The Crowned Clown Episode 15 Part 2

The Crowned Clown
Episode 15 Part 2


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca part sebelumnya

Shin Ci Soo memerintah seorang prajurit untuk menangkap Jo Ho Geol.

***

Sun Hwa Dang membaca surat yang dia ambil dari kamar pamannya. Dia merasa dilema harus menuruti perintah Shin Ci Soo atau menunjuk surat itu pada raja. Hwa Dang meminta saran dari dayangnya. Dayangnya berkata, "Berintah perintah Shin Ci Soo yang lebih penting?"



"Benar. Lagipula raja tidak peduli atau menyukaiku. Tapi paman juga pernah meracuniku. Siapa yang harus aku percaya?"

***

Ha Sun menanggalkan jubah kebesarannya. Dibantu So Woon, dia berganti pakaian yang dia pakai saat berburu. Melihat wajah Ha Sun yang tidak tenang, So Woon bertanya apa Ha Sun mengkhawatirkan Lee Kyu yang belum kembali juga. Ha Sun mengiyakan.


"Jangan khawatir. Ku pikir dia terlambat karena sedang mencari cara untuk menghentikan pemberontakan."

Ha Sun mengangguk lirih. Kasim Jo masuk memberitahu kedatangan Jo Ho Geol. Ha Sun heran bagaimana bisa Jo Ho Geol ke istana sementara pemberontakan ada di jalanan.

Ha Sun menemui Ho Geol di luar. "Kenapa kamu ada disini dalam situasi seperti ini?"

"Yang Mulia. Lee Kyu ditangkap oleh Jinpyung dan Shin Ci Soo."

"Bukankah Shin Ci Soo berada di departemen kehakiman?"

Ho Geol menyerahkan surat dari si pemberontak. Bersama surat itu ada plakat nama Lee Kyu untuk meyakinkan Ha Sun kalau Lee Kyu benar-benar ditawan.


"Kalau aku membuka gerbang dan menyetujui pemenggalan Lee Kyu, dia menghentikan pemberontakan," ucap Ha Sun.

Semua terkejut. Ho Geol menangis dan tersungkur ke tanah. Dia lalu berlutut memohon agar Ha Sun menyelamatkan Lee Kyu.


"Dia tidak boleh mati sebelum tujuannya tercapai. Sepertinya dunia yang dia impikan akhirnya terwujud."

"Yang Mulia. Tinggal 4 hari saja dan tentara akan datang membantumu. Anda harus tetap kuat sampai saat itu dan berjuang untuk hari esok," ucap Mo Young.

Ha Sun benar-benar galau. "Beri aku waktu untuk berpikir."


Ha Sun merenung seorang diri di tempat tertinggi di istana. So Woon datang menghampirinya.

"Apa kamu baik-baik saja?"

"Aku tidak tahu. Lee Kyu selalu berada disisiku saat aku butuh saran. Sendirian, aku tidak tahu harus berbuat apa."

"Yang Mulia. Apa kamu ingat apa yang aku tanyakan sebelumnya?"

"Cerita tentang Zhao Yun dan Liu Bei?"

"Ya. Jika kamu Liu Bei, siapa yang kamu pilih antara putramu dan abdi setiamu."

Ha Sun berpikir sejenak lalu menjawab, "Jika aku Liu Bei, aku tidak akan menyerah pada siapapun. Aku tidak bisa membiarkan siapapun rakyatku yang tidak bersalah mati."


"Ya. Pria seperti itulah dirimu. Saat tidak ada jawaban sama sekali, kamu menemukan satu. Saat semua orang bilang tidak bisa dilakukan, kamu bilang bisa. Aku yakin kamu akan menemukan jawaban yang benar kali ini. Aku mempercayaimu."

Ha Sun tersenyum tipis. "Terimakasih."

***

Sun Hwa Dang sudah menunggu di depan ruangan raja saat Ha Sun kembali.


"Sun Hwa Dang."

"Aku datang karena ingin menanyakan sesuatu yang penting padamu. Aku ingin bicara secara pribadi."

Mereka berdua pun bicara empat mata di dalam. Mula-mula Sun Hwa Dang minta maaf atas tindakan pamannya yang bukan hanya melakukan penghianatan tingkat tinggi tapi juga membantu pemberontakan.

"Jadi aku khawatir jika aku tetap berada di istana. Aku akan pergi jika kamu menyuruhku. Dan tinggal jika kamu memintanya. Harap katakan keinginanmu."

"Apa yang kamu inginkan?"

"Aku ingin tinggal disini."

"Kalau begitu lakukan saja. Kamu tidak bersalah jadi kamu tidak punya alasan untuk pergi."


Sun Hwa Dang sangat senang sampai matanya berkaca-kaca. Dia lalu menceritakan kalau pamannya menyuruhnya menyimpan sebuah surat dengan segel kerajaan.

"Dimana surat itu?"

"Aku menyimpannya dengan aman dikamarku."

"Bawakan padaku sekarang juga."

"Ya Yang Mulia."

Sun Hwa Dang berdiri. Sebelum pergi dia berkata, "Setidaknya aku ingin membuatmu bahagia sekali. Syukurlah." Hwa Dang memberi hormat lalu pergi.

***

Ha Sun meminta Mo Young mengantarkan surat perintahnya pada Jinpyung. Dia memerintahkan mereka untuk datang ke istana besok pagi untuk mendiskusikan apakah Lee Kyu bersalah atau tidak.


Mo Young pun pergi ke tempat Jinpyung dan menyerahkan surat itu. Dia menunggu di luar gerbang.

Jinpyung tidak setuju untuk pergi ke istana. Tapi Shin Ci Soo mengingatkan kalau surat yang bisa menjatuhkan raja ada di dalam istana. Akhirnya mereka menyetujui undangan raja dengan syarat mereka boleh membawa tentara sebanyak yang raja punya.

Mo Young menjawab sesuai apa yang sebelumnya di katakan Ha Sun. Raja akan berdiskusi bersama para pejabat istana, jadi Jinpyung hanya boleh membawa 10 tentara.

Mereka setuju. Tapi mereka harus berdiskusi di halaman luar dan rajapun hanya akan membawa 10 tentara juga.

***

Mo Young memberitahu hasil kesepakatan dengan Jinpyung. Dia heran kenapa Ha Sun tahu mereka akan menerima tawaran pertemuan ini.

Ha Sun menjelaskan kalau bukti yang bisa menjatuhkan dia dan Lee Kyu ada di istana. Jadi mereka harus masuk istana untuk bisa mengambilnya. Tapi bukti itu ada di tanganku. Sun Hwa Dang akan memberikannya padaku.

Tiba-tiba seorang kasim menghampiri mereka dengan panik, meminta Ha Sun untuk melihat Sun Hwa Dang.


Ha Sun bergegas pergi ke kediaman Hwa Dang. Disana, Hwa Dang tertelungkul tak bernyawa dengan pisau menancap di punggungnya.

Dayang Hwa Dang menangis sesenggukan. Sementara di balik tembok, tampak seorang dayang yang mengintai. Sepertinya dia juga salah satu dayang Hwa Dang.

Ha Sun sangat terkejut sekaligus marah. Dia menyuruh Mo Young mencari pembun*hnya ke setiap sudut istana dan menginterogasi dayang Sun Hwa Dang.


Setelah Mo Young dan para dayang pergi, Ha Sun menyapu lembut mata Hwa Dang dengan tangannya agar tertutup. Dia lalu meminta Kasim Jo mencari surat di dalam dan di luar ruangan itu.

"Surat apa?"

"Surat dengan segel kerajaan di dalamnya."


Ha Sun gelisah sendirian di ruangannya. Lalu Kasim Jo dan Mo Young masuk secara bersamaan. Kasim Jo melapor kalau dia tidak menemukan apapun. Sedangkan Mo Young menjadikan dayang utama Sun Hwa Dang sebagai tersangka utama. Ha Sun memintanya menginterogasinya dan menanyakan keberadaan suratnya. Mereka harus menemukannya sebelum besok pagi.


Ibu Suri marah-marah pada Shin Ci Soo. "Aku menginginkannya menyerah bukannya pertemuan istana besok pagi?" Ibu Suri menggebrak meja. "Bukankah kamu percaya diri bisa membuatnya menyerah?"

"Maafkan aku. Tapi itu bagian dari rencanaku. Percayalah padaku."

"Aku tidak mau mendengarnya. Aku mau menemuinya sendiri. Kirim pesan dan suruh dia menemuinya di paviliun Chimhyang sekarang juga."

***

Kasim Jo melarang Ha Sun pergi. Dia takut mereka menyakiti Ha Sun. Mo Young ingin pergi juga untuk mengawal Ha Sun
 Awalnya Ha Sun menolak tapi akhirnya dia setuju.

"Yang Mulia. Apa kamu benar-benar harus pergi?" Tanya Kasim Jo.

"Jangan khawatir. Aku akan kembali dengan selamat."


Ha Sun dan Mo Young pergi lewat pintu rahasia. Kasim Jo melihat kepergian mereka dengan wajah gelisah.

Bersambung ke The Crowned Clown episode 15 part 3



Read More

The Crowned Clown Episode 15 Part 1

The Crowned Clown
Episode 15 Part 1


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca episode 14

Di episode sebelumnya, Jinpyung bersama pasukannya menerobos gerbang ibukota Joseon.


Seorang penjaga gerbang yang terluka berlari menuju gerbang istana. Kebetulan Mo Young ada disana untuk mengecek keadaan. Dia terkejut saat penjaga gerbang memberitahu tentang datangnya pemberontakan. Dia segera memerintahkan untuk menutup semua gerbang istana.


Jinpyung sampai di depan salah satu gerbang istana. Karena gerbang tertutup, Jinpyung mengajak pasukannya menuju gerbang istana barat.


Di perpustakaan, Ha Sun sedang membaca sebuah novel dan So Woon mendengarkan. Ternyata Ha Sun pernah mendengar cerita di novel dari seorang pendongeng di pasar.

"Liu Bei senang karena Zhou Yun menyelamatkan putranya lebih dulu. Tapi kemudian dia mengusir anaknya karena dia hampir kehilangan kesetiaannya. Ini cerita yang terkenal."

"Benar. Jika itu kamu, siapa yang akan kamu pilih. Putramu atau abdi setiamu?"

Sejenak Ha Sun tampak berpikir. Ketika dia hendak menjawab, tiba-tiba Kasim Jo datang dengan panik membawa kabar datangnya pemberontakan.


Ha Sun dan So Woon sangat terkejut.

"Tenanglah Kasim Jo. Ceritakan padaku apa yang terjadi."

"Begini.... Tuan Jinpyung telah memasuki ibukota dengan pasukan pemberontak."

Ha Sun terlihat marah. "Jinpyung?"

Mereka lalu pindah ke tempat yang lebih kondusif yaitu ruangan raja. Mo Young masuk melaporkan kalau dilihat dari arah obornya, pasukan pemberontak sedang menuju ke istana barat.

"Istana barat? Itu tempat tinggal ibu suri," ucap Ha Sun.

So Woon menimpali kalau ibu suri sepertinya menyetujui pemberontakan mereka.

Ha Sun bertanya dimana Lee Kyu. Mo Young bilang Lee Kyu tidak ada tapi dia mengirimkan pesan untuk Ha Sun. Mo Young memberikan surat Lee Kyu pada Ha Sun.


Ha Sun membacanya.

Maafkan aku Yang Mulia. Karena kesalahanku, suratmu pada Jenderal Nurhachi menghilang. Aku pasti akan mendapatkannya kembali. Tapi untuk berjaga-jaga, Yang Mulia lebih baik tidak tahu apa-apa mengenai surat ini. Segera bakar surat ini setelah Anda membacanya.

"Apakah ada jenderal yang bisa dipercaya untuk membantu kita?" Tanya Ha Sun.

Mo Young menjawab Jenderal Kang In Bok dari provinsi Hamgyeong di perbatasan utara sudah lama berdiskusi dengan Lee Kyu mengenai pertahanan negara. Jadi dia pasti ada di pihak Ha Sun.

So Woon menambahkan kalau di provinsi Hwanghae ada Jenderal Kim Ki Joon. Dia teman dari ayahnya.

Ha Sun meminta Mo Young mengirim pesan pada jenderal-jenderal itu melalui pengantar surat. Mo Young memberitahu kalaupun mereka datang secepatnya, paling tidak butuh waktu 4 hari untuk sampai di istana.

"Apa kita punya cukup pasukan untuk mempertahankan istana selama 4 hari?"

"Kita tidak punya cukup pasukan. Tapi kami akan melakukan yang terbaik, jadi harap jangan khawatir." (Semoga Mo Young nggak dibikin mati)

"Kami para kasim akan membantu mempertahankan istana bersama para pengawal istana," sambung Kasim Jo. (Semoga Kasim Jo juga jangan mati)

So Woon tak mau ketinggalan. "Aku akan mengurus makanan untuk istana dalam dan orang-orang istana."


Ha Sun mengangguk. "Terimakasih semuanya."

Ha Sun menatap surat Lee Kyu sejenak lalu membakarnya di atas lilin.

***

Pasukan Jinpyung sampai di istana barat. Dalam hitungan detik semua penjaga sudah tak bernyawa.

"Apakah kita harus menyelamatkan ibu suri?" Tanya Jinpyung pada dirinya sendiri lalu tertawa puas.


Di kamarnya, Ibu Suri sedang ketakutan mengira raja mengirim an**ng pemburu untuk membun*hnya. Dia tersentak kaget saat seseorang membuka pintu kamarnya. Tapi dia merasa lega karena ternyata Jinpyung yang datang.

"Kenapa kamu lama sekali?"

"Maafkan aku. Rekan kita yang akan menyelamatkanmu sedang menunggu diluar."

"Suruh dia masuk."

Ibu Suri terkejut sekaligus kesal saat melihat Shin Ci Soo yang masuk. Dia bertanya apa sebenarnya yang sedang direncanakan Jinpyung.

Shin Ci Soo berkata kalau dia datang atas kemauan sendiri. Ibu Suri menyebutnya gila karena beraninya dia datang menemuinya. Shin Ci Soo bilang ada yang ingin dia tunjukkan pada Ibu Suri.


Mereka pergi ke halaman dimana sudah ada Lee Kyu disana, berlutut dengan tangan terikat. Ibu Suri senang melihatnya.

"Kamu pantas mendapatkannya. Sekarang aku bisa membalas dendamku padamu karena membun*h pangeran Gyeongin."

Jinpyung bertanya apa maksud ibu suri. Ibu suri memberitahu kalau Lee Kyu lah yang meracuni anaknya sampai meninggal. Dia berkata akan membalas kebaikan Shin Ci Soo yang membantunya balas dendam pada Lee Kyu meskipun dia adalah musuh ayahnya.

Shin Ci Soo beralasan kalau dia membun*h ayah ibu suri karena perintah raja. Dia berjanji akan membawa kembali ke istana dan menyingkirkan raja dari tahtanya.

Lee Kyu tertawa. Dia bilang walaupun mereka menggunakannya sebagai alasan untuk menjatuhkan tahta raja, tapi raja akan mendapatkan dukungan penuh dari rakyat. Tindakan mereka akan dianggap sebagai penghianatan tanpa pembenaran. Dan ibu suri yang akan jadi biang keladinya.


Jinpyung berkata kalau mereka punya bukti penghianatan raja. Dia meminta Shin Ci Soo menunjukkan surat itu. Tapi Shin Ci Soo tidak bisa menunjukkannya karena surat itu tidak ada padanya sekarang. Jinpyung jelas kesal dan menarik kerah baju Shin Ci Soo. "Beraninya kamu!!"

Melihat situasi itu, Lee Kyu berusaha memprovokasi Jinpyung. "Jinpyung. Dia itu yang membun*h ayah dan kakakmu. Apa kamu naif atau bodoh? Sebagai gantinya kenapa kamu tidak mendatangiku saja. Aku akan mengasihanimu dan dengan belas kasihku akan kuberikan kesempatan untuk duduk di tahta."


Jinpyung mencabut pedangnya. "Katakan sekali lagi dan aku akan memotong lidahmu."

Lee Kyu tidak peduli. "Berani sekali ulat kecil bermimpi jadi naga. Bukankah ini lucu?" Lee Kyu tertawa keras.

Jinpyung terbakar amarah. Dia mengangkat pedangnya bersiap membun*h Lee Kyu.

Ibu Suri berteriak menghentikannya.

"Ibu Suri, aku akan membun*hnya dan membalaskan dendammu. Kenapa kamu menghentikanku?"

"Jika kamu melakukannya raja tidak akan menyerah." (Lee Kyu itu sengaja biar dibun*h biar raja nggak disalahin soal surat buat jenderal nurhachi karena semua kesalahan ditimpakan pada Lee Kyu)

Jinpyung yang masih emosi berkata kalau ibu suri tinggal memberinya perintah untuk menerobos istana dan membun*h raja lalu membawakan segel kerajaan untuk ibu suri.
Ibu suri tidak setuju. Seperti kata Lee Kyu, dia tidak bisa mempimpin penghianatan untuk saat ini. Mereka harus memulihkan nama baiknya terlebih dahulu dan menemukan alasan yang adil untuk pemberontakan

"Buat raja menyerah lebih dulu!" Perintah Ibu Suri.

***

Setelah Jinpyung pergi, Ibu suri memanggil Shin Ci Soo ke ruangannya untuk memastikan ucapan Dayang Kim kalau raja yang sekarang adalah palsu dan hanya seorang badut. Shin Ci Soo membenarkannya.

"Lalu dimana raja yang asli?"

"Aku tidak tahu. Tapi kalau raja masih hidup apa dia akan membiarkan badut rendahan menggantikannya dan membuat kekacauan ini?"

Ibu Suri menyimpulkan kalau raja sudah meninggal. Andai saja dia bisa membuat raja asli dan palsu saling berhadapan, itu saja sudah bisa untuk menggulingkannya karena menipu bangsa ini.

"Sayang sekali," ucap Ibu Suri.

"Jangan khawatir. Aku berjanji akan membuat raja menyerah. Jadi percayalah padaku dan berikan aku kekuasaan penuh."

"Kekuasaan penuh? Katakan apa yang kamu mau."

Shin Ci Soo tidak setuju kalau Jinpyung yang mengambil tahta. Ibu Suri memikirkannya. Dia setuju kalau raja dengan usia lebih muda itu lebih baik. Jadi dia menyerahkan sepenuhnya pada Shin Ci Soo untuk memilih.


"Akan tetapi aku ingin segel kerajaan dan kepala badut itu. Bahkan lebih baik jika kamu membawa ratu juga. Bisakah kamu melakukannya?"

"Terimakasih atas kebaikanmu." Shin Ci Soo membungkuk memberi hormat pada Ibu Suri.

Bersambung ke The Crowned Clown episode 15 part 2




Read More

The Crowned Clown Episode 14 Part 3

The Crowned Clown
Episode 14 Part 3


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca part sebelumnya

So Woon mendatangi Ibu Suri di kediamannya.

"Apakah kamu buru-buru menikmati pemandangan ini saat mendengar aku dipecat?" Tanya Ibu Suri.

So Woon bilang tidak akan membahas soal kutukan dukun atau teh bunga yang Ibu Suri kirimkan padanya. Tapi dia tidak bisa memaafkan ibu suri karena membun*h ayahnya untuk mencegah pemulihan nama baiknya. Jujur So Woon berharap Ibu Suri dicopot dari jabatannya. Tapi dia menahannya demi kebaikan Raja.

"Sebelum jabatanmu dicopot, mundurlah atas keinginanmu sendiri dan pindah ke kuil."


So Woon berusaha membujuk Ibu Suri demi kebaikan raja, rakyat, dan ibu suri sendiri. Tapi tentu saja seseorang seperti ibu suri menolak untuk merendah di hadapan raja. Seperti biasa dia malah tertawa sinis menghina So Woon lalu mengusirnya.

So Woon pun pergi dengan tangan kosong. Dia hampir saja limbung di jalan. Ae Young segera menahannya. So Woon memutar badannya dan menatap kediaman ibu suri.


Keesokan harinya....
Ibu Suri pergi dari istana. Para pengikutnya berbaris dan berlutut memohon dia tetap tinggal.

***

Empat sekawan (Ha Sun, Kasim Jo, Lee Kyu, dan Mo Young) berkumpul di ruangan raja.

"Yang Mulia," ucap Lee Kyu. Mo Young dan Kasim Jo tertegun mendengar Lee Kyu sangat sopan pada Ha Sun dan memanggilnya Yang Mulia.

Karena Ibu Suri sudah pergi, Lee Kyu ingin mundur dari jabatannya sebagai sekretaris kerajaan. Dia ingin membantu di perbatasan yang sedang kacau. Apalagi sebentar lagi perang antara Ming dan Aisin Gioro akan segera di mulai. Dia akan menerima apapun jabatan yang Ha Sun berikan padanya.


Ha Sun tidak rela. Dia merasa masih membutuhkan Lee Kyu di sisinya.

Lee Kyu sadar kalau jabatannya saat ini memiliki banyak tanggung jawab. Tapi menurutnya untuk saat ini lebih penting untuk menstabilkan daerah perbatasan.

Ha Sun galau.

***

Saat berdua saja dengan Lee Kyu di kantor, Mo Young bertanya kenapa Lee Kyu tiba-tiba bicara sopan pada Ha Sun dan minta dipindah ke perbatasan.

"Aku salah sudah menunggu selama ini untuk bicara resmi pada Yang Mulia. Juga, aku mengundurkan diri karena memang inilah waktunya aku melakukannya. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan."

"Tapi...."

"Bagaimana dengan ibu suri?"

"Tidak ada pergerakan sejauh ini."

"Jinpyung bisa menghubunginya kapan saja. Jadi jangan sampai lengah," nasihat Lee Kyu. "Juga, bukannya melaporkannya padaku, laporkan langsung pada Yang Mulia."

"Baiklah," ucap Mo Young tanpa semangat karena sedih harus ditinggal Lee Kyu.


Ho Geol masuk. Lee Kyu bertanya soal aturan pembayaran beras. Ho Geol menenangkannya karena dia akan mengatasi semuanya. Lee Kyu pun langsung pergi tanpa banyak kata yang tentu saja membuat Ho Geol bingung.

"Ada apa dengannya hari ini? Dia seperti orang yang akan dihukum mati. Atau jangan-jangan dia punya virus mematikan?"

Mo Young meliriknya tajam.

"Aku hanya bercanda."


Lee Kyu minum-minum ditemani Woon Shim.

"Kamu pasti punya berita bagus," tanya Woon Shim.

"Benar. Seolah-olah aku bertemu cinta lamaku. Aku merasa senang."

Woon Shim malah tersenyum.

"Aku baru saja bilang jika aku bertemu cinta lamaku. Bagaimana bisa kamu tidak cemburu?"

"Aku selalu ingin kamu memiliki seseorang untuk berbagi beban dipundakmu. Jika ada orang yang bisa, walaupun bukan aku, aku akan senang."

"Aku bohong. Tapi responmu tetap membuatku marah." (Btw, Lee Kyu sama Woon Shim pernah jadi pemeran utama di satu drama loh. Judulnya 'Lawyer' drama jadul tahun 2005 hahaha)

Woon Shim tersenyum. "Lalu kenapa kamu berbohong padaku?"

"Aku mencoba yang terbaik untuk tidak melihat kembali masa laluku. Aku hidup dalam banyak penyesalan sebelumnya. Jadi aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak merasakan hal itu lagi."

Woon Shim bertanya apa itu soal Tuan Gil Sam Bong. Lee Kyu membenarkan.

"Akan tetapi, ada hal lain yang juga aku sesali. Saat itu kamu baru saja menyelesaikan pelatihanmu. Kamu memintaku menghabiskan malam bersamamu dan menata rambutmu."

Woon Shim menimpali, "Kamu langsung menolak permintaanku."

"Sejak itu, aku menyesal tidak pergi bersamamu." Woon Shim tertegun. "Lalu dari waktu ke waktu aku bertanya jika masih ada kesempatan untuk kita. Jika aku memintamu pergi bersamaku ke perbatasan, apakah kamu mau?"



Wokn Shim menangis haru. Dia mengangguk. Lee Kyu yang sudah terlalu banyak minum ambruk di pangkuan Woon Shim.

"Kamu tidak tahu sudah berapa lama aku menunggumu mengatakannya. Aku tidak peduli jika kamu menyebutku bodoh. Aku senang akhirnya aku bisa mendengar kamu mengatakannya."


Jinpyung sedang berkumpul bersama prajuritnya. Dia membaca sebuah surat dan mengatakan kalau mereka sudah siap berkomunikasi dengan keempat gerbang. (Jangan-jangan mereka mau nyerang istana). Anak buahnya mengatakan kalau ada beberapa divisi yang ingin bergabung dengan mereka. Jadi mereka total mendapat tambahan tentara sebanyak 3000 orang.

Jinpyung mengatakan kalau kartu utama mereka masih berada di ibukota Joseon. Jadi mereka harus menunggu sampai bisa mendapatkannya. (Asumsiku kartu utamanya itu surat raja buat jenderal Nurhachi yang bisa jadi bukti kalau Joseon berhianat sama Ming)


Seorang penjaga memberi nasi kepal pada Shin Ci Soo. Saat mengginggitnya, dia menemukan kertas dengan tulisan 'pembobolan penjara'. Dia tersenyum lalu memakan kertas itu bersama nasi kepalnya.


Ha Sun menemui So Woon di perpustakaan. "Apa kamu sudah mengirim ayahmu dengan damai?"

"Ya. Berkat kamu, pemakamannya berjalan dengan lancar."

"Maafkan aku. Aku tidak menepati janjiku. Ku bilang kita harus berbagi kesedihan."

"Jangan mengatakannya. Aku tahu jika terjadi hal darurat di istana. Aku tidak bisa berbagi beban denganmu. Maafkan aku."

"Sejujurnya itu sangat berat. Menjadi raja sangat berbeda setiap harinya. Aku sadar jika harus menangani beban berat dan sulit sendirian setiap hari."

"Apa kamu takut?"

"Iya."

"Apa kamu akan kembali ke kehidupan lamamu?"

"Sejujurnya aku terkadang berpikir begitu."

"Jika kamu ingin melarikan diri, aku akan ikut lari bersamamu. Jika kamu ingin menahannya, aku akan berdiri bersamamu."

Ha Sun tersenyum. "Terimakasih sudah mengatakannya. Aku tidak akan lari atau menghindarinya. Aku akan bertarung dengan semua kekuatanku. Perhatikan aku melakukannya."

"Aku akan berada disisimu selamanya untuk memberimu kekuatan."


"Lalu apakah kamu bisa membantuku?"

"Katakan apa yang kamu mau."

Ha Sun meminta So Woon menerjemahkan laporan dari setiap provinsi yang biasanya dilakukan Kasim Jo meskipun penglihatannya kabur.


Tapi ternyata Ha Sun sudah bisa membaca meskipun tersendat-sendat. Akhirnya So Woon bukan menerjemahkan tapi mendampingi Ha Sun belajar membaca laporan itu sendiri.


Pedagang dari Juncheon menemui Lee Kyu di tempat hiburan. Lee Kyu terkejut setengah mati saat tahu surat darinya dicuri. Dia panik karena ada segel raja di surat itu. Dia bertanya pada pedagang siapa orang yang menyerangnya. Si pedagang menjawab dia tidak melihat wajahnya karena dia dipukul dari belakang. Tapi dia mendengar seseorang berkata, "Dewan penasihat bagian kiri pasti senang."

"Shin Ci Soo?"


Lee Kyu bergegas mendatangi Shin Ci Soo di penjara. Dia bertanya dimana Shin Ci Soo menyimpan surat rahasia raja.

"Oh. Catatan berbahaya itu?"

"Itu berisi tekad raja untuk menyelasaikan masalah negara dan rakyatnya. Bagaimana bisa itu bertentangan dengan moral kita?"

Shin Ci Soo heran dengan Lee Kyu. Dia lahir sebagai bangsawan dan dibesarkan dengan semua yang dia inginkan. Tapi kenapa malah bergaul dengan kasta rendah dan menyalahi aturan dan moral. Sedangkan Shin Ci Soo lahir dari keluarga sederhana. Dia mendapatkan semuanya dengan kemampuannya sendiri (kemampuan korupsi maksud lo).

"Jika aku jadi kamu, aku akan menikmati semua yang aku dapatkan. Meningkatkannya beberapa kali dan meninggalkannya untuk keturunanku."

"Kamu memenuhi hasratmu sendiri atas nama keturunanmu?"

Shin Ci Soo berkata kalau dia dan Lee Kyu itu sama. Jadi jangan menyangkalnya.

"Aku tidak akan menyangkalnya. Tapi aku dan kamu mengambil jalan yang berbeda. Untungnya aku dua kali bertemu raja yang mengerti keinginanku. Aku tersesat dan berbuat salah sekali. Tapi kali ini, aku tidak akan tersesat. Karena aku berencana untuk pergi."

"Pergi? Kamu? Kamu pikir bisa menipuku?"

"Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak. Dimana surat itu?"

Shin Chi Soo tidak mau memberitahu. Lee Kyu sangat geram. Shin Ci Soo menantangnya untuk membun*hnya saja.


"Kamu tidak berani? Apa karena kamu tidak punya pedang?"

Tiba-tiba sebuah pedang diarahkan ke leher Lee Kyu. Orang-orang berpakaian hitam datang membobol penjara. Lee Kyu di bawa ke halaman penjara. (Penjaranya di sabotase gaess)


Lee Kyu dipaksa  berlutut. Shin Ci Soo menarik sebuah pedang lalu mengacungkannya ke leher Lee Kyu.

"Aku meminta pedang dan aku diberikan satu. Ternyata langit berpihak padaku."

"Tentunya langit itu berbau korupsi."

"Itu tidak masalah sepanjang langit setuju denganku."


Seorang penjaga gerbang ibukota terkena panah di dadanya. Jinpyung dengan pakaian perangnya telah siap bersama ribuan prajuritnya. Mereka menerobos gerbang ibukota.

Kasim Jo dengan panik masuk ke perpustakaan memberitahu Ha Sun kalau ada pemberontakan.


Ha Sun dan So Woon terlihat sangat terkejut.

Bersambung ke The Crowned Clown episode 15 part 1



Read More

Buang Hong Episode 1 Part 3

Buang Hong
Episode 1 Part 3
(A Lasso For A Swan)


Sumber konten dan gambar : TVN

Baca part sebelumnya


Kittichai sedang menelepon seseorang. Dia tampak kesal saat si penerima telepon belum mengatasi apa yang dia suruh. Kittichai mengancam tidak akan membayar sepeserpun kalau orang itu tidak secepatnya melaksanakan yang dia minta.

***

Seorang pegawai pria masuk ke ruang kerja Ramet diam-diam. Dia hendak memasukkan kunci ke pintu saat tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam. Ternyata cleaning service yang sedang beres-beres ruangan Ramet. Tongchai (pegawai pria) mengatakan dia ingin mengambil dokumen untuk Ramet. Si cleaning service berpesan untuk tidak mengunci pintunya karena dia akan kembali lagi untuk membersihkan kamar mandi.


Di meja resepsionis, seorang pegawai tampak sedang mengoleskan lipstik dengan warna mencolok di bibirnya.

"Ini dipersembahkan oleh model terpanas tahun ini. Gimana? Apa aku sudah secantik Pim?" Tanya pegawai itu pada rekannya.

Tiba-tiba Ramet datang. Sontak si rekan langsung kabur.

"Lipstik baru? Cocok buat kamu."

Si pegawai tersenyum dan berterimakasih.

"Tapi itu melanggar peraturan hotel kita. Jangan sampai aku melihatnya lagi."

Si pegawai pun mengangguk ketakutan.

Beberapa saat kemudian sekretaris Ramet datang dengan wajah panik meminta Ramet bergegas ke ruangannya.

Tampak dua orang pegawai mengintip Ramet yang buru-buru masuk ruangannya bersama anak buahnya.


Tongchai membuka brangkas Ramet dengan kode yang dia catat di sebuah kertas. Dia segera mencari dokumen yang dia incar. Saat dia dia menemukannya, Ramet bersama sekretaris dan beberapa anak buahnya datang menangkap basah.

"Tongchai!" Ucap Ramet tidak percaya pegawainya sendiri berusaha mencuri darinya.


Ayah Pim menghubungi seseorang meminta bantuan dana sebesar 200 milyar. Orang diseberang sepertinya belum bisa memutuskan. Ayah Pim meminta dia mempertimbangkannya.

Pim datang tepat setelah ayahnya mematikan telepon. Dia langsung memeluk ayahnya.

"Ayah pergi beberapa hari. Aku sangat cemas tahu."

"Maaf deh. Ayah kan pergi ke China buat kerja. Ayah sibuk jadi nggak bisa telepon kamu. Jangan marah yah."

"Kalau gitu Ayah harus bayar penalty nya."

"Penalty? Gimana caranya?"

"Aku pengen mobil baru."

Wajah Tuan Trai langsung berubah muram.


Salah seorang anak buah Ramet bertanya pada Tongchai siapa yang mengirimnya.

"Kenapa aku harus cerita?"


Bugg!! Tongchai dipukuli sampai sudutnya meneteskan darah. Dia terjatuh tepat dihadapan Ramet hingga darahnya menetes di salah satu sepatu Ramet.

Ramet mengambil sapu tangan di kantong bajunya. Dia menyodorkannya pada Tongchai. Tongchai agak terkejut. Dia hendak mengambil sapu tangan itu tapi Ramet menjauhkan tangannya dan menggunakan sapu tangannya untuk mengelap sepatunya.

"Kamu tahu aku nggak suka barang yang kotor."

Tatapannya euy bisa bikin salah paham
Ramet mengelap bibir Tongchai dengannya. "Gimana aku harus membalas orang yang tidak jujur?"


Tiba-tiba Tongchai bangkit dan menyerang anak buah Ramet. Dia berusaha kabur dari sana. Ramet menyambar pist*l di saku anak buahnya. Tepat saat Tongchai sampai di pintu, Ramet melepaskan sebuah tembakan. Tongchai ambruk ke lantai.

***

Tuan Trai terkejut mendengar nominal mobil baru yang diinginkan putrinya.

"Hah? 10 milyar?"

"Iya Ayah. Ini murah banget (mwo??). Temanku ingin membelinya sebagai hadiah untuk pacarnya. Tapi mereka putus. Aku sangat senang melihatnya. Please!"

"Pim. Ayah kan baru aja beliin kamu mobil baru 3 bulan yang lalu. Kalau emang perlu ya nggak usah beli. Lagian kita masih punya banyak mobil di rumah. Atau kamu mau pakai mobil Ayah kalau kamu mau," ucap Tuan Trai berusaha memberi pengertian pada Pim.

"Ayolah Yah. Semua mobil itu udah ketinggalan jaman. Aku pengen mobil baru. Please!"

Tuan Trai bingung mau menjawab apa. Pim malah ngambek.


"Apa Ayah udah nggak cinta lagi sama Pim? Ayah juga ingkar janji sama Ibu. Ayah janji nggak akan nikah lagi. Tapi Ayah malah bawa wanita itu ke rumah. Ayah bilang cuma sayang sama aku dan bakal ngasih apapun buat aku. Tapi Ayah ingkar janji lagi! Ayah kasih semuanya buat si ibu tiri itu. Dua minggu lalu aku ketemu sama dia di condo opening. Ayah tahu apa yang dia bilang? Dia bilang Ayah itu bod*h karena ngebiarin dia buat ngebod*hin Ayah. Tapi Ayah malah kasih semuanya buat dia karena Ayah cinta sama dia. Dia nggak peduli Yah!! Ayah pikir dia lebih baik dari aku??! Aku nggak sayang lagi sama Ayah!!"

Tuan Trai mendekati Pim dan meraih kedua tangannya. Pim menghempaskannya.

"Pim. Dengerin Ayah. Dalam hidup Ayah, nggak ada orang lain yang lebih Ayah cintai selain kamu."

"Jadi, Ayah mau kan beliin aku mobil baru?" (Jangan dicontoh nih kelakuan si Pim)

Tuan Trai galau deh.


Ramet menghampiri Tongchai yang kakinya lemas mendengar suara tembakan. Ternyata tadi Ramet tidak menembaknya.

"Tembakan pertama, itu hadiah buat kerja kerja keras kamu selama 6 bulan. Tapi untuk ronde kedua. Itu akan jadi hadiah untuk seorang penghianat. Aku akan memberimu kesempatan lain."

Ramet menodongkan pist*lnya ke perut Tongchai. Sontak Tongchai panik ketakutan.

"Siapa yang mengirimmu?"

Tongchai menjawab dengan terbata-bata. "Aku akan mengatakannya padamu Khun Ramet."


Kittichai sedang duduk santai di sofa kantornya. Sekretarisnya masuk membawa sebuah tablet. Dia bilang ada mengirim video untuk Kittichai. Dia tidak tahu isinya karena dia belum membukanya.

Kittichai kaget saat membuka video itu yang ternyata berisi rekaman pengakuan Tongchai kalau dia yang mengirimnya. Kittichai tampak sangat kesal.

***

Ramet memegang flashdisk yang menyimpan rekaman pengakuan Tongchai. Sekretarisnya heran kenapa Ramet tidak menyerahkan bukti itu pada polisi.


Ramet mengatakan kalau dia tidak bisa melaporkan Kittichai tanpa bukti yang kuat. Karena mungkin saja Kittichai punya koneksi yang bisa saja malah membahayakan Ramet.

Ramet memasukkan flashdisk beserta dokumen yang hendak dicuri Tongchai ke dalam brangkas.

"Apa peringatan ini akan menghentikan Kittichai?"

Ramet duduk di kursi kerjanya. "Kita tunggu dan lihat saja. Aku tidak ingin melaporkannya ke polisi sekarang karena itu bisa saja berdampak pada image hotel kita."

***

Pim menghentikan mobil barunya di depan rumah. Dia meminta asisten rumah tangganya untuk memarkirkannya. Setelahnya Pim langsung masuk ke kamar ayahnya dan memeluknya. Dia berterima kasih karena ayahnya sudah mengabulkan keinginannya.

"Aku tahu Ayah sangat mencintaiku."

"Kamu kan satu-satunya putri Ayah. Ayah ingin kamu bahagia."

"Pim bahagia kok. Pim punya ayah yang sangat tampan, pintar, dan kaya. Dan yang paling penting, Ayah adalah orang yang paling baik di dunia."


Ayah menasihati Pim kalau hidup itu tidak pasti. "Kalau suatu hari Ayah tidak lagi punya uang yang bisa kamu gunakan dengan bebas seperti hari ini. Ingatlah, kamu tetap satu-satunya orang yang paling Ayah cintai."

"Gimana bisa Ayah nggak punya uang? Ayah kan pengusaha real estate paling kaya sekarang."

Pim pamit mau mandi. Dia mencium ayahnya dan mengingatkannya untuk tidak tidur terlalu larut.

***

Di Martha Showroom, dua assisten Khun Vi sedang menggosipkan Pim yang jadi sangat laku setelah acara fashion show di condo opening. Pantesan dia bisa beli mobil mewah baru.

Khun Vi masuk dan terlihat kesal saat ditunjukkan majalah yang membahas soal Pim.

"Dasar! Dia pamer kekayaan."

"Itu belum apa-apa Khun Vi. Dia pergi belanja setiap hari. Pergi ke banyak event. Reporter menulis beritanya tanpa henti. Dia menutupi berita baru tentang martha collection fashion show. Aku nggak ngerti kenapa kamu tetap diam seperti ini Khun Vi," ucap si asisten panjang lebar.


Khun Vi tersenyum sinis. "Dia nggak akan lama kayanya. Dia sangat sombong berpikir kalau dia itu angsa. Saat sayap angsanya patah, aku akan menginjaknya."

"Sayap angsa patah? Apa maksudmu? Kamu tahu sesuatu Khun Vi?"

Khun Vi hanya tersenyum. Lalu dia mendapat sebuah panggilan tentang pemberitahuan kalau perusahaan perhiasan yang akan bekerjasama dengannya dalam fashion show meminta model finalnya diganti dengan Pim.

Awalnya Khun Vi tampak kaget. Tapi kemudian dia tersenyum. "Aku tidak masalah. Tapi bisakah aku meminta sesuatu?"

***

Ramet dan sekretarisnya berjalan menuju ruang kerjanya. Ramet memberitahu kalau dia akan pergi ke Bangkok untuk urusan bisnis. Si sekretaris meledek Ramet pergi untuk bisnis atau seorang wanita? Ramet menjawab kalau dia tertarik tentang wanita.


Tapi saat sampai di lobi ruangannya, Ramet langsung tertarik melihat sebuah majalah dimana Pim jadi cover modelnya. Dia mengambil majalah itu lalu memperhatikan gambar Pim. Tentu itu jadi bahan ejekan sekretarisnya.

Ramet beralasan kalau dia tertarik dengan isi majalah itu.

"Baiklah. Kamu tidak tertarik pada wanita tapi kamu ternyata tertarik pada majalah fashion. Okay akan aku bawakan ke ruanganmu."

Ramet ngacir salah tingkah.


Paul habis menjual tas yang dia curi di rumah Pim. Pim meneleponnya mengatakan kalau dia ada fashion show sore ini. Paul minta maaf karena tidak bisa mengantar Pim dengan alasan sedang bersama ibunya. Tapi dia berjanji akan menjemput Pim nanti.

Pim tidak mempermasalahkannya. Setelah menutup telepon, ada panggilan masuk dari Kao Organize. Pim mereject-nya.


Ramet sudah berada di Bangkok, di condo milik Pakorn. Mereka membuat kopi di mesin kopi sambil mengobrol. Pakorn mengajak Ramet pergi ke fashion show perhiasan. Ramet menyindirnya yang cuma pengen tahu trend perhiasan demi pacarnya. Pakorn nyinyir balik kalau Ramet harus segera menemukan cewek karena keluarga Ramet itu sudah pengen punya menantu perempuan.

Pakorn akan mengenalkan Ramet pada seorang desainer karena yang dia dengar Ramet akan mengadakan fashion show amal di hotelnya akhir tahun ini.

"Dia cantik dan pintar. Deal?"

Ramet tidak menjawab. Tetapi sepertinya dia akan mempertimbangkannya.

Bersambung ke Buang Hong episode 1 part 4





Read More