencintaimu Dae Bong." Kurang cukup, Lee An mendekati Dae Bong dan mememeluknya. Dia bahkan menempelkan pipinya ke pipi Dae Bong. Aigoo! Saat itulah Lee An melihat Dae Bong sengaja meletakkan dompetnya di depan pintu.

"Kau ini. Kau sengaja membiarkannya di sana. Kau akan menggunakan trik seperti itu?"

Dae Bong kabur sambil membawa kembali kunci mobilnya. "Hei aku salah mengatakannya. Aku mencintamu," ucap Lee An dengan keras hingga petugas perpustakaan mendengarnya dan kontan menatapnya aneh. HAHA. Malu deh Lee An.

Sementara itu di pusat keamanan Seo Hun, bibi datang membawakan makan siang. Seperti biasa dia adu mulut dengan Pak Nam. Mereka berdebat mengenai Pak Nam yang ngakunya pernah menangkap sekawanan geng padahal menurut Bibi Pak Nam cuma menangkap preman biasa.

"Geng itu mencuri identitas orang untuk di jual. Ada rumor bahwa mereka juga membunuh orang."

Jae In yang hendak pergi mengantar makanan untuk Lee An tertarik mendengar cerita Pak Nam.

"Geng semacam apa mereka? Bisakah Anda memberitahuku lebih lanjut?"

***

Pegawai di kantor Sung Mo memberikan catatan mengenai Kim Gab Young. Dia memberitahu kalau Kim Gab Young punya cacatan yang cukup banyak. Penipuan, penyerangan, dan perampasan. Dia juga bercerita kalau Sung Mo sebenarnya pernah bertemu sekali dengan Kim Gab Young di salah satu kasusnya.

Tim investigas kasus koper mengadakan rapat. Sung Mo mempresentasikan profil Kim Gab Young yang ternyata tergabung dalam oraganisasi besar perdagangan manusia, Dragon Head Hunting. Organisasi itu juga mencuri identitas orang lain.

Det. Lee berceloteh kalau mereka bisa mendapat penghargaan seandainya berhasil menangkap mereka. Ji Soo bilang mereka harus tetap hidup untuk mendapat penghargaan itu.

"Apa kita bisa mati?"

Ji Soo langsung menyeret det. Lee untuk mencari tahu seperti apa organisasi itu.

"Itu tidak seperti menghancurkan toko kecil. Tunggulah," kata Sung Mo. Cieeee. Mulai perhatian nih sama Ji Soo.

***

Lee An sedang menulis catatan setelah dia selesai belajar. Dan catatannya hanya berisi satu kalimat, 'jika psikopat dan sosiopat bertengkar, siapakah yang akan menang'.

Lee An kemudian tertarik membaca sebuah kata. Alexithymia. Ketidakmampuan menunjukkan emosi. Lee An tertawa sendiri. "Aneh sekali." Para pengunjung sontak menatapnya. Lee An buru-buru minta maaf. Dia lalu meregangkan badannya.

Lee An membawa tumpukan buku ke meja petugas. Dia mau meminjam semua buku itu. Petugas bilang kamus bahasa korea tidak boleh di pinjam.

"Aneh. Yoon Jae In bilang aku bisa meminjam apapun." Lee An lalu ingat ternyata petugas itu adalah wanita yang dua kali memergokinya sedang 'bermesraan' dengan Sung Mo di lobi apartemen.

"Jika Anda tidak memperbolehkanku meminjamnya karena Anda salah paham padaku, itu tidak benar."

"Itu ide yang di terima secara sosial bukan prasangka. Itu salah."

"Di terima secara sosial atau tidak, itu salah! Pria di apartemen itu kakakku. Dan pria tadi itu temanku."

Tiba-tiba Jae In datang dan buru-buru mengajak Lee An pergi. "Aku baru saja mendengar sesuatu yang sangat penting. Dragon Head Hunting. Ini adalah organisasi besar yang menjual identitas curian. Mereka sudah tersebar tapi kantor pusat mereka masih ada," cerita Jae In dengan antusias. Tapi reaksi Lee An malah biasa-biasa saja. Jae In tanya apa yang tadi sedang dibicarakan Lee An.

Lee An menjawab dengan sedikit acuh. "Tidak. Aku senang kamu tidak mendengarnya."

***

Beberapa anak sedang bermain panah dan pistol mainan di depan pusat keamanan Seohuen. Pak Nam nimbrung dan pamer kalau dia pernah dapat penghargaan saat mengikuti kompetisi menembak. Dia mengambil satu panah lalu menjilat ujung busurnya. Anak-anak mengatainya jorok. Dan begitu di tembakkan, anak panah itu malah menancap tepat di kening bibi yang dari tadi memperhatikan sambil menceng-mencengin bibirnya karena tidak suka melihat Pak Nam. Anak-anak tertawa sementara So Hyun yang baru datang sontak terkejut mengira itu perbuatan anak-anak.

***

Jae In dan Lee An pergi menggunakan mobil Dae Bong ke gedung Dragon Head Hunting yang disamarkan sebagai agen tenaga kerja. Mereka masuk ke dalam lift. Dan di setiap tombol lift ada keterangan yang menunjukkan ruangan apa yang ada di lantai tersebut. Lee An menekan tombol dengan sikunya.

Begitu lift terbuka, mereka langsung tertegun melihat orang-orang berjas hitam yang berseliweran.

Bersambung ke He is Psychometric episode 7 part 4



Read More

He is Psychometric Episode 7 Part 2 (Drama Korea)

He is Psychometric
Episode 7 Part 2


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca juga : HIS episode 7 part 1

Lee An menghubungi Sung Mo yang sedang berdiri di jembatan penyeberangan.

"Kakak sudah selesai bicara dengan Kak Ji Soo? Apa kamu pulang telat lagi?"

"Jangan menungguku dan tidurlah lebih dulu."

"Aku pingsan hari ini. Kamu bahkan tidak khawatir padaku? Jangan membuatku merasa seperti seorang istri yang menunggu suami pulang sendirian."


Sung Mo tersenyum mendengar celoteh adiknya. "Tapi kamu bukan istriku."

"Tetap saja. Kakak membuatku menunggu. Pulanglah hari ini. Atau aku tidak akan membuatmu lolos begitu saja."

Lee An menutup teleponnya. Sung Mo memandang kereta listrik yang lewat di seberangnya.

Lee An hendak membuka pintu apartemen dengan kartu. Tapi sejenak dia ingat nasihat Sung Mo agar jangan menghindari kontak fisik supaya kemampuan Lee An bisa berkembang.


Lee An menarik kembali kunci kartunya dan memasukkannya ke saku jaketnya. Dia lalu memencet tombol password. Saat itulah dia melihat tangan pria bermasker yang memencet password dan pria itu masuk ke dalam apartemen. Lee An sontak terkejut melihatnya. Dia tengok kanan kiri  lalu dengan hati-hati masuk meneliti keadaan apartemennya.


Lee An masuk ke kamar Sung Mo dan tidak menemukan siapapun disana. Dia kemudian masuk ke kamarnya dan melihat putih salju yang bersembunyi di kolong tempat tidur. Lee An bergegas menggendongnya dan menenangkannya.

Petugas keamanan menceritakan kalau sekitar jam 7 malam ada keluhan dari tetangga Lee An karena si putih salju terus saja menggonggong. "Kamu kecurian?"


Tiba-tiba Sung Mo datang dan meminta melihat rekaman cctv. Tapi sayangnya pada jam kejadian cctv tidak beroperasi karena sedang maintenance (pemeliharaan cctv).

"Apa memang sudah dijadwalkan seperti itu," tanya Sung Mo.

"Tidak. Mendadak ada laporan tentang kerusakan cctv."

"Baiklah." Sung Mo pun pergi dari ruang pusat kontrol keamanan itu di ikuti Lee An yang mengekor di belakangnya sambil masih menggendong putih salju.


Sesampainya di apartemen, Lee An memberitahu kalau sudah memeriksa sana-sini tapi tidak menemukan sesuatu yang hilang. Tapi ternyata dia salah. Saat ini Sung Mo berdiri terpaku menatap bingkai foto yang kosong. Foto dia dan ibunya sudah tak lagi ada di tempatnya.

"Dia mengambil fotomu?"

"Hmmm."

"Kakak tahu siapa dia?"

"Tidak."

"Tapi dia mengambil fotomu. Kakak masih belum tahu siapa dia?"

Sung Mo menengok menatap Lee An.


Jae In duduk termenung di depan kantor. Dia mengingat percakapannya dengan ayahnya di rumah sakit tadi. Wajahnya jelas terlihat sedih.

Bibi Sook Ja datang menghampirinya. "Kamu sudah pulang."

"Kamu tidak apa-apa? Apa itu sulit? Jangan khawatir. Tidak perlu kata-kata menghibur seperti itu. Aku sudah sering mendengar kata-kata itu dari Bibi," ucap Jae In.

Bibi bingung mau ngomong apa. Akhirnya dia tanya apa Jae In sudah makan.

"Aku juga sudah sering mendengar itu."


Bibi mengajak Jae In masuk. Dia menggandeng lengan Jae In. Tapi belum juga sampai depan pintu, seseorang datang. Jae In dan Bibi menengok berbarengan melihat orang itu.


Sung Mo bertanya apa Lee An ingat saat dia meninggalkan Lee An dulu. Saat itu Sung Mo bilang tidak bisa menemui Lee An lagi karena dia harus pergi untuk belajar. Lee An minta untuk bisa ikut. Tapi Sung Mo malah berjalan pergi. Lee An mengejarnya dan meraih tangannya. Tapi Sung Mo melepaskan pegangan tangan Lee An dan pergi begitu saja.

"Saat itu, aku tidak berniat kembali ke Korea. Lagi."

"Kenapa?"

"Karena pria itu."

"Apa kamu melarikan diri darinya? Kenapa kamu kembali saat itu?"


Terlihat si pria bermasker masih duduk di depan api yang menyala dari dalam tong. Dia menatap foto Sung Mo dan ibunya lalu menyentuh foto itu.


Sung Mo menatap Lee An dan menjawab pertanyaan Lee An. "Karena ini sudah waktunya untuk mencarinya. Aku akan mencari dia dan membunuhnya."

***

Ternyata yang datang adalah Ji Soo. Jae In menyalakan lampu kantor dan Ji Soo pun masuk.

"Ini bagus dan nyaman," komentar Ji Soo.

"Aku akan mengambilkan minuman."

"Kamu tinggal di sini dengan siapa? Aku dengar kamu tinggal di gedung ini."

"Dengan bibiku."


"Jadi kamu mau masuk unit kejahatan kekerasan?"

Jae In tersenyum dan mengangguk. "Ya." Dia lalu megambil gelas berniat membuatkan minuman untuk Ji Soo. Tapi tangannya berhenti bergerak saat Ji Soo bercerita kalau Sung Mo sudah memberitahunya soal ayah Jae In.


Ji Soo mendekati Jae In. "Bisa kamu ceritakan apa yang terjadi hari itu? Semua yang kamu ingat."

Jae In dan Ji Soo duduk saling berhadapan. Ji Soo bercerita kalau kasus apartemen Yoengsoeng dulu diselidiki oleh ayahnya yang sekarang jadi komisaris polisi.

"Katanya dia meliput setiap sudut. Tapi kita tidak pernah tahu."

"Aku tidak punya bukti kasus yang bisa membebaskan ayahku sebagai pelakunya. Hanya saja aku tidak mengerti bukti yang merujuk pada ayahku sebagai pelakunya."

"Bukti? Maksudmu seragam yang berlumuran darah?"

Jae In mengangguk. "Ya benar. Dari yang aku ingat, ayahku memakaikannya di bahuku hari itu. Saat itu aku masih kecil, jadi aku hanya bisa menggambarkannya. Aku tidak ingat apakah itu benar."

"Jadi pikiranmu membuat ingatan itu....."


"Maka ayahku adalah pelakunya. Namun jika yang ku ingat adalah benar, aku akan mencari orang itu, dimana dia mengambil seragam ayahku dariku."

"Jadi itu sebabnya kamu ingin An membaca kenanganmu sejak hari itu?"

"Ya."

***

Lee An habis mandi. Dia berjalan ke ruang tamu dan menatap bingkai foto di lemari. Dia ingat ucapan Sung Mo semalam. Dia juga teringat kata-kata Ji Soo yang menduga Sung Mo memerlukan bantuan An untuk sesuatu.


Lee An masuk kamar kakaknya yang kosong. Dia mencoba menyentuh meja di sana saat ingat ucapan Ji Soo tentang Sung Mo satu-satunya orang yang tidak bisa Lee An baca. Sung Mo pasti kesepian.

"Aku yakin ada alasan dibalik itu," ujar Ji Soo kala itu. Lee An bertekad akan mencari siapapun orang itu.


Pagi hari, Jae In sudah bersiap dengan pakaian santainya. Dia mengatur waktu di jam tangannya lalu mulai jogging.

Sementara Lee An baru saja turun dari apartemen. Dia menyapu pandangannya ke tempat parkir.


"Dimana ku parkirkan mobilku? Oh iya. Aku kan tidak punya," ucap Lee An sambil cengengesan sendiri. Dia memakai tudung hoodie nya lalu berlari dengan langkah yang lebar.

Tiba-tiba Dae Bong datang dengan mobilnya dan menyuruh Lee An masuk. Lee An sontak senang dapat tebengan.


Jae In selesai jogging. Dia memeriksa jamnya. "Berlari memang menenangkan pikiranku," ujarnya. (Kayaknya itu jam multifungsi yang bisa mengukur suasana hati pemakainya. Adakah jam kayak gitu?)

Jae In memutar papan closed jadi open, lalu masuk ke dalam. So Hyun datang dengan mobil ungunya. Dia turun sambil menggendong anaknya (lupa namanya hehe).


Di depan pintu kelas, So Hyun menemukan dompet hitam tergeletak di lantai.

Bersambung ke He is Psychometric episode 7 part 3


Read More

He is Psychometric Episode 7 Part 1 (Drama Korea)

He is Psychometric
Episode 7 Part 1


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca juga : HIS episode 6 part 4

3 Desember 2005, 18:00


Pak Yoon sedang menghias pohon natal di depan komplek apartemen Yoengsoeng. Dia bertanya pada Jae In bukankah masih terlalu awal untuk pohon natal. Jae In bilang dia jadi bisa menikmati pohon natal lebih lama. Jae In meminta Pak Yoon menaruh hiasan bintang di bagian paling atas pohon natal.


Dari kejauhan Jae In melihat Sung Mo yang berjalan pincang masuk ke apartemen. Dia pun memberitahu ayahnya.

Pak Yoon menghampiri Sung Mo dan bertanya bukankah Sung Mo penghuni baru dari unit 701. "Apa kamu belum pergi ke dokter?"


"Aku baik-baik saja," jawab Sung Mo. Pak Yoon melihat darah merembes dari balik kaus kaki Sung Mo. Dia pun memegang lengan Sung Mo.

Sung Mo duduk di depan pohon natal dengan Jae In di sampingnya. Pak Yoon memasang plester besar ke kaki Sung Mo.


"Ini pasti sakit sekali. Lukanya sampai bernanah," ujar Pak Yoon.

"Pelan-pelan, Ayah," kata Jae In.

"Apa yang terjadi? Lukanya..."

"Bukan apa-apa. Itu cuma kecelakaan."

"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi membiarkannya tanpa penanganan akan membuatnya lebih bernanah. Apa yang sepertinya tidak apa-apa mungkin akan berakhir membunuhmu."

"Aku tidak tahu karena itu tidak sakit."

Pak Yoon meminta Sung Mo menunggu di sana karena dia akan membeli obat. Sung Mo bilang dia harus pulang. Pak Yoon mengancam akan memanggil polisi.

"Bahkan dengan luka aneh ini kamu tidak mau pergi ke dokter atau membeli obat. Aku tidak pernah melihat orangtuamu sejak kamu pindah kesini. Apa mungkin kamu disiksa?"

Sung Mo dengan cepat menyangkal. "Ibuku tidak mungkin melakukan hal itu. Bisakah Anda membelikanku obat kalau begitu?"


Pak Yoon pun pergi membeli obat meninggalkan Jae In dan Sung Mo berdua. Jae In memperhatikan Sung Mo yang terlihat menatap pohon natal.

"Cantik kan?" Tanya Jae In.

"Cantik, adjective, menarik, dan menyenangkan mata."

"Itu semua indah dan manis bukan? Adjective? Aku tidak tahu kata sulit seperti itu. Bagaimanapun, cantik itu seperti ini kan?"


Jae In memamerkan senyum manisnya pada Sung Mo hingga Sung Mo tersenyum tipis. Jae In senang karena bisa membuat Sung Mo tersenyum.

Episode 7

Ji Soo dan Sung Mo makan di sebuah kedai. Ji Soo menuangkan minum untuk Sung Mo.


"Mereka tidak tahu kan? Maksudku, hubungan diantara mereka," tanya Ji Soo.

"Mereka akan mengetahuinya cepat atau lambat."

"Kenapa mereka harus tahu? Kenapa kamu sengaja memaksa mereka bersama?"

"Kalau Lee An mengungkapkan sesuatu dengan kemampuannya, aku pikir itu akan jadi kebenaran tentang kebakaran 13 tahun yang lalu. Petugas Yoon percaya Ayahnya tidak bersalah. Dan An berharap untuk memecahkan misteri menggunakan kekuatannya. Apa itu menjawab pertanyaanmu?"


Ji Soo masih kepo. Dia bertanya bagaimana kalau Jae In sampai tahu kalau ayahnya lah yang membunuh orang tua Lee An. "Tidak. Bagaimana jika An tahu kalau ayah Jae In yang membunuh orangtuanya. Siapa yang akan lebih bersedih atas kasus ini?"

"Di masa lalu, aku tidak tahu seperti apa kesedihanmu."

"Apa?"

"Meski begitu, kebenaran pasti terungkap."

Ji Soo bertanya apa Sung Mo juga percaya kalau ayah Jae In tidak bersalah. Apa orang  yang menusuk An adalah pembakarnya? Siapa sebenarnya orang itu?

"Itu misteri bagiku selama ini. Ingin memecahkan masalah dengan cepat itu serakah."

"Apa aku boleh mencoba memecahkannya?" Tanya Ji Soo.

"Apa kamu akan berhenti kalau aku menghentikanmu?"

"Tidak. Aku akan menggalinya lebih dalam."

Sung Mo tersenyum tipis.


Adegan di ulang kembali ke akhir episode 6 dimana Jae In dan Lee An sedang menunggu taksi. Tiba-tiba Bibi menelepon Jae In dan seketika Jae In sesak nafas. Lee An cepat tanggap dengan menggunakan mantelnya untuk menutupi Jae In supaya Jae In bisa bernafas kembali.


Lee An kemudian menghadang sebuah taksi dan mereka pergi ke rumah sakit di Seoul. Di dalam taksi pun Jae In masih saja sesak. Lee An menatapnya dengan khawatir.


Sesampainya di depan ruang rawat ayahnya, Jae In menyerahkan jaket Lee An sebelum masuk seorang diri di kamar rawat ayahnya. Saat menyentuh jaketnya, Lee An melihat Jae In yang menangis sambil memanggil ayahnya dan meminta ayahnya jangan mati.

Jae In mendekati ranjang ayahnya. Dia lalu jatuh berlutut.

"Pergilah! Ayahmu sudah mati hari ini. Hiduplah seolah-olah kamu tidak punya ayah," pinta Tuan Yoon yang ternyata sudah sadar. Terlihat bagian lehernya yang merah akibat jeratan kain.

"Tidakkah ayah pikir ini terlalu tidak adil?"

"Aku benci kamu membuang kehidupanmu karena aku. Bagaimanapun juga hidupku sudah berakhir."


"Ini belum berakhir ayah. Kenapa ayah melakukan ini ketika aku baru saja memulai. Kenapa ayah sangat lemah?" Jae In meraih tangan ayahnya lalu menggenggamnya. "Ayah bilang luka akan semakin bernanah kalau tidak ditangani. Itu bisa membuatmu mati karena luka kecil. Ayah. Aku akan melakukannya. Jadi tolong, ayah jangan lemah. Jangan."


Jae In keluar dari ruang rawat ayahnya dan turun ke lantai bawah sambil menghapus airmatanya. Matanya terlihat sembab akibat menangis. Tiba-tiba seorang pasien gadis kecil menghampirinya dan memberinya permen. Dia memeluk Jae In lalu melambaikan tangannya dan pergi. Baru berjalan beberapa langkah, datang gadis kecil lain melakukan hal yang sama. Jae In pun mengikuti gadis itu.


Gadis itu masuk ke ruangan dimana di dalamnya ada Lee An yang sedang jongkok sambik mengemut 2 lolipop sekaligus. Dia memuji gadis yang tadi memeluk Jae In.

"Ini untukmu. Berikan pada gadis tercantik di aula. Dia sedang bersedih sekarang. Jadi sebuah pelukan akan membuatnya senang. Kamu bisa melewatinya kalau kamu mau. Ok!" Ucap Lee An pada bocah cowok dan memberinya permen.

"Kamu kan bisa memeluknya sendiri."

"Aku minta tolong kalian karena aku tidak bisa melakukannya."

"Bisakah aku makan dua lolipop sepertimu?"

"Kalau begitu kamu akan kehilangan semua gigimu. Apa kamu mau pergi ke dokter gigi? Tempat itu akan membuatmu sadar kalau dokter anak itu adalah surga."


Jae In masuk. "Aku juga tidak suka dokter gigi. Ayo pulang!"

Lee An terkejut melihatnya. Dia lalu memberikan semua permennya pada anak-anak. "Kamu boleh makan dua."


Lee An dan Jae In jalan kaki menuju kantor Jae In. Lee An bertanya apa ayah Jae In baik-baik saja. Jae In langsung menatapnya heran.

Lee An buru-buru menjawab, "Aku cuma lihat kamu bilang 'ayah'. Cuma itu kok."

"Dia baik-baik saja. Dan terimakasih," ucap Jae In. Dia lalu bertanya di bagian mana biasanya Lee An menyentuh agar dapat bacaan terbaik. Lee An bilang di tangannya. Mungkin karena jari tangan merupakan bagian yang paling sensitif.

"Jadi indra peraba ya?"

Lee An tampak berpikir. "Apa sebelumnya kita pernah melakukan percakapan seperti ini?"

"Tidak. Ini pertama kalinya. Lalu bagian tubuh mana yang paling sensitif terhadap sentuhan?"


Pikiran Lee An langsung melayang pada mimpi yang pernah dialaminya dimana Jae In menanyakan hal yang sama. (Itu loh. Mimpi waktu Jae In menc*um bibirnya Lee An)

Terinspirasi dari mimpi itu, Lee An berkata, "Bagian tubuh yang paling sensitif terhadap sentuhan adalah...."

Lee An menjawab bibir sedangkan Jae In berkata jari telunjuk. Sontak Lee An malu sendiri. Sambil cengengesan, dia buru-buru membetulkan kalimatnya kalau yang paling sensitif ya memang jari telunjuk. HAHA. Jae In melempar tatapan tajamnya. "Apa yang kamu pikurkan?"


Lee An buru-buru pamit pulang. Jae In menyuruhnya selamat sampai rumah.

"Kamu juga," sahut Lee An sambil berlari pergi.

Bersambung ke He is Psychometric episode 7 part 2

Read More