Buang Hong Episode 2 Part 1

Buang Hong
Episode 2 Part 1
(A Lasso for A Swan)


Sumber konten dan gambar : Channel 3


Pada episode sebelumnya, Pim terkejut saat melihat kamar ayahnya dipasangi police line dan mendapati ayahnya diam tak bergerak di atas tempat tidur.


Pim mendekati ayahnya dan menggenggam tangannya. Pim tidak percaya melihat ayahnya sudah meninggal.

“Ini tidak benar. Ayah, tolong bangun Ayah.”

Pim menangis sesenggukan di atas dada ayahnya.


Ramet berjalan dengan sekretarisnya di lobi hotel. Pandangannya tertumbuk pada headline sebuah koran yang sedang di baca oleh seorang customer hotelnya. Di sana tertulis “Seorang Pengusaha Besar Melakukan Bun*h Diri. Penyebabnya karena bangkrut”. Dan ada gambar Tuan Trai di sana.

Ramet segera menyambar koran yang ada di atas meja dan membaca sendiri isi berita itu. Kurang puas hanya melihat di koran, dia masuk ke kantornya dan browsing berita melalui tabletnya. Dia juga membaca komentar-komentar haters mengenai Pim. Ada yang menyebut Pim sebagai penyebab ayahnya bunuh diri. Karena Pim menghabiskan banyak uang. Ayahnya tidak tahan dengan kelakuan buruk Pim.

Ramet meletakkan tabletnya di meja. Dia tampak memikirkan sesuatu. Atau dia sebenarnya khawatir pada Pim?


Duo rumpi (asisten Khun Vi) juga sedang membaca artikel itu di internet. Begitu Khun Vi datang mereka langsung heboh memanggilnya.

“Apaan sih? Kalian teriak-teriak seolah-olah ada orang mati.”

Duo rumpi saling berpandangan. “Mantan suamimu meninggal Khun Vi.”

Khun Vi terlihat kaget. Duo rumpi memberikan tabletnya pada Khun Vi. Setelah membaca beritanya, bukannya sedih, Khun Vi malah tersenyum senang. “Akhirnya! Sang angsa patah juga sayapnya.” Dia tertawa lirih. Duo rumpi keheranan melihatnya.


Khun Vi mendapat panggilan dari seorang editor berita. Dia pura-pura sedih dan menolak untuk diwawancarai hari ini. Tapi ujung-ujungnya dia tetap mau diwawancara besok dengan alasan si editor itu teman baiknya. Duo rumpi memprotesnya. Lagian Tuan Trai kan sudah bukan siapa-siapanya Khun Vi lagi, jadi Khun Vi tidak lagi terlibat.

“Jelas aku terlibat. Ini caraku untuk membun*h Pim. Bahkan jika dia masih bernafas, dia akan lebih memilih mati,” ujar Khun Vi dengan senyum liciknya.


Pim berdiri sambil menangis di depan foto mendiang ayahnya. Banyak orang yang datang melayat. Terlihat dua ibu-ibu yang duduk paling depan malah asik bergosip.

“Dia pasti tidak berani memberitahu putrinya kalau dia bangkrut.”

“Lah wong putrinya manja kayak gitu. Dia bertingkah seolah-olah dia itu angsa. Dia mungkin tidak bisa tahan melihat putrinya jadi angsa yang patah sayapnya.”


Pim hanya bisa melihat mereka dalam diam. Dia tidak marah-marah seperti biasanya. Pim teringat saat ayahnya memberikan hadiah pin angsa itu saat dia ulangtahun sewaktu masih SMA.

“Kenapa angsa? Hah! Apa karena leherku panjang?” tanya Pim sambil memegang lehernya.


“Tidak sayang. Karena angsa itu cantik dan anggun. Ratu dari semua jenis burung. Apa kamu tahu, saat dia melakukan apapun, berenang atau terbang, saat senang atau marah, penampilan luarnya selalu terlihat anggun. Sama seperti putri ayah.”

Pim tersenyum. Dia berterimapakasih pada ayahnya. Tuan Trai lalu mencium keningnya dengan sayang.

Mengingat masa lalunya itu, Pim tak bisa membendung air matanya. “Pim akan jadi seekor angsa. Seperti apa yang Ayah harapkan.” Pim menghapus air matanya.


Bibi memberitahu ada sebuah kiriman bunga duka cita. Pim marah saat melihat bunga itu dari Khun Vi. Dia berteriak menyuruh membuangnya. Bibi memenangkannya karena ada banyak tamu yang melihatnya.

Datang satu lagi bunga duka cita dari Ramet Jirayuthanon. Tapi Pim tidak sempat melihatnya karena sudah terlanjur kesal. Dia mengecek ponselnya dan heran karena tidak ada pesan dari Paul. Kemudian datang seorang pria yang sudah sedikit tua. Pim memanggilnya Paman Paveet. Mereka bicara berdua di luar.


“Ayah dituntut karena kebangkrutannya?”

“Ya. Aku harus memberitahumu. Bank akan menyita rumah, tanah, dan properti lainnya untuk membayar hutang. Sayangnya itu semua belum cukup. Aku akan mengirimkan informasi hutangnya padamu.”

“Bagaimana jika aku menjual semua barang pribadiku? Apa itu cukup untuk membayar hutang Ayah?”

“Mungkin saja.”

Pim minta tolong Paman Paveet untuk mengurusnya. “Jual apa pun yang bisa dijual. Kecuali mobil yang kecil dan pin angsa ini.”

“Baiklah.”

“Terima kasih Paman.”

Setelah Paman Paveet pergi, Pim mendapat panggilan dari Paul. Paul meminta Pim menemuinya di halaman.


Pim datang menghampiri Paul. “Kenapa kamu tidak masuk Paul?”

“Aku datang untuk menemuimu, bukan untuk melayat,” ucap Paul dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya. “Pim, ayo kita putus.”

Pim terkejut. “Paul, kamu bercanda kan?”

“Aku bersungguh-sungguh.”

“Kenapa? Apa karena aku sudah tidak punya apapun? Bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku? Kamu bilang kamu mencintaiku. Kamu cinta aku atau uangku?”


“Sebelumnya kita juga tidak saling mencintai. Coba tanya pada perasaanmu sendiri. Kamu juga tidak mencintaiku. Kamu hanya mencintai ketenaran dan kehormatan keluargaku. Seandainya ini terjadi padaku, kamu juga akan memperlakukanku dengan cara yang sama.”

“Itu nggak benar.”

“Berhenti berbohong Pim. Ayo kita akhiri ini di sini. Jangan buang banyak waktu. Ini jalan yang terbaik.”

Pim marah. “Baik apanya? Kamu memutuskanku begini mau di taro di mana mukaku? Semua orang sudah tahu kita akan menikah secepatnya!!”

“Kalau orang-orang bertanya, bilang saja kamu sudah bosan denganku. Kamu yang menendangku.”

“Fine! Kalau kamu mau putus oke. Aku nggak akan mencoba buat damai. Banyak laki-laki yang mau kencan denganku. Aku tidak akan merindukan laki-laki sepertimu.” Pim melepas cincin pertunangannya. “Ambil ini kembali.”


“Kamu boleh mengambilnya. Untuk membayar waktu dan kehormatanmu.”

Paul melenggang pergi. Pim sangat kesal melihatnya. Dia hendak melempar cincinnya tapi buru-buru mengurungkannya. Mungkin Pim yang dulu akan melakukannya. Tapi sekarang Pim sadar, dia sudah tidak apapun. Satu buah cincin itu bisa sangat berharga untuknya.


Khun Vi sedang di wawancara. Dia berakting sedih di depan pewawancara.

“Aku menangis selama berjam-jam. Aku sangat mencintainya walapun kami tidak berakhir dengan baik. Aku tidak menyangka dia akan melakukan bun*h diri. Kalau aku masih bersamanya, aku mungkin bisa menghentikannya melakukan hal itu.”

“Bisakah aku bertanya tentang Khun Pim?”

“Tentu. Kita dulu adalah ibu tiri dan anak tiri. Walaupun kita punya beberapa masalah, tapi aku akan senang hati jika bisa membantu Pim kapanpun. Sekarang Khun Trai sudah meninggal. Pim pasti punya waktu yang sulit. Tapi aku tidak tahu bagaimana aku bisa membantu Pim. Seperti yang semua orang tahu, Pim adalah orang yang boros. Walapun dia berbakat, tapi dia sangat tidak bertanggung jawab. Aku takut jika dia harus dipaksa untuk mengundurkan diri.”

Wawancara yang di penuhi sandiwara palsu itu pun selesai.


Ramet duduk gelisah di kursinya. Sekretarisnya datang.

“Aku sudah mengirim bunga duka cita sesuai yang kamu minta.”

“Terimakasih.”

Ramet berjalan ke jendela. “Apa aku harus pergi melayat? Tuan Trai juga teman bisnisku.”

“Sayangnya kamu tidak bisa. Ada sekitar 10 penduduk lokal dari desa Pai Doi di sini untuk menemuimu. Mungkin untuk menjual tanah mereka.”


Khun Vi dan duo rumpi melepaskan topeng mereka setelah si pewawanca dan krunya pergi.

“Seberapa pun kuatnya si Pim, kali ini dia akan benar-benar tamat,” cemooh P’Nodee si duo rumpi yang lekong.

“Itu belum cukup. Ped, jangan lupa!”

“Tentu saja tidak. Aku sudah menghubungi temanku yang seorang agen dan organisator. Dalam dua hari, Pim akan mati tanpa seorangpun pendukung.”

Khun Vi tersenyum penuh siasat.


Pim memerikan gaji sekaligus pesangon pada para pekerja rumahnya. “Maafkan aku. Aku tidak bisa terus mempekerjakan kalian. Ini pesangon sekaligus bonus untuk kalian. Itu akan cukup untuk kalian memulai usaha.”

“Nona tidak perlu memberi kami sebanyak ini,” ucap bibi.

“Aku masih punya uang kok. Terimakasih karena sudah menjagaku dengan baik selama ini.”

“Khun Pim akan pindah kemana?”

Khun Pim tertegun mendengarnya. Meskipun berat, dia harus tetap meninggalkan rumah itu.

Pim melihat-lihat sebuah apartemen. Merasa cocok, dia pun setuju untuk menyewa apartemen itu. Si mbak sales pun pergi.


Pim duduk di sofa. Air matanya kembali mengalir. Dia tidak menyangka hidupnya akan berubah dalam semalam. Kali ini, dia benar-benar sendiri.


3 komentar

Lnjutin ya....ksian ni sih pim sdh dtinngal ayahnya dputusin pacar lg....kykx bgus critax.....semangat nulisnya ya

Lanjut ...semangat nulisnya...tolong updatex jgn lm lm min...mksi


EmoticonEmoticon