The Crowned Clown Episode 16 Part 1

The Crowned Clown
Episode 16 Part 1


Sumber konten dan gambar

Baca episode 15 part 3

Pada episode sebelumnya, Lee Kyu mengambil tindakan tidak terduga dengan menghunuskan pedangnya ke perut Jinpyung. Dia sendiri tumbang setelah dua kali terkena sabetan pedang anak buah Jinpyung di punggungnya.


Mo Young berteriak memerintahkan untuk menutup gerbang istana. Sedangkan Kasim Jo berteriak untuk melindungi ratu. Dan ratu sendiri harus ditarik paksa oleh Ae Young agar mau pergi dari tempat berdarah itu.

Ha Sun berontak dari cekalan Mo Young. Dia berlari menghampiri Lee Kyu dan menyandarkannya di pangkuannya


"Yang Mulia."

Ha Sun tak kuasa meneteskan airmatanya. "Kenapa Haksan? Kenapa kamu harus mengambil tindakan ceroboh?"

"Maafkan aku karena tidak memegang janjiku."

Ingatlah momen ini di dalam hatimu. Bahaya apapun yang ada di depan kita, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan melindungimu. -ini kalimat Lee Kyu waktu memutuskan untuk menjadikan Ha Sun raja sesungguhnya-


"Aku berjanji untuk melindungimu. Setelah aku mati, biarkan tubuhku digantung di atas pintu gerbang. Tunjukkan pada rakyat bahwa kamu memberikan hukuman pada penjahat. Gunakan aku untuk meredakan kekhawatiran mereka."

Ha Sun menggeleng. "Tidak. Aku tidak bisa. Kamu adalah abdi setiaku. Kamu bukan penjahat."

"Benarkah? Mendengarnya membuatku bahagia."


Lee Kyu mengangkat tangannya dengan sisa-sisa kekuatannya. Ha Sun meraihnya lalu menggenggamnya erat. Lee Kyu memejamkan matanya. Menahan sakit di detik-detik terakhir kehidupannya. Tak lama kemudian, kepalanya terkulai menandakan berhentinya detak jantungnya.


"Haksan!!"

Ha Sun menangis pilu kehilangan orang yang telah memberinya kehidupan yang baru. Kehidupan yang sangat berbeda dengan kehidupannya sebelumnya. Hatinya benar-benar sakit.

Kasim Jo yang turut menyaksikan di belakang Ha Sun pun ikut menangis. Begitupun Mo Young yang melihat dari kejauhan. Mereka sama-sama sedih kehilangan orang yang berharga.

***

Rombongan Shin Ci Soo dan Jinpyung yang harus dipapah, dihadang oleh prajurit istana.

"Buka gerbangnya!" Perintah menteri kehakiman. (Ini orang masih aja pengen jadi budaknya Shin Ci Soo)

"Tidak bisa kecuali perintah raja!"


Jasad Lee Kyu sudah dimasukkan ke dalam peti. Ho Geol meratap menangisinya.

"Yang Mulia. Aku ingin mengirimnya pergi bersama orang-orangnya. Tolong ijinkan aku membawa mayatnya keluar dari istana."

Ha Sun diam saja. Pandangannya terlihat kosong.

"Yang Mulia. Membuka gerbang terlalu berbahaya untuk saat ini. Pasukan pemberontak bisa menyerang," ujar Mo Young.

"Jika kamu memberi ijinmu, aku bisa membawa mayatnya sendiri."

Ha Sun akhirnya buka suara. "Maksudmu pasukan Shin Ci Soo dan Jinpyung menghadapi penjaga di gerbang Geumeo?"

"Ya Yang Mulia. Kenapa Anda bertanya?"

"Aku ingin mengucapkan perpisahan yang layak pada Haksan."



Ha Sun mengirim surat pada Ibu Suri.

Aku ingin membawa tubuh Lee Kyu keluar istana. Tahan anakmu selama setengah hari agar aku bisa menghormati kepergiannya. Jika kamu menghalangi jalan, aku akan menggantung mayatnya di pintu gerbang untuk menunjukkan pada rakyat bahwa aku menghukum penjahat. Mereka akan tahu bagaimana kamu menyebabkan pemberontakan ini tanpa pembenaran apapun. Tidak ada yang akan berani bicara walaupun aku membun*h Jinpyung dan Shin Ci Soo karena mempermalukanku pada pertemuan istana. Bagaimana jawabanmu?

Ibu Suri meremas surat itu. Pengawal Jinpyung memohon agar tuannya diselamatkan karena raja akan membun*h Jinpyung lebih dulu jika Ibu Suri tidak memberi jawaban dalam satu jam. Akhirnya Ibu Suri menuruti permintaan Ha Sun.


Sementara Ha Sun sedang menangis seorang diri di depan peti mati Lee Kyu.

***

Pintu gerbang dibuka. Rombongan Shin Ci Soo dan Jinpyung segera keluar dari istana. Tak lama kemudian rombongan pengantar Lee Kyu datang.


Peti yang berisi tubuh Lee Kyu diletakkan di atas gerobak yang ditarik seekor kuda. Ho Geol mengikutinya dengan derai airmata.


Gerobak berhenti saat Ha Sun datang dan turun menyentuh peti Lee Kyu. Airmata mengalir di pipinya. Begitu juga So Woon yang juga ikut mengantar kepergian Lee Kyu dari istana. Kasim Jo dan Mo Young pun tak menyembunyikan kesedihannya.

Gerobak itu berjalan meninggalkan istana. Menyisakan kepedihan di hati sebagian orang di istana.


Gerobak kuda berhenti di depan tempat hiburan. Satu orang lagi yang dirundung duka atas kepergian Lee Kyu. Woon Shim, wanita yang dicintai Lee Kyu. Mungkin dia yang paling merasa kehilangan di antara semuanya. Dia mengingat momen terakhirnya bersama Lee Kyu.

"Aku pikir, aku akhirnya bisa bersamamu. Kamu janji akan bersamaku. Kenapa kamu meninggalkanku seperti ini?"

Woon Shim hampir saja terjatuh. Anggota Grup Daedong yang perempuan segera menahan tubuhnya.


Jinpyung sedang diobati oleh seorang tabib. Dia menahan sakit sampai tersengal-sengal. Ibu Suri datang bersama dengan Pangeran Yonghwa. Tentu itu membuat Jinpyung kesal di tengah kesakitannya.

"Jinpyung. Bagaimana keadaanmu?"

"Ini bukan apa-apa. Aku baik-baik saja besok pagi. Jangan khawatir."

"Ckckckck. Sayang sekali. Jika saja kamu tidak serakah terhadap tahta, kamu bisa saja berumur panjang dan hidup sehat."

Ibu Suri meminta Jinpyung jangan khawatir karena Yonghwa akan menggantikannya mengambil tahta. Dia meninggalkan Jinpyung yang tak hanya merasakan sakit di perutnya tapi juga di hatinya.



Ibu Suri bicara berdua dengan Shin Ci Soo membicarakan cara untuk membenarkan pemberontakan.

"Anda belum menerima pengumuman resmi atas pencopotanmu. Artinya posisimu masih lebih tinggi dari raja. Sebagai orang yang lebih tinggi, berikan aku perintah untuk menurunkan raja penghianat itu dari tahta."

"Aku memberikan ijinku untuk menyerang istana. Turunkan badut itu dari tahta malam ini!"


Mo Young menyerahkan surat dari Jenderal Kang In Bok. Ha Sun terkejut karena surat itu memberitahukan kalau situasi di perbatasan tiba-tiba kacau. Aisin Gioro bisa menyerang sewaktu-waktu. Mereka baru sampai di Yangju provinsi Gyeonggi. Jenderal Kang bertanya apa dia harus lanjut ke ibukota atau kembali ke perbatasan.

Mo Young dan Kasim Jo menyarankan agar pasukan Jenderal Kang membantu istana saja karena keselamatan raja lebih penting. Tapi menurut Ha Sun, kalau perbatasan sampai runtuh, Aisin Gioro akan menindas rakyat dan membun*h mereka semua.

"Lalu apa gunanya mempertahankan pemerintahanku?"

***
Ha Sun, Mo Young, dan Kasim Jo berdiskusi dengan kepala pengawal istana. Dari kepala pengawal mereka tahu jumlah prajurit lawan. Kalaupun mereka mengumpulkan semua orang, mereka masih kekurangan 400 orang. Mo Young akan berusaha mencari jalan keluar. Sementara itu, dia akan mengeluarkan raja dan ratu dari istana secara diam-diam. Tentu saja Ha Sun yang baik hati tidak setuju.


Shin Ci Soo dengan baju merahnya memimpin pasukan pemberontak menyerbu masuk ke dalam istana. Dia memberi kode untuk berhenti saat menemukan halaman luar istana yang lengang dan kosong melompong.


Ha Sun muncul seorang diri dari pintu sebelah kiri. Shin Ci Soo segera memerintahkan untuk menyerbunya. Tapi begitu Shin Ci Soo melangkah melewati pintu, pintu itu tiba-tiba tertutup.


Terdengar suara pedang saling beradu di belakangnya. Dari celah pintu, Shin Ci Soo bisa melihat pasukannya sedang bertarung melawan pasukan kerajaan.

Dari pintu gerbang, datang lagi pasukan bala bantuan yang ingin melindungi raja.


Ha Sun berdiri menantang di depannya. Shin Ci Soo mengangkat pedangnya siap bertarung dengan Ha Sun. Tiba-tiba pintu terbuka memperlihatkan pasukan pemberontak yang sudah tergelak semua tanpa sisa.

Shin Ci Soo sudah terkepung. Dia berbalik lagi menghadap Ha Sun yang menatapnya penuh amarah.

"Aku akan membun*hmu dan membalasmu karena mencuri suratku untuk membuat perbatasan kacau serta membahayakan ibukota untuk kepentingan pribadimu."

Mo Young yang tadi mempimpin pertempuran, melangkah maju sampai ke pintu seolah menegaskan kalau Shin Ci Soo tidak akan selamat.

Shin Ci Soo yang merasa tersudut mencoba untuk menjilat raja. "Jika kamu melepaskanku, aku akan membawakan kepala Ibu Suri."

"Kepala Ibu Suri?"

"Ya Yang Mulia."

Shin Ci Soo melempar pedangnya ke tanah. "Bukan hanya kepala Ibu Suri. Tapi kepala semua orang yang terlibat dalam pemberontakan ini. Maafkan aku atas kesalahanku..."




Jlebbb

Ha Sun menghunuskan pedangnya ke perut Shin Ci Soo.

"Tidak akan ada belas kasihan. Harga untuk membun*h Haksan hanyalah kematian."

"Dasar badut rendahan!"

Crassss

Ha Sun menebas leher Shin Ci Soo hingga seketika Shin Ci Soo tergeletak tak bernyawa.

Ternyata, walaupun pasukan Kang In Bok tidak bisa membantu karena harus kembali ke perbatasan, tapi pasukan jenderal  Kim dari provinsi Hwanghae (jenderal teman ayahnya So Woon) berhasil sampai istana tepat waktu walaupun sempat terhalang pasukan pemberontak di ibukota.


Dan ternyata dari pihak lawan masih tersisa seseorang yang berhasil mereka tawan. Pengawal pribadi Jinpyung.


Jinpyung berusaha meraih teko air. Tapi teko itu terbalik dan air tumpah bersamaan dengan terkulainya tangan Jinpyung. Jinpyung sudah tak bernafas lagi.

Bersambung ke The Crowned Clown episode 16 part 2



Read More

Buang Hong Episode 1 Part 4

Buang Hong
Episode 1 Part 4
(A Lasso for A Swan)


Sumber konten dan gambar : Channel 3


Baca episode 1 part 3

Ramet dan Pakorn duduk di bangku penonton pada acara fashion show perhiasan. Di luar tampak seorang wanita bernama Khun Ork Usa. Dia adalah seorang mantan artis yang berhenti dari pekerjaannya  setelah menikah untuk membantu bisnis suaminya. Khun Ork Usa masuk ke ruangan fashion show dan duduk di belakang Khun Vi and the gank.


Pim tampil memukau sebagai final model. Lagi-lagi Ramet tersihir oleh kecantikannya. Pakorn berusaha menyadarkannya.

"Dia Pimlapat. Anak dari pengusaha Trai Withapibol."

Seketika ingatan Ramet terlempar ke saat dia mendapat sebuah penghargaan dimana Tuan Trai lah yang menyerahkan piala padanya. Tuan Trai adalah salah satu idola Ramet dalam dunia bisnis. Saat itu Ramet bertanya siapa yang jadi inspirasi Tuan Trai dalam berbisnis.

"Putriku. Pimlapat."

Pakorn memanggil Ramet berkali-kali untuk mengembalikannya ke dunia nyata.

"Apa kamu terpesona dengan kecantikan modelnya?"

"Kamu gila? Aku nggak mikirin Pimlapat kok."

"Aku kan nggak nyebut nama. Jadi sebenarnya kamu jatuh cinta kan sama Pim? Makanya kamu dari tadi terus-terusan menatap Pim."

Ramet salah tingkah sendiri.

Di tempat duduk seberang, seorang bapak-bapak tampaknya juga tertarik pada Pim. Dia tidak melepaskan pandangannya dari Pim.

Kembali ke Ramet dan Pakorn. Yang Pakorn dengar, meski Pim cantik, tapi dia suka marah-marah dan cepat sekali naik darah. Selalu mencampur aduk masalah pribadi dengan pekerjaan.

Seolah membela Pim, Ramet menyahut kalau perempuan cantik bukannya selalu seperti itu?


Semua orang bertepuk tangan. Di akhir acara, Pim memberikan sebuket bunga pada P'Bank sang desainer perhiasan. Khun Vi pun ikut naik ke atas panggung. Ternyata gaun-gaun yang dipakai para model adalah hasil karyanya.

Pim jelas kesal. Tanpa melihat tempat dan situasi, Pim marah-marah. "Ada apa ini? Kenapa nggak ada yang bilang sama aku kalau gaun hari ini dari Martha Haute Couture?"

P'Bank bingung. "Apa masalahnya Pim?"

"Aku kan pernah bikin pengumuman kalo aku nggak akan pakai baju dari MHC."

"Seorang profesional kan harus bisa memisahkan masalah pribadi sama pekerjaan," ujar Khun Vi."

"Beraninya kamu! Aku tahu kamu kan yang lakuin ini? Kenapa? Segitu pengennya aku pake baju kamu? Kalo aku nggak pake baju kamu, kamu nggak bisa istirahat dengan tenang?!!"

Pakorn memberitahu kalau itu adalah Khun Vi. Model lama sekaligus mantan istri Tuan Trai. "Mereka saling nggak suka satu sama lain. Nanti deh aku kenalin kamu sama dia."


Khun Vi playing victim. "Ini salahku P'Bank. Dia udah bikin kesepakatan sama aku. Kalau aku minta maaf sama dia, kita akan bisa bekerja dengan damai. Tapi aku nggak nyangka kalo dia menarik kembali kata-katanya. Nggak cukup dengan menghinaku, dia menghina kamu juga P'Bank."

Pim tidak percaya Khun Vi ternyata sanggup memfitnahnya. "Kesepakatan apanya?"

"Pim, aku bisa minta maaf sama kamu lagi.  Aku nggak nyangka kamu sebenci ini sama aku. Kalo kamu segitu nggak sukanya sama gaunku, kamu bisa melepasnya."


Pim pun terprovokasi. Dia melepas gaun luarnya lalu melemparnya ke lantai dan menginjak-injaknya. Semua orang terkejut. Orang-orang tidak melepaskan kesempatan merekam dan memotret pemandangan di atas panggung.


Di tengah keterkejutannya melihat tingkah Pim, Ramet tanpa sengaja melihat Khun Ork Usa. Begitupun sebaliknya. Khun Ork usa langsung kabur dan Ramet segera mengejarnya.

Ramet berhasil mencegat Khun Ork Usa. "Aku mau bicara."

"Nggak ada yang mau aku bicarain sama kamu."


Khun Ork Usa berusaha kabur lagi tapi Ramet mencekal lengannya. "Kalo gitu, bilang sama Kittichai, kalo dia nggak berhenti, mata diganti dengan mata. Aku punya bukti yang bisa menjatuhkannya."


Saat itulah Pim yang sedang di kejar wartawan berjalan dengan cepat. Tanpa sengaja hak sepatunya menginjak kaki Ramet. Kesempatan ini tidak disia-siakan Khun Ork Usa. Dia kabur meninggalkan Ramet yang meringis kesakitan.

Pim mendorong Ramet dengan kasar. "Kenapa berdiri di jalan sih?"


Pim tergelincir dan hampir jatuh kalau saja Ramet tidak segera menangkapnya. Mereka bertatapan selama beberapa detik. Pim lagi-lagi mendorong Ramet. Wartawan ramai merekam kejadian itu.

"Lain kali kalo mau bertengkar sama istri itu di rumah. Jangan menghalangi jalan seseorang! Kalo aku sampai tersungkur dan otakku cedera, aku bakal tuntut kamu." (Lebay banget Pim)

Ramet diam saja karena menahan sakit. Pim jadi tambah kesal.

"Kalo kamu gentlemen, minta maaf kek! Jadi aku bisa pergi." (Yang salah siapa, yang harus minta maaf siapa. Oh malangnya Ramet)


Pim mendorong Ramet LAGI hingga punggungnya membentur tembok lalu dia ngeloyor pergi.

"Oi! Oi! Sakit." Ramet memegangi kakinya kesakitan. Kayaknya dia tadi jaim di depan Pim. Giliran Pim pergi, langsung deh merintih kesakitan.

***

Ramet berjalan terpincang-pincang. Pakorn bertanya kenapa.

"Nggak pa-pa. Cuma kecelakaan kecil."

Pakorn mengajak Ramet pergi bersamanya. Dia ingin mengenalkan seseorang yang bisa membantu Ramet dalam fashion show amalnya nanti.


Khun Vi keluar ruangan dengan wajah kesal. Dua assistennya terus membahas Pim yang menginjak-injak gaun MHC. Khun Vi tambah kesal. "Aku juga lihat kali. Jadi nggak perlu dipertegas kayak gitu!"

Sebuah suara menginterupsi mereka. "Kamu marah Khun Vi?"

"Sia (pria yang terus memandangi Pim saat fashion show). Apa yang kamu perlu dariku?" Tanya Khun Vi sinis.

"Aku suka seorang model. Kamu bisa menghubunginya untukku?"

"Sia! Aku ini desainer. Aku bukan agensi model. Aku capek. Jadi permisi."

Khun Vi hendak pergi. Tapi dia berbalik saat Sia menanyakan nomor ponsel Pim.

"Pim? Anak tiriku?"

"Ya. Aku menyukainya."

"Tapi Pim sudah tunangan dengan Yothsapol anaknya Lady Yaowaluck."

"So what? Cuma tunangan ini."

"Jadi kamu mau aku ngapain? Aku bukan mak comblang. Kalo soal kerjaan aku bisa bantu. Tapi kalo buat ini, aku nggak mau terlibat sama Pim."

Sia menawarkan uang 2 juta baht sebagai kompensasinya.


Khun Vi langsung melotot. "Dua juta?"

"Kamu bisa bantu kan?"

Belum sempat Khun Vi menjawab. Pakorn datang bersama Ramet. Sia segera undur diri dan meminta Khun Vi menghubunginya kalau tertarik dengan tawarannya.

Pakorn mengenalkan Ramet sebagai pemilik Hotel Chiang Rai Jaravee. Khun Vi langsung terpesona dengan ketampanannya.



Ramet mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Khun Vi menyambut tangannya dan terus menatap Ramet. Wah Khun Vi jatuh cinta pada pandangan pertama. Anak dan ibu tiri bakalan rebutan cowok nih.

***

Tuan Trai berkali-kali mendapat panggilan dari ponsel yang berbeda. Ada yang nagih hutang. Ada yang menolak kerjasama. Ada yang melaporkan kalau bank menolak memberi pinjaman. Dan yang terakhir telepon dari pengacaranya yang bilang kalau Tuan Trai sudah dinyatakan bangkrut oleh pengadilan. Tuan Trai sangat terkejut mendengarnya.

***

Pim berjalan di parkiran bersama Paul.

"Ayolah Pim. Jangan marah terus. Atau kecantikanmu bakal berkurang."

"Ini menjengkelkan! Semua orang kan tahu aku benci sama si ibu tiri muka botox itu. Dan mereka masih aja pengen aku pake bajunya. Dan ada orang gila yang berdiri di jalanku. Aku hampir saja terjatuh di depan reporter. Mereka pasti punya banyak foto untuk dijadikan berita baru. Aku nggak bisa bayangin apa yang akan terjadi kalau aku benar-benar tersungkur," cerocos Pim.

"Ayolah. Itu kan udah berlalu. Gimana kalau kita makan sesuatu yang enak?"


"Paul!!! Kamu nggak ingat kalau aku nggak makan apapun setelah jam 8 malam?"

"Maaf deh. Jadi kamu mau kemana?"

"Aku mau pulang!"

Paul cuma bisa geleng-geleng kepala.

***

Tuan Trai duduk di kursi dalam kamarnya sambil memegang dadanya. Dia teringat rekan-rekan kerjanya yang marah karena di saat situasi perusahaan sedang buruk, Tuan Trai malah membelikan Pim mobil baru.

Dia juga ingat saat awal-awal usahanya jatuh, Khun Vi marah-marah dan minta cerai.


Tuan Trai mengambil pigura fotonya bersama Pim. Dia menangis menatap foto itu lalu mendekapnya.

Bersambung ke Buang Hong episode 1 part 5


Read More

The Crowned Clown Episode 15 Part 3

The Crowned Clown
Episode 15 Part 3


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca episode 15 part 2

Ha Sun menemui Ibu Suri dengan dikawal Mo Young dan beberapa pengawal lainnya.

"Dasar badut rendahan! Tunjukkan rasa hormatmu!"

"Aku mencopot ibu suri dari jabatannya. Jadi aku tidak perlu melakukannya."

"Aku tidak berpikir siapapun bisa lebih gila dari raja. Haksan menemukan yang lebih buruk. Lagipula, hal alami bagi pria rendahan sepertimu menjadi gila setelah merasakan kekuatan seperti itu."

"Apakah sekretaris Lee masih hidup?"

"Apa kamu khawatir majikanmu mati? Jangan khawatir. Dia menghina keluarga kerajaan dan istana. Aku tidak akan membun*hnya sampai aku membalas dendam untuk raja dan memberikan hukuman yang sesuai."

Ha Sun sinis. "Hah!! Orang lain mungkin akan berpikir kamu sangat peduli pada anak tirimu." (Ibu suri ni aneh. Jelas2 dia berusaha bun*h Lee Hun beberapa kali. Eh masih aja bawa2 nama Lee Hun dijadiin alasan. Munafik banget deh)

Ibu Suri jujur kalau dia geram karena Lee Kyu membawamu dan membodohi istana. "Aku tidak bisa membiarkan kejahatannya!"

"Jadi kamu yang memimpin pemberontakan untuk menghukumnya? Siapa yang akan mempercayainya? Kamu tidak bisa menyembunyikan niat kotormu terhadap tahta."

"Kamu juga tidak bisa menyembunyikan asalmu dari kasta rendah. Sekali Haksan menghilang, kamu orang kedua yang akan hancur. Satu-satunya kejahatanmu adalah mengikuti perintah Haksan."

Ibu Suri membujuk Ha Sun untuk melaporkan Lee Kyu dan dia akan memaafkan Ha Sun.

"Apa hakmu untuk menuduhku dan memaafkanku? Kamu orang yang harus mengakui kejahatanmu dan dihukum."

"Beraninya kamu!!"

Ibu Suri mengancam akan memberitahu identitas Ha Sun pada semua orang. Ha Sun tidak takut. Toh siapa yang mau percaya pada penghianat.

Kali ini Ibu Suri mengancamnya dengan nama So Woon. Dia bilang perselingkuhannya akan dicatat dalam sejarah dan So Woon pasti tidak akan bisa menanggung malu.


Ha Sun naik pitam. Dia mengepalkan tangannya erat hingga bergetar. Dia lalu melangkah mendekati ibu suri. Ibu Suri tersenyum mengira provokasinya berhasil.

"Silahkan saja. Setiap tetes airmatanya, akan membuat tetes airmata darah dari matamu. Setiap nafas dari mulutnya, akan membuatmu berteriak."

"Beraninya kamu! Dasar tikus jahat dan kurang ajar! Apa kamu tidak takut dengan langit?"

"Hentikan omong kosongmu!! Langit yang menentukan apa yang rendah dan berharga. Itu tergantung dari hatimu dan sikapmu. Bukan statusmu. Yang kamu lakukan hanya mengoceh tentang darah bangsawan. Apa kamu tidak malu pada dirimu?

Ha Sun meninggalkan Ibu Suri yang menggeram marah.


Lee Kyu diikat dan di kurung di perpustakaan. Shin Ci Soo menemuinya dan berkata akan memohon pada Ibu Suri agar Lee Kyu dibiarkan hidup, asal Lee Kyu bersedia membujuk Ha Sun untuk menyerahkan tahtanya. Shin Ci Soo pikir Ha Sun hanya akan menurut pada Lee Kyu.

"Kamu salah. Raja hanya melakukan apa yang dia pikir baik. Dia tidak tunduk pada perintahku. Apa kamu tidak melihatnya setelah melihat semua itu?"

"Apa kamu benar-benar akan menyerahkan hidupmu untuk raja palsu dan rendahan itu?"

"Rendahan dan badut apa? Semua yang dia lakukan adalah untuk rakyat dan negeri kita. Apanya yang rendahan?"

Shin Ci Soo ingin muntah mendengarnya. Sebelum dia pergi, dia memberitahu tentang pertemuan istana besok pagi.


Ha Sun merenung sendirian di balkon. So Woon datang dan menghampirinya. Ha Sun bertanya kenapa So Woon malam-malam kesana. So Woon bertanya balik kenapa Ha Sun ada diluar.

"Aku tidak bisa membohongimu. Aku mengkhawatirkan pertemuan besok pagi. Aku tidak bisa tidur. Apa kamu juga mengkhawatirkannya?"

"Kamu harus berurusan dengan mereka sendirian besok. Aku takut sesuatu akan terjadi padamu besok."


Ha Sun meraih kedua tangan So Woon meyakinkannya tidak ada yang akan terjadi padanya besok. So Woon balas memegang tangan Ha Sun. Dia minta maaf karena seharusnya dia memberi kekuatan untuk Ha Sun.

"Tidak apa-apa. Dua pohon yang terkait bisa saling memberi kekuatan. Kamu bisa bersandar padaku dan aku bisa bersandar padamu."

Merekapun berpelukan.


Rombongan Shin Ci Soo sudah sampai di depan gerbang istana. Mo Young menghampiri mereka. Dia menatap iba pada Lee Kyu yang harus memakai baju putih dan tubuhnya diikat.


Lee Kyu tersenyum dan sedikit mengangguk seolah memberi Mo Young kekuatan dan keyakinan. Merekapun masuk ke dalam istana.


Dilain tempat, Kasim Jo memberikan pengarahan pada kasim lainnya bahwa apapun yang terjadi, mereka tidak boleh meninggalkan Yang Mulia.


Ha Sun keluar dari kediamannya. Mo Young menghampirinya dan memberitahu kalau dayang Hwa Dang tidak mau mengaku. Kasim Jo menyarankannya untuk menunda pertemuan. Tapi Ha Sun menolak. Kalau tidak hari ini, mereka tidak akan bisa menyelamatkan Lee Kyu.

Seorang prajurit datang melapor kalau dia sudah melihat rombongan tentara Jenderal Kang In Bok memasuki ibukota. Paling tidak mereka akan sampai istana besok.

"Baiklah. Kerja bagus."

***

Sebelum ke halaman pertemuan, Lee Kyu meminta untuk bertemu Ha Sun terlebih dulu. Semalaman dia mencoba memikirkan tawaran Shin Ci Soo. Jinpyung menolak. Tapi Lee Kyu berkata kalau mereka boleh ikut.


Mereka bertigapun menemui Ha Sun di ruangannya. Mata Ha Sun sedikit berkaca-kaca melihat Lee Kyu. Lalu dia bertanya untuk apa mereka ingin bertemu sebelum pertemuan.

Lee Kyu angkat bicara. "Yang Mulia. Apa kamu ingat 2 cara untuk bertahan di dalam istana?"

Menginjak semua dan menghancurkan mereka untuk selamanya. Atau mengabaikan mereka untuk selamanya.

"Aku ingat."

"Hari ini, yang perlu kamu lakukan adalah mengingat yang kedua."

"Apa tidak ada lagi yang ingin kamu katakan?"

"Apa yang paling penting bagimu adalah negeri ini dan rakyatnya. Selain itu, kamu harus membuangnya kapan saja. Walaupun aku adalah hal itu. " (Aku kok punya firasat buruk ya)

"Aku tidak setuju. Bagaimana bisa aku membuangmu? Itu seperti menyuruh Liu Bei untuk membuang Zhao Yun."

"Kamu baru saja membandingkanku dengan Zhao Yun, jenderal hebat dan setia. Aku sangat terhormat menerima pujianmu."

Melihat pemandangan di depannya, Shin Ci Soo tersenyum sinis. "Selama aku pergi, kamu mendapat kemampuan untuk membuat pelayanmu tertawa."


"Sebenarnya, aku berbakat untuk itu," balas Ha Sun.

Lee Kyu tertawa keras. Kasim Jo pun tersenyum simpul.

"Benar kamu berbakat untuk itu. Aku tidak percaya sudah melupakan hal itu. Yang Mulia, aku merasa terhormat bisa melayanimu. Aku tidak memiliki penyesalan." (Sedih 😞)

"Tolong jangan katakan hal seperti itu. Kamu akan berumur panjang."


"Itulah yang ingin aku katakan. Demi negara ini dan rakyatnya, kamu harus tetap kuat untuk masa depan dan melindungi tahta."

Jinpyung jengkel karena ini tidak seperti yang dia inginkan. Dia meminta pertemuan istana segera dimulai."


Semua yang berkepentingan sudah berkumpul di halaman istana. Ha Sun meminta ikatan Lee Kyu dilepas.

Menteri kehakiman mengingatkan kalau Lee Kyu disana sebagai penjahat, jadi mereka tidak bisa melepas ikatannya.

Bagi Ha Sun, Shin Ci Soo dan Jinpyung lah si penghianat. Lee Kyu tidak bisa dinyatakan bersalah sebelum ada bukti. Akhirnya ikatan Lee Kyu pun dilepas.


Terlihat So Woon dan beberapa selir istana datang kesana. So Woon sedih melihat Lee Kyu.


Shin Ci Soo maju meminta si dayang menyerahkan suratnya. Dia lalu membaca isi surat itu. Semua orang terkejut. Jinpyung ikut maju dan menyuruh Lee Kyu mengakui kejahatannya bersekongkol dengan Aisin Gioro.

"Aku tidak punya sesuatu untuk di akui. Aku tidak malu melakukannya. Kamu yang harusnya malu. Sampai kapan kamu akan melayani Ming yang tidak ada hubungannya dengan kita! Apa salahnya membuat perdamaian dengan Aisin Gioro. Yang terpenting adalah melindungi rakyat dan negeri ini."

"Sungguh mengharukan. Tapi Yang Mulia, surat ini memiliki cap segel kerajaan. Apa kamu benar-benar tidak mengetahuinya?"

Semua orang menanti jawaban Ha Sun. Ha Sun hendak menjawab tapi Lee Kyu yang panik mendahuluinya. Dia bilang dia yang menggunakan segel itu.


"Itu sudah jelas kejahatanku."

"Sekretsris Lee. Jangan melakukannya!"

"Yang Mulia! Harap ingat permintaanku dan lindungi masa depan!"


Lee Kyu berdiri lalu mencabut pedang seorang pengawal. Dia maju menghampiri Jinpyung. Tapi pengawal pribadi Jinpyung lebih dulu melayangkan pedangnya menyayat punggung Lee Kyu. Ha Sun shock. Dia maju berniat menghampirinya. Mo Young berusaha menahannya meski Ha Sun terus meronta.


Lee Kyu tidak menyerah. Dia menghunuskan pedangnya ke perut Jinpyung.


Sekali lagi pengawal pribadi Jinpyung menebas punggung Lee Kyu.


Lee Kyu mencabut pedangnya. Dia berusaha bertahan dengan menancapkan pedangnya ke lantai. Tapi akhirnya dia tumbang tak berdaya. Semua orang terkejut terutama Ha Sun.


"Haksaaaaaaaan!!!"

Bersambung ke The Crowned Clown episode 16 part 1

Komentar :

Gini nih sebelnya kalo nonton drama sageuk. Selalu ada aja yang harus dikorbanin. Huft sedih. Padahal Lee Kyu yang paling gigih buat memperjuangkan kerajaan yang adil walaupun nggak adil juga sih buat Lee Hun. Kira-kira bakalan perang nggak ya? Tinggal 1 episode lagi chingu. Sabar yaaaaa :)

Read More