He is Psychometric Episode 6 Part 1 (Drama Korea)

He is Psychometric
Episode 6 Part 1


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca juga : He is Psychometric episode 5

3 Desember 2005, 18:25


Sung Mo mengintip dari lubang pintu dan melihat pria bermasker yang sedang mengintai rumahnya dari apartemen seberang.


Sung Mo segera mengunci pintu lalu memberitahu ibunya kalau 'dia' ada di sini. Dia meminta ibunya untuk melakukan persis seperti apa yang dia katakan.


Pria bermasker menyeret kopernya. Melihat pintu apartemen Sung Mo terbuka, dia bergegas masuk lalu menyalakan lampu. Tidak ada siapa-siapa di sana. Pria itu lalu membuka kopernya lalu mengambil sebuah pisau.

Episode 6

Pada episode sebelumnya, seseorang datang ke ruangan rawat Lee An. Mengira itu kakaknya, Lee An mengerjainya dengan menggulungnya dengan tirai begitu mendekat.

"Kenapa kakak lama sekali? Aku menunggumu," kata Lee An.

"Bisakah kamu melepaskanku?"


Lee An tertegun mendengar suara Jae In. Dia buru-buru menarik tirainya hingga Jae In hampir terjatuh. Beruntung Lee An menyangganya dengan punggungnya.

Jae In bilang tidak terlalu memalukan kalau dia sampai jatuh. Dia pun berdiri dan bettanya apa Lee An baik-baik saja. "Aku dengar dari Dae Bong kamu ditikam."

"Sejauh ini aku bisa mengatasinya. Kamu mungkin tidak tahu. Aku sudah pernah melalui yang lebih buruk dari ini."

"Orang bilang ketidaktahuan membuat orang jadi berani. Aku khawatir itu akan menurunkanku ke levelmu."


"Menurun apa?"

Jae In menatap Lee An sinis. "Bagaimana jika melatihmu akan membuatku bod*h juga sepertimu."

Lee An terkejut. "Kamu sudah memutuskannya?"

"Ya. Aku datang untuk mengatakannya." Jae In mengulurkan tangannya yang terbungkus lengan bajunya. "Kasus ayahku yang sulit.... ketika aku berpikir kamu akan mencapai tingkat tertentu, bisakah aku minta bantuanmu?"


Lee An tampak terharu. "Okay. Ayo kita lakukan." Lee An menyambut uluran tangan Jae In.

Di luar, pria bermasker berdiri memperhatikan ruang rawat Lee An.

***

Tim investigasi kasus koper melakukan meeting. Sung Mo menjabarkan apa yang sudah mereka temukan mengenai identitas korban dan juga dugaan adanya orang lain yang menggunakan identitas Kang Hee Sook untuk bekerja sebagai pengasuh.

Detektif Lee berkomentar kalau bisa saja Kang Hee Sook palsu yang membunuh Kang Hee Sook asli atau bahkan mungkin juga membunuh Park Soo Young, korban dari kasus koper pertama.

Ji Soo menambahkan kalau Kang Hee Sook palsu memakai cincin. Detektif Lee kepo karena di berkas tidak disebutkan hal itu. Ji Soo bilang detektif Lee tidak perlu tahu.


Sung Mo bilang mereka harus mencari tahu kapan korban menghilang untuk mengidentifikasi tersangka. Dia lalu menatap Ji Soo. "Aku harus pergi dan melihat An."

Ji Soo tertegun karena Sung Mo bicara banmal (tidak formal) padanya. Hal yang tidak dilakukan Sung Mo sebelumnya.

"Aku akan menghubungimu," sambung Sung Mo.

"Okay."

"Apa jaksa Kang bicara casual padamu?" Tanya detektif Lee setelah Sung Mo pergi.

"Kamu juga berpikir begitu? Jadi bukan cuma aku yang mikir gitu? Kenapa dia jadi sangat menakutkan?"

"Bukankah bicara banmal mengindikasikan kalau dia ingin lebih dekat?"

Ji Soo langsung tersenyum senang. "Benarkah? Tapi kenapa sangat tiba-tiba?"


"Kebanyakan orang tidak senang saat orang lain tiba-tiba berkata tidak formal. Apa kamu senang?" Ledek Detektif Lee.

"Ji Soo mengulum senyumnya."

"Ayo. Kita harus bekerja. Bu!"

***

Lee An mengantar Jae In sampai depan rumah sakit.

"Datanglah ke pusat bantuan kalau kamu sudah baikan. Sementara itu, aku akan pikirkan bagaimana membantumu untuk berkembang."


"Yoon Jae In!"

"Tidak usah berterima kasih meski kamu ingin. Ini bukan untukmu. Aku melakukan ini murni untuk diriku sendiri."

"Aku tidak peduli. Aku melakukannya untukmu juga."


Jae In tertegun. Lee An dadah padanya lalu pergi. Jae In dadah juga tapi Lee Annya udah keburu pergi.


Lee An masuk kamar rawatnya dengan senyum mengembang. Dia menyentuh tirai dan melihat wajah Jae In yang terkejut. Lee An terlihat sangat bahagia meski perutnya terluka. Dia sampai menggulung dirinya dengan tirai. "Seriusan? Yoon Jae In?" HAHA jatuh cinta dia.


Lee An melihat bingkisan berisi makanan di meja. Dia membuka ponselnya dan membaca pesan dari Sung Mo. "Kamu punya banyak pertanyaan. Tapi aku belum siap untuk menjawabnya. Makanlah tepat waktu." Wajah Lee An tampak kecewa.


Jae In duduk di halte bis. Dia tersenyum mengingat ucapan Lee An barusan kalau dia melakukannya untuk Jae In juga.

Sung Mo lewat. Jae In pun akhirnya naik ke mobil Sung Mo. Sung Mo senang saat tahu Jae In setuju membantu Lee An.


"Kata Lee An, ingatan kita seperti lemari obat yang berantakan. Dia tidak tahu apa yang diambilnya adalah racun atau obat penawar. Tapi aku perlu mencari tahu. Agar aku bisa mengambil beberapa langkah."

"Baguslah. Itu tepatnya yang aku inginkan," kata Sung Mo. Jae In bertanya siapa orang yang menikam An. Katanya dia sudah mengikuti Sung Mo sejak lama.

"Identitasnya juga misteri untukku. Yang aku tahu bahwa aku tidak bisa lebih lama lagi meninggalkannya campur aduk."

***

Detektif Lee membawa laptopnya ke meja Ji Soo dan menunjukkan rekaman cctv yang sudah dia selidiki. Dia bilang wajah pelaku penusukan An tidak terlihat di cctv. Dia juga sudah menanyai pihak PLS dan mereka tidak tahu siapa yang membawa mobil itu, tapi mereka akan mengirim daftar orang yang bekerja pada saat itu.

"Bagaimana dengan tempat An ditusuk?" Tanya Ji Soo.

"Disana tidak ada kamera cctv. Para saksi juga tidak melihat wajahnya karena memakai topi."

"Kamu memeriksa cctv dari toko terdekat? Atau blackbox dari mobil yang terparkir?"

"Ah kurasa aku bisa."

"Kurasa aku bisa? Bukankah itu akal sehat mendasar?"

"Kalau begitu Jaksa Kang pasti sudah melakukannya."


"Jaksa Kang?"

"Ya. Aku meneleponnya untuk meminta salinan padanya. Dia sudah meminta dan membawanya."

"Jika kita bisa melihat wajah tersangka, dia pasti sudah melihatnya."

"Benar. Karena itu dasarnya."


Sung Mo membawa Jae In ke kantornya. Dia memberikan buku catatan yang dia tulis tentang kemampuan Lee An. Jae In membuka halaman buku itu.

"Anda menulis semua ini?"

"Aku ingin kamu meneruskannya."

"Aku punya banyak pertanyaan tapi aku mau bertanya satu hal saja. Ke tingkat mana aku harus membawa keahlianya? Sampai dia cukup baik untuk membantu penyelidikan? Sampai dia bisa mengidentifikasi tersangka? Apa ini akan berhasil?"

"Misi ini dianggap tuntas jika dia bisa membacaku."


An bersidekap sambil menatap makanan di depannya. "Baiklah. Aku akan menunggu. Jangan lari lagi!" Lee An lalu memakan makanan dari kakaknya itu.

***

Jae In memasang tanda libur di pintu kantor karena ini Hari Minggu. Dia pergi ke penjara untuk menjenguk ayahnya. Sambil menunggu ayahnya datang, dia memakan permen buah untuk membuatnya sedikit relax. Begitu Pak Yoon datang, Jae In langsung membuang permennya dengan tisu.

Pak Yoon duduk di depan Jae In sambil tersenyum.


"Sudah lama tidak bertemu." Jae In minta maaf karena lama tidak berkunjung.

"Bibimu bilang kamu jadi polisi. Aku bangga padamu."

Jae In menundukkan kepalanya menahan perasaannya. "Kita berbasa basi. Selanjutnya ayah akan meminta maaf. Dan aku akan menangis dan berjuang selama beberapa hari. Aku tidak berkunjung karena aku benci itu."

"Ayah tahu."

"Karena masih ada waktu, aku akan langsung ke intinya. Aku akan mencobanya. Aku tidak akan lari atau menghindarinya. Aku akan mencari tahu apa yang terjadi."

"Jae In~a."

"Aku menganggap aku sedang menjalani hidupku sendiri dan melupakan ayah. Karena pikiranku tidak nyaman, semua yang kulakukan seperti istana yang terbuat dari pasir."

"Jae In. Jangan membuang waktumu. Ayah tidak mau kamu menjadi seperti ayah. Jalani saja hidupmu. Sudah terlambat untuk mengubah apapun."

"Kudengar ayah selalu gagal dalam evaluasi pembebasan bersyarat. Aku tahu ayah sengaja melakukannya."

"Bukan begitu."

"Ayah berpikir lebih baik terjebak di dalam penjara. Berpikir bahwa ayah hanya akan membuatku bermasalah di luar. Ayah berencana tetap berada di penjara selama sisa hidup ayah?"


"Pergilah! Jangan datang ke sini lagi." Pak Yoon berdiri. "Mereka yang tinggal di apartemen, ayahlah yang membunuhnya," ucap Pak Yoon sebelum pergi meninggalkan Jae In yang meneteskan airmata.


Jae In berjalan keluar dari penjara. Dia mengelus dadanya yang mulai sesak. Jae In pun menepi dan hendak mengambil kantong kertas di dalam tasnya. Tapi perhatiannya teralihkan pada buku catatan  Sung Mo.

Bersambung ke He is Psychometric episode 6 part 2
Read More

He is Psychometric Episode 5 Part 4 (Drama Korea)

He is Psychometric
Episode 5 Part 4


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca juga : He is Psychometric episode 5/3

Lee An membuntuti mobil Sung Mo. Saat akan berbelok, tiba-tiba mobil truk dari layanan pengiriman Seoheun mendahuluinya. Beruntung Lee An sigap mengerem hingga tidak terjadi tabrakan. Lee An melajukan mobilnya kembali.


Kali ini posisinya, mobil Sung Mo paling depan, disusul mobil LPS, dan di belakang sendiri ada Lee An. Lee An berkali-kali mencoba mendahului mobil LPS agar bisa membuntuti kakaknya. Tapi mobil LPS selalu menghalangi jalannya. Lee An sampai heran sendiri. "Ada apa dengan mobil ini?"


Mobil Sung Mo masuk ke Institute Forensik. Mobil LPS berhenti. Dari balik kemudi, pria bermasker memperhatikan Sung Mo.

Lee An datang lalu turun dari mobil. Dia hendak menghampiri pria bermasker tapi pria itu segera menstarter mobilnya dan pergi. Lee An buru-buru kembali ke mobilnya dan mengejar mobil LPS.


Lee An menelepon Sung Mo. "Ada seorang pria mengikutimu dari apartemen. Aku mendekatinya dan dia lari."

"Pria seperti apa?"

"Aku tidak tahu. Au sedang mengejarnya. Nanti kuhubungi."

"Jangan melakukan sesuatu yang berbahaya. Pulanglah! An!! Lee An!!"

Ji Soo menghampiri Sung Mo dan memberitahunya kalau hasil indentifikasi korban baru saja keluar. Sung Mo mengacuhkannya dan pergi begitu saja. Ji Soo pun mengejarnya.

Lee An kebut-kebutan di jalan raya mengejar pria bermasker. Karena dia pakai mobil sport, sekejap saja dia sudah berhasil menyusulnya. Lee An berusaha melihat si pria bermasker. Pria bermasker sengaja membuka jendela mobilnya selama beberapa detik lalu menutupnya kembali.


Mereka berdua adu kecepatan. Lee An hampir saja menabrak mobil dari arah berlawanan. Pria bermasker melakukan manuver hingga Lee An terpaksa masuk ke badan jalan di sebelahnya.

Setelah memasuki terowongan, pria bermasker menghentikan mobilnya. Lee An ikut berhenti dan segera turun dari mobilnya. Dia memeriksa mobil LPS tapi tidak menemukan pria bermasker disana. Saat dia berbalik, pria bermasker sudah ada di depannya.


Jae In menjatuhkan tempat permennya hingga permennya berjatuhan dan beberapa masuk ke kotak sepatu.


Pria bermasker menusuk perut Lee An. Lee An memegang tangan pria itu dan melihat kilasan-kilasan penglihatan. Pria itu yang mengintai Sung Mo. Lalu ada Sung Mo kecil. Seorang gadis yang tersenyum. Kebakaran Apartemen Yoengsoeng. Lee An dan Sung Mo yang terjun dari apartemen dan pria itu melihatnya di antara kerumunan orang.




"Siapa kamu?" Tanya Lee An. "Kenapa kamu tahu kakakku?" Lee An berusaha membuka topi pria itu. Seorang perempuan berteriak karena melihat kejadian itu. Pria bermasker segera kabur. Lee An menahan sakit di perutnya. Dia pun tersungkur ke tanah.


Lee An di bawa ke rumah sakit. Perutnya mengeluarkan banyak darah. Ji Soo dan Sung Mo segera menghampirinya.

"An. Tetaplah bersamaku," ucap Ji Soo.

"Pria itu mengikutimu."

"Berhenti bicara. Kamu kehilangan banyak darah," pinta Sung Mo.

Lee An tidak peduli. "Dia sudah memperhatikanmu cukup lama. Bahkan saat kita melompat dari apartemen, dia ada di sana."


Ji Soo dan Sung Mo berhenti karena Lee An dan para medis masuk ke dalam lift. Sung Mo berdiri terpaku. Sementara Ji Soo melihatnya dengan khawatir.


Lee An sudah mendapat perawatan dan sekarang dia sedang tidur. Ji Soo berharap Lee An baik-baik saja karena alat vitalnya tidak terluka dan operasinya berjalan dengan lancar. Sung Mo malah mengajaknya pergi menemui dr. Hong yang pasti sedang menunggu mereka.

Sung Mo menyetir sambil melamunkan kata-kata Lee An tadi. Ji Soo tanya apa Sung Mo tahu siapa pelakunya.

"Kamu dan Lee An jatuh dari apartemen 13 tahun lalu. Dia sudah mengawasimu sejak hari itu. Apa dia ada hubungannya dengan kasus Yoengsoeng? Apa dia yang kamu curigai?"


Sung Mo tidak menjawab. Dia membelokkan mobilnya dan menepi di jembatan. Sung Mo turun dari mobil di susul Ji Soo.

"Hei Kang Sung Mo! Kenapa kamu punya banyak rahasia? Kamu menderita sendirian selama dua tahun. Aku disini untuk membantumu. Apa maksudmu aku tidak bisa membantumu?"


Akhirnya Sung Mo buka suara. "Karena aku tahu itu akan menyebabkan penyesalan."

"Siapa? Aku?"

"Bukan. Aku."

***

Pak Nam pulang dari patroli. Dia menginjak permen Jae In yang tadi jatuh dan malah mengambilnya lalu dimakan. Aigoo! Pak Nam lalu menyuruh Jae In beres-beres lalu pulang.

Selesai menutup kantor, Jae In tidak langsung pulang. Dia sepertinya nyari Lee An tuh. Kebetulan So Hyun datang untuk menjemput anaknya yangvdia titipkan pada bibi. Dia mendekati Jae In.


"Kamu menunggu seseorang?"

"Ani."

"An~i. Lee An?"

"Bukan itu maksudku."

"Kamu sudah selesai kerja?"

"Seperti biasa. Tidak ada yang terjadi di daerah ini."

"Aku iri padamu. Sebagai seorang ibu, tidak ada yang namanya berhenti kerja. Aku pulang kerja untuk memulai kerja di rumah."

"Kamu mau minum?"

"Aku mau tapi...."

"Yak. Kamu punya banyak uang." Jae In menyeret So Hyun pergi bersamanya.


So Hyun minum-minum dengan bibi Sook Ja. Jae In sendiri yang mengajak tapi malah tidak mau minum karena takut sewaktu-waktu dipanggil pusat keamanan.

So Hyun mabuk dan Jae In yang akhirnya mengantarnya. Dia melihat bensinnya ternyata hampir habis. Dan kebetulan Jae In menemukan kupon dari pom bensin Dae Bong.


Dae Bong sendiri sedang teleponan dengan Lee An. "Kamu balapan di jalanan dengan mobilku? Kamu g*la?"

"Aku yang terluka. Mobilmu dalam kondisi sempurna," ucap Lee An dengan lemas.

"Terserah. Persahabatan kita mungkin akan selesai. Aku tidak bercanda. Kembalikan mobilku dan pergilah!"

"Dae Bong. Aku lapar. Bisa bawakan aku makanan?"

"Kamu lapar? Kamu mau apa? Tteokbokki? Pangsit? Di rumah sakit mana?"

"Aku mau sundae. Apa ini? Dia menutup telepon?"


Dae Bong tidak percaya dia mengatakan hal tadi pada Lee An (menawari makanan). Jae In datang dan memberikan kuponnya. Dae Bong tidak begitu mempedulikannya karena perhatiannya terfokus ke kursi belakang mobil.

***

Lee An mengirim pesan pada Sung Mo untuk kembali karena ada banyak hal yang ingin dia ketahui. Sung Mo sendiri baru sampai di ruang autopsi bersama Ji Soo.  "Kamu sudah mengidentifikasi korban?" Tanya Sung Mo pada dr. Hong.


Lee An keluyuran di rumah sakit. Dia bertanya pada perawat dimana toko terdekat. Perawat bilang ada di basement ke dua.

***

Sung Mo terkejut saat dr. Hong memberitahunya kalau korban adalah Kang Hee Sook, pengasuh rumah perawatan Hanmin dua tahun lalu. Ji Soo memeriksa tangan korban. "Tapi tidak ada cincin di jarinya."


Dr. Hong terlihat stress. "Bukan hanya cincin. Secara matematika saja tidak cocok. Tidak mungkin dia hidup dua tahun lalu. Karena dia mungkin sudah mati 4 sampai 5 tahun lalu."

Sung Mo berkata kalau waktu kematian bisa saja tidak pasti karena korban lama berada di dalam air. Tapi dr. Hong sudah membandingkannya dengan mayat dengan kondisi serupa. Ji Soo ikut menyangkal karena menurut catatan Kang Hee Sook bekerja di rumah perawatan. Dr. Hong meyakinkannya karena dia sudah memeriksanya berulang kali.

Sung Mo akhirnya percaya karena dr. Hong pun sudah memeriksa sidik jarinya. "Jadi siapa Kang Hee Sook yang bekerja di rumah perawatan Hanmin dua tahun lalu? Kita harus cari tahu."

***

Perawat yang berjaga di depan kamar Lee An pergi. Lift terbuka dan pria bermasker keluar dari sana.


Lee An sedang makan sosis sambil tiduran. "Hyung mungkin sedang sibuk. Tapi Dae Bong seharusnya ada di sini."


Pria bermasker berjalan di lorong rumah sakit. Dia berhenti di depan kamar Lee An.

Pintu kamar Lee An terbuka. Seseorang masuk. Lee An tersenyun berpikir itu adalah Sung Mo. Dia turun dari ranjang lalu mengintai di balik tirai.


Begitu orang itu mendekat, Lee An langsung menggulung orang itu dengan tirai. Lee An meringis menahan sakit di perutnya. "Kenapa kakak lama sekali? Aku sudah menunggumu."

Bersambung ke He is Psychometric episode 6 part 1
Read More

He is Psychometric Episode 5 Part 3 (Drama Korea)

He is Psychometric
Episode 5 Part 3


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca juga : HIS episode 5 part 2

Jae In terlihat bingung dengan tawaran Sung Mo.

"Bukankah kamu sudah tahu dengan kemampuan Lee An?"

Lee An bingung darimana kakaknya tahu. Ternyata waktu Lee An dan Jae In bicara di rooftop, Sung Mo mendengar Lee An menendang pot bunga dan dia berhenti untuk mendengarkan apa yang terjadi.


Jae In terkejut. "Berapa banyak yang Anda dengar?"

Sung Mo menirukan kata-kata Jae In waktu itu. "Aku akan mendatangimu. Juga kamu berkata kalau kamu mengijinkanya menyentuhmu...."

"Okay stop!!" Jae In sangat malu. Sedangkan Lee An malah cengar-cengir.

"Kamu terlihat putus asa," sambung Sung Mo.

Lee An bertanya kenapa dia butuh bantuan Jae In untuk mengembangkan kemampuannya. Sung Mo bilang Jae In boleh menolak kalau Jae In mau. Tapi dia tetap berharap Jae In mau membantu Lee An. Jae In minta di beri waktu untuk berpikir. Lee An ikut-ikutan minta waktu untuk berpikir tapi Sung Mo mengacuhkannya.


Sung Mo menawarkan bantuan agar Jae In bisa di transfer ke unit kejahatan kekerasan kalau Jae In bersedia membantunya. Jae In tertegun mendengar tawaran Sung Mo. Lee An memperhatikannya.

***

Jae In kembali ke kantor dengan wajah galau. Pak Nam yang sedang asik bercermin sambil mencabut bulu hidungnya bertanya Jae In dari mana. Dia juga mengomentari wajah Jae In yang terlihat lelah.

"Kantor pusat menelepon perihal pembunuhan koper."


Jae In langsung berdiri karena tertarik. "Apa yang mereka katakan?"

"Kita disuruh membongkar garis polisi."

Jae In kecewa. "Oh benar."

Bibi Sook Ja datang dengan gaun merah dan lipstik warna senada. Dia meletakkan rantang makan siang di atas meja. Pak Nam mengomentari gaun Bibi yang penuh semangat. Dia juga tahu kalau bibi tidak ada kelas pagi ini. Bibi membenarkan karena para ladies (manula) sedang diajak karyawisata oleh orang pusat.

Bibi menatap Pak Nam sinis. "Bagaimana kamu tahu?"

"Seorang veteran tidak pernah kehilangan sentuhannya," jawab Pak Nam. Jae In menambahkan kalau bibi bawa 3 rantang makanan. Pak Nam tahu karena bibi biasanya bawa makanan lebih kalau tidak ada kelas.


Bibi cuma bisa menceng-mencengin bibirnya lalu basa-basi mengajak Pak Nam makan bersama. Pak Nam pamit mau cuci tangan dulu. Sebelum itu, dia menitipkan bulu hidungnya pada Bibi. (Jorok)

"Itu bagian dari diriku," kata Pak Nam. Bibi langsung jijik dan membuangnya.

"Apa yang salah dengan pria itu? Benar-benar mengganggu. Apa dia bilang dia sudah punya istri?"

Jae In bilang istri dan anak Pak Nam ada di Canada. Bibi langsung nyinyir kalau pria jadi jorok kalau nggak ada istrinya. Dia menambahkan kalau mengajak Pak Nam bergabung makan siang karena dia berterimakasih Pak Nam sudah mengijinkannya tinggal di sana.

"Dia pikir itu haknya untuk bergabung makan siang dengan kita," ujar Bibi sebal.

Pak Nam datang. Mereka pun makan siang bersama. Pak Nam memberitahu Jae In kalau koleganya dapat promosi jabatan khusus karena berhasil menangkap pencuri kelas kakap dan tersangka pembunuhan. Jae In bilang dia sudah tahu. Bibi menyebut rekan Jae In beruntung. Tapi menurut Pak Nam, justru Jae In yang beruntung karena kalau bergabung di unit kejahatan kekerasan Jae In akan bekerja dalam bahaya.

"Tempat ini lebih baik. Tempat ini sepi dan kita tidak perlu datang pagi-pagi atau kerja lembur."


Bibi menekan kaki Pak Nam dengan bolpoin biar dia diam dan sadar kalau pembicaraannya membuat Jae In tidak nyaman. Tapi dasar Pak Nam muka tembok, dia masih saja nyerocos dan tidak peka. Akhirnya bibi menyuapinya bulgogi agar dia mingkem.

***

An berdiri di tepi jembatan dekat tkp kasus koper. Dia mengingat permintaan Sung Mo pada Jae In. "Kenapa dia ingin Jae In membantuku?" Lee An juga ingat nasihat Sung Mo dimalam Jae In mengetahui kemampuan psikometrinya.

Dengan kemampuanmu, kamu bisa melihat pisau. Namun kamu tidak bisa melihat apakah dia menikam seseorang atau dia melakukannya untuk menutupi seseorang. Kamu tidak tahu. Kamu hanya melihat beberapa bagian. Jadi jangan biarkan sampai ke kepalamu.


"Jadi Yoon Jae In akan cocok dengan bagian yang diberikan padanya?" Tanya Lee An pada dirinya sendiri. Dia lalu tersenyum.

***

Yoon Jae In mendatangi kantor polisi tempat koleganya di promosikan jabatannyavdengan membawa sebuket bunga. Banyak wartawan yang meliput.


Jae In bersama kolega lainnya naik ke atas panggung untuk memberi selamat dan foto bersama. Kolega Jae In menyarankan rekan-rekannya untuk mengumpulkan banyak poin agar dipromosikan.


Dalam perjalanan pulang, Jae In bicara pada dirinya sendiri. "Kumpulkan poin apa? Apa aku harus mengharapkan sebuah kasus supaya aku di promosikan? Hah pola pikir apa itu?"

Tapi nyatanya Jae In sekarang sedang mengintai di depan sebuah bank. Tampak seorang pria berpakaian dan bertopi hitam lewat di depan bank bersamaan dengan seorang nasabah bank yang baru saja keluar membawa banyak uang. Mereka bertabrakan hingga uang si nasabah jatuh berceceran di jalan.


Jae In tersenyum sinis melihatnya. "Pencopet. 10 poin." Jae In menantikan momen drama pencopetan di hadapannya. Tapi ternyata pria bertopi justru menolong si nasabah merapikan uangnya lalu pergi begitu saja. Jae In pun kecewa serta malu pada diri sendiri.


Di jalan, Jae In berpapasan dengan sekelompok pria berjas hitam. Imajinasinya langsung melayang. Kejahatan terorganisir, 20 poin. Jae In sudah bersiap melaju dengan motornya untuk menangkap basah mereka. Dan kenyataannya, pria-pria itu hendak pergi melayat. Hadeuh!!


Kali ini Jae In melihat seorang wanita menyalakan korek gas di depan sebuah rumah. Pikiran liarnya langsung mengarang cerita detektif. Pembakaran, 20 poin. Tak lama muncul seorang pria dari balik mobil dengan membawa kue ulang tahun. Huft!! Korek itu buat nyalain lilin.

Jae In kesal sendiri. "Aku kehilangan akal. Melihat orang-orang dan memikirkan poin. Kamu petugas macam apa?"


Jae In berhenti di tkp koper. Dia langsung ingat kasus itu. Pembunuhan, 50 poin. Tiba-tiba Jae In melihat sesuatu bergerak di semak-semak. Ternyata Lee An yang sedang psikometri sampai hidungnya mimisan dan sumpal kapas. Dia sampai merangkak ke tepi jalan saking terkuras energinya. Tapi senyumnya langsung mengembang begitu melihat Jae In. Mereka pun duduk berdua.

Lee An terus terang kalau dia juga ingin Jae In membantunya.

"Meskipun aku setuju. Memangnya aku bisa apa?"

"Seperti yang kamu katakan. Kita harus melakukan banyak hal," sindir Lee An. Mereka berduapun tersenyum. Menurut Lee An, mereka tetap punya alasan untuk melakukannya. Dia mengaku kalau mereka pernah bertemu jauh sebelum ini.


Lee An mengambil kotak yang berisi sepatu Jae In lalu memberikannya pada Jae In. Seketika ingatan Jae In melayang pada saat ayahnya membetulkan tali sepatunya.

"Tak lama setelah aku jadi psikometri, aku membacamu. Aku bahkan tidak tahu apa yang aku lakukan saat itu. Karena suatu alasan, ingatanku bertahan lama. Sekarang setelah aku melihatnya lagi, kurasa kemampuan anehku bisa digunakan untuk membantu seseorang dan menolong seseorang."

"Saat itu aku bertemu denganmu? Kamu memberiku permen?" Tanya Jae In.

"Kamu tidak ingat?"

Jae In menggeleng.

"Kamu mungkin lupa. Tapi bagiku, kamu adalah klien pertama yang meminta bantuanku."

"Klien pertama?"


Lee An terdiam sesaat. "Ayo kita mulai bersama." Lee An mengulurkan tangannya.

Jae In tidak langsung menyambutnya. "Jika aku memegang tanganmu, berapa banyak rahasiaku yang akan kamu ketahui?"

"Aku tidak tahu. Ingatan seseorang seperti lemari obat yang berantakan. Apa aku mengambil racun atau penawar racun, aku tidak akan tahu sampai aku menelannya."

Lee An menarik tangannya dengan canggung karena Jae In tak kunjung menerima uluran tangannya. Lee An bilang mereka tidak perlu kontak fisik untuk meningkatkan kemampuannya.

Jae In beralasan kalau dia hanya belum memutuskan. Dia tidak menghindari kontak fisik dengan Lee An. Lee An tersenyum geli. "Baiklah. Anggap saja begitu."

"Meskipun ada sejuta alasan untuk kita melakukannya. Aku tidak tahu bagaimana membantumu."

Lee An berdiri. "Jika kamu jadi aku, apa yang akan kamu selidiki. Pikirkanlah. Aku akan melakukan apa yang harus dilakukan."


Jae In menatap Lee An, begitupun sebaliknya.

***

Lee An sampai parkiran apartemennya. Dia turun dan berpapasan dengan Sung Mo yang akan pergi menemui Ji Soo.

Lee An langsung bisa menebak kalau Sung Mo mengambil kasus koper. Dia sangat senang dan antusias menanyakan perkembangan identitas korban. Lee An sampai naik ke punggung Sung Mo dan hampir saja terjungkal. Mereka berdua tertawa bersama.


Dan lagi-lagi, lewatlah pasangan yang kemarin melihat Lee An akan mencium Sung Mo. Hahaha.

Sung Mo hanya bisa pasrah disalahpahami orang karena tingkah konyol adiknya. Dia lalu pergi dengan mobilnya.


"Aku yang menemukan mayatnya. Aku akan tetap ikut," gumam Lee An lalu pergi menyusul kakaknya.

Bersambung ke He is Psychomeyric episode 5 part 4
Read More