Sinopsis Abyss Episode 8 Part 2

Drama Korea
Abyss
Episode 8 Part 2


Sumber konten dan gambar : TVN



Mi Do terbelalak melihat Se Yeon yang wajahnya bak duplikatnya dulu.

"Annyeong!" sapa Se Yeon dengan gaya sengak. "Kudengar kamu bersikeras mengaku menjadi pengacara Lee Mi Do."

"Ya. Aku Lee Mi Do. Siapa kamu?" tanya Mi Do dengan wajah yang masih terperangah.

Se Yeon menggebrak meja. "Tampaknya kamu bukanlah orang yang suka lakukan hal begini. Kenapa kamu meniruku?" bentak Se Yeon. "Lagipula, jika ingin menipu orang, setidaknya pilih seseorang yang sungguh mirip. Peniruan dianggap pelanggaran kecil. Cenderung tidak dianggap serius. Tapi jika mendapat untung dari meniru, setidaknya..."

Mi Do menyela. "Siapa yang meniru siapa di sini? Apa kamu? Kamu baji**an yang meniruku?"

"Apa? Baji**an? Dasar kamu..."

Mi Do menunjukkan kartu identitasnya. Dia mengaku mengoperasi wajahnya.  Lagi-lagi dia dikira memalsukan identitas karena itu hal mudah di jaman sekarang. Se Yeon bertanya dimana Mi Do mendapatkan kartu identitas palsu itu.


Mi Do kesal. "Sapi ini banyak juga bicaranya."

Seketika ucapan Mi Do barusan mengingatkannya pada kejadian di toilet tempat karaoke saat dia dan Mi Do saling menjelek-jelekkan. Mi Do mengucapkan kalimat yang sama padanya waktu itu.

"Sapi ini banyak juga bicaranya," umpat Mi Do.

"Apa?" Se Yeon tidak menyangka Mi Do bisa sekasar itu bicaranya.

"Kenapa tidak menutup lubang bok*ngmu sebelum ku pecut?"

Sepertinya Se Yeon mulai menyadari kalau wanita di depannya kemungkinan memang Mi Do yang asli. Dia manatap Mi Do. "Hah! Sunbae!" gumamnya.

Staff wanita masuk dan menyuruh petugas keamanan membawa Mi Do keluar. Mi Do terus bersikeras mengatakan Se Yeon yang menirunya.


"Dengar! Wanita ini meniruku. Aku Lee Mi Do yang asli. Kamu sapi bod*h!! Katakan yang sebenarnya! Kamu mau dipecut?"

Se Yeon lemas sampai harus berpegangan pada dinding.


Se Yeon mendatangi Min di kantor untuk minta bantuan. Min bilang dia tidak bisa membereskan masalah Se Yeon.

"Lalu siapa yang bisa? Aku tidak punya uang atau identitas. Kamu menghidupkanku seperti ini!" Se Yeon kesal.

"Katamu dia pergi tiga tahun. Kenapa dia kembali?"

"Entahlah. Bagaimana aku tahu? Aku harus apa? Aku hancur." Se Yeon frustasi.

"Astaga! Kamu menirunya tanpa memeriksa itu?"

"Hei! Kamu yang membantuku."

"Aku? Kapan?"

"Saat kamu tersangka pembunuhan. Kamu punya makanan dan tempat tinggal karena aku menirunya. Aishhh! Matilah aku!"

Min berpikir sejenak. "Jadi, aku harus meyakinkannya agar Lee Mi Do tidak menuntutmu dipenjara?"

Se Yeon langsung antusias. "Ya ya ya!"

"Aku tidak punya pilihan," ujar Min.

"Apa?"


"Aku hanya punya satu hal. Terpaksa ku gunakan."

"Apa? Satu-satunya yang kamu punya?"


Min tampak tersenyum. Dan senyumnya bertahan sampai dia bertemu Mi Do. Min membukan koper berisi banyak uang. Mi Do kontan melotot melihatnya.

"Jadi kamu sungguh membutuhkanku, tapi tak bisa menghubungiku, Lee Mi Do yang asli. Lalu kamu kebetulan menemukan seseorang yang mirip aku?"

Min membenarkan.

"Bagaimana ini bisa terjadi? Semua sudah terjadi. Anggap saja aku percaya kamu. Lalu kamu ingin aku berbuat apa? Kenapa menawariku banyak uang?"

"Ini sedikit kompensasi untuk menunjukkan maaf," ujar Min. Se Yeon menatap Min tidak percaya. "Jika setuju untuk diam saja soa ini, aku bisa mengabulkan keinginanmu. Contohnya, aku gandakan tawaran Park & Jang. Tidak. Sebenarnya aku bisa tambahkan syaratmu, dan memberimu posisi di tim hukum kami."

Mi Do tampak terperangah dengan tawaran Min. Tapi dia berusaha terlihat bermartabat. "Bukannya aku bersedia lakukan apapun demi uang."

Se Yeon langsung tersenyum mengejek. "Heh!! Kamu suka uang," gumamnya.

Mi Do jadi kesal. Dia tersinggung dan menolak berdialog dengan Se Yeon. Dia berdiri hendak pergi tapi Min buru-buru mencegahnya.

"Aku minta maaf mewakilinya. Mohon duduk."

Wajah Min lumayan berguna di sini. Tapi Se Yeon yang ditolong malah masih saja memasang wajah tengilnya.

"Ada apa dennganmu? Kamu putus asa," bisik Min.

Mi Do menanyakan pekerjaan Se Yeon. Apa dia pengacara? Karena waktu mereka bicara tadi Se Yeon sempat menggunakan istilah hukum. Dia ingin melihat kartu identitas Se Yeon. Dia juga tanya nama Se Yeon.

Se Yeon kebingungan mau menjawab apa. Min bilang Mi Do tidak perlu tahu siapa Se Yeon karena dia hanya memilihnya dari jalanan Noryangjin. Mi Do takjub bagaimana bisa Min menemukan orang yang sangat mirip dengannya. Dia bahkan hendak menyentuh wajah Se Yeon tapi menampik tangannya dengan kasar.

"Tapi secara kepriabadian, tidak mirip. Dia sangat kasar."

"Aku tahu," ucap Min.

"Asal tahu saja, banyak gadis yang mirip dia di seluruh Noryangjin." Min cuma senyum dan manggut-manggut, sementara Se Yeon berusaha menahan kekesalannya. HAHA! Berarti muka Se Yeon pasaran.



Mi Do akan memikirkan tawaran Min dan menghubunginya. Min menyurukkan kopernya dan berharap dapat kabar baik dari Mi Do. Mi Do hendak pergi membawa koper itu tapi Se Yeon menahannya. Dia memberitahu kalau dia merubah santi rumah di Golden Palace jadi 1666.


Se Yeon menahan Mi Do sekali lagi saat dia akan pergi. Dia meninggalkan barang-barangnya di sana. "Nanti aku ambil." Se Yeon mengucapkan semuanya dengan menahan harga dirinya.

Mi Do tersenyum tidak percaya. Setelah dia pergi, Min langsung mengomeli Se Yeon. "Kenapa harus berkata begitu?"

Se Yeon memukul meja. Dia berkata dengan penuh penekanan dan penghayatan. "Aku sungguh benci Lee Mi Do!"


GOLDEN PALACE

Seseorang memakai sarung tangan hitam masuk ke rumah Mi Do. Dia melihat laporan kasus dan foto-foto tkp pembunuhan Se Yeon yang tergeletak di meja. Orang itu lalu menyalakan laptop Se Yeon yang berlatar belakang foto Se Yeon dan kedua orangtuanya. Dia juga melihat ID Card jaksa milik Se Yeon.

Orang itu ternyata Ji Wook. Dia ingat saat akan ke pemakaman Se Yeon.


Flashback

Se Yeon yang sudah berubah wajahnya menghampirinya di tengah hujan lebat. Ji Wook mengira Se Yeon sebagai Mi Do. 

"Ini aku Ko Se Yeon. Mungkin tidak ada yang sadar, tapi seharusnya kamu tahu."

Lalu saat Se Yeon pingsan, tiba-tiba Min datang dan memanggilnya Se Yeon. "Se Yeon bangun!"

Ji Wook yang tidak tahu apa-apa hanya melihat Min dengan heran.

Kemudian, malam harinya, Ji Wook membongkar makam Se Yeon dan terkejut melihat peti mati Se Yeon kosong. Dia sampai terengah-engah saking syoknya.

Lalu, pada kejadian tempo hari ketika Oh Yeong Choel ditangkap. Ji Wook mengamati Se Yeon yang menangis melihat ibunya yang tidak sadarkan diri dimasukkan ke ambulans. "Ibu," ucap Se Yeon kala itu.

Flashback end



"Lee Mi Do yang ku kenal, ternyata Ko Se Yeon." Ji Wook tersenyum tidak percaya. Matanya menyiratkan kekhawatiran.

***

Dong Cheol sudah sampai di depan gedung firma hukum Park & Jang dengan membawa alat pemindai sidik jari. Dia berusaha menghubungi ponsel Mi Do asli tapi nomornya tidak aktif. Kontan Dong Cheol kesal tapi Mi Do menggila menyuruhnya kesama tapi sekarang teleponnya malah tidak diangkat.


Nomor kontak dengan nama Mi Do meneleponnya. Dong Cheol sampai bingung itu Mi Do asli atau bukan. Ternyata Se Yeon.

Dong Cheol : Halo
Se Yeon : Hai Dong Cheol
DOng Cheol : ADa apa?
Se Yeon : Kamu dapat informasi soal panti jomponya?
DOng Cheol : Itu tidak penting sekarang. Ada gadis yang menirumu.

Se Yeon langsung terlonjak kaget. APa? Meniruku?

Dong Cheol membenarkan. Peniru itu terus menelepon dan bersikeras dia Lee Mi Do. "Kusebut dia gila."

"Bagus! Itu bagus! KU jelaskan semuanya nanti. Tutup saja jika dia meneeponmu nanti. Tutup saja! Jangan angkat jika dia menelepon lagi."

"Kenapa? BIar ku tangkap. Dia menirumu."

"Tidak. Jangan. Jangan gegabah. BIar kubereskan nanti."

"Baiklah." Dong CHeol masih ingin bicara tapi detektif Choi meneleponnya.


Hee Jin terus memandangi ponselnya. Dia tampak gelisah. Ji Wook mengiriminya pesan. "Sudah dipastikan. Lanjutkan seperti perintahku, maka sJang Sun Young akan selamat." Ji Wook juga mengirimi foto ibu Hee Jin yang sedang makan sambil tersenyum. Hee Jin menangis lega karena ibunya masih hidup.

Se Yeon masuk dan bertanya kenapa Hee Jin menangis lagi. Tampknya Hee Jin belum makan dari tadi siang, jadi Se Yeon membelikan makanan untuknya.

Hee Jin gugup melihat Se Yeon. "Bukankah kamu bilang akan pulang?"

"Jangan sampai ku bahas. Agak rumit untuk di jelaskan." Se Yeon meletakkan makanannya di meja lalu rebahan di sofa. "Ah entahlah. Boleh aku menginap malam ini?"

"Apa?"

"Begini. Aku tidak bisa tinggal di apartemen itu lagi."

Hee Jin tampak panik. (Ih tega dia ya). "Tapi kenapa..."

"Dia kembali. Lee Mi Do yang asli. Argh! Aku sungguh benci Lee Mi Do. Kenapa menatap begitu? Kamu tidak suka aku menginap di sini?"

"Bukan begitu. Aku harus menelepon sebentar." Hee Jin lalu pamit ke belakang untuk menghubungi Ji Wook. Se Yeon merasa aneh dengan gelagat Hee Jin.

***

Di Golden Palace, Mi Do masuk ke unitnya. Ji Wook memperhatikan dari mobilnya di bawah dan melihat unit Mi Do lampunya menyala. Dia langsung menghubungi seseorang  "Bereskan sekarang! Lakukan tugasmu jika ingin punya masa depan."


Hee Jin mengirim pesan pada JI Wook untuk memberitahu bahwa Se Yeon tidak ada di Glden Palace. Tapi belum juga pesannya terkirim, Se Yeon merebut ponselnya dan membaca semua isi pesan Hee Jin dengan Ji Wook. Tentu saja Se Yeon terkejut bukan main.

"Tega sekali kamu,,,,"

Hee Jin ingin menjelaskan tapi Se Yeon buru-buru pergi.


Mi Do sedang asik mandi sambil bersenandung. Seorang pria masuk membawa sebuah pisau. Mi Do mendengar bunyi pintu tertutup. Di segera mematikan shower. "Ku rasa aku dengar sesuatu." Mi Do menyalakan showernya lagi lalu lanjut mandi.


Mi Do keluar dari kamar mandi. Dia heran karena lampunya mati padahal tadi dia ingat sudah menyaakannya. Begitu dia menyalakan lampu, Se Yeon masuk dengan panik. Mi Do jelas kaget dan bertanya Se Yeon sedang apa. Se yeon menanyakan keadaan Mi Do.

"Ini bisa dianggap membobol. Kamu sudah gila?"

"Tidak, bukan begitu....."

Se Yeon melihat seseorang di belakang tirai. Dia langsung mengajak Mi Do bicara  di luar. Tapi lampunya tiba-tiba padam. Se Yeon sontak panik. Kejadiannya terjadi begitu cepat. Laki-laki itu mendekati mereka dan langsung menusuk perut Se Yeon. Tapi dia sendiri sepertinya gugup. Dia menjatuhkan pisaunya di lantai dan kabur. Di luar, dia berpapasan dengan Min.


Min buru-buru masuk ke rumah Mi Do. Dia menyalakan lampu  Dia syok melihat Se Yeon terbaring tidak sadarkan diri di lantai dengan perut bersimbah darah. Min panik memanggil-manggil Se Yeon.


Se Yeon sudah di rawat di rumah sakit. Min menungguinya dengan mata memerah. "Se Yeon a. Maaf aku sangat terlambat Se Yeon. Aku sungguh minta maaf."

Dokter dan perawat datang. Katanya tidak ada organ utama yang rusak. Operasinya berhasil jadi Se Yeon akan segera bangun. Min sangat lega mendengarnya. Dia menanyakan keadaan Mi Do. Dokter bilang tesnya belum selesai, tapi tampaknya Mi Do hanya luka ringan.

Dokter bertanya apa yang harus dia katakan pada Ibu Min. Min meminta dokter merahasiakannya.

Setelah dokter pergi, Min duduk lagi dan menggenggam tangan Se Yeon. Hee Jin datang dan menanyakan keadaan Se Yeon dengan nada bersalah. Min hanya meliriknya tanpa menjawab apapun.


Hee Jin ingin menjelaskan tapi Min menyuruhnya pergi. Hee Jin bilang dia tidak punya pilihan karena tidak mau membahayakan ibunya. Min kesal dan berdiri sambil membuka dompetnya. Dia mengambil semua uangnya dan memberikannya pada Hee Jin.

"Ambil dan pergilah! Jika butuh lebih, telepon, aku transfer. Lagipula kamu mengejar uangku. Ambillah semaumu. Jadi pergilah...." jleb banget. "Jangan mendekatiku atau Se Yeon lagi. Paham? Karena kamu,,,, bukan. Karena aku cukup bodoh untuk membiarkanmu mendekati kami lagi, Se Yeon hampir mati dua kali. Jadi aku mohon pergilah dari hadapanku. Keluar."


Hee Jin diam saja. Min berteriak menyuruhnya keluar.

Se Yeon sadar dan bilang Hee Jin tidak akan pergi kemana-mana tanpa ijinnya. Min segera mendekatinya dan bertanya apa dia baik-baik saja.

"Aku adalah tipe orang yang ingin melihat orang dihukum atas perbuatan mereka."

Hee Jin menangis sambil minta maaf. Min menatapnya tajam. Se Yeon bilang dia harus ada di sisinya untuk menebus kesalahannya.


Dong Cheol datang ke rumah sakit. "Mi Do palsu menyuruhku ke firmanya sementara Mi Do asli menyuruhku ke rumah sakit. Mereka pikir aku kurir pribadi pemindai sidik jari? Dimana kamarnya?"

Dong Cheol berpapasan dengan Mi Do. Dia mengenalinya sebagai orang yang mengaku sebagai Mi Do. Dia bahkan menyebut Mi Do psikopat. Mi Do jelas kesal dibuatnya.

Min keluar dan melihat mereka. Akhirnya semuanya berkumpul di ruang rawat Mi Do. Min mengangguk pada Se Yeon. Se Yeon menarik nafas. Dia meminta alat pemindai sidik jari pada Dong Cheol dan menyuruh Mi Do memindai jarinya lebih dulu.

Mi Do meniup jarinya lalu menempelkan jempolnya di alat pemindai sidik jari. Dong Cheol kaget melihat identitas Mi Do di layar. Dia menyuruh Mi Do memindai sekali lagi. Mi Do nurut. Dong Cheol masih tidakpercaya. Dia mengusap-ngusap jempol Mi Do bahkan menepuk-nepuk alat pemindai.


Se Yeon bilang alatnya tidak rusak. Dia merebut alat pemindai lalu memindai jarinya. Dong Cheol dan Mi Do kontan terkejut melihat hasilnya.

Bersambung ke Abyss episode 8 part 3






1 komentar


EmoticonEmoticon