He is Psychometric Episode 11 Part 4

He is Psychometric
Episode 11 Part 4
Sumber konten dan gambar : TVN

Maaf readers. Gambar menyusul ya. Mau kebut dulu nyelesaiin episode 12 soalnya ntar malam kan episode 13 udah tayang. Biar bisa sesuai jadwal seperti biasanya. Terima kasih atas pengertiannya :)

Ji Soo keluar dari ruang rawat Jae In. Lee An menyusulnya dan bertanya apa Ji Soo tidak apa-apa. Ji Soo bilang dia sudah terbiasa ditolak oleh Sung Mo. "Saat dia sudah keluar, kita ketemu lagi," ucap Ji Soo lalu berlalu pergi.

Lee An mengintip Jae In yang sedang mempelajari berkas yang bawa Ji Soo. Dia tersenyum melihatnya.

Lee An mendatangi resepsionis dan bertanya apa ada perpustakaan di rumah sakit. Setelah ditunjukkan letaknya, Lee An langsung ke perpustakaan dan membaca buku dongeng 'The Little Prince'. Dongeng yang sempat di ceritakan pria bermasker pada Jae In.

Sampai malam, Jae In masih sibuk menekuri berkas-berkas. Lee An masuk sambil menenteng buku yang tadi di bacanya.

Jae In memberitahu kalau pria itu mematikan cctv sebelumnya dan merencanakan pembunuhan secara menyeluruh. Tapi dia mengggunakan cara sederhana untuk membunuh para korbannya. Pria itu menikam perut korban dalam ketiga kasus itu.

"Ada yang tidak biasa. Pisau yang ditemukan di tkp itu belum siap pakai," kata Jae In.

"Apa maksudnya itu."

"Sepertinya dia membuatnya sendiri." Jae In melihat sendiri keahlian pria itu saat mengambil kelas seni kawat. Dia sangat bagus. Mungkin saja dia membuat sendiri belenggu (rantai) yang digunakan untuk mengikat Jae In. "Ngomong-ngomong, kamu dari mana?"

Lee An duduk di depan Jae In lalu membacakan salah satu halaman di buku The Little Prince.

"Ini waktu yang kamu habiskan untuk bunga mawar itu. Itu membuat mawarmu sangat penting. Kamu menjadi bertanggung jawab atas apa yang telah kamu jinakkan."

"Benar. Dia membicarakan tentang buku itu."

"Aku mencoba membacanya untuk mengetahui psikologinya. Tapi itu sulit. Menurutku, ini hanya dongeng yang mengharukan."

"Waktu yang kamu habiskan untuk bunga mawar. Itu berarti hubungan mereka terikat jauh sebelum mereka pindah ke Apartemen Yoengseong," ujar Jae In.

"Jae In. jangan berpikir yanng tidak-tidak dulu." Lee An menutup semua berkas di depannya. "Berhentilah di simi," pinta Lee An.

"Rasanya nyata bagiku.ayahku bukan pelakunya."

"Jadi jangan menangis lagi. Jangan pernah!"

"Tidak akan. Ada kamu di sini kenapa aku harus menangis?"

Lee An tersenyum mendengarnya. "Itu terdengar baik."

Jae In menatap Lee An. "Kenapa?" tanya Lee An," tanya Lee An.

"Aku menyukaimu, Lee An." Lee An sedikit tertegun mendengarnya. "Sangat. Orang bilang, saat kamu berpikir kamu akan mati pemandangan hidupmu terbentang di depan matamu. Itu juga sama bagiku. Aku teringat bahwa aku tidak pernah memberitahumu hal  ini."

"Hei! Meski begitu, aku yang akan mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu. Kamu menghancurkan semuanya,"protes Lee An.

"Kalau begitu kamu juga harus melakukannya."

"Hei! Aku pasti hmm akan melakukannya hmm,, apa itu mudah di ucapkan?" (Mereka ini saling jujur tapi tetep aja pada canggung. lucu ngeliatnya)

"Yah... Baiklah. Nanti lakukanlah."

Lee An tersenyum mendengar keberanian Jae In. Dia sedikit mendekatkan wajahnya. "Jujurlah padaku. Kamu mau mendengarnya dariku?" Goda Lee An.

Eng ing eng...

"Ya aku mau mendengarnya." (Nah loh)

Lee An mundur lagi. "Kenapa kamu begitu mudah hari ini? hei! harusnya kita tidak terlalu mudah untuk saling berhadapan. Atau kita bisa menyebabkan kecelakaan besar."

"Tidak bisakah kita menyebabkan kecelakaan besar itu?" (Hayooo loo Leee An)

Lee An tertegun. "Kamu tahu apa artinya itu?"

Jae In tersenyum. Senyumnya artinya dia cuma bercanda. Lee An yang tadinya sudah gugup akhirnya ikut tersenyum lebar. "Astaga!"

"Lihatlah. Senang melihatmu tersenyum. Sama seperti saat kamu membuatku tersenyum setiap kali aku berjuang. Saat ada hal-hal sulit bagimu, aku akan membuatmu terseyum," ucap Jae In sambil tersenyum menatap Lee An.

Lee An menatap Jae In sejenak. Lalu tanpa aba-aba dia mengecup bibir Jae In. Mereka saling menatap. And then, bayangin sendiri!!

***

Jae In sudah keluar dari rumah sakit. Dia sedang menyapu halaman. Lee An ingin menggantikannya tapi Jae In tidak mau. Jae In mengomentari cuaca yang hangat. Dia berharap musim semi cepat datang.

"Benar. Itu akan bagus," ucap Lee An.

Pak Nam keluar dan bilang kalau Jae In tidak boleh bekerja keras dulu karena baru keluar dari rumah sakit. Jae In beralasan kalau itu bisa jadi terakhir kalinya dia membersihkan halaman. Pak Nam bertanya apa maksudnya. Kata Lee An, Jae In mungkin akan diangkat menjadi bagian Unit Investigasi Khusus. Jae In tersenyum malu.

Ji Soo datang dengan membawa kotak biru besar. Dia lalu meletakkannya di dalam. Lee An bertanya kenapa Ji Soo membawa barang-barangnya ke pusat keamanan.

"Karena kita akan menyelidiki kasus ini di sini." Doenggggg kecewa deh Jae In. "Ku bilang aku butuh kerja sama kalian dalam penyelidikan. Tapi bukan berarti aku akan menunjukmu di unitku."

"Wah. Bagaimana bisa kamu membodohi temanmu?" protes Lee An.

"Kamu juga berpikiran hal yang sama, Petugas Yoon?"

Jae In membenarkan. Ji Soo menjelaskan alasannya karena Jaksa Kang sedang cuti jadi unit akan berhenti beroperasi untuk saat ini. Dia meletakkan pot bunga matahari imitasi dan fotonya bersama ayahnya di meja. "Secara resmi, itu berakhir dari kasus Yoengseong ke kasus mayat dalam koper. Dalam beberapa hal, aku sedang menyelidiki kasus ini sendirin."

Jae In jelas sekali kecewanya. "Aku tida tahu kami akan membungkuk begitu rendah."

Ji Soo sampai tidak percaya mendengarnya. "Petugas Yoon. Aku kecewa padamu. Kamu menganggap tempat ini rendah?" Ji Soo menunjuk Pak Nam yang sedang duduk di kursinya sambil mencabuti bulu hidung. "Letnan Nam adalah anggta veteran pasukan," puji Ji Soo. Tapi begitu melihat apa yang sedang dilakukan Pak Nam, Ji Soo langsung menyuruh Jae In jangan terlalu memikirkannya karena Pak Nam sudah hampir pensiun.

Jae In bertanya apa Pak Nam juga masuk dalam tim. Ji Soo mengiyakan.

Pak Nam angkat bicara. "Tunggu. Aku tidak tahu apa maksudnya ini, Tapi sepertinya ada kesalahpahaman. Aku tidak bermaksud terlibat dan mengejar penangkapan di usia ini."

Ji Soo ngambek. "Kalian semua menentangku berada di sini? Harukah aku kembali saja?"

"Bukan kembali. Tapi membawa kami ke unit investigasi khusus," timpal Lee An.

Jae In ikut nimbrung. "Kalau tidak bisa setidaknya di unit kejahatan kekerasan."

Ji Soo kesal. "Kamu juga? Kamu bisa menjadi petugas percobaan, tapi An...."

An nggak terima. "Apa? Apa?" tanya Lee An dari belakang Jae In tanpa bersuara.

Ji Soo ganti menatap Pak Nam. "Tidak bisa."

"Apa itu? Kamu bilang kami tim. Tapi aku merasa dikucilkan," protes Pak Nam.

"Aku akan menjelaskannya saat aku kembali." Ji Soo membawa tasnya. "Ayo. Aku pinjam Petugas Yoon sebentar. Kajja Kajja Kajja! Lee An mengikuti Ji Soo dan Jae In.

Pak Nam ngedumel sendiri. "Ini bukan hanya perasaanku. Aku pasti sedang dikucilkan,"gerutu Pak Nam sambil berjalan mendekati meja tempat Ji Soo meletakkan berkasnya. Dia tertegun melihat berkas Apartemen Yoengseong. (Wah. kayaknya Pak Nam tahu sesuatu nih)

***

Pak Eun sedang termenung sendiri di kantornya memikirkan perkataan Ji Soo yang akan menyelidiki kembali kasus Apartemen Yoengseong. Dia minta ayahnya tidak menghentikannya. Pak Eun mengurut keningnya. Di belakangnya, tampak karangan bunga dari Konstruksi YSS.

Tim LJJ (Lee An, Jae In, Ji Soo) kita sedang menuruni tangga. Ji Soo bilang mereka harus mencari Kang Eun Joo lebih dulu. Jae In menemukan sebuah alamat di berkas. Kota Gangryeong di Provinsi Gangwon. Ji Soo menjelaskan kalau nyonya Kang tinggal di sana sampai tahun 1996, tapi setelah itu dia sering pindah-pindah. Dia berkeliaran di seluruh negeri.

"Maka bisa jadi saat itu dia mulai melarikan diri dari pria itu," ujar Jae In.

Ji Soo meminta Jae In memeriksa berkas akta kelahiran Sung Mo. Anehnya, Sung Mo lahir pada 24 Mei 1988, tapi kelahirannya di daftarkan tahun 1996. Telat 9 tahun. Dan lagi, dia tercatat di bawah Kang Eun Joo dan tidak ada catatan tentang ayahnya.

"Kalau begitu berarti,,," ucap Lee An. Ji Soo bertanya apa An tahu sesuatu tentang ayah Sung Mo. An menggeleng. Ji Soo berharap mereka salah tentang ini (kalau pria itu ayah Sung Mo).

***

Tim LJJ pergi ke pabrik baja Gangryeong yang sudah terbengkalai. Mereka bertiga masuk ke dalam pabrik itu. Ji Soo mendapat telepon dari dr. Hong. Dia meminta Jae In mencari benda yang ada hubungannya dengan masa kecil Sung Mo, dan An melakukan tugas psikometrinya. Ji Soo keluar untuk mengangkat telepon dr. hong.

An dan Jae In mulai berkeliling. Jae In menduga pria bermasker membuat pisau dan belenggunya sendiri di sana. Jae In menemukan jejak kaki yang masih terlihat baru. Mereka mengikuti jejak kaki itu.

dr. Hong memberitahu kalau dia tidak berhasil mengidentifikasi tersangka. Tapi dia menemukan kasus dingin (kasus yang tidak terpecahkan) terkait sidik jari itu.

"Kasus dingin?"

"Itu terjadi pada tahun 1996 di Yeonhyedong, kota Gangryeong. Mereka mengumpulkan sidik jari pelakunya, tapi kasus ini tidak dapat terselesaikan karena mereka tidak bisa mengidentifikasinya."

Ji Soo melihat tulisan di sebuah papan di depan pabrik baja itu. Di sana tertulis, Perdagangan Baja Gangryeong, 12-5 Yeonhye-dong.

Sementara di dalam, Jae In dan Lee An masih mengikuti arah jejak kaki itu sambil sesekali Lee An menyentuh barang di sekitarnya. Mereka menemukan jejak kaki itu mengarah ke sebuah pintu, An menyentuh pintu itu dan melihat Sung Mo bertopi hitam membuka pintu itu dan masuk ke dalam.

"Apa ini? Hyung ada di sini."

Mereka berdua masuk ke dalam ruangan yang penuh dengan sarang laba-laba. Jae In melihat jejak kaki lagi yang mengarah ke sebuah pintu. Dia menyentuh pintu dan heran karena hanya bagian tertentu yang tidak berdebu seperti ada yang baru saja membukanya. Dia pun membuka pintu itu. (Berasa nonton film horror pas bagian ending ini)

Lee An menjulurkan tangannya ke dalam. Dan ternyata di dalamnya ada pintu lagi. An menyalakan lampu senter ponselnya.

"Apa ini? Kenapa ada pintu jebakan di sini?" gumam An.

"Apa mengarah ke ruang bawah tanah?"

An menjulurkan tangannya lagi untuk menyentuh pintu jebakan. Dia langsung terjingkat kaget begitu menyentuhnya. (Sumpah horor!)

An melihat Sung Mo kecil berlari keluar dari pintu jebakan. Terdengar suara Kang Eun Joo yang menyuruhnya lari dari sana.

Kembali ke penjelasan dr. hong. "Selama 9 tahun, seorang pria membuat wanita dan anaknya terkunci di ruang bawah tanah (Ommo!!!)

Ji Soo kaget mendengarnya. Jae In melihat ke arah Lee An memandang dengan tatapan terkejut.

Bersambung ke He is Psychometric episode 12 Part 1

Read More

He is Psychometric Episode 11 Part 3

He is Psychometric
Episode 11 Part 3


Sumber konten dan gambar : TVN

Ji Soo mendapat kabar dari Det. Lee kalau kalau kartu identitas yang mereka temukan ternyata palsu. Dan juga, mobil yamg digunakan pria bermasker (bukan Kim Young Ho lagi karena ternyata identitas palsu) adalah mobil sewaan. Ji Soo lalu menelepon dr. Hong dari dalam mobilnya. Dia memberitahu kalau dia sudah memeriksa semua cctv tapi tidak menemukan Kang Eun Jo. Dia menebak kalau Sung Mo yang sudah mengambil semua rekamannya saat datang kemarin.

"Mengikutinya berkeliling sudah menjadi spesialisasiku," ujar Ji Soo.

"Jadi jaksa Kang juga tidak tahu keberadaan Kang Eun Joo?"

"Itu mengingatkanku. Kudengar mereka menemukan sidik jari penculik Petugas Yoon."

Dr. Hong membenarkan. Dia langsung memeriksa komputernya. "Seperti yang kamu tahu, proses pencarian membutuhkan waktu."

"Dr. Hong. Aku ingin minta sesuatu."

"Aku tahu. Sampai kita mencari sesuatu dengan pasti, kamu mau aku merahasiakan ibunya jaksa Kang."

Ji Soo tersenyum miring. "Kamu yang terbaik."

"Detektif Eun. Hati-hatilah di sana! Jika jaksa Kang benar, kamu bisa berada dalam bahaya juga," ucap dr. Hong cemas.

"Aku akan menemuimu setelah aku kembali." Ji Soo menutup teleponnya. Dia menatap gantungan bunga matahari di mobilnya.

***

Jae In membuka matanya. Dia menoleh ke samping dan menemukan Lee An yang tertidur sambil menggenggam tangannya. Jae In memiringkan tubuhnya dan menatap Lee An. Dia menggenggam tangan An dengan kedua tangannya. Setelah menatap tangan itu sejenak, Jae In hendak bangun.

Tapi Lee An menariknya agar berbaring kembali. Mata An masih terpejam. Sebelah tangannya dia letakkan melintang di bawah tengkuk Jae In. Dia berkata, "Biarkan seperti ini."

"Tapi kamu juga terluka. Tunggulah selagi aku mencari perban untukmu," ucap Jae In menatap Lee An.

Lee An malah mengeratkan genggaman tangannya. "Seperti ini,,, hanya itu yang ku butuhkan." Aigoo! Baper akunya

Jae In terus menatap Lee An yang tidak juga membuka matanya.

"Pasti membuatmu takut," ucap Lee An.

Jae In menggeleng. "Aku tahu kamu akan menemukanku."

Lee An membuka matanya lalu menatap Jae In. Dia sedikit mengangkat kepalanya agar bisa melihat Jae In dengan lebih jelas."Aku takut. Aku mungkin tidak akan memegang tanganmu lagi. Aku takut mati."

"An~a. Berandal itu. Berandal yang membawaku. Dia mengambil jaket ayahku. Itu sebabnya ayahku dijebak. Aku baru ingat wajahnya."

"Aku tahu."

"Kamu dengar ibunya Jaksa Kang masih hidup? Aku yakin dia sedang mencari ibunya Jaksa Kang. Tapi dia terjebak. Jadi dia mengejar."

"Kamu tidak perlu jelaskan."

"Apa yang terjadi di gudang? Kamu sudah melihat semuanya."

"Hmmm. Jadi untuk sesaat, kita lupakam itu. Kamu terus menangis dalam mimpimu. Dan sekarang dia yang kamu bicarakan. Berandal itu, aku akan menemukannya apapun yang terjadi. Dengan kemampuanku, aku hanya bisa melihat sebagian. Tapi dengan itu, aku akan mengumpulkan semuanya."

"Ibu Jaksa Kang dan si berandal itu. Kamu akan menemukan keduanya. Aku percaya itu."

"Aku butuh bantuanmu. Tanpamu aku bukan psikometri. Aku hanya seorang psiko."

Jae In tersenyum. "Baiklah."


An menarik Jae In mendekat. Mereka berdua memejamkan matanya.

Eng ing eng. So Hyun ternyata mengintip dari luar dan senyum-senyum sendiri melihat Jae In dan Lee An yang sudah akur kembali.

Tiba-tiba Dae Bong datang mengejutkannya. "Kamu sedang apa?"

Sontak So Hyun berbalik. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Dae Bong. Dia meletakkan jari di depan bibirnya. "Sssstttt. Kunjungan kita hanya akan mengganggu mereka. Biarkan mereka."

Dae Bong merenges sambil terus menatap So Hyun. "Ya."

So Hyun baru menyadari kedekatan mereka. "Kenapa menatapku? Ayo!" So Hyun melenggang pergi.

Dae Bong tersenyum lebar. "Tenanglah! Jantungku berdetak." Dia lalu menyusul So Hyun. So Hyun merasa lega melihat Jae In dan Lee An bersama lagi.

"Jae In sudah melalui banyak kesulitan. Aku ingin dia bahagia."

"Fokuslah pada kebahagiaanmu," gumam Dae Bong.

"Apa?"

"Tidak. Tidak ada."

"Ngomong-ngomong. Apa itu psikoris?"

"Apa?"

"Aku mendengar bagian ini dari percakapan mereka. Psikoris? Psikometris? Ah! Apa semacam gitaris atau pemain cello?"

"Oh. Benarkah?" Dae Bong pura-pura tidak tahu. Dia lalu bertanya dimana Eun Sol. So Hyun bilang dia menitipkannya pada gurunya selama dua jam. Dia melihat jamnya dan bilang akan beli popok dulu mumpung masih ada waktu. Dae Bong menawarkan bantuan. So Hyun langsung menolaknya mentah-mentah.

***

Ji Soo menjenguk Jae In sambil membawa buku-buku tebal. Dia menceritakan ibu Sung Mo yang berniat bunuh diri pada tanggal 17 Desember.

Jae In penasaran ada apa dengan hari itu (tanggal 17 Desember). Dan lagi, kenapa ibu Sung Mo menyembunyikan fakta bahwa dia masih hidup selama 13 tahun.

Ji Soo pun sama penasarannya. "Aku juga punya banyak pertanyaan. Bagaimana dia bisa tetap hidup. Dan siapa pria itu. Kenapa Kang Sung Mo menyembunyikan ini dari kami dan menghilang?"

Lee An angkat bicara. "Mungkin hyung berusaha membunuh pria itu." Ji Soo dan Jae In sontak menatapnya. "Dia tahu ibunya mencoba bunuh diri." An menatap Jae In. "Jika dia tahu bahwa pria itu juga menculik Jae In," kali ini An menatap Ji Soo. "Noona, kita harus menghentikannya."

Sung Mo sendiri masih berada di gereja. Tapi dia sudah berganti pakaian biasa berwarna hitam. Di matamya tersirat kemarahan. Dia lalu memakai topi hitam.

Ji Sooberkata, "Benar. Sebelum Jaksa Kang melakukan sesuatu. Kita harus menemukan ibunya dan si berandal itu lebih dulu."

Lee An bertanya apa Ji Soo sudah punya petunjuk.

"Tidak! Kami bahkan tidak punya namanya." Dr. Hong sedang memeriksa catatan yang ditemukan di mobil. Tapi itu bukan pekerjaan yang mudah.

Jae In berpendapat kalau akan lebih cepat menemukan ibu Sung Mo. Jika mereka bisa tahu apa yang terjadi sebelum kebakaran Apartemen Yoengseong, mungkin mereka bisa mengidentifikasi pria itu.

Menurut Ji Soo, jika memang Kang Eun Joo adalah orang yang pria itu kejar, berarti mereka harus mencari hubungan mereka lebih dulu.

"Sekarang ini, dia akan mengitari kita untuk mencari tahu tentang Kang Eun Joo. Detektif Eun, hati-hatilah!" Kata Jae In.

"Aku tidak apa-apa. Aku lebih mengkhawatirkanmu," ucap Ji Soo sambil melirik An.

"Ku pikir aku di targetkan karena ada kesalahpahaman atas fakta bahwa Jaksa Kang yang merekomendasikanku. Dia juga bukannya suka padaku atau apa."

Giliran An melirik Ji Soo. Ji Soo bilang itu bukan kesalahpahaman. Berandal itu mengira Sung Mo akan keluar.

"Apa?" Jae In langsung mengarahkan matanya ke Lee An. Begitupun Lee An sebaliknya.

Ji Soo menyimpulkan kalau pria bermasker dan Sung Mo saling mengenal. Mereka memperkirakan pergerakan masing-masing dan tahu kelemahan satu sama lain. "Itulah sebabnya Kang Sung Mo tidak bisa mendekatimu dan malah meminta An."

Lee An menghela nafas.

Ji Soo melanjutkan. "Kang Sung Mo mungkin menyembunyikan perasaannya dari kalian berdua. Tapi tidak dari orang itu." (Ji Soo korban perasaan banget ngomongnya)

"Hyung tahu semuanya sejak awal kan? Kebakaran apartemen Yoengseong dan Rumah Perawatan Hanmin. Berandal itu mengatur kebakaran itu karena ibunya."

"Sung Mo pasti sudah tahu. Masalahnya, pria itu sangat baik (lihai). Sung Mo tidak bisa menangkapnya meskipun sudah tahu sejak lama."

Lee An jadi teringat percakapannya dengan Sung Mo saat Lee An melihat bekas luka di kaki Sung Mo yang menurutnya masih terlihat menyakitkan. Sung Mo membenarkan. Itu masih terasa sakit karena ingatan yang hidup pada saat itu.

"Hyung juga masih tersiksa karena itu," ujar Lee An. "Dia punya luka yang sama dengan Jae In." An meminta Ji Soo mencaritahu dimana Sung Mo tinggal sebelum pindah ke Apartemen Yoengseong.

Ji Soo mengiyakannya karena pasti terlalu sulit bagi Lee An melihat kejadian 13 tahun yang lalu dengan kemampuannya.

"Terlepas dari aku yang menggunakan kemampuanku, aku ingin tahu." Ji Soo dan Jae In  menatap Lee An. "Siapa pria itu. Kenapa dia melakukan ini. Dan bagaimana dia mengenal hyung."

Diperlihatkan pria bermasker yang menatap foto Kang Eun Joo. Dia lalu berjalan di lorong kereta bawah tanah.

"Jika aku tahu, ketika kemampuanku benar-benar dibutuhkan. Mungkin aku bisa melakukan yang lebih baik," lanjut An. Jae In tersenyum mendengarkan.

"Baiklah. Ikut denganku," ucap Ji Soo. Dia lalu menunjukkan buku-buku yang tadi dia bawa. Ternyata itu berkas-berkas mengenai kebakaran apartemen Yoengseong dan rumah perawatan Hanmin, juga pembunuhan Kim Gab Young.

"Kenapa membawa ini?" Tanya Jae In.

"Kenapa lagi? An menemukanmu dengan psikometrinya. Kenapa aku harus menunggu lebih lama?"

Senyum An mengembang. "Maksudmu, kamu ingin kami membantu penyelidikan. Iya kan?"

"Terdengar mewah! Baiklah. Secara resmi aku meminta bantuanmu." Ji Soo berdiri lalu menepuk bahu An. "Si psikometri, Lee An. Dan petugas Yoon."

"Anda serius?" Tanya Jae In.

"Aku tidak bisa menangani kasus dan mengelolanya. Ku rasa yang cukup berdedikasi hanyalah kamu."

An langsung memeluk Ji Soo. "Noona. Jinjja gomawo. Jinjja jinjja gomawo."

Jae In tersenyum melihatnya. Sementara Ji Soo protes karena dia sedang banyak pikiran. "Jangan sentuh aku! Jangan membacaku! Sedang apa petugas Yoon? Hentikan dia!"

Tapi Jae In malah meminta Lee An memeluk Ji Soo lebih erat atas namanya."

"Baiklah!" Lee An mengeratkan pelukannya. "I love you."

Ji Soo meronta minta dilepaskan. Dia bilang ada yang perlu dia bicarakan dengan Jae In. Baru deh Lee An mau lepas.

"Petugas Yoon. Begini. Aku mau minta maaf atas nama ayahku karena salah menuduh ayahmu. Maaf. Aku tidak yakin apa aku bisa membayarmu kembali dengan kerja keras. Tapi aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."

Bersambung ke He is Psychometry episode 11 part 4
Read More

He is Psychometric Episode 11 Part 2

He is Psychometric
Episode 11 Part 2

Sumber konten dan gambar : TVN

HIS episode 11 part 1 di sini

Maaf telat banget chingu. Sibuk di dunia nyata dan ngikutin euforia pilpres, hehe :)

Read More

He is Psychometric Episode 11 Part 1

He is Psychometric
Episode 11 Part 1


Sumber konten dan gambar : TVN

HIS episode 10 part 4 di sini


Jae In membuka matanya. Dia berusaha melepaskan belenggu di tangannya namun tidak berhasil. Dia memperhatikan sekelilingnya.

Read More

He is Psychometric Episode 10 Part 4

He is Psychometric
Episode 10 Part 4


Sumber konten dan gambar : TVN

HIS episode 10 part 3 di sini


Pria bermasker menghubungi kantor Sung Mo melalui telepon umum. Dia bilang ingin bicara dengan Sung Mo. Asisten Sung Mo memberitahu kalau Sung Mo sedang cuti. Pria bermasker menutup teleponnya setelah berkata akan menelepon lagi nanti.

Read More

Her Private Life Episode 1 Part 4

Her Private Life
Episode 1 Part 4


Sumber konten dan gambar : TVN

HPL episode 1 part 3 di sini


"Sung Doek Mi gwanjang-nim."

Doek Mi yang sudah mengenakan pakaian 'tugas'nya tersenyum lebar saat menceritakan semuanya pada Soen Ja. Soen Ja menyarankan Doek Mi untuk cari jerja lain saja. Dua tahun ke depan juga Doek Mi pasti bisa memuncak (naik jabatan).

Read More

Her Private Life Episode 1 Part 3

Her Private Life
Episode 1 Part 3


Sumber konten dan gambar : TVN

HPL episode 1 part 2 di sini


Setelah memenangkan lelang lukisan gelembung, Ryan langsung beranjak pergi. Doek Mi hendak mengejarnya, tapi malah terjatuh di kursi. Posisi jatuhnya hampir mirip dengan lukisan yang di lelang berikutnya. HAHA. Doek Mi kontan jadi pusat perhatian.

"Tunggu!" Doek Mi bangun dan mengejar Ryan. Dia minta dengan sopan agar Ryan memberikan lukisannya padanya.

"Apa ini kali pertamamu?"

"Aku tahu mungkin saran ini terdengar aneh. Tapi jika dipikir-pikir, ini demi kamu juga."


"Begitukah?" Tanya Ryan seolah-olah tertarik. Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan mendengarkan penjelasan dari Doek Mi.

"Ya. Kamu pasti tahu aku memenangkan karya Ivanov. Dan ku pikir, aku adalah seorang ahli dengan selera tinggi. Sepertinya kamu sudah mengikutiku untuk menawar item berikutnya. Tapi sebenarnya pekerjaan Lee Sol jagga-nim belum diverifikasi dalam hal popularitas atau nilai artistik. Aku khawatir harga yang kamu tawarkan terlalu tinggi dibanding karyanya. Aku juga berpartisipasi dalam penawaran ini sesuai permintaan klienku. Jadi jika kamu menyerahkannya padaku,,,"

"Berapa banyak yang kamu tahu tentang lukisan Ivanov?" Tanya Ryan memotong ucapan Doek Mi. "Selain harganya."

Doek Mi tampak tidak yakin. "Aku bekerja di industri seni. Ivanov adalah,,"

Lagi-lagi Ryan memotong ucapan Doek Mi. "Tangannya gemetar sejak dua tahun lalu karena alkoholisme. Kamu membeli lukisan berkualitas rendah dari seorang pelukis yang sudah kehilangan sentuhannya hanya dengan percaya pada reputasinya."


Doek Mi tertegun. Ryan bilang sangat mudah membicarakan nilai dengan reputasi dan harga. Tapi mengakui nilai sebenarnya dari karya seni bukan sesuatu yang bisa dilakukan siapapun. Ryan pun pergi.


Doek Mi sudah kembali ke Korea. Dia menyeret kopernya menuju galeri sambil menggerutu. "Kalau bukan karena si sinting itu. Kenapa aku ragu? Tidak ada batasan menghabiskan uang untuk cinta. Ah menjengkelkan!"


Doek Mi heran melihat banyak mobil di depan galeri. Dia juga mendengar suara dir. Eom yang tertawa sangat keras lalu menengok ke galeri dan melihat dir. Eom tertawa di depan orang berjas hitam. Doek Mi berjalan cepat untuk sampai ke galeri. Tiba-tiba dir. Eom dan beberapa pria berjas hitam menghadangnya.

"Apa kamu Sung Doek Mi?"

"Ya."

"Kami dari kantor kejaksaan umum distrik Seoul. Ikut dengan kami."

Berita terbaru. Eom So Hye, istri Kim Moo Soen dari TK Group yang ditangkap atas tuduhan malpraktek dan penggelapan, sudah dicurigai terlibat dalam penggelapan dana. Kantor Kejaksaan Umum Distrik Seoul melakukan penggeledahan dan penyitaan di Chaeum Gallery pagi ini, yang merupakan afiliasi dari TK Group.



Dir. Eom dan Doek Mi di interogasi di ruang terpisah. Dir. Eom terlihat santai dan tersenyum, sementara Doek Mi gugup tingkap dewa. Dia bilang mengaku tidak tahu apa-apa. Tapi jaksanya galak maksimal. Dia berkali-kali memukul meja dan membentak Doek Mi.


Doek Mi pulang dengan lesu. Dia menyalakan lampu lalu menghela nafas dalam. Tiba-tiba dia terkejut saat melihat seseorang tiduran di sofanya.

"Astaga!"

Ternyata itu Soen  Ja. "Kamu pulang."


Beberapa saat kemudian mereka sudah duduk santai sambil minum soju. Sepertinya Doek Mi mabuk. Dia tersenyum lalu menggenggam tangan Soen Jo.

"Soen Ja~ya," ucap Doek Mi dengan lembut.

"Begini lagi. Aku tidak akan kemana-mana."


Eh ternyata Doek Mi nggak mabuk. Dia meletakkan tangan Soen Ja kembali ke meja. "Soen Ja. Kamu tahu apa yang paling ku sukai bekerja di galeri seni?"

"Gaji?"

"Aku suka menggantung karya seni di ruang pameran. Setelah menggantungnya, orang-orang datang ke ruang pameran dan merasa tersentuh dengan karya seni yang ku gantung di dinding. Aku sangat suka melakukan itu," ujar Doek Mi sambil tersenyum.

"Bagaimana bisa orang sangat suka bekerja? Kamu bekerja terlalu keras. Itu masalahmu."

"Tapi Soen Jo. Rupanya karya seni yang ku gantung di dinding, sebenarnya digunakan untuk menggelapkan dana alih-alih digunakan untuk membuat orang tersentuh."

Mata Doek Mi mulai berkaca-kaca. "Aku bekerja sangat keras seperti orang bodoh."

Soen Ja berusaha menenangkan Doek Mi. "Kamu tidak tahu apa-apa. Kamu tidak tahu."

Doek Mi menggeleng. "Tapi kamu tahu apa yang paling membuatku marah. Bagaimana misalkan aku tahu semuanya? Jika aku tahu semuanya, apa aku akan tetap bekerja? Apa aku bisa bekerja?"


Soen Ja jadi iba melihat Doek Mi. Dia menarik beberapa tisu lalu memberikannya pada Doek Mi. "Jangan menangis. Seka airmatamu." Soen Ja menepuk-nepuk punggung Doek Mi. Setelah itu dia malah ikut menangis.


Esoknya, terlihat Soen Ja tidur di sofa dan Doek Mi tidur di lantai. Doek Mi terbangun saat mendengar ponselnya bergetar.

Beberapa saat kemudian, Doek Mi sedang tersenyum ceria, duduk di salah satu kursi di kafe milik Soen Ja. Soen Ja memperhatikan tidak jauh dari sana. Salah seorang pegawainya menghampiri dan penasaran apa Doek Mi sedang kencan buta.

Soen Ja menggeleng. "Pertama, sahabatku tidak menemui pria di kehidupan nyata. Satu-satunya pria yang dia kencani ada di layar ponsel dan monitornya. Dan kedua, kenapa dia berani kencan buta di kafeku? Orang lain boleh melakukan itu, tapi temanku tidak."

"Tapi kamu sudah menikah dan punya anak."

Soen Ja kesal. "Aku menikah hanya karena hamil." Pegawainya langsung kabur.


Pria yang duduk di depan Doek Mi memberikan kartu namanya. Dia menawari Doek Mi untuk jadi manajer tim di tim pemasaran GN Group. Katanya istri presdir yang merekomendasikan Doek Mi karena dia teman dekat dir. Eom dan sering mengunjungi Chaeum Gallery.

"Istri presdir?"


Seketika Doek Mi teringat kejadian saat istri presdir itu berkelahi dengan dir. Eom. Dia menjambak rambut panjang dir. Eom dan memakinya jal*ng. Doek Mi berusaha melerai mereka tapi tidak berhasil. Doek Mi mengucap maaf sebelum akhirnya kedua tangannya menggelitiki payu**ra kedua wanita di depannya. Kegelian, kedua wanita itupun terjatuh ke sofa sementara Doek Mi menatap jari-jari tangannya.

Doek Mi tersenyum miris mengingat peristiwa itu. Dia lalu bertanya apa tugasnya di tim pemasaran.

"Tidak jauh berbeda dengan apa yang sudah kamu lakukan. Kamu akan melakukan proyek bersama dalam lembaga seni dan proyek kontribusi sosial dengan fondasi budaya."

"Ya. Pekerjaan itu terdengar bermakna," gumam Doek Mi.

"Sekedar informasi, ini adalah moto perusahaan kami. 'Mari kita habiskan malam di luar pekerjaan'. Kamu akan punya jam kerja yang fleksibel. Jadi setelah bekerja 40 jam dalam seminggu di kantor, kamu bebas melakukan apapun."


Doek Mi terlihat tertarik. Dia membatin, "Apa ini artinya aku bisa menjadi fangirl death metal selamanya?" Doek Mi tersenyum bahagia dan seolah melihat kembang api di atasnya.

Soen Ja yang masih memperhatikannya penasaran apa krisis Doek Mi akan jadi peluang. Tiba-tiba terdengar barang pecah dari dalam. Soen Ja menoleh dengan senyuman. "Joo Hyuk! Kamu hancurkan semuanya dan aku masih takkan bangkrut. Ayahku adalah tuan tanah."


Dir. Eom sedang menatap lukisan di galeri. Dia nggak di tahan? Doek Mi menghampirinya dan memberitahu ada yang ingin dia katakan.

"Mengatakan apa?"

"Aku sudah memutuskan untuk berhenti."

"Sung Kyul. Berapa bulan kamu bekerja denganku?"

Doek Mi mengingat-ingat. "Selama dua bulan setelah galeri di buka Anda memecat sekitar 12 kurator. Lalu Anda menugaskanku karena tidak ada yang melamar untuk posisi itu. Maka sudah lima tahun."

"Oh. Kamu sungguh bekerja dengan sangat keras. Itu sebabnya aku datang untuk mengatakan,,,"


"Ya. Aku tahu. Alasan galeri sesukses sekarang, semua berkatmu Sung Kyul. Lihatlah. Kamu menentukan tata letak untuk karya seni. Selain itu kamu juga melukis dinding dan memasang semua lampu. Kamu terlibat dalam semua detail kecil. Sejujurnya aku membuka galeri ini karena sakit mendengar suamiku mengatakan bahwa dialah pencari nafkah. Jadi apa yang aku ketahui? Jika tidak ada kamu, Chaeum Gallery sudah tutup sejak dulu.

"Sejujurnya,,,"

"Sejujurnya, aku akan mengundurkan diri," ucap Dir. Eom mendahului Doek Mi."

"Apa? Anda akan mengundurkan diri?"

"Benar. Suamiku akan dipenjara. Dan alasanku mengundurkan diri, karena aku percaya kamu akan mengurus galeri dengan baik. Jika tidak, akan ku putuskan saja menutupnya."


Dir. Eom mendekat ke wajah Doek Mi. "Sung Kyul. Menurutmu siapa yang cocok untuk jadi direktur Chaeum Gallery? Orang yang mencintai Chaeum Gallery sama sepertiku. Orang yang sudah berada di sini sejak awal. Siapa dia?"


Doek Mi ragu menunjuk dirinya. Dir. Eom mengangguk. "Dia orang yang ku inginkan sebagai direktur. Kamu mengerti maksudku?"


Tak pelak Doek Mi mengangguk dan tersenyum. Kembang api langsung bertebaran di khayalan Doek Mi. Doa membayangkan berdandan elegan dan masuk kantor. Rekan-rekannya menyambutnya dengan taburan confetti. Doek Mi duduk di kursi bak bos lalu menyerahkan dokumen berisi proyek pameran mereka berikutnya. SHI AN KEANGGUNAN YANG LUAR BIASA. Itu yang tertulis di dalamnya. Kyung A langsung menatap Doek Mi yang sedang berlenggak-lenggok di kursinya.

"Sung Doek Mi gwangjang-nim?

Bersambung ke Her Private Life episode 1 part 4


Read More