Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 9 Part 2 )

The Crowned Clown
Episode 9 Part 2

Sumber konten dan gambar : TVN



Lee Kyu menemui Tuan Shin di luar.

"Ada apa kamu datang ke istana?"

"Aku dengar berita tentang poster itu. Aku khawatir dan datang untuk menemui raja. Aku ingin mengatakan sesuatu secara pribadi kepada raja. Jadi harap beritahu raja."

"Dia tidak mau bertemu tamu manapun hari ini. Jadi harap kembali."

"Aku mungkin bisa membantunya. Jadi kenapa kamu menghalangiku?"

"Kamu dipaksa turun dari posisimu karena perbuatanmu. Apa yang bisa kamu bantu? Urusan istana bukan lagi urusanmu. Kenapa kamu tidak menundukkan kepalamu?"

Lee Kyu hendak berlalu pergi. Namun dia berhenti mendengar Tuan Shin bicara.

"Aku dengar tentang keributan yang kamu buat di balai pertemuan. Kamu meninggikan suaramu seolah-olah kamu raja. Menangkap badut adalah cara tercepat dan paling efektif. Tapi kamu menghentikan pejabat istana dan justru menyalahkan mereka. Dan Yang Mulia membiarkannya. Itu tidak bagus. Menutup mata dan telinganya, apa yang kamu rencanakan?"

Lee Kyu berbalik lagi. "Seperti itulah kehebatanmu. Aku tidak cukup serakah untuk memenuhi perutku di belakang raja. Jangan khawatir Tuan."

***

Setelah bertemu Lee Kyu, Tuan Shin menemui Dayang Kim.

"Sudah lama sekali Tuan."

"Aku kehilangan koneksiku. Jadi tidak alasan bagiku untuk menemuimu. Masalahnya menjadi kacau karena poster skandal itu. Tapi kamu sepertinya tidak terkejut."

"Apakah ada yang perlu dikejutkan? Selama melayani Yang Mulia raja, aku melihat insiden aneh dan tidak masuk akal terjadi sepanjang waktu."

"Apakah ada sesuatu yang aneh terjadi baru-baru ini?"

"Dalam semalam luka besarnya muncul dan kemudian menghilang."

Apakah kamu yakin?"

Dayang Kim mengangguk.

"Astaga. Aku sangat penasaran. Bisakah kamu memeriksa luka di dadanya?"


Dayang Kim terkejut. "Kamu pikir itu mungkin? Aku bisa dibunuh jika raja mengetahuinya. Kenapa aku harus mengambil resiko?"

Tuan Shin mengancam dayang Kim dengan mengingatkan perbuatan dayang Kim yang telah meracuni dayang raja dan menggunakan sihir hitam. "Jika itu terungkap kamu akan mat*"

"Itu adalah perintahmu."

"Apakah kamu punya bukti? Aku punya cukup bukti dan saksi jika kamu yang melakukannya."

"Apakah kamu mengancamku sekarang?"

"Aku hanya ingin kita saling membantu. Apakah kamu akan melakukannya? Aku tidak akan melupakan bantuanmu."

Dayang Kim terlihat sangat kesal karena terus-terusan diancam oleh Tuan Shin.

***

Lee Kyu masuk ke kantornya. Dia menemukan surat pengunduran diri Mo Young. Lalu masuk dua orang menteri. Ternyata Lee Kyu yang meminta mereka datang.

"Ini waktunya melaksanakan masalah darurat yang kita abaikan selama kontroversi di istana."

"Maksudmu aturan pembayaran beras?" Tanya menteri perpajakan."

"Bersama aturan pembayaran beras, mari kita lakukan penyelidikan tanah, memperluas tanah pertanian, dan memperluas keuangan nasional," jelas Lee Kyu.


Tiba-tiba masuk seorang pengawal yang membawa kabar dari departemen kehakiman. "Pelukis istana ditemukan meninggal tadi malam."

***

Lee Kyu melihat jasad dua pelukis istana di temani seorang prajurit.

"Jantungnya ditusuk dengan pedang. Dia ditemukan di jalan terpencil. Tidak ada bukti maupun saksi. Jadi sepertinya mereka dibun**h."

***

Ha Sun membaca laporan aturan pembayaran beras. Ho Geol tak ketinggalan berusaha menjelaskan laporannya. Tapi sepertinya pikiran Ha Sun sedang tidak berada pada tempatnya. Ho Geol sampai menegurnya untuk menyadarkan lamunannya.


"Apa Anda tidak mendengarkan penjelasanku?"

"Hmmm? Bisakah kamu mengulanginya lagi?"

"Yang Mulia. Harap katakan padaku jika Anda tidak puas dengan penjelasanku.."

"Bukan begitu. Lanjutkan!"

Ho Geol dengan semangat melanjutkan lagi penjelasannya. Tapi di tengah-tengah kalimatnya, kasim Jo malah nyelonong masuk. Kesel deh Ho Geol.

Kasim Jo memberitahu kalau ibu suri mengajak Ha Sun minum teh.

"Kenapa tiba-tiba minum teh?" Tanya Ha Sun heran.

"Dia berharap untuk menemuimu dan ratu."

Mendengar kata ratu, Ha Sun langsung beranjak dari duduknya. "Kalau begitu sebaiknya aku pergi." Ha Sun meletakkan laporan dan meninggalkan Ho Geol begitu saja. Ho Geol hanya bisa nyengir kecewa. "Penjelasanku belum selesai," gerutunya.


Ibu suri menuangkan teh untuk Ha Sun dan So Woon. Dia tampak melirik So Woon saat menuangnya. Dayangnya meletakkan teh masing-masing ke meja Ha Sun dan So Woon. Mereka berdua pun meminum teh itu tanpa curiga seperti sebelumnya. Lagi-lagi ibu suri tampak melirik So Woon.

"Jika dipikir-pikir, kamu punya wajah yang tampan," ujar ibu suri memuji Ha Sun. "Bukankah tidak menarik jika ada wajah lain yang seperti dirimu?"

Ha Sun tersenyum. "Aku tidak tahu kamu sangat menyukai wajahku."

"Bukan karena aku menyukainya. Tapi aku mengkhawatirkannya. Bahkan aku sangat khawatir. Pikirkan seberapa cemas dan takutnya rakyat. Bukan begitu ratu?"

So Woon pun menjawab. "Rakyat mudah digoyahkan oleh rumor karena kehidupan mereka yang keras. Tapi kehidupan istana dan rumah kerajaan berbeda. Rumornya berani mempermalukan Yang Mulia raja. Menjadi goyah karena hal itu, aku pikir bukan respon yang layak. Di saat seperti ini, rumah kerajaan harus maju ke depan dan memberi contoh yang benar. Sebagai kepala dari istana dalam, aku akan melakukan tindakan balasan. Aku ingin Anda mendukungnya."

Ha Sun sangat puas dengan jawaban So Woon.

"Itu benar. Aku akan melakukannya. Tapi, aku yakin kamu akan melakukan hal lain sebagai prioritasmu," ujar ibu suri.

"Apa maksud Anda?"

"Apa kamu tidak tahu? Di saat krisis seperti ini, akan lebih baik yang Mulia Raja memiliki putra. Aku kamu tidak berpikir dia bekerja keras karena kamu gagal memenuhi tugasmu?"


Ha Sun angkat bicara membela So Woon. "Bagaimana bisa itu salah ratu?"

"Tolong jangan katakan jika kamu menyalahkan dirimu sendiri."

"Aku ingin mengatakan kalau anak di kirim dari langit. Jika kamu sangat khawatir, mungkin aku harus mengadopsi Tuan Jinpyung. Apakah itu yang kamu mau?" (HAHA)

"Sekali lagi kamu memutar kata-kataku."

"Apakah begitu? Jika dipikir-pikir, mengadopsi Tuan Jinpyung mungkin tidak bijaksana. Dia tidak mempesona dan memiliki ekspresi yang kaku. Dia tidak menyenangkan." Ha Sun lalu memasukkan camilan ke mulutnya. So Woon tersenyum melihat tingkahnya. Sedangkan Ibu Suri tampak speechless.

***

Ha Sun dan So Woon pulang dari kediaman Ibu Suri bersama.

"Apa kamu baik-baik saja? Aku dengar bahwa istana mengatakan banyak hal tentang poster itu."

Ha Sun berhenti berjalan lalu menatap So Woon. "Apa kamu khawatir?"

"Jika aku ada disana bersamamu, aku pasti akan meraih tanganmu dan pergi. Sama seperti yang kamu lakukan, saat sesuatu memanas seperti di pasar."


Ha Sun meraih tangan So Woon lalu menggenggamnya. "Seperti ini?"

So Woon malu sendiri melihat dayang-dayangnya di belakang.

"Yang Mulia."

"Ayo kita pergi."

Merekapun berjalan sambil bergandengan tangan. Jinpyung yang kebetulan lewat, tampak memperhatikan mereka.

***

"Siapapun itu, dia membuat rencana yang hebat. Aku ingin menemukannya sebelum raja dan menghadiahinya," ujar Ibu Suri saat Jinpyung mengunjunginya.

"Aku senang kamu suka dengan hasilnya."

"Apa itu perbuatanmu? Kenapa kamu tidak seperti ini lebih cepat? Jika kamu melakukannya, bagian diriku tidak akan hancur. Bukan berarti raja bisa dikalahkan dengan rumor seperti ini. Jadi kamu bisa menemukan solusi apapun. Satu-satunya cara adalah memberikan pewaris."

"Pewaris?"

"Jangan khawatir dengan apa yang akan terjadi."

"Kamu tidak akan pernah tahu. Dalam perjalananku kesini, aku melihat raja dan ratu jalan bersama."

"Aku bisa menjaminnya. Raja mengambil anakku dariku. Aku tidak akan membiarkan ratu bahagia dengannya."


So Woon sedang membaca di perpustakaan. Sedangkan Ha Sun hanya menopang dagu sambil terus memandangi So Woon. So Woon yang gemas pun segera mengingatkannya kalau harus pergi ke balai pertemuan.

"Iya."

"Kalau begitu kamu harus pergi."

"Tinggallah disini sebentar. Aku sedang melakukan sesuatu yang penting."

"Apa itu?"

"Aku menerima energi. Aku harus melihatmu dalam rangka untuk melakukan pekerjaanku dengan baik."

Gayungpun bersambut guys. "Kalau begitu suruh aku singgah kapanpun. Aku akan menemanimu dan memberimu kekuatan."

Ha Sun kembali menopang dagunya dan tersenyum memamerkan giginya.

***

Tuan Shin terang-terangan mendukung Jinpyung. Malam hari, dia mendatangi markas Jinpyung dan memberinya sepeti uang untuk mengumpulkan jenderal di perbatasan. Sementara dirinya akan mengumpulkan anggota istana.

"Wakil menteri perang dari Ming akan mengunjungi kita secepatnya. Hanya aku yang bisa melawannya. Jadi raja akan mengembalikanku ke istana."

***

Di ruangan raja, Ha Sun, Lee Kyu dan Kasim Jo sedang membahas pelukis istana yang meninggal. Sebenarnya Lee Kyu punya beberapa nama yang dia curigai, tapi dia belum punya bukti kuat. Kasim Jo menyarankan untuk memerintahkan Mo Young menyelidikinya. Lee Kyu pun memberitahukan pengunduran diri Mo Young. Ha Sun sontak terkejut. Sepertinya dia merasa bersalah.

***

Pria yang waktu itu di sandera Ha Sun mendatangi Tuan Shin. Dia minta 10 perak untuk harga informasinya. Dia lalu minta dinaikkan 12 perak begitu melihat Tuan Shin begitu mudahnya mengeluarkan uang. Tuan Shin mengiyakannya saja.

Pria itu memberitahu Tuan Shin kalau badut yang sedang ramai dibicarakan adalah anj**g seharga 2 nyang yang datang waktu itu. "Apa Anda lupa?"

Tuan Shin berusaha mengingat kejadian waktu itu. Dia memang sempat tertegun mendengar suara Ha Sun yang terasa familier.

"Bagaimana kamu yakin dia badut di poster itu?"

"Wajahnya sama. Bahkan kembar sekalipun tidak akan semirip itu."

Pria itu lalu memberitahu kalau badut itu tadinya ada di tempat hiburan Hwagye-dong. Tapi dia sudah lama pergi. "Gisaeng bernama Woon Shim mungkin tahu. Dia mengijinkan badut itu dan adiknya tampil di sana."

Tuan Shin nampak tidak asing dengan nama-nama yang disebut pria itu. Dia langsung terkejut saat pria itu memberitahu kalau Woon Shim adalah gisaeng kesayangan Lee Kyu.

"Informasi penting seperti ini, memang pantas diberikan hadiah." Tuan Shin memberi pria itu sekantong uang. Diapun menerimanya dengan senang hati. Tapi naas, pengawal Tuan Shin langsung menikamnya saat itu juga.

Tak perlu waktu lama, Tuan Shin langsung menyuruh pengawalnya untuk membawa Woon Shim. Hampir saja terjadi pertumpahan darah antara pengawal Tuan Shin dan penjaga tempat hiburan karena Woon Shim menolak pergi. Pada akhirnya Woon Shim pun mengalah. Dia bersedia menemui Tuan Shin.

Berita itu kepergian Woon Shim langsung sampai ke telinga Lee Kyu.

Tuan Shin bertanya tentang keberadaan Ha Sun pada Woon Shim. Woon Shim menjawab tidak tahu karena memang seperti itu adanya. Woon Shim bersiap untuk pergi. Tapi Tuan Shin malah menyuruh pengawalnya untuk menyeret dan menyiksanya sampai Woon Shim buka mulut. "Kamu boleh membu**hnya jika dia tidak mau bicara."


Kontan Woon Shim terkejut mendengarnya. Dia menolak saat hendak di seret pergi hingga pengawal menamparnya sampai sudut bibirnya berdarah. Beruntung Lee Kyu datang. Dia meminta Woon Shim kembali ke tempat hiburan bersama penjaga yang sudah menunggunya di luar.

Lee Kyu langsung marah-marah karena sikap pengecut Tuan Shin.

"Aku dengar badut yang ada di poster pernah tampil di tempat gisaeng favoritmu itu.  Apa kamu pernah melihatnya?"

"Tentu saja aku melihat badut. Mereka tampil menggunakan topeng. Seseorang pasti melihat poster itu dan membuat rumor tidak berdasar."

"Benarkah? Lalu bagaimana jika aku menemukan orang yang mirip dengan raja?"

"Apakah kamu mengaku kamu yang memasang posternya?"

"Melihat seberapa jengkelnya dirimu, aku pikir aku benar."

"Kamu sebaiknya berhati-hati. Kamu mungkin akan kehilangan anggota tubuhmu jika terus mengambil kesimpulan seperti itu."

Lee Kyu segera berlalu pergi. Dan ternyata Woon Shim menunggunya di luar. Dia ingin melihat Lee Kyu keluar dengan selamat.

"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Lee Kyu.

"Aku tidak apa-apa."

"Itu pasti sakit," ujar Lee Kyu saat melihat bibir Woon Shim yang terluka. "Maafkan aku sudah membuatmu melalui semua ini."

Woon Shim menggeleng. Lee Kyu lalu menyuruh dua pengawalnya mengantar Woon Shim pulang.


Mo Young datang setelah Woon Shim pergi. Ternyata dia yang mengirim pesan pada Lee Kyu tentang Woon Shim yang menemui Tuan Shim.

"Aku berniat pergi. Tapi setelah melihat poster, aku tidak bisa melakukannya." (Yey!)

"Kamu bahkan meminta pengunduran diri, jadi apa yang menghentikanmu?"

"Benar. Aku juga bertanya pada diriku sendiri."

"Apa kamu menyelidiki Shin Ci Soo?"

"Pada awalnya aku mencurigai Tuan Jinpyung. Tapi Shin Ci Soo terus menggangguku."

"Tebakanmu benar. Sepertinya dia mengetahui sesuatu."

Bersambung ke The Crowned Clown episode 9 part 3





Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 9 Part 1 )

The Crowned Clown
Episode 9 Part 1

Sumber konten dan gambar : TVN

Dear readers : Mianhe chingu baru bisa update sinopsis lagi. Hampir satu minggu kena radang tenggorokan yang lumayan parah. Badan menggigil kedinginan tapi keringat bercucuran (jiah). Tiap abis maghrib badan panas tinggi. Kepala sakit banget sampai pengen nangis rasanya. Haduh! Pokoknya nggak enak banget deh. Tiap hari nggak tenang karena kepikiran sinopsis yang menumpuk haha. Tapi apadaya badan lemah, lesu, nggak nafsu makan pula. Alhamdulillah setelah rutin minum obat sembuh juga seperti sediakala. Nggak nyangka radang tenggorokan sakitnya kemana-mana. Jaga kesehatan ya teman-teman. Karena sehat itu nikmatnya luaaarrrrrr biaasaaahhh!!

Baca The Crowned Clown episode sebelumnya

Balik lagi ke drama. Episode sebelumnya Ha Sun ngasih kode So Woon buat ketemuan di perpustakaan. Sedangkan Lee Kyu akhirnya memberanikan diri meracuni Lee Hun. Bagaimana kelanjutannya? Check this out!!


So Woon sudah ada di perpustakaan. Dia sedang memandangi hadiah yang tadinya ingin dia berikan pada Ha Sun. So Woon segera menyembunyikan hadiah itu begitu Ha Sun datang.

Ha Sun senang So Woon paham sama kodenya. "Apa kamu sudah menunggu lama? Aku ingin datang lebih cepat, tapi diskusi istana ditunda."

"Tidak apa-apa. Aku merasa terhormat menunggumu."

Ha Sun berjalan disekitar meja. So Woon mengekorinya. Ha Sun kemudian berbalik menghadap So Woon.

"Kalau begitu, berikan padaku sekarang juga."

"Apa? Aku tidak tahu maksudmu," ujar So Woon bingung.

"Hadiah yang kamu siapkan dengan hatimu."

So Woon kaget. "Bagaimana kamu tahu?" So Woon tersenyum lalu memberikan bungkusan kain biru pada Ha Sun. Ha Sun membukanya dan menemukan semacam dompet yang ada sulaman tangannya.

"Kamu membuatnya sendiri?"

So Woon tersenyum mengangguk. "Ini tempat kuas. Karena kamu kaligrafer yang hebat, aku pikir kamu butuh tempat untuk menyimpan kuasmu. Atau kamu bisa menggunakannya sebagai tempat kompas."

Ha Sun membalik dompetnya. Terlihat ada sulaman beberapa karakter china di baliknya.

So Woon membacakan artinya. "Terpisah seribu tahun darimu. Tidak akan mengubah cintaku padamu. Aku memilih dengan baik kutipan yang aku sulam yang mencerminkan hatiku."

Ha Sun maju selangkah. "Aku ingin memberitahu sesuatu. Aku memiliki 20 tobik herbal. Seolah-olah aku melihat bintang dan rembulan. Aku melihat istana ratu dalam waktu yang lama. Aku ingin berlari ke perpustakaan beberapa kali sehari."

So Woon kaget menyadari itu adalah kalimat yang dia katakan saat Ha Sun tertidur di perpustakaan tempo hari. Dan So Woon menci*m bibir Ha Sun saat itu. So Woon menutup mulutnya dengan telapak tangannya saking terkejutnya menyadari Ha Sun tidak benar-benar tidur waktu itu.


Ha Sun melanjutkan. "Aku tidak akan menghindarinya lagi. Aku juga tidak akan melarikan diri lagi. Aku hanya melihatmu dan memikirkanmu, ratu. Aku jatuh cinta padamu. Hatiku seperti ingin meledak. Tapi aku tidak peduli. Sebesar itulah cintaku padamu." (Cieeee. Jadi udah resmi ni sekarang?)

Mereka saling memandang penuh cinta.

***

Hari sudah malam. Ha Sun dan So Woon keluar dari perpustakaan bersama-sama. Tidak sengaja tangan mereka bersentuhan yang kontan membuat keduanya canggung. Ha Sun memberanikan diri menggenggam tangan So Woon.

"Tanganmu dingin sekali? Aku akan menghangatkannya." Ha Sun meletakkan tangan satunya di atas tangan So Woon.


"Ini sudah hangat," ujar So Woon sambil tersenyum. Mereka menautkan jari jemari mereka lalu lanjut berjalan. Ha Sun curhat kalau kompasnya rusak. Dia mengambil kompas dari balik lengan bajunya. "Aku akan selalu berakhir di kediamanmu." (Bisa juga gombalnya wkwk)

Entah sudah keberapa kalinya hari ini, Ha Sun dan So Woon saling melempar senyum.

***

Ae Young membantu So Woon berganti baju tidur. So Woon terlihat senyum-senyum sendiri. Ae Young bisa menebak kalau itu karena yang mulia raja.

"Apakah kelihatan?" Tanya So Woon.

"Dulu aku sangat tegang dan cemas kapanpun kamu kembali setelah menemui Yang Mulia. Tapi sangat menakjubkan melihatmu tersenyum ceria sekarang."

"Benarkah?"

"Menurut para dayang istana, Yang Mulia seperti terlahir kembali."

Ae Young lalu tertawa malu.

"Apa yang sangat lucu?"

"Begini. Mereka bilang bau kotorannya juga berbeda."


So Woon kaget. "Aku tidak percaya kamu membicarakan hal seperti itu. Aku sebaiknya menghukummu."

Ae Young kontan berhenti tertawa. Tapi dia kembali tertawa saat melihat So Woon tersenyum lebar.

***
Tuan Shin duduk berdua dengan Yi Gyeom. Yi Gyeom mengeluh apa dia harus benar-benar pergi ke Daejung Hyun.

"Itu adalah pulau yang dipenuhi batu. Bagaimana kalau aku mati karena penyakit menular? Siapa yang akan melanjutkan garis keturunan?"

Tuan Shin sepertinya tidak mendengarkan anaknya. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri mengingat ucapan Tuan Kim.

"Dua orang yang memiliki wajah yang sama?"

"Ayah. Apa kamu tidak mendengarkanku?"

"Kamu menerima penunjukkanmu. Tidak ada cara untuk menghindarinya. Jangan naik kapal yang menuju ke pulau. Tunggu dengan tenang di Naju."

Yi Gyeom jelas senang. "Naju? Baiklah. Tapi bagaimana Ayah akan menjelaskannya pada raja? Apa ayah punya rencana?"

"Duniaku sudah berakhir. Jadi aku harus menemukan cara untuk keluar."

***

Jinpyung sedang latihan panahan di markasnya. Tiba-tiba Tuan Shin datang.

"Haruskah aku mengajarimu cara menembak sasaran? Kamu sebaiknya tidak berlatih panah pada hari berangin. Jika kamu berisikeras, kamu sebaiknya punya target yang besar. Sehingga kamu bisa menembus sampai ke tengah apapun yang terjadi."


Jinpyung malah mengarahkan panahnya ke arah Tuan Shin. "Seperti ini? Kamu adalah an**ng yang dibuang oleh raja. Berani sekali kamu menyalakiku?"

"Aku sangat tahu bahwa kamu dan ibusuri sangat membenciku. Tapi aku juga korban. An**ng pemburu yang hanya mengikuti perintah majikannya. Itu bukan keinginanku. Itu sebabnya aku ditendang seperti ini." Tuan Shin mengakhiri kalimatnya dengan tertawa.

Jinpyung mengeratkan tarikan busurnya. "Aku akan menganggap ini permintaan terakhirmu dan akan mendengarkan apa yang ingin kamu katakan. Kenapa kamu datang kesini menemuiku?"

"Aku kesini untuk membuatmu menjadi raja, Tuan Jinpyung."

"Kenapa aku?"

"Musuh dari musuhku adalah temanku. Aku mendedikasikan diri pada raja tapi aku berakhir seperti ini. Jadi aku berpikir dengan baik tentang siapa lagi yang membenci raja sepertiku. Dan kamu satu-satunya orang yang aku pikirkan."

"Ayah dan kakakku mat* di tanganmu. Bagaimana bisa aku percaya padamu?"

"Pembenaran atas penghianatan tingkat tinggi. Apa itu cukup?"

"Apa kamu akan membuat target untukku?"

"Benar."

Jinpyung menurunkan busur panahnya lalu mengarahkannya lagi ke papan target. "Kamu sebaiknya membuat target yang besar."

Jinpyung melepas anak panahnya dan tepat sasaran. Tuan Shin memujinya sebagai tembakan yang bagus.


Mo Young meletakkan surat pengunduran diri dan tanda namanya di atas meja Lee Kyu. Dia lalu memberikan hormatnya di depan kediaman raja kemudian pergi.

Lee Kyu sendiri sedang bersama Jung Seong (aku baru tahu dia ini adiknya Jang Nara loh) melakukan upacara kecil di kuil atas kematian Lee Hun. Lee Kyu memberikan penghormatan terakhirnya di depan papan nama Lee Hun yang dia letakkan di atas altar.

"Aku tidak menyangka kamu akan bertindak sejauh ini. Apakah kamu bisa mengatasinya?"

Lee Kyu teringat perkataan Ha Sun dulu saat ayah So Woon akan dijatuhi hukuman mat*.

"Dalam beberapa kasus, puluhan atau ribuan orang harus berkorban untuk menyelamatkan satu orang."

"Lalu bagaimana aku bisa membantumu?"

"Tidak ada cara untuk membantuku sekarang. Ini adalah dosaku. Dan aku akan bertanggungjawab untuk hal itu. Aku akan kembali pada hari ke 49. Harap jaga dirimu."


Seseorang menyerahkan sebuah gulungan pada Tuan Shin secara diam-diam. Tuan Shin membuka gulungan itu yang ternyata lukisan raja. Dia tampak tersenyum licik.

Esok hari saat masih gelap, beberapa orang berpakaian hitam menempelkan foto Ha Sun dengan keterangan 'badut ini adalah penipu yang berpura-pura menjadi raja'. Mereka menempelkannya di banyak tempat.

Siang harinya, orang-orang berkumpul di depan foto itu. Salah satunya adalah orang yang di sandera Ha Sun di kediaman tuan Shin karena berani membawa Dal Rae kepada Yi Gyeom. Kebetulan Lee Kyu lewat dan kontan terkejut melihatnya. Dia langsung melepas poster itu lalu menggulungnya dan pergi.


Tak lama, pasar ramai dengan orang-orang yang berkerumun di depan poster. Gab Soo dan Dal Rae yang kebetulan lewat jadi penasaran. Mereka mendekat ingin tahu apa yang di lihat orang-orang. Karena tidak bisa membaca, Gab Soo menyuruh Dal Rae membacakannya untuknya. Dal Rae terkejut setelah membacanya.

"Kakakku pura-pura menjadi raja?" Ucap Dal Rae keceplosan. Gab Soo segera menutup mulutnya. Orang-orang langsung menuntut penjelasan. Gab Soo meyakinkan mereka kalau dia dan Dal Rae tidak mengenal si badut. Dia bergegas menyeret Dal Rae pergi dari sana. Mereka berpapasan dengan Mo Young yang sudah memakai baju biasa. Mo Young pun melihat poster di sana. Entah apa yang dipikirkannya.

***

Lee Kyu pergi ke kementrian kehakiman. Dia menunjukkan poster yang di bawanya kepada prajurit yang ada di sana.

"Poster mengerikan tersebar diseluruh ibukota. Perintahkan anak buahmu untuk menurunkannya."

"Baik pak."

Lee Kyu kemudian pergi ke tempat hiburan. Woon Shim langsung menghampirinya dan bertanya apa yang terjadi. "Dimana Ha Sun?"

"Woon Shim. Katakan yang sejujurnya padaku. Dimana adik Ha Sun?"

"Aku membawanya ke kuil. Dia menghilang beberapa saat yang lalu dan kami kehilangan jejaknya."

Lee Kyu terkejut. Dia bergegas pergi dari sana.


Semua menteri berkumpul di balai pertemuan. Salah seorang menteri menunjukkan gulungan kertas.  Kasim Jo mengambilnya lalu menyerahkannya pada Ha Sun. Ha Sun sontak terkejut sekaligus gugup karena itu ternyata poster dirinya. Jinpyung terus memperhatikannya. Salah seorang menteri di bagian kiri menyarankan untuk menangkap seluruh badut untuk menghentikan keresahan rakyat.
"Kenapa aku harus mengumpulkan semua badut untuk melakukannya? Apa kamu mendengarnya sendiri? Bukan berarti badut itu melakukan kesalahan."

Para menteri oposisi (aku sebut oposisi karena menteri yang disebelah kiri ini kerjaannya selalu aja nentang raja) terus berargumen agar para badut dikumpulkan dengan alasan ini dan itu. Ha Sun bingung harus bagaimana. Beruntung Lee Kyu masuk pada saat itu. Dia minta ijin untuk bicara. Tentu Ha Sun mengijinkannya.

"Fakta bahwa satu poster menyebabkan keributan seperti itu, hanya akan membuktikan kurangnya kepercayaan yang dimiliki orang-orang di istana. Dengan ini saja para menteri dan pejabat istana harus meminta pengampunan raja dan juga rakyat. Akan tetapi bukannya melihat kembali pada diri kita, kalian berharap untuk menyalahkan rakyat untuk masalah ini? Ini adalah pemandangan yang mengerikan!!"

Lee Kyu lalu menghadap pada raja. "Sebagai anggota dari istana, aku benar-benar malu dan meminta maaf padamu dan rakyat. Yang Mulia. Posternya mungkin dipasang oleh seorang penghianat. Anda harus mencari tahu siapa yang mencoba menggunakan rakyat untuk mengurangi kewenanganmu dan mencegah bencana ini."

"Kepala Sekretaris kerajaan Lee benar. Poster ini tidak seharusnya membuat rakyat khawatir. Cari tahu siapa dibalik semua ini secepatnya!"

Semua menteri serempak menjawab, "Ya Yang Mulia."


Saat bertiga saja dengan Lee Kyu dan Kasim Jo, Ha Sun langsung mengeluarkan kecemasannya. "Poster ini apa dibuat oleh orang yang mengetahui tentang aku?"

"Jika mereka tahu, mereka tidak akan berhenti hanya dengan memasang poster saja," ucap Lee Kyu menenangkan.

Tiba-tiba Ha Sun teringat pada Dal Rae. "Jika dia melihat poster ini, dia pasti akan khawatir jika sesuatu terjadi padaku. Tolong beritahu Woon Shim untuk menjaganya."

"Baik." Lee Kyu lalu meminta kasim Jo untuk mengawasi para dayang istana terutama dayang istana Kim.

"Untuk saat ini, cukup hadiri diskusi istana. Jangan coba hadiri pertemuan istana. Kamu harus hati-hati."

Tiba-tiba penjaga di luar mengumumkan kedatangan Tuan Shin.

Bersambung ke The Crowned Clown episode 9 part 2




Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 8 Part 3 )

The Crowned Clown
Episode 8 Part 3

Sumber konten dan gambar : TVN

Baca The Crowned Clown episode sebelumnya


Jinpyung datang ke depan kediaman raja. Tapi bukan raja yang ingin dia temui, melainkan Lee Kyu.

"Semakin keras aku memikirkannya, aku tidak tahu apa yang raja pikirkan. Aku pikir Tuan Shin memanipulasi raja untuk mengurung ibu suri. Aku pikir kamu akan tahu apa yang raja pikirkan."

"Aku tidak tahu. Bagaimana bisa aku tahu apa rencana raja? Jika kamu khawatir pada ibu suri, kamu tidak perlu cemas. Besok adalah ulangtahun raja. Dia memerintahkan untuk membatalkan penahanan.

Lee Kyu undur diri. Jinpyung menatap kepergiannya dengan ekspresi tidak suka.

***

Jinpyung langsung mengunjungi ibu suri begitu penahanannya dibatalkan. Ibu Suri merasa heran kenapa raja membatalkan penahanannya semudah ini padahal kemarin raja buru-buru mengurungnya.

"Aku yakin itu untuk meremehkan kekuasaanmu."

"Jika raja mau aku gemetar ketakutan. Maka aku akan pura-pura melakukannya."

"Apa rencanamu?"

Ibu suri hanya tersenyum licik.


Kim Ji Bong sedang protes di depan kediaman Tuan Shin. Dia menuntut akta tanahnya dikembalikan karena dia gagal diangkat jadi kepala daerah. Tapi Tuan Shin tak kunjung keluar.

Yi Gyeom menyuruh pelayannya untuk menyeret Kim Ji Bong pergi. Tapi karena dia terus meronta, akhirnya dia dipukuli. Kim Ji Bong tidak kehilangan akal. Dia bilang ada yang ingin dia bicarakan soal raja. Akhirnya Tuan Shin keluar dan menyuruhnya masuk.

Kim Ji Bong pun bercerita soal seorang badut yang sangat mirip dengan raja. Tuan Shin tertawa mendengarnya. Dia meminta Kim Ji Bong diseret keluar.

"Aku tidak berbohong. Aku berani bersumpah. Jika itu tidak benar aku akan membu**h diriku sendiri."

Tak pelak Tuan Shin memikirkannya juga. Dia teringat saat dulu Ha Sun tampak ragu memberikan hukuman pada ayah So Woon. Lalu saat Lee Hun memintanya kembali ke istana. Dan terakhir saat Ha Sun menurunkan jabatannya. Sepertinya Tuan Shin mulai curiga.


Malam hari, Lee Kyu, Woon Shim, dan Ho Geol menemui grup Daedong. Dia menyerahkan 'naskah daedong'. Buku yang pernah di tulis oleh Tuan Gil Sam Bong.

"Aku pikir buku ini sudah dibakar saat Tuan Gil meninggal," ujar salah seorang dari grup daedong.

Woon Shim menjelaskan kalau Lee Kyu mempertaruhkan nyawanya untuk mendapatkan buku itu. Lee Kyu juga mengurus Tuan Gil saat meninggal.

Ho Geol ikut bicara. "Aku pikir dia penghianat dan musuh kita. Tapi tidak lagi. Aku pikir, aturan pembayaran beras akan jadi batu pijakan ke dunia yang kita inginkan."

Akhirnya grup daedong bisa menerima Lee Kyu kembali.


Ibu Suri berdoa di kuil tanpa mengenakan pakaian kebesarannya. Saat dia keluar, terlihat para pengikutnya berbaris mengenakan pakaian serba putih. Mereka mendoakan ibu suri baik-baik saja dan mengecam raja yang tidak menghormati orangtua.

"Orangtua bertanggungjawab atas tindakan anaknya. Aku harus disalahkan karena sikap tiraninya. Tapi untuk keluarga kerajaan dan kedamaian bangsa ini, aku tidak akan menutup mata atas masalah yang dia sebabkan. Siapa yang akan ikut bersamaku?" Ibu Suri berbicara dengan menggebu-gebu.

Jinpyung yang angkat bicara pertamakali. "Abdi sedia memiliki tugas mengusir dan menghukum pemimpin pemberontak. Bukan begitu?"

Yang lainnya ikut menyahut kalau mereka memberikan kesetiaan mereka pada ibu suri.


Dayang Kim membantu Ha Sun berpakaian. Dia mengucapkan selamat ulangtahun.

"Terimakasih."

Dayang Kim tertegun saat melihat telinga Ha Sun yang mulus tanpa bekas luka. Dia tidak sempat menanyakannya karena Ha Sun keburu menyuruhnya pergi.

Diluar, Dayang Kim tampak keheranan. Itu bukan luka kecil, jadi bagaimana bisa hilang dalam semalam?


Lee Hun membuka matanya. Mo Young langsung menghampirinya. Mereka berada di sebuah gua.

"Dimana ini? Kenapa kau membawaku kesini?"

"Anda tiba-tiba pingsan lagi. Kami membawamu kesini untuk menutupi penyakitmu."

"Dimana kepala badut itu?"

"Aku tidak bisa menyelesaikan perintahmu. Aku pantas mati. Jadi hukum aku sesukamu."

"Jika kamu pantas mati, maka kamu harus mati."

Mo Young menatap Lee Hun. Sepertinya dia agak kaget raja yang dia layani dengan setia malah ingin dia mati. Berbeda dengan Ha Sun yang dulu memintanya tetap hidup.

"Apa yang kamu lihat? Haruskah aku membunuhmu?"

Lee Hun mengambil pedang Mo Young. Dia benar-benar meletakkan pedangnya ke leher Mo Young.

"Kamu gagal menyelesaikan perintahku. Kamu harus membayarnya dengan nyawamu. Anggaplah kamu mat* di tangan rajamu sendiri adalah sebuah berkah."

Lee Hun mengangkat pedangnya dengan tangan gemetaran karena kondisinya yang memang masih lemah. Dia berniat melayangkan pedangnya pada Mo Young. Saat itulah Lee Kyu datang memanggilnya dengan suara lirih. Ada gurat kecewa atau mungkin iba di wajahnya melihat apa yang dilakukan rajanya.

"Haksan! Kamu pria beruntung. Aku akan memeng**lnya. Jadi lihat dengan baik."

"Yang Mulia."

"Apa kamu mau melakukannya?"

Lee Kyu mendekat. Dia menggenggam kedua tangan Le Hun.

"Hari ini adalah hari ulangtahunmu. Jangan mengisi hari yang menyenangkan dengan darah," ujar Lee Kyu dengan sabar.

"Ulangtahunku? Benar. Hari ini ulangtahunku. Aku tidak boleh melakukannya. Penjarakan petugas Jang dan bawakan makanan ulangtahunku. Kita harus makan bersama."

Lee Hun lalu berjalan masuk lebih dalam ke dalam gua. Lee Kyu dan Mo Young meneteskan airmata melihat kondisinya. Lee Kyu meminta Mo Young kembali ke istana lebih dulu. Dia akan membawa Lee Hun kembali bersamanya.


So Woon menyajikan sup rumput laut dan makanan lain buatannya sendiri untuk Ha Sun.

"Aku tahu kamu membatalkan acaranya. Tapi jangan menolak ini juga."

Ha Sun kaget. "Kamu membuatnya sendiri?"

"Aku dibantu dayang dapur istana. Tapi, kamu makan sup rumput laut setiap ulangtahunmu, jadi aku membuatnya sendiri."

Ha Sun mencoba sup rumput lautnya lalu memujinya enak. So Woon mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya. Namun memasukkannya lagi setelah mendengar kasim Jo mengumumkan kedatangan selir kerajaan.

So Woon meminta Ha Sun mengijinkan mereka masuk. Terpaksa Ha Sun menurut, meski sebenarnya dia hanya ingin berdua saja dengan ratunya.

Empat selir istana masuk termasuk Hwa Dang. Hwa Dang meminta Ha Sun membuka hadiah darinya yang ternyata berisi hiasan kura-kura buatan tangan dari emas.  Sepertinya So Woon minder. Dia menyembunyikan lagi sesuatu di balik bajunya.


Ha Sun tampak terkejut melihat hadiahnya. "Kura-kura ini mengingatkanku pada lagu itu. 'Kura kura, kura kura, tunjukkan kepalamu. Jika tidak aku akan memanggangmu untuk makan malam."

Selir yang waktu itu menghadiahi sulaman burung merak, tampak menahan tawanya.

"Setidaknya kura-kura bisa dimakan. Aku takut ini tidak akan ada gunanya."

Hwa Dang jelas kecewa.

"Ah. Aku bisa menjualnya untuk memenuhi cadangan beras."

Lagi-lagi selir waktu itu menahan tawa. Lalu dia bertanya apa hadiah ratu. So Woon jadi gugup. Dengan terbata-bata dia bilang belum menyiapkan hadiah.

Ha Sun langsung menenangkannya. "Tidak usah. Tidak apa-apa. Aku dengar rakyat jelata lebih suka tidak bertukar hadiah. Kita harus melakukan hal yang sama."

Ha Sun memandang So Woon sejenak lalu bicara kalau dia berencana ke perpustakaan hari ini.

"Hari ini ulangtahunku. Jadi aku harus menghabiskan waktu dengan teman sejatiku (So Woon), yaitu buku." (MODUS!)

Ha Sun menegaskan tidak boleh ada yang mengganggu. Dia akan berada di perpustakaan sampai jam 4 sore seperti biasa.

Ha Sun kembali mengulanginya sambil menatap So Woon seolah memberi kode.

"Jam 4 sore. Di perpustakaan untuk membaca."


Sup rumput laut juga disajikan untuk Lee Hun.

"Hari ini, hari dimana beberapa orang dilahirkan. Tapi juga hari dimana beberapa orang meninggal. Seperti ibuku, yang meninggal setelah melahirkanku. Aku dengar dia tidak pernah makan sup yang dimakan wanita setelah melahirkan. Ayahku menyalahkanku atas kematiannya (ooh). Jadi dia tidak pernah memberiku pengasuh. Aku diberi tahu. Bukannya susu, tapi aku diberi sup ini. Aku ingin memanggilnya 'ayah'. Almarhum raja, tidak pernah mengijinkanku memanggilnya seperti itu." (Kasian juga ya. Mungkin itu yang bikin Lee Hun jadi paranoid soalnya ayahnya aja nggak menginginkannya)

Lee Hun teringat pada So Woon.

"Apa yang terjadi pada ratu? Apa kamu sudah menyuruhnya meminum racun?"

"Yang Mulia. Supnya akan dingin. Kamu harus makan dulu."

Lee Hun mengambil sendok namun sendoknya terjatuh karena tangannya yang terus gemetaran. Lee Kyu membantunya meletakkan sendoknya kembali.

"Saat aku kembali. Aku akan membun** semua orang yang tidak mematuhiku. Hanya darah yang bisa membuat mereka sadar pada akhirnya."

Lee Kyu berkaca-kaca. "Yang Mulia. Sebelum Anda kembali, kenapa tidak pergi ke pantai yang sering Anda datangi saat masih menjadi pangeran? Aku akan menawarkan minuman disana untuk merayakan ulangtahunmu."

"Baiklah. Kita sudah lama tidak kesana."

Lee Hun lalu memakan supnya dengan tangan gemetaran sampai-sampai mejanya ikut bergetar.

***

Lee Hun dan Lee Kyu pergi ke pantai. Mereka memandang laut yang luas membentang dengan suara deburan ombak.

"Aku selalu ingin tahu apa yang ada di seberang lautan. Saat aku menjadi putra mahkota, kamu membawa kembali buku-buku saat jadi utusan Ming. Itu penuh cerita-cerita lucu dari seberang lautan. Suatu hari aku akan mengunjungi negara hebat yang ada di seberang lautan dan mengimport senjata baru. Negaraku akan lebih kuat dari Jepang, barbar, bahkan Ming. Tunggu saja dan lihat."

Lee Kyu diam tidak menanggapi.

"Kenapa kamu diam tidak bicara apapun?"

"Kamu sudah tahu jika negara kuat yang kamu impikan adalah hal yang aku inginkan."

"Benar. Dunia baru. Aku akan menciptakannya. Berikan waktu padaku. Kamu bilang akan memberiku minuman. Dimana itu?" (Omo! Jangan bilang Lee Hun mau dirac*n)

Lee Kyu membuka sebuah botol minuman lalu menuangkannya ke gelas yang dia berikan pada Lee Hun. Lee Hun menatap Lee Kyu kagum.



"Alangkah bagusnya kalau kau adalah ayahku."

Lee Hun menenggak minumannya. "Mari kita kembali ke istana."

Baru berjalan selangkah, Lee Hun menjatuhkan gelasnya lalu memegang kepalanya. Lalu berusaha berjalan lagi. Namun dia terjatuh dan tiba-tiba muntah darah. Sontak Lee Hun menatap Lee Kyu tak percaya. Dia menangis. (Sedih :'()

"Badut itu belum mati. Aku takut ini akan terjadi. Itu sebabnya aku membuatmu berlutut untuk membuatmu tinggal. Kenapa kamu membelakangiku? Kenapa kamu menyerah padaku?"

"Aku tidak menyerah padamu. Aku memilih bangsa ini, rakyat, dan dunia baru diatasmu."

"Kamu pikir aku akan jatuh seperti ini? Kamu salah. Setelah aku kembali ke istana, badut itu, ratu, kamu, dan bahkan petugas Jang, aku akan membuat kalian berempat dipeng**l. Kalian akan dicab*k-cab*k dan badan kalian dibakar. Kalian akan merasakan sakit yang lebih buruk dari kematian. Dan kemudian mati dalam penyesalan karena berusaha mengkhianatiku."


Lee Hun muntah darah lagi. Lee Kyu merunduknya menasihatinya untuk sedikit bicara agar rasa sakitnya semakin berkurang.

Tiba-tiba Lee Hun teringat pada adiknya, Yul. "Apa bocah itu juga menderita seperti ini?"

Diperlihatkan kalau orang yang waktu itu menemani Lee Yul makan ternyata Lee Kyu.

"Melihat caramu membu**h Yul untukku, aku akhirnya yakin sudah menemukan orang yang benar-benar setia padaku. Bukankah kamu bilang akan mati untukku?"

"Saat aku bilang akan mati untukmu, itu tidak bohong."

"Lucu sekali. Kamu bilang ingin mati tapi kamu masih hidup. Aku ingin hidup tapi aku akhirnya mati."

Lee Hun merangkak meraih Lee Kyu.

"Ini tidak mungkin. Aku harus hidup. Aku ingin hidup."

"Negara berkuasa yang kamu impikan. Hanya ini satu-satunya cara untuk membuat masa itu segera datang."

"Kamu pikir itu bisa tanpaku?"

"Jangan khawatir. Aku akan mempertaruhkan nyawaku. Dan membuatnya terjadi apapun yang terjadi."

Lee Hun terkulai ke tanah. "Aku takut. Aku sangat takut. Dikehidupan selanjutnya, siapa aku bukan masalah."

"Aku akan berada disisimu sampai nafas terakhirku."


Lee Kyu meneteskan airmatanya saat melihat Lee Hun sudah tak bergerak. Dia memberikan penghormatan terakhirnya pada sang raja.

Bersambung ke The Crowned Clown episode 9 part 1

Komentar :

Walaupun nggak suka sama sikap Lee Hun yang kasar dan kejam, tapi sedih juga lihat dia digituin. Apalagi setelah tahu masalalunya yang nggak pernah dianggap sama ayah kandungnya sendiri.  Kesepian banget nggak sih hidupnya. Nggak nyangka Lee Hun akhirnya diracuni sama Lee Kyu yang sebenernya kelihatan banget kalo dia tulus sama rajanya. Aku belum nonton versi movienya jadi nggak tahu ending movienya kaya apa. Tapi kalo di lihat dari ceritanya, mungkin nggak sih bakalan happy ending? Terutama love storynya. Aku rasa kalau So Woon tahu, mengingat kebaikan hatinya, menurutku dia bakalan sulit menerima Ha Sun yang sebenarnya karena dia pasti ikut ngerasa bersalah atas kematian Lee Hun. Kecuali kalau Lee Hun ternyata nggak meninggal, mungkin So Woon bakal mempertimbangkan Ha Sun. Karena menurutku So Woon emang jatuh cintanya sama Ha Sun yang baik hati. Entahlah....

Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 8 Part 2 )

The Crowned Clown
Episode 8 Part 2

Sumber konten dan gambar : TVN

Baca The Crowned Clown episode sebelumnya



Kasim Jo menyajikan bubur putih lengkap dengan lauk pauknya untuk Ha Sun. Ha Sun mengambil sendok lalu bertanya apa semua baik-baik saja selama dia tidak ada.

"Sebenarnya, raja dan ratu, sudah dijadwalkan menghabiskan malam-malam bersama. Akan tetapi dia melemah karena penyakitnya jadi dia berlari keluar. Mereka tidak jadi menghabiskan malam bersama, jadi ratu pasti sedikit marah karena hal itu."

Ha Sun terlihat murung setelah mendengarnya. Dia meletakkan sendoknya kembali.

***

Hal yang sama terjadi pada So Woon. Dia tampak murung di depan makanan yang disajikan Ae Young. So Woon teringat kata-kata Lee Hun yang menyuruhnya melupakan semua kebahagiaan yang belum dia berikan pada So Woon. Hati So Woon sakit dan hancur. Dia meremas dadanya. Ae Young tentu saja langsung khawatir.

"Yang Mulia, apa Anda baik-baik saja?"

"Aku merasa sesak. Aku butuh udara segar."

So Woon beranjak dari duduknya. Tapi, baru juga sampai di pelataran kediamannya, Ha Sun datang.

"Yang Mulia."

"Ratu, ikut aku."

So Woon mengikuti Ha Sun yang berjalan ke area belakang kediaman So Woon. Setelah yakin tidak ada yang akan melihat mereka, serta merta Ha Sun memeluk So Woon. So Woon tentu terkejut.

"Aku merindukanmu."

Ucapan Ha Sun akhirnya mampu membuat So Woon yang sedari tadi murung, jadi tersenyum kecil. Dia membalas pelukan Ha Sun.


Ha Sun melepas pelukannya dan menatap mata So Woon. "Sepanjang malam, pikiranku dipenuhi dengan dirimu. Kamu adalah alasan aku berhasil melaluinya."

Mata So Woon berkaca-kaca karena haru dan bahagia. Ha Sun menggenggam tangannya. Saat itulah So Woon melihat tangan Ha Sun yang tergores dan memar. Dia langsung menanyakannya pada Ha Sun.

Ha Sun tampak gugup. Dengan terbata-bata dia beralasan kalau dia berlatih dengan Mo Young sampai pagi. Padahal dia sudah bilang agar Mo Young melunak padanya.

"Kamu seperti orang yang berbeda dibandingkan tadi malam."

Ha Sun tambah gugup. Tapi kemudian So Woon melanjutkan kalimatnya.

"Itulah sebabnya aku senang."

So Woon tersenyum manis.

"Aku khawatir tidak akan bisa melihat senyummu lagi. Aku ketakutan setengah mati."

"Aku juga Yang Mulia. Tadi malam terasa seperti keabadian. Kamu datang menemuiku pagi ini, aku tidak akan melupakannya sampai aku mati."

"Aku akan sering berkunjung mulai sekarang. Aku akan melakukannya sampai kau muak dan bosan padaku."

So Woon tersenyum mendengarnya.

***


Akhirnya Woon Shim dan Ho Geol dibebaskan. Lee Kyu sudah menunggu mereka di luar. Woon Shim langsung berlari menghampirinya begitu melihatnya. (Kayaknya mereka ini ada perasaan deh)

"Kamu sudah banyak menderita."

"Tidak apa-apa. Aku sama sekali tidak menderita."

Ho Geol nimbrung.

"Tipuan apa yang kamu lakukan? Tadi malam sepertinya kami akan kehilangan kepala tanpa pengadilan yang adil."

"Aku tidak melakukan apapun. Kalian berdua ditangkap karena kesalahan sejak awal."

"Apa? Kesalahan? Aku sangat ketakutan tadi malam," ujar Ho Geol nelangsa.

***

Jin Pyung mendatangi kediaman ibu suri. Pengawal memberitahunya kalau raja melarang siapapun mengunjungi ibu suri. Jinpyung jelas marah. Dia mendatangi Tuan Shin yang sedang berkumpul bersama orang-orang yang akan diangkat menjadi pejabat (kepala daerah) hendak menuju balai pertemuan.

Jinpyung marah-marah menuduh Tuan Shin yang mengurung ibu suri.

"Raja pasti punya alasan khusus. Jadi kenapa kau menyalahkanku? Aku saja baru tahu," ujar Tuan Shin sinis. Dia pergi bersama rombongannya. Dan di antara mereka, terlihat si bangsawan yang waktu itu menyewa grup badut Ha Sun. (Cepet banget ya. Baru semalem nyogoknya, besoknya udah di istana aja)

***

Semua sudah berkumpul di balai pertemuan. Terjadi perbedaan pendapat antara dewan bagian kanan dan kiri. Anggota bagian kiri yang dipimpin Tuan Shin menginginkan adanya pengangkatan jabatan. Sedang anggota bagian kanan melarang karena jelas-jelas calon yang diajukan sudah terbukti melakukan korupsi.

Ha Sun galau.

"Aku mengerti yang kalian khawatirka. Kepala Sekretaris Kerajaan Lee!" panggil Ha Sun.

Lee Kyu langsung memanggil Yi Gyeom untuk maju. Yi Gyeom tersenyum senang. Ha Sun pun turun dari mimbar menghampirinya.

Senyum Yi Gyeom hilang karena ternyata dia bukan dijadikan kepala daerah Iksan melainkan kepala daerah di Daejung Hyun, Mojin. Kontan para pejabat langsung berkasak-kusuk.

"Daejung Hyun itu sebuah pulau. Apakah pangkatku diturunkan? Aku seharusnya dipromosikan," ujar Yi Gyeom tanpa tahu malu.

"Aku dengar akan ada pemandian air panas di sana."

"Pemandian air panas?"

"Ya. Semua orang tahu aku suka pemandian air panas. Aku ingin kau meninjau geologisnya dan menemukan tempat yang bagus untuk pemandian air panas. Huufffttt,,, Aku ingin sekali merasakan jenis air lain selain di Onyang (istana)."

Yi Gyeom melongo. Dia menerima surat pengangkatan yang di sodorkan Ha Sun dengan berat hati.

Berikutnya, lima nama dipanggil sekaligus. Salah satunya si bangsawan. Tapi pengangkatan mereka di batalkan karena korupsi yang dilakukan. Bahkan ada yang di dakwa selingkuh dengan istri orang lain (wkwkwk).

Ha Sun duduk kembali di singgasananya.

"Tahan mereka sampai mereka mendapatkan hukuman yang pantas!"

Para pengawal masuk menyeret mereka, kecuali si bangsawan yang dibiarkan begitu saja karena dia tidak ikut disebut melakukan korupsi. Tuan Shin terlihat marah melihat rencananya hancur. Dia maju dan memprotes raja karena raja yang datang sendiri meminta dia kembali dan mengurus semuanya.

"Aku mengatakannya karena mempercayai kesetiaanmu. Tapi kamu mengecewakanku."

"Apa maksudmu Yang Mulia?"

Lee Kyu angkat bicara.

"Kepala desa Jiksun, Kim Ji Bong (akhirnya tahu nama si bangsawan). Dia sendiri kepala desa. Tapi dia ditunjuk tanpa lulus semua ujian kualifikasi. Tuan Shin menunjuk pria yang tidak memenuhi syarat. Itu sudah cukup untuk memberinya tuduhan itu."

"Pertimbangkan hakmu untuk dibebaskan dari tuduhan itu. Aku tidak akan menghukummu. Tapi, kejahatanmu sangat serius, jadi aku perintahkan agar kamu diberhentikan dari jabatanmu."


Semua orang terkejut. Tuan Shin melirik Lee Kyu yang tersenyum.

"Yang Mulia. Apa ini benar-benar keinginanmu?"

Ha Sun mengiyakan dengan yakin. Dia berdiri. Tepat saat itu Kim Ji Bong mendongakkan kepalanya. Dia langsung teringat waktu dulu melihatnya sebagai badut. Dia keheranan sendiri.

***

Rapat bubar. Lee Kyu menghadang Tuan Shin di jalan.

"Kepala anggota dewan bagian kiri. Oh, sekarang aku bisa memanggilmu Tuan Shin"

"Aku layak jika status kebangsawananku diambil. Tapi raja berbaik hati mempertahankan gelarku. Katakan pada raja, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan hatinya." (Ngancem ini mah)

Tuan Shin pergi. Yi Gyeom yang kesal membanting dokumen pengangkatannya di depan Lee Kyu.

"Kau mempermalukan keluarga yang tidak bersalah. Aku berjanji akan membuatmu menyesalinya."

Lee Kyu memungut dokumen itu lalu mendekati Yi Gyeom hingga Yi Gyeom mundur selangkah.

"Kamu mencoba untuk membunuhku. Kamu bilang tidak bersalah?"

Yi Gyeom kaget. Dia tengok kanan kiri takut ada yang dengar.

"Aku tidak pernah mencoba membunuhmu. Apa kamu punya bukti?" bisik Yi Gyeom.

"Jika aku melaporkannya ke kementrian kehakiman, hanya butuh 2 hari untuk menemukan bukti dan saksi dan membuat mereka mengaku. Apa aku harus melakukannya?"

Yi Gyeom cuma diam kaya orang bl**n.

"Tolak saja posisi ini dan aku akan mengurangi tuduhanmu."

Yi Gyeom langsung menyambar dokumennya lari pergi dengan langkah cepat.

***

Lee Kyu menemui Ha Sun.

"Apa dendammu sudah terangkat sekarang?"

"Ini baru permulaan. Mengingat apa yang sudah dilalui adikku, itu tidak akan cukup walaupun aku melihat mereka menjadi budak dan membawa seember tinj* setiap hari."

Mereka terdiam sejenak.

"Aku merindukan adikku Tuan. Woon Shim tahu dimana adikku. Ijinkan aku menemuinya."

"Jadi Woon Shim yang menjaganya. Tapi aku tidak bisa menanyakan keberadaan adikmu tanpa memberitahunya apa yang kamu lakukan. Tunggu sedikit lagi sampai aku menemukan cara lain."

Meski kecewa, tapi Ha Sun mengiyakan.

"Besok adalah ulangtahun Yang Mulia. Seluruh pejabat pemerintah akan merayakan hal itu. Pelajari apa yang harus kamu ketahui dari kasim Jo supaya kamu tidak membuat kesalahan."


"Aigoo. Aku bahkan tidak tahu kapan ulangtahunku. Itu pasti terasa aneh merayakan pesta ulangtahun. Tidak bisakah kita membatalkannya?"

"Acara ulang tahun raja, adalah perayaan resmi istana yang dipersembahkan untuk raja. Mereka sudah menyiapkannya selama sebulan. Jadi tidak akan mudah membatalkannya."

"Bagaimana kalau aku menerima sambutan mereka selama pertemuan istana dan membatalkan acaranya? Ah!Kita bisa memberikan semua makanannya pada rakyat. Rakyat akan merasa kenyang selama ulang tahun raja. Bukankah kedengarannya hebat?"

Selama Ha Sun bicara, Lee Kyu memandangnya kagum seolah-olah Ha Sun adalah refleksi raja yang dia impikan selama ini. Raja yang memikirkan rakyatnya diatas kepentingannya sendiri.

"Baiklah. Aku akan mendiskusikannya dengan menteri adat dan mengaturnya."

***

Ho Geol sedang melakukan inspeksi di pasar. Terlihat 3 orang mengemasi dagangan mereka lalu seorang diantara mereka membawanya pergi.

"Hei mau kemana kau. Kembali!"

Kedua pedagang yang tersisa mencoba menyogok Ho Geol dengan permen tapi tidak mempan. Ho Geol mengancam akan menghitung sampai 10. Dia akan menaikkan pajak 2 kali lipat kalau barang yang dibawa pergi tidak dibawa kembali karena dia ingin tahu harganya. Mereka akhirnya berlari mengejar temannya.

Ho Geol duduk di lapak itu. Saat itulah Gab Soo dan Dal Rae datang. Gab Soo menunjukkan pisau Lee Hun meski Dal Rae melarangnya.

"Apa kamu tahu siapa yang membuatnya dan dimana?"

Ho Geol melihat-lihat pisau itu. "Kamu berani bayar berapa untuk mendapatkannya?"

Dal Rae sedikit melotot.

"Aku bercanda. Kamu memiliki tatapan mata yang akan sukses di kehidupan ini."


Ho Geol terkejut saat melihat lukisan naga di pisau itu.

"Naga? Hanya raja yang diijinkan menggunakan hiasan ini."

"Ya ampun. Raja?" Tanya Gab Soon.

"Hei. Darimana kamu mendapatkan barang berharga seperti ini?"

Gab Soo jadi gugup. "Begini.... Masalahnya adalah.... Jadi...."

Diam-diam Dal Rae merebut pisau itu lalu kabur. Gab Soo langsung mengejarnya. Ho Geol nampak keheranan. Dua pedagang yang tadi datang tergopoh-gopoh membawa barang dagangan yang disembunyikannya.

"Kau belum menghitung sampai 10 kan?"

"Aku sudah sampai 118."

Sontak pedagang itu menjatuhkan dagangannya.


Bersambung ke The Crowned Clown episode 8 part 3





Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 8 Part 1 )

The Crowned Clown
Episode 8 Part 1

Sumber konten dan gambar : TVN



Baca The Crowned Clown episode sebelumnya

Ha Sun mencengkeram lengan Mo Young. Meski terkejut, akhirnya Mo Young membantu Ha Sun naik. Dia menancapkan pedangnya di tanah sebagai penyangga. Dengan susah payah, akhirnya Ha Sun berhasil naik ke atas. Kompasnya tampak terlempar ke tanah.

Mo Young hendak mengambil pedangnya. Namun Ha Sun bergerak lebih cepat. Dia menaruh pedang itu ke leher Mo Young.

"Kenapa kau kembali? Apa untuk memastikan jika aku sudah mati?"

"Bun*h aku!"

Ha Sun malah melempar pedangnya ke dalam lubang. "Aku tidak bisa membun*hmu hanya untuk menyelamatkan diriku."

"Raja ingin aku membawa kepalamu."

Mo Young mencengkeram baju Ha Sun. Airmata menggenang di pelupuk matanya. "Pergilah! Pergi ke tempat yang jauh."

"Takdirku sudah ditentukan. Aku akan kembali ke istana."

"Kamu akan membuang kesempatanmu untuk melarikan diri."

"Yang paling aku sayangi berada di sana. Aku tidak bisa meninggalkannya."

Ha Sun memungut kompasnya lalu menggenggamnya erat.

***

Lee Kyu sedang berada di kantornya. Terngiang ancaman Lee Hun yang akan membun** orang-orang tersayangnya jika Lee Kyu berani membelakanginya lagi.

Lee Kyu membaca surat yang dibuat raja.

Sekarang aku tahu kejahatan ratu. Aku tidak punya pilihan selain menurunkan tahtanya. Setelah aku memberi perintah, aku akan menyuruhnya meminum racun. Jadi atur pelaksanaannya.



Lee Kyu jelas terkejut tidak menyangka Lee Hun akan membuat keputusan seekstrim ini.

***

Lee Hun hendak menci*m So Woon namun So Woon memalingkan wajahnya. Lee Hun menarik dagu So Woon dan mencoba menci*mnya lagi. Namun tba-tiba kepalanya terasa pusing. Dia menjatuhkan dirinya ke samping sambil mencengkeram kepalanya.

So Woon mendekatinya. "Yang Mulia."

Lee Hun mendorong So Woon lalu beranjak pergi dengan sempoyongan. Dia segera naik tandu. Lee Hun terlihat sangat kesakitan. Dayang Kim yang memang ikut mengiringinya tanpak heran melihatnya.

***


Begitu Lee Hun pergi, Ae Young langsung masuk menghampiri So Woon yang sedang termenung.

"Yang Mulia, apa semuanya baik-baik saja?"

"Aku tidak tahu ada masalah apa denganku. Kenapa tatapan Yang Mulia raja sangat dingin?"

***

Lee Hun masuk ke kediamannya dengan terhuyung-huyung. Dia bahkan sampai terjatuh di tengah ruangan. Sontak Kasim Jo panik dan Dayang Kim mencoba membantu tapi Lee Hun menyingkirkannya dan berteriak menyuruh mereka pergi. Beruntung Lee Kyu datang.

"Kalian boleh pergi. Aku akan mengurus Yang Mulia."

***

Lee Hun sudah tertidur di ranjangnya. Lee Kyu duduk di lantai menemaninya.

"Yang Mulia. Sejak aku memutuskan untuk mengabdikan hidupku padamu, waktu berlalu dengan cepat. Untuk mematuhi tugasku melayanimu, dan menepati janji setiaku padamu, aku telah mencoba yang terbaik. Aku ragu meskipun harus menyelesaikannya. Sementara itu, kesempatan terakhir yang diberikan padaku, menghilang sia-sia."


Airmata menetes dari mata Lee Kyu. "Sekarang, aku sudah siap masuk ke lubang api."

Lee Kyu berjalan mendekati lilin. Dia membuka surat dari raja lalu melipatnya kembali. Surat itu dia bakar. Tampak airmata terus mengalir di pipinya.

***

Kasim Jo terus menunggu di luar. Dia langsung menanyakan kondisi Lee Hun begitu Lee Kyu keluar.

"Dia tidak sadarkan diri."

Kasim Jo berniat memanggil tabib tapi Lee Kyu melarangnya. Jika sampai ada yang tahu Lee Hun kecanduan obat, suruh negeri akan berada dalam kekacauan.

"Dengan alasan penyakitnya, ibu suri mungkin akan mengambil alih istana. Dimana Mo Young?"

"Aku tidak tahu. Raja memberikan perintah rahasia di depan kediaman ratu."

Lee Kyu tampak berpikir. "Jangan biarkan siapapun masuk sebelum aku kembali."

***

Lee Kyu masuk ke kantor raja. Dia membuka kotak yang berisi stempel raja. Beberapa saat kemudian, tampak Lee Kyu sedang menulis sebuah surat.

Jangan biarkan siapapun mengunjungi ibu suri. Ini adalah perintah kerajaan.

Lee Kyu menyetempelnya dengan stempel raja. Dia lalu menulis surat kedua.

Pergilah ke pintu belakang istana yang digunakan dayang istana, sekitar jam 8 malam.

Lee Kyu memasukkan surat kedua ke dalam sebuah amplop lalu menyuruh bawahannya mengantarkannya pada Jung Saeng di tempat hiburan.

Lalu masuklah seorang pengawal yang diperintahkan Lee Kyu untuk melaksanakan isi surat pertama yaitu untuk mengisolasi istana ibusuri dan penjagaan ketat di sekitar pintu masuk.

"Lakukan diam-diam tanpa menyebabkan keributan!"

***

Ibu Suri sedang menulis sesuatu. Tiba-tiba salah seorang dayangnya masuk memberitahu bahwa pengawal menutup pintu masuk dan menghentikan pengunjung. "Yang Mulia raja memerintahkan mengisolasi tempat ini."

Jelas Ibu Suri syok mendengarnya. Dia sampai mematahkan kuasnya.

***


Ha Sun bersembunyi di balik tembok. Dia mengintip Mo Young yang hendak masuk istana namun dihalangi pengawal. Dia menunjukkan tanda pengenalnya baru mereka mengijinkannya masuk. Lalu pengawal suruhan Lee Kyu datang. Dia memberitahu tentang perintah isolasi.

Mo Young menemui Lee Kyu yang sedang berada di kediaman raja.

"Kapan raja pingsan?"

"Sekitar dua jam yang lalu," jawab Kasim Jo.

Lee Kyu lalu menjelaskan kenapa dia memerintahkan isolasi istana ibu suri tanpa ijin raja. Karena dia ingin merawat Lee Hun tanpa sepengetahuan ibu suri dan mengawal raja keluar istana.

Mo Young mengingatkan kalau dua hari lagi ulangtahun Lee Hun.

Kasim Jo serta merta menyarankan membawa raja palsu.

"Ha Sun sudah mati."

Kasim Jo tentu terkejut karena dia memang tidak tahu soal Ha Sun dibawa ke hutan. "Bagaimana bisa?"

Mo Young akhirnya mengaku kalau Ha Sun masih hidup.

***

Mo Young membawa Ha Sun masuk melalui pintu belakang istana. Dia langsung menghampiri kasim Jo yang sudah menunggunya. Kasim Jo menangis haru dan senang karena Ha Sun selamat. Dia bahkan menggenggam tangan Ha Sun dan menyebutnya yang mulia. Mo Young sampai menoleh mendengarnya.

Lalu seperti biasa Ha Sun masuk ke kamar raja melalui pintu rahasia. Di sana ada Lee Kyu.

"Apa dia mati?" tanya Ha Sun saat melihat Lee Hun yang tidak sadarkan diri.

"Tidak. Tapi aku tidak tahu kapan dia akan bangun."

Ha Sun bertanya dengan dingin. "Kenapa kau ingin menemuiku?"

"Kenapa kamu kembali padahal tahu kamu akan terbunuh?"

Wajah Ha Sun melembut. "Karena aku melihatnya. Saat raja menyuruhmu untuk membunuhku, aku lihat kamu ragu-ragu."

Lee Kyu teringat saat dia menyerang Ha Sun. Dia sengaja melukai lengan Ha Sun alih-alih langsung menebas lehernya.

Ha Sun melanjutkan sambil terisak,"Kamu tidak tahu rasanya dibuang oleh orang yang kamu percayai. Rasanya sangat kotor. Dulu aku sering kedinginan dan lapar. Tapi beberapa hari terakhir sangat mengerikan sampai rasanya aku ingin mati. Aku terbaring di dalam lubang yang gelap. Mendengarkan lolongan serigala yang menunggu untuk membunuhku. Aku meringkuk dan menggigil karena angin kencang, serta berpikir dan bersumpah pada diriku sendiri. Aku tidak mau mati seperti ini. Tidak adil jika aku mati seperti ini."

"Aku berharap jika langit membiarkanmu hidup, kamu mau melakukannya tapi kamu tidak bisa mempercayaiku. Aku akan menemanimu sampai mati. Jika kamu mau aku memohon, aku akan memohon ampunanmu. Jika kamu mau pergi, aku akan melepaskanmu. Katakan padaku, apa yang kamu inginkan?"

Ha Sun terdiam sejenak. Dia memandang Lee Hun.

"Aku ingin memiliki kekuasaan. Aku ingin mendapatkan kekuasaan untuk melindungi orang-orang yang aku sayangi dalam hidupku."

Ha Sun menatap Lee Kyu. "Aku ingin menjadi raja yang asli."


Lee Kyu tampak terkejut mendengarnya. "Tahta tidak memberimu kekuasaan supaya bisa digunakan sesuai kehendakmu. Kamu mengambil nyawa seseorang dan menumpahkan darah. Itu tempat duduk binatang buas yang mengabaikan kesetiaan dan tugas. Untuk melindungi bangsa ini dan duduk di atas tahta, tidak melakukan apapun selain hal itu, kamu harus menyerahkan semuanya bahkan hatimu sendiri. Seperti itulah kejamnya tahta. Apakah kamu masih mau melakukannya?"

"Ya," jawab Ha Sun dengan suara bergetar.

"Kalau begitu, ingatlah momen ini dalam hatimu, bahaya apapun yang akan menimpa kita, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan melindungimu."

***


Jung Saeng menghampiri Mo Young dan Lee Kyu yang sudah menunggunya di sebuah ruas jalan. Terlihat gerobak dengan sebuah peti di atasnya. Mo Young membuka peti itu yang ternyata berisi Lee Hun.

"Dia pingsan lagi. Aku akan mengunjungimu dalam beberapa hari. Awasi dia sampai hari itu," pinta Lee Kyu.

"Baik. Aku akan membawanya ke tempat yang lebih aman daripada di kuilku."

Mo Young ingin ikut karena tidak bisa membiarkan raja pergi sendiri.

"Jika itu membuatmu merasa nyaman, lakukan saja."

***

Kasim Jo mengobati luka di lengan Ha Sun lalu membalutnya. Lee Kyu datang. Kasim Jo undur diri.

Lee Kyu menceritakan tentang Tuan Shin dan penangguhan upeti pembayaran beras. Ha Sun jelas terkejut. Semua yang dia perjuangkan sebelumnya sia-sia karena ucapan raja tidak bisa ditarik kembali.

***

Tuan Shin dan kroni-kroninya sedang pesta makan di kediamannya. Salah satu dari mereka adalah bangsawan yang dulu guci penyimpanannya dihancurkan oleh Ha Sun. Dia menyogok Tuan Shin dengan sebuah teleskop. Tuan Shin tampak tidak tertarik. Namun saat dia membaca surat yang diletakkan dibawah teleskop yang entah apa isinya, seketika dia tersenyum dan menjanjikan posisi kepala desa padanya.


Bersambung ke The Crowned Clown episode 8 part 2


Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 7 Part 3 )

The Crowned Clown
Episode 7 Part 3

Sumber konten dan gambar : TVN

Baca The Crowned Clown episode sebelumnya

Mo Young membawa Ha Sun ke hutan yang gelap gulita. Mereka sampai di depan sebuah lubang besar yang dalam.

"Petugas Jang, maafkan aku. Aku tidak bermaksud membodohimu. Itu adalah perintah kerajaan. Jadi aku tidak bisa mengungkap siapa diriku."

"Tidak masalah. Lagipula aku juga menuruti perintah kerajaan."

Mo Young mencengkeram kerah baju Ha Sun lalu mendorongnya ke dalam hutan. Ha Sun seketika tidak sadarkan diri. Mo Young menatapnya dari atas tanpa belas kasihan. Atau dia hanya pura-pura bersikap kejam? Entahlah.

Mo Young pun pergi begitu saja. Dia kembali ke istana. Lee Kyu sudah menunggunya ternyata.

"Dimana Ha Sun?"

"Badut itu namanya Ha Sun?" tanya Mo Young dingin.

"Mo Young-a."

"Panggil aku petugas Jang."

"Aku mengerti bagaimana perasaanmu. Aku tidak bisa memberitahumu, karena Yang Mulia yang melarangnya. Ha Sun hanya bermain sebagai pengganti atas perintahnya. Satu-satunya hal yang dia lakukan, adalah mematuhi raja."

Mo Young tampak tidak percaya. "Benarkah? Aku ingin tahu bagaimana jika raja tahu apa yang kamu pikirkan."

Ha Sun melangkah pergi.

"Aku dengar dari Kasim Jo, Ha Sun menyelamatkan hidupmu."

Mo Young berhenti lalu berbalik dengan wajah nyolot.

"Katakan yang benar. Aku hampir kehilangan nyawaku karena dia."

Lee Kyu masih mencoba meluluhkan Mo Young. "Seperti itulah yang kamu pikirkan. Tapi kita berdua tahu orang seperti apa Ha Sun. Bagaimana dirinya saat tinggal di istana. Apa kamu benar-benar berpikir dia pantas mati?"

Mo Young diam saja.

"Dimana dia?"

"Kenapa kamu bertanya? Apa pikiran penghianat sudah masuk ke kepalamu? Sudah terlambat."

"Apa maksudmu? Jangan bilang dia sudah mati. Apa kamu yakin?"

"Ya. Aku yakin."

Mo Young meninggalkan Lee Kyu yang tertegun tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Mungkin dia merasa bersalah karena dialah yang membawa Ha Sun ke istana. Lee Kyu kembali mengingat bagaimana dulu Lee Hun dengan putus asa menyuruhnya mencari jalan keluar. Dia juga ingat saat-saat Ha Sun dengan segala kepolosan dan kebaikan hatinya, berusaha menjadi raja yang baik dan benar dan sangat mementingkan rakyat. Lee Kyu berkaca-kaca mengingat semua itu.

***


Ha Sun sadar. Ternyata dia tidak mati. Dia memungut kompas pemberian So Woon yang terjatuh. Dia lalu memandang ke atas dan melihat bulan yang temaram. Ha Sun menangis.

Sementara So Woon di kamarnya, mengambil biji kenari pemberian Ha Sun dari kotak penyimpanan. Dia menggenggamnya lalu tersenyum menatap keluar jendela.


Sedangkan Lee Hun, dia sedang ditemani Dayang Kim menghisap obatnya. Dia menengadahkan kepalanya ke atas. Entah apa yang sedang dia pikirkan.

***

Biksu Jung Saeng memberitahu Woon Shim kalau Dal Rae hilang. Dia sepakat bertemu Gab Soo di sana kalau Dal Rae sudah ketemu.

"Dia belum kesini. Berarti Dal Rae belum ditemukan," ujar Jung Saeng.

Ho Geol nyelonong masuk. Dia duduk di samping Jung Saeng dan langsung panik saat tahu Lee Kyu menyuruh mereka pergi kalau dia tidak kembali sebelum fajar. Ho Geol mengajak mereka pergi sekarang juga.

"Kenapa harus menunggu sampai fajar? Kita bisa menunggunya di tempat persembunyian."

Woon Shim meminta Jung Saeng dan Ho Geol pergi lebih dulu. Dia akan menyusul bersama Lee Kyu. Akhirnya tak seorangpun yang pergi.

***
Ha Sun berhasil melepas ikatan tali di tangannya. Dia berusaha naik tapi gagal dan terjatuh. Ha Sun mengingat saat Lee Kyu menusuk dadanya dan bilang sekarang dia adalah raja di negeri ini. Entah apa yang dipikirkannya, karena setelah itu, Ha Sun berusaha sekuat tenaga naik ke atas hingga akhirnya dia bisa meraih permukaan tanah di atas.

Namun tiba-tiba datang segerombolan serigala mengelilingi lubang hingga membuat Ha Sun kembali ke dasar. Dia bersembunyi di tepi lubang dengan ketakutan. Akhirnya serigala-serigala itu pergi.

***
Seorang pejabat yang melihat Lee Kyu di seret melaporkan apa yang dilihatnya pada Tuan Shin. Dia juga bilang kalau raja meminta dibawakan jurnal sekretaris kerajaan dan terus bertanya hal-hal yang harusnya dia sudah tahu. Yi Gyeom memberi saran agar ayahnya datang menemui raja. Tapi Tuan Shin punya pendapat lain. Lebih baik dia tidak menemui raja selama mungkin.

***


Fajar menyingsing. Ha Sun terlihat meringkuk kedinginan. Wajahnya sangat pucat. Dia menatap kompasnya dan teringat ucapan So Woon yang memintanya datang padanya jika tersesat.

"Yang Mulia, sepertinya aku tersesat lagi."

Ha Sun menyimpan kompasnya di balik lengan bajunya. Dia berusaha naik lagi tapi gagal. Dia terlihat sangat lemah.

***


So Woon sedang menyulam di temani Ae Young. Dayang pengganti Dayang Park datang membawa sesuatu dari Dayang Kim di atas nampan. Itu adalah jadwal malam ratu bersama raja. Mereka dijadwalkan bersama malam ini. Ae Young langsung girang sendiri. Sementara So Woon agak terkejut karena jadwalnya terlalu cepat dari jadwal seharusnya.

***

"Jadi siapa yang berusaha membunuhku dan meracuni camilanku?" tanya Lee Hun pada Lee Kyu.

"Seperti yang saya bilang tadi malam, saya pikir ini perbuatan ibu suri dan tuan Jinpyung. Tapi kita belum memiliki bukti."

"Hanya itu yang kubutuhkan."

Lee Hun pergi menemui Ibu Suri. Kebetulan di sana ada Jinpyung dan dua pejabat lainnya.

Ibu Suri mencoba berbasa-basi. Tapi Lee Hun menanggapinya dengan sinis dan mengancam akan memindahkan Ibu Suri ke villa kerajaan.

"Kamu sedang mengancam ibumu?"

"Di dunia mana kamu bisa menjadi ibuku? Ibu kandungku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu dan kita sudah membuat upacara peringatan yang tak terhitung jumlahnya."

"Yang Mulia! Kenapa kamu bertindak bodoh di depanku?"

Lee Hun kehilangan kendalinya. Dia melempar meja lalu menatap tajam ibu suri.

"Yang ingin kukatakan adalah, kesetiaan dan tidak berbakti sama sekali tidak berarti bagiku. Apa kamu mengerti?"

Lee Hun pun pergi.

***

Lee Kyu menunggu Lee Hun di depan ruangan raja. Dia segera menyampaikan pendapatnya begitu Lee Hun datang.

"Mengancam Ibu Suri tanpa bukti hanya akan memberikan nasib buruk."

"Baguslah, aku bisa menurunkannya dari tahta dan memenggal kepala Jinpyung."

Lee Hun bertanya soal Tuan Shin. Akhirnya dia datang ke rumah Tuan Shin karena dia selalu menolak panggilannya. Tuan Shin langsung berlutut di tanah begitu Lee Hun dan rombongannya datang.

Lee Hun meminta Tuan Shin kembali lagi ke istana. Tuan Shin yang tidak tahu malu langsung meminta ijinnya soal  pengangkatan gubernur dan hakim daerah serta penangguhan aturan pembayaran beras.


"Semua urusan di istana adalah keputusanmu." (Raja model apa dah ini orang)

Lee Kyu berkali-kali mengingatkan Lee Hun tapi dia malah dibentak dan diancam akan di hukum jika sekali lagi mencampuri urusan Lee Hun. Lee Hun menegaskan kalau dia ingin Tuan Shin berada di sisinya.

Mo Young yang menyaksikan semua itu, tampaknya berpikir ulang tentang pandangannya.

***

Lee Hun dan Lee Kyu kembali ke istana. Sekali lagi Lee Kyu meminta Lee Hun mempertimbangkan lagi keputusannya. Tapi Lee Hun tetap pada pendiriannya. Dia sebenarnya sadar apa yang sudah di putuskan sebelumnya (tentang hukuman hakim daerah yang korupsi dan aturan pembayaran beras) adalah hal yang benar dan tepat. Tapi dia hanya tidak suka karena itu semua ide Ha Sun.

Lee Kyu benar-benar kecewa. "Jika keinginanmu, aku tidak bisa menahannya lagi." Lee Kyu berlutut. Dia meminta ijin untuk mengundurkan diri.

"Aku tidak akan mengijinkannya."

Lee Kyu berdiri. Dia berjalan pergi.

"Lakukan sesukamu! Pada akhirnya kamu akan kembali."

***

Para prajurit menangkap Woon Shim dan Ho Geol dibawah pimpinan Mo Young. Mereka dituduh telah mengabaikan perintah raja.

Lee Kyu yang sudah bersiap pergi dari istana bergegas menemui mereka di penjara. Dia berjanji akan segera membebaskan mereka.

***

So Woon tersenyum menatap bayangannya di cermin. Dia sedang di dandani Ae Young dan dayang satunya.

***

Lee Hun menstempel sebuah surat, lalu memasukkannya ke dalam amplop. Lee Kyu datang. Dia kembali berlutut.

"Jangan pernah membelakangiku lagi. Jika kamu melakukannya, aku akan mengambil nyawa dari orang-orang yang kamu sayangi."

"Aku akan mengingat itu, Yang Mulia."

Lee Hun melempar surat tadi ke lantai. "Proses keputusanku!" Dia lalu pergi meninggalkan Lee Kyu yang meneteskan airmata.

***

Lee Hun di tandu menuju ke kamar So Woon. Begitu turun, dia memanggil Mo Young untuk mendekat. Dia memerintahkan Mo Young untuk memeriksa apa Ha Sun sudah mati. "Bawakan kepalanya padaku sebagai bukti."

Di dalam, lagi-lagi So Woon bercermin. Lalu Lee Hun masuk. Dia bergegas menyambutnya. Tampaknya Lee Hun terpesona dengan kecantikan So Woon.

Lee Hun hendak menuangkan teh. So Woon menawarkan diri untuk melakukannya. Lee Hun tampak kesal karena mungkin So Woon belum pernah melakukan itu sebelumnya.


So Woon menatap Lee Hun yang murung. "Apa terjadi sesuatu di balai pertemuan tadi pagi?"

"Biar aku tanya, ada apa denganmu?"

"Apa maksudmu?"

"Dimana ratuku yang dingin? Sebaliknya aku bersama wanita yang ingin memelukku. Apa tidak tahu apa aku harus senang atau sedih. Aku bingung."

So Woon juga bingung. Tapi dia menjawab sambil tersenyum. "Aku tahu jika aku belum cukup jadi istri yang baik selama ini. Tapi sekarang, aku akan mendukungmu sepenuh hatiku."

Lee Hun tertegun mendengarnya.

"Jika kamu bisa menerima hatiku, aku akan sangat bahagia."

"Dengan seluruh hatimu? Bahagia?" Ucap Lee Hun penuh penekananan. Amarah jelas terpancar dari matanya. So Woon jelas bingung dan kaget. Apalagi kemudian Lee Hun bangkit lalu mendorong So Woon ke matras (mau ngomong kasur tapi kesannya gimana gitu, hehe).

Lee Hun menatap tajam So Woon. "Aku belum memberikan apapun padamu. Kebahagian maupun kegembiraan yang belum aku berikan, kamu harus melupakan semuanya."

"Yang Mulia."

"Aku akan membuatnya jelas, wanita milik siapa kamu."

Lee Hun mulai melepas ikatan baju So Woon. Tapi So Woon menahan tangannya.

***

Mo Young pergi ke hutan. Dia terkejut saat tidak menemukan Ha Sun di dalam lubang. Mo Young berusaha memperjelas penglihatannya dengan mengarahnya obornya ke lubang. Namun tiba-tiba Ha Sun mencengkeram tangannya.

Bersambung ke The Crowned Clown episode 8 part 1
Read More