Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 6 Part 3 )

The Crowned Clown 

Episode 6 Part 3


Sumber konten dan gambar : TVN




Tuan Shin mengahadap Ha Sun. Dia mengaku merasa sengsara karena dia dan anaknya difitnah dan dipermalukan sampai mati hanya karena budak rendahan. Dia menasihati Ha Sun untuk menegakkan keadilan atas nama kesetiaannya pada raja dan demi otoritas istana dan raja.

Ha Sun dengan kesal berkata dengan tegas bahkan berteriak. "Tuan Shin, kau mengaku setia padaku. Tetapi kamu tidak bisa melihat penderitaan orang-orang yang tidak berdaya. Kenapa kamu tidak bisa mendengar penderitaan orang-orang yang tidak bersalah? Kamu bilang budak rendahan? Martabat dan otoritas istana dan raja yang katanya ingin kamu lindungi tidak sebanding dengan nyawa Joo Ho Geol!! Masalah sekecil apapun, aku berjanji tidak akan membiarkannya jika itu membahayakan nyawa rakyat negeriku."

Tuan Shin ndower (hehe). Dia masih mencoba membantah tapi Ha Sun membentak menyuruhnya pergi.

Terlihat Tuan Shin termenung sendiri di ruangannya.


Biksu berjalan memakai caping melewati Dal Rae dan Gab Soo. Gab Soo bertanya apa biksu mau pergi mengambil persembahan. Biksu mengiyakan dan meminta Gab Soo tidak perlu menyiapkan makan malam dan menunggunya saja. Tentu Gab Soo sangat karena biksu akan membawa pulang membawa makanan lezat.

Gab Soo mengajak Dal Rae mencari kayu bakar. Dal Rae menolak karena sepertinya dia punya rencana untuk mengintai rumah Lee Hun lagi. Tapi Gab Soo tidak mau membiarkannya sendirian. Terpaksalah Dal Rae ikut.

Dal Rae duduk menunggui Gab Soo yang sedang mengumpulkan kayu bakar. Dia memainkan sebuah daun sambil berpikir bagaimana caranya lepas dari pengawasan Gab Soo. Akhirnya dia dapat ide. Dia memberi isyarat pada Gab Soo, (karena memang Dal Rae belum bisa bicara lagi) kalau dia kebelet. Dengan berat hati, Gab Soo mengijinkannya pergi.

Dal Rae pergi ke rumah Lee Hun. Dia mendengar seseorang mengaduh dari dalam. Dal Rae mencoba menguping. Lalu dia mengintip lewat lubang di dinding. Dia terkejut hingga membolakan matanya saat melihat orang di dalam yang wajahnya sama dengan kakaknya. Terlihat Lee Hun sedang berusaha melepas ikatan kain di tangannya.


Lee Kyu berjalan melewati pasar. Dia melihat tiga anak pengemis. Dia tersenyum lalu memberi mereka uang dan menyuruh mereka datang ke tempat hiburan.

"Katakan pada mereka Haksan yang menyuruh kalian. Dan makanlah di sana."

Tapi tiba-tiba salah seorang pengemis menusuk perutnya dengan pisau. "Semoga selamat di akhirat. Itu katanya." Para pengemis itu pergi setelah mengambil bungkusan uang Lee Kyu. Lee Kyu ambruk ke tanah.

Ho Geol mengeluh karena Lee Kyu meninggalkannya. Dia melihat beberapa orang berkerumun. Dia mendekati mereka dan terkejut mendapati Lee Kyu yang sedang kesakitan memegangi perutnya.

Ho Geol membawa Lee Kyu ke ruangan Woon Shim. Dia berniat memanggil tabib tapi Lee Kyu mencegahnya. Dia meminta dipanggilkan Jung Sung saja.

Woon Shim tampak cemas. Dia memegang tangan Lee Kyu. "Bertahanlah. Aku akan menyuruh orang untuk memanggil Jung Sung ke sini."

Di istana, Ha Sun terkejut saat Kasim Jo mengabarkan Lee Kyu mengambil cuti.
Jung Sung (ternyata si biksu) datang dan mengobati luka Lee Kyu. Woon Shim membantu mengurus Lee Kyu dengan telaten. Bahkan hingga larut malam, Woon Shim masih menunggui Lee Kyu sambil sesekali mengelap keringatnya.


Ae Young sedang mendadani So Woon. Dia bertanya apa So Woon tidak tidur pulas semalam karena wajahnya pucat. So Woon mengaku hanya merasa sedikit sesak semalam. Dia bercermin lalu tersenyum. So Woon berdiri hendak pergi menemui raja. Tapi tiba-tiba dia merasa pusing. Ae Young memeganginya. So Woon bersikeras ingin pergi. Tapi dia akhirnya ambruk pingsan.

Ha Sun berlari dengan cemas menuju kediaman So Woon. Di sana, So Woon terbaring dengan wajah sangat pucat. Dia membuka matanya dan segera duduk saat melihat ada Ha Sun.

"Maafkan aku Yang Mulia."

"Kenapa kau harus minta maaf?"

"Jangan cemas. Ini hanya demam sementara."

"Jangan bicara. Lebih baik kau istirahat saja."

So Woon tersenyum mendengar perhatian Ha Sun. Dia berbaring lagi dan tertidur. Ha Sun setia menemaninya. Dia melihat wajah So Woon berkeringat dan berniat mengelapnya. Namun Ha Sun mengurungkannya. Dia sadar dia tidak berhak.

Ha Sun bertanya pada tabib tentang kondisi So Woon. Tabib memberitahu kalau kondisi tubuh dan pikiran So Woon lemah. Jika dibiarkan maka akan jadi lebih buruk. Dia menyarankan agar So Woon pergi berlibur. (Aku curiga ini tabib kongkalikong entah sama ibu suri atau Shin Ci Soo)

Ha Sun galau. Kasim Jo bertanya kenapa Ha Sun ragu padahal ini untuk kebaikan ratu. Ha Sun cemas karena Lee Kyu tidak ada. Kasim Jo meyakinkannya kalau Lee Kyu juga akan mengambil keputusan yang sama jika ada di sana.

"Ini kesempatan yang bagus untuk Anda dan ratu." (OHO!!! Kasim Jo ternyata nge-ship Ha Sun-So Won)

Meski ragu, tapi Ha Sun menjawab, "Baiklah."


Dan benar saja, ternyata si tabib itu suruhan Ibu Suri. Dayang ibu suri memberinya sekantong uang. Ibu suri bertanya bagaimana kondisi ratu.

"Sirkulasi darahnya tersumbat dan dia sangat lemah."

Ibu suri menanyakan kemungkinan ratu memberikan calon pewaris pada raja. Tabib ragu, tapi jika kondisinya terus melemah, maka itu tidak mungkin terjadi. Ibu suri tersenyum puas lalu menyuruh tabib pergi.

Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 6 Part 2 )

The Crowned Clown

Episode 6 Part 2


Sumber konten dan gambar : TVN



Lee Kyu masuk ke balai pertemuan. Semua orang terkejut melihatnya. Sebagian terkejut senang, sebagian lagi terkejut kesal.

"Yang Mulia, maaf saya terlambat."

"Selamat datang. Kenapa kamu terlambat?"

"Saya berusaha menemukan bukti penggelapan dalam dokumen serah terima."

Semua menteri berkasak-kusuk. Tuan Shin langsung angkat bicara.

"Yang Mulia. Bukti penggelapan itu tidak mungkin ada. Anda harus menghukum Lee Kyu karena melalaikan tugas dan memfitnah." (Ini orang kerjanya minta orang lain buat dihukum mulu)

"Sah atau tidak sah bukti penggelapan ini. Silahkan tanyakan pada orang yang menemukannya."

"Persilahkan dia masuk!"

Dan ternyata Ho Geol tidak mati. Dia di kawal Mo Young masuk ke balai pertemuan dengan sebuah nampan ditangannya. Sepertinya nampan itu berisi dokumen. Ho Geol berlutut dan memberi salam pada raja. Tuan Shin kalang kabut. Lagi-lagi dia meminta Lee Kyu di hukum. Kali ini alasannya karena membawa budak masuk istana. Lee Kyu berkata meski Ho Geol budak tapi dia bekerja di kementrian perpajakan. Seorang menteri mempersilahkan Ho Geol untuk bicara.

Ho Geol menyatakan kalau dia sudah membandingkan dokumen serah terima dengan buku besar upeti. Dan hasilnya pembayaran upeti beras harganya lebih tinggi dari harga pasar.

Menteri personalia mencoba menginterupsi. "Upeti beras tidak ditentukan oleh harga pasar."

Ho Geol mengiyakannya. Tapi dia sudah menghitung harga upeti menjadi beras. Para menteri kaget karena tidak mungkin ada orang yang bisa menghitung semuanya.

Ho Geol menunjukkan dokumen yang sudah dia periksa. Kasim Jo mengambilnya lalu menyerahkannya pada Ha Sun. Dia membuka dokumen itu lalu melirik pada Lee Kyu. Lee Kyu mengangguk padanya.

Ha Sun menyatakan kalau menteri perpajakan benar. Menteri perpajakan langsung menunduk berterimakasih. Sedangkan menteri personali yang kalut maju mensejajari Ho Geol. Dia tetap meminta menteri perpajakan di hukum dulu karena terlambat menyerahkan dokumen serah terima. Baru nanti mengurusi masalah penggelapan.

Dan naasnya, karena merasa misinya gagal, Tuan Shin berbelok arah. Dia menganggap alasan yang diberikan menteri personalia payah. Menteri personalia menyita dokumen serah terima dari kementrian perpajakan karena ingin melindungi kesalahan hakim daerah. "Dia harus bertanggung jawab."

Menteri personalia melotot kaget karena dihianati. Sedangkan Lee Kyu tersenyum sinis mendengarnya.

Ha Sun setuju untuk menghukum menteri personalia dan hakim daerah harus dihukum berat karena penggelapan.

Tiba-tiba Ho Geol membuat sebuah permintaan. Dia bercerita kalau tadi malah ada orang yang berusaha membunuhnya.

Flashback

Saat belati dilemparkan ke arah Ho Geol, ternyata entah bagaimana belati itu memantul hingga menancap ke dinding rumah. Para ninja turun untuk menyerang Ho Geol. Ho Goel yang memang tidak bisa berkelahi kontan ketakutan setengah mati. Mo Young datang menghabisi para ninja dan menyisakan seorang saja. Dia mengacungkan pedangnya di leher ninja itu.

Lee Kyu mendekat dan melepas penutup wajah si ninja. Dia bertanya siapa yang mengutusnya. Ninja itu menjawab, "Shin Yi Gyeom putra anggota dewan sebelah kiri."
Mo Young hendak menebasnya. Namun Lee Kyu mencegahnya. Dia menjanjikan bayaran 10 kali lipat kalau ninja itu menurut padanya.

Flashback end

Ha Sun bertanya siapa yang mengutus pembunuh itu. Ho Geol menengok ke arah Tuan Shin. Dia menjawab kalau Shin Yi Gyeom lah orangnya.

Ha Sun terkejut. Tuan Shin tak kalah shock. Dia berusaha membela anaknya dan lagi-lagi minta Ho Geol di hukum.

Ho Geol membela diri. "Pembunuhnya sedang ada di biro hukum. Apa perlu saya membawanya kemari?"

Ha Sun memerintahkan untuk membawa Shin Yi Gyeom. Ho Geol terlihat tersenyum. Sementara Tuan Shin dan Lee Kyu saling melempar tatapan tajam.


Rapat kali ini selesai. Semua orang keluar dari balai pertemuan menyisakan Ha Sun dan Lee Kyu. Ha Sun bertanya hukuman apa yang akan diberikan untuk percobaan pembunuhan.

Lee Kyu memberitahu kalau hukuman untuk percobaan pembunuhan adalah pemenggalan. Tapi mereka tidak bisa melakukannya karena Tuan Shin dan biro sensor (tempat Yi Gyeom bekerja) pasti akan mengajukan amnesti. Ha Sun kesal mendengarnya. Dia ingin setidaknya Yi Gyeom di hukum cambuk. Lee Kyu berkata ada cara untuk mempermalukan Shin Yi Gyeom dan memberinya pelajaran.

Semua menteri sudah berkumpul di aula. Termasuk Ho Geol. Mo Young dan pengawal yang lain membawa Yi Gyeom masuk. Yi Gyeom berlutut. Dia melihat Ho Geol yang tersenyum padanya. Dia juga melihat ke arah ayahnya.

Ha Sun datang. "Berusaha mencelakai orang lain adalah kejahatan berat dan harus dihukum dengan hukum dinasti ming. Namun karena ayahmu pengabdi setiaku, dan si korban Joo Ho Geol tidak terluka, aku akan memaafkanmu. Tapi untuk memberimu pelajaran, aku akan memberi kesempayan pada ayahmu untuk mendisiplinkanmu dengan benar."

Ha Sun menyuruh Tuan Shin maju dan memukul Yi Gyeom dengan tongkat sebanyak 100 kali. Para menteri sontak berkasak-kusuk. Tuan Shin berlutut di samping anaknya. Dia meminta lebih baik anaknya dihukum dengan hukum dinasti ming. (Dasar! Ayah macam apa yang lebih milih anaknya di penggal daripada dia malu mukul anaknya di depan orang banyak)

Lee Kyu angkat bicara. "Bagaimana bisa kau menolak kebaikan raja yang tidak terbatas?"


Akhirnya Tuan Shin terpaksa menurut. Yi Gyeom naik ke atas meja. Dia mengangkat celananya memperlihatkan betisnya. Pengawal membawakan beberapa tongkat kecil di atas nampan. Tuan Shin mengambilnya. Dengan menahan rasa malu yang luar biasa, dia memukuli betis anaknya hingga berdarah. Yi Gyeom meringis menahan sakit. Kasim Jo bertugas menghitung jumlah pukulan. Ho Geol terlihat menahan tawa. Sedangkan Ha Sun meremas bajunya dan menatap Yi Gyeom nanar. Akhirnya dendamnya atas Dal Rae bisa terpenuhi.

Selesai hukuman pukul, Menteri personalia menghampiri Tuan Shin bertanya apa yang harus dia lakukan. Tapi Tuan Shin yang sedang dalam amarah besar karena dipermalukan, tidak menggubrisnya. Dia berjalan pergi begitu saja di ikuti Yi Gyeom yang di gendong seorang pengawal.

Di ruangan raja, Ha Sun memuji Ho Geol yang bisa menghitung banyak dokumen dalam semalam. Dia menepuk pundak Ho Geol dan mendengus bau tidak sedap.

"Bau apa ini?"

"Maaf Yang Mulia. Kemarin aku harus berbaring di antara banyak jasad. Baunya tidak kunjung hilang meski saya sudah mandi beberapa kali."

Kontan Ha Sun menarik tangannya ngeri. Dia memuji keberanian Ho Geol.

"Sebenarnya saya tidak berani sejak awal. Saat pertama Lee Kyu datang. Saya menganggap tawarannya sangat keterlaluan. Tapi opsir Jang datang menyelamatkan saya."

Mo Young berkata kalau dia hanya menjalankan perintah Lee Kyu.

Ha Sun menatap Lee Kyu seolah meminta jawaban, hal yang tidak pernah dilakukannya. Dengan terpaksa Lee Kyu menjawab, "Beruntungnya saya meminta Jang Mo Young mengawasi Ho Geol." Ha Sun menahan senyumnya.

Ha Sun menyatakan akan mencabut status budak Ho Geol dan menawarinya jabatan.

"Jika di perbolehkan, saya menginginkan jabatan akuntan tingkat 9."


Menteri perpajakan bicara kalau Ho Geol bisa meminta jabatan yang lebih tinggi. Tapi menteri baik satunya berpendapat kalau raja memberikan jabatan tinggi pasti akan banyak protes. Sebagai akuntan senior, justru Ho Geol bisa mengajarkan ilmunya pada akuntan junior.

Lee Kyu setuju. Semakin cepat Ho Geol mengajari junior, semakin cepat pula pemberlakuan hukum pembayaran beras. Ho Geol tidak percaya mendengarnya. Dia bertanya pada Ha Sun. Ha Sun mengiyakan. Ho Geol sangat senang dan membungkuk berterimakasih. Ha Sun mengangguk sambil menahan nafas.


So Woon ternyata menunggu Ha Sun lewat di jembatan. Ha Sun menghampirinya. Mereka saling melempar senyum dan menyapa. So Woon berterimakasih tentang terpenuhinya bantuan beras.

"Aku yang harus berterimakasih padamu karena membantuku menjalankan tugas raja untuk pertama kalinya."

"Pertama kali? Anda terlalu rendah hati."
Ha Sun tersenyum salah tingkah. "Aku hanya mengungkapkan perasaanku."

Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 6 Part 1 )

The Crowned Clown

Episode 6 Part 1



Sumber konten dan gambar : TVN



So Woon mencium bibir Ha Sun. Ha Sun membuka matanya. So Woon terkejut mendapati Ha Sun sudah bangun. Dia jadi malu sendiri.
Ha Sun tiba-tiba cegukan. So Woon khawatir dan bertanya apa raja baik-baik saja. Ha Sun menjawab kalau dia baik-baik saja.

Ha Sun dan So Woon sudah pindah ke kamar raja. Di sana juga ada Kasim Jo yang tampak khawatir karena sudah satu jam tapi cegukan Ha Sun belum berhenti. (HAHA)


Kasim Jo memberikan beberapa cara agar cegukan berhenti. Dari menahan nafas sambil menjulurkan lidah. Sampai berbaring di lantai dengan kedua kaki di tekuk ke dada. Tapi Ha Sun tidak mau melakukannya karena malu ada So Woon.
So Woon cemas Ha Sun cegukan karena dirinya. Ha Sun segera menyangkalnya. Dia beralasan badannya kaku karena kedinginan. Dia meminta So Woon untuk istirahat saja karena sudah larut. So Woon pun pergi. Dan bersamaan dengan itu, cegukan Ha Sun berhenti. Kasim Jo sangat girang melihatnya. Dia segera pergi memanggil dayang untuk membawakan baju tidur raja.


Ae Young mengawal So Woon pulang ke kamarnya. Dia cemas karena So Woon berjalan sangat lambat. So Woon menenangkannya. Dia tersenyum dan berkata sambil menatap kediaman raja. "Bulan dan bintang malam ini sangat terang."

Ae Youn keheranan karena langitnya tampak mendung.


Yi Gyeom terlihat memegang sebuah papan nama kecil (?). Dia memberikan upah pada pembunuh bayaran yang menyerang Ho Geol. Saat dia berbalik dia terkejut karena Tuan Shin ada di sana sampai papan namanya jatuh. Takut-takut dia minta maaf karena mengambil tindakan tanpa ijin ayahnya.

Tuan Shin memungut papan nama itu. "Kau mendapat ini sebagai bukti kalau Ho Geol sudah mati?"

Yi Gyeom mengiyakan. Tuan Shin menamparnya hingga tersungkur ke tanah. Dia jongkok di depan anaknya dan mengingatkan Yi Gyeom untuk memeriksa jasadnya lain kali.

"Kau harus menuntaskan tugas yang sudah kau mulai, agar tidak meninggalkan jejak. Ingat itu."

"Ya, ayah."


Ha Sun mondar-mandir gelisah di tepi kolam. Dia teringat pernyataan cinta So Woon. "Dasar berandal tidak tahu terima kasih!"

Kasim Jo langsung minta maaf karena mengira ucapan Ha Sun untuk dirinya. Ha Sun segera menyangkalnya. Dia melihat bayangan dirinya di kolam lalu bertanya pada kasim Jo, apa dia dan raja sangat mirip.

Kasim Jo jujur berkata kalau dia terkejut saat pertama melihat Ha Sun. Apalagi setelah Ha Sun ditikam. Dia sering keliru menganggap Ha Sun raja.

"Keliru?" Ha Sun teringan So Woon yang tersenyum lebar di gazebo. Dia lalu jongkok melihat pantulan wajahnya di kolam. "Ya benar. Bukan aku. Tapi raja." Ha Sun kelihatan sedih.


Ha Sun berjalan sambil melamun dan tidak sadar kalau dia berjalan ke kediaman ratu. Kasim Jo kaget melihat So Woon berjalan keluar. Ha Sun jadi panik sendiri.

So Woon menyapanya dengan senyuman. Ha Sun berkata kalau dia hendak ke balai pertemuan. Dia menatap wajah So Woon dan lagi-lagi teringat ucapan cintanya.

So Woon cemas melihat wajah Ha Sun yang lesu. Dia baru ingat kalau dulu raja suka minuman jahe. Jahe akan melancarkan pencernaan jadi Ha Sun tidak akan cegukan lagi.

Lakukanlah. Aku akan pergi ke balai pertemuan dulu." Ha Sun malah berjalan masuk ke kediaman ratu. Menyadari dia salah jalan, Ha Sun segera putar balik dengan kaku. Ratu tersenyum melihat tingkahnya.


Terlihat Yi Gyeom datang ke suatu tempat. Dia memeriksa beberapa jasad yang terbaring berderet dan menemukan Ho Geol di sana dengan wajah penuh darah. Yi Gyeom pun tersenyum


Malamnya, So Woon membawakan teh jahe tapi Ha Sun belum kembali. Tepat saat itu Ha Sun datang, tapi dia hanya melihat So Woon dari jauh.

So Woon memberikan teh jahenya pada dayang Kim. Dia pergi dengan wajah kecewa.

Ha Sun sudah berganti baju tidur. Dayang Kim menyajikan teh jahe dari So Woon. Karena teh jahenya sudah dingin, dayang Kim menawarkan untuk membuangnya. Tapi Ha Sun mencegahnya dan menyuruh Dayang Kim pergi.


So Woon di kamarnya juga sudah berganti baju tidur. Ae Young mengkhawatirkannya karena tadi berdiri cukup lama di luar. Dia menawarkan diri untuk mengantarkan teh jahe pada raja lain kali. Tapi So Woon menolaknya. Ae Young lalu menawarkan teh bunga untuk menghangatkan tubuh So Woon. So Woonpun meminumnya.

Ha Sun bercerita pada kasim Jo kalau dia tidak bisa makan jahe. Saat umur 7 tahun, Ha Sun ikut Gab Soo ke rumah seorang bangsawan. Dia mencuri camilan jahe lalu sakit parah hingga hampir mati.

Kasim Jo menyarankan agar Ha Sun menjauhi jahe jika memang tidak baik untuk tubuhnya. Dia berniat membuang teh jahe itu. Ha Sun mencegahnya dan menyuruh Kasim Jo saja yang meminumnya agar niat baik So Woon tidak sia-sia.


Esoknya, para menteri dan raja rapat di balai pertemuan. Tidak tampak Lee Kyu di sana. Ha Sun jelas khawatir. Apalagi saat Tuan Shun meminta raja untuk menghukum menteri perpajakan karena terbukti tidak ada masalah pada dokumen serah terima. Ha Sun galau mau menjawab apa.

Tepat saat itulah Lee Kyu datang.

Read More

Sinopsis Thai-Drama : Buang Hong (Episode 1 Part 1)

Buang Hong
(A Lasso For A Swan)

Episode 1 Part 1

Sumber konten dan gambar : Channel 3

Pemeran :

James jirayu as Ramet
Kimberly Ann Voltemas as Pim
Nadech Kugimiya as Nai


Siang hari yang cerah, di ibukota Thailand, Bangkok. Di dalam ruangan sebuah gedung, terlihat beberapa model wanita sedang di rias wajahnya. Beberapa gaun cantik tergantung di sana.


Di luar gedung, tampak dua wanita dengan setelan rapi.

"Apa dia sudah datang?" tanya salah seorang dari mereka.

"Belum. Dia tidak mengangkat teleponku," sahut yang lainnya sambil terus menghubungi seseorang lewat ponselnya.

Datang sebuah mobil mewah berwarna putih. Seorang wanita cantik berambut panjang dengan poni di dahinya, turun dari mobil itu. Dialah Pim (Kimberly), nang'ek kita.

Pim marah-marah karena asistennya meneleponnya tanpa henti.

"Aku kan sudah bilang aku akan datang. Aku bukan orang yang tidak bertanggung jawab!"

Pim melemparkan kunci mobil pada asistennya. "Parkirkan mobilku!"

Pim melenggang masuk gedung dengan angkuhnya.


Di tempat lain, seorang pria tampan sedang memakai setelan jas putih di bantu oleh sekretarisnya. Dia terlihat sangaaaat tampan. Dia tersenyum pada pantulan dirinya di cermin setelah merasa penampilannya sempurna. Dialah pra'ek kita sekaligus pujaan hati saya (HEHE), Ramet (James Jirayu, loving you too much)


Ramet datang ke sebuah pesta di kondominium mewah. Seorang temannya, pemilik kondo itu, langsung menyapanya ramah.

"Wah! Mengejutkan. Aku pikir kamu tidak akan datang."

"Temanku membuka gedung kondo baru. Gimana mungkin aku tidak datang memberikan selamat?"

Ramet menjabat tangan temannya mengucapkan selamat.


Pim selesai dirias. Seorang staff wanita datang mengingatkan para model untuk stand by karena 15 menit lagi acara akan dimulai. Dia meminta Pim memakai gaunnya dulu.

Pim melotot melihat gaun seksi yang harus dia kenakan. Dia jelas marah dan tidak mau memakai gaun itu.

"Kamu pengen aku pakai baju ini? Ini grand opening sebuah kondo atau kamar mandi!!? Orang lain bisa memakainya, tapi tidak denganku. Ganti gaunnya atau kamu bisa cari model lain! Pilihlah salah satu."
Staff wanita bingung harus bagaimana. Tiba-tiba datang seorang wanita, khun Vi.

"Jangan manja, Pim. Ini adalah pekerjaan. Dan ini tugasmu."

"Jadi apa urusannya denganmu."
Asisten Nara yang lekong yang menjawab. "Jelas ini urusannya. Gaun ini kan dari Martha Showroom."


Pim tersenyum sinis. "Oh, pantesan gaunnya jelek. Ternyata dari Matador Showroom. Kalau aku harus pakai gaun dari Matador showroom, lebih baik aku tidak pakai baju."

Asisten Khun Vi yang lain, p'Noodee, maju. "Dasar mulut. Haruskah aku menamparnya?"

Khun Vi menghentikannya. "Tidak perlu P'Noodee. Asal dia senang, biarkan dia tidak pakai baju. Aku akan mengambil semua gaun dari martha showroom."

Para tamu terpukau melihat pertunjukan balet yang begitu indah. Terlihat Ramet duduk bersama Pakorn. Sedangkan khun Vi duduk di seberangnya bersama gengnya.
Fashion show di mulai. Ramet memuji modelnya cantik-cantik dan elegan.

"Yaiyalah. Ini kan grand opening kondo pertamaku. Apalagi model terakhirnya. Dia luarrr biasa," ujar Pakorn.

Terlihat di depan mereka, seorang pria memperhatikan Ramet dengan sinis. Sementara di bangku geng Khun Vi, asistennya penasaran apa Pim benar-benar tidak akan pakai baju.


Saatnya Pim muncul. Dia memakai gaun yang sangat cantik. Ramet sampai terpesona dibuatnya (tapi ga sampai melongo kayak di khun chai puttipat pas lihat bella ranee/keaw di atas panggung). Dengan percaya diri, Pim melenggang di atas catwalk.

Khun Vi dan asistennya langsung kesal. Mereka mengatai Pim memakai gaun yang tidak sesuai dengan konsep acara. Pim pasti akan dimarahi pemilik acara.

Dan Pakorn memang sedang keheranan karena Pim tidak memakai gaun yang sudah disetujui. Si staff wanita datang memberitahunya kalau dia sudah mempersiapkan gaun dari martha showroom tapi Pim berkeras memakai gaunnya sendiri.

Ramet berpendapat kalau gaunnya cantik kok. Cocok untuk penutupan.

Pakorn tersenyum meledek. "Kamu memuji gaunnya atau modelnya?"

"Dua-duanya," sahut Ramet jujur.


Khun Vi terlihat memberi kode pada model di depan Pim. Model itu sedikit mengangguk lalu putar balik. Dia sengaja menyenggol lengan Pim hingga Pim sedikit oleng dan membuat para tamu terkejut. Tapi dengan santainya Pim menggandeng lengan model itu agar berjalan beriringan dengannya. Sesampainya di ujung catwalk, Pim melepaskan tangannya, dan model itupun berjalan pergi.

Para penari balet datang seolah menjadi latar belakang Pim. Semua tamu riuh bertepuk tangan. Pim melirik Khun Vi merasa menang. Sedangkan khun Vi hanya bisa menatap kesal padanya.

Selesai acara, Pim langsung mengkonfrontasi si model.

"Kamu mempermainkanku ya? Kamu sengaja mendorongku. Aku tidak bodoh."
"Itu hanya kecelakaan Pim. Aku minta maaf deh."

"Berhenti berpura-pura! Kamu bikin aku pengen muntah!"

Dua teman Pim datang menenangnya.

"Gimana aku bisa tenang? Gimana kalau aku jatuh dan tulangku patah? Siapa yang mau tanggungjawab?"

Si model menyahut. "Tulangmu itu nggak ada yang patah. Jadi berhenti menyalahkan oranglain! Kalau kamu latihan, pasti nggak akan ada kesalahan."

Tiba-tiba Khun Vi datang. "Dia benar Pim."
Pim langsung bisa mengerti situasinya. "Oh. Pantesan anak guguk berani beraksi.  Ternyata ada guguk besar yang menggonggong di belakangnya."

"Jangan dulu menyalahkan Pim. Semua orang juga lihat kalau itu kecelakaan. Apa kamu mau orang-orang berpikir kalau itu terjadi karena ketidakmampuanmu?"

Pim kesal. Si Staf wanita datang dengan riang. Dia memuji Pim sangat cantik tadi sampai semua orang memujinya. Bahkan Khun Pakorn juga ikut memujinya. Dia meminta Pim untuk ganti baju karena sudah di tunggu reporter untuk berfoto.
Pim jelas tersenyum menang. Dia mengajak kedua temannya, Anne dan Nueng, untuk pergi. Khun Vi kesal melihatnya.


Pakorn berterimakasih pada Ramet sudah bersedia datang. Padahal Ramet adalah pebisnis sibuk pemilik 5 hotel top, Chuang Rai Jaravee. Sebegitu sibuknya sampai tidak memikirkan wanita.

"Empat wanita dalam hidupku saja, aku tidak pernah punya waktu untuk mereka. Gimana aku bisa memikirkan wanita lain?"

"Ayolah. Kamu ngomong kayak gitu semua gadis di sini pasti patah hati. Apa kamu sibuk membeli tanah untuk memperluas hotelmu sampai tidak punya waktu untuk para gadis?"

"Wah. Kamu cepat dapat beritanya juga."

"Iyalah."

Tiba-tiba datang pria yang saat acara fashion show sempat memandang sinis Ramet. Pakorn memperkenalkannya sebagai Khun Kittichai, pemilik K Property.

"Senang bertemu denganmu secara resmi," ujar Khun Kittichai.

"Jadi kalian saling kenal?" tanya Pakorn.
Ramet menjawab, "Aku pernah mendengar tentangnya. Tapi ini pertama kali kami bertemu." Ramet tersenyum penuh misteri.

"Seharusnya kita bertemu lebih cepat. Sayang sekali. Aku punya rencana bisnis untuk Chiang Rai."

"Sayang sekali. Aku tidak begitu tertarik pada investasi."

"Wah padahal aku berniat menginvestasikan banyak uang."

"Aku pikir kualitas itu lebih baik daripada uang."

Khun Kittichai terlihat tidak suka. "Kalau begitu aku akan senang jika suatu hari kamu berubah pikiran." Dia lalu pamit pergi. Dia keluar dengan kesal. Seseorang menghubungi ponsel. Lalu dia tersenyum mencurigakan.

Pim sudah ganti baju. Dia berniat pergi. Asistennya meneleponnya menanyakan soal interview. Pim menolak karena dia sedang tidak mood. Lagipula dia tidak diberitahu soal wawancara. Pim menutup teleponnya.

Asistennya kalut karena Pim tidak mau berfoto dulu dengan pemilik acara. Belum lagi banyak wartawan yang sudah menunggu. Merekapun bergegas mencari keberadaan Pim.

Pim berjalan menuju parkiran. Khun Vi datang menghentikannya. Pim sinis melihatnya.

"Apa kamu ke sini karena menyesal dan ingin minta maaf pada mantan anak tirimu?"

"Aku tidak sebodoh itu Pim. Itu hanya kemenangan tipis dari seorang gadis pencemburu. Itu tidak ada apa-apnya dibanding seorang wanita sederhana yang berhasil mendapatkan Withapibol's house."


Amarah terpancar dari mata Pim. Dia berniat menampar Khun Vi. Tapi kedua asistennya memeganginya. "Dasar wanitacrendahan! Kau hanyalah kesalahan ayahku."

"Itu bukan kesalahan tapi kebodohan. Khun Tai adalah pengusaha terkenal. Tapi dia memberikan semua uangnya pada wanita rendah yang kau anggap rendahan."

Di dalam, Pakorn memperingatkan Ramet karena yang ia dengar, Kitichai adalah orang yang serakah dan dia memiliki dukungan yang baik. Tiba-tiba sekretarisnya datang dan mengabarkan ada masalah besar. Tiga penginapan terbakar. Dia berpendapat ini bukan hanya perbuatan warga lokal terkait penjualan tanah. Tapi ini bentuk ancaman dari mereka. Ramet bergegas pergi.

Pim mengatai Khun Vi pela**r. Dia menendang Noodee dan asisten satunya lalu menghampiri Khun V dan menamparnya. Khun Vi balik menampar Pim. Keduanya bergulat ala wanita. Kedua asisten berusaha menjegal Pim tapi dia terus berusaha memberontak.

Si staff wanita dan temannya datang berikut para wartawan yang kontan langsung memotret dan merekam keributan yang terjadi di sana.

Khun Vi mengaku dirinya sebagai korban. Jelas Pim tidak terima dan menuduh Khun Vi pembohong. Dia meminta agar para wartawan tidak memotretnya.

Pim dan Khun Vi terus beradu argumen, mencaci, dan memaki. Ramet yang kebetulan lewat, berhenti sejenak memperhatikan mereka. Sekretarisnya mengingatkan untuk bergegas.

Pim menyuruh para wartawan mendengarkannya. "Aku hanya akan memakai jasa profesional. Dimana ada Pimpalat, tidak akan ada Matavi."


"Baiklah. Kita lihat saja siapa yang bisa bertahan sampai akhir."

Mereka saling menatap sengit.


Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 5 Part 4 )

The Crowned Clown 

Episode 5 Part 4



Sumber konten dan gambar : TVN



Ha Sun sedang belajar di perpustakaan. Dia mengeluh kalau menjadi raja ternyata tidak mudah. Bahkan membaca buku saja tidak cukup. Mungkin butuh waktu selamanya untuk mempelajari semua buku dihadapannya.

Kasim Jo sependapat. Ha Sun sadar kalau Kasim Jo mungkin lelah. Dia memintanya beristirahat. Kasim Jo jadi merasa tidak enak karena sempat mengeluh. Dia berniat tetap menemani Ha Sun belajar.

Karena Kasim Jo tidak menurutinya, Ha Sun mengeluarkan aura raja yang berwibawa. Dengan nada memerintah, Ha  Sun berkata, "Ini perintah!"

Ha Sun memberi waktu 2 jam untuk Kasim Jo beristirahat. Kasim Jo akhirnya menurut.
Setelah Kasim Jo pergi, So Woon datang dengan membawa tonik  herbal. Dia masuk diam-diam tanpa membuat pengumuman.
So Woon meletakkan toniknya di meja perpustakaan. Ha Sun yang mendengar seseorang datang mengira itu Kasim Jo dan bertanya kenapa Kasim Jo cepat sekali kembali. So Woon menghampirinya berbarengan dengan Ha Sun yang berbalik. Merekapun bertabrakan hingga So Woon hampir jatuh. Beruntung Ha Sun segera memeganginya.


Suasana romantis berlangsung selama beberapa saat. Keduanya saling berpandangan. Ha Sun segera menyadari posisinya. Dia melepaskan tangan So Woon dan meminta maaf karena membuat So Woon kaget. Suasanapun berubah canggung.

So Woon memberitahu kalau dia membawakan tonik herbal. Sayangnya, saat dia memeriksanya, ternyata toniknya sudah dingin. Dia berniat untuk merebusnya lagi. Ha Sun melarangnya. Dia meminum tonik dingin itu lalu berterimakasih pada So Woon.

Suasana masih terasa canggung. So Woon mengedarkan pandangannya. Ha Sun khawatir So Woon melihat hasil terjemahan kasim Jo di meja. Untung So Woon tidak melihatnya dan berjalan ke arah lain. Ha Sun segera menutupi buku hasil terjemahan kasim Jo dengan buku lain, lalu mengikuti So Woon.

So Woon melihat-lihat buku di perpustakaan. Dia tidak menyangka bukunya lebih banyak dari yang dia pikirkan.

"Aku juga tidak tahu kalau kau suka baca buku," sahut Ha Sun. Ha Sun menawarkan untuk menggunakan ijinnya jika So Woon ingin ke perpustakaan sendiri. Dia bertanya apa buku favorit So Woon.

"Aku suka puisi Tao Yuan Ming. Seperti burung yang terbang tinggi dan ikan yang menyelam di dalam lautan, aku suka hal alami dan mudah dibaca."

"Jika kau menyukai hal alami dan mudah, kehidupan di istana pasti membuatmu frustasi."

"Jika aku harus mengatakannya, aku memang pernah berpikir seperti itu. Sejujurnya, aku memimpikan kehidupan selain di istana."

So Woon menatap mata Ha Sun. "Tapi tidak lagi. Aku tidak bisa membayangkan hidup di tempat lain." So Woon melangkah mendekati Ha Sun. Mereka saling memandang satu sama lain.

Di luar, Ae Young terlihat khawatir. Kasim Jo datang. Melihat Ae Young, dia sudah bisa menduga kalau ratu ada di dalam. Ae Young mengajaknya ke dapur karena tadi raja minta teh tapi dia tidak tahu teh apa yang raja suka. Kasim Jo tidak menggubrisnya dan buru-buru masuk ke perpustakaan. Kedatangannya langsung mengakhiri sesi tatap-tatapan ratu dan raja palsu. So Woon pun undur diri.


Ae Young membantu So Woon memakai baju tidur. So Woon melamun memikirkan kejadian di perpustakaan saat Ha Sun menangkapnya dan mereka saling berpandangan. Ae Young tersenyum melihatnya dan mengatakan kalau wajah So Woon merah seperti bunga mawar.

"Apa kau memikirkan raja?"

So Woon malu dan menyentuh pipinya. "Apa kelihatan?"

"Kalau tidak karena kedatangan kasim Jo.... Dia biasanya sangat lambat, tapi bergerak cepat saat berhubungan dengan raja."

So Woon tersenyum. "Aku tidak tahu harus memberinya hadiah atau menghukumnya."
Dayang Kim datang ke kediaman ibu suri. Ibu suri melempar sebuah buku ke hadapannya. Ibu suri tertawa.

"Aku mendengar tentangmu."

"80% dari itu salah. Dari siapa Anda mendengarnya?"

Ibu bangkit. "Dari almarhum raja."

Raut wajah Dayang Kim berubah. Dia tampak terkejut.

Ratu melanjutkan, "Raja bilang dia tidak pernah bertemu dayang istana yang bisa menyelesaikan masalah dengan baik seperti dirimu. Dia sedih saat harus mengirimmu untuk mengurus anaknya. Dia pasti sangat kecewa kalau tahu kau memihak putranya. Dia bisa saja bangkit dari kuburnya."

"Ibu Suri..."

"Jangan khawatir. Aku menghargai kemampuanmu. Lakukanlah yang terbaik. Aku akan mempertimbangkanmu setelah melihat seberapa baik kau menyelesaikan masalahku."

Galau deh Dayang Kim.


Gab Soo sedang mencari kacang kastanye yang berjatuhan di atas bukit. Dal Rae mengekorinya di belakang. Gab Soo memarahinya karena malah memunguti kacang hazel yang kecil bukannya kacang kastanye.

Dal Rae hanya menjulurkan lidahnya. Dia lanjut mencari kacang hazel. Tanpa sengaja dia melihat biksu membawa sesuatu ke rumah di bawah bukit. Dal Rae penasaran dan pergi ke sana. Tapi pintunya di gembok. Diapun mengintip lewat lubang kecil di pintu. Hampir saja dia bisa melihat wajah Lee Hun yang sedang tertidur. Tiba-tiba Gab Soo datang memarahinya  dan menyeretnya pergi.


Ho Goel sedang berjudi. Lagi-lagi dia menggunakan kemampuan berhitungnya untuk menang. Tiba-tiba datang petugas dari istana menangkapnya dengan alasan untuk membayar hutang judi.

Ternyata itu adalah siasat Lee Kyu untuk membawa Ho Geol ke istana. Ho Goel langsung mengumpat saat Lee Kyu menemuinya di penjara.


Ho Goel dibawa menghadap raja. Ha Sun menawarinya untuk bekerja di istana. Dengan bahasa tidak sopan, Ho Geol mengaku kalau dia sudah muak dengan pemerintahan.

"Aku dengar kau suka bertaruh. Kalau begitu bagaimana kalau kita bertaruh. Yang kalah akan mengabulkan permintaan yang menang."

"Aku harap kau tidak menyesal. Asal kau tahu saja, aku tidak pernah kalah bertaruh."

Permainan kartupun berlangsung. Ho Goel senang karena dia mendapat kartu ganda 7. Tapi Ha Sun dengan wajah polosnya menunjukkan kartu ganda 9. Berkali-kali mereka mengulangi permainan, tapi selalu Ha Sun yang menang. Sampai pada permainan terakhir, Ho Geol girang mendapat ganda 9. Tapi dasar nasibnya lagi sial, Ha Sun dapat ganda 10. Dengan lemas Ho Goel menyatakan menerima tawaran raja.

"Aku menghargai kemampuanmu. Tapi aku tidak akan memaksamu. Datanglah lagi padaku saat kau berubah pikiran. Kau boleh pergi."

Lee Kyu yang tadinya tersenyum jadi merengut heran dengan keputusan Ha Sun. Begitupula dengan Ho Geol. Dia berjalan sambil terus berpikir sampai tidak sadar kalau berpapasan dengan para pejabat istana. Yi Gyeom mengatainya karena tidak memberi hormat. Sedang kedua pejabat yang bersamanya merasa pernah melihat Ho Geol.


Lee Kyu bertanya bagaimana Ha Sun tidak sekalipun kalah. Ha Sun mengangkat lengannya lalu menghentak-hentakkan badannya. Muncullah banyak kartu yang berjatuhan.

"Aku kan sudah pernah bilang aku tidak pernah kalah."

Lee Kyu melihat lengan Ha Sun kepo. Ha Sun menarik lengannya lalu mulai menyombongkan diri.

"Ah! Kau tidak akan mengerti. Aku mendapatkannya sejak lahir."

Dua pejabat bersama Yi Gyeom melapor pada tuan Shin kalau mereka melihat anak Joo Se Woong di istana. Mereka memberitahu kalau Ho Geol pandai dalam angka dan perhitungan.

Yi Gyeom menduga kalau raja ingin menggunakannya untuk mengetahui penggelapan pajak.

Tuan Shin tampak berpikir. "Menteri personalia. Ini saatnya bertindak."
Esoknya, kantor perpajakan di serbu karyawan menteri personalia. Mereka menyita dokumen tentang mengalihan hakim daerah.

Para pejabat pun mengadakan rapat dengan raja. Menteri personalia dan perpajakan saling menyalahkan. M. Personalia menyalahkan M. Perpajakan karena tidak menyerahkan dokumen pengalihan hakim daerah. M. Perpajakan menuduh M. Personalia menyita dokumen untuk menutupi kesalahan. Tuan Shin menyarankan agar raja memanggil inspektur jenderal untuk menentukan siapa yang harus bertanggungjawab."

Ha Sun bermusyawarah dengan Lee Kyu. Lee Kyu menjelaskan jika terbukti tidak ada masalah dalam pengalihan hakim daerah, maka M. Perpajakan akan di hukum. Tanpa M. Perpajakan, mereka tidak bisa menjalankan upeti pembayaran beras. Jalan satu-satunya mereka harus menemukan bukti penggelapan dalam dokumen serah terima. Lee Kyu akan menemui Ho Geol malam ini.


Ho Goel sedang menunggu Lee Kyu di teras sebuah rumah. Dia kesal karena Lee Kyu belum datang dan berniat pergi. Ternyata Lee Kyu sedang berjalan ke arahnya. Dia tersenyum pada Ho Geol. Tapi senyumnya sekelika hilang saat melihat beberapa orang berpakaian ninja. Dia segera berteriak memperingatkan Ho Geol.

"Ho Geol-aa!!"

Ho Geol menoleh ke arah Lee Kyu memandang. Dia terkejut dan tidak sempat menghindar. Seseorang melemparkan pisau ke arahnya. Ho Geolpun tumbang ke belakang. Lee Kyu terkejut hingga memelototkan matanya.

So Woon membawakan tonik herbal ke perpustakaan. Dia mengedarkan pandangan mencari Ha Sun namun tidak menemukannya. Dia pun meletakkan tonik di meja. Saat itulah dia melihat Ha Sun yang tertidur bersandar pada rak buku.


So Woon memandangi Ha Sun. Dia melihat kening Ha Sun yang berkerut. So Woon pun menyentuhnya. Ha Sun bergerak. Tangannya terkulai. So Woon duduk lalu membetulkan tangan Ha Sun ke pangkuan. Dia menggenggam tangan Ha Sun sambil tersenyum. Ha Sun membuka mata dan terkejut melihat So Woon ada di depannya. Dia lalu memejamkan matanya lagi pura-pura tidur.

"Aku sudah merebus 20 obat-obatan. Aku melihat ke arah kamarmu seolah-olah aku melihat bulan dan bintang. Taman dan perpustakaan, aku mendatanginya berkali-kali dalam sehari. Aku pikir aku butuh alasan, kenapa hatiku berdebar-debar. Aku telah jatuh cinta padamu. Sekarang, itu telah terjadi."


So Woon mendekat ke wajah Ha Sun. Dia mencium bibir Ha Sun. Ha Sun membuka matanya terkejut.

Read More

Sinopsis K-Drama : The Crowned Clown ( Episode 5 Part 3 )

The Crowned Clown

Episode 5 Part 3



Sumber konten dan gambar : TVN

Tuan Shin tertegun.

Lee Kyu menambahkan, bahwa dia akan membuat raja terbaik dalam sejarah dan membuatmu menjadi abdi paling setia di antara semua abdi.


Tuan Shin malah tertawa. Lee Kyu bertanya apa tadi itu semacam cerita lucu.

"Tanganku selalu penuh darah sampai raja mendapatkan tahtanya. Seorang abdi yang berbahaya yang menyebabkan pertumpahan darah. Penghianat yang lebih buruk dari binatang buas berpakaian manusia. Semakin banyak julukan yang aku dapat, semakin jujur diriku. Demi raja aku siap menahan aib dan rasa sakit apapun."

Tuan Shin menuangkan tehnya lagi. Dia bertanya apa yang Lee Kyu lakukan. Tuan Shin menyebut Lee Kyu sok mulia dan tidak menumpahkan darah dari tangannya.

"Kau hanya bersembunyi di balik ayah ratu saat dia mengajukan petisi pada raja  agar aku dipenggal. Kau hanya pengecut yang tidak bisa menahan penghinaan dan pengorbanan. Bagaimana bisa kau berkata akan menjadikanku abdi raja paling setia? Bagaimana aku tidak menertawainya?"

Tuan Shin tertawa lagi. Lee Kyu tersenyum tipis. Dia membalas dengan berkata apa itu sebabnya Tuan Shin mengambil dari rakyat dan mengatasnamakan raja, terus menginginkan kekuasaan.

"Apa itu yang dilakukan abdi setia yang rela berkorban? Kata kesetiaan tidak pantas untukmu. Jika kamu masih punya kesetiaan untuk Yang Mulia, jangan nodai pemerintahan dengan keserakahanmu yang menjijikan dan menjauhlah dari istana. Aku akan memberimu satu kesempatan sebagai teman yang pernah berbagi cita-cita yang sama."

Lee Kyu mengucapkannya dengan penuh tekanan. Dia menenggak tehnya sekali lagi lalu pergi. Dia menemui Woon Shim. Woon Shim bertanya apa ada masalah. Lee Kyu menjawab justru sekarang dia merasa lebih ringan. Dia lalu meminta Woon Shim mengirimkan pesan lagi pada anggota. Karena ini adalah saatnya mereka berkumpul kembali. Woon Shim tertegun. Namun dia akhirnya tersenyum tipis.


Ha Sun meminum obat buatan So Woon. So Woon tersenyum melihatnya. Dia berkomentar kalau wajah raja sudah terlihat cerah lagi. Ha Sun memintanya untuk berhenti merebuskannya obat kalau begitu. Tapi So Woon menolak dan berkata bahwa dia akan membuatkan raja obat selama 10 hari lagi.

Mereka lalu jalan-jalan berdua. So Woon mengingatkan tentang peringatan kematian ibu raja. So Woon meminta raja agar menemukan cara untuk menambah persediaan beras yang akan diberikan pada rakyat. Ha Sun dengan senyum mengembang menyanggupinya. So Woon pun membalas senyumnya. Dan Kasim Jo terus memperhatikan mereka dari jauh.

Ha Sun menyampaikan perintahnya untuk mencari tambahan beras, Tuan Shin menolaknya dengan alasan persediaan sudah digunakan untuk pembangunan kerajaan. Ha Sun menyuruhnya untuk menunda pembangunan. Lagi-lagi Tuan Shin menolak dengan mengatakan itu demi otoritas mereka yang sedang dipertanyakan akhir-akhir ini. Dia malah menyarankan agar pejabat lokal menarik pajak dari rakyat. Lee Kyu meliriknya tidak suka.

Ha Sun menghela nafas lalu menyuruh Tuan Shin pergi karena dia akan memikirkannya dulu. Setelah Tuan Shin pergi, Ha Sun kembali pada tabiatnya yang ceplas ceplos. Dia turun dari singgasananya menghampiri Lee Kyu.

"Rakyat sedang kelaparan tapi dia malah mau membangun istana. Apa itu masuk akal? Pihh!!" (Meludah ceritanya dia hehe )
Lee Kyu menjelaskan kalau persediaan istana dan semua yang ada di balik lemari besi istana, diatur oleh Tuan Shin. Sekarang Tuan Shin punya alasan bagus untuk membangun istana, jadi dia pasti menolak untuk mundur.


Ha Sun frustasi dan bertanya apa yang harus mereka lakukan. Lee Kyu menyuruhnya membuat pertemuan dengan menteri perpajakan.

Menteri perpajakan pun dipanggil. Ha Sun langsung menyampaikan saran Tuan Shin. Menteri perpajakan tidak setuju dengan saran itu. Masa minta pajak dari rakyat untuk digunakan membeli beras untuk rakyat. Kan tidak masuk akal. Ha Sun dengan semangat meyetujuinya. Menteri perpajakan menambahkan bahwa sebenarnya penduduk dari seluruh pelosok negeri sudah mengirimkan beras untuk rakyat miskin tapi para pejabat lokal menyabotasenya. Jadi satu-satunya jalan, raja harus memeriksa pembayaran upeti.
Bicara soal upeti, Ha Sun jadi teringat Kye Hwan yang bercerita kalau ayahnya terpaksa menjualnya ke istana agar bisa membayar upeti.

"Ya. Aku dengar ada ayah yang menjual anaknya demi bisa membayar upeti. Saat aku berada di pasar...."

Ha Sun keceplosan. Dia melirik Lee Kyu lalu memperbaiki ucapannya.

"Aku dengar dari pasar, rakyat yang tidak bisa membayar upeti harus membeli sesuatu untuk mengganti upetinya."

Lee Kyu menjelaskan kalau para pejabat mendapat suap dan sengaja menolak upeti mereka." (Jadi maksudnya, pejabat menolak upeti alias pajak uang dari rakyat karena mereka disuap para pedagang. 
Sebagai gantinya pejabat meminta upeti berupa benda yang untuk mendapatkan benda itu, rakyat harus membelinya dengan harga mahal pada pedagang yang memberi suap)

Ha Sun kesal. "Lalu kenapa tidak menerima beras saja sebagai ganti upeti itu?"
Lee Kyu tertegun mendengar ide dari Ha Sun. Menteri perpajakan bertanya apa raja sedang memintanya mengembalikan aturan pembayaran beras. Ha Sun bingung sendiri. Dia melirik Lee Kyu yang langsung mengangguk. Ha Sun pun menjawab, "Ya."
Menteri perpajakan berkata kalau beban di dadanya terangkat berkat perkataan raja. Tapi dia juga bilang ada kendala dari para pejabat yang pasti menolak upeti pembayaran beras. Sebagai solusinya, mereka harus menghitung harga beras saat peninjauan status di setiap wilayah. Sayangnya tak seorangpun di departemen perpajakan bisa menghitung hal itu. Tapi dia mengenal seseorang yang bisa menghitungnya. Namanya Jo Hoo Geol.

Ternyata Lee Kyu juga mengenal Joo Ho Geol. Dia berjanji pada menteri perpajakan bahwa dia akan membantu mencari Joo Ho Geol.


Orang yang bernama Joo Ho Geol itu sedang asik berjudi kartu (kartunya itu kaya stik es krim) bersama tiga orang lainnya. Salah seorang dari mereka hendak menipunya dengan berkata kalau dia punya kartu ganda 9. Tapi Ho Geol ternyata pandai menghitung. Dia bahkan bisa mengingat 40 kartu yang ada. Dia yakin kalau orang itu menipunya. Dan benar saja, saat dilihat, kartu orang itu ternyata 9 dan 7. Dan yang dapat ganda 9 adalah Ho Geol. Dengan riangnya Ho Geol menaruh semua uang koin ke dalam topi capingnya.

Ternyata tiga orang lainnya berkomplot. Mereka menyerang Ho Geol. Kontan Ho Geol ketakutan. Salah seorang hendak menikamnya dengan pisau. Namun, tiba-tiba Lee Kyu datang dengan pedangnya dan menolong Ho Goel. Bukannya membantu, Ho Goel malah kabur.

Ho Goel melihat uang yang dia dapatkan. Dia terlihat sangat senang. Mendadak Lee Kyu menepuk pundaknya dari belakang. Ho Geol berusaha menyerang. Tapi jelas dia kalah karena ternyata Ho Geol sama sekali tidak bisa berkelahi.

Lee Kyu bertanya kenapa Ho Geol tidak pernah menemuinya. Ho Geol sebenarnya ingin, tapi Lee Kyu kan tidak punya simpanan uang dan warisan.

"Kau jadi pengemis sekarang?"

"Aku tidak punya rumah. Jadi aku bisa melakukan apa saja."

Lee Kyu menawarkan kalau mereka bisa mencipatakan dunia seperti yang Tuan Gil Sam Bong dan anggota mereka impikan.
Ho Geol malah tertawa.

"Memangnya masih ada cara seperti itu di Joseon? Omong kosong! Memimpikannya saja bisa membuatmu terbunuh atas penghianatan tingkat tinggi. Seperti Tuan Gil dan orang-orangnya. Jangan ikuti aku. Aku tidak ingin melukaimu."

Ho Geol pergi sambil terus menengok ke belakang takut Lee Kyu mengikutinya. Sedangkan Lee Kyu hanya bisa diam sambil merenungi perkataan Ho Goel.

Seseorang meletakkan sekotak uang di meja Tuan Shin. Dia berkata bahwa dia tidak ingin menjadi hakim daerah selamanya. Tuan Shin menjanjikannya jabatan gubernur. Dan di luar, ternyata banyak sekali orang yang mengantri untuk menyuap Tuan Shin.

Di tempat lain, Woon Shim mengabarkan pada Lee Kyu kalau dia sudah menerima pesan balasan dari anggota. Woon Shin menawarkan diri untuk pergi menemui mereka sendirian. Lee Kyu berkata kalau dia juga ingin menemui mereka.


Woon Shim dan Lee Kyu berjalan di hutan bambu.

"Apa tidak masalah kita bertemu disiang hari?"

Woon Shim takut ada yang menjebak mereka atas penghianatan tingkat tinggi. Lee Kyu menenangkannya karena mereka hanya berkumpul bersama untuk melihat dunia yang terang. Jadi mereka tidak punya alasan untuk bersembunyi dalam kegelapan.

Beberapa orang sudah menunggu. Mereka terlihat tidak senang melihat Lee Kyu dan menyebutnya penghianat. Mereka berniat pergi. Lee Kyu berlutut dan mengakui salahnya karena tidak bisa membantu saat Tuan Gil dan pengikutnya disiksa dan dibunuh.

"Bawa orang yang sudah mati kembali. Baru aku akan memafkanmu."

Merekapun pergi. Lee Kyu sadar kalau dia tidak akan dimaafkan dengan mudah. Tapi dia tidak akan menyerah.

"Itu berarti mereka sangat merindukan grup Daedong."


Read More

Sinopsis K-Drama : Fates and Furies ( Episode 10 )

Fates and Furies


Episode 10


Sumber konten dan gambar : SBS

Jung Ho duduk bersama ibu dan istrinya. Dia kesal setelah mengetahui lamaran In Joon. Jung Ho lalu menenggak minumannya dan menghentakkan gelasnya ke meja dengan keras hingga gelas pecah dan telapak tangannya berdarah.

Nyonya Han berteriak kaget. Ah Jung berusaha melihat tangan suaminya, namun Jung Ho malah mendorong dan mengusirnya. Ah Jung seperti biasa hanya bisa menurut.

Hee Ra sedang melipat pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper. Sun Young masuk dan bertanya apa yang sedang Hee Ra lakukan. Hee Ra menjawab dengan lemah kalau dia akan pulang ke Busan.

Sun Young protes. Dia mengingatkan kalau Hee Ra lah yang meyakinkan mereka untuk pergi ke Seoul.

"Aku akan pulang ke Busan duluan. Kalian bisa menyusul kapanpun kalian mau kalau sudah muak dengan Seoul."

Sun Young berusaha tenang. Dia bertanya bagaimana dengan Hyun Joo. Hee Ra menghela nafasnya.

Hee Ra pergi ke rumah sakit. Dia berkata pada resepsionis kalau dia ingin memindahkan kakaknya. Hee Ra disuruh untuk mengisi formulir terlebih dahulu.

Saat masuk ke ruang rawat kakaknya, ternyata di sana sudah ada Tae Oh.

"Aku kecewa padamu Hee Ra-ssi."

Hee Ra berjanji akan mengembalikan uang Tae Oh. Tae Oh malah berteriak hingga membuat Hee Ra terjingkat kaget.

"Apa kamu bercanda sekarang!!! Aku sudah bilang bahwa hanya aku yang berhak membuat kesepakatan."

Tae Oh mendekati Hyun Joo lalu melepas alat bantu nafasnya. Hee Ra kontak melotot kaget. Dia berusaha mendekat namun Tae Oh mendorongnya hingga tersungkur.

Tae Oh memojokkan Hee Ra ke tembok. Sementara Hee Ra meronta minta dilepaskan. Dia menangis melihat kakaknya. Apalagi terdengar alarm peringatan dari alat pendeteksi denyut jantung dan tekanan darah.

Tae Oh mencengkeram bahu Hee Ra.
"Aku memintamu merayu In Joon bagaimanapun caranya. Tidurlah dengannya dan ambil foto atau apalah!!! Buat dia membatalkan pernikahannya!!"

Hee Ra sekuat tenaga berusaha lepas dari cengkeraman Tae Oh. Tapi bagaimanapun juga, sebagai pria tenaga Tae Oh jelas lebih kuat. Dia menahan leher Hee Ra dengan lengannya dan mengancam Hee Ra agar mau melakukannya.

Demi menyelamatkan kakaknya, Hee Ra bersedia melakukan apa yang Tae Oh mau.
Setelah lepas, Hee Ra bergegas memasang kembali alat bantu nafas kakaknya. Tangannya sampai bergetar saking takutnya.

"Kalau kau belum mengerti juga kenapa kau harus melakukan ini, baca ini dulu!"
Tae Oh melemparkan sebuah amplop putih lalu pergi. Meski sudah mengancam nyawa Hyun Joo, dia masih peduli dengan mengatakan pada perawat kalau Hyun Joo kejang dan meminta untuk diperiksa.

Hee Ra membuka amplop dari Tae Oh yang ternyata berisi rincian biaya rumah sakit Hyun Joo. Dia mengenyit kaget saat melihat penanggung biaya rumah sakit. Dia sana tertulis nama Tae In Joon.

Hee Ra bergetar mengingat masa lalu.

Flashback

Saat itu dia berlari keluar dari taksi menuju rumah sakit Hansong. Kakaknya tak sadarkan diri di ruang ICU karena mencoba bunuh diri.

Sun Young datang menemaninya. Dia menangis karena seharusnya Hyun Joo bisa diselamatkan jika dibawa ke rumah sakit satu jam sebelumnya. (Belum mudeng kaitannya apa sama In Joon)

Flashback end

In Joon sedang meninjau tanah di Gonjiam. Jung Ho datang kesana dengan emosi. Dia meraih kerah baju In Joon. In Joon tidak suka lalu berbalik memelintir tangan Jung Ho hingga Jung Ho kesakitan.

"Silsilah keluarga kita memang terlihat informal. Tapi bersikaplah formal saat di tempat kerja."

"Lihat saja nanti. Ini belum berakhir."

Jung Ho pergi dengan kesal.

Soo Hyun sedang diwawancara seorang reporter wanita seorang diri. Reporter menanyakan soal rumor yang beredar bahwa pernikahan In Joon dan Soo Hyun hanya untuk kepentingan bisnis. Soo Hyun tampak tidak suka dengan pertanyaan itu. Dia hanya menjawab, "Kami akan melakukan yang terbaik untuk hidup bahagia." Soo Hyun lalu menyudahi  wawancara meskipun reporter bilang masih punya pertanyaan lain.

Soo Hyun dan ayahnya mengunjungi kediaman Tuan Tae. Nyonya Han menyajikan teh pada mereka. Tampak jelas di wajahnya bahwa dia tidak suka dengan kedatangan mereka.

Tuan Tae berkata bahwa In Joo  beruntung memdapatkan Soo Hyun. Dia memuji Soo Hyun begitu rupa. Dia juga memuji In Joon yang bisa diandalkan meski ibunya sudah meninggal. Nyonya Han langsung meliriknya. Begitupun dengan Soo Hyun dan ayahnya.

Untuk mengalihkan pembicaraan, Tuan Tae menyuruh Nyonya Han untuk segera mengirim Jung Min ke luar negeri setelah selesai melakukan layanan masyarakat. Dia tidak ingin Jung Min mengganggu pernikahan In Joon dan Soo Hyun.

Ui Gun dan Jung Min sedang diberi arahan untuk layanan masyarakat.

"Kang Ui Gun. Kamu masih punya 25 jam lagi," kata petugas.

Jung Min tertawa mengejek. "Itu masih lama."

"Tae Jung Min. Kamu masih punya 250 jam lagi."

Gantian Ui Gun yang tertawa. "Kamu berencana tinggal di sini?"

Mereka ditugaskan untuk membersihkan kandang guguk. Jung Min jelas jijik sendiri. Dia lalu punya ide jahil untuk mengerjai Ui Gun. Diam-diam dia mendekati Ui Gun lalu mendorongnya hingga Ui Gun tersungkur dan tangannya menekan kotoran guguk. Ui Gun mengumpat lalu melempari Jung Min dengan kotoran guguk. Mereka akhirnya perang lempar kotoran guguk.

Ui Gun membersihkan dirinya. Terlihat sweeternya yang basah tergantung di jemuran. Jung Min menghampirinya. Dia menatap badan Ui Gun yang sixpack dan hanya di balut kaus dalam saja. Terpanalah dia. Jung Min terus menyusuri bagian tubuh Ui Gun yang lain. Lengan Ui Gun dengan bisep yang menggembung. Jung Min senyum-senyum sendiri.

Ui Gun menyadarkannya dengan bertanya apa yang sedang Jung Min lihat. Jung Min berusaha mengalihkan perhatian.

"Apa benarnya sweetermu itu mahal? Berapa harganya?"

Ui Gun dengan tegas mengatakan bahwa itu memang mahal. Dia menyebut harganya 70 dollar dan 9 yen."

Jung Min tertawa. Sebagai anak seorang chaebol tentu harga segitu tidaklah mahal baginya. Dia memberikan ponselnya pada Ui Gun agar menulis nomor ponsel Ui Gun disana.

"Untuk apa?"

"Untuk membayarmu."

"Tidak perlu."

"Kalau begitu aku akan mentraktirmu makan sebagai ganti sweatermu."

Akhirnya Ui Gun mau menuliskan nomornya. Jung Min menamai kontaknya dengan 'kotoran guguk'.

"Aku akan meneleponmu. Angkat sebelum berdering tiga kali. Aku tidak suka menunggu."

Sun Young melamar kerja di tempat spa. Sang manager mengeluhkan aksen Busan Sun Young yang sangat kental.

Sun Young dengan percaya dirinya mengatakan bahwa dia tidak punya aksen kok. Setelah menyeberang ke Seoul dia bicara dengan logat Seoul.

"Aksenmu itu sangat kental."

Sun Young ngeyel. "Kenapa itu penting. Aku kan memijat dengan tanganku bukan mulutku."

Manager memberinya tatapan tajam. Dia mewanti-wanti Sun Young untuk jangan bicara sepatah katapun.

Pelanggan pertama yang harus Sun Young layani adalah Nyonya Han. Sedangkan Ah Jung hanya duduk menungguinya.

Sun Young bingung karena tidak diperbolehkan bicara. Jadi dia menggunakan bahasa isyarat bahwa dia akan memulai memijat. Sebelum memijat, Sun Young berdoa lebih dulu. (HAHA)

"Apa kamu bisu? Aku suka dengan ketenanganmu. Kamu tidak membicarakan hal-hal yang tidak berguna."

Nyonya Han beralih pada Ah Jung yang sedang melamun. Dia menyuruh Ah Jung untuk membeli munuman dingin. Selanjutnya dia malah curhat pada Sun Young bahwa dia kesal karena punya menantu seperti Ah Jung.

"Karena dia anakku akan kehilangan perusahaan karena diambil alih oleh In Joon."

Kontan Sun Young terkejut mendengar nama In Joon disebut. Nyonya Han bercerita kalau In Joon memang anak yang sah. Tapi tetap saja Jung Ho lah anak yang tertua. (Oh, jadi kayaknya Tuan Tae itu udah punya anak sama Nyonya Han sebelum menikah sama ibunya In Joon. Atau Tuan Tae selingkuh sama nyonya Han sebelum In Joon lahir? Entahlah)

In Joon dan Soo Hyun merayakan hubungan mereka di kantor. Para karyawan tim desain memberi mereka ucapan selamat. Soi Hyun berjanji akan mengundang mereka ke acara pertungan.
Hee Ra terlihat keluar dari lift. Kali ini tampilannya tampak berbeda. Rambutnya digerai. Wajahnya dipulas make up. Dan pakaiannya tampak mahal. Dia masuk ke ruangannya dan disambut tatapan kaget dari semua orang. Soo Hyun langsung menyindirnya tidak tahu malu.

Tiba-tiba Tae Oh juga datang. In Joon mengingatkan bahwa kerjasama mereka sudah selesai. Tae Oh berkata kalau dia datang untuk urusan pribadi.

Mereka berempatpun duduk bersama dengan secangkir kopi di hadapan masing-masing. Tapi hanya Tae Oh dan Hee Ra yang menyeruput kopinya.

Tae Oh mengucapkan selamat pada In Joon dan So Hyun. Dia berkata kalau Hee Ra mengatakan padanya ada kesalahpahaman.
In Joon bertanya, "Kau menyebutnya salah paham. Lalu salah paham yang seperti apa?"

Tae Oh tersenyum dan merangkul bahu Hee Ra. "Kau saja yang katakan pada mereka, sayang."

Hee Ra menatap In Joon.

"Sebenarnya, hubungan kami adalah.... berpacaran."

Hee Ra menatap mesra Tae Oh. Sedangkan So Hyun melotot tidak percaya. Begitu pula In Joon yang tampak kaget.


Read More