Sinopsis Feel Good To Die ( Episode 1 Part 2 )

Feel Good To Die 

All images credit and content copyright : KBS 2

Episode 1 Part 2

Tim perencanaan sedang mempersiapkan acara pencicipan ayam buatan khusus untuk anak. Setelah persiapan selesai, anak-anak dan ayahnya masuk ke ruang acara. Baek Jin Sang memberikan sambutan. Di tengah sambutannya ada seorang ayah yang meminta Min Joo mencatat bahwa anaknya alergi kacang kenari dan persik. Belum sempat Min Joo mencatat dia mendapat panggilan dari sekolah anaknya bahwa anaknya demam dan Min Joo harus menjemputnya. Min Joo pun pamitan pada Roo Da.

Makanan datang dan dibagikan kepada semua meja. Tak lama terlihat seung woo (anak yang alergi) menggaruk-garuk badannya. Ayahnya yang menyadari anaknya menunjukkan reaksi alergi langsung marah-marah meminta bicara pada penanggung jawab acara.

Direktur Na yang baru datang bertanya pada Roo Da dan Yoo Doek dimana Min Joo. Roo Da pun menjawab apa adanya yang sontak membuat Direktur Na marah.

Ke empat anggota tim perencanaan berbaris dengan tegang di dalam ruangan Direktur Na. Sementara sang ketua tim duduk santai di sofa sambil ngopi. Direktur Na langsung menyalahkan Min Joo sebagai penanggung jawab menu malah pergi padahal si ayah sudah memberitahunya tentang alergi anaknya. Min Joo hanya bisa minta maaf. Direktur Na kesal. "Inilah sebabnya perusahaan tidak suka mempekerjakan para ibu." (adakah yang tersindir?)
Tiba-tiba Jin Sang menyela. "Direktur Na. Kita harus mengklarifikasi siapa yang harus bertanggung jawab atas insiden ini." Dan ini lah cerita Jin Sang....

Flashback
Min Joo diberitahu bahwa anaknya sakit. Jadi dia minta bantuan Yoo Doek untuk memberitahukan pada tim dapur bahwa meja no. 3 ada alergi jadi harus diperiksa bahan-bahannya. Karena Yoo Doek juga sudah sibuk dengan pekerjaannya, dia mengoper tugas dari Min Joo kepada Jung Hwa yang juga terlihat hektik dengan kerjaannya. Dan disinilah Yoo Doel salah memberitahukan meja no.4 bukan no.3.
Flashback end

Semua kontan menatap Yoo Doek yang hanya bisa minta maaf. Jin Sang lanjut bercerita.

Flashback
Jung hwa salah mengambil catatan. Bukannya catatan alergi yang diberikan pada chef tapi malah catatan belanja tim dapur.
Saat si ayah marah-marah ternyata Jin Sang datang menghampirinya. Setelah tau duduk permasalahannya, dia meminta untuk bicara pada ibu si anak karena biasanya sang ibulah yang paling tahu soal anaknya.

Jin Sang membuka kotak obat dan memilih salah satu obat lalu memberikannya pada si anak. Jin Sangpun menganggap bahwa masalah sudah terselesaikan. Tapi si ayah masih tidak terima dan mengancam akan memberitahu pers agar perusahaan ini di tutup.

Jin Sang membela diri bahwa si ibu mengatakan anaknya alergi semangka dan biji wijen bukannnya kenari dan persik. Dia bahkan menirukan ucapan si ibu. "Dasar bedebah itu. Ini bukan pertama kalinya. Aku akan menghajarnya setibanya di rumah." Si ayah sontak ketakutan. Dan Jin Sang si arogan membungkuk 90 derajat minta maaf. "Bagaimanapun aku tetap ingin meminta maaf secara tulus atas kecerobohan pegawaiku."
Flashback end

Jin Sang menjelaskan bahwa insiden ini tetap akan terjadi karena kesalahan si ayah. Direktur Na menimpali bahwa bagaimanapun juga tim perencanaan melakukan kesalahan.
Dengan semangat Jin Sang berkata, "Benar. Setiap orang melakukan kesalahan dalam hal menyampaikan pesan. Maka seluruh tim harus bertanggubgjawab."

Direktur Na heran karena Jin Sang dikenal tidak pernah meminta maaf kalau salah. "Karena kau mengakui kesalahanmu, sepertinya aku akan membiarkan ini." Direktur Na tersenyum kayak seneng sama perubahannya Jinsang. Aku pikir Direktur Na ga jahat deh.

"Apa maksud Anda? Aku tidak melakukan kesalahan. Apa Anda tidak mendengarku? Aku membahas pegawaiku bukan diriku. Aku mengatasi masalah itu dengan sempurna untuk kesalahan pegawaiku. Aku bahkan meminta maaf dengan sopan."

Direktur Na kesal. "Aku tahu kamu berusaha meloloskan diri. Tapi penanggung jawab harus bertanggungjawab!"

Dan ujung-ujungnya Jin Sang nyalahin Min Joo. Min Joo sampai melongo. Dan wajahnya yang lagi melongo itu sampai tercetak diponsel Roo Da yang diletakkan di meja. Ternyata semua tim sedang makan-makan di restoran untuk merayakan suksesnya acara pencicipan. Semua orang bergembira kecuali tim perencanaan yang minus Min Joo.

Di depan foto Min Joo di letakkan sebuah gelas. "Min Joo tidak akan kesepian karena dia bersama kita." Satu persatu mereka menuangkan minuman ke gelas 'Min Joo' lalu bersulang. Di saat anggota timnya sedang sendu, Jin Sang malah tertawa keras di meja para ketua tim.

Yoo Doek pamit pulang duluan karena istrinya lembur jadi harus menjaga anaknya. Jung Hwa juga karena takut ketinggalan kereta. Tinggallah Roo Da seorang diri.

Televisi di restoran menyiarkan sebuah berita kebakaran. Roo Da yang sedang menikmati makanannya memperhatikan berita itu.

Di dalam ruangan yang terbakar ada seorang wanita yang duduk sambil terbatuk-batuk karena asap. Dia tampak sedang susah payah menuliskan sesuatu di buku.

Jin Sang terus dipaksa minum oleh rekan-rekannya. Roo Da senang melihatnya. "Kau pantas mendapatkannya. Kau harus minum sampai habis dan matilah." Bersamaan Roo Da berkata matilah, wanita di dalam ruangan yang terbakarpun menulis 'matilah'.

Tiba-tiba Joon Ho datang mengagetkan Roo Da. Dia langsung protes karena Roo Da menikmati makanan sendirian.

"Kamu bisa memesan makanan bersama timmu."
"Aku tidak bisa melakukannya. Aku akan membayarmu."
"Dengan apa?"

Terdengar suara gelas pecah. Ternyata Jin Sang ambruk di mejanya. Terpaksalah Roo Da sebagai satu-satunya anggota tim perencanaan yang tersisa menghampirinya. Dia meminta bantuan pada para ketua tim tapi semua mengacuhkannya. Akhirnya dia minta tolong pada Joon Ho.

Roo Da dan Joon Ho memapah Jin Sang dengan susah payah. Oleng kanan oleng kiri. Roo Da mengeluh dia hanya ingin pulang.

Joon Ho : "Dimana rumahmu?"
Roo Da : "Bang baedong."
Joon Ho : "Oh. Aku di Seochodong. Kita tinggal berdekatan ternyata."
Joon Ho langsung bernyanyi lagu rap.
Aku pernah berkencan buta
Kami bertelepon untuk pertama kali
Aku sangat menyukai suaranya
Hobi kami sama
Kepribadian kami sama
"Permisi, aku tinggal di Kkachisan. Dimana tempat tinggalmu?"

Joon Ho menjawab pertanyaannya sendiri dengan ganjen. "Aku tinggal di pasar moran."

Roo Da tertawa melihat tingkah Joon Ho. "Lagu apa itu?"

"Itu lagu yang sangat mendalam. Semakin dekat tempat tinggal kita makin baik bagi kita berpacaran. Nona Lee, kamu punya pacar."
"Bagaimana kalau tidak?"

Tiba-tiba Jin Sang berhenti melangkah. Dia duduk berlutut di depan Roo Da. Daaaaann Jin Sang muntah tepat di celananya Roo Da. Melihat itu, Joon Ho langsung berinisiatif pergi membelikan tisu basah. Disaat Roo Da sedang fokus pada celananya, Jin Sang sempoyongan jalan ke tengah jalan raya hingga berkali-kali hampir tertabrak. Untung Roo Da segera menariknya untuk menepi.

Min Joo menelepon. Roo Da mengalihkan fokusnya pada Min Joo dan tidak sadar kalau Jin Sang berhasil lolos dari pegangannya. Jin Sang kembali ke tengah jalan raya dan kecelakaanpun terjadi. Jin Sang tertabrak truk. Dari kepalanya mengalir darah segar. Roo Da syok setengah mati. Dia berusaha membangunkan Jin Sang. Tapi Jin Sang malah kejang. Dia menyuruh orang-orang memanggil ambulans.

"Tuan Baek, aku minta maaf karena berharap agar Anda mati. Aku tidak menyangka Anda akan mati seperti ini."

Kepala Jin Sang tergolek seolah menandakan dia mati. "Tuan Baeeeeeek."
Suara alarm berbunyi. Roo Da membuka matanya. Dia lega karena tadi hanya mimpi. Saat hendak bangun dia malah terjatuh dari kasur persis seperti pagi kemarin. Dan anehnya, kalendernya menunjukkan tanggal yang sama dengan kemarin, 7 November.


EmoticonEmoticon