Sinopsis K-Drama : Item (Episode 1)

Item
Episode 1

Sumber konten dan gambar : MBC


Sebuah kereta bawah tanah jurusan Pyeonghwa melaju di dalam terowongan yang gelap. Tiba-tiba saja kereta itu berhenti. Terlihat tangan masinis memutar balik kemudinya dan kereta kembali melaju namun dengan arah berlawanan. Dan anehnya, saat diperlihatkan wajah sang masinis, tatapannya terlihat kosong.


Para penumpang sontak panik menyadari keanehan dari kereta yang mereka naiki. Mereka menjerit ketakutan. Seorang ahjussi berusaha berbicara dengan kondektur melalui interkom sambil marah-marah. Namun percuma karena tak ada yang menjawab. Dan mendadak, lampu kereta mati yang kontan membuat penumpang bertambah ketakutan dan panik.


Stasiun Jeongjin.

Kang Gon (Ju Ji Hoon), menerobos kerumunan orang yang sedang menunggu kereta. Dahi kirinya berdarah. Dia berteriak menyuruh mereka pergi karena disana berbahaya. Beberapa orang mengenalinya sebagai jaksa pembunuh karena melihatnya di berita.

Gon kesal karena tidak ada yang mengindahkannya. Dia melihat tombol berhenti otomatis lalu memencetnya. Tak sampai di situ. Dia nekad turun ke lintasan kereta api. Masinis yang ada di belakang kemudi langsung melaporkannya ke pihak keamanan.


Gon berjalan di rel itu. Dia berhenti setelah beberapa langkah. Tangannya mengambil sebuah foto dari balik bajunya. Foto seorang gadis yang tampak buram di bagian tengahnya. Gon meneteskan airmata melihat foto itu. Dia lalu memakai sebuah gelang manik-manik di tangan kanannya kemudian melihat ke atas sebuah gedung.


Di gedung itu, terlihat seorang wanita (Jin Se Yun) menjatuhkan dirinya dari rooftop.


Terdengar bunyi kereta datang. Kereta Pyeonghwa. Bukannya menghindar, Gon malah lari menyongsong kereta itu. Dia berhenti lalu mengarahkan tangannya yang memakai gelang. Dan ajaib, gelang itu mengeluarkan cahaya biru. Gon berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan kereta itu hingga keluar darah kental dari mulutnya. Dan bagai sihir, kereta itu berhenti meski dengan posisi gerbong pertama dan kedua menukik ke atas.


Gon membuka mata. Nafasnya terengah-engah. Sepertinya tadi hanya mimpi. Dia memandang tangan kanannya.

Di meja, tampak sebuah foto dimana Gon menggendong seorang anak perempuan.

Gon membuka jendela kamarnya yang langsung menghadap pelabuhan (kayaknya). Angin pagi berhembus membelai wajahnya. (Jiah)

***

Gon sedang memasak di dapur. Terdengar siaran berita di televisi namun Gon sepertinya sama sekali tidak mendengarkannya. Pewarta menyiarkan tentang perusahaan Hwawon yang sangat berkembang pesat. Berita berikutnya soal Nam Chul Soo, ketua yayasan pohon harapan yang dikabarkan hilang sudah satu minggu.


Masakan Gon selesai. Gon mematikan televisi lalu memanggil Da In, keponakannya. Da In sendiri masih mengenakan kimono di kamar mandi. Dia berdiri di depan cermin seolah-olah sedang bermain piano. Dia akhirnya keluar setelah Gon mengancam akan menghabiskan makanannya.

***

Da In mengginggit roti bakarnya. Gon mengepang rambut Da In dengan rapi.


"Ketika kau pergi ke sekolah hari ini, teman-temanmu akan mengatakan rambutmu terlihat cantik."

Da In menunjukkan buku notenya. Disana tertulis, "Kau tahu sudah 30 menit kan?"

Kontan Gon panik sendiri takut Da In terlambat. Da In sepertinya tidak bisa bicara.

***

Gon dan Da In sampai di depan sekolah. Sebelum Da In turun, Gon mengingatkannya untuk tos ala mereka terlebih dahulu. Setelah itu Da In pamit dan masuk ke sekolahnya. Gon menatap foto yang tertempel di bagian atas mobilnya (bagian penghalang cahaya matahari). Itu sepertinya foto Da In saat masih bayi bersama kedua orangtuanya.

***

Gon pergi ke kantor jaksa penuntut umum Cheonghae, tempatnya bekerja. Begitu duduk, dia langsung membuka dokumen kasus penyuapan konstruksi Cheonghae. Salah seorang staff pria paruh baya menghampirinya.

"Ya Tuhan. Pak, besok kau akan pergi ke Seoul. Kenapa kau masih membaca dakwaan?"

"Rasanya aneh. Ini hanya selembar kertas. Tapi bagi seseorang, hidupnya tergantung padanya."

"Kau harus memikirkan hidupmu juga. Menikahlah saat kau pergi ke Seoul."

"Aigoo. Jangan jadi orang asing saat aku mengirimimu undangan."

"Aigoo. Kirimi aku undangan dan aku akan terbang ke sana."

Si staff lalu pergi ke mejanya mengambil hadiah untuk Gon. (Mungkin Gon dapat promosi kerja di Seoul). Gon tertawa saat melihat hadiahnya ternyata celana dalam bolak-balik.

Atasan Gon (bapaknya Tae In Joon) masuk ke ruangan Gon sambil tertawa. Dia meledek Gon yang terlihat tidak senang pergi ke Seoul. Namun tawanya seketika hilang melihat dokumen penyuapan di atas meja Gon. Gon tidak menyadari perubahan wajah atasannya.

"Memikirkan aku akan meninggalkan tempat yang hebat ini, membuatku ingin menangis di sungai."

Si atasan berdehem memberi sinyal agar kedua staff keluar. Dia lalu menegur Gon yang masih ikut campur dakwaan penyuapan padahal akan kembali ke Seoul (oh jadi Gon aslinya dari Seoul).

"Aku dengar itu hanyalah toko kecil. Kau tidak akan mendapatkan banyak dengan menyelesaikan kasus ini. Kau harus tahu dengan baik karena kau pernah terlibat dengan Hwawon sebelumnya," ujar atasan Gon dengan logat daerahnya.

Gon mencoba meminta pengertian atasannya. "Pak, CEO toko kecil itu adalah keponakan perempuan anggota kongres Choenghae. Dan dia juga sepupu seorang pejabat publik yang mengelola pesanan dan mengawasi konstruksi Kantor Pendidikan."

"Karena mereka kerabat, aku dengar mereka baru saja bertemu secara teratur untuk makan dan bermain golf. Bahkan Kim Young Ran Act menyuap kerabatmu baik-baik saja. Mari kita selesaikan dengan baik. Jangan biarkan sesuatu menghalangimu dalam perjalanan. Okay!"

Atasan Gon berjalan pergi. Gon menghentikannya dengan bertanya apa atasannya mendapatkan sesuatu (suap)?


Sontak atasan Gon langsung marah-marah. "Beraninya kau mengatakan itu?"

"Maksudku apakah kau mendapatkan sesuatu untuk dimakan?" (HAHA)

Gon mengingatkan bahwa tidak baik memakan apapun yang atasannya mau. Kemudian Gon pamit pergi. Dia mengambil mantelnya terlebih dahulu. "Aku sedang dalam perjalanan untuk mengikat dengan longgar."

Atasan Gon menggerutu kesal. "Aigoo. Ancaman itu." (Meskipun bukan jaksa yang bersih, atasan Gon kayaknya bukan antagonis)


Jo Se Hwang (Kim Kang Wo) baru keluar dari penjara. Para wartawan sudah menunggunya di luar. Begitu Jo Se Hwang keluar, dia langsung diberondong berbagai pertanyaan.

"Kapan kau akan kembali ke bisnis?"

"Bagaimana kau akan mendapatkan kepercayaan publik lagi?"

Tanpa banyak kata, Se Hwang berlutut di depan para wartawan. Dia memasang wajah menyesal.

"Aku lebih suka meminta maaf dengan tulus kepada kalian semua yang telah mendukung Hwawon. Aku akan bertanggungjawab penuh dan mundur dari posisiku. Sekali lagi, aku sangat menyesal untuk apa yang telah aku lakukan."

Se Hwang pergi dengan dikawal para penjaga.

***

Beberapa polisi sedang mengadakan rapat terkait menghilangnya Nam Chul Soo. Ketua Tim terlihat stress karena sudah satu minggu tetapi belum juga ditemukan titik terang tentang keberadaan ketua yayasan pohon harapan itu. Ditambah laporan para anak buahnya yang sama sekali tidak membantu.


Polisi muda yang memakai kaca mata mencoba berpendapat. Dia menyarankan untuk mempertimbangkan gagasan petugas Shin (Jin Se Yun) dengan menganggap ini sebagai kasus pembunuhan, bukan sekedar penculikan atau kasus orang hilang.

Ketua tim jelas menolak karena mereka tidak punya bukti kalau ini kasus pembunuhan. Bagaimana kalau tiba-tiba Nam Chul Soo muncul entah darimana? Siapa yang mau bertanggungjawab?

Shin So Young yang sedari tadi berdiri di pojokan akhirnya angkat bicara. "Aku yang akan bertanggungjawab." Dia menyalakan layar proyektor.

"Sangat mungkin ini adalah pembunuhan."

So Young menunjukkan bukti cctv selama 3 bulan yang memperlihatkan kebiasaan Nam Chul Soo yang selalu mengunci pintu dua kali sebelum pergi. Keluarganyapun telah mengkonfirmasi hal itu. Namun pada hari menghilangnya Nam Chul Soo, dia sama sekali tidak mengunci pintu rumahnya. Terlebih lagi, sebelum keluar dia mendapat panggilan dari nomor yang tidak dikenal. So Young meyakini kalau Nam Chul Soo mendapat tekanan psikologis yang dalam sampai merusak kebiasaan lamanya.

Tiga menit setelah sampai di villa, Nam Chul Soo kembali mendapat panggilan dari nomor yang tidak di kenal selama 10 detik. Dan anehnya, setelah panggilan berakhir, semua kamera cctv dan sambungan listrik di villa itu dimatikan.

"Jadi apa yang kau pikir terjadi selama 10 detik itu?" Tanya ketua tim.

"Aku belum tahu secara detail. Tapi penelepon pasti tahu sesuatu yang membuat Ketua Nam sangat tertekan. Jika tidak, ayah apa yang akan lari dari rumah meninggalkan semua uangnya di dalam brangkas ketika putri satu-satunya akan menikah?"

***

Seorang wanita dengan dandanan menor berlari sambil berteriak minta tolong. Tampak luka lebam di pelipisnya dan darah mengalir dari sudut bibirnya. Orang-orang datang mengerumuninya saat dia terjatuh. Kebetulan Gon ada disana. Wanita itu menunjuk sebuah restoran.

Gon meminta seseorang menelepon 911. Dia sendiri pergi ke restoran itu sambil menelepon seorang detektif memberitahukan keberadaannya dan meminta sang detektif segera datang.


Keadaan restoran sangat berantakan. Seorang pria berambut plontos duduk di sofa dengan kaki di atas meja. Gon memperkenalkan diri sebagai jaksa penuntut umum. Pria itu malah mengusirnya.

"Apa kau memukulnya?"

Bukannya menjawab, pria itu malah tertawa seperti orang gil*. Jari telunjuknya dia letakkan di atas botol. Dan ajaib, botol itu seketika pecah berkeping-keping. Tentu saja Gon tidak percaya melihatnya. Dia lalu mematahkan gagang alat pel.

"Bukankah itu menarik? Apa kau ingin melihat lebih banyak?"

Pria itu memukul meja dan seketika meja itu hancur. "Apa kamu takut?"

Gon mengacungkan tongkat pelnya. "Kau tidak seharusnya bicara begitu santai padaku."

"Apa kau pikir kau bisa menghentikanku dengan tongkat itu?"

Pria itu berdiri. "Apa kau juga pikir aku ini hanya pecundang rata-rata? Aku ini spesial tahu!"


"Sepertinya kau sangat kesal. Mari kita tenang dulu."

Pria itu lagi-lagi tertawa.

Diluar, polisi datang bersamaan dengan kaca restoran yang pecah dan kursi yang terpental keluar. Para polisi segera masuk dan kaget melihat Gon yang tersungkur di lantai. Gon memberitahu ciri-ciri si pria dan minta dipanggilkan petugas cadangan.

"Dia melukai kakinya jadi dia tidak bisa pergi jauh."

Gon pergi mengejar si pria botak. Mereka sampai ke pelabuhan. Pria itu masuk ke sebuah gedung di ujung dermaga. Gon sampai ngos-ngosan sesampainya disana. Dia masih sempat-sempatnya meluapkan kekesalannya karena harus berlari 100 meter dalam waktu hanya 12 detik.

"Kau seorang jaksa bukan detektif. Berhentilah mengejarku."

Gon pamer kalau dia adalah petarung terbaik di sekolahnya meskipun dia tidak pernah belajar taekwondo, judo, maupun aikido.


Si pria tertawa seperti orang sinti**. Dia mengepalkan tangannya di atas sebuah drum. Pergelangan tangannya tampak memakai gelang manik-manik seperti yang dipakai Gon didalam mimpinya. Gelang itupun mengeluarkan cahaya biru. Kontan Gon terkejut mengingat mimpinya.

Pria botak dengan entengnya melempar drum ke arah Gon dengan kekuatan penuh. Gon sampai terlempar ke belakang saat mencoba menghindar. Berkali-kali si pria berusaha memukul Gon dengan pipa besi. Gon mendorong sebuah tangga besi hingga roboh menimpa si pria. Namun dengan kekuatannya, dia berhasil mendirikan kembali tangga itu.

Gon mengambil sebuah tongkat besi dan berusaha menyerang si pria namun gagal. Pria itu mencekik leher Gon hingga Gon terangkat. Meski di luar logika, tapi Gon sepertinya sadar kalau kekuatan pria itu berasal dari gelang biru di tangannya. Dia melepas gelang itu hingga terlempar ke lantai. Pria itu berhasil mengambilnya kembali. Gon berusaha merebutnya tapi pria itu tergelincir pipa besi hingga tubuhnya jatuh ke belakang ke laut lepas bersama gelangnya. Gon berusaha meraihnya tapi kepalanya kejatuhan besi hingga pingsan.

***

Ketua Choi (ketua tim) sedang duduk sambil memperhatikan So Young. Tiba-tiba detektif Jung masuk melaporkan kalau ada seorang informan mengaku melihat seseorang yang mirip Nam Chul Soo. Tanpa pikir panjang, Ketua Choi langsung mengajak semua anggota timnya pergi termasuk detektif Seo (berkacamata) yang sekarang ganteng tanpa kacamata.


Di suatu ruangan, empat orang pria sedang berkumpul menonton berita dan minum-minum sambil bersenda gurau. Tapi begitu Se Hwang masuk, mereka langsung terdiam dan berbaris rapi dengan kepala menunduk hormat. Se Hwang mempersilakan mereka duduk.

"Bersenang-senang?"

Suasana langsung tegang.

Se Hwang tertawa lirih. "Kau orangtua yang tidak tahu apa-apa bukan?"

Pria berambut putih bertanya apa mereka membuat Se Hwang kesulitan?

"Aku hanya bercanda. Kau telah membawa keadilan ke korea hari ini. Minumlah."

Se Hwang menuangkan minuman masing-masing satu gelas penuh. Ke empatnya bersulang dan menenggak minuman mereka dengan susah payah. Se Hwang hanya tersenyum melihat tingkah para bawahannya.


Polisi menyisir dermaga mencari si pria botak. Gon yang sudah sadar menyaksikannya dari atas gedung. Dia berjalan ke tembok yang jebol akibat hantaman pria botak sebelum mencekik lehernya. "Ini tidak masuk akal."


Se Hwang berjalan di tepi kolam renang yang temboknya di penuhi banyak lukisan. Dia berhenti di depan sebuah lukisan lalu menyentuh tulisan di tepi bawah lukisan itu. Seketika tembok bergeser menunjukkan sebuah ruangan di belakangnya. Se Hwang memindai sidik jari tangan kanannya untuk membuka kode pintu kaca. Pintu pun terbuka. Se Hwang tersenyum melihat berbagai macam benda di lemari di ruangan itu. Namun senyumnya hilang saat menyadari sebuah guci hitam yang tutupnya telah bergeser. Se Hwang mengambil guci itu dan menemukan isinya telah kosong. Dia melempar guci itu hingga pecah.


Se Hwang hendak pergi namun tiba-tiba sebuah kamera merah muda di lemari menyala. Mata Se Hwang berubah menjadi merah dan iris matanya melebar. Kamera berhasil mencetak sebuah foto.


Se Hwang tersentak dan matanya kembali normal. Dia segera mengambil hasil foto itu. Foto Da In yang sedang jongkok di tepi sungai. Dan dalam penglihatan Se Hwang, Da In sedang menatap gelang biru yang tergeletak di bebatuan.


Bersambung ke Item episode 2

Akhirnya aktor favoritku comeback main drama lagi. Sebenarnya belum lama ini Ju Ji Hoon udah main drama pendek berjudul Kingdom. Dramanya cuma 6 episode. Tapi karena ceritanya tentang zombie dan banyak darahnya, aku kok takut-takut mau nontonnya. Aku nggak begitu takut sih nonton film horor. Tapi kalo banyak darah dan adegan sadisnya, aku suka jadi nggak doyan makan. Jadinya nunggu drama Item ini aja. Aku ini fans Ju Ji Hoon dari jaman Princess Hour hingga kini (siapa yang nanya). Love you oppa :)





Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 10 Part 2 )

The Crowned Clown
Episode 10 Part 2


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca The Crowned Clown episode sebelumnya

Lee Kyu memberikan sebuah surat pada Ha Sun yang berisi apa saja yang harus Ha Sun katakan pada pertemuan istana besok. Diantaranya adalah mempromosikan Ho Geol menjadi pangkat kelima senior, yaitu Ketua Bagian dari kementrian perpajakan. Juga akan di adakan ujian negara sementara untuk mengisi posisi magistrat daerah yang di pecat karena korupsi.

"Ujian negara sementara kali ini istimewa. Tidak hanya bangsawan dan cendikiawan tapi bahkan putra selirpun boleh mengikutinya."

Lee Kyu menasihati Ha Sun untuk tidak datang ke pertemuan istana besok kalau perasaan Ha Sun belum tenang.

"Aku akan melakukannya."

Pertemuan istana berlangsung panas. Para pejabat di barisan kiri terang-terangan menolak keputusan Ha Sun mempromosikan Ho Geol yang notabene budak rendahan. Mereka juga menolak ujian negara di ikuti oleh orang-orang berstatus rendah. Tapi raja yang sekarang bukanlah raja yang dulu. Ha Sun tetap pada pendiriannya.

***

Malamnya Jinpyung langsung curhat pada Tuan Shin.

"Raja kehilangan akal sehatnya. Dia akan memajaki bangsawan dan kerabatnya. Sekarang dia akan melanggar hukum yang mengatur bangsawan dan kaum rendahan."

"Ini pasti ide Lee Kyu," ujar Tuan Shin. "Walau idenya tampak bagus, tapi sebenarnya dia ingin menghentikan pendapatanku dan menyingkirkan pengikutnya lalu mengganti mereka dengan sekutunya."


"Sekarang apa rencanamu?" Tanya Jinpyung.

"Kita lihat saja. Apa raja dan Lee Kyu tetap bertindak saat bangsawan dan cendikiawan menolak."

***

So Woon sedang membaca kertas-kertas note dari Ha Sun. Dia tertawa sendiri.


Ae Young menyajikan teh bunga dari biro kesehatan kerajaan. So Woon pun meminumnya. Dia curhat kalau ingin membuatkan sesuatu untuk raja. Ae Young menyarankannya untuk membalas surat cinta dari raja tempo hari.

"Apakah dia akan menyukainya?"

"Jika Anda menulis dengan tulisan tangan rapi Anda, tentu raja akan menyukainya."


Ha Sun duduk di perpustakaan sambil menatap kompasnya. Dia lalu memasukkan kompas itu ke dompet pemberian So Woon kemudian memasukkannya ke dalam sebuah kotak dengan ukiran angsa. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan kesedihan. Kasim Jo mengambil kotak itu lalu menyimpannya di atas tumpukan buku.

Ha Sun berusaha mengenyahkan kegalauannya dengan belajar menulis. Kasim Jo memberikan buku 'Inti dalam mempelajari orang bijak' hasil terjemahan raja Lee Hun. Ha Sun membacanya dan memuji tulisan tangan Lee Hun yang bagus.

"Seberapa keras aku berusaha, aku tidak akan sebanding dengannya."

Tapi Ha Sun tetap berusaha. Dia menggunakan buku Lee Hun sebagai referensi dia belajar menulis.


Lelah belajar menulis, Ha Sun memilih berlatih pedang seorang diri. Tiba-tiba sebuah suara menginterupsi latihannya.

"Darimana Anda belajar gaya yang norak itu?"

Ha Sun kaget saat melihat Mo Young. "Ku dengar kau berhenti. Kenapa kamu kembali?"

"Aku hendak berhenti, tapi aku tidak suka melihat situasinya membaik."

"Kenapa kamu mendadak bicara santai denganku?"

"Selalu ada mata dan telinga di setiap sudut istana. Bicara santai denganmu akan memastikan keselamatanku dan keselamatan Anda."

Ha Sun maju beberapa langkah. "Sekarang aku mengerti. Kamu juga menyukaiku (HAHA). Kamu ingin mengatakan yang sebaliknya. Aku akan mencari solusi lain. Tapi, kenapa kamu menyebut gaya berpedangku norak. Kamu bercanda?"

Ha Sun lalu berbisik. "Aku mempelajari keterampilanku dari badut yang paling terampil."

"Langkah kaki dan cara berdiri Anda sangat menyedihkan."

"Kalau begitu ajari aku caranya!"

Tanpa banyak bicara lagi Mo Young langsung melayangkan pedangnya menebas tiang-tiang jerami. Ha Sun sampai melongo melihatnya.

"Anggar tidak bisa dipelajari dalam sehari. Anda harus belajar memegang pedang dengan baik lebih dulu."

"Kamu banyak bicara."

Ha Sun langsung menyerang Mo Young. Tapi kemampuannya jelas kalah jauh dari pengawalnya. Berkali-kali Mo Young berhasil menyudutkannya hingga akhirnya Ha Sun pedangnya jatuh dan dia berguling-guling di tanah untuk menghindari pedang Mo Young.

Ha Sun bangkit dan mengajak bertarung lagi. Tapi, baru sekali serang, Ha Sun malah kabur dan Mo Young mengejarnya.


Woon Shim memberikan hadiah jubah buatannya sendiri pada Ho Geol atas promosi jabatannya. Ho Geol langsung mencobanya dengan hati riang. Lee Kyu tertawa melihatnya.

"Wah. Sayap yang bagus membuat manusia hebat."

"Yang benar saja. Sayap hanya milik peri. Selain itu, paras seseorang sangat menentukan gayanya," timpal Ho Geol.

"Hahaha. Aku akan pergi ke istana lebih dulu. Kamu harus sampai disana tepat waktu."

"Mana mungkin aku terlambat di hari seperti ini?"

Setelah Lee Kyu pergi, Woon Shim membantu merapikan pakaian Ho Geol.

***

Ho Geol berjalan memasuki istana. Beberapa mahasiswa sungkyunkwan menghalangi jalannya. Ho Geol berhasil menerobos mereka. Tapi kumpulan mahasiswa yang lebih banyak datang mengepungnya.


Ha Sun bersama Lee Kyu dan Mo Young datang ke depan gerbang Injoeng dimana para mahasiswa melakukan demo terkait keikutsertaan kelas rendahan pada ujian negara sementara dan meminta raja membatalkan pengangkatan Ho Geol. Terlihat rombongan ratu melihat dari jauh.

Seorang mahasiswa maju menyerahkan dokumen berisi peraturan terkait kelas sosial. Ha Sun menerima dan membacanya. Tiba-tiba Tuan Shin bersama beberapa pengikutnya datang. Dia ikut-ikutan mengompori raja.

Ha Sun jelas tidak suka status sosial digunakan untuk menghalangi prestasi seseorang. Mereka menghakimi kasta rendahan padahal belum pernah mencoba kemampuan mereka. Tuan Shin dengan mulut manis dan 'lamis'nya terus berusaha menggoyahkan raja. Dia bahkan mengatasnamakan kehendak surga.

Ha Sun membentaknya. Lee Kyu sampai tertegun. "Kehendak surga? Berhentilah melantur. Jika surga sungguh mengabaikan kelas rendahan, aku tidak akan mematuhi kehendaknya. Aku akan menentangnya!"

Ha Sun maju hendak menjemput Ho Geol yang berdiri di belakang barisan mahasiswa. Seketika para mahasiswa berlutut menghalangi jalan raja. Ha Sun menyuruh mereka menyingkir. Tapi mereka malah menantang agar Ha Sun berjalan di atas di punggung mereka jika dia tetap bersikeras.


Sesaat Ha Sun bimbang. Dia menatap Ho Geol yang wajahnya begitu loyo di seberang. (Ekspresinya Ho Geol itu loh. Kayak yang abis di marahin sama ortu ketahuan bolos. Nelangsa bener.)

Ha Sun nekad berlari di atas punggung para mahasiswa. Semua orang terperanjat melihat aksinya. Dia meraih tangan Ho Geol lalu menariknya.


Mereka berlari bak romeo yang membawa kabur julietnya (HAHA), menerobos barikade mahasiswa.

***

Tuan Shin menyapa Lee Kyu sebelum pergi. Mereka terlibat aksi sindir menyindir. Tuan Shin menyindir soal badut yang menghilang di tempat hiburan yang biasa Lee Kyu kunjungi. Sedangkan Lee Kyu menyindir soal menghilangnya dayang Kim. Masing-masing menganggap diri mereka berada di atas angin.


Lee Kyu menemui Ha Sun di ruangannya. Ha Sun sudah siap di semprot. Dengan wajah takut dia meminta maaf atas aksinya tadi. Tapi diluar dugaan, Lee Kyu malah memujinya. Itulah yang harus dilakukan seorang raja. Melakukan yang tidak bisa dilakukan orang lain dan bertanggungjawab. Bekerjasama dengan rakyat dan menanggung beban mereka. Itulah jalan yang harus di tempuh oleh raja.

"Bagaimana jika cendikiawan dan pejabat berpaling dariku?"

"Sebagai gantinya, rakyat akan mendukungmu."

Keduanya saling tersenyum.


Pengumuman ujian negara di tempel diseluruh penjuru negeri. Para anggota grup daedong tampak ikut serta dalam ujian itu. Semua rakyat senang karena diberi kesempatan untuk bisa jadi bangsawan.


Ha Sun bersembunyi saat So Woon lewat. Dia terus memandang So Woon dengan sedih. Kasim Jo mengajaknya untuk bergegas pergi. Tapi Ha Sun memintanya menunggu sampai So Woon hilang dari pandangannya.


Pengumuman hasil ujian negara sudah di pajang. Orang-orang berkumpul untuk melihat hasilnya. Ho Geol sangat senang hingga menangis saat melihat nama temannya di grup daedong, Woo Jeong Rim dan Seo Jae Gu ternyata lolos jadi pejabat pemerintah.

***

Lee Hun menstempel dokumen pengangkatan orang-orang yang lolos ujian negara. Melihat nama Woo Jeong Rim, dia teringat janjinya pada Lee Hun sebelum meninggal kalau dia akan mewujudkan dunia yang Lee Hun impikan.


Woo Jeong Rim dan Seo Jae Gu dibawa menghadap raja. Mereka berterimakasih atas kebaikan hati Ha Sun. Semua orang yang ada di sana terlihat bahagia. Ho Geol sampai terpesona melihat Ha Sun yang sedang tersenyum lebar. Mo Young menyindirnya hampir ngiler.


"Aku iri padamu. Kamu selalu mendampingi raja. Bukankah dia orang yang hebat?"

Bersambung ke The Crowned Clown episode 10 part 3





Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 10 Part 1 )

The Crowned Clown
Episode 10 Part 1


Sumber konten dan gambar : TVN

The Crowned Clown episode sebelumnya

Di episode sebelumnya, Ha Sun akhirnya berani menci*m So Woon. Sesaat Ha Sun melepas ci**annya. Dia dan So Woon tersenyum saling menatap. Kemudian mereka kissue lebih dalam di bawah hujan salju.

***

Ha Sun dan So Woon duduk di perpustakaan. Suasana terasa canggung. Ha Sun membuka percakapan lebih dulu.

"Bukankah tidak nyaman setelah pengurangan uang belanja makanan?"

"Tidak sama sekali. Jika ada yang bisa aku bantu, aku akan senang melakukannya."

"Kalau begitu, katakan apa yang paling kamu inginkan. Aku akan memberikannya padamu."

"Kamu sudah memberikan milikmu yang paling berharga. Yaitu perasaanmu."

Ha Sun tersenyum. "Kalau begitu, apalagi yang kamu inginkan?"

"Sebenarnya, aku mencemaskan ucapan ibu suri tempo hari." (Auww)


So Woon tampak ragu untuk melanjutkan kalimatnya. "Yaitu.... Soal itu.... Ucapannya soal betapa menyenangkan jika Anda memiliki putra pada masa krisis seperti insiden poster ini. Aku ingin melahirkan putramu."

Haduh! Galau deh Ha Sun. Dia speechless tidak tahu harus menjawab apa. Mungkin sebenarnya dia juga ingin tapi tidak ingin (HAHA).

***

Kasim Jo menggambar seseorang yang berdiri terkena hembusan angin. Di sampingnya dia menulis nama Ha Sun. Lalu kasim Jo mengambil lukisan Ha Sun tempo hari untuknya. Dia tersenyum menatapnya.


Lee Kyu masuk dan melihat apa yang Kasim Jo lakukan. Kasim Jo kaget saat menyadari kedatangannya.

Lee Kyu melirik Kasim Jo seolah-olah berkata 'dasar kasim Jo kayak anak kecil'. (Apaan sih Lee Kyu ngerusak momen deh hehe)

"Aku pikir Anda sudah pulang kerja," ujar Kasim Jo."

"Aku datang untuk mengingatkan Ha Sun soal agenda pertemuan istana besok. Dimana dia?"

Kasim Jo gugup saat akan menjawab.

***

Ha Sun dan So Woon keluar dari perpustakaan. Kali ini So Woon lebih dulu menggenggam tangan Ha Sun. Ha Sun membalas genggaman tangannya. Mereka berjalan bergandengan tangan.


Tiba-tiba Lee Kyu datang dengan langkah cepat. Seketika Ha Sun melepas genggamannya.

"Yang Mulia. Aku ingin bicara dengan Anda segera."

Kasim Jo menyusul kesana.

"Haruskah aku mendengarkannya sekarang?"

Lee Kyu menegaskan,"Sekarang juga! Banyak nyawa bergantung pada masalah ini."

"Aku tidak tahu Anda masih bekerja. Aku permisi dulu," ucap So Woon.

"Kamu boleh tetap di sini." Ha Sun tidak rela berpisah dengan So Woon. Lee Kyu meliriknya kesal.

So Woon tersenyum pengertian. "Tidak. Aku lebih baik pergi."

Kasim Jo mempersilahkan So Woon berjalan. Dia yang akan mengantarnya.

Ha Sun ini nggak ngerti Lee Kyu lagi kesel, dia malah mau mengikuti So Woon. Kontan Lee Kyu mencengkeram kerah baju Ha Sun lalu menariknya masuk perpustakaan.

Lee Kyu to the point. "Sejak kapan kamu sedekat ini dengan ratu."


"Kamu bilang ingin berkuasa untuk melindungi orang yang berharga bagimu. Kamu ingin menjadi raja. Apa semua itu karena ratu?"

"Bukan hanya karena ratu. Tapi.... ya benar!"

Lee Kyu menatap Ha Sun tak percaya. "Kamu sudah gila?" Kamu menipunya! Yang dia lihat bukanlah kamu! Tapi bayangan orang lain. Mungkin kamu raja yang asli. Tapi kamu selalu menjadi raja palsu bagi ratu."

Jlebb.

"Kalau begitu lebih baik aku mengatakan yang sebenarnya pada ratu."

"Lalu apa? Kamu pikir dia akan menerimamu? Kamu tidak tahu. Dia orang yang sangat jujur. Begitu kamu mengungkap identitasmu, kalian berdua akan sangat hancur. Pikirkan bagaimana kamu kembali setelah kabur dari istana. Semua itu karena adikmu. Kamu ingin menghukum orang yang melecehkan dia dan mengubah dunia. Bukankah itu alasanmu menjadi raja? Ada banyak rintangan di hadapan kita. Selagi kamu ragu menghapus perasaanmu, ratu dan negeri beserta rakyatnya akan terancam. Hapus perasaanmu. Hanya ini pilihan yang kamu punya."


Lee Kyu mengantar Ha Sun ke kediamannya. Ha Sun masuk dengan langkah gontai. Lee Kyu menatap Kasim Jo menuntut penjelasan.

"Awalnya aku berusaha mencegahnya. Tapi mereka saling menyukai. Bagaimana aku harus menghentikannya?"

"Jika kamu benar-benar peduli padanya, kamu harus mencegahnya dengan cara apapun. Ini belum terlambat. Kita harus menyadarkan dia. Itu yang terbaik untuk Ha Sun, ratu, dan kita semua. Mengerti?"

"Baiklah."


Ha Sun duduk termenung di kamarnya. Dia menatap kompas pemberian So Woon. Dia teringat keinginan So Woon untuk memberinya anak. Terngiang juga kata-kata Lee Kyu di kepalanya. Ha Sun benar-benar galau.

***

Gab Soo dan Dal Rae berada di depan gerbang tempat hiburan. Dal Rae mengajak untuk pergi saja. Dia takut bertemu biksu Jung Saeng.

"Hanya Woon Shim yang tahu keberadaan Ha Sun. Ayo!"


Dan tidak tahunya, Ho Geol datang bersama biksu Jung Seong.

"Tunggu! Aku tahu kalian," ujar Ho Geol. Sedangkan Jung Saeng kaget melihat mereka berdua.

"Dimana saja kalian berdua?" Tanya Jung Saeng.

"Kamu mengenal mereka?" Ho Geol bingung.

"Dimana kamu menyembunyikan kakakku?"

"Apa maksudmu? Aku menyembunyikan kakakmu?"

"Jangan berlagak tidak bersalah! Aku melihatnya dikurung."

Ho Geol mencoba menengahi. "Dia bahkan tidak tega membunuh lalat. Yang benar saja. Bisa kupastikan kamu keliru."

Dal Rae ngotot dia percaya apa yang dia lihat. Gab Soo membelanya. "Untuk apa dia berbohong."

Woon Shim datang karena mendengar keributan. Begitu melihat Dal Rae dia langsung memeluknya. "Kemana saja kamu. Aku mencemaskanmu."

"Semua karena biksu ini. Dia mengurung kakakku."

"Maksudmu Jung Saeng?"

"Kurasa ada kesalahpaman," ujar Jung Seong.

Woon Shim mengajak mereka semua masuk lebih dulu. Lee Kyu yang kebetulan hendak pulang, melihat mereka.

***

Woon Shim keluar menemui Lee Kyu.

"Apa gadis di ruangan itu adiknya Ha Sun?"

"Ya. Dia terkejut melihat poster itu. Jadi dia berkeliling mencari Ha Sun. Tuan, aku rasa kita harus mempertemukan Dal Rae dan Ha Sun."

Tapi Lee Kyu malah memintanya mengirim Dal Rae dan Gab Soo kembali ke kuil. Menurutnya tinggal di tempat hiburan berbahaya bagi mereka karena sebagian pelayan mengenal Ha Sun.


Dal Rae menolak keras kembali ke kuil. Woon Shim berusaha memberinya pengertian. Seseorang mungkin akan berusaha melukai Dal Rae dan Gab Soo terkait poster itu.

"Jika kakakmu tahu bukankah dia akan bersedih?"

"Kamu tahu keberadaan kakakku?"

"Kudengar keadaannya baik. Dia aman. Kamu jangan cemas."

Gab Soo nimbrung. "Lalu kenapa dia tidak kemari?"

Woon Shim meminta mereka pergi ke kuil dulu. Ha Sun akan menghubungi mereka dari sana. Akhirnya Dal Rae menurut. Jung Saeng dan Woon Shim mengantar mereka. Diam-diam seorang pria mengintai dari balik tembok.

***

Pelayan pribadi Tuan Shin melapor. Dia memberitahu kalo Dal Rae pergi ke kuil Boepchoen milik kepala biksu Jung Saeng. Tuan Shin belum pernah mendengar nama kuil itu.

"Aku akan segera menemukannya."

"Bergegaslah."


So Woon mengunjungi Ha Sun dengan membawa teh jahe. Ha Sun tampak murung karena terus memikirkan ucapan Lee Kyu. So Woon memanggilnya untuk segera meminum tehnya sebelum dingin.

Meski tahu itu teh jahe, Ha Sun nekad meminumnya. Alhasil dia hendak muntah. So Woon jelas khawatir.

"Sebenarnya, aku tidak suka jahe."


So Woon keheranan. "Apa maksudmu? Kamu mendadak tidak suka jahe atau teh buatanku yang tidak sesuai dengan seleramu?"

"Tidak. Seleraku pasti berubah karena aku lelah. Abaikan saja."

Dengan penuh perhatian So Woon mengingatkan Ha Sun untuk menjaga kesehatannya meskipun pekerjaannya itu penting. Ha Sun hanya mengangguk lesu.

So Woon keluar dari ruangan Ha Sun. Dia mengingatkan Kasim Jo agar tidak membiarkan raja bekerja terlalu lama.

***

Kasim Jo masuk menemani Ha Sun yang gelisah galau merana. Dia bertanya apa Ha Sun sudah memutuskan untuk menghentikan perasaannya pada So Woon.

"Entahlah. Aku harus bagaimana? Aku sungguh tidak tahu. Lee Kyu benar. Aku harus menuruti perintahnya."


Ha Sun menangis. "Aku belum pernah merasakan perasaan ini. Aku baru saja belajar cara mencintai. Aku tidak tahu cara berhenti mencintai seseorang. Andai saja seseorang bisa memberitahuku."

Lee Kyu masuk. Ha Sun segera menghapus aitmatanya. Kasim Jo undur diri.

Bersambung ke The Crowned Clown episode 10 part 2

Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 9 Part 3 )

The Crowned Clown
Episode 9 Part 3

Sumber konten dan gambar : TVN

Baca The Crowned Clown episode sebelumnya

Malam hari, Dayang Kim datang membawakan pakaian tidur untuk raja. Kasim Jo melarangnya masuk karena dia yang akan mengurus tempat tidur Yang Mulia.


Dayang Kim ngeyel. "Mengurus tempat tidur Yang Mulia adalah tugas utamaku. Apa kamu menyuruhku berhenti melayani raja? Atas perintah siapa?"

"Ini perintah Yang Mulia Raja."

"Aku ingin mendengarnya sendiri."

Dayang Kim hendak nyelonong masuk. Tapi Kasim Jo membentaknya. "Beraninya kamu! Apa kamu harus diseret keluar?"

Kasim Jo merebut baju tidur raja dan masuk ke dalam meninggalkan Dayang Kim yang kesal.

Di dalam, Ha Sun ganti baju sendiri sementara Kasim Jo merapikan tempat tidurnya.

"Maafkan aku karena sudah mengganggumu. Kamu boleh istirahat sekarang."

"Apa kamu tidak apa-apa sendirian?"

"Aku baik-baik saja. Pergilah selama 2 jam untuk tidur."

"Aku akan melakukan perintahmu." (Kasim Jo tahu Ha Sun raja palsu tapi dia tetap sopan banget walaupun lagi berduaan doang)

***

Kasim Jo keluar. Di luar sudah ada kasim lain yang akan menggantikannya berjaga. Kasim Jo mengingatkannya jangan sampai lengah selama dia pergi.


Si kasim tampak mencurigakan. Dan benar saja, setelah kasim Jo pergi, Dayang Kim muncul dari persembunyiannya membawa nampan berisi munuman dan camilan raja. Kasim itu menerima nampannya. Lalu Dayang Kim membubuhkan ramuan ke dalam minuman raja. Setelah itu si kasim masuk menyajikannya pada raja dan segera undur diri setelahnya.


Ha Sun yang sedang membaca, meraih cawan air lalu minum. Beberapa saat kemudian, dia terlihat tidur pulas dengan tangan telentang. Diam-diam Dayang Kim masuk. Dia senang saat melihat cawan air yang sudah kosong. Dengan hati-hati dia duduk di samping Ha Sun lalu membuka ikatan bajunya. Dia terkejut saat melihat bekas luka di dada Ha Sun. Dayang Kim berniat menyentuhnya.


Tiba-tiba tangan Ha Sun mencekal pergelangan tangannya. Dayang Kim kaget setengah mati.

Dengan marah Ha Sun menghempaskan Dayang Kim hingga terjatuh ke lantai. "Apa maksudnya ini?"

Dayang Kim ketakutan karena tertangkap basah. Dia mencoba membuat alasan. "Ini tidak seperti yang Anda kira. Aku kesini untuk membersihkan bejana teh.

Ha Sun bertingkah seperti mendiang Lee Hun. Dia melempar cawan hingga menimbulkan suara gaduh. Dengan gaya sempoyongan khas Lee Hun, dia berjalan mendekati Dayang Kim lalu duduk di depannya. "Kamu pasti mau mat*!"

Ternyata ini adalah perangkap yang sudah Ha Sun siapkan bersama Lee Kyu dan Kasim Jo untuk menangkap dalang dibalik penyebaran poster dirinya.

"Aku memberikan perintah khusus agar tidak membiarkan siapapun masuk ke kamarku. Tapi kamu memberiku obat dan masuk untuk memeriksa lukaku."

"Bukan begitu Yang Mulia," ucap Dayang Kim terbata-bata.

"Diam!!"


Dayang Kim tampak benar-benar ketakutan.

"Aku tahu kamu tidak merencanakan ini sendirian. Siapa yang memerintahkanmu?"

Dayang Kim masih bersikeras menyangkal. Dia memohon ampunan pada raja.

"Bagaimana kamu memohon ampun sedangkan kamu layak mat*?"

Dayang Kim sontak shock mendengarnya. Apalagi setelahnya Ha Sun memanggil Kasim Jo yang kemudian masuk bersama dua orang pengawal. Dayang Kim diseret keluar. Dia berteriak meminta Ha Sun percaya padanya.

***

Ternyata Dayang Kim dibawa menghadap Lee Kyu.

"Apa yang bisa aku lakukan untuk bertahan hidup?"

"Yang Mulia yakin Shin Ci Soo lah yang memasang poster itu. Pergilah dan beritahu dia apa yang kamu ketahui! Dan juga, buat dia mengaku kalau dia yang memasang posternya. Jika kamu melakukannya, aku akan meminta raja melepaskanmu."


Akhirnya Dayang Kim bersedia. Dia datang ke kediaman Tuan Shin malam itu juga. Tuan Shin tampak tidak percaya saat Dayang Kim memberitahunya tentang bekas luka raja.

"Apa kamu melihatnya sendiri?"

"Ya. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Kamu seharusnya tidak memasang poster itu tanpa memeriksanya lebih dulu."

"Bagaimana kamu tahu itu perbuatanku?"

"Saat kamu memerintahkanku untuk memeriksa bekas luka raja, aku sudah mencurigaimu. Pelukis yang mati itu, adalah perbuatanmu kan?"

"Itu satu-satunya cara membuatnya diam," ujar Tuan Shin yang secara tidak langsung mengakui dialah yang memasang poster.

"Bagaimanapun juga, aku sudah melakukan apa yang kamu minta. Jangan lupakan perananku."

"Bagaimana bisa?"

"Aku harus kembali ke istana sekarang."


Dayang Kim berdiri meraih penutup kepalanya. Tuan Shin menghentikannya lalu menyuruh seseorang masuk. Dayang Kim terkejut melihat si kasim ada di depannya.

"Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau Yang Mulia menangkapmu? Apakah Haksan memerintahkanmu untuk membuatku mengaku?"

Dayang Kim sontak berlutut dan beralasan raja mengancamnya.

"Dan kamu berharap aku untuk mengecualikannya?"

Tuan Shin benar-benar kecewa karena sudah mempercayai Dayang Kim.

***

Seorang wanita menggunakan penutup kepala merah seperti milik Dayang Kim, keluar dari kediaman Tuan Shin. Mo Young yang sedari tadi mengintai langsung membututinya. Tapi saat Mo Young membalik tubuh wanita itu, ternyata dia bukan Dayang Kim.

***

Lee Kyu melapor pada Ha Sun kalau Dayang Kim masuk ke kediaman Tuan Shin tapi dia menghilang setelahnya. Begitu juga dengan kasim yang di bayar Dayang Kim. Padahal seharusnya mereka bisa jadi saksi.

Ha Sun tampak gusar. "Tidak bisakah kita membuat Shin Ci Soo membayar perbuatannya?"

"Kita bisa kalau Dayang Kim kembali dengan pengakuannya."

Lee Kyu mencoba menenangkan Ha Sun. Setidaknya Dayang Kim sudah memberitahu tentang bekas luka Ha Sun. Jadi Shin Ci Soo tidak akan meragukan identitas Ha Sun lagi.

Tapi Ha Sun tetap saja kesal karena Shin Ci Soo masih saja bikin ulah padahal baru saja dipecat.

"Kekuatan Shin Ci Soo berasal dari kekayaannya. Mulai sekarang, aku akan menggali semua tentang kekayaan yang dia miliki."

***

Ha Sun duduk di singgasana raja di balai pertemuan. Dia mengumumkan akan mengatur kantor badan amal dan secepatnya menerapkan aturan pembayaran beras.

Seperti biasa, para pejabat di barisan kiri keberatan dengan alasan khawatir dengan penolakan para pemilik tanah.

Ha Sun membalikkan perkataan mereka. "Kalian khawatir dengan penolakan pemilik tanah, tapi kenapa kalian tidak khawatir dengan rakyat yang kelaparan?"

Ha Sun menegaskan kalau keinginannya adalah membuat rakyat membayar pajak sesuai dengan apa yang mereka miliki. Tidak terkecuali rumah kerajaan dan pejabat istana.


Jinpyung yang biasanya diam, kali ini angkat bicara. Dia berpendapat tidak bisa mengambil pajak dari tanah yang diberikan mantan raja. Tidak ada aturan semacam itu di dalam sejarah manapun.

"Aku tidak bisa menarik kembali apa yang aku putuskan. Aku mengatakannya sendiri, jadi itulah aturannya sekarang."

Lee Kyu tampak tertegun karena Ha Sun cepat sekali belajar dari apa yang sudah pernah terjadi.


So Woon mendatangi dapur istana. Karena penerapan aturan pembayaran beras dan juga pajak untuk istana, So Woon memerintahkahkan untuk mengurangi lauk pada menu makanan kerajaan.


Ha Sun sedang membaca di perpustakaan sambil makan manisan. Kasim Jo tak ketinggalan ikut mengambil camilan untuk dirinya.

Ha Sun kesal saat Kasim Jo memberitahunya kalau pemilik sebagian besar tanah adalah Shin Ci Soo. Itu yang membuat aturan pembayaran beras gagal sebelumnya.

"Aku harus membuat peraturan yang benar selagi aku bisa melakukannya."

Kasim Jo memberitahu kalau ratu mengurangi pengeluaran uang untuk makanan di istana dalam.

"Kalau begitu, aku juga akan mengurangi makananku. Termasuk makanan ini."

Ha Sun menutup tempat camilannya. Kasim Jo membukanya lalu menyuruh Ha Sun memakannya saja karena hanya sedikit. Ha Sun manggut-manggut. Dia lalu meminta tolong Kasim Jo membacakan secarik kertas laporan dari kantor astrologi.

"Awan hitam menutupi langit tadi malam. Kami tidak bisa mengobservasi bintang manapun. Cakrawala ditutupi energi berkabut. Alam menjadi tidak teratur. Oleh karena itu, kami menyarankan agar kamu menjaga sikapmu."

"Apakah tidak dikatakan apapun mengenai salju?"

"Salju? Kantor astrologi mungkin tidak tahu sebanyak itu."

Ha Sun menunduk kecewa.

"Tapi melihat bagaimana lututku sakit, aku pikir akan turun salju malam ini."


Ha Sun meragukannya. Tapi Kasim Jo meyakinkan kalau lututnya cukup akurat.

Sepertinya Ha Sun sedang memikirkan sebuah rencana.

***

Ha Sun mengirimkan hadian berupa buku volume pertama pada So Woon. So Woon sangat senang menerimanya. Tapi dia heran kenapa Ha Sun tidak mengirimkan volume duanya sekaligus.


Ae Young ijin membuatkan teh. So Woon membolak balik halaman buku. Dia menemukan secarik kertas di sela-sela buku.

"Jika kamu ingin membaca volume kedua buku ini, datanglah ke perpustakaan pada malam hari." (Hmmmm modus ternyata)

***

Tuan Shin mengawasi pengawal pribadinya membakar sesuatu (kayak pakaian gitu). Dia lalu memerintahkan untuk mencari Ha Sun dan Dal Rae.

"Buntuti Woon Shim. Dengan begitu kamu akan menemukan sesuatu."

***

So Woon masuk ke perpustakaan yang sepi. Dia menemukan buku volume ke dua di salah satu rak buku. Dia dalamnya secarik kertas.


"Periksalah "ketulusan dari Mencius."

So Woon lalu mengambil buku berjudul ketulusan karangan Mencius. Kertas kecil di dalamnya bertuliskan, "Ada sesuatu yang menempel di wajahmu."

So Woon keheranan. Lalu dia membalik kertas itu. "Keindahan menempel di wajahmu." (Jiahhh Ha Sun bisa aja gombalnya)

So Woon tak bisa menahan senyumnya. Lalu dia melihat Ha Sun yang sedang menulis di meja tanpa menyadari kedatangan So Woon. Ha Sun berdiri lalu menyelipkan kertas kecil di antara buku-buku. So Woon mengambil kertas itu.

"Walaupun aku mati karena merindukanmu, aku bahagia karena mengenalmu."

So Woon mengambil kertas berikutnya yang diselipkan Ha Sun.

"Aku merindukanmu. Tidak peduli seberapa banyak aku memandang wajahmu, aku merindukanmu."

So Woon membaca kertas selanjutnya.

"Datanglah ke tempat tertinggi di istana. Aku akan menunggumu di sana."


So Woon berlari menuju tempat yang dimaksud. Begitu sampai, So Woon langsung memeluk Ha Sun. Ha Sun membalas pelukannya.

"Kenapa kamu berlari? Kamu bisa tersandung."

"Bagaimana bisa aku tidak lari, saat aku menerima banyak hadiah darimu."

"Maafkan aku karena hanya itu yang bisa aku berikan padamu."

"Kenapa kamu mengatakan hal itu? Aku mendapatkan hadiah paling berharga di dunia. Aku mendapatkan hati Yang Mulia."


Mereka tersenyum. Tiba-tiba salju turun. So Woon sangat senang melihatnya.

Ha Sun tampak takjub. "Dia bilang salju akan turun. Dan dia benar."

"Apa kamu tahu salju akan turun?"

Ha Sun mengangguk. "Aku ingin menikmati salju pertama denganmu."

So Woon menengadahkan tangannya menikmati dinginnya salju. Dia tersenyum lebar.


"Apa kamu sebahagia itu?"

"Ya. Lihat ini. Putih dan transparan. Mereka mengingatkanku pada bintang."

Ha Sun terus menatap So Woon. Dia perlahan mendekat lalu mencium So Woon.


Narasi So Woon : "Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi."

Ha Sun : "Aku tidak akan menghindarinya lagi."

So Woon : "Aku jatuh cinta pada Yang Mulia."

Ha Sun : "Aku jatuh cinta pada ratu. Jantungku terasa ingin meledak dan aku tidak peduli. Sebesar itulah cintaku padamu.


Bersambung ke The Crowned Clown episode 10 part 1

Read More